Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 112: Stay Alive!


__ADS_3

Hanya ingin bersama dengan waktu yang lama. Karena kekhawatiran yang memuncak malah menambah pikiran dan masalah. Karena tidak mau mengambil resiko yang lebih sehingga terjadi lagi sebuah penyesalan. Semua dilakukan hanya ingin melindungi dan dilindungi. Apakah Claudia selamat dalam keadaan maut dengan anaknya? Sanggupkah Egnor bersabar dengan semua ini?


...


Egnor sudah membawa Claudia masuk ke dalam mobil. Dia tetap memangku Claudia dalam pelukannya. Moses sudah menyalakan dan mulai menjalankan mobilnya.


"Cepat sedikit, Moses!" Kata Egnor dengan nada panik.


"Iya, tuan! Nyonya Claudia, kau harus bertahan!" Ujar Moses juga. Dia melajukan mobilnya dengan cepat.


Sementara Egnor terus memeluk istrinya. Dia mengecupi puncak kepala Claudia dengan wajah yang sangat panik.


"Claudia, bertahanlah, honey! Aku mohon, maafkan aku! Claudia, buka matamu, Clau, aku mohon! Demi anak kita, Clau!!" Pekik Egnor meringis mengeratkan pelukannya. Seluruh kepalanya sudah bersimbah keringat, begitu juga dengan tangannya yang sempat menggendong Claudia. Darah dan air terus keluar dari bawah sana. Egnor begitu merasakannya. Wajah Claudia pun berkeringat. Matanya tertap terpejam dan sekujur tubuhnya dingin. Egnor hanya bisa mendekap Claudia sambil merapal doa agar Claudia dapat bertahan sampai rumah sakit.


"CEPAT MOSES CEPAATTT!!!!" teriak Egnor menyuruh Moses menambah kecepatan karena Egnor merasa bagian bawah Claudia terus basah sampai menembus pakaiannya. Egnor sangat merasakannya.


Moses melalui jalan pintas karena terlihat di depan traffic jam. Hari ini merupakan hari kerja dan jam padat.


"Claudia, honey! Plis plis bertahan jangan seperti ini, CLAUDIA!!!!!" Pekik Egnor terus menerus. Dia lagi mengecupi kening Claudia berulang ulang. Dia pun meraih perut besar Claudia.


"Twins! Plis bertahan untukku, for your mom, plis twins!" Egnor mengelus perut Claudia. Pikirannya hanya berpusat tentang keselamatan istri dan anak anaknya. Setetes air mata turun dari mata tajamnya. Dia sungguh menyesal. Seharusnya dia menitipkan Claudia dengan auntynya pasti tidak akan seperti ini dan dia juga bisa menangkap David dengan tangannya sendiri.


"CLAUDIAAAA!!!! BERTAHAN CLAUDIA PLIS PLIS!!! AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU! PLIS STAY FOR ME PLISS, CLAUDIA! OH TUHAN MENGAPA SELURUH TUBUHNYA MENDINGIN SEPERTI INI?! MOSES CEPATT!!!" Pekik Egnor lagi sangat tidak sabar. Ketakutannya benar benar sampai ke ujung kepalanya.


"Iya Tuan, tenanglah, satu belokan lagi kita akan tiba," saut Moses juga merasakan kepanikan tuannya.


"Clau sebentar lagi Clau, bayi kita akan lahir, bertahan Claudia, honeyku!!" Egnor terus berkata kata seperti Claudia baik baik saja.


Sampailah mereka di depan ruang gawat darurat rumah sakit itu. Moses langsung membantu Egnor keluar. Seorang perawat yang kebetulan keluar langsung mendorong tempat tidur berjalan itu.


"Lisa, Lisa, beritahu Lisa, cepat sus!!!" Pinta Egnor panik setelah merebahkan istrinya di atas tempat tidur itu.


"Iya tuan, kita bawa dulu pasien ke dalam," saut sang suster siap mendorong tempat tidur tersebut diikuti beberapa temannya keluar.


"Moses hubungi Grace Frank cepat cepat!!" perintah Egnor.


"Baik Tuan!"


Tanpa sadar, Egnor mengikuti arah suster yang membawa Claudia. Dia benar benar ingin mengetahui kondisi istrinya.


"Tuan, anda tunggu di luar," kata sang suster memperingati.


"Tidak, aku harus ikut, aku mau menemaninya!" bantah Egnor.


"Tidak bisa Tuan, kau akan menganggu dokter yang memeriksanya," sang suster tetap melarang Egnor.


"Bagaimana bisa aku menganggu sementara aku tidak mengerti?! Aku mau ikut ke dalam!" Gertak Egnor dan Moses mendengarnya, mencoba menahan tuannya.


"Tidak bisa Tuan, tunggu di luar tuan," sang suster terus menahan Egnor.


"Aku mau masuk, aku bisa membayar kalian semua!!" bentak Egnor tetap bersih keras.


"Tuan, tuan, kita tunggu saja di luar. Kau tidak boleh masuk Tuan!" Moses berusaha menarik tubuh besar tuannya.


"Moses! Apa apaan kau ini, itu istriku, aku harus menemaninya! Dia hendak melahirkan!" Egnor menghempaskan tubuh Moses dan memarahinya. Selagi itu suster langsung menutup dan mengunci ruang perawatan. Egnor berbalik lalu menggedor ruangan itu.


"Moses, kalau tenaga medis itu tidak mengerjakan tugasnya dengan baik, aku jiga akan membunuhmu! Sekarang banyak orang yang mencurigakan!" gertak Egnor pada Moses. Emosinya benar benar sudah mengalahkan akal sehatnya.


"Tidak akan tuan, kau tenanglah!" Moses berusaha sabar dan menenangkan tuannya.


"Hubungi dad dan aunty ku cepat Moses!" perintah Egnor lagi.


"Iya iya, kau tenang tuan!"


Egnor begitu frustasi dan masih menggedor gedor pintu unit gawat darurat itu. Sampai akhirnya Lisa yang tidak sengaja melewati ruang gawat darurat bersama Richard melihat Egnor yang tampak khawatir. Lisa jadi ikut panik. Dia dan Richard pun yang hendak makan bersama menghampiri Egnor terlebih dahulu.


"Egnor, Egnor, ada apa ini? Siapa di dalam? Jangan bilang istrimu?!" Tanya Lisa dengan nada panik dan memegang bahu Egnor. Egnor langsung berbalik dan menatap tajam Lisa. Dia lalu mencengkram kedua lengan Lisa.

__ADS_1


"Lisa! Kau cepat ke dalam, kau harus menyelamatkan istri dan anakku, sekarang!!!!" gertak Egnor menghentakan kedua lengan Lisa.


"Iya, iya, kau tenanglah, aku akan menghubungi dokter kandungannya. Kau tenang tenang," ujar Lisa melepaskan diri dari Egnor dan meraih ponsel di saku jubah putihnya.


Lisa lalu mengetuk pintu UGD dan mengatakan dirinya. Suster segera membuka pintu nya.


"Dokter Lisa? Aku sudah menghubungimu," kata sang suster.


"Iya, bagaimana Claudia?"


"Dia membutuhkan banyak darah, dok sebelum melakukan operasi. Air ketubannya hampir mengering dan dia kehilangan banyak darah. Tekanan darahnya begitu rendah dan detak jantungnya juga kedua anaknya sangat tidak stabil," Tutur sang suster memberitahukan kondisinya.


Egnor mendengarnya seperti tersambar petir berkali kali.


"LISA, CEPAT SELAMATKAN ISTRIKU, AKU MOHON!!!!" Teriak Egnor hendak memasuki ruangan tapi Richard menahannya.


"Tenang Egnor tenang," kata Richard juga sebenarnya sangat panik.


"Bagaimana aku bisa tenang istriku di dalam melemah Richard!!!" Akhirnya air mata itu terjatuh dan Egnor sudah berlutut tersungkur di lantai. Semua kekuatannya terasa hilang ketika mendengar kondisi Claudia yang sangat mengkhawatirkan. Richard tetap memegang punggung Egnor agar tetap kuat.


Belum saja Lisa masuk ke dalam, dokter yang melakukan tindakan terlebih dulu keluar dari sana.


"Dokter Lisa? Kita membutuhkan darah A+ untuk pasien di dalam. Jantungnya semakin melemah bersama kedua anaknya. Kita harus segera mengeluarkan anak anaknya jika tidak mereka akan kehilangan nyawanya, tapi sang ibu kehilangan banyak darah," kata sang dokter agak ketir.


"Tidak! Lisa, tolong selamatkan Claudia, aku mohon!!!" Pinta Egnor kembali berdiri benar benar menatap Lisa penuh harap.


"A+?" Lisa memijat dagunya karena seingatnya bank darah sedang kehabisan stok A+.


"Aku A+, Lisa!" Pekik Richard dan Egnor langsung menoleh pada Richard.


"Aku juga A+, Nona Lisa!" Kata seorang pria yang baru saja datang.


"Frank?" Panggil Egnor pelan.


"Baiklah, segera lakukan transfusi darah!" Perintah Lisa dan memasuki ruangan.


Sebelum suster membawa Richard dan Frank menuju ruang pengambilan darah, Richard dan Frank membantu Egnor untuk duduk terlebih dahulu. Grace cukup terkejut melihat jas dan kemeja Egnor berdarah. Grace menghubungi Anne untuk membawa salinan untuk tuannya karena Egnor pasti tidak mau pulang.


"Semua akan baik baik saja Tuan, Claudia dan kedua anakmu akan selamat!" Frank memegang punggung tuannya. tuannya membutuhkan dukungan.


"Seharusnya aku tidak mengajaknya, Frank! Aku benar benar bodoh! Argh, Claudia kau harus selamat atau aku juga akan ikut denganmu!" pekik Egnor memukul mukul pelipisnya.


"Tenang Egnor, aku yakin semua akan berjalan dengan lancar," kata Richard juga.


Egnor menautkan tangannya dan menopang dahinya. Perasaannya benar benar tidak tenang. Tak berapa lama suster langsung mengarahkan Frank dan Richard ke ruangan pengambilan darah.


Egnor menunggu bersama Grace dan Moses. Sekitar sepuluh menit kemudian Anne dan Johanes datang. Grace lalu menyuruh tuannya berganti pakaian. Tadinya Egnor tidak mau tapi Grace mengatakan bagaimana jika dia bisa menemani operasi Claudia di dalam. Dia harus steril dan bersih. Akhirnya Egnor mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan panjang putih dan celana jeans biru.


Dan benar saja, tak berapa lama Egnor mengganti pakaian, Richard dan Frank sudah kembali lalu diikuti Lisa keluar dari ruang gawat darurat.


"Egnor, sudah tidak ada waktu lagi. Dokter kandungan harus mengeluarkan kedua anakmu sekarang juga," kata Lisa meminta ijin terlebih dahulu.


"Ya lakukan Lisa, lakukan secepatnya! Dan, Bisakah aku menemani Claudia, aku mohon Lisa aku mohon!!!" pinta Egnor.


"Baiklah, tapi kau harus tenang! Permisi, beri jalan, Claudia harus ke ruang operasi. Silahkan ikuti kami Egnor," tutur Lisa lagi.


Claudia pun keluar dari ruangan itu. Anne sudah menangis di palukan Grace. Grace juga sedikit cemas. Mereka semua menuju ke ruang operasi dan menunggu di depannya.


"Nak, sebut mommy mu, biarkan dia membantumu dan menantunya," pesan Johanes sebelum Egnor menuju ke ruang operasi. Egnor mengangguk dan memeluk sesaat ayahnya. Egnor lalu ke ruang operasi dan sudah mengenakan baju steril.


Akhirnya Egnor sedikit bernapas lega karena dia bisa melihat wajah istrinya yang kini sedang berjuang. Claudia terlihat sangat pucat. Dia berada di atas kepala istrinya sementara semua tim medis melakukan pekerjaannya. Lisa juga ikut memantau kondisi Claudia yang masih tidak stabil. Operasi berjalan cukup lama karena ada dua bayi yang harus dikeluarkan. Egnor tak henti hentinya menempelkan dahinya pada dahi Claudia.


"Claudia, sayang, honey, my only one, plis stay alive for me, for children! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Clau! Aku mencintaimu, cukup sudah aku terdampar, aku sudah sangat tersiksa melewati hari hari berat itu. Jangan lagi menyiksa ku seperti ini plis Clau bertahan!" Bisik Egnor dengan sangat pelan di atas kening Claudia.


Egnor tak kuasa untuk tidak menangis. Air matanya sudah membasahi kening Claudia. Egnor sangat takut masalahnya Egnor merasa wajah Claudia yang begitu dingin. Padahal dia sudah memegangnya dengan protektif. Sesekali Egnor melihat Lisa yang tampak panik. Lisa terus membenarkan cairan yang masuk ke dalam tubuh Claudia yang sepertinya tidak memberikan respon pada Claudia. Kondisi Claudia makin menurun.


Sampai akhirnya satu anak Egnor dan Claudia berhasil dikeluarkan. Anehnya dia tidak menangis. Lisa menoleh ke arah Egnor dan menunjukan jari telunjuknya. Tak lama baru terdengarlah tangis anak pertama Egnor karena tepukan dari sang dokter. Jantung Egnor berdegup luar biasa senangnya karena satu anaknya selamat.

__ADS_1


"Clau, anak kita Clau, Wilson! Ya kita mau menamai kedua anak kita Wilson dan William kan? Wilson sudah keluar Clau, sekarang kau sadarlah aku mohon!" Egnor mengajak Claudia bicara tetapi masih tidak ada respon dari Claudia. Malahan Egnor mendengar perintah Lisa pada salah satu perawat.


"Siapkan alat pemicu jantung, setelah anaknya keluar langsung beri respon pada jantungnya!" perintah Lisa pelan.


"Siap dok!"


Egnor menegakan kepala nya menatap Lisa dan Lisa hanya memberi kode tetap tenang dengan telapak tangannya. Tak lama terdengarlah suara anak laki laki yang sangat menggelegar sampai Lisa menutup salah satu kupingnya. Pasalnya Lisa memang jarang mengikuti operasi Caesar.


"Clau, satu lagi anak kita sudah lahir, William telah lahir, Clau! terimakasih honey! Jadi sekarang kau harus membuka matamu, Claudiaa!!!" Egnor memohon dan saat itu juga Egnor bukan seperti dirinya.


Dokter kandungan dengan cepat membersihkan perut Claudia dan kembali menjahitnya sementara Lisa sudah siap dengan alat pemicu jantungnya. Lisa lalu memberi kode seorang perawat pria untuk membawa Egnor keluar. Namun, bukan Egnor yang langsung menuruti sang perawat.


"Lepaskan aku, aku harus bersama istriku!" kata Egnor meronta dan hendak menghempaskan si perawat.


"Keluar sebentar tuan, keadaannya sangat genting tuan!" si perawat terus berusaha.


"TIDAAAKKK!!!" Egnor mencoba menghempaskan sang perawat ketika Lisa sudah mendekati Claudia.


"Test satu dok, siap?"


Lisa mengangguk dan menempelkan alat tersebut pada dada Claudia. Ya, seketika jantung Claudia melemah dan nadinya tidak terdeteksi karena darah yang keluar terlalu banyak dan transfusi darah yang mengalir tidak secepat bayangan karena air ketuban Claudia sudah habis. Tim medis harus mengeluarkan anaknya kalau tidak semua bisa tidak terselamatkan.


Suara mesin jantungnya masih lemah bahkan terkadang menghilang.


"Ayo tuan silahkan keluar!" ujar si perawat lagi menarik tubuh kekar Egnor.


"Aku bilang tidak tidak!!!" Egnor berhasil menghempaskan sang perawat dan Lisa kembali melakukan test yang kedua.


"Test kedua dok, siap?"


Lisa mengangguk lagi dan keringat sudah membasahi pelipisnya. Egnor pun sudah kembali di atas kepala Claudia.


"Claudia, kemarin kau tidak mengijinkan aku pergi, jadi sekarang aku juga tidak akan mengijinkan kau pergi! Kalau kau pergi, aku juga akan ikut bersamamu! Kau tidak boleh egois begini Claudia! Sepuluh tahun kau sudah meninggalkanku, aku menunggumu, sekarang aku sudah bersamamu, mengapa kau masih mau meninggalkanku? Claudia, bangunlah, hembuskan napas mu lagi, honey! Oh mom! Jangan bawa istriku ke surga mom! Kau sudah meninggalkanku, masa kau tidak membiarkan wanita terindah ku ini bersamaku sampai masa tuaku? Mom, plis don't bring my live, my love, my soul, pliss!! Her the only one that i want mom. God, God, God, God! CLAUDIA, AKU MAU KAU BANGUN SEKARANG JUGA!!!" pekik Egnor tidak sanggup menahan semua emosinya. Semua perawat dan dokter benar benar merasakan suasana Egnor yang tidak akan rela jika istrinya harus tiada.


Lisa baru saja mengangkat kembali alat pemicu itu dan akhirnya berjalan suara mesin pendeteksi jantung itu terdengar stabil. Lisa menarik napas panjang. Dia berhasil dan perawat lain mengabarkan darah sudah mengalir dengan baik ketubuh Claudia.


Egnor sudah menangis dengan menempelkan dahinya pada dahi istrinya. Lisa mendekatinya.


"Suaramu berhasil memanggil Claudia kembali, sir! Dia selamat! Dia sungguh mencintaimu! Kalian pasangan sejati pertama kali ku saksikan! Selamat, kau sudah menjadi ayah dan suami yang hebat seperti jabatanmu!" Ucap Lisa tersenyum menepuk pelan punggung Egnor dan keluar dari ruangan.


...


...


...


...


...


😭😭😭😭 finally done


.


next part 113


Bagaimana keadaan Claudia selanjutnya?


apa dia akan segera sadar dan melihat kedua anak kembarnya?


perjalanan masih panjang, tetap berjaga jaga nyonya dan tuan ku 😊😊


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2