
Memang lidah tak bertulang dan dapat bersilat jika dia pandai mengaturnya. Dapat mengatakan seenak pikirannya berkehendak. Namun, semua tak ada artinya jika ingin membuat seseorang yang sudah mempunyai emas lalu disodorkan perak atau hanya seonggok perunggu. Bagaimana Claudia menanggapi sebuah ujian kecil dalam rumah tangganya? Percayakah Claudia dengan apa yang dikatakan Della? Dan, apa yang akan dilakukan Egnor?
...
"Keterlaluan kau!" Decak Claudia hendak mencengkram wajah Della yang menangis disana tetapi Anne menahannya.
"Sabar sayang, wanita ini sudah gila, kau tidak boleh terpancing! Kau sedang hamil, kasihan anak anakmu, tenang sayang!" Anne berusaha menenangkan Claudia agar tidak terpancing sehingga dapat membahayakan kandungannya.
"Tenang Claudia, kita bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin," tambah Johanes juga menenangkan.
"Suruh dia pergi dad! Suamiku tidak akan melakukan hal menjijikan seperti yang dia katakan! Pergi dari apartemenku, PERGI !!" bentak Claudia menjadi jadi.
"Aku hanya meminta pertanggungjawaban, Nyonya! Tuan Egnor tidak mau mengakuinya, padahal kami sama sama sadar dan menikmatinya!" Tutur Della lagi tidak mau kalah.
"DIAM!!! Tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan, kau pergi dari sini atau aku benar benar yang akan menyeretku?!" Claudia membuka lebar matanya dan menunjuk nunjuk Della.
"Kau jangan egois, nyonya! Bagaimana jika aku hamil? Ini anak suamimu!" decak Della sedikit menantang Claudia.
"DELLA!!! TIDAK ADA ANAK SUAMIKU! ANAK SUAMIKU HANYA YANG ADA DI DALAM PERUTKU, SEKARANG KAU PERGIII!!!" Claudia berteriak sampai Della pun merasa pengang. Benar dengan apa yang dikatakan Kate kalau Claudia sangat rapuh tetapi juga bisa menjadi sekeras batu karang yang tidak mudah terkikis begitu saja.
"Sabar Clau! Biar aku yang bicara," kata Johanes menahan kemarahan Claudia yang sangat memuncak.
"Nona Della, tolong bicaralah dengan benar. Kau adalah wanita yang berpendidikan kan? Pangkatmu advokat seperti anakmu pasti kau mengetahui caranya beretika dan bermoral. Kau mengatakan seperti ini seakan akan ingin menghancurkan rumah tangga anakku. Kalau kau menyukainya sebaiknya kau melupakannya. Masih banyak pria lain di luar sana. Aku sangat mengetahui anak laki laki ku jadi dia tidak akan merayumu dan melakukan hal senonoh seperti itu," ujar Johanes berusaha bijaksana dan mengingatkan norma yang seharusnya dilakukan seorang advokat.
"Tuan, aku tahu apa yang kukatakan. Aku tidak akan berani berbicara seperti ini jika hal itu adalah kebohongan. Aku sangat tahu konsekuensinya Tuan. Kau pasti sangat mengenal kan kondisi pulau terdampar tanpa penghuni. Saat itu kami sedang mencari makan dan kami tersesat di tengah hutan sehingga kami menetap di goa karena hari itu hujan dan hari sudah gelap. Kami tidak bisa bergabung dengan kelompok kami. Kami memang sudah dekat karena di sana kami benar benar saling bergantung satu sama lain. Tuan Egnor memang seorang yang sangat baik dan gagah. Aku minta maaf Nyonya, aku minta maaf karena sangat terpesona dengan rayuan suamimu," ucap Della kembali dalam tangisnya.
"PEMBOHONG! AKU SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA! KALAU DIA MENYUKAIMU, UNTUK APA DIA BERUSAHA MENEMUIKU DAN ASAL KAU TAHU SAJA, KEMARIN KAMI MEAKUKANNYA DENGAN SANGAT PANAS! KAU KASIHAN SEKALI, TIDAK ADA HUBUNGAN APA APA DAN MALAH MEMBAYANGKAN HAL YANG SANGAT MUSTAHIL! SEKARANG KAU PERGI PERGI PERGIII!!!!" Emosi Claudia benar benar melonjak. Dia tidak peduli harus berteriak di depan kedua mertuannya.
"Karena Tuan Egnor memang masih menghargaimu Nyonya, dia memang masih mencintaimu. Aku tahu, malam itu dia hanya memuaskan hasratnya padaku, aku memang yang bersalah, seharusnya aku mengingatkannya." Della seperti membuat dirinya sebagai korban atas apa yang tidak dilakukan Egnor.
"CUKUP! ARGH, PERUTKU!" Bentak Claudia lagi dan Claudia mengalami kontraksi kecil yang cukup membuatnya merintih. Dia sudah membungkuk dan memegang perutnya
"Sudah sudah kau pergi dari sini, aku mohon, kau mengusik emosi menantuku, kau pergi! Johanes, tolong usir dia!" Pinta Anne pada akhirnya. Dia juga sudah muak dengan semua yang ia yakini adalah sebuah kebohongan.
"Baiklah aku akan pergi. Aku sudah memberitahu padamu sehingga tidak adalagi bebanku karena aku takut akan hamil dan Tuan Egnor benar benar tidak mau mengakuinya, setidaknya kalian tahu kalau ada seorang anak yang tidak bersalah tapi menanggung semuanya," ujar Della seakan akan dia yang mengalami banyak tekanan.
"PERGI! SURUH DIA PERGI DAD, AKU MOHONN!!!"
"Nona Della, tolong pergi terlebih dahulu, kami juga akan mengkonfirmasikan pada Egnor," pinta Johanes menggiring Della keluar dari apartemen anaknya.
"Permisi!"
Della pun pergi dengan menyunggingkan senyum liciknya. Sepertinya usahanya kali ini akan berhasil. Dia berharap Egnor dan Claudia akan bertengkar lalu dia akan datang menemui Egnor meminta maaf dan memberikan hiburan pada Egnor. Dia berharap hal ini menjadi mudah. Apakah begitu?
Sementara itu di kantor Eg. Lawyer, Egnor sedang mempelajari sejumlah masalah yang terjadi selama dirinya tidak ada. Cukup membuatnya banyak berpikir karena masalah yang datang silih berganti dan seperti bersamaan. Frank, Moses dan Gabriel juga Grace yang ada di sana sudah habis terkena segala sindiran serta cercaan Egnor. Ya, semua memang ada hubungannya dengan kepergiannya ke Nederland. Memang seharusnya dia tidak pergi apa pun yang terjadi.
Egnor memijit tulang hidungnya lagi, lagi dan lagi. Tak lama dia mendongakan kepalanya menatap 4 bawahannya itu. Grace ada di meja kerjanya. Frank dan Moses ada di sofa dan Gabriel duduk bersebrangan Egnor.
"Jadi, Foster masih belum ditemukan?" tanya Egnor lagi.
"Belum Tuan," jawab Moses menundukan kepalanya di sofa sana.
"Begini saja, langsung saja minta berkas berkas karyawan properti Gabriane Group. Katakan aku yang menyuruhnya. Lalu, tambahkan semua cctv di setiap ruang kerja lalu tambah seseorang yang mengawasi ruangan cctv. Orang lama saja, tidak usah merekrut dari luar. Lalu Frank, atur secepatnya pertemuanku dengan Richie Gabriane. Aku muak sekali dengannya!" perintah Egnor pada akhirnya mengatur segala strategi atas kemungkinan yang akan terjadi lagi.
"Beliau masih di Nederland Tuan," kata Frank sedikit takut dengan amarah Egnor lagi.
"Pecundang! Yasudah, untuk masalah kasus yang dibatalkan dari klien biarkan saja! Kita tidak mencari makan dari mereka! Aku sudah kembali, aku yakin semua akan kembali berjalan normal. Lalu, rekrut Bertho untuk menjadi bodyguard ku menggantikan Joe. Aku tidak mau yang lain!"
"Baik Tuan!
"Tapi sebelumnya Frank, suruh Bertho datang ke Japanis bersama Gabriel, Moses juga kepala kepolisian Japanis untuk menangkap Nicolas. Kalau Aaron Pei membangkang suruh dia berhadapan denganku! Mengerti?" kata Egnor lagi.
"Mengerti Tuan. Segera akan kulaksanakan. Lalu tuan, untuk kasus penukaran data perkiraan cuaca sehingga terjadi kecelakaan kapal yang kau tumpangi bagaimana?" Frank memastikan.
"Bagaimana aku menyelesaikannya jika dalangnya menyembunyikan diri di Nederland? Ah, begini saja, berikan surat penangkapan dan pemeriksaan untuk Richie agar dia terpancing dan menjadi kesal lalu pulang kemari! Nah, begitu saja Frank! Masalah selesai, mengapa aku masih saja mengantuk siang ini? Kapan Claudia datang, Grace?" Kata Egnor mulai menyandarkan tubuhnya. Hanya mengurus satu orang tua seperti Richie mengapa dirinya sampai selelah dan terjebak permainannya sih.
"Mungkin sebentar lagi, Tuan," jawab Grace.
"Bagaimana Moses, kau percaya kan masalah akan selesai setelah bos besar kembali!" Frank berdecih lega.
"Kau benar Frank!" Moses tersenyum.
"Oh iya Frank, satu lagi, berikan hadiah kecil untuk Richie, katakan dariku dan bilang juga 'AKU MASIH BERNAPAS DI DALAM AIR!' breathe in the water!!" kata Egnor lagi hendak membuat lelucon untum Richie agar lebih menambahkan kekuatan siapa yang ia lawan.
"Hahaha, hati hati Tuan, si tua bangka itu langsung tewas di tempat!" tambah Gabriel terkekeh.
"Pekerjaan kita akan semakin mudah dan menjadi paling ditakuti, Gabe!" Egnor mendesis.
Egnor menyeringai juga bersama anak buahnya yang hendak menunggu kejatuhan Richie di tangan tuan besarnya. Egnor sudah memiliki banyak bukti dan akan segera memberi peringatan keras bagi Richie. Dia sama sekali tidak masalah dengan kecelakaan kemarin, tetapi dia harus menuntut keadilan bagi mereka yang tewas seperti bodyguard kepercayaannya, Joe.
__ADS_1
Tak lama kemudian ponsel Egnor berbunyi. Egnor yang langsung mengangkatnya dan menekan tombol loud speaker karena dia masih menikmati sandaran di singgasana nya .
"Egnor!!!" Panggil suara di sebrang sana. Gabriel, Frank dan Moses yang hendak pergi menjadi tertahan karena panggilan tersebut terdengar memendam kepanikan.
"Aunty? Ada apa?" tanya Egnor masih menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Perut Claudia sakit, dia tidak mau ke rumah sakit. Tadi ada seorang wanita bernama Della datang kemari. Dia mengatakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan Claudia," kata Anne. Gabriel sudah mengerutkan keningnya. Pasti ada yang tidak beres. Egnor akhirnya menegakan tubuhnya dan mendekatkan diri pada ponselnya.
"Tidak menyenangkan bagaimana?"
"Dia mengatakan katanya kau berhubungan intim dengannya ketika terdampar di pulau," jawab Anne dengan nada suara cemas.
Mendengar hal itu, Gabriel menjadi sangat marah. Seharusnya dia benar benar memberi pelajaran pada wanita itu waktu itu.
"Dia benar benar berbohong! Selama di pulau, Tuan Egnor selalu bersamaku dan Hakim Benedict!" sergah Gabriel cukup keras.
"Sudah jelas apa yang dikatakan Gabriel, Aunty?"
"Aku juga tidak akan percaya, Claudia juga tapi dia shock betapa wanita itu sangat berani. Sekarang Claudia terus memanggil namamu! Ayahmu tidak bisa menenangkan istrimu. Lebih baik kau pulang sekarang dulu!" kata Anne lagi.
"Iya Tuan, kau temui Claudia dulu. Kau kan tahu meskipun Claudia tidak percaya tapi pasti ada rasa cemburu dan cemas. Istri mana yang mau mendengar kalau suaminya bermain dengan wanita lain walau itu tidak benar," tambah Grace mengingat penderitaan Claudia ketika Egnor tidak ada.
"Iya iya, katakan padanya aku akan kembali Aunty. Atau berikan ponselnya padanya. Aku ingin bicara," pinta Egnor.
"Tidak! Kau pulang saja cepat!!!" Perintah Claudia akhirnya berteriak di seberang sana.
Panggilan dimatikan. Tambah lagi masalah kecil yang seperti sumbu ketika sudah terkena api sedikit saja, dia akan terbakar, apalagi sudah tersedia dengan minyak tanah. Egnor mengusap wajahnya. Della benar benar mencari perkara dengannya.
"Kau tenang saja Tuan! Aku yang akan membungkam mulutnya. Kau tunggu saja di sini, dasar wanita ular berkepala ratusan!" Gabriel sudah naik pitam dan hendak menemui Della tetapi Frank dan Moses menahannya.
"Gabe! masa kau mau melawan seorang wanita!" decak Frank menahan emosi Gabriel.
"Dia bukan wanita Tuan Frank, dia siluman! Tidak ada seorang wanita yang tidak bisa menjaga harga diri begitu! Pokoknya aku harus memberitahukan dia sesuatu!" Gabriel kembali hendak pergi.
"Gabe!" Panggil Egnor menahan. Gabriel menoleh ke belakang.
"Itu hanya debu! Percuma kau memberinya pelajaran, dia akan kembali berkeliaran. Biar aku saja yang mengurusnya! Jangan mengeluarkan banyak tenaga! Atau aku pun bisa menyuruh Grace atau Lisa yang mengurusnya! Kau diam saja, kembali bekerja bersama Frank dan Moses. Aku pulang dulu!" kata Egnor dan beranjak.
"Baik Tuan," saut Gabriel menundukan kepalanya juga Frank dan Moses yang juga membungkuk ketika Egnor melewati mereka kembali dulu ke apartemennya.
"Ppsstt Gabe! Apa Della itu cantik sampai dia percaya diri mengatakan menyerahkan diri pada Tuan Egnor?" Bisik Moses.
"Aku heran, Tuan Egnor sudah berusia 31 dan sebentar lagi 32, tapi pesonanya mengalahkan usia ku yang baru berusia 28 tahun," keluh Frank yang menyadari ternyata cukup banyak yang menyukai atasannya itu.
"Haha! Oleh sebab itu Frank, suruh Grace mengurangi peraturan hidupmu agar kau tidak frustasi, jadi wajahmu tidak tua! Masa kau kalah pada Tuan Egnor yang sudah kepala tiga." Moses malah meledek Frank dan Grace.
Tuk!
Grace melemparkan pena pada kepala Moses.
"Aduh Grace! Kau ini kasar sekali!" sungut Moses mengusap usap puncak kepalanya.
"Kalian pria pria kurang kerjaan membicarakan sama sama pria, cepat bekerja! Aneh sekali jika para pria menggosip, jadi tidak lucu! Cepat bekerja ayo ayo!!" Gertak Grace dan mereka bertiga mulai berhambur mengerjakan apa yang sudah Egnor perintahkan.
...
Egnor tiba sekitar pukul satu siang. Dia diantar Bertho dan Bertho segera mengantar Johanes ke lokasi yang diinginkan. Anne juga ikut dengan mereka setelah menjelaskan semua yang terjadi pada Claudia. Claudia kini sudah tertidur setelah menegak obat anti kontraksi. Egnor menghampiri istrinya dan duduk di samping tempat tidurnya. Dia membelai pipi Claudia. Dia merasa Claudia sangat tampak lelah dengan sejumlah kerinduan yang mencekam selama dirinya tidak ada dan sekarang harus mendengar hal yang tidak benar. Egnor harus menemui Della. Dia tidak bisa membiarkannya walaupun Della nanti akan bosan secara sendirinya tetapi istrinya sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan. Tidak baik untuk emosi Claudia. Egnor harus memberi peringatan keras pada Della. Tidak menyangka dia memiliki pemikiran rendahan seperti itu.
Egnor bukan pria yang seenaknya. Dia menunggu Claudia bertahun tahun karena semata mata hanya nama Claudia yang sudah terukir di dalam hatinya. Tidak ada yang lain bahkan yang menggantinya.
Egnor terus menunggui Claudia sampai akhirnya dia mengantuk dan tidur di samping Claudia tanpa melepas jasnya. Tak lama Claudia pun terbangun. Dia menoleh dan mendapati suaminya sedang memeluknya.
"Kau sudah kembali, sayang?" Tanya Claudia memegang wajah Egnor.
"Hem ... " Jawab Egnor berusaha menyadarkan dirinya dan melihat istrinya
"Kau harus selesaikan urusanmu dengan Della. Dia benar benar tidak tahu malu, kak!" decak Claudia sebal.
"Ya, besok aku akan menemuinya," tutur Egnor makin mendekap tubuh istrinya.
"Di mana?"
"Tidak tahu, nanti biar Grace yang mengaturnya, sekarang Clau, lebih baik kau bacakan isi notebook yang sudah kau isi sejak aku pergi meninggalkanmu," pinta Egnor masih dengan matanya yang terpejam merasakan aroma tubuh istrinya.
"Aku ingin kau membuatkanku jus semangka!" pinta Claudia yang malah saat ini bukan yang ada di dalam notebook.
"Jus? kau menulis itu?"
"Ya jus semangka! Aku mau sekarang kak!" Claudia merajuk manja.
__ADS_1
"Ya ya baiklah, ayo kau juga harus menemaniku!"
Egnor menarik tangan Claudia perlahan menuju ke dapur. Dia harus menyenangkan hati istrinya. Dia harus mengganti hati Claudia yang tersakiti dan merasa kehilangan dengan perhatian dan kepedulian yang ia miliki.
Hari itu bukan hanya jus yang Egnor turuti. Egnor juga membuatkan roti untuk Claudia. Mulai dari meracik bahan, menguleni, membentuk dan memanggangnya, semua Egnor yang lakukan sesuai arahan Claudia. Claudia cukup senang dan beribu yakin kalau suaminya tidak akan melakukan hal rendah yang dikatakan Della. Namun, Claudia juga harus memberi pelajaran pada Della. Tidak hanya peringatan dari suaminya tetapi juga dari dirinya.
Keesokan harinya Grace sudah mengatur pertemuan Egnor dengan Della di sebuah cafe yang sangat eksklusif. Cafe tersebut terbuka tetapi hanya kalangan berkelas yang datang ke sana. Cafe tersebut berada di lobby sebuah kondominium pusat kota yang terbilang mewah.
Della sudah tiba terlebih dahulu. Dia sudah memesan dua buah kopi hitam, satu untuknya, satu untuk Egnor. Dia sudah menyusun sebuah rencana yang akan membawanya semakin dekat dengan tujuannya yaitu mengukuhkan Egnor menjadi miliknya. Dan jika waktunya sudah tepat, dia bisa membawa Egnor ke salah satu kamar di kondominium ini. Della yang meminta Egnor untuk menemuinya di sini cafe ini. Semua kegilaan ini juga Kate yang mengusulkan. Jika semua rencananya berhasil, Kate kini berbalik yang bisa mempermalukan Egnor juga seluruh reputasinya.
Egnor tiba tak lama kemudian. Dia berdehem dan duduk menatap tajam Della. Della menunduk memulai perannya. Egnor tak bersuara. Sepertinya dirinya yang membutuhkan penjelasan. Della menjadi bingung mengapa Egnor tidak menanyainya. Dia lalu sedikit mendongakan kepalanya dan melirik Egnor.
"Tu, tu, tuan Egnor, kau sudah datang?" Della menyapa basa basi.
"Hemm ..."
"Tuan, aku benar benar minta maaf. Aku benar benar tidak bisa melupakanmu, aku, aku, aku sudah mencintaimu, Tuan!" kata Della langsung pada inti pertemuan.
"Della ..." Panggil Egnor kemudian. Della kini benar benar menatap Egnor.
"Kau tidak seharusnya mencintai pria yang sudah memiliki seorang istri. Itu tidak benar sampai kau mengatakan hal yang sangat rendah. Mengapa kau mengatakan hal yang tidak sebenarnya pada istriku? Kita tidak melakukannya kan? Mengapa kau malah mengatakan hal itu?" Egnor berusaha untuk berkata kata dengan tenang agar tidak memancing tanggapan orang orang sekitar yang ada di cafe tersebut.
"Ya, kita memang tidak melakukannya, tapi tuan, kau pun seharusnya menghargaiku yang tulus mencintaimu. Sewaktu terdampar, aku yang memperhatikanmu dan menggantikan tugas tugas istrimu kan?" Della terus mengedepankan dirinya.
"Kau tidak hanya melakukannya untukku tetapi juga untuk banyak orang. kau jangan berlebihan Della. dan lagi pula, semua itu hanya kita memang harus saling melengkapi. Bukan hanya denganmu tetapi dengan Gabriel, Hakim Benedict dan orang orang lain yang ikut terdampar. Della, masih banyak pria yang bisa bersanding denganmu, bukan aku. Aku sudah memiliki istri yang sangat kucinta dan aku tidak mau yang lain. Aku sudah mempertegas padamu!" kata Egnor masih dalam kadar kesabarannya.
"Tapi Tuan, apakah tidak ada kesempatan untuk kita saling berdekatan saling mengenal satu sama lain? Aku sangat nyaman berdekatan denganmu Tuan." Della sudah mulai merajuk dan meneteskan air matanya. Egnor sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. tidak bisakah diselesaikan dengan baik baik?
"Cukup Della! kita hanya sebatas rekan kerja. Kita berdua satu profesi yang sama. Hanya seperti itu dan tidak bisa lebih. Aku masih banyak pekerjaan." Egnor mulai beranjak dari duduknya.
"Tunggu Tuan! Baiklah aku mengalah, aku akan meminta maaf pada istri anda telah mengatakan hal yang tak sepatutnya. Tapi biarkan kita bercakap cakap dulu dan minumlah dulu kopinya, aku sudah memesannya." Della berusaha memohon agar Egnor bisa meminum kopinya.
Egnor menatap tajam Della. Dia agak curiga dengan kopi yang sudah tersedia. Namun, dia coba mengikuti kemana alur permainan Della.
Ketika Egnor duduk dan hendak meraih cangkir kopi tersebut, tiba tiba seorang wanita muncul di antara mereka berdua. Wanita itu menarik lengan Della agar berdiri. Dia lalu menampar Della dengan sangat kencang sehingga Della sampai tersungkur. Dia juga meraih cangkir kopi Egnor dan menuangkan air kopi itu ke atas tubuh Della.
"Berani beraninya kau menipuku!!!" Kata wanita itu menunjuk nunjuk Della yang sedikit merintih akibat kopi yang masih setengah panas itu.
...
...
...
...
...
Bedeh Della, habis kau 😝😝
.
Next part 107
Siapa wanita bar bar yang tiba tiba dateng dan membuat aksi yang mencengangkan itu?
Rwar biasa ini ..
Up vii ..
Iya besok 😂😂
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1