
"Kak, aku takut!!" Kata Claudia meringis pada punggung Egnor. Egnor terkejut dengan prilaku Claudia yang menerobos masuk ke kamar mandi dan memeluknya. Dia mencoba menetralkan dirinya. Dia mengelus punggung tangan Claudia.
"Tenanglah Clau. Aku hanya membersihkan diri." Kata Egnor pelan.
"Nanti saja kak, aku takut. Grace mengatakan tentang ma .. ahh aku tidak bisa membayangkannya!!!" Claudia kembali berteriak. Tak lama dia malah membalikan tubuh Egnor dan dia kembali memeluknya.
"Aku takut sekali, sepertinya ada yang masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah kolong kamar tidur kita kak!!!" Claudia sudah meneteskan air matanya. Dia mendongakan kepalanya menatap Egnor dengan lelehan air matanya.
"Tenang lah tenang lah!!" Egnor merengkuh wajah Claudia dan menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya. Egnor merasakan pergerakan jantung Claudia yang berdetak sangat kuat. Dia melirik ke bawah Claudia dan melihat belahan dada Claudia yang terlihat dari celah celah kemejanya.
Egnor meneguk ludahnya. Dia tidak boleh memanfaatkan kesempatan di tengah ketakutan kekasih jiwanya. Namun, dia tak kuasa melihat wajah sedih Claudia. Akhirnya dia mencium bibir Claudia. Claudia terdiam sesaat merasakan hangatnya bibir Egnor.
"Sudah tenang?" Tanya Egnor masih menempelkan bibirnya di depan Claudia. Claudia akhirnya juga mencium bibir Egnor. Dia memeluk pinggang Egnor dengan erat. Dan mereka bergulat kecupan bibir mereka. Mereka saling melumat apa yang ada di dalam mulut mereka. Claudia sampai memejamkan matanya. Egnor akhirnya membimbing Claudia keluar dari kamar mandi tanpa menghentikan bibir mereka yang saling berpaut.
Egnor sudah merasa terpancing dengan Claudia. Dia agak mengangkat tubuh Claudia yang sangat mungil baginya dan mengecupi leher Claudia. Claudia melenguh merasakan nikmatnya lidah Egnor yang menyusuri leher jenjangnya. Egnor membuka kemeja Claudia dari atas dan terus mengecupi sampai tangannya pun menyusuri bongkahan kenyal Claudia. Menggenggamnya dengan mantab dan wajah Egnor kembali menatap mata Claudia yang sudah ia baringkan di tempat tidurnya. Namun, rasanya Egnor merasa mata Claudia sangat sayu seperti kelelahan. Napasnya terengah engah dan suhu tubuhnya tiba tiba menghangat.
Claudia malah mengarahkan kepala Egnor menuju buah dadanya. Sekujur tubuhnya panas, kepalanya pening seperti sudah kehilangan akal. Claudia sudah membuka kedua kakinya dan tubuh Egnor berada di antaranya. Seketika Egnor merasakan keringat dingin keluar mengelilingi tubuh Claudia. Egnor menyipitkan matanya ditengah tengah deruan napas Claudia yang terengah tak karuan. Egnor berusaha mendongakan kepalanya melihat apa yang terjadi pada wanitanya itu. Claudia sudah memejamkan matanya dan terus mendesah. Napasnya semakin menderu dan tubuhnya panas. Egnor malah cemas merasakan keanehan pada tubuh Claudia yang memaksanya mendekatinya.
"Claudia!" Panggil Egnor menegakan tubuhnya. Wajah Claudia sudah memerah padam. Napasnya tersenggal tak jelas. Dia masih mendesah di sana.
"Sayang, kau baik baik saja?" Egnor memegang dahi Claudia.
"Kak, sentuh aku kak!" Claudia malah menyuruh lengan Egnor memegang daerah sensitifnya.
"Tidak! Kau bermasalah!" Egnor menolak lembut.
"Kak, kepalaku sakit! Dadaku sesak, aku membutuhkan ciumanku kak. Kaakk..." Claudia merengkuh wajah Egnor agar mendekati wajahnya.
"Tidak Clau! Diamlah dulu biar kupanggil dokter. Tubuhmu demam!" Egnor menarik diri. Dia kembali meraih celana kerjanya dan memakainya. Dia lalu menghubungi dokter.
Ketika Egnor selesai menghubungi Dokter, Egnor melihat sebuah gelas kecil berisi sisa red wine di sisi wastafel. Egnor menerka pasti Claudia baru meminumnya sebelum dia pulang.
"Aaarghhhhh!!" Claudia kembali mendesah parau. Egnor langsung menghampiri Claudia.
"Claudia, kau baik baik saja? Kau jangan membuatku takut!!" Egnor memegang dahi Claudia.
"Tubuhku panas sekali kak, aku mohon peluk aku kak!!" Claudia menarik tangan Egnor untuk terus berdekatan dengannya.
"Bukan begini caranya Clau! Sebentar lagi dokter akan datang ya?" Egnor duduk di samping Claudia berbaring.
"Sentuh aku kak!" Claudia mengarahkan tangan Egnor untuk memegang kedua dadanya. Claudia agak dapat mengatur napasnya sementara Egnor sudah panik sampai tak memikirkan ketegangan yang sudah melingkupi dirinya.
"Claudia, aku tidak bisa melakukannya kalau kau seperti ini. Sabarlah ya? Aku tidak mau menyakitimu! Saatnya pasti kita akan bersatu, kau tenanglah ya?" Egnor mengecup kening Claudia dan menatap Claudia penuh kehangatan. Sesekali dia mengecup bibir Claudia dan Claudia tersenyum.
Napasnya masih tersenggal. Dia merasa menderita tadinya, namun Egnor menyentuhnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, sehingga Claudia merasa agak nyaman. Sesekali Claudia juga mengelus dada Egnor sehingga dirinya dapat terkontrol.
"Kak, aku mencintaimu." Ucap Claudia serak.
"Aku juga Claudia, tenanglah ya?" Saut Egnor tersenyum dan mengancingi kancing kemeja yang beberapa tadi sudah ia lepas dan menyelimutinya.
Tak lama, dokter yang Egnor panggil datang. Egnor segera mengenakan kaos putihnya dan menemui sang dokter. Dokter pun segera memeriksa Claudia yang masih terasa sesak dan suhu tubuhnya yang kian memanas. Dokter sudah memberikan penurun demam dan obat sesak. Untuk sementara Claudia agak tenang dan tak berapa lama ia tertidur dengan wajahnya yang masih pucat.
"Apa yang terjadi Dok?" Tanya Egnor.
"Sepertinya Nyonya Claudia memiliki phobia, Tuan!" Dokter mencoba menjelaskan.
"Ya, dia memang phobia dengan hal hal yang berbau kematian dok!" Egnor sedikit menambahkan.
"Ya, ini yang disebut nekrofobia Tuan! Apa Nyonya Claudia tinggal sendirian di sini Tuan?" Selidik sang dokter.
"Ya, aku menyuruhnya pulang terlebih dulu karna aku harus lembur." Jawab Egnor sedikit menundukan kepalanya.
"Jadi sepertinya karna dia sendiri, dia agak membayangkan hal hal yang membuatnya takut. Saya melihat dari matanya yang seperti sedang berpikir hal hal mistis sehingga ia ketakutan dan timbulah gejala gejala kepanikan seperti ini. Ditambah sepertinya dia mengkonsumsi sesuatu yang merangsang tubuhnya untuk menghilangkan kepanikannya." Kata sang dokter menurut observasinya.
"Sepertinya dia meminum red wine, namun aku tidak tahu berapa jumlah kadar yang ia minum." Saut Egnor mengingat dia melihat bekas gelas wine tadi.
"Itulah Tuan Egnor. Di saat ia sedang cemas dan phobia nya menyerangnya, makanan atau minuman yang merangsang salah satu hormonnya akan membuatnya semakin kehilangan akal." Balas dokter dengan wajah seriusnya.
"Apa akan terulang lagi untuk saat ini?" Tanya Egnor agak khawatir.
"Tidak Tuan, ini karna sesekali timbul jika dibahasnya lagi. Ini wajar. Tidak perlu khawatir. Aku memberikanmu obat penurun panas, pereda nyeri dan obat sesak. Diminum hanya sampai dua hari 2x sehari. Jika besok panasnya sudah turun tidak usah diberikan. Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya dang dokter.
__ADS_1
"Ah tidak sudah. Aku sudah mengerti. Terimakasih dok."
"Baiklah saya permisi Tuan."
"Mari dok saya antar."
Setelah Egnor mengantar dokter dia kembali ke kamar. Dia melihat wanitanya sungguh kelelahan. Dia mengelus dahi Claudia.
"Andai aku saja yang merasakannya Claudia. Maafkan aku, seharusnya aku membawamu ke tempat lembur sehingga kau tidak harus sendirian di apartemen ini. Pasti masih asing bagimu. Maafkan aku Claudia." Egnor mengecup kening Claudia lalu beranjak membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Egnor tidur di samping Claudia. Dia mengangkat sedikit tubuh Claudia untuk masuk dalam pelukannya.
"Hem, akhirnya setiap malam aku akan memelukmu dalam tidurku Claudia! Selamanya, kau menjadi milikku!" Gumam Egnor merasakan tubuh Claudia dalam pelukannya.
...
Paginya Claudia dikejutkan dengan suara getaran ponsel Egnor yang berada di atas nakas dibawah televisi. Claudia pun agak terkejut dengan Egnor yang sedang memeluknya. Dia mencoba mengingat dan langsung menyingkirkan tangan berotot Egnor ke samping. Karna masih sangat mengantuk, Egnor hanya berbalik tanpa terbangun.
"Oh God! Apa aku sudah melakukannya dengan Kak Egnor?" Claudia langsung menyingkapkan selimutnya dan celana dalamnya masih bersih tanpa bercak sedikitpun.
"Selamat!! Gila gila Claudia kau benar benar ingin membangunkan seekor singa ya!" Claudia menepuk nepuk kecil pipinya dan di sana dia masih merasa bising dengan getaran ponsel Egnor. Dia beranjak dari tempat tidur dan terjatuh karna kepalanya masih sedikit pening dan pandangannya berbayang.
"Ya Tuhan, ada apa denganku?!!!" Sungut Claudia mencoba bangun dengan berpegangan sisi tempat tidur dan akhirnya dapat meraih ponsel Egnor.
Viena yang menghubungi. Claudia tersenyum melihat nama Viena dan segera ia yang mengangkatnya. Claudia duduk di sisi tempat tidur.
Percakapan telepon Claudia - Viena
Claudia : halo Viena selamat pagi
Viena : siapa ini?
Claudia : Claudia
Viena : kau serius? Ini kak Claudia?
Claudia : ya tentu, akhirnya aku berbicara padamu, apa kabarmu sayang? Aku sangat merindukanmu.
Viena : aku juga, aku teramat merindukanmu! Kau sedang bersama Kak Egnor? Bermalam bersama? Amazing!
Viena : tidak perlu, aku mengerti dan sangat tahu bagaimana kakakku dan kau, haha!
Claudia : kau bisa saja! Lalu bagaimana kabarmu? Tunangan mu berjalan dengan lancar dan kalian jadi menikah kan?
Viena : ini yang hendak kuberitahu pada Kak Egnor. Di mana dia?
Claudia : masih tidur. Sebentar kubangunkan!
Viena : tidak usah kak, aku bicara padamu saja, nanti kau sampaikan ya? Kau kan asisten pribadinya bahkan mungkin sebentar lagi akan menjadi kakak iparku. Akhirnya aku memiliki kakak perempuan.
Claudia : semoga Viena, haha. Jadi apa yang mau kau sampaikan?
Viena : sabtu besok aku akan menikah, kak Egnor harus datang dan sangat perlu, dan juga kau, kau harus ikut, oke kak?
Claudia : oh my God! Thanks God! Aku selalu berdoa kau bahagia dengan Tuan Prime itu Viena. Aku sangat setuju kau dengannya meskipun banyak kenyataan pahit yang harus kau terima. Aku percaya dia yang terbaik untukmu.
Viena : ya kak Terimakasih banyak. Kita diciptakan Tuhan untuk berpasang pasangan. Dan aku juga yakin kau akan bersama kakakku!
Claudia : terimakasih Viena. Hanya kau yang selalu mendukung kami.
Viena : jangan saling mengecewakan kak, sebaiknya saling terbuka
Claudia : pasti sayang. Aku akan menyampaikan pada kakakmu. Kau baik baik ya, jaga kesehatan
Viena : terimakasih kak. Aku tunggu kehadiranmu, aku benar benar rindu
Claudia : tentu sayang, sampai jumpa, Tuhan memberkati
Viena : you too
Panggilan berakhir. Rasa rasanya Claudia merasakan kecupan di sekujur leher belakangnya dan rengkuhan sebuah tangan pada pinggangnya dan menelusup ke perutnya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun? Viena yang menghubungi?" Bisik Egnor membuat Claudia terpaksa memejamkan matanya karna merasakan kelembutan perlakuan Egnor.
"Hehem, Viena akan menikah sabtu besok. Dia juga mengundangku untuk datang kak, bagaimana?" Claudia setengah menoleh dan menyandarkan tubuhnya pada dada Egnor.
"Ya, ikutlah, kau harus selalu bersamaku!" Jawab Egnor memeluk Claudia yang juga memejamkan matanya.
"Ada apa denganku semalam kak?" Tanya Claudia kemudian.
"Lain kali, kalau bukan bersamaku, kau tidak boleh meminum wine jenis apapun!" Egnor lalu melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Ada apa dengan wine yang kuminum kak? Apa sudah kadarluasa?" Claudia mendongakan kepalanya mengikuti arah Egnor beranjak.
"Itulah kebodohanmu! Wine tidak ada yang kadarluasa namun tidak semua orang dapat meminumnya dengan baik Clau!" Decak Egnor hendak menuju ke kamar mandi.
"Siapa suruh menyimpan wine di lemari dapur!" Gumam Claudia tak mau disalahkan. Egnor langsung menatap Claudia tajam dan sedikit mematikan.
"Iya iya, aku tidak akan meminumnya sembarangan lagi!!" Claudia berdecih mengalah. Dia lalu beranjak dari duduknya menuju ke dapur hendak membuat sesuatu untuk Egnor yang hendak bersiap ke kantor.
Tak berapa lama seorang wanita paruh baya memanggil Egnor sambil menekan tombol bel apartemen.
"Egnor!! Ini aunty! Cepat buka pintunya!" Teriak Anne yang tidak biasanya menjemput Egnor. Namun, biasanya Anne sedang memasak lebih makanan pagi pagi sehingga mengantar ke apartemen Egnor jika keponakannya itu tidak kunjung pulang ke rumah.
Egnor yang mendengar membelalakan matanya. Anne tidak boleh mengetahui keberadaan Claudia dulu untuk sementara. Dia pasti langsung berpikir yang macam macam. Pemikirannya dan pemikiran orang tuanya masih sangat berbanding terbalik.
Sementara Claudia yang merasa sudah dekat dengan Anne hendak membuka pintu apartemen.
"Clau! No!!! Kemari!!" Egnor memanggil Claudia dengan pelan dan secepatnya ia menarik tangan Claudia masuk ke kamarnya. Claudia agak terheran dan tidak menyadari kalau dirinya pun masih mengenakan kemeja Egnor.
"Kenapa kak? Aunty Anne datang!" Claudia terheran.
"Kau sadar tidak kau ada di mana?" Tanya Egnor mencoba membuat Claudia mengerti.
"Di apartemenmu." Jawab Claudia masih dalam kepolosannya.
"Apa yang kau kenakan?"
"Oh Tuhan, maaf kak aku belum menggantinya. Aku ganti dulu ya?"
"Sudah, kau diam saja dulu di sini. Diam dan jangan melakukan aktifitas yang memancing perhatian. Diam saja. Oke?" Egnor memperingatkan dan beranjak.
"Ke-na-pa kak?" Belum Claudia menyelesaikan kebingungannya lagi, Egnor sudah keluar dari kamar dan mengunci pintunya.
Claudia agak kembali bersedih. Dia seperti wanita simpanan. Apa dia memang tidak sepantasnya berada di apartemen ini? Apartemen Egnor bukan apartemen mereka.
Tangannya sudah berpaut satu sama lain dan Claudia menunduk muram. Dia mencoba berpikir positif namun entah mengapa sangat sulit.
...
...
...
...
...
Alah neng clau selow aja y jan marah dulu nanti babang egnor jelasin deh janjii 😂😂
.
Next part 24
Ni kalo gini ceritanya, Claudia tetep mau ikut kaga nii ke legacy apa drama drama dlu? Wakakak 😁😁
.
Jan lupa hayoo nikmatin setiap scene nya jangan akhir akhirnya doang wakakakak biar masuk di dalamnya hehe
Jan lupa juga LIKE KOMEN yaa biar aku tak pernah berhenti berimajinasi haha
Kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa 😍😍
__ADS_1
.
Oke deh thanks for read and i love you 💕