Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 110: Trust Me! - 1


__ADS_3

Kehidupan sejati adalah kehidupan yang mengalami pasang surut, timbul tenggelam dan disanalah kita melihat pencapaian yang bisa kita banggakan atau tidak. Segala proses dalam kehidupan diolah menjadi satu membuat kita belajar mengerti arti bernapas yang sesungguhnya. Sampai kita menyerah atau tidak, tetap setia atau berdiam diri. Sementara kita tinggalkan Lisa dan keputusan yang Richard ambil. Mereka sedang sama sama belajar menghargai sebuah hati yang mencinta. Lalu bagaimana kehamilan Claudia? Kapan dia akan melahirkan? Apakah semua akan berjalan dengan lancar?


...


Claudia memasuki apartemennya bersama Egnor di belakangnya menutup pintu. Mereka baru saja menemani Lisa makan malam. Mereka sangat mengerti bagaimana kondisi perasaan Lisa yang melihat pujaan hatinya harus bersama wanita lain untuk sementara.


"Honey, kau jangan terlalu sedih memikirkan Richard dan Lisa. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka," kata Egnor mengingatkan.


"Aku hanya merasa jika diriku di pihak Lisa kak. Sama seperti Viena waktu menyuruh Dion melihat Pevi. Ah, mengapa cinta ini adil tidak adil. Bagaimana aku ada di posisi seperti itu? Pasti aku juga akan melakukan hal yang sama. Hem, aku sangat sedih memikirkannya kak. Apakah kita juga akan ada di posisi itu kak?" Claudia memastikan pada Egnor dan berbalik menghadapnya.


Egnor tersenyum lalu mendekati istrinya. Dia merengkuh pinggang Claudia untuk lebih dekat dengannya. Claudia memegang dada Egnor.


"Kau tenang saja. Sebelum hal itu terjadi, aku tidak akan membagi hatiku pada siapapun sampai hanya kau yang kuinginkan. Karena memang sudah tertulis dalam judul sayang, hanya kau, Satu-satunya yang kuinginkan, trust me!" tutur Egnor mengelus wajah istrinya dan tersenyum. Claudia juga tersenyum dan membenamkan diri di pelukan suaminya. Egnor pun mendekap Claudia.


"Sekarang kita harus memikirkan kedua anak kita. Kau jangan terlalu banyak kegiatan yang melelahkan. Jangan lagi membuat roti dan memikirkan urusan orang lain. Kau harus baik baik saja sampai lahiran dan menjadi ibu anak anak kita. Kau mengerti kan Clau?" Kata Egnor menarik dirinya dan memegang wajah Claudia dengan sangat lembut.


"Ya kak, aku mengerti. Tetapi kak? Bagaimana kalau aku bosan tidak melakukan apa apa?" Keluh Claudia manja.


"Lebih baik kau ikut saja denganku ke kantor atau kemana pun aku pergi jika tidak jauh, jadi aku tahu bagaimana keadaanmu. Hanya 1 Minggu menjelang 8 bulanmu, mari kita menghadapinya bersama, kau setuju kan?" Kini Egnor mengelus pipi Claudia dengan punggung tangannya.


"Haha, kau memang Daddy yang siaga, Tuan Egnor." Claudia terkekeh.


"Dad!!" Egnor mengoreksi dengan panggilan yang menurutnya kekanak Kanakan.


"Ya, terserahmu, yang pasti kau ayah dari anak anakku!" Claudia memastikan dan tersenyum juga mencubit pipi suaminya.


Egnor kembali mendekap Claudia.


Kandungan Claudia sudah semakin membesar mengingat dia mengandung anak kembar. Kini usia kandungan Claudia sudah 31 Minggu. Dokter mengatakan agar berjaga jaga dan sebaiknya di usia 32 Minggu jika semua jaringan sel pada bayinya sudah matang untuk segera dilahirkan. Hal ini untuk memperkecil resiko pendarahan atau daya tahan sang ibu yang harus melahirkan anak kembar. Sebenarnya kandungan Claudia sangat kuat dan sehat sehingga bisa saja Claudia melahirkan di usia 36 Minggu. Dokter hanya memperkecil resiko dan dia juga tidak ingin mengecewakan seorang Egnor.


...


Benar saja, sudah dua hari ini Claudia selalu ikut dengan Egnor ke kantornya. Terkadang Claudia meminta naik tangga saja untuk olahraga. Tentu saja Egnor yang mendampinginya. Orang orang yang melihat sebagian iri dengan kelembutan Egnor yang sangat tidak biasa. Apalagi Lena si resepsionis yang begitu tersentuh. Jika jam makan siang, Grace yang menemani Claudia.


Malam harinya Claudia menyiapkan makan malam yang mudah. Dia hanya membuat chicken steak dengan brown sauce instant dan garlic mashed potato saja. Egnor masih membersihkan dirinya. Sementara ponselnya ia letakan di meja makan. Egnor lupa membawanya.


Satu dering panggilan masuk berbunyi. Claudia sedang mengangkat kentang yang telah ia rebus.


"Kak Egnor, ponselmu berbunyi!" teriak Claudia.


"Angkat dulu!"


"Aku sedang mengangkat kentang!"


"Aku masih pakai pakaian!"


"Ahh, kau ini kalau mandi seperti wanita, lama sekali!" Dengus Claudia lalu mematikan kompor dan menuju ke ponsel suaminya.


Ternyata Frank yang menghubungi. Claudia menekan tombol hijau dan menekan tombol loud speaker.


"Ada apa Frank? Tuanmu sedang berdandan!" celetuk Claudia dan Egnor keluar dari kamarnya.


"Berdandan apa?! Kau ini!" decak Egnor melirik tajam istrinya.


Claudia hanya menjulurkan lidah dan kembali pada kentangnya yang belum dihancurkan.


"Ada apa Frank?" tanya Egnor sambil menuang air putih ke gelas. Ponselnya dibiarkan tetep pada mode loud speaker.


"Tuan, maaf sekali, kita kembali menghadapi masalah, Ron dan mommy ku melarikan diri dari Indian!" kata Frank sedikit takut takut.

__ADS_1


"What?! Mengapa bisa terjadi?!" kini Egnor mematikan loud speaker lalu menempelkan ponselnya di telinga.


"Sepertinya ada seseorang yang menyelamatkan mereka dan membantu mommyku keluar dari panti sosial, Tuan. Bertho hanya bisa menangkap pihak polisi yang dibayar untuk membantu Ron. Tapi polisi itu lagi lagi meninggalkan jejaknya dengan bunuh diri, Tuan! Ini benar benar pelanggaran, tuan! Kita harus segera menemukan dalangnya!" kata Frank menjelaskan.


"Kita sudah tahu tapi buktinya kurang banyak! Dia akan mempunyai seribu alasan untuk tidak dulu kembali ke Honolulu. Apakah dia masih belum ke Honolulu?" tanya Egnor yang memaksudkan dirinya pada Richie.


"Tidak tahu, Tuan. Nanti aku akan bertanya pada Kevin. Em, Tuan, aku juga ingin mengingatkan anda untuk pembaharuan surat hak otentik. Berhubung belum ada yang menggantikan Tuan Gonzaga, jadi untuk sementara kau yang diminta kepala pemerintahan pusat menandatangani langsung di kantor Tuan Gonzaga sendiri. Nanti akan ada satu pejabat pemerintah, Kate dan satu pegawai ahli yang bertugas. Aku belum tahu siapa, Tuan," kata Frank lagi memberitahukan jadwal penting Egnor.


"Dengan Kate?" selidik Egnor.


Seketika Claudia menengok ketika Egnor memastikan Kate ada di sana ketika pembaharuan.


"Ya tuan, karna Kate memang yang mengurus data data untuk notaris dan surat tersebut," jawab Frank.


"Ya, ya baiklah, kapan?"


"Lusa, tuan. Apa kau bisa sendiri? Karena lusa aku harus menghadiri penyelidikan kecelakaan kapal pesiar kemarin Tuan. Sepertinya pihak Badan klimatologi mempunyai sebuah rekaman orang yang menyusup ke bagian administrasi dan pusat data mereka, Tuan," kata Frank lagi memberitahu.


"Argh, aku sudah tahu semuanya! Kau urus saja dulu dan kabarkan apa lagi yang sudah kau dapat. Lalu untuk ayah tirimu juga ibumu, sekarang juga suru Moses untuk memblokir akses mereka berdua masuk ke Honolulu. Aku takut mereka membuat ulah atau menyebarkan obat yang tak sepatutnya. Jangan biarkan juga mereka menemui keluarganya. Lakukan sekarang Frank!" perintah Egnor.


"Baik Tuan. Besok aku dan Grace akan menyiapkan data yang kau butuhkan untuk pembaharuan surat otentiknya. Jangan lupa kau juga menyiapkan surat otentik yang kau miliki, tuan. Kau tidak lupa menyembunyikannya kan?" Frank mengingatkan.


"Tidak! Aku menjaganya dengan baik. Lalu apa kau sudah menemukan Foster?" tanya Egnor.


"Dia ada di Japanis, tuan. Kata anak buah Bertho, dia bersama Nicolas. Kurasa semua ini berkaitan Tuan. Mohon maaf Tuan, kami belum bisa menangkap Nicolas karena sekarang mereka di bawah kuasa Tuan Bruce Dalton. Apa kau mengetahui beliau, tuan?" selidik Frank bertanya pada Egnor.


"Bruce Dalton?"


"Iya Tuan,"


"Hem, rekan kerja lama! Dia sudah berhasil membantuk aliansi mafia legal kah?" tanya Egnor tersenyum kecut.


"Benar sekali, tuan!"


"Ah kau benar tuan, jadi bagaimana dengan Nicolas dan Foster untuk saat ini menurutmu, tuan?


"Biarkan saja dulu, suruh kepolisian sana mengawasi. Jika mereka membuat masalah yang melanggar hukum baru kita bertindak dan selama Bruce tidak macam macam!" kata Egnor lagi.


"Baik Tuan, aku mengerti. oke, laporan selesai, selamat malam Tuan!"


"Malam!"


Panggilan dimatikan sementara Claudia sudah selesai menyiapkan semua makan malam. Dia juga sudah memandangi suaminya. Claudia menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja itu.


"What's wrong, honey?" tanya Egnor mengambil tomat potong di samping chicken steak.


"Kau jangan bertemu Kate, aku tidak suka! Kemarin Della menghubungiku. Dia meminta maaf padaku dan mengakui sesuatu!" kata Claudia.


"Apa?" tanya Egnor menyantap tomat itu.


"Kate yang menyuruhnya untuk menjebak kita!"


"Are you seriously?" Egnor menelan tomat dengan cepat.


"Yes, jadi kau jangan sekali sekali terjebak sebuah percakapan dengannya!"


"Tapi Clau," sela Egnor hendak menjelaskan posisi Kate tetapi Claudia memotongnya.


"Aku ikut denganmu lusa, setuju atau tidak harus setuju!"

__ADS_1


"Hem, bilang saja kau takut kutinggalkan kan?" Egnor menggoda.


"Kau jangan lupakan apa yang kau katakan dua hari yang lalu kalau aku harus ikut bersamamu selama tidak jauh jauh! Jangan membantah! Penipuan itu masuk ke dalam tindak pidana!" Claudia mengingatkan.


"Sok tahu!" Egnor tersenyum manis.


"Aku tahu, kan kau pengacaranya, bebas!" Claudia tersenyum dan menyiapkan piring untuk suaminya. Egnor juga tersenyum. Sebenarnya Egnor juga ingin mengajaknya tapi ingin mendengar kalimat manja dan cemburu dari istrinya.


...


Dua hari kemudian, Claudia sempat muntah muntah pagi harinya. Egnor bingung mengapa sudah hamil tua, tapi Claudia masih muntah dan katanya muncul flek. Claudia masih duduk di sofa single merenggangkan tubuhnya karna sedikit lelah akibat muntah itu. Mereka hendak pergi ke kantor.


Setelah Egnor membersihkan dirinya, dia langsung menghampiri istrinya sambil mengenakan kemejanya. Claudia sedikit melirik dan melihat tubuh perut sampai dada yang berbentuk agak kotak kotak itu. Terakhir kali Claudia melihatnya empat hari yang lalu setelah mereka makan malam dengan Lisa mereka melakukan hubungan cinta itu lagi. Namun, sudah empat hari ini mereka tidak melakukannya karena Egnor mulai takut membuat Claudia tidak nyaman. Pada kenyataannya, hormon Claudia malah makin memuncak.


"Mengapa tubuhmu semakin menggeliurkan saja, tuan pengacara?" tanya Claudia tersenyum tipis.


"Ah kau ini jangan menggoda! Kau sedang tidak enak begini. Jadi bagaimana? Kau tinggal saja di apartemen dan aku akan memanggil Aunty Anne?" kata Egnor menatap cemas istrinya.


Claudia menggeleng.


"Lalu kau mau apa? Jangan jangan kau mau melahirkan, Clau!" seketika Egnor benar benar cemas dan gegebah.


"Perutku tidak kontraksi, ini hanya muat, sayang. Aku hanya ingin ..." Kata Claudia mulai membuka kancing kemeja Egnor lagi dengan satu tangannya.


"Kau jangan gila!" Egnor menahan tangan Claudia.


"Perutmu sudah sangat besar Clau! Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" Kata Egnor lagi.


"Tidak! Aku ingin dirimu, sayang!" Saut Claudia makin menjalankan aksinya dan dengan dua tangannya membuka kemeja Egnor dan terpampang lah lagi tubuh gagah itu.


"Apa kau tidak ingin? ini sudah 4 hari kita tidak melakukannya, kak!" Bisik Claudia pelan kini sudah membelai bahkan mencium dada Egnor yang sudah bertelanjang.


Egnor mengusap dahinya. Bukannya dia tidak ingin, dia hanya takut. Namun, jika Claudia sudah begini, dirinya juga tidak bisa menolak. Lagipula Claudia yang meminta bukan dirinya.


"Kau yang memaksa, Clau!" Decak Egnor lalu meraih tubuh Claudia dan mereka berciuman.


...


...


...


...


...


jeda dulu biar ga kepanjangan dan sebaiknya ngaso dulu biar samaan kita . aku kalo ngetik Egnor harus tahan napas, ngaso sampe makan soto mie 😝😝


.


next part 111 ya trust me! bagian kedua


😁😁😁


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2