Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 47: Selisih


__ADS_3

Keesokannya, mereka tampak seperti biasanya. Meskipun Egnor masih tetap agak pendiam. Dia bangun, membersihkan diri dan menuju ke dapur. Claudia di sana tampak sedang membuat sesuatu di meja makan. Claudia menoleh ke arah Egnor yang datang sudah dengan kemeja santai seperti biasa dan celana panjang.


"Selamat pagi sayang, tidurmu tampak sangat berkualitas dan nyenyak!" Sapa Claudia memberi salam.


"Begitulah." Saut Egnor singkat dan duduk di kursi ruang makan.


"Karna diriku kan? Seharusnya kita melakukannya hari ini bukan kemarin. Kata dokter tidak boleh setiap hari kak." Gumam Claudia mengingat pesan dokter ketika dia masuk rumah sakit beberapa minggu yang lalu.


"Seharusnya. Jadi, sebaiknya kau jangan terus menggodaku!" Egnor mengingatkan kembali.


"Hihi .. ini kak, makanlah, roti lapis isi choco and cheese cream. Kau masih menyukainya kan?" Kata Claudia menyodorkan roti buatannya.


"Kau selalu tahu apa yang kusuka." Gumam Egnor meraih roti tersebut. Sepertinya hatinya mulai melembut kembali pada Claudia.


"Tentu! Kau cinta mati ku kak." Kata Claudia tersipu.


Egnor tersenyum tipis dan menyantap roti lapisnya.


"Eng, jadi kak, karna kau sudah memaafkanku, kita harus merayakannya. Antarkan aku ke pasar swalayan, oke? Aku mau menghabiskan uangmu." Ajak Claudia seperti hendak berkencan setelah menikah. Pasti sangat menyenangkan kalau bisa saling berangkulan melihat lihat toko toko di pusat perbelanjaan.


"Benarkah?" Selidik Egnor mengenal 'menghabiskan uangnya'.


"Tidak yakin sih, haha, jadi setuju kak?" Claudia meyakinkan.


Egnor mengangguk. Claudia mengecup pipinya dan ikut memakan roti lapis bagiannya dengan duduk bersebrangan dengan suaminya. Tak berapa lama ponsel Egnor berbunyi. Egnor segera meraihnya karna ada tepat di meja makan. Frank yang menghubungi. Dia membutuhkan Egnor untuk menemaninya menyelidiki sebuah rumah orang pemerintah. Kalau Frank dengan dirinya semua akan mudah karna hanya perlu wajah tuannya, dia tidak perlu dicurigai jika terjadi apa apa.


"Kau memanfaatkan wajah majikanmu Frank!" Decak Egnor pada panggilan tersebut.


"Satu kali ini saja Tuan! Kasus ini harus segera kuselesaikan. Ini juga akan menaikan nama kantor pengacara kita. Cih, ujung ujungnya kau yang mendapat pujian bukan aku!" Sungut Frank.


"Tidak bisa! Aku mau pergi dengan Claudia." Kata Egnor tegas.


"Tolonglah Tuan! Claudia pasti mengerti!" Pinta Frank dengan suara memelas di sebrang sana.


"Sebentarlah!" Ujar Egnor sedikit menjauhkan ponselnya karna hendak ijin dengan Claudia.


Claudia sudah memandang Egnor agak kecewa tapi dia tetap mengondisikan emosinya.


"Frank membutuhkanku, kasus orang politik. Em, apa kita bisa pergi nanti sore?" Tanya Egnor.


"Pergilah kak. Aku bisa sendiri." Jawab Claudia tersenyum kecut.


Egnor merasakan aura kekecewaan Claudia. Dia menghela napas.


"Aku tidak bisa Frank! Istriku lebih membutuhkanku! Sudah ya!" Kata Egnor yang lebih memilih istrinya. Claudia yang menunduk di sana tersenyum. Dia lalu mendongakan kepalanya menatap suaminya yang juga menatapnya.


"Pergilah kak! Aku tidak apa apa! Kau antarkan saja aku sampai di depan swalayan. Nanti aku bisa pulang naik taxi." Kata Claudia kemudian tersenyum.


"Kau yakin?" Selidik Egnor.


"Iya tenang saja! Ini pekerjaan dan kau adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab jadi kau juga harus membantu anak buahmu." Jawab Claudia menjelaskan maksud dirinya memberi dukungan pada suaminya. Egnor tersenyum.


"Kemari sayang!" Kata Egnor kemudian mengulurkan tangannya. Claudia beranjak dan duduk dipangkuannya.


"Kau memang wanitaku!" Guman Egnor memegang dagu istrinya. Claudia tersenyum dan malam mencium bibir suaminya. Mereka pun berciuman. Claudia dan Egnor berharap suasana seperti ini akan terus berlangsung setiap hari.


Egnor sudah menghubungi Frank dan akan bertemu ke tempat lokasi. Dia pun mengantar Claudia sebelum menemui Frank.


"Aku akan berbelanja sekitar 2-3 jam setelah itu aku langsung pulang!" Kata Claudia hendak menuruni mobil.


"Ya, berhati hati lah! Hubungi aku jika terjadi apa apa!" Pesan Egnor.


"Baik kak!" Saut Claudia dan mengecup pipi Egnor sebelum benar benar turun dari mobil suaminya.


Claudia pun berbelanja sendiri dan Egnor menemui Frank.


Benar dugaan Frank, jika dia datang ke rumah si politikus itu bersama tuannya, semuanya akan aman terkendali. Terbukti Frank dapat menemui sang politikus dan memberikan pertanyaan pertanyaan. Pertanyaan dijawab dengan sangat lugas namun memang sedikit terbata karna mata Egnor yang menatap tajam si politikus.

__ADS_1


"Kubilang juga apa Tuan, dia tidak akan berkutik di depanmu! Kau tahu Tuan? Kate yang memberitahuku kalau orang itu takut denganmu, haha!" Kata Frank ketika keluar dari rumah pokitikus itu.


"Siapa suruh mempermainkan Aunty Anne ku!" Saut Egnor.


"Apa? Kau serius? Si tua bangka itu pernah mendekati aunty anne? Istrinya banyak sekali tuan!" Tutur Frank sedikit shock.


"Ya, beberapa tahun yang lalu. Maka dari itu aku pernah membuat perhitungan padanya!" Jawab Egnor menaikan satu alisnya.


"Aunty mu memang masih awet muda Tuan. Dia mirip seperti Nyonya Viena." Puji Frank dan mereka menuju ke mobil mereka masing masing.


"Ya benar! Baiklah, aku mau menjemput Claudia. Sepertinya dia masih berbelanja." Kata Egnor.


"Akhirnya kau berbaikan dengannya!"


"Ya, kalau dia mendekati Richard atau Richard mendekatinya, aku akan mengadilinya!" Kata Egnor dengan nada mengancam.


"Nyonya Claudia pasti senang kalau kau adili di ranjang Tuan!" Ujar Frank tertawa kecil menggoda tuannya.


"Tidak ada bonus akhir tahun Frank, karna aku akan mengadakan resepsi pernikahan yang besar." Balas Egnor merogok kunci mobilnya di saku jasnya dan berdiri di samping mobilnya.


"Tuannnn!!!!"


(Catatan untukmu Frank! Jangan menggoda Tuan Pengacara Kutub Utara! Apalagi dia majikanmu!! Sabar!!)


Egnor tidak menanggapi Frank merajuk. Dia menaiki mobilnya dan menuju ke pasar swalayan tempat dia mengantar Claudia tadi.


...


Claudia begitu menyenangi suasana pagi pasar swalayan ini karna semua sayur mayur dan buah buahannya baru saja datang dan juga segar segar. Semuanya sungguh menyenangkan matanya. Claudia sungguh merasa kalap sehingga ia membeli dalam jumlah yang terbilang banyak. Dia sampai menggunakan dua keranjang dan sangat membuat sibuk tangannya.


Karna semua kerepotannya, dia pun menjatuhkan beberapa buah lemon sehingga membuatnya bergelindingan di lantai.


"Haiz! Andai saja si pengacara itu bisa kusewa satu hari saja!" Sungut Claudia hendak membungkuk mengambil lemon tersebut, namun ..


"Kalau menyewa motivator pasti bisa, aku dengan senang hati." Kata Seseorang meraih lemon tersebut membantu Claudia dan memberikan padanya.


"Richard? Terimakasih!" Ucap Claudia tersenyum tipis.


"Jadi, kau benar benar sendiri? Sini, biar kubantu!" Kata Richard dengan sigap meraih satu keranjang belanjaan Claudia. Claudia memberikannya saja karna dia benar benar sedikit kesulitan.


"Ya begitulah, kak Egnor sedang menemani Frank menyelidiki kasus." Jawab Claudia sedikit dingin.


"Ya, aku mengerti! Apa kalian sudah berbaikan?" Tanya Richard memastikan karna dia masih belum bisa bertemu dengan Egnor.


"Kurasa begitu. Em, kau sedang apa kemari?" Tanya Claudia kembali.


"Nyonya Besar Gabrianne ingin memakan buah arbei. Kevin sedang mencarinya. Aku sedang ada waktu luang jadi aku ikut bersama Kevin. Suatu kebetulan bisa bertemu denganmu!" Jawab Richard tersenyum manis.


"Oohh, Nyonya Besar akan kemari?"


"Ya, katanya dia merindukan anaknya dan hendak mengatur kencanku dengan seseorang."


"Kencan?" Claudia mendelikan alisnya berpikir masih ada sesuatu jodoh menjodohkan.


"Hahaha, seperti kopi darat. Aku memang pria yang kasihan, tidak memiliki wanita dan aku sudah tidak tahu apa itu wanita sejak kita bercerai." Jawab Richard mencoba akrab dan humble dengan Claudia.


"Oh! Jangan membahasnya lagi! Aku tidak mau! Aku harap kencan yang dibuat ibumu sesuai denganmu!" Saut Claudia ketus.


"Ya Clau terimakasih!" Richard lagi lagi tersenyum.


Tak berapa lama Kevin datang dengan sekantung besar buah arbei dengan warnanya yang ungu atau merah pekat. Kevin terkejut kalau ada Claudia bersama Richard.


"Selamat pagi menjelang siang Nyonya." Kevin memberi salam sambil membungkukan tubuhnya.


"Ya Kevin!" Jawab Claudia tersenyum tipis.


"Kau janjian Tuan?" Bisik Kevin pada Richard.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak sengaja bertemu!"


"Baiklah Richard, aku sudah selesai berbelanja. Aku mau membayarnya. Tolong belanjaanku di tanganmu taruh di meja kasir sana!" Kata Claudia kemudian yang sebaiknya dia tidak berlama lama dengan Richard. Dia merasa sepeti diikuti seseorang walau tak terlihat. Atau bisa saja Richard atau Kevin menggoda Egnor dan mengatakan mereka bertemu di sini. Hem, Claudia tidak bisa membayangkan Egnor lagi lagi menyetubuhinya dengan kasar.


"Oh iya Clau, sekalian saja dengan punyaku. Aku yang traktir!" Kata Richard kemudian.


"Jangan! Sekarang aku punya suami yang memberiku banyak uang. Jangan lupakan, dia juga orang terpandang! Bahkan dia senior mu! Jangan macam macam!" Kata Claudia tersenyum dan mendahului Richard dan Kevin menuju meja kasir.


Richard juga tersenyum dan menyadari dirinya bukan siapa siapa Claudia lagi jadi wajar wanita itu seperti itu. Richard dan Kevin pun menyusul dan mengantri di belakang Claudia.


Lagi lagi Claudia tampak kesulitan dengan semua plastik belanjaan itu. Dia keluar dari pasar swalayan tersebut dan menaruh semua plastik belanjaannya di samping kakinya.


"Kau pulang dengan apa? Apa Egnor menjemputmu?" Tanya Richard masih mengikuti Claudia.


"Naik taxi. Egnor pasti masih sibuk. Mungkin sore dia baru pulang." Jawab Claudia melihat lihat sekitar.


"Kevin! Bawa semua belanjaan Claudia ke mobil!" Perintah Richard.


"Hey kenapa Richard?" Tanya Claudia


"Aku akan mengantarmu sampai apartemen. Jangan sungkan dan jangan menolak! Hanya mengantar!" Jawab Richard yang kini sudah di samping Claudia.


"Hem, baiklah!!" Tutur Claudia mengalah dan memijit mijit pergelangan tangannya.


Dia pun menunggu Kevin dengan mobilnya. Richard tetap ada di sebelahnya. Selagi menunggu Richard seperti mengajak bicara Claudia basa basi dan sesekali Claudia menanggapinya dengan senyum kecil.


Tak lama sambil matanya juga melihat lihat sekitar, dia sedikit terpaku terdiam. Entah mengapa hatinya sakit dan cemburu. Claudia terpaku menyaksikan pemandangan di sebrang sana di lapangan parkir pasar swalayan ini tepat sejajar dengan dia menunggu mobil Richard.


Di sana terlihat suaminya, Egnor sedang bercanda tawa dengan Kate. Kate juga sedang menghapus peluh keringat pada pelipis Egnor. Claudia terus memperhatikan dan apa maksud dengan semua ini. Claudia mencerna. Tadi dia ingin pergi bersama Frank, mengapa sekarang bersama Kate dan sangat tampak akrab. Richard juga melihatnya. Dia menoleh ke arah Claudia dan memastikan wajah wanita yang ia cintai itu kecewa. Dan, karna tak berapa lama, Egnor dan Kate masuk ke dalam mobil dan pergi bersama.


...


...


...


...


...


...


hatiku sedih, hatiku gundah, hatiku bertanya, hatiku curiga .. (lagunya sherina waktu kecil lhoo dalemm liriknya haha yg waktu petualangan sherina lho, kalo anda ada yang tahu berarti umur kita sama buahahahaa 😁😁😁


.


Next part 47


Lah bang, tadi katanya jemput bang, ngapa uler keket ada disitu? 🙊🙊


Clau, ada apa ini? Pelan pelan Clau nanti ditanyain, takutnya dirimu duluan yang keliatan doi 🤔🤔


Eh aku spoilerrrr tiiiidaaakkk maaafkaaannn 😭😭


.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nyaa ya


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel mohon bantuannya hehe 😊😊


.


BTW, TEMBUS 100 LIKE & 20 KOMEN AKU LANGSUNG UPDATE 😁😁


EGCLAUD CHALLENGE 😍😍


.

__ADS_1


Thanks for read and i love you 💕


__ADS_2