Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 165: Footprint in Love


__ADS_3

Jejak langkah kaki mungkin bisa hilang karena tersapu debu, angin atau hujan, tapi jejak hati yang mencinta akan terus terlihat walau hujan badai bergelora dan deru ombak memisahkan. Pada akhirnya, cahaya bintang yang akan menuntun mereka menemukan persimpangan yang membuat cinta itu kembali bersatu, kembali ke jalan pulang di mana cinta itu seharusnya bersemi bersama sama.


...


Egnor malah mencengkram surat tersebut dan keluar dari rumah lalu melajukan mobil nya menuju rumah seseorang. Namun, dia lupa karema kemarin hari pernikahan Lisa dan Richard. Mereka berdua menginap di kamar berkelas di Motel Prime. Ibu Lisa sudah memberi tahu Egnor.


"Siapa?" Kata Richard membuka pintu kamar. Dia terkejut siapa gerangan yang mendatanginya.


"Di mana Claudia?" Tanya Egnor tanpa basa basi.


"Siapa sayang?" Tanya Lisa yang menghampiri Richard karena mereka hendak ke rumah ibu Lisa.


"Egnor?"


"Di mana Claudia?"


"Heng, baru sekarang kau mencarinya, kami tidak tahu!"


"Kau pasti tahu!" Desis Egnor memegang dagu Lisa karena Lisa seperti meremehkan Egnor.


Richard tentu tidak terima, sama halnya Dion waktu dagu Viena dicengkram denga tiba tiba begini. Richard mendorong tubuh Egnor menjauh dari Lisa.


"Kau cari saja sendiri! Lagi pula untuk apa kau mencarinya? Kau yang tidak menginginkannya kan? Biarkan dia pergi, kau tidak usah memusingkannya lagi!"


"Katakan padaku di mana Claudia? Apa kau yang memang menyembunyikannya di saat kau bosan dengan Lisa kau bisa menemuinya?!" sindir Egnor bermaksud mereka akan memberitahu nya.


"Pengacara sial!"


Buak!


Richard memberi satu pukulan pada Egnor tapi Egnor hanya menolehkan wajahnya tanpa tubuhnya bergerak sedikit pun.


"Egnor! Kau keterlaluan! Claudia sudah menyerah begini kau masih memikirkan egomu! Seharusnya kau menyesal dan mencarinya! Aku percaya pada Richard dan Claudia tidak akan berbuat macam macam. Pernikahan ku dan Richard bukan untuk mempertahankan rumah tangga kalian! Sudah cukup kami berkorban untuk hubungan kalian, tapi kau sama sekali tidak menghargainya! Jangan cari kami lagi! Kau cari saja Claudia sendiri! Claudia tidak mengijinkan ku memberitahukannya padamu!" Decak Lisa menarik tangan Richard setelah mengunci kamar dan pergi meninggalkan Egnor.


Egnor memegang sisi bibirnya. Berani sekali motivator itu memukulnya. Bukan saatnya memikirkan pukulan ini. Dia harus menemukan Claudia. Egnor pun keluar dari motel itu dan menghubungi Viena. Mungkin Viena mengetahui di mana istrinya.


"Kau ini keterlaluan kak! Kupikir kalian sudah berbaikan! Jadi kak Claudia pergi meninggalkanmu?!" marah Viena.


"Hem, mungkin dia ke Legacy menemuimu? Kau jangan berbohong Viena!" bentak Egnor lagi.


"Masak aku berbohong! Sekalipun kak Claudia kesini dan menyuruhku jangan memberitahumu, aku pasti memberitahumu! Aku tahu sebentar lagi kau akan frustasi lagi mencari dia tak ada. Kali ini dia pergi karenamu kak!"


Tut!


Saat ini Egnor tidak memerlukan pendapat atau nasihat orang. Apalagi itu Viena, salah satu orang yang sangat dekat dengan Claudia. Sekarang dia bingung dia harus cari kemana.


Egnor belum berpikir tentang Grace dan Frank. Egnor mengira dia pasti tidak akan kesana karena pasti akan mudah ia temui. Egnor mencoba tenang dan duduk di cafe dekat motel Prime. Dia mengingat ingat tempat mana yang akan Claudia kunjungi.


Entah mengapa, Egnor malah ke rumah sakit dan hendak menemui August dan Kate. Dia juga belum mengetahui kabar terbaru August. Kate juga belum bekerja. Sepertinya besok Kate baru bekerja kembali di kantor pemerintah.


"Tuan August dan Nona Kate beserta ibunya sudah kembali ke rumah kemarin tuan. Tuan August sudah membaik," kata sang suster memberi informasi terbaru.


"Oh iya terimakasih," ucap Egnor dan dia kembali berpikir di mana Claudia berada.


Egnor malah bertemu dengan Dokter Lime. Dokter Lim mengajak Egnor menemui Bruce yang sudah sadarkan diri tapi belum bisa banyak bergerak. Dia hanya bisa berbaring dan menonton televisi. Semua tubuhnya sulit digerakkan dan ketika malam, dia kembali demam. Bruce berkeringat dingin dan napasnya sangat sesak. Namun, ketika Egnor sampai melihatnya, Bruce sedang tertidur.


"Kondisinya mengkhawatirkan tuan Egnor. Sepertinya obat yang terkena padanya adalah obat pelumpuh saraf. Bukan hanya itu. Obat ini memang diciptakan agar malam hari di pemakai tidak bisa tidur tapi akan merasa sangat lelah. Dan yang paling parah tuan, obat ini sudah membusuk sehingga si pemakai akan mengalami kesakitan dua kali lipat dari sebelumnya," kata dokter Lim memberitahu kondisi Bruce.


Egnor hanya melihat Bruce yang tertidur tapi dahinya terus mengernyit seperti gelisah.


"Kadang tuan Bruce berteriak teriak karena seluruh tubuhnya sakit tapi tidak bisa digerakkan. Oleh sebab itu siang hari dan setiap dia tidak bisa mengendalikan diri, kami akan memberikannya obat penenang," tambah Lim lagi.


"Apa dia bisa sembuh?" selidik Egnor.


"Tidak tahu tuan! Kemungkinan nya kecil, tapi obat penangkal racun sudah kami berikan secara rutin dan berkala sampai tuan Bruce tidak merasa sakit lagi. Namun sepertinya sulit karena obat itu memiliki efek yang sangat kuat," kata Lim.


Egnor mengangguk angguk.


"Baiklah, aku menyerahkan semuanya padamu, kalau ada perkembangan lain, cepat beritahu aku!" pinta Egnor.


"Baik tuan. Em, oh iya beberapa hari lalu aku melihat istrimu memasuki ruang spesialis kejiwaan," kata Lim tiba tiba mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Kejiwaan?" Egnor mengerutkan dahinya.


"Ya, tapi aku belum sempat menyapanya. Dia sudah masuk ke dalam. Apa ada yang sakit tuan?"


"Kejiwaan? Apa kau tahu, dia menemui doker siapa?"


"Dokter Ernest, tuan,"


"Di mana dia?"


"Hari ini tidak tugas, tuan,"


"Apa kau tahu di mana tempat tinggalnya?"


"Di Dimitri Exclusive apartment nomor kamar 2501, tuan. Kebetulan, aku cukup dengannya,"


"Ah iya, baiklah , terimakasih dokter lim, aku permisi,"


"Sama sama tuan hati hati di jalan,"


Egnor seperti mendapat petunjuk. Mungkin dokter Ernest tahu di mana keberadaan Claudia. Dan, mungkin saja Claudia bersama dokter itu untuk mencari info tentang ibunya.


"Clau, mengapa kau tidak meminta bantuanku? Aku bisa menemukan Nyonya Gie dengan cepat! Kau di mana, honey!" Tutur Egnor melajukan mobilnya mencari keberadaan Claudia. Kalau bisa dia harus menemukannya hari ini juga.


Egnor pun sudah tiba di apartemen Ernest. Ernest sedang berkumpul bersama istri dan anak anaknya.


"Maaf Tuan Egnor, istri anda tidak mengatakan kalau dia akan mencari ke mana mengenai ibunya. Dia hanya menanyakan tentang penyebab seseorang mengalami gangguan kejiwaan karena katanya, ibunya mengalami gangguan kejiwaan. Dia juga ingin mengetahui bagaimana cara mengobatinya. Dia ingin merawat ibunya tuan," kata Ernest .


"Benar ke kota atau ke negara mana dia akan pergi, dia tidak memberitahu?" tanya Egnor lagi.


"Tadinya aku bertanya tapi dia tidak memberitahu tuan. Sepertinya dokter Lisa tahu tuan. Mereka berdua selalu bersama sama," kata Ernest lagi.


"Katanya Lisa tidak tahu apa apa,"


"Hem, mungkin dokter Lisa menyembunyikannya karena aku sempat mendengar mereka membicarakan tentang kepergian Nyonya Claudia satu hari sebelum dokter Lisa cuti menikah," bisik Ernest merasa ada guratan frustasi di wajah Egnor.


"Hem, aku sudah berfirasat. Baiklah kalah begitu dokter Ernest ,maaf menganggu waktu keluarga anda. Terimakasih atas infonya," ucap Egnor kemudian.


"Sama sama tuan Egnor, aku berdoa semoga rumah tangga kalian baik baik saja dan Nyonya Claudia kembali padamu,"


Ernest mengantar Egnor keluar apartemen. Egnor benar benar dibuat frustasi lagi oleh Claudia. Tak lama, Viena memberikan pesan padanya kalau waktu itu Viena memberikannya ponsel beserta dengan nomornya. Mungkin dari sana bisa dilacak atau kakaknya bisa menghubungi Claudia, tapi ternyata ketika Egnor menghubunginya nomornya sudah tidak berlaku lagi.


"Argh sial! Claudia! Mengapa kau tidak menungguku sebentar? Seharusnya aku tidak lagi mengantarnya ke rumah Lisa, langsung saja kubawa ke rumah. Seharusnya aku tidak menurutinya!" Decak Egnor memukul mukul kemudia dengan sangat emosi.


Egnor kembali melajukan mobil nya dan kali ini dia ke rumah Frank. Ternyata di sana ada Gabriel dan Lina. Mereka hendak bermain dengan Louise.


"Tuan Egnor? Di mana Nyonya Claudia, bukankah kemarin kau mengantarnya ke rumahku? Aku melihat Nyonya Claudia turun dari mobilmu," kata Lina menyambut kedatangan tuannya.


"Seharusnya aku bertanya padamu, apa kah tidak tahu ada rencana apa dia dengan kakakmu?!" Tanya Egnor berbalik.


Lina mencoba berpikir dan mengingat. Beberapa kali dia memang melihat Claudia membaca koran dan berbicara pada Lisa tapi dia sama sekali tidak tahu!


"Frank, aku mau wine!" pinta Egnor.


"Kau terus meminum wine, nanti akan menyerang hatimu tuan!" saut Frank tetap mengambilkannya.


"Hatiku sudah terserang penyakit, sekarang Claudia pergi lagi meninggalkanku! Sebaiknya aku mati saja!" kata Egnor frustasi dan duduk di sofa.


"Pergi lagi?" Pekik Grace tidak mengerti dengan hubungan atasannya ini.


Mereka belum menyadari apapun. Gabriel sampai meminta maaf pada tuannya karena dirinya mereka kembali bertengkar. Akhirnya mereka semua menemani tuannya berpikir ke mana Claudia pergi. Nyatanya Egnor kembali melamun dan merenungi kesalahannya. Dia terus meminum wine itu sampai malam hari menjelang larut. Lina dan Gabriel bahkan masih ada di situ. Dia khawatir dengan tuannya.


Egnor tidak bicara sama sekali. Dia duduk di sofa yang letaknya di samping jendela. Grace belum menutup tirainya. Egnor terus memandangi langit itu berharap mendapat petunjuk di mana keberadaan istrinya itu. Sesekali Egnor mengentuh cincin pernikahannya. Dia mengelus dengan ibu jarinya membayangkan sedang mengelus tangan Claudia.


"Lama lama tuan kita itu menjadi gila Frank!" bisik Gabriel.


"Dia yang membuatnya! Biar saja dia yang mencari jalan keluar! Lagipula kenapa Claudia pepergian terus!" saut Frank bingung dengan keduanya.


"Wanita memang sulit jalan berpikirnya! Bisa saja Nyonya Clau tetap di sini setidaknya Tuan Egnor akan mengejarnya jika Nyonya sudah tidak mau menemu Tuan lagi. Tuan masih sangat mencintai Nyonya," kata Gabriel lagi.


"Frank, sebaiknya suruh dia pulang. Aku memikirkan Wil Wil," suruh Grace kemudian.

__ADS_1


"Ah, kah benar Grace! Tunggu sebentar," saut Frank menghampiri tuannya.


"Tuan, kau tidak pulang? Sebaiknya kau pulang, besok kita temui Kepala Polisi Devon untuk membantu kita mencari Claudia. Sudah 24 jam sudah bisa dilaporkan," ajak Frank.


Egnor bergeming dan kini memandangi cincin pernikahannya. Sepertinya dia mendapatkan ide mengenai pencarian, dia teringat sesuatu tapi masih dalam angan angannya.


"Tuan, jangan begini, kau tidak kasihan dengan anak anakmu? Sudah Claudia menghilang dan kau geilisah, Wil Wil juga pasti akan gelisah. Kasihan Tuan Besar Johanes dan Nyonya Anne juga Emma yang mengurusnya. Sudah ayo kuantar kau pulang!" kata Frank lagi.


Seketika Egnor mendongakan kepalanya.


"Kau bicara apa? Wil Wil?"


"Ya Wil Wil,"


"Wil Wil memang memberiku ingatan. Aku baru ingat!" Kata Egnor beranjak dari duduknya. Dia sudah mengingat sesuatu.


"Grace, nyalakan laptopmu dan lacak di mana keberadaan Claudia! Frank, kau sudah memberikan cincin pernikahan kita waktu itu kan?!" kata Egnor seperti memenangkan sebuah kasus yang sangat besar.


"Oh iya sudah tuan, ah iya benar, mengapa aku jadi melupakannya? Grace, kemarikan Louise dan cari Claudia agar si pengacara nomor satu ini tidak merepotkan kita di sini!" kata Frank kemudian.


Buk!


Egnor memberi pukulan kecil pada lengan Frank dan malah dia yang meminta Louise pada Grace. Melihat Louise dia memang merindukan Wil Wil. Dia bisa tenang kalah sudah tahu keberadaan Claudia. Frank membelai lengannya yang cukup nyeri.


"Penjahat cinta! Sakit sekali pukulannya!" Keluh Frank dan Gabariel terkekeh.


Egnor menggendong Loise sambil melihat Grace bekerja bersama Lina yang membantunya mencocokan signal dengan chip yang ada di cincin Claudia. Setengah jam belum terdeteksi. Egnor sangat tidak sabar.


Signal not detected, signal not detected


Signal detected not in your area


"Tuan, sepertinya Claudia pergi ke luar negara karena sistem kita mengatakan dia tidak ada di area kita," kata Grace . sekilas wajah Egnor kecewa.


"Perkuat signal, Kak Grace!" Saut Lina mengingatkan.


"Kau benar! Frank, buka jendela dan minta tolong pada Tuan Dimitri untuk menyalakan satelit yang sebelumnya ia persiapkan. Semoga saja masih bisa berfungsi!" perintah Grace.


"Cepat lakukan Frank!" kata Egnor juga.


Frank hendak menghubungi Eleazar tapi ternyata hanya membuka jendela, sistem kembali mendeteksi keberadaan Claudia.


Motel Reiko, Japanis detected!


"Tuan?" Kata Grace melihat ke arah Egnor. Dan semua juga memandang Egnor. Egnor tersenyum lebar.


"Siapkan pesawat jet ku besok pagi, Gabe!"


...


Japanis,


Claudia membuka balkon luar kamar motelnya. Bintang bintang di langit seraya mengetahui isi hatinya yang sepi sehingga mereka berkilau sangat terang. Sangat menghibur pandangannya.


"Kak Egnor, apa yang sedang kau lakukan dengan Wil Wil? Hem, baru saja aku memberikanmu pelukan terakhir tapi rasanya aku ingin merasakannya sekali lagi. Namun, apa arti semua itu kalau hatimu tak lembut lagi untukku? Wil Wil, semoga kalian baik baik saja bersama Daddy kalian. Kalau aku sudah menemukan Grandma kalian, aku akan kembali ke Honolulu. Walau hanya untuk mempertemukan kalian setidaknya kalian tahu kalau mommy baik baik saja dan kalian memiliki Grandma," kata Claudia menikmati pemandangan malam itu.


Tak lama seorang pelayan mengetuk pintu. Claudia segera mendatanginya.


"Nyonya, di taman Hanasan, terakhir kali mereka melihat wanita di surat kabar ini," kata sang pelayan memberikan surat kabar terbaru. Sore tadi ketika tiba, Claudia iseng bertanya bagian informasi mungkin pernah melihat wanita yang ada di surat kabar miliknya. Claudia meminta kalau ada yang mengetahui agar segera memberitahunya. Kebetulan pelayan itu memegang surat kabar terbaru. Bagian informasi berusaha membantu karna Claudia memberikan sejumlah uang untuk mempermudah pencarian.


"Oh, baiklah, besok aku akan mencarinya, terimakasih atas infonya," kata Claudia meraih surat kabar terbaru itu.


Ketika Claudia melihat lagi, di samping berita tentang ibunya yang kembali mengumandangkan syair, terdapat informasi penobatan Egnor kembali terpilih menjadi kepala advokat satu periode lagi.


Seketika dada wanita itu sesak. Meski hanya nama yang terpampang dibsana tapi rasanya sangat menyiksa batin kalau dirinya masih mencintai pria itu.


'Andai saja kami tidak seperti ini, pasti dia sudah menemukan mommyku!' gumam Claudia dan akhirnya beristirahat.


...


next part 166

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa


thanks for read and i love you 😍


__ADS_2