
Apa jadinya jika sebuah permainan kehidupan sedang menantang kita? Menantang melakukan hal yang membuat kita di posisi serba salah. Bagai telur di ujung tanduk yang akan terjatuh dalam jurang terdalam jika salah melangkah. Bukan sedikit tetapi akan langsung terperosok dalam. Seperti mati segan hidup tak mau. Sebuah pilihan yang mengorbankan segala galanya. Apakah ini ujian terberat Egnor? Apa yang akan ia lakukan? Mengorbankan negara, keluarga, istri tersayang atau harga diri yang telah ia bangun menjulang tinggi sampai ke langit terpaksa runtuh karena angin angin keserakahan menerpa.
...
Egnor memutuskan untuk menjernihkan diri terlebih dahulu. Dia menyerahkan semua kasus kecil pada Gabriel dan Moses. Sejak kepala pemerintahan yang baru menjabat, kantor pengacara Egnor terkena imbasnya. Banyak kasus penting ditarik dan diserahkan pada firma lain. Egnor tidak ambil pusing dengan semua itu. Egnor tetap menjalankan prinsip untuk anak buahnya agar konsisten menjalani apa yang dipercayakan pada mereka. Namun, yang Egnor lihat banyak keluhan yang masuk setelah semua kasus menari diri dari perusahaannya. Persidangan lama diadakan dan ditindak lanjuti. Dengar dengar, pemerintah sedang fokus dengan perubahan sistem pemerintahan yang tadinya Republik Demokrasi menjadi Adikuasa dan Otoriter.
Seluruh jajaran pemerintahan sedang melakukan pembenahan diri. Egnor mendelikan alis ketika membaca undangan Keikut sertaan perubahan sistem pemerintah yang terlalu menekan biaya sangat banyak. Selain itu, pembangunan sudah mulai terjadi. Menaikan semua harga bahan pokok, menaikan pajak dari semua bagian, dan parahnya Mereka pun mengesampingkan urusan sosial. Menunda pemberian bantuan bagi rakyat yang kekurangan dan sederhana. Membatasi pemberian bantuan untuk korban bencana alam di luar negara. Alasannya fokus ingin menjadikan negara Honolulu yang sudah dalam taraf maju ke arah negara yang paling kuat melebihi Legacy, Oriental, Japanis dan Nederland. Negara negara yang lebih maju dari Honolulu.
"Aku tidak tahu jalan pikiran kepala pemerintah saat ini! Ini benar benar tidak adil! Aku tidak tahu harus melakukan apa?! Benedict ijin cuti, Gerrardo tidak kembali kembali. Apa apaan dengan semua ini, Clau, aku harus apa?!!!" Pekik Egnor mencengkram seluruh rambutnya di ruang tamu ketika malam ia pulang dengan wajah yang letih lesu.
"Tenang kak, kita masih punya cara. Kau masih bisa ikut terlibat lalu memberikan pendapat yang berguna untuk kepala pemerintah yang baru itu. Lakukan pendekatan seperti yang pernah kau lakukan pada Tuan Gonzaga dan bahas mengenai surat otentik itu sayang. Semua pasti ada jalan keluarnya," saut Claudia sudah duduk di samping Egnor dan merangkul punggung suaminya.
"Sepertinya percuma Clau, aku sangat mencurigai kepala pemerintah yang baru menjalani perintah atas kemauan seseorang. Apa mungkin Richie ada di balik ini semua?" Kata Egnor lagi sedikit frustasi.
"Bagaimana bisa si Gabriane tua itu sampai pada ranah politik, sayang. Kau jangan terlalu berburuk sangka! Lebih baik kita kerjakan bagian kita," ujar Claudia masih memberikan aura aura positif.
"Apa saja bisa ia lakukan. Buktinya, pengadilan menutup perkara kasus yang dibuat olehnya dengan berbagai alasan. Hal ini sangat tidak masuk akal, Clau!" decak Egnor mendengus kesal.
"Kak, kau jangan lupa, jabatanmu sebagai ketua advokat masih berlaku dua tahun ke depan kan? Semua masih mendukungmu. Kau juga jangan melupakan jaksa kenalan Frank, asisten Benedict. Aku yakin pihak hukum dan pengadilan, perkumpulan advokat, para pengusaha yang selalu menyewa jasamu pasti mendukungmu. Percaya padaku. Kau harus bertindak sayang," balas Claudia memberi dukungan penuh pada suaminya.
Egnor berpikir dengan perkataan istrinya. Egnor belum lemah, masih banyak yang akan membantunya. Dia hanya perlu bertahan dan menyusun strategi. Walau tidak ada surat tersebut, jika dia bisa menemukan bukti kejahatan yang terjadi pada pemerintahan juga meminta dukungan dari rakyat, maka pihak pemerintah juga tidak dapat berkelit. Mereka juga akan takut dengan masyarakat. Namun, dia harus cepat sebelum negara ini merubah sistem pemerintahan yang sudah terjadi.
Egnor menoleh ke arah istrinya yang masih bergelayutan pada lengannya. Dia memperhatikan istrinya dengan seksama. Tak lama Claudia tersenyum membuat Egnor tak kuasa untuk mencium bibir yang tersungging itu. Dia mempunyai wanita yang bisa membuka pikirannya. Selalu mendukungnya dan dia berharap Claudia tidak akan meninggalkannya.
Claudia pun membalas setiap kecupan Egnor sampai mereka kesulitan bernapas dan saling menarik diri.
"Karena kau telah memberikanku pencerahan, aku akan memberimu hadiah Clau," gumam Egnor mengelus pipi Claudia dengan punggung tangannya.
"Seharusnya aku yang kembali memberimu kenikmatan kan?" Goda Claudia. Egnor semakin gemas dan telah merebahkan tubuh istrinya di sofa. Dia kembali mencium dan meminta kewajibannya pada Claudia.
"Kak, sadarkah kita selalu melakukannya di sofa?" celetuk Claudia menghentikan sesaat kecupan Egnor.
"Aku tahu di mana! Aku akan mengunci double pintu dulu!" Seru Egnor beranjak dan menuju ke pintu. Menekan tombol Doble lock pada pintunya sesuai request kemarin pada Eleazar lalu kembali menghampiri Claudia. Dia menggendong Claudia ala bridal style masuk ke dalam kamar dan kembali mengunci pintu kamar lalu mereka menuju ke kamar mandi. Mereka melakukannya di dalam bath tub dengan deraian air hangat dan hasrat yang memuncak. Memanfaatkan waktu setelah Wilson dan Willy tertidur pulas.
...
Sementara itu di rumah sakit pusat kota Honolulu,
Malam hari ini jauh lebih dingin dari biasanya. Biarpun di dalam ruangan dengan jendela yang tertutup tetap merasakan hawa angin malam yang mencuri masuk melalui celah celah. August masih duduk di samping tempat tidur Kate yang belum sadarkan diri sejak August membawanya. Monica, sang ibu juga tetap menunggui kesadaran Kate yang masih terpasang selang oksigen, beberapa selang infus dan alat pendeteksi detak jantung. Seluruh kondisi Kate sudah tidak mengkhawatirkan hanya menunggu kesadaran. Kate memang membutuhkan tenaga dan istirahat yang cukup.
Augusto Kristaliem
cast August : Hong Jong Hyun
__ADS_1
---------------------------
Namun, malam itu akhirnya August bisa melihat wanita itu membuka mata dan sedikit berkata kata. Mereka pun bisa berkenalan dengan tidak berpura pura. Tangan Kate mulai bergerak. August yang duduk di samping dan masih terjaga malam itu melihatnya. Dia mendekati Kate untuk memastikan lagi.
"Kate?" Panggil August. Kate menoleh dan berusaha membuka matanya.
"Kate, kau sudah sadar?" Tanya August lagi.
"Aku, aku, aku di mana?" Kata Kate terbata dan memegang perutnya yang akan nyeri setelahnya.
"Argh, perutku sakit sekali!" keluh Kate meringis kesakitan.
"Sakit? Perutmu sakit? Sebentar, aku akan memanggil dokter," kata August menekan tombol panggil perawatan di atas kepala Kate.
"Perutku sakit, argh!" Kate kembali merintih.
"Sabar Kate, perawat atau dokter akan datang," saut August memegang puncak kepala Kate.
"Kau, kau siapa?" tanya Kate masih dalam rintihannya.
"Aku August, Kate," kata August mengenalkan diri.
"August? Argh perutku sakit!!" Desis Kate kembali memegang perut dengan kedua tangannya.
Tak lama dua orang perawat datang. Dia memeriksa Kate dan ketika seorang suster membuka selimut Kate, di sana sudah mengalir darah yang sangat banyak sementara Kate sudah kembali berbaring lemah.
Kate Joyline
cast Kate : Krystal Jung f(x)
-----------------------
Perawat membawa Kate ke ruang tindakan untuk melakukan pemeriksaan pada kandungannya. Perawat memanggil Lisa dan dokter spesialis kandungan. Ternyata Kate mengalami keguguran. Kandungannya tidak bisa dipertahankan. Mereka melakukan kuretas pada Kate dan Kate kembali melemah. Selesai semuanya dilakukan Kate masih dalam kondisi lemah. Dia kekurangan darah dan mendapat tranfusi darah dari bank darah.
August pun menceritakan semuanya pada Kate. Dia juga jujur kalau dirinya merupakan orang suruhan Egnor untuk menjebak Kate. Kate hanya terdiam mendengar penuturan August. Pandangannya kini kosong sambil memegang perutnya.
"Kate, kau jangan bersedih. Anakmu sudah tenang, suatu saat nanti kau pasti akan mengandung lagi," kata August menenangkan Kate yang meneteskan air matanya ketika mengetahui kalau dirinya mengandung.
Kate lalu menoleh ke arah August.
"Siapa? Siapa yang akan menerima wanita hina sepertiku? Sebaiknya kau pergi, jangan menghiburku. Biarkan aku hidup berdua bersama ibuku. Aku tidak butuh teman dan katakan terimakasih ku pada Kak Egnor," tutur Kate meneteskan lagi air matanya.
"Kalau kau ijinkan Kate, biarkan aku menjadi temanmu," saut August menatap pasti kedua mata Kate sambil menghapus air mata yang berlinang itu.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin sendiri, untuk apa lagi memiliki teman jika tidak mempunyai tujuan hidup. Pergilah ..." pinta Kate.
"Baiklah, aku tidak memaksa. Biarlah semua ini berjalan apa adanya. Apa kau butuh sesuatu?" tanya August mengalihkan kesedihan Kate yang ia anggap hanya terbawa emosi.
"Aku ingin kau pergi. Aku tidak mau ada yang terlibat lagi. Cukup sudah aku mempertaruhkan negara ini. Aku benar benar wanita berdosa, aku pembunuh dan aku pengkhianat tidak pantas mempunyai seorang teman. Pergilah! Aku mohon pergi!!!" Kata Kate lagi dan sepertinya August tidak bisa memaksa. Dia akan berjaga di luar.
"Kate, ini mommy!" Kata Monica yang sudah bisa berjalan. Semua karena bantuan August yang juga membantunya berlatih berjalan selagi menunggu kesadaran Kate.
"Mommy! Maafkan aku mom!" Pekik Kate membuka tangannya siap menyambut pelukan ibunya. Monica berjalan mendekat lagi dan memeluk anaknya.
"Aku tidak layak hidup, mom, aku sudah mencemarkan nama baik keluarga dan aku sudah membunuh anakku," tangis Kate terus menderai.
"Tidak ada kata terlambat sayang. Banyak yang masih menyayangimu termasuk aku dan August. Pria itu sangat baik Kate. Dia yang menjaga kita selama kau belum tak sadarkan diri. Kau harus berterimakasih padanya Kate," kata Monica memberitahu semua kejadian sebelum kesadarannya. Kate hanya menoleh ke arah August yang tersenyum tipis. August merasa mereka membutuhkan waktu berdua. August pun mengalah dan keluar ruang perawatan Kate. Dia ingin memberitahu Egnor dan Claudia kalau Kate sudah sadar.
"Apa kau menyukai Kate, August?" Tanya Lisa yang hendak melihat kondisi Kate selanjutnya.
"Ah dokter Lisa? Aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku hanya ingin membantunya keluar dari keterpurukan ini. Aku mengingat kakakku yang yang tidak bisa diselamatkan atas kasus yang sama seperti dialami Kate," kata August menjelaskan yang sesungguhnya.
"Ya, aku mengerti maksudmu. Kau jangan menyerah. Aku yakin Kate orang baik yang akan menjadi baik jika bersama orang baik sepertimu. Kau mengerti maksudku kan?" kata Lisa menaikan alisnya memberi semangat pada August.
"Terimakasih dokter. Semoga aku bisa membuatnya jauh lebih baik seperti yang kau katakan. Dia hanya korban dari sebuah rasa dendam dan benci," balas August merasa termotivasi.
"Semangat, Tuhan memberkati. Aku ke dalam dulu melihat keadaannya!" kata Lisa lagi memberi dukungan.
"Silahkan dokter," saut August mempersilahkan Lisa masuk ke dalam ruang perawatan.
August juga melihatnya dari luar. Dia memperhatikan Kate. Wajah Kate yang masih terlihat cantik walau agak pucat. August menangkap rasa bersalaha dan penyesalan di setiap mimik Kate. Seperti ada sebuah ketraumaan dan putus asa untuk menjalani hidup. August bertekad akan terus mendekati Kate dan menjadikan Kate wanita yang berharga. Tidak ada lagi kekelaman dan kesedihan di dalam hatinya. August pun menghubungi Egnor memberitahukan kondisi Kate.
...
...
...
...
...
jeda dulu ya lanjut di bawah 😁
.
jangan lupa tetap KOMEN dan LIKE part ini ya 😁😁
makasih uda baca n love you 💕💕
__ADS_1