
Kebahagiaan terbesar adalah dimana ketika bisa menjadi orang yang akan berguna bagi generasi yang akan datang. Menjadi seseorang yang diagung agungkan padahal tidak menjabat status apapun. Impian yang hampir menjadi setiap insan di dunia ini. Ya, menjadi seorang ayah dan ibu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Bukan hanya menyandang nama sebagai ayah atau ibu tetapi apa yang telah diperbuat bagi pasangan orang tua ini. Pekerjaan yang begitu menakjubkan sampai ketika sudah menjalankannya saja masih membutuhkan perjuangan sampai menciptakan sesuatu yang mengagumkan. Claudia masih seperti mimpi kalau sekarang dirinya mengandung dua anak sekaligus. Di dalam perutnya yang kecil ini terdapat dua mahluk hidup yang bernapas dan tergantung padanya. Begitu juga dengan Egnor yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Bagaimana perjalanan kisah mereka sampai sudah menjadi seorang ayah dan ibu? Apakah mereka akan terus mengisi satu sama lain?
...
Waktu masih menunjukan pukul empat pagi. Terdengar suara rintik hujan di luar menghiasi sekitar daerah apartemen. Udara yang cukup dingin menyeruak masuk pada sela sela dinding, jendela sampai pintu kamar tersebut. Sekujur tubuh wanita hamil itu bergidik kedinginan. Dia menaikan selimut bedcovernya menutupi lengan lengan yang terbuka dan juga menutupi tubuh suaminya. Suaminya tidur berlainan arah dengannya. Dia tersenyum melihat suaminya tertidur nyenyak setelah semalam mengurusi dirinya dengan semua drama gejolak di dalam perutnya. Ya, Claudia merasakan kebahagiaan yang luar biasa atas perhatian suaminya yang tiga kali lipat berbeda dari biasanya.
Claudia ikut tertidur di samping Egnor tanpa membuatnya berbalik menatapnya. Claudia hendak kembali tertidur namun dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Seketika hatinya sesak memikirkan seseorang. Dia mencoba memejamkan matanya dan mengingat.
~Claudia, sampai jumpa, semoga kau selalu behagia bersama suami dan anak anakmu. Jangan salahkan apapun atas semua perkara ini. Aku sudah sembuh.~
Entah dirinya sadar atau tidak, kata kata itu terngiang dalam pikirannya. Dia pun kembali membuka matanya. Seketika perutnya kembali bergejolak tetapi dia engelusnya dan menahannya. Tidak mau membuat suaminya repot dan khawatir seperti semalam. Perlahan dia mengubah posisinya untuk duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia mengusap wajahnya dan menautkan tangannya. Dia mengingat bibinya.
Sudah satu bulan lebih setelah ia menikah dan mengandung, mengapa dia jadi melupakan bibinya. Tetapi dalam firasatnya, pasti bibinya baik baik saja karna pasti dokter Presley, dokter yang menangani bibinya akan menghubunginya. Namun kali ini mengapa hatinya jadi gundah gulana tak menentu?
'Oh Tuhan, apa kabar dengan Bibi Siren? Ampuni aku, Tuhan, mengapa aku seceroboh ini? Semoga bibi Siren baik baik saja ya Tuhan. Apakah aku bisa menemuinya ?? Usia kandunganku semakin besar, apakah kak Egnor akan mengijinkan ku untuk menengoknya? Oh my twins, bagaimana ini? Mom merasa keadaannya sangat mencekam. Berikan petunjuk mu Tuhan.' gumam Claudia dalam hati. Dia menghela napas dan beranjak dari tempat tidur.
Perlahan lahan dia menuju ke meja di bawah televisi hendak meraih ponselnya. Dingin pagi itu sangat mencekam sampai Claudia mengeratkan jubah tidurnya yang tidak terlalu tebal.
"Ssshh, mengapa sangat dingin seperti ini?" Keluh Claudia. Dia meraih ponselnya juga remot ac untuk mengecilkan suhunya. Claudia pun keluar dari kamar utama itu menuju ke meja makan.
Terlebih dulu dia menuangkan satu gelas air putih untuk melegakan tenggorokannya setelah bangun tidur. Sedikit tersedak karna lonjakan perutnya. Tampaknya, Claudia masih belum menyadari kalau lonjakan dan gejolak tersebut merupakan tendangan tendangan kecil dari si kembar yang dikandungnya. Terakhir melakukan pemeriksaan, tampaknya dokter lupa mengatakan perubahan perubahan yang akan terjadi. Claudia hanya merasa ini merupakan hormon dari kehamilan ini. Kini dia mencoba menghela napas agar kondisi tubuhnya kembali normal sambil sesekali mengelus perut yang kini mulai membesar.
Claudia lalu menekan nekan ponselnya untuk mencari cari panggilan dari rumah sakit. Dia berharap memang tidak ada panggilan sehingga rasa bersalahnya semakin tidak membuncah. Dan benar tidak ada yang menghubunginya. Namun, mengapa perasaannya sangat tidak tenang. Akhirnya Claudia kini mencari panggilan tanpa nama yang pasti adalah kontak rumah sakit. Dia harus menanyakan pada dokter Presley yang menangani bibinya.
Satu kali Claudia menghubungi tidak ada jawaban. Dia melihat jam dinding ternyata baru saja pukul setengah lima pagi, mungkin dokter sedang beristirahat. Hem, Claudia menghela napas. Perasaannya makin tak karuan. Sepertinya memang sudah saat nya dia mengatakan pada Egnor kalau ternyata bibinya sedang di rawat di rumah sakit.
Waktu belum saat nya Egnor bangun, akhirnya Claudia menyiapkan sarapan sekuat tenaganya. Memanfaatkan apa yang ada di kulkas dan di meja makan. Di meja makan ada roti tawar dan di kulkas ada telur, ham slice, tomat, mentimun dan salada. Sepertinya dia akan membuat sandwich saja. Akhirnya Claudia membuat semua itu. Menggoreng telur, memotong segala sayurannya dan menyusunnya. Hanya butuh tiga puluh menit Claudia menyelesaikannya. Sekarang dia hanya perlu membungkusnya dengan aluminium foil makanan dan akan ia hangatkan jika suaminya sudah bangun.
Claudia mengistirahatkan dirinya di sofa sambil menikmati teh hangat. Dia mengelus pelan perutnya lagi. Dia mencoba bersenandung lagu kesukaan dirinya dan Egnor. One And Only by Adele. Dan lagi lagi dia mengingat, dia harus menghubungi kembali dokter Presley. Namun, lagi lagi tak ada jawaban. Claudia mencoba mengingat nama rumah sakit bibinya untuk menghubungi rumah sakitnya namun lagi lagi dia tak ingat.
"Apakah itu Rumah sakit pusat kota Oriental? Pasti itu!" Gumam Claudia dan dia langsung menghubungi customer service rumah sakit tersebut. Namun lagi lagi Claudia harus menahan rasa penasarannya karna dokter Presley belum tiba ke rumah sakit dan mereka tidak bisa mengetahui kondisi pasien jika tidak disetujui oleh dokter atau asistennya.
Claudia sangat khawatir dan terus memikirkan. Mengapa jantungnya bergemuruh seperti akan terjadi sesuatu. Hem akhirnya Claudia memutuskan untuk memberitahu pada suaminya dan berharap suaminya mengijinkannya ke Oriental untuk melihat bibinya. Claudia pun memejamkan matanya di sofa itu sampai tertidur.
Sekitar lima belas menit kemudian Egnor terbangun. Ponselnya berdering kencang sekali di kamar namun Claudia di ruang tamu tidak mendengar. Frank yang menghubungi. Untuk sementara dalam pencarian asisten pengganti Claudi, Frank yang menggantikan.
"Ada apa?" Egnor mengangkat ponselnya sambil mengusap matanya.
"Tuan, Nona Lisa Cornwell sudah mengirimkan permintaan pengacara pada kita. Dia meminta dirimu untuk menjadi pengacara nya." Kata Frank di seberang sana.
"Oh iya, atur saja." Jawab Egnor masih setengah sadar.
"Em, katanya Nona Lisa mendapat petunjuk mengenai pengirim surat kaleng yang meneror ibunya Tuan." Tambah Frank mengenai pemberitahuan yang Lisa berikan.
"Oh iya, dimana?" Tanya Egnor.
"Petunjuknya ada di lahan yang hendak Tuan Johanes bangun, Tuan." Jawab Frank.
"Baiklah, nanti kita ketemu di kantor. Aku bersiap dulu."
"Siap Tuan."
Panggilan dimatikan. Egnor melihat tempat tidurnya memeriksa istrinya namun tidak ada. Dia mengusap dahinya dan berdiri. Dia keluar kamar dan mencari istrinya. Egnor tersenyum. Claudia di sofa dengan posisi duduk dan memegang perutnya tertidur. Dia menghampirinya perlahan. Egnor dengan sangat pelan menggendong Claudia untuk dipindahkan ke kamar mereka. Sepertinya Claudia cukup lelah hanya membuat sarapan mengingat kandungan kembarnya.
Egnor meletakan dengan pelan istrinya dan menyelimutinya. Sesaat Claudia terkesiap namun matanaya masih sangat berat.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Claudia tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ya, baru saja. Mengapa terbangun? Ada yang sakit?" Selidik Egnor. Setiap saat rasanya Egnor harus memeriksa kondisi Claudia. dia tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun terhadap kandungan istrinya mengingat kejadian Grace beberapa bulan lalu.
"Tidak sayang, aku masih mengantuk, kalau sudah selesai membersihkan diri bangunkan aku ya? Aku sudah menyiapkan sandwich untukmu, hanya tinggal dihangatkan di microwave." jawab Claudia tersenyum.
"Iya sayang tenang saja. Aku membersihkan diri dulu. Ada sebuah kasus yang sangat penting." Egnor mengusap puncak kepala Claudia dan beranjak.
Claudia tidak menjawab lagi. Matanya sudah sangat berat dan dia kembali tertidur. Egnor hanya setengah menoleh dan tetap menuju ke kamar mandi. Selang beberapa lama Egnor telah siap juga mengenakan jas lengkapnya. Dia melihat Claudia masih tertidur.
"Dia pasti lelah karna masih bangun dan membuatkan ku sarapan. Biarlah dia tertidur." Gumam Egnor dan hanya mengecup kening istrinya. Dia pun ke dapur dan menyiapkan sandwich nya sendiri. Setelah menghabiskan sarapannya Egnor kembali melihat Claudia yang masih tertidur. Egnor pun membiarkannya. Dia segera menuju ke kantornya.
Sekitar pukul 9, Claudia terbangun dan menyadari suaminya telah berangkat ke kantornya. Dia kembali ke ruang tamu dengan pelan dan meraih ponselnya. Dia harus meminta maaf pada suaminya karna tidak mengurusi paginya. Namun, Egnor lebih dulu mengirimnya pesan.
MR. JOVANCA (begitulah sekarang nama Egnor pada kontak ponselnya)
Sepertinya kau sangat lelah menyiapkan sarapan untukku. Besok tidak usah selengkap itu, honey. Cukup roti dan selai saja. Nanti malam kita bisa berbelanja bersama. Aku harus pergi karna mengurus kasus Lisa. Kau baik baik di apartemen, cepat kabari aku atau Grace jika terjadi sesuatu. Oke? I love you now and until end. ♥️
Claudia tersenyum membaca pesan suaminya. Sepertinya suaminya memiliki mood yang baik. Nanti malam dia harus membicarakan bibinya padanya.
...
Siang hari, di Lawyer Eg. Office.
Sementara itu, Egnor berjalan menyusuri koridor gedung pengacaranya menuju ke ruangannya bersama Frank. Mereka berdua baru saja menyelidiki kasus teror oleh Lisa. Di sana mereka bertemu dengan Lisa, adiknya Lina dan Nyonya Cornwell. Namun sekarang tampaknya Egnor kembali mengalami kegundahan.
"Dokter Presley menghubungi Jonathan, Nyonya Siren Gie kini mengalami gangguan pernapasan. Dia harus selalu menggunakan alat bantu pernapasan. Kondisi nya semakin memburuk Tuan. Perbaikan pada jantungnya nyatanya tidak bisa membuatnya tersadar. Dia terus tertidur lemah koma tak berdaya. Bagaimana Tuan?" Frank memberitahu dengan detail sambil berjalan berdampingan.
Mereka akhirnya memasuki ruang kerja Egnor. Di sana sudah ada Grace yang tengah mengandung namun kandungannya kali ini lebih kuat sehingga dia bisa masuk ke kantor dengan aman. Namun dengan catatan harus pulang dan pergi bersama Frank. Grace tidak boleh lagi mengemudi sendiri.
Grace kini berdiri menatap tuannya yang melewatinya.
"Tadi dokter Presley kembali menghubungi Tuan. Dia benar benar tidak tahu lagi dengan kondisi Nyonya Siren. Sepertinya kita harus memberitahukan Claudia, tuan." kata Grace sedikit takut takut karna wajah Egnor yang pulang dengan sedikit datar dan matanya merunduk.
Egnor sudah duduk di singgasana nya. Dia memijit tulang hidungnya. Dia memikirkan kondisi Claudia yang walaupun tidak begitu parah namun kekuatan daya nya tidak memadahi. Setiap hari pasti ada saja yang membuat Claudia tidak nyaman. Dan Claudia terlihat sangat sangat lelah, terbukti dengan hanya menyiapkan makan pagi saja langsung tertidur dengan nyenyak. Bagaimana jika dia mengetahui kondisi bibinya yang sebenarnya? Mungkin Claudia akan memaksakan dirinya pergi ke Oriental.
"Tuan?" panggil Frank memastikan keadaan Tuannya yang masih terus berpikir. dia ingin semuanya baik.
"Rahasiakan dulu! Minggu depan kami akan memeriksakan kandungan lagi dan aku akan menanyakan kondisi kandungannya jika harus berpergian ke luar kota. Kalian tidak mengetahui bagaimana keluh kesah nya setiap hari kan? Aku yang mengetahuinya! Em, katakan pada dokter itu agar tidak menerima atau menghubungi Claudia untuk saat ini. Dan katakan juga padanya berikan semua pelayanan dan perawatan yang terbaik untuk Bibi Siren. Frank, jangan lupa lunasi administrasinya!" kata Egnor memberi arahan.
"Semua administrasi sudah beres Tuan, hanya saja kondisi Nyonya Siren memang sudah sampai tahap akhir. Mereka takut jika memang sudah tidak bisa diselamatkan." kata Frank memberikan status pekerjaan yang sudah ia lakukan sebelum Egnor memberinya perintah.
"Shit! Lakukan saja yang kuperintahkan Frank, Grace! Aku harus hati hati terhadap kandungan Claudia. Dia mengandung anak kembar bukan seperti dirimu Grace!" decak Egnor agak bingung dengan apa yang harus ia lakukan. dia sungguh mencemaskan istrinya yang sedang berbadan tiga itu.
"Baik Tuan!" jawab Grace dan Frank bersamaan.
"Apa ada kabar lain?" tanya Egnor melirik Grace.
"Iya Tuan, Gabriel Lynch bersama adiknya telah mendarat di Honolulu. Mereka sudah di sini dan tadi setelah kau pergi menuju ke tempat peristiwa Nona Lisa, dia datang kemari. Aku sudah menyuruhnya menunggu di ruangan Frank." kata Grace lagi memberitahu tentang Gabriel dan Mytha.
"Oh baiklah, setelah makan siang aku akan menemuinya. Lalu, apa Claudia menghubungimu? " pertanyaan tentang istrinya harus selalu ada dalam ingatannya.
"Tidak Tuan. Apa ingin ku hubungi?" kata Grace menawarkan.
"Tidak usah, biar aku saja yang menghubunginya. Siapkan makan siang ku Frank." Kata Egnor dan dia beranjak ke ruang peristirahatan nya. Dia hendak menghubungi istrinya.
"Em sayang, siapa Gabriel dan adiknya?" bisik Frank menghampiri meja kerja istrinya.
"Orang yang ditolong Tuan Egnor." jawab Grace kembali mengetik pada komputernya.
__ADS_1
"Oohh, apa dia akan menjadi asisten Tuan Egnor?" tanya Frank menerka.
"Ada apa denganmu?!" selidik Grace tidak enak. sepertinya Frank memiliki maksud lain.
"Ya, biar aku tidak terus menyiapkan makan siangnya!! Kalau asin sedikit potong bonus, pedas sedikit potong bonus. Kapan kita kaya??" dengus Frank tetap dalam nada pelan.
"Hahaha, kau catat saja berapa yang dipotong nanti kita tagihkan pada Claudia." Grace menaik turunkan alisnya. Claudia memang tidak mentolerir pemotongan bonus hanya karna hal kecil. dia langsung memarahi suaminya.
"Ahhh, kau benar juga! Claudia berbanding terbalik dengannya. Aku pikir setelah menikah dan hendak menjadi ayah, sikapnya berubah tetapi dia malah mengait ngaitkan pembayaran kasus pembunuhan ayahku!" dengus Frank lagi mengeluarkan keluh kesahnya.
"Siapa suruh kau menyuruhnya menjadi pengacaranya?" saut Grace yang tidak menyangka kalau suaminya menyuruh atasanya . dalam hal ini Grace memang tidak tahu.
"Salah besar!!! Yasudah, dia mau makan apa siang ini?!" tanya Frank. Egnor sebelumnya selalu memberitahukan Grace terlebih dulu.
"Em, katanya steak Salmond teriyaki jangan terlalu manis!" jawab Grace cukup mendetil.
"Andai saja Claudia belum hamil." gumam Frank.
"Frank, hati hati dia mendengar gajimu yang dipotong!"
"Aku paham!!!!"
Grace terkekeh melihat dengusan suaminya. Frank pun menuju ke ruangannya hendak memesan makan siang di restoran langganan tuannya. Sementara Grace melanjutkan pekerjaannya. Namun dia sempat khawatir kalau kalau Claudia mengetahui kondisi bibinya yang sebenarnya.
...
...
...
...
...
Hay Hay jumpa lagi sama kisah babang eg n Mimi Clau haha
Bagaimana bagaimana awal awalnya? Hehe
Masih ringan dulu menuju konflik ya .. smoga bisa menebak biar ga penasaran yes 😁😁
.
Next part 2
Apa Claudia yang akan mengatakannya lebih dulu tentang kecemasannya atau Egnor yang memberitahu?
kalau Clau tahu dermawan ya bukan Richard malah suaminya gimana responnya ya? ya harusnya seneng sih ya? hehe
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1