
ππ
cast Ricardo Gabrianes atau Richard : Lee Donghae atau Donghae suju
nitip foto visual ya gaes soalnya kalo pake foto lama up nya. ini Richard di part 31 bakalan muncul lagi ππ
cast Elisa Cornwell atau Lisa : Kim Hyun-ah atau Hyuna
........................
........................
Lisa terkejut melihat seorang wanita yang membuka pintu apartemen Egnor. Dia ternyata masih mengingat Claudia, Namun wajahnya tampak datar dan terlihat seperti tidak mau berteman bahkan berkenalan.
"Selamat sore, kau mencari siapa?" Sapa Claudia masih di daun pintu.
"Siapa pemilik apartemen ini? Kau atau Egnor?" Lisa malah bertanya kembali dengan wajahnya yang angkuh.
"Ah iya, ini apartemen kak Egnor, eh maksudku Tuan Egnor." Jawab Claudia salah tingkah.
"Sedang apa kau di sini?" Selidik Lisa.
"Aku tinggal di sini! Ups!" Claudia yang asal saja berkata langsung menutup mulutnya. Dia sudah berjanji dengan Egnor agar tidak mengatakan kepada siapapun. Dia benar benar tak sadar mengatakannya.
Lisa sudah mendelikan alisnya.
"Bukan bukan, maksudku aku di sini di suruh Grace, iya Grace sekertarisnya Tuan Egnor untuk mengambil beberapa berkas." Claudia berbohong. Dia sangat tahu kalau wanita ini menyukai Egnor. Dia harus menjaga perasaan semuanya.
"Oh, kalau begitu biarkan aku masuk dan,"
"Oh iya silahkan masuk."
Belum selesai Lisa selesai, Claudia sudah mempersilahkan Lisa untuk masuk.
"Panggilkan tuanmu, aku ingin bertemu. Kata aunty nya dia lebih sering kesini, apa karna dirimu?" Ucap Lisa melanjutkan perkataannya yang terpotong oleh Claudia sambil masuk dan duduk di sofa.
"Tidak juga, aku tidak tinggal disini Nona. Aku hanya disuruh Grace saja." Claudia terus berdalih.
"Kau tinggal disini juga tak apa. Tidak ada hubungannya denganku. Aku dan Egnor hanya berteman. Kau tenang saja. Jadi, mana Tuan mu, aku masih banyak urusan." Kata Lisa lagi acuh namun sepertinya dia cemburu.
"Iya Nona, hari ini Tuan tidak pulang ke sini. Kata Grace dia harus menemui ayahnya." Claudia menjelaskan.
"Oh begitu? Ternyata aku memang tak jodoh dengannya. Aku kira dia akan senang melihatku di sini karna aku membawakan sup jagung untuknya." Ucap Lisa agak kecewa dan segera beranjak dari duduknya.
"Mungkin anda bisa menghubunginya dulu jika ingin bertemu dengannya." Saran Claudia ramah namun dalam hatinya sungguh mengesalkan.
"Dia tidak pernah mengangkat panggilanku. Untuk apa? Baiklah, aku pergi saja dari sini." Lisa mulai berdiri namun dia masih melihat sekitar apartemen Egnor dan dia melihat di pojok sudut ruang tamu ini ada sebuah koper berwarna putih yang ia pastikan milik Claudia.
Lisa berdecih.
"Heng, kau tidak tinggal di sini kan?" Tiba tiba Lisa kembali bertanya dengan mimik wajah tak suka. Sedangkan Claudia masih berdiri di depannya.
"Ti, Tidak Nona. Sebentar lagi juga Grace akan datang." Jawab Claudia meneguk ludahnya dan terbata.
"Bagus! Karna kalau kau tinggal disini, mungkin sebentar lagi akan ada pemberitaan pemberitaan miring mengenai Egnor karna kau bukan istrinya. Sungguh kasihan kalau kau dianggap wanita simpanan Egnor oleh orang orang atau oleh pegawai pegawainya. Itu akan membuat reputasi Egnor dan dirimu tampak rendah. Ya begitulah maksudku!!" Kata Lisa menaik turunkan dagunya.
Deg! Jantung Claudia seperti terserang listrik. Dia sangat tersindir. Pasalnya dirinya memang tinggal di sini bahkan selalu tidur dengan Egnor walau tidak melakukan apa apa. Dan yang tahu keberadaannya di sini hanya Egnor, Grace dan Frank. Sungguh akan menjadi bumerang jika ada orang lain yang mengetahuinya, sementara dirinya bukan siapa siapa Egnor. Claudia pun menunduk.
"Baiklah, sup jagung ini untukmu dan Grace saja. Nanti aku akan membuatkannya lagi untuk Egnor. Permisi, selamat sore!" Lisa pamit dengan wajah angkuhnya. Dia tidak pernah menurunkan dagunya di depan Claudia.
Claudia hanya membungkukan tubuhnya membiarkan Lisa keluar dari pintu apartemen. Dia juga sudah menunduk dan meneteslah air matanya. Dia terduduk lemas setelah memastikan Lisa menutup pintu apartemennya.
~Mengapa aku tidak berpikir tentang semua itu. Mengapa aku tidak menolak untuk tinggal disini bahkan menawarkan bekerja di apartemen ini. Mana mungkin orang orang percaya bahwa aku bekerja membersihkan apartemen disini. Mereka pasti akan menyangka aku benar benar asisten pribadi yang sangat pribadinya Egnor. Ah, betapa bodohnya aku ini. Sekarang bagaimana? Uangku sudah habis, bahkan aku berhutang pada Grace. Tidak mungkin aku pergi dari sini dan mencari apartemen baru. Apa aku kembali saja ke apartemen lamaku? Tapi pasti Kak Egnor akan bertanya tanya apa yang terjadi padaku. Kalau aku menyebut nyebut nama Lisa sialan itu, aku takut dia akan mendatangi Lisa atau menyuruh Grace untuk memperingatinya.~ Claudia terus bergumam di dalam hatinya sambil menopang dagunya dengan tangannya.
"Aaarrgghhh!!! Mengapa aku pulang secepat ini? Kalau saja aku pulang nanti malam atau ikut lembur bersama Grace atau tadi aku ikut kak Egnor saja menemui klien, aku tidak akan bertemu dengan Lisa tengil itu. Sombong sekali dia! Tapi kata katanya membuatku ngeri! Ya Tuhannn, mengapa kau tak ambil saja nyawaku. Aku ingin bertemu orang tuaku. Dulu aku tidak seperti ini!!!!" Kata Claudia mengusap wajahnya kasar. Dia frustasi. Sekarang apa yang harus ia lakukan.
Dia tidak boleh terus berada di apartemen ini. Lambat laun akan ketahuan. Sepintar pintarnya menyembunyikan bangkai, maka akan tercium juga. Claudia benar benar bingung. Dia akhirnya menghela napas dan membersihkan dirinya. Dia harus berendam, kali saja dia mendapatkan ide.
Karna cukup lelah dan pikirannya terus berkecamuk, Claudia hampir saja tertidur lagi kalau Egnor tidak menghubunginya. Dia memang membawa ponselnya dan menaruhnya di sisi bath tub.
"Halooo!!" Claudia mengangkat panggilan dengan suara seperti orang mabuk.
__ADS_1
Egnor : "Claudia! Kau tidak meminum wine lagi kan?"
Claudia : "Tidak kak!"
Egnor : "Lalu, kau sedang apa?"
Claudia : "Baru selesai berendam, aku sangat lelah!"
Egnor : "Oh, jadi kau baik baik saja?"
Claudia : "Iyaaaa!"
Egnor : "Yasudah, aku hanya memastikan. Malam ini kau tahu kan kalau aku tidak akan pulang?"
Claudia : "Tahu kak!"
Egnor : "Baiklah, kirimkan fotomu agar aku dapat tidur. Lukisan dirimu masih kau tahan kan?"
Claudia : "Bukannya kau punya foto lukisan diriku?"
Egnor : "Aku mau dirimu yang sekarang, oke? Sampai jumpa besok."
Egnor mematikan panggilan. Claudia tersenyum. Egnor tetap yang melegakan perasaannya, padahal karna pria ini hidupnya menjadi serba salah begini. Namun, begitulah cinta, meskipun tersakiti karna orang itu, hanya orang itu juga yang dapat menenangkan. Apalagi orang itu yang sangat kita cintai.
Claudia lalu bangkit dari berendamnya dan mengenakan pakaian tidurnya tanpa lengan. Dia pun segera mengambil dirinya dan memberikan pada Egnor. Egnor pun juga mengirimkan foto dirinya yang tersenyum sebagai respon suka atas foto wanitanya. Egnor menyuruh Frank mengambil gambarnya karna dia masih di lokasi bertemu klien mereka. Claudia tersenyum tipis melihat foto pria yang sangat ia cintai itu. Namun, lagi lagi kata Lisa terus terngiang di kupingnya. Cara satu satunya melupakannya sesaat adalah dengan memasak dan makan. Hanya ini yang bisa Claudia lakukan agar tidak gegabah.
Sedikit melupakannya, akhirnya Claudia beranjak tidur ketika waktu masih menunjukan pukul setengah sembilan malam. Sebelumnya dia sudah mengucapkan selamat malam kepada Egnor.
πEGNOR
Selamat malam my only one, god bless you and sweet dreamβ€
Balas Egnor dan sudah membuat hati Claudia berdebar. Dia jadi merindukan pria nya itu. Dia pun memejamkan matanya. Claudia tertidur.
*Dasar wanita simpanan! Pantas saja dia selalu mengikuti Tuan Egnor, pantas saja dia selalu menumpang mobil dengan Tuan Egnor.*
*Iya benar, dan apa kalian tidak curiga sewaktu kemarin Tuan Egnor ke acara pernikahan adiknya, dia juga ikut kan?*
*Iya benar jalang! Hahaha, wanita simpanan. Yah memang pengacara hebat seperti Tuan Egnor wajarlah mempunyai wanita simpanan seperti dirinya!*
*Iya benar wanita simpanan!*
*Wanita simpanan, jalang, wanita bermuka dua, kelihatannya saja polos tapi ternyata tetap wanita simpanan!*
"Tidak! Aku bukan wanita simpanan! Oh God! Aku mimpi! Hosh, hosh! Tidak tidak! Mom, dad, kenapa aku seperti ini? Aku mencintai kak Egnor begitu juga dirinya. Argh, kenapa jadi begini? Aku juga belum melakukan apapun dengannya. Oh Tuhan!" Claudia mengipas ngipas wajahnya dengan tangannya. Dia benar benar kalut. Kata kata Lisa membuatnya sampai berpikir seperti ini. Memang seharusnya dia menjadi istri Egnor dulu baru dia bisa tinggal bersama Egnor. Ayah dan aunty nya saja tidak tahu kalau dirinya tinggal disini.
Dia lalu menoleh ke arah jam, sudah pukul 6 pagi. Dia menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tetap harus bekerja. Dia pun tidak boleh sering sering di apartemen, takut kalau kalau aunty Anne datang atau bahkan Tuan Johanes. Lebih baik dia pulang malam hari dan langsung tidur. Dia harus mencari cara agar Egnor pulang agak malam. Mungkin dia harus mencari lembur atau memperbanyak pekerjaannya. Semua pikirannya ini sungguh membuatnya bingung dan mengerjakan semuanya dengan cepat.
Claudia akhirnya tiba di kantor. Dia muram, dia bingung. Dia memasang wajah datar pada Egnor tapi juga tetap menjawab apa yang Egnor atau Grace tanya.
Satu hari, Egnor merasa wajar. Malamnya Egnor kembali pulang ke apartemen bersama Claudia. Claudia terus terdiam dan terus melamun namun tetap menertralkan dirinya kalau Egnor bertanya atau mengajaknya bicara.
Dua hari, Egnor masih merasa wajah karna dirinya juga pergi ke tempat proyek milik ayahnya. Claudia pun hanya terus mengetik sampai malam. Egnor agak bingung kenapa Claudia terus membuat laporan.
Hari ketiga Claudia masih terus terdiam. Ketika tidur malam pun, dia langsung masuk ke dalam pelukan Egnor dan pura pura langsung tertidur. Padahal hatinya berkecamuk. Dia hendak mengatakannya pada Egnor tapi dia benar benar takut.
Dan hari ke empat pun akhirnya membuat Egnor meledak. Egnor seperti tinggal dan bekerja bersama patung berjalan. Selalu diam, bicara ketika ditanya dan sering melamun. Selain itu, hari ini Claudia juga melakukan kesalahan yang fatal. Claudia membatalkan sebuah kasus kepemimpinan di Honolulu hanya karna dia lupa dengan jadwal Egnor yang telah ia susun.
"Aku tidak tahu di mana pikiranmu Claudia! Setiap hari sampai beberapa hari ini kau selalu melamun, tidak fokus dan berdiam saja. Ada apa denganmu hah? Kau ada masalah apa lagi? Aku sudah sabar dan tidak mau memarahimu, tapi ini sudah keterlaluan! Kau yang membuat agenda ku tapi kau juga yang lupa dan tidak mau mengoreksi dulu! Dengarkan aku, Aku tidak akan memaafkanmu jika petinggi Honolulu itu benar benar membatalkan kerjasama ini! Grace, segera kau datangi mereka bersama Frank ke Mahkamah Agung! Kita harus mendapatkan kasus itu, aku yakin aku bisa memenangkannya! Cepat yakinkan mereka!" Bentak Egnor pada Claudia dan juga memerintahkan pada Grace yang akhirnya turun tangan. Grace pun segera melangkah keluar ke ruangan Frank.
Egnor masih memandang tajam Claudia. Claudia di sana menautkan tangannya dan terus menunduk. Dia sudah tidak bisa menangis lagi.
"Jadi apa tanggapanmu Claudia! Kau selalu diam diam dan diam jika dirimu jelas jelas bersalah! Kau mendengarku tidak?" Kata Egnor lagi mengintimidasi.
Claudia akhirnya menghela napasnya. Dia benar benar lelah dengan semua ujian hidupnya ini.
"Ya aku mendengarnya kak! Baiklah kak, aku sangat sangat lelah. Aku pergi saja dari sini. Kau tidak usah repot repot memaafkanmu. Aku memang bersalah. Lebih baik aku keluar saja dari pekerjaan ini. Aku akan bekerja di tempat lain." Kata Claudia akhirnya. Dia lalu berbalik.
Egnor benar benar dibuat heran. Egnor mendelikan alisnya dan berdiri. Dia berjalan menuju Claudia dan dia menyadari sepertinya dirinya sudah sangat keras pada wanitanya itu.
Egnor segera memeluk Claudia dari belakang ketika dia hendak melangkahkan kakinya ke luar.
"Clau! Maafkan aku! Kau ini kenapa sebenarnya? Ceritalah padaku, aku kekasihmu, pria mu, mengapa kau seperti ini hah?" Kata Egnor membuat hati Claudia bergetar. Egnor mengakui dirinya adalah kekasihnya. Sungguh suatu pernyataan yang membuatnya luluh. Claudia lalu membalikan lagi tubuhnya. Dia memeluk Egnor sangat sangat erat. Dia memejamkan matanya dan merasakan aroma tubuh prianya itu.
__ADS_1
Egnor pun membimbing Claudia ke sofa. Egnor menyuruh Claudia duduk dan dia berjongkok di depannya.
"Katakan padaku sekarang, kau kenapa?" Egnor mendongakan dagu Claudia.
"Kalau aku mengatakan, kau tidak boleh marah dan mendatanginya. Kalau sampai kau melakukannya, lebih baik aku pulang kembali ke Oriental!" Kata Claudia pelan.
"Tidak! Aku tidak mau kau ke Oriental lagi. Bawa saja bibimu tinggal di sini bersamamu!"
Claudia tersenyum. Dia tahu, kalau pria nya ini adalah orang baik. Dia mengelus pipi Egnor.
"Kak, aku merasa kalau diriku ini seperti wanita simpananmu kak!" Claudia mulai bercerita.
Egnor mendelikan alisnya. Dia masih menunggu lanjutan kata kata Claudia.
"Beberapa hari yang lalu Nona Lisa datang ke apartemenmu. Dia mencarimu. Apakah kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Claudia melirik Egnor.
"Sebenarnya sudah, sekitar babarapa hari yang lalu juga. Dia hanya memberikanku sup jagung yang tidak kumakan karna aku harus segera berangkat. Jadi, apa yang dia lakukan padamu?" Selidik Egnor terus melihat Claudia.
"Dia agak terkejut kalau ternyata aku ada di apartemenmu. Sepertinya dia tidak suka. Dia lalu mengatakan kata kata yang menurutku sangat rasional." Claudia melanjutkan.
"Apa?"
"Katanya kalau aku tidak menjadi istrimu, aku tidak seharusnya tinggal bersamamu di apartemen. Ini akan menimbulkan berita miring dan dengan kata lain aku seperti wanita simpananmu kak! Dan nantinya akan merusak reputasimu. Aku memikirkannya kak. Aku takut! Aku juga tidak mau karir mu hancur hanya karna membantu diriku." Akhirnya Claudia mengatakannya pada Egnor. Dia cukup lega. Claudia berharap mungkin Egnor akan membelikannya apartemen atau mempunyai solusi yang lain.
"Jadi begitu? Itu yang membuat wanitaku ini menjadi tidak konsen dan terus melamun? Iya?"
Claudia mengangguk. Egnor sejenak berpikir. Tak berapa lama ia tersenyum. Dia mengelus pipi Claudia.
"Baiklah sepertinya aku harus melakukan ini, tapi kau juga harus menerima apa yang menjadi keputusanku. Bagaimana?" Egnor memberikan pertimbangan.
"Memang kau mau apa kak?" Tanya Claudia agak penasaran.
"Nantilah, kau akan tahu. Sekarang kau kembali saja ke apartemen. Kau merilekskan dirimu dan beristirahat. Aku akan mengurus semuanya. Nanti malam aku akan memberitahumu." Kata Egnor mengecup kening Claudia dan beranjak.
Claudia masih terpaku di sana. Sementara Egnor sudah menekan nekan ponselnya. Dia menghubungi Joe. Akhirnya Claudia kembali ke apartemen lebih dulu. Sekembalinya, Claudia membersihkan semua apartemen dan memasak makan malam. Setelah dia makan malam karna Egnor tak kunjung pulang, akhirnya dia tertidur di sofa. Egnor kembali kira kira pukul sepuluh malam. Dia mengurus rencananya dan juga mengurus pemimpin Honolulu itu.
Egnor melihat Claudia yang sangat pulas. Akhirnya dia menggendong wanitanya itu untuk tidur di kamar.
...
Keesokannya, mereka telah bersiap ke kantor. Egnor dengan setelan jas resminya dan Claudia dengan dress hitam formilnya.
"Kau sudah siap Clau?" Tanya Egnor dan Claudia menganggap siap untuk berangkat. Semalam dia tidak lagi terbangun.
"Ya kak, ayo berangkat!" Jawab Claudia selesai mengenakan sepatunya.
"Siapkan tanda pengenalmu, paspormu dan akta lahirmu. Kalau kau membawa akta keluarga juga boleh." Kata Egnor merapikan kembali dasinya.
"Untuk apa kak?"
"Kita ke catatan sipil. Kita menikah !"
...
...
...
...
Egnor!!! Gemes banget gua sama luuu!!!! Gila gua gila nyiptain karakter dirimu, belum lagi karakter keponakan ipar luu eehh salah jalan eke maap!!! ππ
.
Next part 31
Lalala entah lah apalagi yang terjadi gaess ππ
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, dan TIP juga boleh ππ
Semua dukungan kalian berarti bagi Egnor dan Claudia ππ
.
__ADS_1
Thanks for read I LOVE YOUU ππ