Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 159: Love Liar


__ADS_3

Mungkin ini adalah masa terberat dalam hubungan mereka. Masalah yang datang silih berganti. Seperti asap yang tidak akan muncul jika tidak ada api. Begitupun dengan mereka, Egnor dan Claudia. Semua mungkin terlihat baik baik saja. Tapi nyatanya semua tampak menyedihkan. Berharap bisa melepaskan dan menghapusnya, pergi bebas kemanapun kaki ini hendak melangkah. Namun lagi lagi apakah Claudia tak seberharga itu untukmu? Apakah semua mimpi mereka bersama tak berarti apapun?


Mereka berkata baik baik saja. Walaupun kesedihan dan kepedihan tampak jelas dimata mereka. Mencoba tetap memiliki pendirian dan terus hidup dengan kepura-puraan dan kebohongan ini. Walaupun pada akhirnya mereka merasakan kebohongan cinta ini. menjadi pembohong untuk mendapat cinta yang sebenarnya. cinta ini memang jahat dan penuh dengan dosa.


...


Lisa dan Richard pun masuk di dampingi Moses. Moses harus di sana untuk mencegah hal hal yang tidak di diinginkan.


Egnor hanya menatap mereka dengan tatapan tajamnya tanpa bertanya apapun. Dia sudah tahu apa yang hendak mereka berdua katakan.


"Egnor, kami hendak menikah!" Kata Lisa to the point. Lisa juga sudah tahu kalau Egnor pasti mengetahui maksud kedatangannya untuk menjernihkan pikirannya tentang Claudia.


Egnor masih tak bergeming menatap mereka berdua.


"Egnor, aku tahu kau cemburu padaku kan?" Ujar Richard memberanikan diri.


Brak!


Egnor menggebrak meja dan beranjak.


"Aku tidak perlu nasihat dan penjelasan dari kalian berdua. Aku sedang malas berdebat, pergi dari sini! Pembicaraan selesai! Aku tahu apa yang kalian inginkan!" Decak Egnor berbalik dan menolak pinggangnya.


"Egnor, tolong! Gunakan akal sehatmu! Claudia, istrimu dan Richard, kekasihku! Tidak akan bersama lagi. Di sana mereka tidak melakukan apapun. Richard terus bersamaku sementara Claudia malah mengunci diri di kamar. Dia merindukanmu!" Balas Lisa mencoba memberi pengertian lagi dan lagi.


"Cih, cara lama! Dia meminta bantuan kalian pada akhirnya kan dan kekasihmu itu akan menjadi penyelamat hubungan kami! Heng, aku tidak membutuhkan pahlawan! Kalian tidak lihat siapa yang menjadi pahlawan Honolulu ini tapi sayangnya bukan aku yang menjadi pahlawan Claudia! Tapi Ricardo Gabriane! Haha, bravo! Selamat untuk kalian berdua! Sekarang pergi! Moses, tunjukan pintunya!" Bentak Egnor setengah melirik.


"Egnor! Sekali lagi aku minta maaf!" Ucap Richard berlutut di sana. Lisa berbalik terkejut, apalagi Moses. Lisa langsung menuju ke sana.


"Bangun Richard, untuk apa seperti ini, ini tidak ada dalam rencana!" Bisik Lisa merasa sudah sangat keterlaluan.


"Diam Lisa! Aku yang salah! Aku memang penyebab hancurnya mereka sejak awal! Seharusnya waktu itu, aku tidak membantu Claudia. Seharusnya waktu itu aku membiarkan dia menjadi pedagang roti dan di aniyaya oleh para rentenir itu. Seharusnya aku tidak menjadikannya istriku, seharusnya aku membiarkan dia banting tulang untuk paman dan bibinya. Seharusnya aku tidak mencarinya dan menguatkan cinta nya pada pengacara ini. Seharusnya kemarin aku tidak membawa Claudia dan anak anaknya ke pulau itu. Seharusnya aku membiarkan Claudia diculik dan anak anaknya dibunuh sehingga si pengacara ini yang menyelamatkan istrinya dan kehilangan anak anaknya. Seharusnya itu yang kulakukan!!!! Jadi, aku minta maaf Egnor. Seharusnya kau menghukumku atau kau beri hukuman mati padaku karena aku yang melakukan semua itu bukan Claudia. Claudia hanya korban! Maafkan aku Egnor, maafkan aku! Aku tidak bermaksud melakukan ini semua, aku juga tidak tahu!" Kata Richard menghapus air mata yang sudah terjatuh.


Egnor di sana bahkan tidak melihat Richard sedikitpun. Dia terus membelakangi mereka sambil menolak pinggang.


"EGNOR! KAU KETERLALUAN! TERSERAH KAU MAU BERPIKIR APA! RICHARD HANYA MENCINTAIKU! DIA TIDAK MAU DENGAN ISTRI BEKAS PENGACARA PECUNDANG SEPERTIMU! PERCUMA KAU MENYELAMATKAN HONOLULU TAPI KAU TIDAK ADIL DENGAN CINTAMU! PERCUMA! KAU JANGAN MENYESAL, CLAUDIA MUNGKIN AKAN MEMPERTAHANKAN KELUARGA KALIAN TAPI KALAU SAMPAI AKHIRNYA TITIK JENUH ITU MENCAPAI DI UBUN UBUN NYA, JANGAN KAU MENCARI KAMI UNTUK BERTANYA DIMANA DIRINYA KARENA KAMI TIDAK AKAN MEMBERITAHU! AKU SENANG KAU MATI DENGAN PENYESALANMU! Ayo kita pergi dari sini, Richard, aku menyesal melakukan ini!" Decak Lisa dengan tangis dan suara yang agak meninggi. Dia menarik lengan Richard hendak pergi. Egnor mendengar semua itu dan hatinya semakin terasa tertikam. Dia tidak mengerti dianya bersalah atau tidak.


Namun, bersamaan dengan itu Gabriel datang kembali.


"Tuan Egnor, Nyonya Claudia bertengkar dengan seorang wanita di bawah! Dia sulit sekali dilerai!" Pekik Gabriel. Egnor langsung menoleh.


"Di mana Claudia?" Tanya Lisa.


"Di bawah nona, di lobby, dia hendak mengantar makan siang untuk tuan Egnor tapi ada seorang yang menyinggungnya!" Kata Gabriel menjelaskan dengan napas tersenggal.


Tanpa banyak bicara Egnor berjalan cepat keluar ruangan dan menuju ke bawah yang diikuti oleh Gabriel dan Moses yang sudah menutup pintu. Lisa dan Richard saling berpandangan


"Lisa, apa akan berhasil?" Tanya Richard pelan.


"Semoga saja, ayo kita juga ke bawah," saut Lisa menggandeng lengan kekasihnya.


Mereka semua ikut ke bawah.

__ADS_1


Di sana memang tampak Claudia sedang memukul seorang wanita secara membabi buta. Tak lama pria yang sepertinya kekasih wanita yang dianiyaya Claudia menarik lengan Claudia dan menghempaskannya sampai hampir terjatuh. Untung saja Egnor sudah datang dan berhasil menangkapnya.


Deg!


Jantung Claudia berdebar. Aroma jas dan tubuh ini begitu membuat nya tenang dan tidak mau jauh dari sana. Claudia tetap menyandarkan dirinya di depan Egnor yang masih memegang lengannya. Akhirnya dia merasakan pegangan tangan laki laki ini.


"Ada apa ini?!" Decak Egnor masih menjagai istrinya.


"Nyonya ini melakukan tindak anarkis terhadap istriku!" Decak pria itu menunjuk nunjuk Claudia.


"Kau harus menuntutnya sayang! Lihat semua pipiku lebam begini!" Keluh wanita itu memperlihatkan noda biru pada wajahnya.


"Kau yang seharusnya kutuntut! Ini suamiku, Egnor Jovanca!" Bantah Claudia memegang dada Egnor.


"Lantas kenapa kalau tuan Egnor? Dia malah mengabaikanmu dan kau tidak tinggal bersama lagi kan?!" Celetuk wanita itu makin menjadi jadi.


"Wanita bermulut lintah, sialan, kemari kau!" Teriak Claudia lagi hendak menghabisi wanita itu.


"Clau, Clau, Clau, tenang, tenang! Ada apa dengan semua ini?!" Kata Egnor memegang lengan Claudia dan menariknya untuk tetap di dekapnnya.


"Dia kak, dia membicarakan rumah tangga kita, katanya kau mengabaikanku katanya kita terlibat skandal dan katanya kau mau meceraikanku, dia mengata ngataiku! Dia tidak tahu aku siapa?" Ujar Claudia menangis pada akhirnya .


"Tidak bisa! Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatan kasar pada istriku! Kau harus bertanggung jawab!" Decak si suami wanita menarik lengan Claudia yang berhadapan dengan Egnor.


Egnor menjadi kesal melihat pria itu mencengkram paksa lengan Claudia.


"Hey! Kau tidak usah memegang tangannya dengan kasar seperti itu" Decak Egnor meraih pergelangan tangan pria itu dan memelintir nya dengan perlahan ke arah belakang sampai membuat pria itu merintih.


"Kak sudah kak, sudah sudah!" Kata Claudia menarik lengan Egnor.


"Tuan, lepaskan tangan suamiku, lepaskan kami minta maaf!" Ucap wanita itu memohon. Pria itu terus merintih merasakan putaran tangan Egnor.


Claudia menarik tangan Egnor agar melepaskan pria itu dengan sekuat tenaga atau Egnor akan mematahkannya.


"Kak, lepas, aku mohon," pinta Claudia mengarahkan wajahnya menatapnya dan akhirnya Egnor melepaskan dengan menghempaskannya.


"Kau bisa menuntut istriku, maka kalian akan menghadapi ku!" Ancam Egnor ketus dan dengan tatapan tajamnya.


"Sudah kak, kita pergi dulu dari sini," kata Claudia memeluk Egnor dan menjauhkan diri dari kerumunan itu. Tanpa sadar Egnor juga memeluknya dan memegang lengan Claudia yang dicengkeram pria itu dengan sangat posesif. Mereka berjalan memasuki lift dan menuju ke ruangannya.


Sementara itu di kejauhan.


"Semoga rencanamu berhasil, Lisa. Aku kurang yakin," gumam Richard.


"Ya, semoga saja. Ayo kita obati tuan dan nyonya Reim," ajak Lisa.


Richard mengangguk dan berjalan menghampiri kedua orang suruhannya yang sudah menjadi korban.


Egnor membawa Claudia ke ruangannya. Dia langsung mecium bibir Claudia setelah mengunci pintu itu. Claudia sangat sangat terkejut tapi dia membalas kecupan bibir yang sudah ia rindukan itu. ini benar benar perubahan yang begitu cepat! Claudia sempat takut kalau ini hanya mimpi atau hanya sesaat. Egnor membuka kancing kemeja Claudia dan menggiringnya ke kamar peristirahatannya. Claudia tak tinggal diam. Dia juga membuka jas Egnor dan mengulurkan dasinya. Mereka masih berciuman dengan sangat panas, lembut dan mesra. Mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja dimabuk asmara tetapi terpisah dengan sangat lama.


Dengan cepat Egnor menyibakan rok yang Claudia kenakan dan menurunkan celananya. Rasa rindu dan keinginan hasrat ini sudah muncul sejak kemarin . Sudah membuncah sampai ke ubun ubun. Claudia mengikuti arah suaminya karena dia juga sangat ingin. Egnor masih mencium bibir Claudia dengan memainkan lidahnya mencari cari indera perasa wanitanya. Decak Saliva terdengar mengiringi permainan mereka tanpa suara hanya ada gairah dan peluh keringat yang sedikit demi sedikit menderai.

__ADS_1


"Kak Egnor," panggil Claudia sambil mendesah merasakan bibir Egnor mulai menjalar ke bawah dan tangannya yang meremass bongkahan kenyal itu.


"Ssstt, aku tidak mengijinkanmu bicara!" Balas Egnor kembali menatap Claudia dan menuju ke depan bulatan kenyal itu untuk ia rasakan.


"Egnor !!" Claudia malah memancing Egnor dengan hanya memanggil namanya. Seketika tubuh Egnor bergetar dan tak kuat menahan yang sudah menegang di bawah sana.


Tanpa pemanasan lagi, akhirnya mereka melakukannya. Dengan sangat lembut dan tatapan mata Egnor menajam hanya mengarah pada wajah Claudia yang sudah tak karuan. Dia memajumundurkan tubuhnya sambil memegang salah satu bulatan kenyal istrinya. Claudia sudah menggelinjang tak karuan dengan mata terpejam. Suaminya kembali. Dia merasakan kehangatan dan rasa kepemilikan yang hanya dia yang boleh menjamahnya.


Claudia menegakan diri dan ikut dalam posisi duduk bersama suaminya. Mereka saling bertatapan menikmati ritme penyatuan yang tanpa rencana sedikitpun. Claudia merengkuh kepala Egnor dan mereka kembali berciuman.


Dan akhirnya sampailah Egnor dengan sedikit hentakan yang masih membuat Claudia ingin mengulanginya lagi. Hentakannya semakin cepat karena Egnor juga ingin memancing klimaks Claudia yang akhirnya membuncah juga melumasi setiap sisi sisi senggama itu.


Mereka berdua roboh di atas tempat tidur kecil itu.


"Kak ..." panggil Claudia hendak memastikan sesuatu.


"Ssssttt, tidurlah!" saut Egnor mendekap erta Claudia.


Mereka akhirnya tertidur lebih dulu. Sekitar satu jam Egnor sudah tidak ada di samping Claudia. Dia meraba raba tempat tidur dan tidak menemukan Egnor. Akhirnya Claudia membenarkan pakaiannya dan keluar dari kamar itu.


"Selamat sore Nyonya Claudia," sapa Lina. Claudia agak canggung dan melihat di sana Egnor sedang memakan bekal yang ia bawa tadi. Claudia pikir bekal itu sudah hilang entah kemana.


Claudia berjalan perlahan duduk di depan meja Egnor.


"Kak, hari ini aku hendak menemui Wil Wil?" kata Claudia agak berbisik.


"Hem," saut Egnor dengan nada suara dingin. Claudia sedikit bingung tapi dia berpikir mungkin ini bagian dari perubahan itu. Claudia mencoba bersabar.


"Em, apa makanannya enak?" selidik Claudia memastikan.


"Tidak begitu! Aku sudah lapar, dua orang itu tidak membawakanku makan!" keluh Egnor sedikit melirik Gabriel dan Lina yang agak canggung dengan mereka tuan dan nyonya nya.


Claudia mengernyitkan dahinya, tidak pernah Egnor mengatakan masakannya tidak enak. Claudia penasaran dan mencobanya. Rasanya pas semua. Egnor melirik dan terlihat masa bodoh. Dia terus memakannya sampai habis!


"Aku masih ada pertemuan peresmian pengacara, kau duluan saja ke rumah dad," kata Egnor kemudian beranjak dari duduknya.


"Ah tapi kak, kita ..."


"Masih banyak waktu!" Saut Egnor memotong perkataan Claudia dan menegak segelas air putih. Dia lalu pergi meninggalkan Claudia.


...


Haiz, ambigu bangat bang 😅


Next part 160


Genepin sampe 170 end 😁


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2