
Claudia terkejut dan sangat takut karna Egnor memperhatikan dirinya sehingga sangat mencurigainya. Sekarang dia terjebak. Dia hendak berbohong namun sangat lah percuma. Itu pamannya. Biar bagaimanapun Egnor pun akan mengetahui pamannya. Dia tidak bisa mengelak lagi.
Claudia menarik napas.
"Dia pamanku! Kau puas! Sekarang jangan begini kak!" Akhirnya Claudia mengakui. Entah apalagi yang akan ia katakan setelah ini. Karna mau menipu Egnor pun percuma. Tatapan Egnor sungguh mengintimidasinya.
"Pamanmu? Untuk apa dia kesini? Mengapa kau menghindarinya? Bukannya kau harusnya senang?" Egnor masih memberikan pertanyaan bertubi tubi.
"Iya dia pamanku! Aku tidak tahu mau apa dia kesini dan baiklah, aku akan menjelaskannya tapi tidak sekarang!" Pinta Claudia berusaha berbicara ditengah himpitan Egnor.
"Kau akan memberitahunya? Semuanya?" Egnor memastikan.
"Semuanya, tapi tidak seperti ini, kau membuatku sesak kak!" Claudia berusaha menjauhkan tubuh Egnor namun teramat sulit.
Dan ketika Egnor memaksanya harus menjelaskan sekarang, panggilan untuk pesawat yang akan mereka tumpangi berkumandang.
"Kali ini kau lolos, kau harus segera memikirkan jawaban yang aku inginkan!" Kata Egnor menatap tajam Claudia.
"Iya!" Cup! Claudia malah mencuri kesempatan mengecup bibir Egnor yang sangat dekat agar Egnor dapat menurunkan emosinya.
Egnor terkesiap dan langsung merangkul leher Claudia untuk menuju ke pesawat.
"Kak, sembunyikan aku! Aku tidak ingin bertemu dengan pamanku! Peluk aku lebih kuat lagi sambil berjalan!" Pinta Claudia lagi menyeringai. Egnor pun menuruti permintaan Claudia yang juga ia inginkan.
Egnor merangkul Claudia dengan protektif sampai bertemu dengan Johanes dan Anne. Mereka berempat lalu menaiki pesawat. Johanes duduk bersama Anne dan Egnor duduk bersama Claudia.
Selama di pesawat, Egnor memasang wajah dingin, datar dan masa bodo dengan Claudia. Dia ingin Claudia merasa kalau Egnor membutuhkan sebuah penjelasan. Sementara Claudia terus memandang ke luar pesawat. Dia sedang menyusun kata kata yang bisa diterima Egnor. Dia takut Egnor tidak dapat menerima jika dia sudah menjelaskan apa yang terjadi.
Sampai akhirnya Egnor tertidur dan menyandar ke bahu Claudia. Claudia tersentak dan menoleh. Claudia tersenyum. Dia lalu agak menengahkan tubuhnya dan membenarkan kepala Egnor agar menyandar dengan benar. Claudia mengelus pipi Egnor.
"Kakak, aku harap kau mau menerima keluargaku. Aku akan mengatakannya!" Gumam Claudia dan ikut tertidur bersandar pada puncak kepala Egnor.
Sesampainya di Legacy, mereka langsung menuju ke apartemen Viena. Viena masih di sana karna satu hari sebelum menikah Viena dan Dion tidak boleh bertemu.
"Kak Claudia! Aku sangat merindukanmu!!" Viena menyambut Claudia ketika dirinya juga memeluk ayah, kakak dan aunty nya.
"Viena, kau semakin cantik!" Claudia memegang lengan Viena.
"Kau juga kak, cantik dan seksi, pantas saja kak Egnor tergila gila padamu!" Viena melirik kakaknya.
"Viena!" Panggil Egnor memperingati karna di sana ada Johanes dan Anne. Egnor malu. Sementara Johanes dan Anne terkekeh melihat merahnya wajah Egnor.
"Em, Dad, Aunty, Kak Egnor, Kak Clau, kalian bisa menginap di Hotel Prime. Dion sudah menyediakan dua tiga kamar untuk kalian. Kalau di sini kalian akan tidur di mana. Nanti akan ku antar ke sana!" Kata Viena menjelaskan.
"Mana boleh kau ke sana Viena! Nanti kau bertemu dengan Dion!" Claudia mengingatkan.
"Sedikit kak! Aku merindukannya! Haha!" Gumam Viena bergurau.
"Besok kalian menikah dan akan bertemu selamanya. Tidak sabaran sekali!" Decak Egnor menyandarkan dirinya ke sofa.
"Baiklah Tuan Sabar!" Umpat Viena terkekeh.
"Baiklah Viena, sepertinya aku ingin membeli sebuah gaun, Kak Egnor, bisakah kau menemaniku?" Pinta Claudia tersenyum.
"Hemm.." jawab Egnor dan dia berdiri.
"Oke! Biar aku juga mengantar kalian, aku juga ingin membelikan untuk Aunty Anne dan jas baru untuh dad ku!" Kata Viena menimpali.
"Tidak usah Viena, aku pakai yang sudah kubawa saja!" Jawab Johanes menanggapi keinginan anak perempuannya.
"Eng eng, jangan menolak dad, ini pemberian anak perempuanmu setelah sekian lama tidak pernah memberikan hadiah." Kata Viena lagi melambaikan jari telunjuknya.
"Ulang tahun kemarin kau memberikanku jam tangan, sekian lama apa?" Gumam Johanes.
"Sudahlah dad, terima saja!" Saut Egnor.
__ADS_1
"Baiklah terserah kalian! Anne, kita ke hotel saja, aku langsung ingin istirahat." Johane juga berdiri hendak pindah ke hotel prime.
"Oke kak! Viena, antarkan kami dulu ke hotel" kata Anne meminta tolong pada Viena.
"Oke aunty!"
Dan mereka semua meninggalkan apartemen Viena. Viena, Egnor dan Claudia mengantarkan Johanes dan Anne terlebih dulu ke hotel. Setelah itu mereka ke butik langganan Viena yang terdapat di sebuah pusat perbelanjaan di Legacy.
Sesampainya di sana, Egnor hanya duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Viena dan Claudia asik mencoba coba beberapa gaun. Sampai Claudia tertarik pada sebuah gaun bermodel tube pada bagian dadanya dan bagian bawahnya menjuntai ke bawah dengan sangat indah. Warnanya yang biru muda membuat dirinya sepertinya akan bersinar. Claudia sudah lama sekali sejak orang tuanya meninggal tidak memiliki gaun sendiri. Sebenarnya mantan suaminya, Richard menghadiahkan semua gaun indah untuknya. Namun, tidak ada yang sesuai seleranya dan tidak ada 1 pun dia bawa pergi dari rumah megah Richard.
Claudia lalu mencobanya. Viena sangat takjub. Dengan kulit Claudia yang putih membuat dirinya semakin bersinar.
"Aku setuju kak! Bungkuslah, aku yang bayar! Sekarang, tunjukan pada kak Egnor!" Kata Viena antusias. Claudia mengangguk semangat.
Dia lalu berdiri di depan Egnor yang saat ini sedang membaca baca majalah.
"Ehem!" Claudia berdehem.
"Heemmm??" Respon Egnor belum menatap Claudia.
"Kak Egnor! Lihat aku, Now!!" Dengus Claudia menaikan nada suaranya.
Dan Egnor pun mendongakan kepalanya langsung menatap tajam wajah Claudia namun seketika menjadi sayu, kagum dan terkesima dengan gaun yang Claudia kenakan. Pundak Claudia yang sangat putih. Wajahnya yang sumringah sungguh serasi dengan warna gaunnya. Selain itu, gaun itu tentu memperlihatkan tangan panjang dan kecilnya Claudia membuat Claudia semakin anggun dan cukup seksi pikiran Egnor.
Tapi, tetap saja wajah Egnor terlihat datar bagi Claudia.
"Kak Egnor, bagimana? Bagus tidak?" Tanya Claudia ingin tahu respon Egnor.
"Ya, bagus! Cepat bungkus dan pergi dari sini, aku lapar!" Begitulah kata Egnor dan Claudia kembali menekuk wajahnya. Dia lalu duduk di samping Egnor dan melipat tangannya. Viena yang melihat tertawa kecil karna sifat kakaknya yang terlalu menjaga image, sehingga Claudia dibuat kesal. Viena masih tersenyum dan menarik napas lalu menghampiri Claudia dan Egnor.
"Kak Clau, ayo bayar!" Ajak Viena.
"Tidak! Aku tidak jadi membeli gaun ini! Aku pakai dress putih biasa ku saja Viena! Kau tidak keberatan kan?!" Claudia berdecih. Egnor menoleh pada Claudia dengan terheran.
"Kau kenapa Clau?" Egnor mendelik
"Jadi kau mau beli atau tidak?" Egnor malah bertanya kembali
"Tidak!"
"Yasudah cari lagi sana!" Pekik Egnor lagi seenaknya.
Viena menggelengkan kepalanya. Kakaknya sepertinya sudah terbiasa dengan sifat menjaga baik baik gengsinya. Sebenarnya Viena sudah tahu kalau kakaknya terpesona dengan Claudia dan gaun itu tapi dia memang tidak bisa menunjukannya dengan berlebihan.
"Yasudah aku benar tidak akan membeli satupun!" Decak Claudia dan meninggalkan Egnor dan Viena yang sudah menepuk dahinya.
"Kau kak!" Viena lalu mengejar Claudia yang menuju ruang ganti. Viena menunggu Claudia mengganti gaunnya.
"Jadi benar tidak jadi kak?!" Viena memastikan.
"Ya tidak usah Viena, percuma! Karna tadinya aku hendak menarik perhatian kakakmu namun nyatanya dia biasa saja. Sudahlah aku membawa gaun lama ku kok, ayo kita makan, si tuan pengacara itu sudah lapar." Kata Claudia masih menahan emosinya di depan Viena.
"Ayo kita cari makan!" Pekik Claudia melewati Egnor yang masih memandangnya bingung. Sementara Viena mengikuti Claudia karna tidak enak dengan sikap kakaknya.
"Kau urus kak!" Perintah Viena juga agak kesal dengan Egnor. Viena tahu pasti Egnor akan membelikannya juga karna memang Egnor menyukainya.
Egnor menghela napasnya.
"Kurasa dia sedang datang bulan! Shit, nanti malam pasti gagal lagi! Ah, beginilah wanita, banyak sekali urusannya! Kalau suka tinggal dibungkus, kenapa perlu pertimbangan ini itu, bahkan memikirkan selera orang! Claudia Claudi!! Untung saja aku hanya tetap menyukai dirimu selagi kau pergi, kalau tidak? Aku sudah tidak bisa bertemu denganmu karna mati memikirkan semua keperluan wanita yang tak ada ujungnya!" Dengus Egnor berceloteh. Dia lalu beranjak mengambil gaun pilihan Claudia tadi yang sudah dikembalikan.
"Tolong kirimkan sekarang ke hotel prime kamar nomor 1515 luxury suit room ya? Ini kartuku!" Egnor menyerahkan gaun pilihan Claudia ke kasir dan meminta untuk di bungkus lalu dikirimkan ke kamar hotelnya. Hal ini agar Claudia tidak tahu lebih dulu kalau ternyata ia membelikannya.
Egnor lalu menyusul Claudia dan Viena yang sudah duduk di bangku restoran makanan cepat saji. Claudia masih menekuk wajahnya dan menunduk. Sementara Egnor malah sibuk memesan makanannya.
"Kak, ajak bicara kak Clau!" Viena menyenggol Egnor.
__ADS_1
"Kau saja! Aku sudah bosam setiap hari bicara padanya!" Saut Egnor acuh. Viena menghela napas akhirnya terus mengajak Claudia bicara. Claudia tetap menanggapi namun hatinya sedih karna Egnor masih bersikap dingin padanya. Claudia mengira pasti karna pamannya.
Sesudah mereka makan, Viena ijin pamit karna Lexa sudah menghubunginya hendak mengadakan pesta lajang untuknya. Kini Claudia hanya bersama Egnor yang masih di pusat perbelanjaan itu. Claudia menoleh ke arah Egnor yang masih dengan wajah datarnya dan kembali lagi menunduk.
"Ayo kita ke hotel kak, sepertinya aku lelah! Kita harus beristirahat karna besok pasti akan sangat sibuk." Kata Claudia dan berjalan lebih dulu. Egnor juga berjalan dan meraih tangan Claudia. Mereka bergandengan. Hati Claudia sedikit meluluh.
Sesampainya di hotel, Claudia bertanya apakah ayah dan aunty Egnor tahu kalau dirinya dan Egnor satu kamar.
"Tidak! Mereka juga pasti sudah beristirahat tidak akan mengurusi kita yang sudah dewasa ini!" Kata Egnor dan membuka pintu kamar 1515 itu. Hem, Claudia kembali men-dengusi Egnor.
Claudia pun memasuki kamar hotel dan melihat di atas tempat tidur sebuah kotak persegi panjang yang cukup lebar. Jantung Claudia sesaat berdegup. Di atas kotak berbahan bludru biru dongker tersebut bertuliskan nama butik langganan Viena tadi.
"Jangan cemberut terus! Kau memang bagus dengan gaun itu, aku suka kau mengenakannya jadi kubelikan untukmu! Aku minta maaf!" Kata Egnor kemudian menghampiri Claudia dan memegang bahunya. Claudia terharu. Ternyata Egnor benar menyukai dirinya dengan gaun itu.
Claudia lalu menoleh melihat Egnor yang di belakangnya. Dia lalu melingkarkan tangannya ke leher Egnor.
"Terimakasih kak!" Ucap Claudia tersenyum.
"Sekarang jelaskan mengenai pamanmu!" Balas Egnor masih mengingat janji Claudia. Claudia tersenyum dan mengangguk.
Setelah Claudia membersihkan dirinya, Claudia menceritakan semua mengenai pamannya pada Egnor. Dia menceritakan pamannya yang selalu bermain judi, dan selalu mabuk mabukan. Egnor sudah menegangkan rahangnya namun Claudia belum selesai bercerita. Claudia juga bercerita kalau selama ini pamannya meminta uang padanya. Egnor bertanya untuk apa dan Claudia lagi lagi menjawabnya untuk bermain judi. Sementara Claudia tidak menceritakan tentang bibinya yang sakit. Dia tidak mau menambah kesal Egnor. Untuk sementara sampai sini saja Claudia menceritakannya. Egnor sebenarnya belum puas karna dia tahu apa yang terjadi sesungguhnya pada bibinya.
Egnor terdiam. Claudia melambai lambaikan tangannya di depan wajah Egnor.
"Kak, sudah puas kan? Aku sudah menceritakan semuanya padamu!" Claudia memastikan.
"Pamanmu benar benar keterlaluan! Jangan salahkan aku jika aku akan memberinya pelajaran jika bertemu dengannya!" Respon Egnor membuat Claudia agak cemas.
"Jangan kak! Biar bagaimanapun dia pamanku. Adiknya ayahku! Kalau kau seperti ini aku akan kembali ke Oriental saja!" Ancam Claudia melipat tangannya dan memalingkan wajahnya pada Egnor. Egnor kembali menolehkan wajah Claudia menatapnya.
"Sekali kau meninggalkan ku lagi, kau juga tidak akan melihatku lagi di dunia ini!" Egnor kembali mengancam.
"Makanya, kau jangan menyakiti pamanku!" Pinta Claudia memelas.
"Baiklah! Tidurlah, besok akan sangat sibuk!"
Egnor lalu merebahkan dirinya dan memiringkan tubuhnya ke arah sebaliknya dari Claudia. Sejak tadi mereka berbicara dia atas tempat tidur dengan kaki bersila. Claudia lalu mendelik melihat Egnor tertidur. Tidak ada rayu merayu atau meluk memeluk.
"Kak! Mengapa kau tertidur? Ini baru jam 9 malam!" Claudia mengingatkan.
"Kau sedang datang bulan!"
~Eh, kenapa dia tahu? Aku baru saja datang bulan pagi tadi. Apa dia mengintipku! Oh God!~ Claudia menutup dadanya dan akhirnya ikut tidur.
...
...
...
...
Laaahh Clau, bilang makanya haha!!
.
next part 28
kondangan dulu abis itu pulang yaa 😁😁
.
Jangan lupa like komen rate dan vote karna dukungan kalian semangat untuk aku 😍😍
.
__ADS_1
Thanks for read and i love you ❤