Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 158: Hero


__ADS_3


Egnor Victor Jovanca


cast : Dennis Joseph O'Niel


----------------------------------


Cinta, setia, benci, marah, rindu dan rasa percaya menempati satu ruang di dalam tubuh yang di namakan hati. Jika hati bisa sekomplek itu, bisa sedalam dan seluars samudra, akan banyak tempat untuk menerima apapun yang terjadi. Namun, jika hati kian membeku dan hilang arah, maka akan ada pengasingan, tersisih dan merasa tidak pernah benar. Kali ini Egnor kembali meneliti apa yang sebenarnya ia rasakan. Hatinya masih seluas samudra untuk seorang Claudia tapi hantaman batu karang seakan belum bisa membuatnya bebas untuk melakukannya. Sanggupkah mereka berdua menghadapi ini? Dan bagaimana arti penyelamatan yang selama ini Egnor torehkan untuk semua orang?


...


Hari ini Egnor harus menjenguk dan mengetahui keadaan Bruce dan juga August. Moses dan Gabriel yang memantau keadaan mereka mengatakan kalau Bruce masih tak sadarkan diri tapi muncul spekulasi spekulasi yang cukup mengkhawatirkan. Sedangkan August sudah mulai pulih dan sudah bisa makan.


"Tuan Egnor, aku merasa keadaan Tuan Bruce sangat mengkhawatirkan. Ketika sadar nanti sepertinya dia tidak akan bisa menggerakan saraf saraf nya, selain itu setiap malam dia selalu merasakan demam dan keringat dingin yang cukup banyak. Aku belum mengetahui apa jenis penyakitnya atau ini semua karena obat tersebut. Kalau saja aku bisa mendapatkan sampelnya," kata dokter Lim yang menangani Bruce. dokter Lim merupakan dokter spesialis saraf dan ahli bedah. dokter Lim yang biasa membantu Lisa bekerja.


"Hem, mungkin aku bisa mengambilkannya untukmu nanti. Terus saja berikan perawatan padanya dan jangan ada siapapun yang menjenguknya karena dia masih dalam pengawasan negara!" ujar Egnor memberi perintah.


"Baik tuan! Kau benar benar luar biasa tuan, padahal bisa saja kau membiarkan Tuan Bruce dan mati tapi kau malah hendak membuatnya menjadi sembuh, berkat kau juga sekarang Honolulu kembali menjadi tentram. Kalau saja kau tidak meringkus semua, aku tidak bisa melihat si Gerrardo lagi," kata Dokter Lim menundukan kepalanya.


"Ya, dia memang cocok bersama Benedict. Aku juga berterimakasih padamu Dokter Lim. Kau sama hebatnya dengan dokter Lisa," puji Egnor merangkul punggung dokter paruh baya itu.


"Dia sudah kembali tuan, tapi masih jarang datang karena masih berduka atas kematian tuan Richie Gabriane," kata dokter Lim lagi membuat Egnor agak tidak berselera mendengar nama Richard.


"Ehem, baiklah titip saja salamku padanya, aku masih harus menemui August," saut Egnor menjabat tangan dokter lim.


"Baik tuan, selamat siang," balas dokter Lim membungkukan kepalanya. Egnor mengangguk tersenyum tipis. Dia masih agak risih membicarakan pasangan itu.


Egnor yang diikuti Gabriel segera menuju ke ruangan August yang berada di bawah. Di sana tampak terlihat Kate sedang membalut luka August yang masih agak basah dan Monica memotong buah.


"Selamat Siang August, Nona Kate dan Nyonya Monica," sapa Gabriel dengan senyum lebar. Tak lama Egnor pun memasuki ruangan dan menghampiri Monica yang lebih tua di sana.


"Selamat siang, Gabe!" Saut August. Kate segera menyelesaikan pekerjaannya. Monica sudah menaruh pisau dan berdiri dari sofa.


"Kak Egnor, selamat siang," ucap Kate.


"Egnor, selamat siang, nak, apa kabarmu?" Kata Monica membungkukan tubuhnya.


"Jangan begini nyonya, seharusnya aku yang membungkukan tubuhku," kata Egnor menegakan tubuh Monica dan memegang lengannya.


"Kau sungguh penyelamat, nak! Tanpamu, aku dan Kate pasti sudah menjadi seonggok sampah. Kau yang memberi kesempatan pada Kate. Sebelumnya aku minta maaf, aku belum sempat mengatakannya. Terimakasih atas semuanya, nak! Kau memang seperti aunty dan ibumu, sangat bekerja keras, bertanggung jawab dan solidaritas. Aku jadi merindukan ibumu. Semua tampak jelas padamu. Tak henti hentinya aku bersyukur pada Tuhan karena keberanian dan tekadmu kau menyelamatkan semua umat di Honolulu ini. Kau seperti utusan yang di atas, Egnor," kata Monica dengan deraian air mata yang tak bisa tertahankan.


"Nyonya cukup! Ini hanya pekerjaanku, bukan yang lainnya. Tidak usah dilebih lebihkan, sekarang semuanya sudah berjalan dengan normal. Itu yang menjadi tujuanku dan aku senang melihat kau tampak sehat dengan Kate dan juga August," tutur Egnor mengelus lengan wanita paruh baya itu.


"Ya Egnor. Terimakasih juga. August pria yang baik dan bertanggung jawab!" Kata Monica lagi mengarahkan tubuhnya menatap Kate dan August yang tampak bergandengan tangan.


Egnor tersenyum. Gabriel juga senang melihat kondisi ini.


"Jadi bagaimana, August? Kau sudah bisa makan?" tanya Egnor mendekati August.


"Sudah tuan walau masih sedikit nyeri," jawab August memegang perutnya.


"Apa ayahmu sudah kemari?" tanya Egnor kemudian membuat August berpikir.


"Ayah?"


"Tuan Bertho!" Bisik Kate yang sebelumnya Gabriel yang menggoda mereka.


"Aahhh tuan! Kau bisa saja! Tuan Bertho setiap sore kemari bersama anak tertuanya. Sekarang anak tertuanya datang kemari merawatnya," kata August terkekeh.


"Memang harus seperti itu, Kate kau hati hati dia menganggu ibumu yang cantik itu!" goda Egnor mengingat usia Bertho dan Monica hampir sejajar.


Semua tertawa kecil.


"Jadi August, aku senang melihat kondisimu juga kondisimu Kate. Semoga kalian bisa saling melengkapi dan aku merestui kalian, kalau kalian butuh sesuatu katakan padaku yang mungkin bisa mengeratkan kalian," kata Egnor lagi kemudian.

__ADS_1


"Kak Egnor ..." Seru Kate dengan wajah memerah.


"Nona Kate salah tingkah, tuan!" Sela Gabriel ikut menggoda. August penasaran dengan wajah nya dan menarik tangannya untuk melihat.


"August, kau sudah melihatku begini!" Dengus Kate makin tak karuan. August malah menariknya masuk ke dalam rangkulannya.


Egnor tersenyum puas melihat semua ini.


"Nak, apa kau baru saja melihat Tuan Bruce?" tanya Monica penasaran.


"Mom! Untuk apa kau menanyakan pria keparat itu!" Decak Kate yang agak bergidik kalau mendengar nama laki laki itu. August mengeratkan pegangan tangannya.


"Dia masih sekarat nyonya, kau tenang Saja. Dia tetap dalam penjagaan," jawab Gabriel dan Egnor mengangguk pelan.


"Baguslah, dia harus menerima hukuman yang setimpal Egnor karena telah melukai anakku juga orang orang Honolulu!" decak Monica.


"Tapi dia tetap manusia nyonya. Dia akan mendapat hukuman melalui jalur hukum yang sesuai untuknya," kata Egnor dengan bijak.


"Kau benar benar sangat bijaksana! Dan, bagaimana keadaan istri dan anakmu? Mereka sehat?" tanya Monica lagi.


"Ehem!" Seketika Gabriel berdehem menunduk merasakan kesakitan tuannya dan Kate menangkap kesedihan dari wajah Egnor. Kate merasa ada yang tidak beres dengan keluarganya.


"Sehat! Mereka semua sehat, lain kali aku akan menyuruh Aunty Anne mengajakmu menemui mereka, nyonya," jawab Egnor dengan maksud kedua anaknya.


"Ah baiklah, aku akan menagih padanya,"


"Ya. Baiklah sepertinya aku harus kembali ke kantor masih banyak yang harus ku kerjakan, permisi semua. August cepat pulih dan siap bekerja denganku?" ujar Egnor mengakhiri kunjungan.


"Pasti tuan!"


"Dan kau Kate? Aku sudah mendedikasikanmu menjadi juru bicara dan asisten Gerrardo," kata Egnor lagi dengan santai.


Kate membelalakan matanya. Egnor masih memberinya kesempatan bekerja pada tanahnya.


"Kau bilang apa kak?" selidik Kate menatap Egnor dengan sangat serius.


"Oh iya tuan, aku juga lupa, ini Nona ..." Kata Gabriel meraih tiga lembar penting yang harus diterima Kate dari map-nya lalu menyerahkan pada Kate.


"Ini surat lisensi yang menyatakan kau resmi menjadi juru bicara dan asisten kepala pemerintah selama lima tahun ke dapan. Kau bisa menandatangani nya. Ini untukmu dan satu lagi akan menjadi berkas negara. Satu lembar lagi penjelasan tentang pekerjaanmu. Selamat Kate! Aku permisi dulu. Selamat siang Nyonya," kata Egnor menjelaskan.


"Se se selamat siang, Egnor, Tuhan memberkati," saut Monica masih tidak percaya sama halnya dengan Kate diberikan pekerjaan luar biasa itu di tengah tengah kesalahan fatal yang sudah ia buat.


Egnor pun segera meninggalkan ruangan itu setelah Kate menandatangani berkas milik negara. Kate masih terpaku dan August menyenggolnya pelan.


"Kak Egnor? August, aku belum mengatakan apapun," gumam Kate.


"Kejarlah," saut August tersenyum.


Kate pun mengejar Egnor juga dia hendak mengatakan sesuatu mengenai Claudia.


"Kak Egnor," panggil Kate masih bisa menyusul. Egnor dan Gabriel kembali berhenti.


"Kak Egnor, terimakasih! Terimakasih kau sudah memaafkanku dan sudah menerimaku kembali," ucap Kate mengangguk anggukan kepalanya.


"Semua orang butuh kesempatan, kate," saut Egnor dan seketika Kate yang merasakan adanya masalah di antara Egnor dan Claudia harus mengatakan ini.


"Maka, maka, maka berikan juga kesempatan bagi Claudia jika dia memiliki salah, kak," saut Kate memberanikan diri dengan mata berkaca kaca.


"aku tahu kau pasti kecewa karena berita miring dan kehilangannya, tapi aku yakin dia sangat mencintaimu, tolong jangan hancurkan hubungan kalian. Kalian saling mencintai, jangan bohongi perasaan kalian. Aku minta maaf membuat semua perkara ini. Kalau aku bertemu dengan Claudia aku pasti akan berlutut di hadapannya. Dia wanita baik kak, tolong kau jaga dia dan jangan sampai kau membiarkan dia pergi lagi. Jangan menyesal kak! Kembalilah padanya! Aku mohon!" Kata Kate menundukan kepalanya dan terakhir membungkuk bungkukan tubuhnya untuk Claudia.


Gabriel sampai tidak enak dan memegang punggung Kate. Kate sudah menangis.


"Sudah Nona, tenang nona," kata Gabriel.


"Kate, masuklah, ini urusanku, kau tidah usah ikut memikirkannya. Pikirkan kesehatan August, aku harus pergi!" Saut Egnor lalu berjalan keluar rumah sakit.

__ADS_1


"Nona, kau tenang saja, mereka pasti akan bersama kembali. Benar kata tuan Egnor, kau lebih baik merawat August sebelum kau masuk bekerja. Masa cutimu hanya satu Minggu dimulai dari sekarang," kata Gabriel tersenyum. Kate akhirnya menegakan tubuhnya. Dia menghapus air matanya.


"Terimakasih Gabe! Kau harus terus menemani tuanmu! Di sedang kehilangan cintanya. Aku sangat merasakannya," ucap Kate bersedih.


"Tenang saja, dia pria yang kuat dan mandiri! Kembali lah ke kamarmu, sampai jumpa, fighting!" Saut Gabriel membungkukan tubuhnya dan menyusul tuannya.


Kate masih di sana. Dia merasakan keajaiban melingkupinya. Dia menganggukan kepalanya dan bertekad akan menjadi yang terbaik bagi negara ini dengan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan terlebih menjadi yang terbaik bagi August dan ibunya.


...


Brak!


Egnor membuka pintu kantornya dengan sangat kasar. Lina yang menggantikan pekerjaan Grace merasa sangat terkejut. Gabriel hanya diam mengikuti Egnor. Egnor terbawa emosi dengan perkataan Kate. Entah siapa lagi yang membelanya. Semua membela karena pekerjaan saja bukan membelanya karena Claudia. Gabriel juga merasakan itu. Dia hanya diam melihat betapa kasihan kekasihnya mendapat imbasnya juga dia menunggu Egnor yang bertanya.


"Lina! Mana kopiku?! Mengapa kau tidak menyiapkannya?!" Pekik Egnor membuat Lina kalang kabut. Dia segera menuju pantry kecil di sana dan membuatkannya.


"Kau ini bekerja harus cepat, gesit! Apalagi kalau mau menggantikan Grace! Bisa bisa kau kembali saja menjadi pengacara biasa dan Grace yang tetap ada di depan komputer itu!" Decak Egnor lagi mencari cari kesalahan Lina.


Padahal sejak tadi Lina membuat laporan kasus kasus kecil sementara semua yang seharusnya dibuat sudah selesai sejak kemarin. Sampai laporan yang seharusnya Egnor katakan padanya dia yang merancang karena Grace memberitahu laporan yang biasa Egnor buat. Dan bukan Lina tidak membuatkan kopi, kalau kopi itu dingin, Egnor juga akan memarahinya. Jadi dia menunggu tuannya datang baru akan membuatkannya.


"Ini tuan," kata Lina.


"Gulanya satu sendok kan?" Egnor meyakinkan.


"Seperti biasa tuan!"


"Gabriel, apa jadwalku lagi? Kalau tidak ada lagi aku mau pulang bertemu anakku!" tanya Egnor dengan suaranya yang agak meninggi.


"Ada tuan! Hari ini kau harus meresmikan dua pengacara dari Nederland yang diutus bekerja di sini tuan. Pengacara ini yang akan membantu mu menangani kasus pemerintah nantinya. Tuan Morris yang lainnya," kata Gabriel juga menjelaskannya.


"Oh iya! Suruh Frank saja! Dia juga berhak!" saut Egnor malas.


"Tidak tuan! Tuan Morris membutuhkan semacam dokumentasi bersamamu!"


"Argh, mentang mentang pemimpin, seenaknya saja," dengus Egnor sambil melihat lihat berkas yang ada di atas mejanya.


'Kau juga pemimpin!' dengus Gabriel dan Lina dalam hati menundukan kepala.


"Begitulah tuan," saut Gabriel berjalan menuju meja kerjanya.


Egnor tidak merespon lagi. Dia mengambil kopi dan meyeruputnya. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk ruangannya.


"Permisi Tuan, ada Nona Lisa dan Tuan Richard," kata Moses di balik pintu sana.


"Uhuk, uhuk," Egnor terbatuk. Lina sudah menundukan kepalanya dan mengusap dahi sementara Gabriel menutup wajahnya.


"Mengapa datang sekarang?" Keluh Gabriel yang sepertinya harus pergi dari sini. Dia pusing mendengarkan decihan dan kata kata menyeramkan dari tuannya. Rasanya seperti mengarah padanya.


"Tuan, sepertinya anda akan memiliki hari yang panjang, aku dan Lina sebaiknya makan siang dulu," ijin Gabriel.


Egnor hanya mengangguk dengan tatapan sengitnya. Lina segera beranjak dan mengikuti kekasihnya.


Gabriel dan Lina keluar berpapasan dengan mereka.


"Mengapa kau datang sekarang kak? Semoga dia bisa menerima kalian," kata Lina memperingati kakaknya yang berwajah dingin itu.


"Kau datang di waktu yang tidak tepat, tapi semoga Dewi Fortuna beserta kalian," kata Gabriel juga menepuk pelan pundak Richard.


...


aku juga ikut Gabe!


lanjut di bawah ya


tetap LIKE dan KOMEN part ini yaaa

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2