
"Sayang, apakah Viena sudah menghubungimu?" Tanya Anne yang sedang menyiapkan sup kacang merah kesukaan Egnor ke meja makan.
"Ya aunty, dia sudah menghubungiku tadi pagi." Jawab Egnor duduk di kursi makan sambil sesekali melihat ke kamarnya.
"Jadi kapan kita akan berangkat mengingat hari sabtu ini pemberkatan dan resepsinya?" Tanya Anne masih dengan mempersiapkan sup bawaannya.
"Mungkin aku akan memesan tiket penerbangan jumat pagi. Katakan pada dad, aunty!" Jawab Egnor.
"Tentu! Kau akan mengajak Claudia?" Anne memastikan dengan wajah yang agak tidak enak mengingat kemarin dia memaksa Egnor untuk datang ke acara Lisa.
"Ya, memang aku akan mengajak siapa? Kau jangan lagi membahas Lisa. Aku tidak ingin!" Decak Egnor mengingatkan. Dia tidak mau lagi menghadapi Claudia yang penuh amukan seperti itu.
"Tidak sayang! Tapi, beberapa hari ini, dia memang mencarimu, aku hanya katakan kau sibuk tak lebih!" Anne berusaha menginformasikan hanya untuk berjaga jaga saja.
"Bicaralah terus seperti itu aunty karna aku tidak mau berurusan lagi dengannya!" Egnor memperingati.
"Ya, kau tenang saja. Em mengapa kamar mu di tutup? Apa belum dibersihkan, sini aunty bersihkan!" Anne menawarkan karna biasanya Egnor selalu membukanya jika ia hanya sendirian saja.
"Ah tidak perlu aunty! Aku menutupnya karna sedang menyalakan aroma terapi ruangan agar kamarku harum!" Egnor berdalih.
"Oh, begitu ya, baiklah Egnor aku sudah memberikanmu sup kacang merah. Kau bisa memakannya sebelum bekerja. Aku pulang dulu. Segera kau kabari tiket penerbangan kami ya? Akhirnya adikmu menikah juga!" Anne tersenyum dan bersiap untuk meninggalkan apartemen Egnor.
"Ya aunty tenang saja. Nanti aku suruh Claudia yang menghubungimu jika aku tidak sempat." Egnor mengantar Anne sampai pintu.
Setelah memastikan Anne menjauh dan dia mengunci pintu apartemennya, dia segera ke kamarnya. Dia ingin berbicara pada Claudia karna perasaannya mengatakan Claudia agak tidak terima diperlakukan sepert ini. Ketika Egnor membuka pintu, Claudia tampaknya sudah membersikan dirinya dengan diam diam dan perlahan. Wajahnya kelihatan dingin dan dia sedang mengenakan dress merah berbahan saten fit body yang sudah Egnor sediakan untuknya. Dengan rambutnya yang ia kuncir ke atas, Claudia tampak cantik dan seksi. Egnor tersenyum dan membantunya menaikan resleting pada dressnya.
"Kau cantik sekali Clau!" Kata Egnor mengecupi leher samping Claudia.
"Aku mau kembali ke apartemenku!" Kata Claudia kemudian menghindar dari Egnor dan mengambil tas kecilnya.
"Kenapa mau kembali ke apartemenmu? Di sini kurang apa?" Tanya Egnor mencoba melupakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau tidak menganggap ku ada di sini! Untuk apa kau menyembunyikanku? Oh, mungkin sekarang aunty mu lebih menyetujui wanita lain bersamamu ketimbang diriku ya?" Claudia mulai mencurigai Egnor yang macam macam.
"Oh Tuhan, hanya itu?" Lagi lagi Egnor tidak hanya mau ada pertengkaran, namun nyatanya sikap jaga image nya ini malah membuat Claudia semakin kesal.
"Hanya itu kakak bilang?! Kita tidak usah bermain perasaan kak. Aku mencintaimu. Sejak dulu. Kau juga mencintaiku tapi kau tidak menganggapku, aku pergi!" Claudia sudah gemas dan kesal terhadap pujaan hatinya itu.
"Lalu bagaimana 15 juta setiap bulannya? Kau tinggal di sini bekerja kan?!" Akhirnya Egnor menggunakan cara ini untuk mengakhiri pertengkaran ini. Dia hanya butuh waktu dan dia tidak perlu pengakuan Claudia atas apa yang sudah ia lakukan belahan jiwanya itu.
Deg! Jantung Claudia bergemuruh. Dia yang meminta uang itu. Ya, dia harus mendapatkan uang. Masalah cintanya dengan Egnor bisa ia kesampingkan dulu. Dia harus bersabar. Dengan dia di sini mungkin dia bisa memperbesar perasaan Egnor dan pada akhirnya ia akan diakui. Untuk sementara dia harus tenang dan tidak boleh gegabah. Claudia menghela napas dan berbalik. Dia tersenyum namun lagi lagi matanya berkaca kaca.
Egnor merasa bersalah namun dia tidak bisa mengungkapkan maksud hatinya. Dia hanya ingin membantu Claudia dengan memenuhi kebutuhannya. Dia hanya ingin menolong apa yang diperlukan Claudia tanpa Claudia merasa dia mengasihaninya. Egnor menghampiri Claudia. Dia memeluk Claudia.
"Cukup kau ada di sini, Clau! Jangan pikirkan yang lain, kau percaya padaku kan? Ini semua tidak semudah yang kau pikirkan! Hanya menunggu waktu!" Kata Egnor di atas puncak kepala Claudia. Claudia mengangguk dan juga memeluk Egnor.
Egnor telah selesai membersikan dirinya dan siap ke kantor. Claudia sudah di meja makan dan sarapan. Claudia juga sudah menyiapkan satu mangkuk kecil sup kacang merah yang Anne bawakan tadi. Claudia tampak diam saja. Mereka makan dalam diam. Sejujurnya dalam hati Claudia masih terasa mengganjal. Entah apa yang Egnor rencanakan untuk dirinya. Egnor selalu diam ketika menanggapi masalah dan bertindak semaunya. Sementara Claudia yang sangat membutuhkan Egnor merasa harus menerima apa yang Egnor berikan padanya.
"Sudah selesai, ayo berangkat!" Ajak Egnor. Claudia hanya mengangguk. Egnor sedikit merasakan aura dingin yang masih di keluarkan Claudia.
"Claudia! Kau masih tak enak badan?" Tanya Egnor pada Claudia yang sedang mencuci dua mangkuk sarapan mereka.
"Tidak kak, aku sudah baik." Jawab Claudia menunduk.
"Bawa obatmu agar kau bisa meminumnya nanti siang!" Saut Egnor dan mereka beranjak keluar apartemen. Mereka menuju ke kantor. Ketika hendak memasuki gedung perkantoran Egnor, Claudia menyuruh Egnor untuk berhenti.
"Ada apa?" Tanya Egnor menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Aku turun sini saja!" Jawab Claudia agak acuh.
"Kenapa?" Tanya Egnor lagi mulai mengernyitkan dahinya.
"Agar tidak ada orang yang mencurigai kita. Di kantor aku hanya asistenmu!" Ucap Claudia menundukan kepalanya.
"Claudia! Mengapa kau terus menyindirku? Kau tidak tahu kan bagaimana perasaanku?! Baiklah, kau yang meminta! Mulai sekarang kau dan aku hanya atasan dan asisten! Keluar!!" Egnor menekan tombol kunci pada mobilnya.
Dia sudah kesal. Mengapa Claudia tidak bisa menurutinya untuk bersabar. Egnor sudah menuruti semua kemauannya. Dan tanpa diketahui Claudia, Egnor sudah menyelamatkannya. Egnor sudah memberikan semuanya pada Claudia. Namun mengapa dia tidak bisa sabar pikir Egnor.
Claudia tersentak mendengar penuturan Egnor. Claudia akhirnya keluar dari mobil Egnor. Egnor langsung menjalani mobilnya dengan menderu cepat. Claudia menarik napas. Claudia ingin status di keluarga Egnor. Namun, Egnor butuh proses. Egnor harus membicarakannya pada ayahnya dan auntynya. Namun, waktunya belum terlihat. Yang sekarang Egnor inginkan bersama dengan Claudia lalu dia akan mengikat wanita itu. Namun, Claudia malah menganggapnya lain karna dia membutuhkan uang Egnor tanpa memeberitahu yang sebenarnya.
Dia akhirnya menjalani daerah sekitaran perkantoran untuk masuk ke gedung. Dia memasuki gedung dan tersentak melihat sebuah tayangan di layar televisi besar di atas bagian informasi. Layar televisi tersebut memang selalu menayangkan berita pagi dan perkembangan nilai mata uang setiap harinya. Egnor yang merancang sendiri ide ini sehingga para pegawai dapat memiliki pengetahuan yang bisa mereka ambil meskipun sedikit ketika mereka melewati jalan pusat gedung ini.
Claudia di sana terpaku melihat seorang pria dengan sangat berwibawa setara dengan Egnor. Pria dengan setelan jas abu abu tua, dengan rambutnya yang rapi dan gaya bicaranya yang tak akan Claudia lupakan. Seorang yang dermawan yang tidak egois dan tidak mementingkan diri sendiri. Aura kedewasaan melekat di sana. Claudia tertegun mendengar kata katanya. Dia merasa akan bertemu dengan pria itu lagi.
"Mencari uang itu bukan urusan Tuhan. Mencari uang itu mutlak dari diri anda sendiri. Kalau Tuhan sudah menyediakan rejeki kalian tapi kalian tidak mau berusaha, sama saja rejekinya tidak akan sampai ke kehidupan kalian. Namun, jika anda berusaha, dan anda meminta restu pada yang kuasa supaya anda semangat dan pantang menyerah, niscaya rejeki akan mengalir pada kalian. Cerita ku hanya sedikit. Dulu aku merasa hidup hanya mencari kata kata yang akan membuat kalian bangkit dari keterpurukan. Aku tidak menunggu hasilnya. Aku hanya bekerja dan mendapatkan uang. Namun, ketika aku berkenalan dengan seseorang. Seorang wanita yang menginspirasiku. Dia berusaha, dia bekerja karna memiliki tujuan. Dia menginginkan perubahan bagi seorang yang sangat ia kasihi. Keluarganya. Keluarganya yang bahkan bukan orang tuanya. Dia berjuang dan merelakan semuanya. Dia tidak peduli hari esok, dia tidak memikirkan dirinya sendiri, yang dia pikirkan hanya kelangsungan hidup keluarganya. Katanya dia bangkit berdiri dan berjuang hidup hanya untuk orang orang yang sudah merawatnya. Aku sangat merindukan orang itu. Di sinilah awal diriku merasa kalau aku bertanggung jawab untuk mengubah mind set seseorang yang bukan hanya mendengarkan kata kataku tapi juga meresapinya dalam setiap langkah kehidupan kalian. Terimakasih. Selamat pagi. Salam hormat dan penuh kasih Ricardo Gabrianes." Tepuk tangan riuh mengiringi kepergian Ricardo Gabrianes, seorang motivator terkenal di Legacy, Oriental dan sekitaran Honolulu.
Claudia masih terpaku di sana. Richard. Begitu ia mengenalnya. Kata katanya sangat tertuju pada pengalaman pria itu. Claudia merasa kalau pria itu sedang membicarakan dirinya.
~Aku begini untuk keluargaku! Aku tidak mempunyai siapa siapa lagi selain mereka. Aku tidak punya apa apa untuk membalas semua kebaikan mereka. Aku bersamamu bukan aku mencintaimu, aku mencintai keluargaku! Aku minta maaf tidak bisa mencintai pria lain lagi selain dia. Aku minta maaf!~ begitulah yang Claudia katakan pada pria itu. Dan masih banyak setiap prilaku yang Claudia tunjukan yang menjadi inspirasi pria itu.
"Tuan Ricardo Gabrianes. Aku memanggilnya Tuan Gabrianes. Dia selalu marah. Dia ingin aku memanggilnya Richard saja. Jadi aku suka menggodanya." Tiba tiba seorang pria sudah ada di sampingnya. Frank sudah bertandang dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Frank? Kau mengenalnya?" Tanya Claudia yang agak tersentak.
"Ya, motivator terkenal yang uangnya setiap saat mengalir. Haha. Dia sangat kaya Clau, mungkin melibihi pacarmu, haha!" Frank terkekeh.
"Siapa pacarku?! Bosmu?! Heng, dia saja susah dimengerti!" Dengus Claudia mengingat sikapnya tadi di mobil yang semau hatinya saja.
"Jangan meledekku! Kenapa kau bisa mengenal Tuan Richard?" Claudia kembali ke inti perbincangan mereka.
"Hey? Kau memanggilnya dengan nama kecilnya juga?" Frank agak terkejut, karna hanya sebagian yang mengetahui nama panggilan kecilnya.
"Eng, maksudku Tuan Ricardo. Kau ini, kupingmu dimana!" Claudia agak salah tingkah dan mencari cara membuat Frank teralihkan dengan sedikit memarahinya.
"Ya aku menjadi pengacaranya. Tuan Egnor menugaskanku menjadi pengacara pribadinya. Aku sering mengurusi masalah pembangunan yang selalu ia invistasikan dan terkadang mengurusi arus pemasukan dan pengeluarannya untuk berbagi terhadap sesama. Dia sangat dermawan." Puji Frank.
"Oh begitu. Kalau dia orang penting, kenapa tidak tuan mu saja yang menjadi pengacara pribadinya?" Selidik Claudia.
"Entah mengapa Tuan Egnor dan Tuan Richard tidak pernah serasi. Mereka memiliki pemikiran masing masing. Tuan Egnor juga selalu menanggapinya dengan dingin. Sedangkan Tuan Richard hanya ingin berteman. Tetapi kembali lagi, Tuan Richard terkadang hanya menyapanya saja. Dan lagi pula Clau! Mana mungkin pemimpin perfeksionis seperti Tuan Egnor menjadi pengacara pribadi. Lebih baik dia di kantor dan menggodamu! Hahaha!" Frank terkekeh.
Claudia menarik napas panjang. Baguslah kalau Egnor dan Richard tidak pegitu akrab pikirnya. Claudia akan berusaha untuk tidak siapapun tahu siapa motivator terkenal itu baginya.
"Tidak waras! Kau belum memakan Grace ya?" Decak Claudia mengalihkan apa yang sudah ia ketahui.
"Memakan?" Frank sedikit terheran dengan ucapan Claudia seperti sebuah ambigu.
"Ya! Kau tanyakan saja pada bos mu yang mesum dan sok perfeksionis itu!! Hem!" Claudia meninggalkan Frank yang masih terheran. Dia lalu menaiki lift dan menuju ruang kerjanya.
Di sana sudah ada Egnor yang menyandarkan dirinya dan mendengarkan musik pada earphone nya.
"Claudia, bos mu kenapa? Datang dengan wajah meringsut seperti itu! Kau tidak memberikannya semalam?!" Tanya Grace menahan Claudia yang hendak menuju pantry.
"Memberikan apa? Kami tidak melakukan apa apa, kau ini!"
"Dan, ada apa dengan pakaianmu? Mengapa kau mengenakan dress, tumben sekali!" Grace sedikit melirik penampilan Claudia yang biasanya hanya mengenakan kemeja dan rok span.
__ADS_1
"Kau tanyakan saja pada bos mu juga! Sudah awas, aku akan membuatkan kopi bos mu, dan iya, Frank menyuruhmu ke ruangannya dulu. Katanya ada yang tertinggal." Kata Claudia kemudian dan menuju pantry kecil ruang kantor mereka untuk membuat kopi hitam tuannya itu.
"Oh baiklah!" Grace beranjak ke luar ruangan. Sementara Claudia membuatkan kopi untuk Egnor.
"Ini Tuan kopinya!" Kata Claudia sambil membuka sebelah earphone Egnor. Claudia penasaran, sejak kemarin Egnor selalu mendengarkan musik. Sangat tidak biasa. Claudia lalu mendengarkannya.
~I dare you to let me be your, your one and only..~ reff dari sebuah lagu berjudul one and only dari Adele mengalun di sana namun tak berlanjut karna Egnor sudah merebutnya.
"Kau punya ponsel dan earphone sendiri kan? Tidak usah mengambil punyaku!" Kata Egnor acuh dan menyeruput kopinya.
"Cih, kekanak kanakan!" Umpat Claudia pelan.
"Claudia! Ini panas sekali!" Tiba tiba Egnor kembali berteriak karna bibirnya merasa panas dengan kopi yang baru Claudia buat.
"Sudah tahu baru dibuat, ya panas!" Claudia memberitahu.
"Kau ini mau mencelakaiku ya?" Egnor mendongakan kepalanya menatap tajak Claudia.
"Mana yang sakit? Sini biar ku obati! Mana?" Claudia lalu membungkukan tubuhnya di hadapan Egnor.
Claudia sangat tidak suka kalau Egnor mendiaminya karna sesuatu yang menurutnya salah Egnor bukan dirinya. Jadi rasanya Claudia ingin selalu menggodanya. Dan mengingat dengan apa yang ia lihat di lobby bawah tadi. Dia malah semakin ingin bersama Egnor.
"Kau mau apa? Bibirku panas, lalu apalagi?!" Tantang Egnor.
Cup! Claudia mengecup kecil bibir Egnor lalu tersenyum.
"Sudah ya, drama selesai! Aku akan mengecek jadwal mu!" Claudia sudah beranjak dan kembali ke mejanya.
Sementara Egnor tertegun disana menerima perlakuan Claudia yang benar benar seperti. asisten PRIBADINYA!!
...
...
...
...
Selek - berantem - cium - peluk - makan - apalagi lah yaa lanjutkan EgClaud kuu 😝😝
.
Next part 25
Who is the motivator?
Ke Legacy dulu ya 😁😁
.
jangan lupa LIKE KOMEN cermati amati setiap kalimat perkatanya agar novel ini bukan hanya sekedar menjadi hiburan atau mengisi waktu luang semata namun ada pesan yang bisa diambil 😊😊
MINTA Rate dan VOTE juga di depan profil novel yaa ❤❤
.
thankyou for read and i love you 💕💕
__ADS_1