
Satu hari kemudian nampaknya Claudia tidak selera untuk makan. Persetan dengan makan sebelum minum obat. Dia sudah tidak tahu lagi apa itu lapar atau ingin makan. Dia ingin Egnor.
Pada akhirnya, dia hanya minum obat dan kembali tidur. Namun nyatanya, tidur bukan cara yang telat melupakan kebodohannya. Melupakan apa yang ia lakukan pada pengacara itu. Dia terus terbayang ketika tamparan itu melayang di pipinya. Terbayang ketika wine dan obat panas itu bersemayam di tubuhnya. Pertolongan yang ia butuhkan nyatanya malah merobek dinding kenikmatannya. Itu tak seberapa ketimbang dia membuka tangannya berharap mendapat pelukan hangat tapi malah hukuman yang sangat membuatnya merana.
Wanita itu meraba raba meja rias mencari ponselnya. Dia mencoba menghubungi Egnor namun panggilannya di alihkan. Dia mengirim pesan rindu pada suaminya namun tidak dibalas. Dia mengirim foto dirinya yang kini sangat hancur, tidak ada respon sama sekali. Egnor benar benar menghilang dari dirinya entah kemana. Dia benar benar merindukan suaminya. Mengapa memang benar benar tersiksa dan sesak pikirnya. Terkurung dalam sangkar emas. Tak ada niat hatinya memasak atau membersihkan apartemen. Dia mau Egnor. Dia mau pengacara hebat itu. Dia merindukannya. Dia ingin pria itu memeluknya, menyetubuhinya, memanjakannya.
"EGNOOORRR!!! KALI INI KAU LEBIH JAUH DARI 8 TAHUN ITU, KALI INI KAU LEBIH TINGGI! KAU KEMANA HAH?! EGNOOORRR!!!!" Claudia terus berteriak di depan kaca, di dalam bath up, di bawah kucuran shower.
Akhirnya, Claudia menangis lagi malam itu dibatas tempat tidur, menutup matanya dalam aliran air mata sampai ia tertidur.
Keesekokannya dia terbangun karna diributkan oleh seseorang di dapur. Dia langsung menyangka itu Egnor. Dia bangkit dari tidurnya dengan keadaannya yang sangat kacau dan hatinya semakin kacau kalau ternyata Grace yang ada di sana.
Grace menoleh ke arah kamar dan melihat Claudia keluar dengan jubah handuk. Dia melihat Claudia sangat tampak kacau. Rambutnya brantakan, matanya merah dan wajahnya bengkak. Grace membelalakan mata nya dan segera menghampiri Claudia.
"Clau, kau tidak apa? Mengapa kau kacau begini?" Tanya Crace memapah claudia menuju ke meja makan.
Claudia menggeleng dan tak lama menangis. Grace segera menyiapkan susu hangat untuknya. Tidak lupa sebuah croissant fresh from oven. Claudia melihat semua sarapan itu. Dia lapar. Dia tidak membohongi dirinya. Perutnya keroncongan namun dia seperti berpikir, ini lah yang juga di rasakan suaminya.
"Dimana suamiku?" Tanya Claudia dengan kepala yang masih menunduk.
"Dia di rumahnya. Dia tidak ke sini. Dia tidak di kantor, dia tidak dimanapun. Dia entahlah apa yang dia lakukan." Jawab Grace sekenanya.
"Kapan dia datang?" Tanya Claudia lagi.
"Entahlah, aku tidak tahu Claudia. Dia diam satu harian tanpa bicara. Sedikitpun tidak." Jawab Grace apa adanya.
"Pamanku?" Tanya Claudia lagi.
"Sudah mati!" Jawab Grace sekenanya. Dia tahu, Claudia pasti tahu apa yang ia maksud.
Satu napas keluar dari mulut Claudia dan dia meminum habis susu hangat tersebut. Tak berapa lama dia mengunyah croissant hangat itu juga dengan lahap sampai Grace terheran. Claudia begitu menyeramkan dan depresi. Setelah menghabiskan semuanya, Claudia menuju ke bath up merendamkan dirinya.
Grace menghampirinya. Membawakan handuk baru yang diletakan di atas rak rak aluminium.
"Clau! Bersemangatlah. Tunjukan daya tarikmu. Dia mencintaimu. Percayalah padaku, ini semua hanya sementara. Kau dalam genggamannya semua akan aman. Aku dan Frank akan membuat dia kemarin secepatnya. Kau tenang saja. Nikmati dirimu, buatlah dirimu segar dan ambil lagi perasaannya. Oke? Aku pergi dulu. Nanti malam aku dan Frank akan kembali membawamu makan malam." Kata Grace ijin pulang dan Claudia hanya mengangguk.
Claudia pun tertidur di sana. Dia malah bermimpi dengan gaun pengantin berjalan bersama seorang pria yang ia tak tahu siapa. Dia lalu membuka matanya. Sekali lagi dia mengingat Egnor. Hanya suaminya yang terngiang dalam pikirannya.
Tak lama dia beranjak. Dia tidak bisa seperti ini. Ini bukan dirinya. Grace benar, dia harus bersemangat. Claudia mengambil kaos tanpa lengan dan celana pendeknya. Dia berkutat di dapur. Membuat kue tart dan beberapa pizza mini. Sampai malam dia terus melakukannya dan dia akhiri dengan meminum jus anggur. Dia hendak meminum wine namun kata kata suaminya terngiang jelas. Dia semakin merindukannya. Terlintas sesuatu yang nekat. Dia hendak menuruni apartemen ini melalui jendela dan menemui suaminya. Dia sudah melihat lihat ketinggian apartemen ini. Dia ragu tapi ingin sampai Frank dan Grace datang. Dia mengurungkan hal gila itu.
Claudia duduk di sofa dengan jus anggur di tangannya. Tak berkata apapun sampai Grace dan Frank takut. Frank menyuruh Grace mencuri gambar Claudia untuk diberikan pada tuannya. Grace melakukannya. Claudia tampak sangar, sinis dan cukup seksi. Grace mengirimkannya pada tuannya. Grace pun pulang bersama Frank setelah tak ada lagi yang diungkapkan karna Claudia pun hanya diam menatap minumnya.
...
Tling!
__ADS_1
FOTO CLAUDIA
Egnor melihatnya dan mencengkram keras ponselnya. Dahinya mengernyit. Dia merindukan wanita ini. Sudah dua hari dia tidak menemuinya. Jack dan Nicolas saja belum ia urus. Mereka berdua masih mendekam di ruang bawah tanah gelap dan minim udara itu. Hanya beberapa ventilasi kecil.
Egnor mengusap wajahnya kasar. Seluruh tubuhnya panas setelah beberapa wine merasuki tubuhnya. Belum lagi foto Claudia yang dikirim sekertarisnya. Satu hari ini dia di kamar rumahnya. Tak ada bicara dan keluar. Dia juga tidak menggubris perkataan auntynya. Egnor malah mengirim pesan pada auntynya untuk tidak menganggunya. Dia beralasan ingin beristirahat satu harian.
Kate juga menghubunginya untuk lanjutan kasus pemerintahan mereka namun Egnor tidak membalas. Egnor malah memberi pesan pada Frank untuk mengurus semuanya.
Egnor pun beranjak ke kamar mandinya dan mencurahkan hasratnya dengan tangannya tentunya. Dia menyiram tubuhnya dengan air dingin. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia merasa seperti memenjarakan seorang penjahat. Penjahat hatinya yang mengoyakan, meremehkan perasaannya. Namun, entah mengapa ia malah ingin mengikatnya dan tidak membiarkan dia kemana mana.
Setelah semua selesai ia lakukan di kamar mandi itu, dia keluar duduk di sisi ranjang. Dia memandangi foto Claudia terus menerus sampai dia akhirnya menghubungi Claudia. Claudia mengangkatnya dengan sangat bersemangat namun dia hanya diam.
"Kakak! Kau menghubungiku? Kau merindukanku? Pulanglah kak, aku sudah membuat pizza kesukaanmu. Aku tidak kemana mana aku menunggumu kak. Pulang ya kak? Kapan pun kau datang aku ada, bisa kau uji seberapa lama kau tak kembali. Kak, kau masih disana kan? Aku claudia, aku menunggumu, istrimu! Tidak lari kemanapun dan akan tetap disini menunggu suaminya pulang. Meski matahari terbit dan tenggelam kau akan menemukanku. Entah dalam keadaan napas atau tidak , kau akan menemukanku jika kau pulang. Aku mencintaimu kak, tidak ada yang lain. Kau curang, kau mendengar suaraku sementara aku tidak mendengar suaramu, kau sungguh membuat ku mati raga. Tak apalah aku menerima hukumanmu . Tapi kak sebenarnya lebih baik kau menyetubuhiku dengan kasar asal aku bisa mendekapmu, menyentuhmu dan melihatmu. Kau ada bersamaku ketimbang kita berpisah seperti ini . Kak, selamat malam. Semoga kau memimpikanku. Aku tutup teleponnya ya? Kurasa pizza ku sudah matang lagi! Bhay!"
Klik! Claudia menutup panggilan. Claudia kembali menangis. Dia berkata kata seakan akan tidak terjadi apa apa . Sementara di sebrang sana Egnor pertama kalinya. Dalam sejarah Egnor meneteskan air mata.
...
Hari ketiga, keempat, kelima Egnor benar benar tidak mengunjungi Claudia. Lagi lagi dia menyiksa Claudia hanya dengan menghubungi tanpa bicara. Sementara Claudia terus berkata kata yang membuat hatinya malah perih. Egnor merindukan istrinya namun betapa dia masih memendam apa yang dilakukan istrinya terhadapnya. Di kantor Egnor terus terdiam tanpa melakukan apapun. Makan hanya satu kali, minum kopi hanya satu kali dan pulang ke rumah mengurung diri.
Sampai ketika satu hari Kate Joyline, orang pemerintah yang urusannya tertunda oleh Egnor dengan sangat terpaksa mendatanginya. Egnor tetap diam mendengarkan apa yang dibicarakan Kate. Kate menangkap wajah kesedihan yang berbeda dari awal mereka bertemu kemarin.
"Dia sudah punya istri dan sedang menghukum istrinya, apa tidak sebaiknya kau datang lagi besok, Nona Kate?" Kata Grace berbisik di belakang Kate.
"Mau sampai kapan kau merutuki dirimu jika istrimu memang menyakitimu? Untuk apa kau menghukumnya? Ceraikan saja dia jika kau hanya membuatnya juga sakit hati sama sepertimu! Kau harus bertanggung jawab kak! Aku benci sekali jika dia seperti ini! Wanita seperti apa yang membuatnya sampai nelangsa begini! Kau harus segera menyelesaikan kasus pemerintahan ini karna ini adalah peganganmu kak! Jangan merepotkan orang lain!" Kata Kate membentak bentak.
"Baiklah Nona Grace! Sampaikan salamku pada istrinya. Mungkin suatu kehormatan aku bisa bertemu dengannya. Pasti dia seorang yang luar biasa sampai bisa membuat seorang Egnor Jovanca diam seperti ini." Ujar Kate pada Grace.
"Benar Nona Kate. Hati istrinya seluas samudra!" Jawab Grace sangat jujur. Baru kali ini dia menemukan wanita sekuat baja seperti Claudia.
"Yasudah, aku menunggu kehadiran tuan mu untuk menyelesaikan peraturan pemerintah. Terimakasih. Sampai jumpa." Ijin Kate.
Kate pun pergi. Sementara Grace menatap tuannya yang begitu kacau.
"Tuan, sudah saatnya anda mengunjungi istri anda. Terakhir aku melihatnya seperti orang tidak waras. Dia terus membuat pizza. Dia bilang sebentar lagi kau akan datang. Kau akan menghabiskan pizza dan semua masakan yang ia buat. Aku dan Frank yang membawanya pulang. Aku juga memberikan setengahnya untuk Joe. Datanglah Tuan. Jangan menyiksa diri kalian seperti ini." Kata Grace lagi dan dia menuju ke meja kerjanya.
Sekali lagi Egnor tetap diam. Dia menegak habis kopi hitamnya hari ini dan menuju kamar peristirahatannya. Dia mengistirahatkan pikiran dan perasaannya. Setelah jam kerja berakhir dia menuju ke sebuah butik dan membeli sesuatu lalu dia pulang ke rumahnya lagi.
...
Besoknya Claudia mendapat kiriman dari Viena dan Lexa. Dua orang ini benar benar sangat serasi dengan Claudia. Mereka berdua yang sangat mendukung hubungannya dengan Egnor. Claudia membuka isi kiriman tersebut. Isinya sebuah gaun tidur tanpa lengan berbahan saten dan lace lace tipis. Sungguh memperlihatkan lekuk tubuhnya. Entah mengapa dia benar benar merindukan suaminya. Ingin sekali dia menunjukannya pada suaminya ketika ia memakainya.
Dia sedikit melupakan dan menaruh kiriman itu di atas tempat tidurnya. Dia lagi lagi memasak. Kali ini dia membuat sup jagung. Karna mengingat suaminya dia membuat sup kesukaan Egnor dan tentu membuat pizza lagi.
"Sup jagung dan pizza kesukaan kak Egnor. Kapan dia bisa menyantap semua ini? Kak, apa kau benar tak merindukanku? Hemm.."
__ADS_1
Claudia menarik napas panjang. Pertengkaran ini sungguh menguras tenaganya. Dia pun akhirnya membersihkan dirinya siang itu. Setelah sudah rasa nyaman, dia hendak mengambil piyamannya malahan melihat gaun tidur itu lagi di atas tempat tidur. Gairahnya menjadi memuncak. Apa yang harus ia lakukan dengan semua gelora cinta di tubuhnya ini.
Dia tidak tahu lagi. Tubuhnya dikuasai bayang bayang Egnor. Akhirnya Claudia mengenakan salah satu gaun tidur itu yang berwarna hitam dengan renda renda merah itu. Dia melihat di cermin membayangkan tampak Egnor menggerayangi tubuhnya.
"Tidak waras! Kak Egnor pasti sangat marah padaku . Sudah satu minggu dia mengurungku disini. Aku harus kuat! Hanya satu minggu, aku yakin besok pria itu akan datang!" Gumam Claudia dan dia menuju meja makan. Dia makan siang di sana. Setelah itu dia melirik satu botol wine kecil di atas lemari. Dia baru mengetahuinya dan hal gila muncul dalam pikirannya. Dia meraih dan membukanya. Dia mencium aroma yang menguar ketika membuka tutup botolnya.
"Masa bodoh! Aku sudah tak tahan!" Pekiknya dan dia menuang sedikit lalu meminumnya.
Dengan seluruh ketidak warasannya dia meminum sedikit demi sedikit sambil memakan pizza nya. Dia berjalan mondar mandiri merasakan hawa panas yang mulai muncul dalam tubuhnya namun dia mengimbanginya dengan pizza nya.
Sampai suara pintu kamar apartemennya terbuka.
"Ada apa dengan pakaianmu, Claudia?" Tanya seorang pria meneguk salivanya.
Sementara Claudia di sana memandang dengan tatapan angkuh, mengintimidasi dan penuh gairah di depan jendela ruang tamu itu.
...
...
...
...
...
Sama clau, aku juga uda ga tahan! Bagi bagi lah wine nya 😝😝
.
Next part 40
Siapa pria itu? Frank apa Egnor apa sapa? Wakakak 😁😁
Drama baru dimulai
.
Silahkan tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE
Kasih rate di depan profil novel dan tip juga boleh
.
Thanks for read and love youu alll 💕💕
__ADS_1