
Sekuat kuatnya seorang manusia, alamlah tetap paling kuat. Begitu banyak pengalaman dan bumbu kehidupan nyatanya seperti tidak ada guna jika bencana sudah menerjang. Egnor dikenal seorang paling pintar dan cukup kuat di Honolulu pasrah menerima keadaannya. Sekarang, yang ia pikirkan, bagaimana dirinya dapat kembali ke Honolulu dan bertemu dengan istrinya?
...
"Tuan, akhirnya aku menemukanmu! Kau baik baik saja?" Gabriel berhasil menemukan tuannya dan duduk di atas kepala Egnor. Egnor menganggukan kepalanya.
"Aku haus," ujar Egnor menatap Gabriel.
"Di sini pulau tidak berpenghuni, tuan! Aku terdampar sampai ke tengah hutan. Ombak semalam benar benar diluar dugaan. Begitu kencang dan membawa kita sampai kesini. Aku akan mengambilkanmu air laut." Gabriel menjalankan tugasnya dengan baik. Dia tidak boleh lupa siapa yang berjasa menyelamatkan hidup dan juga adiknya.
Gabriel meraih tempurung kelapa yang ada beberapa berserakan di pesisir pantai pulau itu dan menampung sedikit air. Dia kembali ke tuannya meskipun dengan sedikit gontai.
Egnor pun berusaha bangun. Dia tidak boleh lemah seperti ini. Dia harus memikirkan cara bagaimana bisa kembali ke Honolulu. Egnor meraih tempurung kelapa berisi air dari Gabriel dan terpaksa harus meminumnya. Dia sangat bersyukur Tuhan mengijinkannya tetap hidup.
"Joe tidak ada, Gabe?" Egnor memastikan dan masih berharap bodyguard setianya itu ikut terdampar di pulau ini.
"Sepertinya dia ikut tenggelam bersama kapal, tuan," jawab Gabriel menatap Egnor. Egnor menghela napas dan menundukan kepalanya.
"Aku harus memberikan kompensasi untuk keluarga dan tunangannya." Egnor menulis nulis sesuatu di pasir pantai itu. Nama Claudia, siapa lagi. Hatinya tidak tenang membayangkan rasa sedih tunangan Joe ketika mendengar kabar ini. Dia pun ikut merindukan Claudia. Ya, belum lama ini Joe telah bertunangan dengan anak seorang pengacara kenalan Egnor. Egnor sedikit tahu banyak tentang kisah mereka berdua. Egnor menjadi menyesal. Seharusnya dia pergi sendiri saja walau akhirnya istrinya juga yang akan bersedih.
"Ya tuan, usia seseorang siapa yang tahu. Tunangannya pasti sedang menunggu kabar darinya," saut Gabriel menatap laut lepas di sana.
"Sama seperti istriku dan adikmu, Gabe." Egnor menoleh ke arah Gabriel. Gabriel teringat Mytha. Dia tidak memikirkan itu. Dia hanya memikirkan dirinya dan tuannya selamat lalu bisa kembali. Pasti sekarang Mytha sangat khawatir.
"Secepatnya kita harus kembali, tuan. Kabar tragedi ini pasti sudah diketahui Honolulu kan?" Gabriel menerka dan dia ingin sekali kembali. Dia bertaruh pasti Mytha sedang menangis sepanjang malam.
"Mungkin saja." Egnor menghela napasnya. Hatinya sedikit mengganjal. Mengapa semua bisa selalai ini?
'Claudia, aku baik baik saja, honey. Semoga kau tidak memikirkan macam macam. Aku akan kembali secepatnya!' batin Egnor menundukan kepalanya.
Tak berapa lama, orang orang yang sama ikut terdampar bersamanya juga mulai menyadarkan diri mereka. Ada sekitar tiga orang yang tidak selamat. Terdampar dan meninggal di tempat. Sisanya tidak ada sampai 15 orang. Kira kira sekitar 12 orang bersama Egnor dan Gabriel.
"Hakim Benedict, bangunlah kumohon! Hakim Benedict!" Terdengar seorang wanita dengan suara panik. Dia sedang berusaha membangunkan Benedict karna masih terasa debyut nadi dan hela napasnya meskipun sangat pelan.
Gabriel dan Egnor yang mendengarnya menoleh mencari cari keberadaan suara tersebut.
"Di sana, tuan!" Gabriel menunjuk tak berapa jauh dari mereka di bawah pohon kelapa.
"Sepertinya itu si tua Benedict, Gabe! Aku ingin melihatnya." kata Egnor menatap Gabriel. Gabriel yang sudah lebih baikan membantu Egnor berdiri. Mereka berjalan mendekati Benedict yang masih tak sadarkan diri. Wanita itu masih berusaha membuat Benedict terbangun tetapi gagal.
"Ada apa?" Tanya Egnor. Wanita itu mendongakan kepalanya memastikan siapa orang yang juga peduli pada Benedict.
"Tuan Jovanca? Tuan Benedict belum sadarkan diri. Tubuhnya sangat panas. Sepertinya dia demam." jawab wanita yang bernama Della. Della merupakan salah satu advokat wanita yang mengikuti perjalanan ini. Terakhir dia juga bertugas menjadi asisten Benedict karena sedang belajar mendalam mengenai pengadilan oleh sebab itu dia dekat dengan Benedict. Dia juga khawatir dengan atasannya itu.
Egnor dan Gabriel mendekati Benedict. Benar, tubuh Benedict hangat dan ada sebuah goresan cukup lebar di dahinya.
"Ambilkan dia air, Gabe! Mungkin ketika dia meneguk air, tenggorokannya menjadi nyaman," perintah Egnor dan Gabriel segera mengambilkan air.
Terlebih dulu Egnor membuat mulut Benedict terbuka sehingga dapat menegak sedikit air. Lalu sisanya Egnor siram perlahan pada luka di dahinya itu. Karna air laut yang asin dan sangat perih di luka membuat Benedict menggerakkan tubuhnya. Dia pun tersandar sambil terus mengerutkan keningnya karna merasa tidak nyaman. Benedict mencoba membuka matanya.
"Dia sadar! Tuan Jovanca kau begitu hebat!" Kata Della dan kembali memperhatikan tuannya.
Benedict berusaha untuk bangkit. Della juga Gabe membantunya untuk duduk.
__ADS_1
"Egnor, kita selamat?" Tanya Benedict memegang dahinya yang teramat perih.
"Begitulah. Mengapa cuaca ini tidak terprediksi?" tanya Egnor secara langsung duduk di samping Benedict.
"Entahlah. Setauku badan klimatologi telah melaporkan perkiraan cuaca empat hari kedepan. Sangat aneh jika terjadi kesalahan," tutur Benedict mencoba merenggangkan tubuhnya.
"Aku yakin pasti ada sesuatu dibalik ini semua," saut Egnor memicingkan matanya menatap laut dengan terpaan sinar matahari.
"Gonzaga tewas, Egnor! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia ikut tersapu ombak. Anaknya tidak bisa menyelamatkannya." seketika Benedict histeris sedikit trauma dengan tragedi semalam. Semua terjadi begitu cepat dan sangat genting. Benedict pun menangis mengingat temannya.
"Sesampai di Honolulu aku akan menyelidiki dan mendapatkan orang di balik ini semua! Kau tidak usah menangis! Tuan Gonzaga sudah tenang dan pergi juga bersama penyakitnya." Egnor menenangkan Benedict dengan merangkulnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan Egnor! Banyak korban dan di mana bodyguardmu?" tanya Benedict mengusap matanya.
"Dia memaksa ku menggunakan pelampung sehingga dia dengan mudah terseret arus dan juga ikut bersama kapal tenggelam." jawab Egnor tenang namun tersimpan rasa penyesalan. Seharusnya dia lebih kencang memegang Joe.
"Sungguh pengabdian luar biasa. Dia memang bodyguard terbaik." Benedict memuji Joe dan juga merasa bersedih karna kehilangan satu orang kenalannya.
Egnor mengakui. Dia menoleh sesaat ke arah Benedict lalu kembali memperhatikan ombak yang kini sangat tenang. Egnor bertaruh mereka terlempar sangat jauh dari titik tragedi.
Sementara Della memperhatikan kepiawaian Egnor lebih mendalam. Dia tidak menyadari kalau ternyata Egnor begitu tampan, cekatan juga berjiwa sosial yang sangat tinggi. Selain itu Egnor terlihat begitu intelek ketika memperkirakan sebuah masalah yang sedang terjadi. Meskipun begitu peluh wajahnya namun tetap tampak manly di sisi sisi rahangnya dan ia akui, Egnor begitu tampan. Della pun tersenyum. Sementara Gabriel memperhatikan gelagat kekaguman seorang wanita pada tuannya.
'Sepertinya ada sisi sisi tidak enak di sini. Joe, saatnya aku yang melindungi Tuan Egnor. Sepertinya ini akan lebih berbahaya dari badai semalam. Cih!' gumam Gabriel dalam hati menangkap aura ketertarikan Della yang semoga tak berujung pada keinginan untuk memiliki.
Satu hari dua hari sampai beberapa hari tidak ada tanda tanda bantuan dari manapun. Terkadang ada rasa putus sa menyelimuti hati Egnor. Di merasa tidak becus dan tidak bisa menyelamatkan rekan yang terdampar bersamanya. Pikirannya buntu karena Egnor terlalu berkutat pada penyebab tragedi ini. Dia tidak sabar ingin segera kembali dan mengungkap semuanya. Sampai dia pernah berpikir ingin berenang saja. Pemikiran yang tidak masuk akal sementara kala malam juga sering turun hujan.
"Kak Egnor? Kapan kau kembali? Kau memiliki segunung janji padaku. Kau harus bertahan. Lakukan saja apa yang kau bisa untuk saat ini agar semua dapat bertahan hidup termasuk dirimu. Aku tersiksa di sini kak! Cepat kembali! Ingatlah setiap pengalaman yang pernah kita lakukan dan semoga membantumu dalam penyelamatan dirimu dan orang banyak. Aku menantimu kak! Sekarang bangun dan carilah makan yang bisa dimakan, ayo kak bangun! demi diriku demi anak anak kita!" suara itu terasa nyata di benak Egnor.
"Claudia, my honey, my only one, my twins, waiting me!" Egnor terbangun pagi itu. Ya tidak seharusnya dia memikirkan keadaan di Honolulu, dia harus memikirkan kondisi sekarang.
Dia pun terkadang mencari kesempatan untuk bisa selalu dekat dengan Egnor berduaan. Selalu mencari celah untuk menjauhkan Gabriel. Seperti sekarang ketika Egnor mendapatkan beberapa telur burung puyuh. Mungkin dapat dimatangkan dengan batu yang panas karna paparan sinar matahari.
"Hai, Tuan Jovanca? Apa yang sedang kau lakukan? Ada yang bisa kubantu?" tanya Della berjongkok di samping Egnor.
Egnor menoleh ke arah Della dan berkata, "Kau bisa membuat api dengan kedua batu ini? Gabe sedang mencari makanan lain. Hanya dia yang bisa dan juga ..." Egnor menghentikan kata katanya.
"Siapa, tuan?"
"Istriku." Egnor sedikit terkekeh dan menunduk. Della sedikit tersentak dan dia memang mengetahui kalau Egnor memiliki seorang istri.
"Oh ya? Dia bisa melakukannya?" Tukas Della tersenyum tipis.
"Beberapa tahun yang lalu ketika kami sempat melakukan sebuah camping dari kampus. Dia melakukannya. Terlihat sebuah usaha yang berujung sangat manis. Sepertinya aku juga harus mengajaknya berpiknik. Bukankah itu ide yang bagus, Della? Bagaimana? Kau kan seorang wanita," tutur Egnor meminta pendapat.
"Ya, mungkin itu ide yang bagus," saut Della. Dia lalu meraih dua batu bulat yang ada di dekat Egnor dan berusaha melakukan seperti kebiasaan Claudia. Dia ingin juga menjadi berkesan di depan Egnor. Namun, setelah sekian lama dia mencoba, dia tidak bisa melakukannya. Egnor tersenyum tipis melihatnya.
"Sudahlah, tidak usah memaksakan. Kita tunggu Gabe saja atau sepertinya sebentar lagi akan matang karna panasnya begitu terik tetapi ketika malam mengapa hujan sering turun?" Egnor meraih kedua batu dari Della dengan sedikit bersentuhan. Seketika jantung Della berdebar seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ini sudah matang, kau mau satu? Sedikit terkena pasir pantai tapi ya kita harus bersabar." Egnor menawarkan dan Della masih terdiam dengan wajah merahnya.
"Mungkin Nona Della sudah makan, tuan. Aku sudah mendapatkan beberapa buah dan sudah kuberikan pada Hakim Benedict juga yang lainnya, tuan." Tiba tiba Gabriel sudah datang juga membawa satu buah mangga berwarna orange yang hampir masak.
Della tersadar dan merasa Gabriel begitu mengganggu kedekatan dirinya dengan Egnor.
__ADS_1
"Emm ... Tuan?" panggil Gabriel juga hendak mengalihkan wajah merona Della agar tuannya tidak bertanya.
Egnor menoleh ke arah Gabriel.
"Sudah satu Minggu kita di sini dan belum ada pertolongan. Sebaiknya kita memberikan signal agar orang tahu kalau kita ada di pulau terpencil ini," kata Gabriel memberi saran yang baru saja terbesit dalam pikiran Egnor ketika hendak membuat api.
"Baru saja aku memikirkannya, Gabe. Makanlah telur ini dulu setelah itu kita cari ranting ranting pohon kelapa dan kau buatkan api diantaranya. Kita buat api unggun yang besar sehingga asapnya mengepul ke udara. Mungkin saja para tim SAR mencari dari atas. Seketika aku merasa Claudia mengatakannya padaku, Gabe." Egnor tersenyum tipis kepada Gabriel. Dia sudah tahu dengan maksud suara suara istrinya yang terkadang berkeliran di pikiran dan pendengarannya. Seakan akan Claudia memang sedang mengirim pesan batin padanya.
"Ya, mungkin dia memang sedang mengkhawatirkanmu, tuan," tukas Gabriel setuju dengan kata kata tuannya.
'Hem, kupikir Tuan Egnor selalu dingin dan mengasingkan diri, ternyata di balik semua ini, terlihat dari jiwa pemimpinnya, ada sisi kelembutan yang membuat hatiku terasa hangat. Rasanya aku ingin selalu berada di dekatnya. Sudah seperti ini saja, dia masih menghadirkan istrinya, sungguh wanita yang beruntung. Semoga, jangan ada tim SAR dulu yang mengetahui kami. Aku harus merebut hati Tuan Egnor menjadi milikku.' Della tersenyum kecil membayangkan bagaimana Egnor akan memperlakukannya dengan mesra di pulau tak berpenghuni ini.
Ternyata usaha Egnor membuahkan hasil. Satu hari setelahnya sebuah kapal kecil datang bersama 2 kru di dalamnya. Mereka yang terdampat teramat senang. Kru kapal segera menyuruh semuanya naik ke kapal. Mereka takut akan kembali terjadi hujan deras dan tidak bisa melewati daerah teritorial beberapa pulau kecil ini. Namun, ketika baru saja satu jam perjalanan, kapal yang mereka tumpangi berhenti seketika. Kru kapal memeriksa dan melaporkan kalau bahan bakar kapal mereka habis. Padahal mereka sudah memastikannya sebelum berangkat. Dan parahnya lagi, mereka tidak menemukan stok bahan bakarnya. Sesaat Gabriel mengerutkan alisnya menatap tajam Della.
...
...
...
...
...
Haiz, what's wrong again!!! 😭😭
Map kalo salah nulis Inggrisnya biar kata lucu walau garings 😁😁
.
Next part 101
So, Egnor tetap selamat tapi apakah akan secepat ini?
siapa yang mencoba menyabotase kapal itu?
apakah Della?
omeji bang banyak penghianat dimana mana, susah Banat jd orang luar biasa, aku jadi b aja lah ,😁😁
.
rekomen novel baper dari seorang wanita yang sempurna dengan alur menarik dan beda dari lainnya, mampir yaa ::
- KEHIDUPAN SEORANG PUTRI TUNGGAL -
dijamin ketagihan deh, banyak pesan moral kehidupan dan nilai nilai berharga, bukan hanya percintaan 😍😍
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤