Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 76: Lie


__ADS_3

Pernah kah mendengar kebohongan untuk kebaikan? Terkadang pernyataan ini nyatanya membawa kita kepada perilaku serba salah. Mengapa begitu? Kita berbohong salah, kita jujur malah seperti menyakitkan, jadi kita harus bagaimana? Intinya teruslah berusaha jujur apapun yang terjadi. Egnor hanya berusaha menjaga kondisi istrinya. Dia tidak mau ada hal sedikitpun yang mengusik kandungan istrinya. Calon anak anaknya. Belajar dari pengalaman Grace dan tak lama dia juga mendengar, anak angkatnya Lexa mengalami keguguran. Lalu bagaimana Claudia menanggapi semua ini?


...


Baru saja Egnor menyelesaikan pertemuannya dengan Gabriel dan juga adiknya. Frank agak bernapas lega karna dugaannya sangat benar.


"Jadi Gabriel, kau harus melanjutkan kuliah S2 mu di bagian hukum sembari menjadi asisten Tuan Egnor, bukankah begitu Tuan Egnor?" Frank memastikan pernyataan yang sebelumnya sudah Egnor terangkan.


Egnor mengangguk menanggapi Frank yang memastikan apa jabatan yang bisa diberikan Egnor dan dirinya.


"Lalu kau Mytha. Kau juga harus sekolah. Kau akan masuk sekolah kedokteran?" Frank kini memastikan pada Mytha adiknya Gabriel.


"Benar Tuan, Tuan Jovanca sudah mengijinkan." Jawab Mytha pelan dan penuh kesopanan.


"Ya benar, nanti aku dan Grace akan mengantarmu ke Sekolah Tinggi Ilmu Kedokteran Internasional Honolulu. Kita akan mendaftarkan dirimu." Kata Frank tersenyum.


"Perkenalkan juga dengan Lisa, Frank." Tambah Egnor memberitahu.


"Ah kau benar, besok setelah mendaftarkan dirimu ke sekolah tinggi, kau ikut saja dengan kami dan bertemu dengan Lisa. Em, maksudku Nona Lisa. Dia sekarang menjabat sebagai kepala dokter di Rumah sakit pusat kota Honolulu. Mungkin kau bisa meminta bantuan padanya." Ujar Frank memberikan saran.


"Terimakasih Tuan Jovanca , terimakasih Tuan Leonard." Ucap Mytha.


"Tidak usah sungkan. Dan kau Gabe, besok sudah bisa mulai bekerja. Kau bisa menanyakan job desk mu pada istriku." Begitulah Frank memberikan arahan.


"Siap Tuan Frank. Em, Tuan Egnor, saya benar benar mengucapkan terimakasih pada anda. Anda benar benar sudah membantu, memaafkan dan menampung kami. Ini juga karna kebaikan istri anda. Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya pada beliau." Kata Gabriel yang sangat berhutang banyak pada Egnor dan Claudia.


"Tenang saja. Nanti ku sampaikan." Jawab Egnor tersenyum tipis.


"Baiklah, Gabriel, Mytha. Sebaiknya kalian berdua beristirahat terlebih dulu dan mungkin bisa membeli keperluan kalian. Aku akan menghubungi Joe untuk mengantar kalian."


"Gabe, kau sudah mengetahui daerah Honolulu dan tidak lupa kan?" Tanya Egnor seketika.


"Tentu Tuan. Mytha juga masih ingat." Jawab Gabriel.


"Frank, suruh saja mobil yang digunakan Joe berikan pada Gabriel besok. Dan Joe menggunakan mobilku." Perintah Egnor.


"Kau menggunakan apa?" Tanya Frank sedikit mendelikan alisnya.


"Aku bisa bersamamu atau bersama Gabe."


"Oh iya, aku pikir kau ingin selalu bersamaku."


"Cih!"


Frank agak sedikit malas jika terus bersama Egnor karna hawa dingin dan aura mencekam akan terus menghantuinya. Semoga Gabriel dapat tahan menghadapi sikap perfeksionis Egnor yang semakin lama seperti dirinya yang hamil. Begitulah pikiran Frank dan bahan bicara makan malam dia bersama Grace jika di apartemen.


Setelah Joe menjemput Gabriel dan Mytha, Egnor kembali ke ruangannya bersama Frank. Mereka hendak pulang dan Egnor juga berjanji berbelanja dengan Claudia. Claudia sudah menghubunginya telah siap menunggunya di rumah.


Tetapi, sesampainya di rumah, Egnor malah menemukan Claudia sedang muntah muntah di kamar mandi kamar.


"Claudia? You okey, honey?" Selidik Egnor menghampiri Claudia dan mengelus punggungnya. Claudia mengangguk sambil menekan flush toilet nya. Dia lalu berbalik dan Egnor agak terkejut karna wajah Claudia sangat sangat pucat.


"Wajahmu pucat sekali, Clau, kita ke tempat tidur ya?" Kata Egnor mengulurkan tangannya pada istrinya.


Claudia mengangguk dan meraih tangan Egnor sambil memegang perutnya.


"Hari ini perutku terus muntah dan terus bergetar kak. Tidak enak sekali." Keluh Claudia berjalan keluar kamar mandi.


"Mau ke rumah sakit?" Tanya Egnor.


"Tidak, mungkin berbaring sebentar akan baik." Jawab Claudia tersenyum lemah.


"Kau sudah makan?"


"Aku ingin makan sushi kak." Jawab Claudia sudah duduk di sisi ranjang.


"Sushi? Kau tidak bisa makan makanan mentah itu." Egnor melarang keras dan sudah mengetahui makanan yang boleh atau tidak boleh oleh ibu hamil.


"Em, nasi gulung dengan salmon panggang yang matang, plis!" pinta Claudia lagi memohon .


"Baiklah, tapi kita harus menunda berbelanja kita. Kau tampak lemah. Aku merasakan telapak tanganmu sangat dingin. Apa yang kau lakukan ketika aku bekerja? Apa membersihkan apartemen? Itu tidak perlu di lakukan Clau, biarkan cleaning service seperti Grace yang menyewa mereka. Dan besok pagi kau juga tak perlu membuatkan makanan SE complicated seperti tadi pagi. Aku tidak ingin kau lelah sampai seperti ini Clau. Dan kau .."


"Oke fine kak! I KNOW! Lebih baik sekarang kau pergi belikan apa yang kuinginkan. Bagaimana?" Claudia memotong celotehan suaminya yang semakin posesif dan sensitif padanya.


"Oke! Kau tunggu di sini jangan turun dari tempat tidur. Aku akan cepat." kata Egnor sebelum membeli keinginan istrinya.


Claudia mengangguk dan tersenyum. Namun ketika Egnor beranjak, Claudia masih menahan tangannya. Egnor menoleh.


"Ada apa?" tanya Egnor.


"Kau belum mencium ku." jawab Claudia tersipu.


"Apa ini termasuk dengan ngidam?"


"Bisa jadi!" Claudia bergumam.


Egnor berdecih, dia lalu mendekati Claudia dan mencium bibir Claudia dengan cukup rakus karna dia pun agak tergoda dengan tatapan istrinya.


"Sudah! Aku salah memancingmu!" Claudia mendorong tubuh Egnor karna semakin lama ciuman suaminya semakin menjadi jadi.


"Ya, harusnya kau berjaga jaga Clau, kau semakin seksi, Ting!" Egnor mengedipkan matanya dan akhirnya beranjak membelikan apa yang diinginkan istrinya.


Sementara Claudia menepuk dahinya. Dia lupa hendak mengatakan tentang bibinya. Sudah seharian ini sebenarnya Claudia memikirkan bibinya. Claudia tidak bisa menghubungi bibinya. Dokter Presley tidak menjawab panggilannya. Claudia benar benar khawatir sampai dia mual dan muntah lagi dan lagi. Kepalanya juga jadi pening dan lagi lagi gejolak dalam perutnya terus berdatangan. Claudia mengusap dahinya. Dan akhirnya dia tertidur. Pikirannya jadi sangat letih karna mencemaskan bibinya apa dia baik baik saja atau tidak.


Tak berapa lama kemudian, sekitar satu jam Egnor akhirnya kembali. Dia hendak menuju ke kamar Claudia untuk memakan apa yang ia bawakan namun Frank menghubunginya. Frank mengatakan akan ke apartemennya karna hendak membicarakan kabar terbaru kasus pembunuhan Rudolf Cornwell atau ayahnya Lisa. Egnor menyetujui. Karna Egnor tidak mau Claudia mendengar sehingga jadi ikut cemas, Egnor tidak membangunkan Claudia. Dia hanya menatap istrinya itu.


Ada seburat rasa penyesalan dari wajah Egnor karna belum bisa mengatakan tentang kondisi bibinya. Egnor selalu mengingat kata kata dokter agar menjaga emosi Claudia yang sangat tidak stabil dan bisa mempengaruhi janin di dalam kandungannya. Dan ketika sang dokter berkata, Egnor pun perlu mencari tahu mengenai semua kehamilan bayi kembar. Ya, Egnor memang harus membuat kenyamanan bagi istrinya dan sebisa mungkin menghindari aroma aroma yang menyedihkan di sekitar Claudia.


Sekitar pukul setengah sembilan malam Frank datang bersama Grace. Grace menanyakan Claudia dan Egnor menyuruh Grace untuk melihat sendiri keadaan Claudia. Benar saja apa yang di khawatirkan tuannya. Menurut Grace, Claudia memang agak pucat juga melemah. Pergelangan tangannya agak mengecil ketimbang hari hari lalu.


"Apa jenis kelamin anak mu Tuan?" Tanya Grace keluar dari kamar Claudia.

__ADS_1


"Laki laki."


"Pantas saja agak kuat di dalam kandungan Claudia. Apakah dia mengkonsumsi vitaminnya? " selidik Grace.


"Siang tadi aku sudah mengingatkannya." kata Egnor singkat tanpa mengalihkan dirinya yang membaca laporan terakhir dari Frank.


"Em Tuan, kau harus berhati hati, aku benar benar takut Claudia mengetahui kalau kau yang menutup akses dirinya menghubungi Dokter Presley." Frank kembali mengingatkan.


"Benar Tuan, tadi ketika aku pulang, dokter Presley mengontak Joe dan mengatakan kalau Claudia terus menghubunginya. Sepertinya ikatan batin keponakan dan seorang bibi yang merawatnya sangat kental tuan." tambah Grace.


"Tidak usah di bahas, itu akan menjadi urusanku! Dan kalau dia sangat cemas seharusnya dia mengatakannya padaku. Sudahlah selama Claudia tidak tahu ini menjadi aman. Toh kita juga memberikan perawatan yang terbaik bagi Nyonya Siren kan?" saut Egnor dengan nada yang tak suka.


"Tapi Tuan?" Frank masih mencoba untuk memperingati Egnor. Jangan sampai ada sebuah kesalah pahaman dan pertikaian awal awal mereka menjalani rumah tangga ini. Tetapi Egnor malah menatap Frank dengan sangat tajam sampai Frank menghentikan perkataannya lagi.


"Baiklah, aku sudah memperingati." Frank menyerah.


"Jadi, kabar apa lagi tentang Lisa?" tanya Egnor kini melirik Frank.


"Ada seorang makelar tanah yang kembali menawarkan sejumlah uang yang begitu banyak . Katanya dia dari anak perusahaan properti Gabrianes Group." Frank mulai menjelaskan.


Egnor kembali menatap tajam Frank.


"Kau pasti tahu maksudku Tuan! Sepertinya Tuan Besar Gabriane memiliki rencana terselubung karna secara terang terangan mengatakan nama perusahaannya. Kau mengerti maksudku?" tambah Frank.


Egnor mengangguk dan sedikit berpikir.


"Tuan, mungkinkah Tuan Besar Gabriane mengetahui kedekatan Tuan Richard dengan Nona Lisa?" Grace menerka.


"Mereka masih sering bertemu?" tanya Egnor pada Frank.


"Aku tidak tahu! Kau tidak menyuruhku menyelidikinya." gumam Frank.


"Suruh Gabriel dan Moses yang menyelidikinya mulai besok!"


"Kasihan sekali kalau benar pembunuh Pendeta Rudolf adalah rencana penguasaan tanah emas oleh Tuan Besar Gabriane." gumam Grace.


"Kenapa Grace?" Selidik Egnor


"Ya bisa saja Tuan Richard memang hendak mendekatkan diri pada Nona Lisa kan?"


"Kita semua harus berjaga jaga. Tidak bisa juga percaya sepenuhnya dengan Richard. Ingat Frank berjaga jaga!" Egnor memberi arahan.


"Ya, aku mengerti Tuan."


Dan mereka terus berbincang sampai Claudia akhirnya terbangun karna mendengar percakapan dari luar kamarnya. Sekilas Claudia mendengar tentang rumah sakit pusat kota Oriental karna Frank sedang memberitahu penjelasan tentang rumah sakit itu pada Egnor dan yang membuat Claudia curiga lagi adalah ketika Grace menyebutkan nama dokter Presley. Claudia agak gegabah dan dia langsung keluar dari kamar. Dia tidak sabar karna terlalu mencemaskan juga merindukan bibinya.


"Claudia? Kau sudah bangun?!" Pekik Grace agak gugup takut Claudia mendengar pembicaraan mereka bertiga.


Egnor dengan sangat tenang tanpa menunjukan kecurigaan yang mendalam menoleh kearah Claudia dengan pelan. Namun dalam pandangan Claudia, dia merasa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu . Claudia malah merasa curiga jika Egnor berlagak tenang dan tidak terjadi apa apa . Tapi tetap saja pandangan suaminya yang seperti ini yang selalu membuatnya luluh dan tidak memikirkan hal hal yang negatif. Seperti rasanya Claudia tidak memiliki hubungan apa apa dengan Egnor dan mereka seperti pertama kali jatuh cinta.


Egnor lalu beranjak dan menghampiri Claudia. Dia memegang dagu istrinya itu dan mendongakan kepalanya. Claudia menatapnya sendu.


"Ada apa sayang? Kami menganggumu? Kau seperti merasa cemas?" tanya Egnor pelan dan sedikit kemesraan.


Namun nyatanya Claudia menggeleng dan malah memeluk Egnor.


"Di mana nasi gulungku? Mengapa mereka berdua di sini kak?" tanya Claudia menutupi wajahnya di depan dada bidang suaminya.


"Aku mencemaskan mu Clau! Kau tidak merindukanku? Kau sombong sekali sekarang!" dengus Grace.


"Aku merasa kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari ku kan?" Decak Claudia sedikit menoleh.


"Menyembunyikan apa? Ah iya Clau, aku ingin melapor kalau Tuan Egnor akhir akhir ini .." Frank mencoba berbicara namun ..


Tuk!


Grace menimpuk Frank dengan pensil yang ia pegang sejak tadi.


"Aduh Grace, kau kenapa?" Frank mengusap kasar dahinya.


"Hal itu biar kita saja bertiga dengan Claudia yang memberitahunya." bisik Grace.


Egnor tidak menggubris kelakuan kedua bawahannya karna dia merasa Grace dan Frank sedang mengalihkan pembicaraan yang sudah mulai membuat istrinya curiga . Claudia terdiam dan tidak lagi berbicara. Dia terpaku terdiam.


"Grace Frank, kita lanjutkan kasus Lisa di kantor besok. Sepertinya kalian mengusik ketenangan Claudia." perintah Egnor.


"Bailah Tuan." Grace mulai membenahi notebook nya . Frank pun mulai berdiri. Dia menggandeng tangan Grace setelah sudah siap membawa Notebook ya kembali ke kamar apartemen mereka.


"Permisi Tuan dan Clau, tenang saja, kami memiliki rahasia denganmu. Beristirahatlah ." Ijin Grace.


"Grace kau tidak dengar Tuan Egnor berkata mengusik ketenangan Claudia, seperti mayat yang di awetkan saja." Frank berbisik sambil terkekeh namun untung saja Claudia maupun Egnor tidak mendengar namun membuat Grace was was.


"Diam kau! Berisik sekali mulutmu!" Decak Grace menghentakkan tangan suaminya.


Sementara Claudia masih menatap Egnor menunggu jawaban atas kekonyolan orang orang kepercayaan suaminya itu. Egnor menarik napasnya.


"Aku memotong bonus Frank ketika dia tidak sesuai menyiapkan ku makan siang ." kata Egnor kemudian.


Claudia masih terdiam. dia tidak begitu berselera.


"Aku benar Clau tapi aku hanya bergurau, hal itu supaya dia lebih benar menyiapkan ku makan siang." tambah Egno lagi.


"Itu bukan kesalahannya kak, besok aku akan membawakan mu bekal." Kata Claudia berjalan menuju ke meja makan. Dia melepaskan rangkulan tangan Egnor.


"Tidak usah. Sudah kubilang kau jangan melakukan apapun." kata Egnor.


"Aku bosan kak, tenang saja aku mengerti apa yang harus kulakukan."


"Sudahlah tidak usah diperdebatkan. Sekarang biar kusiapkan nasi gulungmu ya?" Egnor beranjak menyiapkan nasi gulung Claudia dan menghangatkannya.


"Terimakasih kak."

__ADS_1


Beribu kali lagi Claudia hendak mengatakan kecemasannya mengenai bibinya.


"Makanlah sudah ku hangatkan." Egnor menyodorkan satu piring kecil berisi tiga nasi gulung dengan saus kental yang tidak terlalu pedas dan asam.


"Em kak, ada yang ingin kubicarakan." kata Claudia memberanikan dirinya.


Egnor menatap lirih Claudia. Dia merasa, Claudia akan membicarakan bibinya. Egnor harus bersiap dengan kata kata yang bisa mengalihkan istrinya.


"Em, aku merindukan bibi ku." kata Claudia lagi.


"Lantas?"


"Em, bisakah kita mengadakan seperti baby moon?" pinta Claudia dengan sedikit takut takut. dia menunduk namun sesekali melirik suaminya.


"Maksudmu?"


"Ya, kita pergi ke Oriental untuk baby moon, menginap di sebuah hotel dan menemui bibiku. Ya, begitu maksudku." Claudia menghela napas karna berhasil mengatakannya.


Egnor sedikit terdiam tanpa mengalihkan pandangannya pada istrinya yang kini menatapnya sangat berharap.


"Baiklah." Begitulah jawaban Egnor. Claudia sedikit terkejut karna suaminya menyetujuinya begitu saja.


"Kak, kau serius menyetujuinya?" decak kesenangan muncul dari wajah Claudia.


"Ya, setelah Minggu depan kita memeriksakan kandunganmu. Jangan membantah karna aku tidak mau terjadi apapun pada kandunganmu. Bukan hanya pada anak kita melainkan denganmu juga. Mengertilah aku memikirkan kalian semua." Jawab Egnor dengan aura yang dingin namun sangat tegas.


Claudia mengerti dan tidak bisa membantah dengan sikap suaminya yang seperti ini. Dia harus bersabar, setidaknya dia memiliki cara untuk memberi tahu kondisi bibinya yang sebenarnya tanpa sekarang dia menjelaskannya dari awal. Egnor pasti akan mengerti ketika sudah melihat kondisi bibinya nanti menurutnya.


Sementara Egnor merasa sudah menemukan titik cerah untuk memberitahukan apa yang selama ini sudah ia ketahui tentang bibi mertuanya itu. Egnor akan mengatakannya ketika mereka bertiga bertemu di rumah sakit Oriental dan mungkin bisa menyuruh Presley yang mengatakannya.


...


Keesokan harinya, Claudia jadi sedikit berhutang pada suaminya. Suaminya sudah menuruti semua keinginannya. Egnor juga sudah sangat mengerti nya dan memberikan perlindungan terbaik bagi anak yang dikandungnya. Dan karna suasana hati ya sedang sangat baik, Claudia merasa kuat dan hendak membuatkan makan siang untuk suaminya. Dia mengingat kalau Frank tidak pernah sesuai memberikan makan suaminya. Ya, memang sejak menikah, Egnor hanya mau menyentuh makanan darinya. Egnor jarang mengajak makan Claudia di luar. Dia lebih senang menemani Claudia berbelanja dan membantu Claudia memasak.


Claudia pelan pelan memasak masakan yang mudah saja seperti udang goreng tepung dan sup miso. Masakan sederhana ini saja sudah membuat suaminya pasti akan senang. Dan Claudia juga akan ke kantor suaminya. Egnor juga pasti senang melihatnya dan juga bisa membuktikan kalau dirinya adalah wanita hamil yang kuat. Ya, Claudia sangat bertekad.


Setelah bersiap semua, Claudia menuju ke kantor pengacara Egnor. Dia berjalan dengan tegas ketika sampai di lobby gedung milik suaminya itu. Semua pegawai menyapa sopan dan hangat Claudia. Ketika dia menuju lift, ternyata Richard yang juga datang ke sana memanggil Claudia.


"Claudia, sudah hampir dua bulan kita tidak bertemu. Kata Egnor kau mengurus kasus Frank dan Grace juga?" sapa Richard .


"Richard, ah iya benar. Kau? Sedang apa di sini? Menemui Frank?" tanya Claudia.


"Tidak, aku hendak menemui suamimu. ingin menanyakan kasus Lisa. " jawab Richard tersenyum kecil.


"Wow, kau makin dekat dengannya ya?"


"Begitulah. Tapi Lisa tidak mau membicarakannya padaku. Sepertinya Egnor mau memberitahukannya padaku dan mungkin aku juga bisa membantu." kata Richard lagi.


"Ah kau benar. Yasudah naik lift ini saja."


Dan tak lama Kevin pun menyusul tuannya. Mereka bertiga menuju ke ruangan Egnor. Ketika sudah sampai, Claudia mengetuk dan tidak ada jawaban. Claudia menekan tuas pintu itu dan ternyata tidak ada siapa siapa. Claudia merasa pasti suaminya sedang rapat dan Grace yang menjadi notulennya.


"Masuk saja Richard. Mungkin mereka sedang rapat. Sebentar lagi pasti selesai karna sudah waktunya jam makan siang.


"Ah iya Clau, permisi .." kata Richard yang diikuti Kevin.


Namun, ketika mereka bertiga masuk, mereka mendengar dering ponsel di atas meja Egnor. Claudia mengerutkan keningnya.


"Kebiasaan!" Decak Claudia yang sering menyadari kalau Egnor meninggalkan ponselnya jika sedang terburu buru.


"Mungkin dia terburu buru Clau." Richard berusaha meluruskan karna dirinya pun sama.


"Ya, kakak seniormu memang selalu seperti itu." Balas Claudia dan dia menghampiri meja kerja suaminya. Claudia hendak mengangkatnya. jantung Claudia berdegup sangat kencang ketika melihat siapa nama yang menghubungi suaminya.


DOKTER PRESLEY ORIENTAL


Claudia mencoba tenang namun tetap mengangkat panggilan itu. Baru saja Claudia hendak menjawab, terlebih dulu suara pria di seberang sana mengatakan:


"Selamat siang Tuan Egnor, akhirnya kau mengangkat panggilan ku karna Joe tidak bisa dihubungi. Aku ingin menyampaikan kalau Nyonya Siren Gie sudah tidak bisa diselamatkan. Dia telah meninggal. Saya benar benar minta maaf. Dan bantu aku menjelaskan pada keponakannya Nyonya Claudia, istri anda."


Prak!


Ponsel itu jatuh dari genggaman tangan Claudia. Richard dan Kevin sontak melihat ke arah Claudia.


...


...


...


...


...


Tangan gemeter coy ngetiknya 😔😔


.


Next part 3


Entahlah apa yang akan terjadi dengan mereka berdua?


Semoga mba Claudia bisa bertenggang rasa dan Egnor bisa menjelaskan dengan lugas


Sabar ya 😭😭


.


Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2