
Claudia memasuki ruang kantornya. Dia masih tidak percaya kalau dirinya sekarang resmi menjadi Nyonya Jovanca. Sementara Grace sudah tersenyum dan ketika sedikit lagi mendekat, Grace meniup terompet kecil di depan wajah Claudia.
"Selamat datang Nyonya Claudia Jovanca." Sapa Grace dan lalu menepuk tangan. Claudia tak bergeming. Dia masih tak percaya dan terus menunduk. Dia lalu menuju ke meja kerjanya.
"Claudia!!! Eh maksudku Nyonya Claudia." Panggil Grace lagi.
"Diam Grace!! Panggil saja Claudia seperti biasanya." Protes Claudia.
"Memang ya pemimpinku yang satu itu sejak dulu, aku tidak pernah mengira setiap sepak terjangnya. Selalu tepat mengenai sasaran tanpa banyak berpikir. Oleh sebab itu aku dan Frank setia padanya. Aku yakin, dia tidak akan pernah mengecewakan kami dan terbukti nyata. Dia bertanggung jawab atas mu dan menikahinya. Bravo, selamat Claudia! Kau sangat beruntung menjadi istrinya! Lalu, mengapa kau duduk disini? Duduk sana di singgahsananya!" Grace sudah melipat kedua tangannya di depan dadanya menggoda Claudia.
"Tidak, aku disini saja. Aku masih tidak menyangka Grace! Pagi tadi kak Egnor langsung mengajakku menikah. Ini terlihat sangat mudah Grace. Aku takut hanya mimpi!" Kata Claudia masih memperhatikan buku nikahnya bersama Egnor.
"Halah, kau ini! Sini, biar kubacakan keras keras ya?" Grace lalu meraih buku nikah tersebut dengan cukup cepat dan sedikit kasar.
"Oh God Grace! Jangan sekasar itu, kalau sobek bagaimana? Kau kan tahu waktu Tuan mu itu seperti apa dan bagaimana sifatnya yang selalu berubah ubah." Claudia kembali protes.
"Hahaha, maaf maaf, aku terlalu gemas denganmu. Buku kecil ini tidak rusak, tenang saja. Kau dengar ya. Dengan ini kantor catatan sipil pusat kota Legacy menyatakan Egnor Victor Jovanca beserta gelar gelar panjangnya," Grace bergurau karna agak malas dengan banyaknya gelar pemimpinnya.
"Hah? Memang begitu tulisannya?" Claudia malah mempercayainya.
"Tidak lah! Kau memang tidak tahu ada berapa gelar suamimu itu! Aku saja pusing!" Decak Grace menanggapi pertanyaan polos Claudia.
"Lanjutkan!"
"Oke, Egnor Victor Jovanca telah resmi menjadi suami dari Claudia Stephanie Gie secara hukum. Begitulah Nyonya Jovanca. Bagaimana? Bukan mimpi kan?" Grace terus memastikan.
"Cubit aku Grace!" Claudia masih tidak percaya. Dia mengulurkan tangannya dan menyuruh Grace mencubitnya. Grace malah mencengkram lengan Claudia dengan sangat sangat kencang.
"Sakit Grace!"
"Rasakan! Kau ini sedang pamer denganku karna sudah menjadi atasanku, sudahlah Clau, nanti kita pesta di apartemenmu!" Grace kembali ke meja kerjanya.
"Baiklah baiklah. Bekerjalah, biarkan aku kembali berpikir. Aku tidur sebentar ya? Kan aku bos!" Claudia terkekeh sesaat.
"Iya bos Claudia! Pakailah kamar tidur kecil suamimu itu, tidak enak kalau ada klien Clau!" Kata Grace mengingatkan.
"Oh iya, sudah lama aku ingin merasakan kamar kecil itu!"
"Dengan Tuan Egnor?
"Mulutmu Grace! Tidaklah, aku ingin tidur sendiri. Ini benar, aku agak mengantuk setelah semua ketakutanku kalau ini hanya mimpi." Kata Claudia segera memasuki sebuah kamar kecil berisikan satu tempat tidur single, ac dan ada nakas kecil di samping tempat tidur.
"Apa setiap wanita yang baru menjadi istri akan gila sepertimu ya?" Saut Grace dan dia melanjutkan pekerjaan. Nyatanya Grace senang kalau Claudia lah yang akan menjadi nyonya nya. Grace sangat tahu betapa baik hatinya Claudia walau masih menyimpan banyak misteri.
...
Malamnya Claudia menghubungi Egnor. Egnor nampaknya sedang makan malam bersama para petinggi Honolulu dan Oriental. Namun, Egnor tetap mengangkatnya. Claudia hanya mengatakan merindukannya. Egnor tersenyum, namun apa daya, dia harus menyelesaikan kasus ini besok.
"Kalau tidak ada masalah, besok malam aku kembali Clau." Kata Egnor ketika hendak mengakhiri panggilan mereka.
"Ya tidak apa apa kak, aku mengerti. Kau jangan lupa langsung beristirahat dan jangan nakal!" Claudia memperingati.
__ADS_1
"Kalau aku nakal, aku sudah tidak mau menunggumu!" Egnor terus saja membolak balikan kata katanya.
"Baiklah. Selamat malam my only!" Ucap Claudia.
"Jaga dirimu my one and only, selamat malam." Ucap Egnor juga.
Mereka memutuskan panggilan. Egnor dan Claudia sama sama tersenyum. Egnor menjadi sangat merindukannya. Kalau tidak urusan pemerintahan seperti ini, dia tidak akan turun tangan. Egnor memang selalu mengurusi kasus besar seperti pemerintahan atau petinggi perusahaan yang berkerabat dekat dengannya. Kalau masalah perorangan, maupun orang penting, Egnor menyuruh Frank atau pegawainya yang lain.
Keesokannya kembali Claudia menghubungi Egnor, namun Egnor sedang rapat hasil akhir sidang banding yang sudah ia selesaikan tadi. Dia tidak bisa mengangkat panggilan istrinya itu dan ketika Egnor sudah selesai hendak menghubungi lagi, Claudia tampaknya sudah tidur. Egnor merasa sedikit menyesal namun memakluminya.
"Tuan Egnor, terimakasih. Atas kerja keras anda dan kualitas yang anda miliki, kita bisa memenangkan kasus ini. Saya sangat puas dengan kinerja anda. Terimakasih!" Petinggi mahkamah agung memberi ucapan dengan berjabat tangan dengan Egnor.
"Tidak masalah Tuan Gonzaga. Saya juga senang karna menangani kasus anda. Em, jadi sepertinya saya harus kembali besok pagi. Istriku sudah menunggu." Ijin Egnor.
"Aku memang sudah menyangka kalau dirimu adalah pria yang sudah beristri karna perawakanmu sungguh berwibawa dan dewasa. Kau memang luar biasa. Istrimu pasti sangat bangga denganmu!" Puji Tuan Gonzaga.
"Tentu. Dia yang membuatku seperti ini. Jadi, saya minta maaf untuk tidak bisa mengikuti acara akhir sidang sore hari besok." Saut Egnor sopan.
"Baiklah. Tidak masalah. Sukses selalu Tuan Egnor." Kembali Tuan Gonzaga menyalami Egnor.
Egnor masih menekan nekan ponselnya hendak meninggalkan pesan untuk Claudia, tak lama Frank datang bersama Joe.
"Tuan, ini pink diamondmu. Aku sudah mengemasnya dengan baik." Kata Joe menyerahkan satu kotak cincin berwarna putih dengan cincin yang waktu itu Egnor dapatkan dari pelelangan cincin diamond limited waktu itu.
"Kau simpan Joe. Jaga dengan baik. Besok kau berikan padaku di depan Claudia di atas sebuah piring. Aku akan mengajaknya makan malam. Frank, kau sudah membooking meja nya kan?" Egnor kembali menyerahkan cincinnya pada Joe dan kembali bertanya pada Frank.
"Sudah Tuan, besok jam 7 malam. Kita masih bisa mengikuti acara Tuan Gonzaga Tuan!" Frank mengingatkan.
"Untuk apa Tuan?"
"Untuk dia mengiringi makan malamku bersama Claudia di restoran itu dengan alunan pianonya."
"Ah kau benar benar ingin membuat makan malam yang romantis ya Tuan?" Tanya Joe sedikit penasaran.
"Entahlah, hanya ini yang bisa aku berikan pada Claudia. Dia sudah agak menderita selama tidak bersamaku. Aku ingin membuatnya selalu bahagia."
"Benar Tuan! Baiklah, sebaiknya kita beristirahat, kembali ke kamar masing masing!" Frank menepuk bahu tuannya dan berjalan menuju kamar hotelnya bersama Joe yang sudah mengikutinya.
Sementara Egnor masih menulis pesan pada Claudia.
πEGNOR
Pasti kau membacanya hari ini, nanti malam temui aku di restoran serenity jam 7, kita makan malam. I miss you my wife β€
Egnor tersenyum setelah mengirimnya dan menuju ke kamar hotelnya.
...
Tepat jam 7 malam, Egnor sudah menunggu Claudia. Claudia sudah mengabari kalau dia terkena traffic jam. Egnor sebenarnya sudah mempersiapkan seperti papan iklan digital yang sudah di setting membuat sebuah tulisan 'YOU'RE ONE AND ONLY'. Kata kata ini untuk Claudia. Egnor sudah duduk di bagian pinggir kaca sehingga dirinya dan Claudia dapat menyaksikannya. Papan iklan digital tersebut akan menyala pukul 19.15 seperti yang ia pesankan.
Untung saja pukul 19.05 Claudia sudah tiba. Claudia berdandan sangat cantik. Dia mengenakan setelan blouse hitam dan rok bodycone merah agak ke orange an. Dia begitu manis. Dari jauh Egnor sudah melihatnya dan menghela napas kalau akhirnya Claudia datang juga. Claudia juga senang sudah melihat Egnor. Dia merindukannya. Dia segera menghampiri suaminya itu.
__ADS_1
Namun,
"Claudia!" Seorang pria paruh baya memanggilnya. Claudia reflek menengok dan pamannya yang memanggilnya.
~Oh God! Paman? Kak Egnor? Aku benar benar tidak dapat mengelak lagi. Apa ini kutukan si tahun kabisat? Mom, Dad, selamatkan aku!~ gumam Claudia dalam hati. Dirinya sungguh sudah diunjuk tanduk.
"Claudia, kau cantik sekali, kau sendirian?" Tanya Jack mendekati.
Egnor yang melihat nya sebenarnya kesal, namun dia kesal karna sebentar lagi kata kata yang hendak dia berikan pada Claudia akan segera tersiar. Egnor pun akhirnya menghampirinya.
"Permisi, maaf Tuan, tapi Claudia harus ikut dulu denganku." Egnor mencoba melepaskan Claudia dari pamannya dan mengikutinya.
"Kak?" Claudia terkejut Egnor menghampirinya.
"Hey, kau siapanya berani beraninya langsung mau membawa keponakanku. Aku pamannya!" Jack sedikit menghela tangan Egnor.
"Iya aku tahu, tapi aku perlu Claudia sekarang dan dia harus ikut denganku!" Egnor masih berkata pelan.
"Iya aku tahu! Tapi kau ini siapanya bertindak tidak sopan seperti ini!" Jack lagi lagi membentak Egnor.
Claudia sudah teramat sabar dan dia harus melalukan ini. Saat ini, dia harus bersama Egnor.
"Paman, sekarang kak Egnor sudah menjadi suamiku, jadi dia berhak membawaku!" Decak Claudia.
"Suami?! Kau serius? Jadi kau sudah melupakan Ricardo? Mantan suamimu! Dia lebih baik dari si Egnor tetangga mu ini dulu kan? Dia kan dulu hanya dari keluarga yang tidak memiliki ibu! Anak dari kontraktor payah dan penjahit baju!" Umpat Jack dan akhirnya membuat Egnor naik pitam. Dia sangat sensitif jika membicarakan keluarganya apalagi ibunya yang sudah meninggal. Egnor menunjuk Jack.
"Diam! Jangan sebut ibuku! Kau? Aku menghormatimu sebagai orang yang menampung Claudia, tapi kau malah? Ah sudahlah!" Egnor meninggalkan Claudia dan pamannya. Dia sudah sangat kesal dan nampaknya tulisan yang sudah ia siapkan akan terlambat. Claudia hendak mengejarnya namun Jack menahannya.
.
.
.
.
.
oh God!! aku ga bermaksud membuat ini menjadi runyam, si jack and jill ngapain lagi disitu ππ
.
next part 33
cuss ..
.
pokoknya kasih LIKE ,KOMEN , VOTE dan RATE yangg banyaakk ya . aku janji aku cepet up untuk yg satu ini hahahau ππ
.
__ADS_1
thx for read i love you π