Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 113: Wilson & William


__ADS_3

Apa jadinya jika cinta diuji oleh maut? Jika masih bernapas maka sebuah keabadian cinta akan bermula. Ketika dua perasaan menjadi satu dan hanya sang empunya kehidupan yang bisa memisahkan, maka jika separuh hilang yang separuhnya juga akan mengikuti kemana jiwa melayang. Namun, kesempatan lagi lagi datang di saat kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Egnor masih percaya bahwa kata katanya akan menembus semua pendengaran dan hati Claudia, untuk itu Claudia bertahan untuk suami dan anak anaknya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apa arti dari sebuah nama Wilson dan William? Apa ada hubungannya dengan mereka berdua? Why not? :)


...


Claudia masih membutuhkan darah yang cukup untuk bisa menyadarkan dirinya. Dia menjalani perawatan di ruang ICU tentu saja dengan Egnor yang terus menemaninya tiada henti. Kedua anaknya sudah di bawa ke ruang perawatan bayi. Semua anak Egnor dan Claudia sehat, sempurna, tanpa kekurangan apapun. Berat badannya juta tidak mengharuskan mereka lama lama di ruang inkubator. Keduanya memiliki berat 2.6kg dengan panjang 48cm tetapi mereka berdua diharuskan mendapat asupan air susu ibu agar semakin meningkat berat badannya.


"Bagaimana bisa Claudia menyusui, dia masih belum sadar, bahkan aliran darah belum sempurna di tubuhnya," kata Grace merasa sangat kasihan dengan dua anak laki laki itu yang sejak dilahirkan menangis terus menerus.


"Sebaiknya Nyonya berbicara pada Tuan Egnor untuk segera memberikan susu formula untuk mereka," saran perawat yang sejak tadi masih menggoyangkan keranjang bayi untuk salah satu anak Egnor.


"Aku tidak yakin, biar aku bicarakan dulu," balas Grace keluar dari ruang perawatan bayi dan menuju ke ruang ICU bersama Frank.


"Bagaimana keadaan Claudia, Frank?" Tanya Grace seperjalanan menuju ke ruang ICU.


"Masih tak sadarkan diri, Grace. Tuan Egnor terus menungguinya. Dia belum makan sama sekali," jawab Frank merangkul istrinya.


"Bagaimana dia bisa makan jika Claudia masih tak sadarkan diri? Seperti tidak tahu tuan kita saja, aku jadi ikut sedih," keluh Grace menundukan kepalanya.


"Dia sangat lelah. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya. Ini sudah pukul 12 malam. Di mana kita akan mencari susu formula?" Sambung Frank memikirkan anak kembar itu.


"Tentu saja di rumah sakit ini, kau ini terlalu banyak berpikir jadi begitu saja kau tak tahu!" Grace menatap singkat suaminya.


"Hem semua permasalahan ini seperti sudah di atur. Siapa yang bisa membuat pria itu masuk ke dalam ruangan Tuan Gonzaga. Pasti ada orang dalam yang melakukannya. Ku dengar dengar pria itu juga menduduki salah satu kantor kepala daerah. Pasti dia sudah mengincar dan merencanakan semua ini, Grace!" Kata Frank kemudian.


"Ah, kau benar Frank. Sekarang begini, siapa saja yang bisa masuk ke dalam ruangan? Apa para office boy dan office girl juga bisa masuk ke sana ketika dia membersihkan ruangan?" Grace berusaha membantu penyelidikan ini.


"Tidak! Selama pemberitahuan Tuan Gonzaga meninggal, ruangan itu dikunci rapat rapat dan tidak boleh ada yang masuk karena Tuan Gonzaga menyimpan sejumlah aset rahasia pemerintah. Kata istrinya, Tuan Gonzaga hanya mempercayai Tuan Egnor dan Kate," kata Frank mengingat pembicaraan istri Gonzaga ketika penyambutan jenasah Gonzaga dan anaknya.


"Aahhhhhh, si ular Derik itu! Aku yakin dia ada di balik ini semua Frank!" Grace menghentikan langkahnya dan sangat mencurigai Kate.


"Kate ya? Bagaimana kita membuktikannya?" Tanya Frank juga setuju dengan pernyataan istrinya.


"Hanya dari rekaman CCTV, itupun kalau sistem cctv nya tidak dimatikan oleh pria itu. Dan, cara satu satunya adalah membuat pria itu membuka mulutnya," tutur Grace dan mereka kembali berjalan.


"Dalang di balik semua ini benar benar keterlaluan! Mereka sudah mencuci otak orang orang yang membantu mereka dengan ketika mereka tertangkap, mereka harus mengakhiri dirinya. Aku yakin, Ron juga ikut andil bagian. Kau ingat kan kasus ayahku?" Gumam Frank mencari kemungkinan kemungkinan.


"Benar Frank! Kita harus berjaga jaga. Lebih baik sekarang kau mengutus anak buah Berto dan keamanan pemerintah untuk menjaga rumah sakit ini. Jangan sampai ada apa apa dan jangan biarkan siapa saja mengunjungi Claudia dan anaknya!" Kata Grace memperingati. Dia juga sudah menerka apa yang akan dilakukan tuannya.


"Ah, kau benar sayang! Kau juga masih mengandung, kau harus menjaga diri, lebih baik kau diam di rumah sakit dan jangan ke kantor dulu. Biarkan aku, Gabriel dan Moses yang menyelesaikan ini semua!"


"Ya aku mengerti!"


Mereka pun sampai di depan ruang ICU. Grace sudah mengenakan baju steril dan diperbolehkan menemui Egnor. Egnor tampak terus memandangi Claudia sambil memegang dahinya. Semua perawat termasuk Lisa dan petugas keamanan paling besar tubuhnya sekalipun tidak bisa melarangnya untuk tetap berada di samping Claudia. Dia sedikit menyesal karena telah melibatkan istri dan anaknya dalam permasalahannya. Egnor sudah tahu apa yang penjahat itu incar. Dirinya dan Honolulu ini.


Rahang wajahnya tampak mengeras dan tatapannya bagai buruan singa yang sudah menemukan mangsanya. Urat urat tangannya terlihat menegang ketika merengkuh lagi tangan istrinya. Mendekap erat dan menciuminya sesekali. Air matanya telah mengering dan seperti tak sanggup bernapas melihat separuh hatinya terbujur lemah berusaha melawan maut.


"Tuan Egnor?" Panggil Grace pelan duduk di samping Egnor. Egnor diam saja dan terus memandangi Claudia.


"Apa kau tidak mau melihat anakmu? Mereka terus menangis karena belum meminum apapun sejak dilahirkan tadi," bisik Grace.


Seketika Egnor menoleh ke arah Grace dengan tatapan mencekam. Grace meneguk ludahnya sebelum melanjutkan lagi.


"Karena Claudia belum sadarkan diri, anakmu harus segera diberikan susu formula," kata Grace lagi mengingatkan.


Egnor kembali menatap Claudia dan mengecup keningnya.


"Kau jaga dulu dia baik baik, Grace, aku harus mengurus sesuatu!" Kata Egnor beranjak dari kursi tinggunya.


"Anakmu tuan?" Grace kembali memastikan.


"Ya, aku sangat paham! Selanjutnya aku harus mengurus dia yang membuat semuanya seperti ini!" Decak Egnor dengan wajah yang begitu mengeras siap menguliti lawan lawannya. dia tidak boleh terus terdiam.


"Tuan, tahan amarahmu, jangan sampai penjahatmu menjadi kesal dan menyerang kita. Lebih baik kita perketat dulu penjagaan," saut Grace memperingati Egnor.


Egnor menoleh ke arah sekretarisnya itu. Benar apa yang dikatakan Grace. Dirinya tidak boleh gegabah. Dia harus tenang agar tidak terjadi lagi kesalahan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemui Wilson dan William dulu," kata Egnor lagi hendak kuat dari ruang ICU.


"Nama yang bagus Tuan," ucap Grace menyunggingkan senyumnya.


"Claudia yang membuatnya. Dia bahkan menginginkan dirinya orang pertama yang menyebut nama mereka, tapi ..." Egnor tidak melanjutkan dan kembali melihat istrinya.


"Tuan, tenang, kita memiliki banyak cara untuk membalas semua ini," saut Grace lagi menenangkan.


Egnor mengangguk dan menarik napas panjang. Dia pun keluar dari ruang ICU dan menemukan Frank di sana. Dia menatap Frank sesaat dan berjalan lebih dulu sambil mengumandakan perintah pada Frank yang tentu mengikutinya.


"Kerahkan semua penjagaan pada rumah sakit ini! Suruh Bertho yang menanganinya dan berikan penjagaan pada pria laknat yang menyerang istriku. Hubungi kepala polisi Dave dan anak buahnya untuk memeriksa siapa saja yang hendak mengunjungi Claudia. Hubungi Viena, Dion, Lexa dan Leon. Dan, jangan biarkan Kate masuk ke dalam rumah sakit ini!"


"Kau mengetahuinya Tuan?" selidik Frank yang mengakui karisma tuannya jika sudah penuh emosi begini.


Seketika Egnor menghentikan langkahnya menatap Frank dengan tajam.


"Dia bersembunyi di bawah meja!" Kata Egnor kembali berjalan menuju ke ruang perawatan.


"Lalu, apa rencanamu Tuan?" tanya Frank.


"Aku ingin menemui pria itu, aku harus memastikan siapa dalangnya. Hem, sebaiknya kirimkan saja ultimatum seperti surat kaleng pada Kate dan perhatikan reaksinya. Suruh Gabriel yang melakukannya. Aku curiga Kate bekerja sama dengan Gabriane! Samantha hendak menjodohkan Kate dengan Richard," jawab Egnor ketika mereka sudah tiba di depan ruang perawatan bayi.


"Ada apa lagi mengenai daddyku, Egnor?" Tanya seorang pria di depan Egnor dan Frank. Richard bersama Lisa juga hendak melihat keadaan anak kembar Egnor.


Frank dan Egnor tentu berhenti menatap nanar Richard. Egnor sangat yakin kalau Richard tidak ada hubungannya dengan semua ini tapi dia berpikir kalau sepertinya Richard bisa menjadi umpan kekesalan ayahnya jika Richard ada di pihaknya. Sebuah pemanfaatan harus dimainkan dan tidak ada kata solid untuk saat ini. Claudia sudah menanggungnya dan tidak ada lagi kata belas kasihan baginya. Egnor bahkan menganggap semua adalah musuhnya. Di dunia ini sungguh sulit mempercayai orang yang baik sekalipun. Semua harus melalui pembuktian. Egnor pun tersenyum kecut.


"Nope! Sebaiknya kau mengurusi wanita wanita mu, sir! Dan Lisa, berikan anak anakku susu formula terbaik di rumah sakit. Biarkan ibunya mengisi tenaga untuk hari panjang merawat anak anakku," saut Egnor sedikit menyepelekan Richard dan berbicara serius lada Lisa.


"Ya, kau tenang saja. Sebaiknya kau melihat anak anakmu. Perawat melapor padaku kalau mereka terus menangis. Mungkin sebuah pelukan dan sentuhan darimu dapat meringankan rasa rindu pada ibu mereka," balas Lisa memberitahukan kondisi dua bayi kembar itu.


Egnor mengangguk lalu memasuki ruang perawatan tentu diikuti Frank. Sementara Richard terduduk lemah di depan ruang perawatan bayi itu. Lisa sadar apa yang dirasakan Richard saat ini. Dia benar benar dilema antara dirinya atau hubungan ayah dan anak itu. Begitu juga hubungan Richard dengannya juga dengan Mytha. Lisa sangat merasakan kekalutan Richard saat ini. Hanya dirinya yang mampu menemani dan mengerti. Karena besar cintanya pada Richard dan yakin suatu saat nanti akan memilikinya seutuhnya Lisa pun bersabar dengan apa yang selalu ia lihat ketika Richard harus bersama Mytha.


"Richard, tenanglah. Look at me!" Kata Lisa juga duduk di samping Richard memegang punggungnya.


Richard malah menggeleng dan menutup wajahnya.


Lisa hanya bisa memandangnya dan menjadi pendengar yang baik. Dia ingin Richard merasa kalau masih ada dirinya.


"Bukan hanya daddyku. Tapi juga sepertinya semua kesalahan ada padaku. Seharusnya aku tidak kesini dan bertemu dengan Claudia. Wanita yang kusangka akan mendampingi hidupku. Nyatanya dia lebih memilih Egnor yang benar ternyata lebih baik dan hebat dariku. Jangankan kaum wanita, sejak dulu aku mengagumi Egnor. Dia begitu berwibawa dan berpendirian keras. Ingin sekali aku seperti dirinya. Namun, semua di dunia ini pastilah berbeda beda. Sampai diriku bertemu denganmu. Ternyata aku anak dari seorang yang menghabisi nyawa pria fenomenal dalam dirimu. Apalah diriku sebagai anak pembunuh bersanding denganmu. Tapi Lisa percayalah dan maafkan aku jika aku mencintaimu. Rasanya melebihi diriku mencintai Claudia. Dan takdirpun juga mempertemukan ku dengan Mytha. Sampai sekarang aku merasa dia seperti adikku. Tidak ada maksud menyakitinya walau keputusan ku salah menerimanya sebagai kekasihku. Ah, entahlah aku merasa semua kekalutanku adalah hukuman Tuhan untukku Lisa. Bagaimana aku menghadapi dan mengingatkan daddyku? Dia ayahku dan dia seperti ini. Aku harus membencinya atau tidak aku tidak tahu," tutur Richard seraya mencurahkan isi hatinya pada Lisa.


Kedua mata Lisa tampak berkaca kaca. Pria yang begitu ia cintai terlihat mengenaskan. Lisa pun merangkul punggung Richard. Satu tangannya meraih tangan pria itu.


"Tenanglah, kau masih memilikiku. Aku akan selalu ada untukmu, Richard. Aku bisa menjadi matamu untuk melihat, aku juga bisa memberikan bahuku untuk kau bersandar ketika bersedih dan lihat diriku. Kau bisa memelukku jika kau merasa akan memberikanmu ketenangan. Apapun yang telah kau torehkan untukku Richard, aku sudah yakin kalau kau menginginkanku. Kau mencintaiku tulus. Aku akan ada untukmu. Dan menjadi terdepan ketika kau membutuhkan teman. Tersenyumlah, untuk cintamu padaku," pinta Lisa dengan semua kata kata indah yang benar membuat kenyamanan pada kesesakan hati Richard.


Richard memandang Lisa dan tak kuasa untuk tidak memeluknya karena hal ini yang juga ia butuhkan. Selalu ada Lisa terbayang dalam pikirannya ketika dia tahu bahwa wanita itu mengijinkan dirinya menjadi kekasih wanita lain dan bukan menjadi kekasihnya. Richard pun memeluk Lisa dan Lisa juga mengelus lembut punggung itu.


Tanpa disadari dua pasang mata melihat kemesraan itu. Mytha terbangun dan di tengah malam dan bertanya pada kakaknya, apakah Richard sudah pulang. Gabriel mengatakan tidak, Richard hendak melihat anak anak Egnor dan Claudia. Kerena terbangun, Mytha jadi enggan untuk kembali tidur. Kepalanya jadi pening jika dia memaksanya. Mytha meminta Gabriel mengantarnya ke ruang bayi. Gabriel juga belum melihat tuannya.


"Bagaimana? Kau ingin tetap ke ruangan itu dan melewati mereka?" Tanya Gabriel sedikit merendahkan tubuhnya karena Mytha menggunakan kursi roda.


Mytha menggeleng. Satu tetes air matanya telah terjatuh tapi dia langsung menyekanya.


"Kembali ke kamar saja, aku tidak mau menganggu kebersamaan mereka yang sempat tertunda karena ku. Dan kak, aku sudah senang melihat Tuan Richard setiap hari. Aku tidak mau melihatnya, aku tidak mau diriku jadi tidak rela meninggalkannya ketika waktunya tiba," kata Mytha sudah merelakan cintanya. Seharusnya dia memperbanyak kebaikan di sisa hidupnya dan bukan mengedepankan egonya.


Gabriel tak bergeming. Dia menuruti adiknya dan kembali ke kamar mereka.


...


Egnor memasuki kamar perawatan bayi yang diikuti Frank. Mereka melirik lirik mencari keberadaan tangis suara kedua bayinya itu. Seorang suster mengarahkan Egnor dan Frank masuk ke sebuah ruangan khusus bayi. Kebetulan hanya kedua anak Egnor yang lahir pada hari ini.


Jantung Egnor bergetar mendengar tangisan kedua anaknya yang begitu menggelegar. Bukan hanya Egnor, Frank pun merasakan naluri seorang ayah dan terharu melihat tuannya telah menjadi seorang ayah. Sempat dia berpikir Egnor tidak akan menikah dan memiliki anak tapi sejak kehadiran Claudia semua berubah. Frank senang melihat kebahagiaan tergurat pada sisi sisi wajah tuannya.


Egnor menghampiri sebuah keranjang dengan anaknya di sana. Tubuh bayi itu begitu merah ditambah lagi karena isak tangis menghiasi wajahnya. Egnor telah mencuci tangannya dan mengelus pipi bulat itu dengan punggung jari telunjuknya. Sesaat tangis itu mereda menjadi sesenggukan kecil. Egnor tersenyum kecil.


"Kau Wilson, kau kakak yang baik," ucap Egnor. Seorang suster membantu Egnor untuk bisa menggendongnya.

__ADS_1


Ketika Egnor menggendong, bayi laki laki itu berhenti menangis. Bayi kecil itu menggesekkan pipinya pada dada Egnor. Suster yang menggendong satu lagi anak Egnor terperangah akhirnya satu bayinya terdiam.


Selagi Egnor terus memandang bayi yang ia sebut Wilson, Egnor menjadi mengingat anak satunya lagi.


"Di mana anakku satu lagi?" Tanya Egnor kepada suster yang membantunya menggendong Wilson.


"Di sini Tuan, dengarlah dia terus menangis. Apa tidak sebaiknya aku memberikannya susu formula?" sang suster menunjukan dirinya dan bayi kembar Egnor satunya yang sempat ke ruangan lain untuk menenangkan tangisannya.


"Berikan padaku!" Pinta Frank berharap bayi itu terdiam tapi nyatanya malah makin menangis.


"Bantu aku menggendongnya lagi," pinta Egnor kemudian.


"Sebaiknya kau duduk untuk bisa menggendong keduanya, Tuan," sang suster mengarahkan. Egnor pun duduk di sebuah sofa single. Suster membantu Egnor untuk menggendong keduanya dan berhasil.


Kedua bayi itu kini terdiam. Egnor tersenyum tipis sekaligus sedikit haru. Akhirnya dia bisa bertemu dengan kedua anak kembarnya.


"Hay, two Wil, long time no see," sapa Egnor.


Frank sedikit terkekeh juga terharu karena tuannya merasa sudah pernah bertemu sebelumnya.


Tak berapa lama bayi kembar itu malah tertidur. Egnor mendongakan kepalanya menatap kedua suster dan Frank. Kedua suster tersebut ikut merasakan haru karena bayi tersebut hanya membutuhkan orang tuannya. Frank juga terhanyut dalam suasana ini dan tidak sabar juga menggendong anaknya. Egnor tersenyum dan kembali menatap kedua anaknya.


"Siapa nama anak anakmu, Tuan Jovanca?" Tanya Lisa yang sudah masuk bersama Richard.


"Wilson Gerrardo Jovanca and William Gerry Jovanca. Kata Claudia Wilson dan Willy mengandung arti yang sama. Mereka suka berbicara dan memiliki kemampuan berbicara yang baik. Claudia ingin apa yang mereka bicarakan atau katakan membawa manfaat bagi banyak orang dan bisa menolong sesama. Claudia ingin semua anaknya sama sepertiku. Begitu juga dengan Gerrardo dan Gerry. Gerry merupakan nama kesayangan dari seorang raja bersejarah bernama raja Gerrard. Raja Gerrard merupakan pelindung rakyatnya, menjadi tombak yang menguasai dan berkeinginan kuat. Claudia ingin kedua anaknya bisa saling melindungi satu sama lain. Aku jadi merindukan mommy kalian. Dia yang merangkai nama indah ini pada notebook yang kuberikan," kata Egnor sedikit bersedih dan kembali mengingat Claudia yang belum tak sadarkan diri.


...


...


...


...


...


Besok aku buat sadar nor, tenang aja !! Dah Jan nangis, diriku Uda mual!! 😭😭😁😁


.


next part 114


apakah Kate akan tertangkap?


bagaimana keadaan selanjutnya? siapa lagi yang akan mengincar Egnor dan Honolulu?


semua akan terkuak


stay tune 😍


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2