Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 155: Destiny - 2


__ADS_3

Claudia : Setelah kembali, aku merasa jarak kita semakin menjauh. Aku akan mencoba mengerti, yang kita butuhkan adalah menahan satu sama lain agar kembali seperti semula, Agar jarak kita tak semakin menjauh.


Semua yang ku butuhkan hanya ingin kau kembali seperti sedia kala. Kalau saja bisa, aku ingin kembali di 13 tahun silam, ketika pertama kali mata kita saling bertemu. Jika saja aku bisa menguasai takdir ini.


Egnor : Aku tahu itu, tapi ini tidak semudah seperti yang kita katakan. Namun, dengan seiringnya waktu berlalu, akankan aku mampu melupakan semuanya dengan perlahan? Jika aku memiliki kesempatan untuk kembali ke masa itu, aku akan melakukannya tapi nyatanya kau ternyata tidak membutuhkanku dan pergi. Lakukan saja apa yang menurutmu baik ...


...


Di sisi lain, di mana perjuangan masih berlangsung, Egnor sudah melihat Bruce duduk di pinggir pantai ketika matahari lambat laun menampakan cahayanya. Egnor sudah hampir kehabisan tenaga dan sepertinya dia tidak bisa lagi bertarung terlalu lama. Jadi, Egnor hendak menangkapnya secara sembunyi sembunyi. Namun naasnya, ketika persembunyian yang kesekian kalinya, Egnor menginjak daun kelapa kering sehingga Bruce mencurigainya. Bruce masih harus keluar dari pantai atau hutan ini. Dia harus mencari kendaraan untuk kembali ke mansion lama dan mengambil semua uang juga paspor. Dia harus kembali ke Japanis.


Bruce pun beranjak dan berlari lagi. Egnor berdecih dan ikut mengejarnya tetap dengan bersembunyi jika Bruce sesekali menoleh. Akhirnya Bruce seperti melihat oase di tengah Padang gurun. Dia mengingat ini rumah Ron dan Elizabeth yang ia bangun bersama Richie agar Ron bisa meracik obat obatan berbahaya untuknya. Ada juga di depan sana mobil tua yang belum diurus pihak setempat. Bruce yakin akan mendapatkan kuncinya di dalam kayu bercat putih itu.


"Dia masuk ke sana! Pengecut!" Decak Egnor dan kembali berlari kecil menghampiri Bruce di dalam sana.


Egnor membuka pintunya perlahan lahan dan bukan Egnor jika tidak mempunyai insting yang matang.


Prang! Prang!


Egnor langsung menghindar karena sepertinya Bruce melemparkan tabung tabung kaca kimia ke arahnya.


"Bruce! Kau jangan bermain main dengan obat obat itu! Kuperingatkan ya?! Sebaiknya kau menyerah!" teriak Egnor di luar rumah.


"Kau ini bodoh atau apa? Kalau penjahat semua menyerah, penjaramu itu akan penuh dan kau bisa mati lelah karena mengurusi penjahat! Pergi kau dari sini! Aku tidak akan menyerah!" Balas Bruce masih berusaha mencari kunci mobil itu.


Egnor berpikir, rumah ini pasti memiliki pintu belakang. Egnor pun memutar ke belakang dan memasukinya. Dia melihat punggung Bruce dan dengan seringaiannya yakin akan menang, dia mencekik leher Bruce dari belakang!


"Kubilang menyerah menyerahlah!!!" Desis Egnor terus menguatkan lilitan tangannya berharap Bruce tak sadarkan diri. Namun, Bruce memang tak tertandingi, dia malah berjalan hendak mengambil salah satu obat di dalam suntikan yang tidak disadari Egnor. Dia meraihnya sekuat tenaga dan dapat. Dia hendak menusukan suntikan tersebut pada wajah Egnor dari depan.


"Mati kau Jovanca tengik! Engh!!!"


Bruce hendak menancapkan tapi lagi lagi insting seorang pengacara akan sangat bekerja lebih tajam dalam keadaan genting. Egnor melepas lilitan tangannya sehingga suntikan tersebut malah menancap di pundaknya.


"Arghhhh sial!" Decak Bruce berbalik dan melihat Egnor agak menjauh.


"Bruce! Sudah ku katakan! Kau sudah kehabisan tenaga begitu juga denganku! Sebaiknya kau menyerah! Aku tidak akan membunuhmu!" Kata Egnor akhirnya bernegosiasi.


"Hahahaha, mana mungkin aku menyerah semudah itu Egnor Jovanca," balas Bruce menopang tangannya di meja. Sementara cairan yang ada di suntikan tersebut lama kelamaan masuk ke dalam tubuh Bruce.


"Kalau mau berakhir, kita yang harus sama sama berakhir!" Bentak Bruce menantang. Dia mengambil suntikan yang menancap di pundaknya. Dia tidak sadar kalau cairan itu mulai merasuk memenuhi tubuhnya. Bruce malah mengambil asal obat obatan lain dan di masukan ke dalam suntikan itu. Bruce tahu kalau obat obat an ini tidak ada yang benar karena dia yang menyuruh Ron dan Elizabeth yang membuatnya. Namun, ketika Bruce hendak menghampiri Egnor, matanya agak berkunang kunang dan kepalanya menjadi sangat sakit. Kaki nya terasa lunglai dan tangannya bergetar seperti kesemutan. Dia masih mencoba berjalan tapi tak lama dia terjatuh di depan Egnor.


"Bruce?!" Panggil Egnor menjauh merasa Bruce berpura pura. Dia tidak boleh lengah. Namun, tak ada jawaban atau perlawanan lagi. Akhirnya Egnor memberanikan diri mendekati dan memeriksa lehernya. Tubuhnya seketika menjadi sangat panas dan Egnor membalikan Bruce. Bruce sudah tidak sadar. Dia membuka mata Bruce dan tampak sangat merah.


"Sudah kukatakan jangan bermain api!" Decak Egnor lalu kembali beranjak. Dia mencoba menggerakan earphone di telinganya. Semoga masih aktif dan terjangkau. Dia membutuhkan tumpangan.


"Siapapun! Jawab aku!" Kata Egnor menekan earphone nya lagi.


"Pagi tuan! Aku kini yang masih terjaga! Kak Grace sedang mengurus Louise dan Maltha sedang mengurus perawatan August," saut Lina yang memimpin komando.


"Ada apa dengannya?" selidik Egnor.

__ADS_1


"Dia tertembak Kingsler,"


Egnor menundukan kepalanya.


"Baiklah, cepat utus seseorang menjemputku di pinggiran Honolulu dekat pantai, rumah rahasia Ron dan Elizabeth!" perintah Egnor kemudian.


"Kau di sana Tuan? Semua orang mencarimu!" ujar Lina juga cemas.


"Cepat lakukan! Dan bawa mobil ambulans, Bruce terkapar!" kata Egnor lagi.


"Aku tahu, kau pasti memenangkan semua ini, sir! You're the best!"


Seketika Egnor mengingat kata kata lanjutan untuk kalimat terakhir yang diucapkan Lina. Semua begitu nyata ketika dirinya atau Claudia mengatakan you're the best the only that i want. Egnor mengusap dahinya.


"Aku tunggu Lina!"


"Oke tuan!"


Lina pun meminta tolong Leon, Moses dan kepala polisi Devon menjemput Egnor di sana. Sesampai di sana , Devon yang membawa tim medis memeriksa kondisi Bruce.


"Apa yang terjadi padanya tuan? Apa dia terkena cairan obat beracun?" tanya petugas medis.


"Aku tidak begitu paham, dia hendak menancapkan suntikan padaku tapi aku menghindar sehingga suntikan itu tertancap pada pundaknya. Aku tidak tahu di dalamnya ada cairan atau tidak," seru Egnor memijat pelipisnya.


"Sebaiknya cepat bawa ke rumah sakit dan diperiksa, suruh dokter ahli memeriksanya," perintah Devon memutuskan.


"Siap tuan!"


Sepanjang perjalanan Egnor memegang dahinya. Dia seperti akan mengalami sesuatu yang sulit. Leon memberikan air mineral padanya dan dia menegaknya habis. Leon juga memberikan handuk basah untuk menyegarkan wajah tuannya itu.


"Hem, aku merasa akan terjadi sesuatu," tutur Egnor memberikan handuk itunkembali pada Leon.


"Beristirahatlah tuan, perjalanan sekitar satu setengah jam lagi," kata Leon.


"Oiya, bagaimana Gabriel?"


"Masih dalam pencarian dan pengejaran si Gabriane tua, semoga cepat tertangkap,"


Egnor mengangguk dan merasa kalau Gabriel akan berhasil. Akhirnya Egnor memejamkan matanya. Dia kembali melalui malam yang panjang dan mencekam. Hampir saja dia tersesat jika dia kembali masuk ke dalam hutan karena sempat berpikir Bruce ke hutan lagi. Namun, cahaya bintang yang mengingatkannya dengan seseorang menuntunnya kembali menemukan targetnya.


'Claudia ...' panggilnya di dalam hati.


Sesampainya di basment parkir, Devon mendapat kabar kalau Gabriel telah kembali.


"Tuan Egnor, entah ini kabar duka atau gembira," kata Devon hendak memberitahu.


Egnor menoleh ke arah Devon.


"Richie Gabriane mengalami kecelakaan kapal yacth pribadinya ketika dia hendak kabur. Ternyata dia tewas seketika,"

__ADS_1


Egnor melebarkan matanya.


"Gabriel?" Egnor memastikan anak buahnya itu.


"Gabriel baik baik saja. Dia sudah menunggu di ruanganmu,"


Egnor segera turun juga bersama semuanya melalui lobby dan ternyata hal ini yang membuat dirinya tak menentu.


"KAK EGNOR!!!" panggil suara wanita yang sangat ia kenal. Dia langsung berbalik dan melihat Claudia di sana memanggilnya dan berlari ke arahnya.


Claudia berlari dengan tangis yang berlinang. Egnor tak bergeming. Dia diam saja sambil menunggu kedatangan wanitanya. Semua sudah berakhir tapi wanita ini baru saja datang. Walau terlihat agak kurus. Entah apa yang dirasakan dirinya sekarang. Kekecewaan itu masih melandanya di saat ketakutan menyerang dan tekanan menyelimutinya. Dia hanya membutuhkan sosok ini yang seketika menghilang bagai ditelan bumi. Namun, sekarang datang sedang berlari ke arahnya seperti tidak terjadi apa apa.


"Kak Egnor!" Katanya lagi sudah melingkarkan tangannya di pinggang Egnor.


"Kak Egnor, maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini! Bruce hendak menculikku dan membunuh anak anak kita. Richard membawaku ke sebuah pulau yang tidak memiliki akses agar mereka tidak bisa menamukan keberadaanku, maafkan aku!" Isak tangis Claudia mengiringi dirinya menjelaskan pada suaminya yang tetap dalam pandangan datar. Tak lama Egnor memejamkan matanya. Dan mengendusi aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. Namun, dia tetap diam tanpa meresponi apa apa. Perasaannya berkecamuk antara benci, kecewa tetapi rindu.


Claudia masih tersendu dan terus mendekap erat suaminya sampai dia tersadar kalau suaminya tidak merasa senang dengan kehadirannya. Dia pun menari diri dan mendongakan kepalanya menatap Egnor.


"Kak? Kau baik baik saja? Semua tubuhmu penuh luka, apa kau tidak merindukanku? Kau marah padaku? Maaf kak, tatap aku kak!" Kata Claudia akhirnya memaksa Egnor menatap dirinya.


Satu tetes air matanya jatuh ketika memandang istrinya itu.


"Kau bilang aku baik baik saja? Kau bilang aku akan menerima semua ini? Apa kau tahu apa yang terjadi padaku ketika sehelai rambutmu saja tidak kutemukan. Kau malah dengan mudahnya mengikuti mantan suamimu. Aku senang kau baik baik saja tapi dengan begitu aku tahu, kalau kau tidak membutuhkanku, kau tidak mempercayaiku yang akan bisa melindungimu. Kau ternyata lebih aman bersama mantan suamimu bukan aku yang selalu membawamu dalam kesengsaraan. Sebaiknya kau kembali dengannya yang memiliki segalanya dan hidup dengan tenang," desis Egnor melepaskan diri dari Claudia dan meninggalkan wanita itu.


Claudia terdiam dengan mata melebar melihat kepergian pria yang membuatnya tersiksa jasmani dan rohani. Batinnya meronta ronta menahan rindu ketika di pulau. Menahan tangis yang ternyata sulit. Menetralkan diri dengan minuman yang tidak bisa diterima tubuhnya. Bersemangat ketika akhirnya bisa kembali dan bertemu Gabriel. Apalagi kata kata yang mengatakan suaminya merindukannya. Namun, semua rasanya seperti ilusi. Dia seperti kembali ke dua tahun silam ketika mata itu melotot padanya dan menusuk sangat tajam seperti tikaman pedang.


Semuanya melihat kesuraman itu. Bukan hanya Claudia tetapi juga Egnor yang menghapus air matanya dan menuju ke lift. Leon dan Devon mengikuti Egnor sementara Moses menghampiri Claudia.


"Nyonya, mungkin tuan lelah karena perkelahiannya dengan Bruce semalam. Semalam kami melakukan penyerangan. Semoga kau mengerti. Lebih baik aku mengantarmu ke apartemenmu dan mungkin di sana kalian bisa berbicara lebih dalam lagi. Kau dan Tuan harus saling menenangkan, ayo nyonya," ajak Moses yang dibantu oleh Lena yang juga sudah menghampiri Claudia.


...


pesanku :


don't bully him, he just ordinary human can cry, laugh, disappointed, sad and happy like us 😇


E : hanya kau yang mengerti vii


V : orang gua yg buat, Uda diem aja lu ah


E : #kecupbasah vii 💋💋


C : VVVVVIIIIIIII!!!!!!


V : #kabbbooorrrr


.


oke next yuk part 156

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2