
Egnor : Aku bersalah! aku menutup telinga, mata sampai cinta kita. aku buta, aku seperti penjahat, aku akui! sejak dulu aku tidak tahu apa itu cinta, aku tidak tahu wanita dan bagaimana isi di dalamnya, aku tidak tahu! aku sampai tersandung ketika aku menilik apa itu arti cinta. namun, ketika aku melihatmu melintas di samping rumahku, kau memandang ku, kita saling melihat dan kau tersenyum, aku langsung mengira itu cinta. mataku terbuka dan mengetahui cinta itu adalah kau. semakin mendekat aroma dan suaramu semakin menggetarkan ku. cinta tumbuh seperti musim semi yang menggantikan hatiku seperti musim dingin. aku tak butuh dunia beserta isinya. aku hanya ingin dirimu. bisakah memaafkanku?
Claudia : Maaf, aku harus pergi. entah sudah berapa puluh juta kali kutanamkan dalam jiwa ini untuk terus mengedepankan arti SABAR! Ketika semua yang kurencanakan tak berjalan dengan semestinya, ketika kau hilang dan aku masih berusaha sabar menanti, dan ketika milikku, anak anakku yang keluar dari perutku! aku yang merawatnya di saat kau tak ada, ingat TAK ADA! tapi seenaknya direnggut paksa. tapi aku tetap bersabar dan mengangguk. aku memang berharap semua kesabaranku terbalaskan seperti pelangi sehabis hujan. namun, untuk sekarang, maaf aku harus pergi ...
"Clau, apa kabar?" Tanya pria itu yang adalah suaminya, Egnor.
Claudia tidak menjawab masih mengira ini semua kegilaan pikirannya. Egnor tersenyum dan akhirnya berdiri di sampingnya ikut memandangi dua mempelai di depan sana. Egnor sambil memegang gelas berisi red wine.
"Ini memang hukumanku, jadi kau mendiamiku! It's oke, memang ini lah yang harus kubayar dari setiap perilaku menyakitkan yang kuberikan padamu," kata Egnor lagi dengan pelan dan menoleh ke arah Claudia.
Kini Claudia menyadari kalau Egnor benar nyata datang ke acara ini dan menghampirinya. Setelah ada bukti yang benar signifikan, pria ini akhirnya mendatanginya. Namun, rasanya masih terlalu terasa setiap kata dan perbuatan yang pengacara ini lakukan padanya. Dia pun menoleh dan menatap Egnor sinis.
"Jangan menatapku seperti itu, kau boleh melakukan apapun padaku," kata Egnor menyesap wine dan kembali menatap Claudia. Jantung Claudia semakin tak menentu melihat sempurna wajah pria di depannya ini tapi dia tidak mau terpengaruh. Ada iblis yang sewaktu waktu akan muncul dari wajah bijaksana ini.
"Aku tidak mau melihatmu! Pergi dari sini!" Kata Claudia berdesis.
"Cih, matamu tidak bisa menipuku Claudia, kau masih mencintaiku dan kau sekarang bahkan merindukanku. Kau mau wine? Hari ini aku sengaja ingin bertemu denganmu bukan dengan pasangan di depan itu! Aku mau mengajakmu meminum wine untuk merayakan pasangan itu? kau tidak usah takut, Aku yang akan bertanggung jawab! bisakah kau menerima ajakan ku?" balas Egnor menyodorkan gelas wine.
"TIDAK AKAN DAN TIDAK AKAN PERNAH BISA LAGI! KALAU KAU TIDAK MAU PERGI, AKU YANG PERGI, Permisi Tuan Egnor Victor Jovanca!" Kata Claudia dengan mata melebar lalu berbalik hendak pergi dari sana.
Egnor menyeringai. Dia meminum habis wine itu lalu membuang gelasnya dan dengan cepat meraih tangan Claudia. Dia menariknya dan memeluknya lalu dengan cepat mencium bibir Claudia. Dia memasukan sedikit wine yang masih ada di mulutnya untuk Claudia meminumnya. Tubuh Claudia bergidik. Pria ini yang memang ia suka. Dengan inisiatif yang mengetahui hasrat yang ia ketahui. Namun, Claudia harus melepaskan diri. Ini sangat tidak menghormatinya. seketika dirinya seperti wanita yang harus mengikuti arah pergerakannya. Claudia tidak bisa tinggal diam.
"Em, em, lepas, lepaskan aku Egnor!" bentak Claudia geram dan ...
Pak!
Claudia menampar Egnor setelah berhasil melepaskan tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga.
"Dengarkan aku baik baik Tuan Pengacara yang terhormat, penyelamat Honolulu yang agung ini, aku harus memberitahumu! Kau yang membuat jurang pemisah di antara kita, kau yang membuat semua pertikaian ini. Kalau aku tahu kau menganggapku bagai sampah yang tak ada harganya dan bagai wanita murahan yang seenaknya mengikuti orang padahal dia ingin menyelamatkan dirinya, menyelamatkan anak anaknya agar bisa melihat ayah dan suaminya , aku lebih baik terus menetap di sana, atau kalau perlu aku menenggelamkan diriku di laut sehingga tidak sama sekali bertemu denganmu! Sekarang kau pikirkan saja bagaimana tinta merah itu kau torehkan pada hatiku dengan pena tajammu! Kau pikirkan saja sendiri dan jangan mendekatiku! Aku sudah membuang semua, semua cinta kita, aku sudah menutup rapat rapat! Dan iya, aku menunggu surat ceraimu! Permisi! ingat, jangan ikuti dan dekati aku! aku sudah memberi peringatan!" Decak Claudia dengan menunjuk wajah Egnor dan juga lelehan air mata yang tidak bisa ia tahan. Dia pun pergi meninggalkan Egnor yang memegang sisi bibirnya dengan seringaiannya.
Semua kalimat Claudia terdengar perih merasuk dirinya. hatinya memanas. tidak mungkin wanita itu melupakan dirinya begitu saja dan bukan Egnor yang akan berhenti mengejar apa yang sudah ia inginkan. walau terdengar sangat sangat egois, dia tidak peduli. wanita itu hanya marah dan sakit hati padanya.
"Hebat! Kau hebat sekali Claudia Jovanca. Ke mana kau pergi, namamu akan seperti itu, Claudia Jovanca! Menarik! Sejak dulu kau selalu menarik!" Desis Egnor menghapus wine yang masih tertinggal di sisi bibirnya.
"Bibirnya masih sangat manis dan aku ingin melumatnyaa lagi dan lagi!" Tambah Egnor berbalik melanjutkan aksinya.
Claudia menuju ke toilet. Dia terbatuk di sana dan hendak mengeluarkan wine yang sempat tertegak olehnya namun tak ada gunanya. wine itu sudah ia minum. Egnor begitu mendominasi dirinya. dia akui sejak dulu dia tidak bisa menguatkan diri dari Egnor. semoga apa yang sudah menjadi tekadnya tidak akan melemahkan nya.
"Sial! Mengapa dia benar benar datang?! Keterlaluan pengacara tengik, aku tidak mau bertemu denganmu lagi, uhuk uhuk! Aku harus segera mempersiapkan diriku, besok pagi pagi sekali aku akan menemui Daddy Johanes dan pergi meninggalkan semuanya. Aku lelah! Pengacara keparat! Aku benci benci benci sekali padamu! Uhuk uhuk," keluh Claudia memegangi tenggorokannya. Dia harus kembali ke rumah Lisa. Dia tidak bisa mengikuti acara lagi.
Egnor benar benar ingin melemahkan dirinya. Kepalanya mulai pening dan tubuhnya mulai panas. Dia harus pergi dari sini dan membenamkan dirinya di rendaman air dingin. Dia juga harus beristirahat lebih lama untuk besok.
Namun terlambat ia lari dari tempat itu. Setelah keluar dari toilet, Egnor mengikutinya dan ketika Claudia hendak keluar melalui pintu belakang, tangan Egnor meraih pergelangan tangannya.
"Kau lagi?!" marah Claudia hendak menghempaskan tangan Egnor tapi sulit.
"Ikut aku!" Egnor menarik tangan Claudia.
__ADS_1
"Tidak mau! Lepas atau aku akan berteriak!" bantah Claudia meronta.
"Teriak saja, semua orang tahu kau istriku, percuma kau melakukannya!" balas Egnor tersenyum tipis.
Claudia terjebak. Dia harus melepaskan tangan suaminya dan melarikan diri. Kepalanya makin pening, dia tidak boleh dalam kungkungan Egnor maka dia akan terlena begitu saja. Dia harus melepaskan diri.
Akhirnya Claudia mencoba menggigit tangan Egnor tapi bagi Egnor hanya seperti gigitan Semut kecil. Egnor membiarkan apa yang ingin Claudia lakukan.
"Hem, gigitan mu semakin membuatku tak sabar untuk kembali merasakannya di dadaku, Claudia!" desis Egnor menyeringai.
"Gila! Lepaskan! LEPASKAN AKU EGNOR!" bentak Claudia mengeluarkan seluruh tenaganya sehingga dia berhasil membuat Egnor berhenti. Egnor menoleh ke belakang tapi belum melepaskan tangannya . tubuhnya malah memanas menginginkan Claudia lebih cepat.
"Lepaskan!" Kata Claudia lagi akhirnya berhasil menghempaskan tangan suaminya.
"Kau ini pria paling tidak jelas di dunia! Aku sekarang baru menyadarinya! Dan kuberitahu padamu bahwa aku MENYESAL SUDAH SANGAT MENCINTAIMU DAN TIDAK BISA MENGGANTINYA DENGAN YANG LAIN, AKU MENYESAL! Kau sakit, kau hanya terobsesi padaku, kau tidak mencintaiku! Sejak kau mengatakan cerai, sejak itu juga kau sudah menceraikan hatiku untukmu, jadi untuk apa kau kembali dan melakukan semua ini padaku untuk apa karena semua nya percuma! Aku tidak mau kembali bersamamu lagi, kau sudah menyakitiku! Maaf tuan pengacara, aku menyerah, aku tidak bisa menjalani cinta seperti ini, aku lelah dan tolong jangan menggangguku! Aku sudah merelakan anak anakku untukmu jadi sudah cukup kau membuatku menderita!" Pinta Claudia dan Egnor mendengar semuanya jelas.
Claudia sudah kecewa padanya. Namun, dia tidak bisa membiarkan Claudia. Hanya wanita ini yang ia inginkan. Claudia pun berbalik tapi sekali lagi Egnor meraih tangannya dan memeluknya. Dia mencium bibir Claudia kali ini dengan sangat lembut . Claudia diam dengan tangisnya.
"Aku minta maaf," ucap Egnor pelan. Claudia memeluknya satu kali dengan sangat erat. Ini pelukan terakhir pikirnya.
"Sudah, aku memaafkanmu, tapi aku tidak mau bersamamu, permisi," kata Claudia melepas pelukannya dan hendak pergi.
Egnor tidak terima dan tidak akan berhenti, kali ini dia menarik tangan Claudia lagi kembali berjalan ke arah mobil.
"Oh God! Mengapa kau tidak mengerti sekali, lepaskan aku! Mengapa kau tidak menghargai ku!" decak Claudia benar benar tak habis pikir.
"Aku menghargai, aku hanya ingin menurutimu, terakhir kali kau memancingku dan mengatakan satu hal yang memang belum pernah kita lakukan di sana. Aku terus membayangkannya!" saut Egnor masih dengan senyumnya.
"Aku tidak mau, aku menarik kata kata ku, lepaskan aku, lepaskan aku Egnor!" pinta Claudia terus menerus sambil terus memanggil nama Egnor tanpa embel embel 'kak!'
"Heng, panggil saja terus nama itu Clau! Panggil sesuka hati mu dan aku semakin mengetahui kalau kau tidak bisa lari dariku!" saut Egnor sesekali menoleh ke belakang.
Dan sampailah mereka di mobil Egnor. Egnor menbuka pintunya dan menggiring Claudia masuk ke bangku belakang. Claudia benar benar tidak bisa berontak lagi apalagi pengaruh wine semakin merasuk ke seluruh tubuhnya. Kini dia tak berdaya. Suaminya memang melakukannya dengan cepat dan gesit. Di tempat sesempit ini pun, pria itu bisa menikmati tubuhnya. Kali ini terasa sangat lembut. Claudia terbuai walau hatinya masih tetap akan meninggalkan pria yang sedang menciumi bibirnya. Kesalnya, Claudia membalasnya. selain karena wine sialan itu, Claudia juga memang merindukan sentuhan tangan pria ini. Apakah Claudia akan terhanyut atau tetap melepaskan diri?
Setelah semua itu, Claudia tetep meminta Egnor mengantar dirinya ke rumah Lisa.
"Kau harus menghargai ku kalau kau tetap ingin hubungan ini," kata Claudia berbohong karena dia menyadari tidak akan mudah terlepas dari Egnor dan obsesinya yang terlalu mendominasinya.
"Aku paham, besok aku akan kembali menjemputmu, kita makan siang!" saut Egnor mencoba mengerti dan bersabar.
"Hem!" Saut Claudia dingin dan hendak keluar dari sana tapi Egnor kembali menariknya dan mengecup pipinya.
"Selamat malam!" ucap Egnor tersenyum.
"Heng!" Claudia memalingkan wajahnya sebal dan masuk ke dalam rumah.
...
Keesokan harinya di siang hari, Egnor bersiap ke rumah Lisa hendak menjemput Claudia makan siang. Ini hari Minggu, Egnor bisa menikmati tidur dan apalagi dia sudah bertemu dengan Claudia. dia bisa mimpi indah.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Tanya Johanes.
"Membawa kembali menantumu," jawab Egnor sambil mengancingi tangan kemejanya.
"Dia sudah datang," saut Johanes datar.
"Di mana?"
"Pagi tadi untuk melihat anak anaknya dan ijin kepada kami," kata Johanes lagi menatap Egnor dengan cukup sinis.
"Ijin?" seketika hati Egnor meringis, seperti akan terjadi sesuatu yang akan menyakitkan hatinya.
"Ya, dia ijin pergi hendak mencari ibunya! Dia sudah lelah ada di sini! Dia lelah karena semakin hari seorang pria yang ada di hadapan ku yang tadi nya menjadi kebanggan bagiku malah menyakitinya sangat sangat mendalam. Padahal apa yang sudah ia korbankan padamu, nak? Semuanya! Tapi sudahlah, dia sudah pergi. membawa semua rasa sakit hati yang kau buat melebar di seluruh hidupnya bukan jangan hatinya. tapi, Percuma aku memberitahumu. PERCUMA, seperti yang kau katakan, Ini untukmu! Renungkan lah!" kata Johanes berdiri di hadapan anaknya dan memberi surat dari Claudia.
Egnor segera meraih dan membukanya dengan tangan yang sedikit bergetar.
Dear Kak Egnor,
Maafkan aku tidak bisa lagi menepati janjiku untuk makan siang bersamamu karena kau juga tidak menepati janjimu untuk selalu ada bersamaku dan membina kehidupan sampai maut memisahkan. Kau juga menipuku karena tidak jadi mempertemukan aku dan anak anakku. Darah dagingku yang kupertahankan ketika kau terdampar di pulau sana berharap kau masih hidup. Aku menunggumu dengan semua harapan yang entah terjadi atau tidak! Namun, ketika aku pergi, kau malah tidak mau menerimaku lagi. Aku sudah berusaha meluluhkan hatimu tapi sepertinya percuma. Ego dan bencimu pada Richard lebih besar dari cinta suci kita.
Maaf kak, aku menyerah. Jangan mencariku! Sejak dulu impianku hanya satu, memiliki keluarga yang utuh. Aku kira aku bisa mendapatkannya darimu sesuai sumpahmu tapi ternyata semua hanya kata kata. Biarkan aku hidup tenang bersama ibuku, keluargaku satu satunya! setidaknya aku tidak sendirian. aku mempunyai keluarga yang ternyata tidak kudapat darimu.
Titip salamku pada Wil Wil, katakan aku akan selalu mengingatnya menjadikan mereka kenangan terindah dari semua kebersamaan kita.
Mereka kenangan paling terindah yang kurasakan selama bersamamu. mungkin aku bisa melupakanmu, tapi aku tidak akan bisa melupakan Wil Wil, buah hati kita, buah cinta kita jadi kau tahu kesimpulan hatiku padamu! sudahlah, aku tetap harus pergi.
Terimakasih untuk semuanya kak. Semoga akan ada cinta yang lebih baik dariku. Aku merelakanmu bahagia tapi maafkan aku yang akan selalu mencintaimu karena hanya kau satu satunya yang kuinginkan. tetap menjadi baik di mata semua orang . jaga dan didik anak anak kita sebaik mungkin dan tetap menjadi pria pria yang rendah hati .
selamat tinggal kak,
Tuhan Memberkati ...
Cloudy ...
setetes air mata turun dari mata tajam itu membasahi surat putih dari istrinya.
...
oke tamat
Claudia dah pergi Yeay 😁😁
prankkkkiding 😋
.
next part 165
tangan gemeter 5 episod lagi 😅😅
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
thanks for read and i love you 💕