Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 65: Peach Roses


__ADS_3

Entah doa seperti apa lagi yang dipanjatkan oleh sebuah hati sederhana. Hati yang merintih setiap malam, mengharapkan dewa cinta segera menancapkan panah cintanya pada pria yang ia inginkan. Agar terlaksanakan pertemuan yang tak kunjung datang. Namun seiring berjalannya waktu sang kuasa menuliskan rencana untuk kebahagiaan insan hati yang merindu, cara itu datang untuk memberikan sebuah kenangan yang dimunculkan kembali.


Ketika sampai matanya beradu menjadi satu, getaran kebencian dan ingin memiliki bermain di dalam lingkar cinta. Doa nya terkabul meski belum membuncah kan harapannya menjadi kenyataan. Kini apa yang ia harapkan dan impikan setiap mata terpejam terwujud. Pria nya itu, cintanya itu atau jodohnya itu menginginkan dirinya menjadi satu satunya wanita yang akan menemani kisah kehidupannya.


Pria yang kenyataannya selalu tertidur dalam sepi. Dalam bayang bayang yang entah kapan dapat ia dekap kini telah kembali pulang. Sudah bukan menjadi kehaluan dia bisa mencium wanitanya namun benar benar telah merasakan sampai tempat terdalam tubuhnya. Egnor sudah mengetahui bagaimana rasa cinta Claudia yang selalu dipertahankan untuknya sementara Claudia sudah sangat percaya bahwa Egnor hanya menginginkan dirinya.


Di depan kaca rias itu telah terpampang seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna peach. Dia yang memilihnya dan tidak banyak pertimbangan. Ketika gaun berbahan organdi import ini tergantung di paling pinggir kawanan gaun pengantin bermodel lebar menjuntai ke bawah pada bagian bawahnya, Claudia langsung tercuri perhatiannya. Dengan warnanya yang berbeda dari gaun gaun lainnya.


"Aku ingin gaun ini kak!" Kata Claudia langsung menuju ke gaun itu dan meraihnya.


Gaun pengantin berbahan organdi bercampur sequin dan tile berwarna peach yang begitu anggun dengan beberapa partikel kelopak bunga berkilau yang bertebaran di sekitar pinggang sampai ke bagian bawah gaun. Claudia begitu terpikat dengan setiap bagiannya.


"Cobalah!! Kau pasti tampak mengagumkan!" Gumam Egnor tersenyum menyetujui pilihan istirnya.



Ketika Claudia keluar dari ruang ganti itu, betapa wajah Egnor menyala nyala menyaksikan istrinya dengan balutan gaun itu. Claudia tampak seperti bunga mawar berwarna peach. Egnor pun berdiri. Wajahnya memerah dan bingung ingin mengatakan apa. Dia seperti melihat malaikat dengan tampilan yang berbeda. Dan dari sudut lain, Egnor seperti melihat ibunya ada di dalam diri Claudia.



"Apa kau ingin memujiku?" Tanya Claudia sedikit tersipu menghampiri pengacara cintanya.


"Ingin, tapi tidak tahu apa yang ingin kukatakan selain flower. You like flower, Clau!" Jawab Egnor mengelus pipi Claudia lembut.


Claudia tersenyum dan memeluk suaminya.


"Claudia, aku merasakan ibuku menaungimu. Beliau begitu menyukai bunga, khususnya bunga mawar berwarna peach. Dia sering membelinya dan mempersembahkannya ke gereja dan kapel." Kata Egnor kemudian menenggerkan kepalanya di bahu Claudia yang putih itu.


"Aku tahu kak! Sebenarnya aku juga mengingat ibumu. Ibumu pernah memberikan ku sekuntum bunga mawar berwarna peach. Apa kau tahu maksud dari semuanya?" Claudia menarik dirinya hendak memberitahu yang sebenarnya ia ketahui namun Egnor malah mengangguk.


"Artinya adalah semua yang ada padamu. Dia mengatakan bunga mawar berlambang kesopanan dan sangat merepresentasikan kehangatan dan itu terpancar dari pelukan yang selalu kau berikan padaku Clau." Egnor mengandaikan semuanya layaknya Claudia.


Claudia tersenyum dan merasa sangat teduh ketika kalimat romantis itu terdengar. Claudia menangkap hal ini romantis padahal Egnor hanya menyampaikan hubungan antara keduanya.


"Apa ini kalimat kalimat romantis mu Tuan Pengacara?" Claudia memicingkan sebelah matanya menggoda Egnor.


"Tidak. Aku hanya mengingat apa yang dikatakan ibuku tentang bunga itu juga hubungannya dengan kepribadianmu." Saut Egnor sesuai hatinya.

__ADS_1


Claudia memutar bola matanya dengan tetap tersenyum. Dia tahu, suaminya tidak akan mengakui atau memang seperti ini adanya. Suaminya tetap akan seperti kutub Utara di kejauahan sana. Namun tetap hangat ketika mereka berpelukan dan menjalin cinta.


"Lalu, apalagi yang ibumu katakan mengenai bunga mawar peach itu? Mengapa kau bilang semua ada padaku?" Claudia kembali menyelidiki karna belum puas dengan kata kata indah sang pengacara yang ternyata dapat berubah menjadi seorang pujangga cinta yang penuh inspirasi.


"Bunga mawar peach itu memang sepertimu. Di dalamnya mengindikasikan sebuah kelembutan dari seorang wanita. Ya memang terkadang kau terlalu serius dan membuatku pusing, tapi kau tetaplah wanita yang sangat lembut Clau. Aku mengakui. Dengan masakan yang kau berikan padaku, aku merasa disanalah kelembutan itu terpancar. Bukan hanya itu, bunga mawar peach ini juga membicarakan tentang kemurnian dan kepolosan hati seorang wanita dan semuanya terpancar di jiwa dan raga mu. Terimakasih atas kemurnian yang kau jaga untukku Clau." Egnor dengan sejuta kata kata nya yang berkelas dan tentu saja intelek kembali menjabarkan maksud dari bunga mawar peach itu sesungguhnyam. Dia lalu meraih tangan Claudia dan mengecup punggung tangannya.


Satu tangan Claudia telah bertandang di dadanya. Dia tidak peduli bagaimana pikiran Egnor, namun ini merupakan kata kata ter romantis dari suaminya yang pertama kali ia dengar. Claudia seakan akan menjadi ratu bunga mawar peach kesukaan sang raja yang kini sedang duduk di pangkuannya dan di rasakan setiap kelopaknya.


Claudia tersenyum lagi sampai netra hitamnya berkaca kaca mengingat drama memilih gaun pengantin satu Minggu silam. Kini dia akan mentuntaskan semua mimpi dan keinginannya mengenai pernikahan. Mulai dari pemberkatan suci di gereja dan resepsi pernikahan indah seperti harapannya.


Dia memperhatikan dirinya dengan gaun pengantin berwarna peach ini. Dengan Tiara di atas kepalanya dan rambutnya dibiarkan bergelombang. Sang penata rias yang dipilih Egnor memang menginginkan penampilan Claudia sebagai seorang pengantin wanita menjadi yang berbeda dari yang lainnya. Tidak dengan rambut yang di tata ke atas melainkan dibiarkan menjuntai sesuai keinginan Egnor. Claudia pun merasa hal ini lebih membuatnya nyaman. Tanpa lekukan disetiap rambutnya namun bebas ke bawah dan menjadi elegan dengan Tiara kecil hinggap di puncak kepalanya.


Seketika Claudia menghela napas karna degup jantungnya tak beraturan. Dia sedikit teringat Siren. Dia belum bisa memjemputnya dan belum bisa mengatakan pada Egnor. Semua sudah dipersiapkan Egnor dan dia tidak boleh menggagalkannya. Setelah resepsi ini dia harus kembali merangkai kata kata yang sempurna untuk memberitahu Egnor kondisi bibi nya itu yang sesungguhnya.


"Bibi, doakan aku! Akhirnya, yang kau inginkan terjadi. Aku akan benar benar resmi menikah dengan pria yang sangat kucintai." Gumam Claudia menepuk pela air mata yang hendak terjatuh. Sebentar lagi acara pemberkatan pernikahan ini akan dimulai. Egnor pasti sudah menunggu di altar sana.


"Mom!" Panggil sebuah suara yang sangat ia tahu pasti Lexa. Claudia menoleh dan terkesima lah Lexa. Wanita yang sudah menikah lebih dulu itu menatap takjub dengan kecantikan natural ibu angkatnya. Namun, kekaguman Lexa nyatanya membuat gejolak pada perutnya menanjak memenuhinya hati nya dan terus menaik ke tenggorokan dan sepertinya dia harus mengeluarkan sesuatu gejolak tersebut lalu muncul getaran pada sisi perut bawahnya.


"Wait a minute Lexa, aku harus ke toilet!" Claudia meminta pada Lexa dengan mengacungkan telunjuknya.


Claudia dengan perlahan menuju ke toilet yang berada di ruang ganti tempat mereka merias diri. Lexa dengan sigap mengikuti dan membantu Claudia ke sana. Claudia mengeluarkan cairann tubuhnya tidak terlalu banyak tapi berhasil membuatnya pucat seketika.


"Mungkin aku agak gugup." Gumam Claudia meraih tysu dan menyapu bibirnya perlahan.


"Ya, aku mengerti, aku sangat mengerti tapi tidak sampai muntah. Apa kau ingin menundanya sebentar Nyonya?" Lexa memastikan dan membantu Claudia keluar toilet. Claudia menggeleng.


"Kak, apa kau hamil?" Tiba tiba Viena yang juga sudah menjemput Claudia bertanya dengan nada mengintimidasi.


Claudia menggeleng lagi sambil memegang mulutnya berjalan menuju sofa single di sana. Viena mendekatinya. Dia pun memegang dahi kakak iparnya itu.


"Maaf kak, Sepertinya kau hamil! Suhu tubuhmu agak hangat!" Kata Viena meyakinkan Claudia karna hal ini juga yang pernah Viena rasakan.


"Tidak Viena. Aku hanya gugup." Claudia masih berkelit hal yang benar benar tidak ia ketahui.


"Gugup tidak perlu sampai demam dan muntah kak." Tambah Viena tetap yakin pada prediksinya.


"Waktu itu aku juga pernah seperti ini, aku muntah karna telat makan. Iya. Hari ini aku juga sudah telat makan." Claudia ikut meyakinkan Viena.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pastikan saja. Lexa, belikan testpack di depan mini market tempat rias ini, yang paling akurat!" Perintah Viena tanpa menunggu Claudia lagi.


"Baik Nyonya!"


Lexa segera membeli alat pemeriksaan kehamilan itu. Sementara Viena berjongkok di depan Claudia.


"Kak, aku dengar akhir akhir ini kau tidak enak badan. Kemarin waktu pelemparan bunga Lexa saja kau terjatuh dan ikut berdansa hanya sebentar. Aku sangat yakin kau hamil. Aunty Anne juga mencurigai itu. Apa kak Egnor tidak begitu mencurigai?" Viena kembali menanyakan hal penting ini.


"Haruskah aku memberitahu kanmu bagaimana tingkat kepekaan nya?" Claudia terkekeh.


"Oh ternyata masih cukup masa bodoh kah?" Viena mendelikan alisnya.


Claudia mengangguk tersenyum. Viena ikut tersenyum dan memaklumi sikap kakaknya yang masih sedingin kutub Utara sejak Claudia sendiri yang membuatnya.


Tak berapa Lexa datang membawa testpack tersebut. Mereka bertiga saling berpandangan . Claudia meraihnya sedikit gemetar dan menuju kembali ke toilet dengan bantuan Lexa.


...


...


...


...


...


Hamil ga?


Next part 66 ya ternyata kepanjangan disini hihi 😁😁


.


Tetap LIKE dan KOMEN ya jangan lupa RATE dan VOTE juga .. rawan plagiat!! jangan pernah takut hubungi aku ya kalo ada yang ngikutin babang Egnor kita yaa?? ga rela kan kalo di novel Laen namanya pengacara Paijo 😂😂


.


thanks for read and i love you

__ADS_1


singing : you're the only one and i want 😍😍


__ADS_2