Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 103: Hug (Comeback)


__ADS_3

Claudia : "Sampai berapa lama aku menunggumu? Aku masih menunggumu, aku masih mengharapkanmu, sampai aku meminta maaf pada notebook yang kau berikan bahwa aku sendiri yang membuat perpisahan ini. Aku yang mengijinkan mereka akan mengebumikan dirimu. Cepat kembali jika kau masih mencintaiku dan menghapus segala ketakutan, kesedihan, dan kesepianku. Aku tidak mau sendiri. Aku ingin bersamamu, di dalam pelukanmu."


Egnor : "Aku kembali, honey. Setelah lamanya aku berusaha. Aku bertahan. Aku berjuang untukmu. Aku tertawa dan menangis dalam diam. Menyembunyikan diriku yang sebenarnya untuk melewati hari hari berat tanpamu. Aku menahan semua yang ingin kukatakan, ini terlalu sulit, tetapi kukuatkan tekad terus berharap bahwa aku bisa kembali kepadamu. Jangan meminta maaf, jangan khawatir lagi, jangan takut, dan jangan menangis lagi. Kau sangat berharga bagiku, Clau. Aku sudah disini, ceritakanlah semua masa masa berat tanpaku, aku akan mendengarkanmu, aku akan memelukmu, menggantikan hari tersulitmu, seluruh kerja kerasmu. Aku mencintaimu, Clau."


...


Hari itupun tiba ketika Gabriel memanjat sebuah pohon berbuah, ia melihat kapal laut dengan cerobong yang asapnya mengepul di udara. Sepertinya kapal tanker atau kapal pembawa minyak yang sedang melintas. Cepat cepat Gabriel turun dari pohon untuk memberi tahu tuannya.


"Tuan Egnor, akan ada ada kapal laut yang melintas. Seperti kapal pembawa minyak," kata Gabriel memberitahu apa yang ia lihat.


Seketika salah satu kru kapal mengingat sesuatu.


"Mungkin saja benar tuan, karena setau ku setiap dua minggu atau satu bulan sekali akan ada kapal tanker atau kapal pembawa barang yang melintasi laut pulau pulau kecil karna lebih cepat. Sebaiknya kita memberi tanda tanda sehingga mereka tahu kita disini," saut salah satu kru kapal penyelamat.


Secepatnya mereka semua membuat api unggun serta memetik helai batang daun kelapa untuk melambai lambaikan pada kapal tersebut. Untung saja salah satu awak kapal melihat. Mereka bingung mengapa di pulau Nikara ada penghuninya. Mereka pun segera menepikan kapalnya.


Setelah penjelasan singkat dari Egnor, mereka semua diijinkan naik ke kapal mereka. Namun, sayangnya, kapal ini harus mengantarkan minyak minyak ini ke negara sebelum Nederland. Mereka menyetujuinya asalkan mereka tidak lagi di pulau tak berpenghuni itu.


Sekitar empat hari mereka mengikuti kapal tanker tersebut dan akhirnya mereka pun sampai di pelabuhan Honolulu. Mereka semua sangat terkejut atas kepulangan beberapa orang tersebut. Mereka semua akan dilarikan ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum para keluarga mereka menjemputnya untuk pemeriksaan kesehatan selama terdampar.


Tepat pagi pagi sekali mereka sampai. Egnor dan Gabriel menghembuskan napas mereka dan tersenyum lega. Egnor ingin langsung pulang ke rumah tetapi mereka mengikuti saran petugas pelabuhan agar melakukan perawatan terlebih dahulu. Egnor menyetujuinya karna pasti mereka akan mengabarkan pada istrinya.


"Mereka semua selamat, hebat sekali! Tapi hari ini akan diadakan pemakaman Tuan Egnor, padahal dia masih hidup," kata seorang pegawai pelabuhan pada temannya.


"Pemakaman? Apa maksud kalian?!" Tanya Gabriel yang mendengar percakapan mereka.


"Semua mengira Tuan Egnor sudah tewas, tuan karena ditemukan seseorang mengenakan jas bertuliskan nama Tuan Egnor," jawab pegawai tersebut.


"Joe?" gumam Egnor lirih.


"Dan akhirnya, setelah empat hari yang lalu Nyonya Jovanca mengetahui Tuan Egnor meninggal, baru hari ini, nanti sekitar pukul 10 akan segera dimakamkan. Sepertinya Nyonya Jovanca tidak menerima dengan yang terjadi. Untung saja kau sudah kembali, Tuan Egnor," tambah sang pegawai.


"Tidak, ini salah paham Gabe!" Egnor menatap tajam Gabriel.


"Pinjamkan kami mobilmu cepat cepat!" pinta Egnor dengan tergesa.


"Hanya ada mini Van, tuan," kata sang pegawai.


"Tidak apa sini!" kata Gabriel mengulurkan telapak tangannya.


Gabriel segera menuju ke tempat mereka memarkirkan mobil Van nya. Gabriel pun mengemudikan sebuah mini Van untuk mengantar tuannya. Mereka harus segera meluruskan yang terjadi.


"Cepat masuk tuan!" Perintah Gabriel sudah berada di depan Egnor. Egnor segera memasuki mini Van tersebut.


"Pukul berapa ini, Gabe?" tanya Egnor.


"Delapan, tuan," jawab Gabriel.


"Cepat cepat! Gunakan jalan pintas untuk cepat sampai ke rumah duka pusat kota, Gabe!" perintah Egnor.


"Baik tuan!"


Gabriel segera membawa mini Van tersebut melalui jalan pintas yang ia ketahui. Namun, naas ketika berbelok, ada pengeboran jalanan untuk meletakan selang selang air yang besar besar. Jalan menjadi hanya satu arah. Egnor sudah kesal setengah mati. Mereka harus menunggu giliran mereka sementara mereka tidak bisa menyelip atau mendahului karna mobil yang Gabriel bawa cukup besar untuk kalangan mobil pribadi. Begitu juga jika berbalik sudah tidak bisa lagi. Mereka hanya dapat menunggu.


Satu jam telah berlalu. Mereka masih ada di sekitar jalanan itu. Traffic jamnya terlalu panjang.


"Bagaimana ini tuan? Sudahlah tidak apa apa, tuan, yang terpenting kan dirimu yang sebenarnya tidak meninggal," kata Gabriel menenangkan tuannya.


"Tidak bisa begitu Gabe! Aku harus membuat semua orang tahu kalau aku masih hidup. Dan, bagaimana jika istriku belum melahirkan? Jika dia terlalu frustasi? Ini tidak benar!! Aku harus segera kesana!" Decak Egnor berusaha berpikir. Dia tahu jalan ini. Ketika di depan jalan sana akan ada taxi yang berkumpul tepat di depan Apartemen Dimitri.


"Gabe! Kau tunggu saja mini Van ini, aku akan berlari sampai depan jalan sana dan menaiki taxi," akhirnya Egnor memutuskan.


"Tapi tuan, ini sangat jauh,"

__ADS_1


"Tidak apa, kau tenang saja! Kau langsung saja ke apartemenku ya," kata Egnor menepuk pelan bahu Gabriel.


"Ba ba baik tuan,"


Egnor pun menuruni Van tersebut dan berlari sampai ke depan jalan sana. Dia harus menjelaskan dan menenangkan hati istrinya. Dia sangat yakin, istrinya pasti benar benar memikirkan dan mengkhawatirkannya karna baru berniat memakamkan jenasah yang bukan dirinya itu setelah empat hari mengetahui dirinya meninggal. Itu bukan Egnor tapi Claudia sudah sangat bersedih. Apalagi jika benar benar Egnor. Egnor sudah membayangkan bagaimana rasa sesak istrinya yang menunggunya sudah sampai satu bulan setengah lamanya. Sementara dirinya juga terus merindukan Claudia di pulau itu.


Egnor juga harus menjelaskan apa yang terjadi mengenai jas dan juga Joe. Semua keluarga Joe dan tunangan Joe harus mengetahui kalau itu adalah jasad Joe, bukan dirinya.


Egnor sudah tiba di depan apartemen Dimitri. Napasnya tentu tersenggal tak karuan. Dia lelah dan kepalanya menjadi pening. Pagi ini setelah turun dari kapal tanker tersebut, dia dan Gabriel langsung pergi. Tidak sempat menyantap makanan yang disediakan kantor pelabuhan. Egnor tetap bertahan. Dia harus bertemu dengan istrinya saat ini juga.


Ketika baru saja dia hendak menyebrang, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.


"Tuan Egnor, ayo kuantar!" Kata seorang wanita di dalam mobil.


"Della?" Pekik Egnor mengerutkan dahinya. Mau apa lagi pikirnya. Egnor sudah berusaha terus menjauh tapi tetap saja melihat wanita ini.


"Aku temanmu, tuan, jangan khawatir. Naiklah! Kalau kau menaiki taxi, akan memakan waktu lama. Ayo dengan mobil ini! 15 menit!" Della memaksa.


Egnor menarik napas. Ya, mobil pribadi akan lebih cepat dari pada taxi. Mungkin Della mengetahui celah celah jalan tercepat. Egnor akhirnya menyetujuinya.


"Mengapa kau bisa mendapatkan mobil?" tanya Egnor sedikit curiga.


"Keluarga Hakim Bendeict segera menjemputnya dengan mobil ini dan beliau mencarimu, tetapi seorang karyawan pelabuhan mengatakan dirimu pergi dengan Van hendak ke rumah duka karena semua orang sudah menganggapmu tiada. Hakim Benedict langsung menyuruhku menyusulmu, tak disangka menemukanmu di sini," jawab Della sambil mengemudikan mobilnya.


"Kau tidak mengikutiku?" selidik Egnor menatap tajam Della masih curiga.


"Tidak, kau tenang saja. Hakim Benedict juga menyuruhku ikut menjelaskan apa yang terjadi di pulau itu," saut Della tersenyum.


"Tidak perlu! Cukup aku saja!" balas Egnor kini menatap keluar jalan.


"It's oke," Della tersenyum.


Della sudah cukup senang bisa bersama Egnor. Dia tersenyum sedikit menyeringai. Entah apa yang dia akan lakukan nanti atau hari selanjutnya. Egnor dan istrinya cukup menantikannya saja.


Akhirnya merekapun tiba. Pukul sepuluh lebih beberapa menit. Egnor tidak mengucapkan apa apa karena dia sudah sangat merindukan istrinya. Dia ingin menemui dan memeluknya. Dia segera turun dari mobil Della. Della pun juga turun setelah mengunci semua mobil dan mengikuti Egnor.


Egnor berlari dengan cukup gontai. Kepalanya kembali pening dan perutnya sakit. Belum lagi Luka goresan yang menyelimuti hampir disekujur tubuhnya. Dia sempat terjatuh ketika menaiki beberapa anak tangga kecil untuk masuk ke rumah duka itu. Della segera meraihnya dan membantunya kembali berdiri.


"Thanks!" Ucap Egnor langsung melepaskan diri dari Della dan kembali berjalan memasuki rumah duka.


Della mengerutkan wajahnya sebal. Mengapa sebegitunya, sampai Egnor tidak mau bersentuhan dengannya. Della mengabarkan dirinya. Dia pasti akan mendapatkan Egnor. Begitulah tekad yang entah mudah terjadi atau tidak.


Tampaknya semua orang masih ada di dalam rumah duka. Egnor sudah hampir memasuki ruangan yang bertuliskan namanya. Dia sudah melihat tanpa bertanya pada siapapun. Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka. Egnor semakin mempercepat langkahnya.


Dan, akhirnya di sana. Dia melihat pujaan hatinya. Wanita yang telah ia rindukan selama ini. Wanita yang selalu ada dalam mimpi serta batinnya. Berkomunikasi dalam angan angan dan bayangan semu dan kini dia bisa melihatnya. Dari belakang saja, Egnor sudah sudah sangat senang melihatnya. Pandangan Egnor teralihkan ketika peti jenasah itu hendak diangkat.


"TUNGGUUU!!! JANGAN DIBAWA DULU PETI JENASAH ITU!" Teriak Egnor dengan napas nya yang masih tak beraturan. Jantungnya berdebar karena melihat istrinya akhirnya ada didepannya yang kini sedang memandangnya penuh tanda tanya.


Claudia dan Viena memandang pria itu. Ada rasa takut, khawatir tetapi juga senang. Mereka semua yang di sana juga sangat terkejut. Suara riuh serta bisikan mulai bersautan.


"Itu Tuan Egnor, lalu siapa yang di peti?"


"Egnor? Itu benar Egnor?"


Sementara Claudia melepaskan diri dari Viena. Dia tidak salah dan berangan angan. Suaminya. Ya, suaminya masih hidup. Dia memang masih yakin kalau suaminya masih bernapas dan berjuang untuknya. Suaminya, Egnor pasti akan menepati janjinya.


Claudia kini berjalan perlahan untuk memastikan kalau semua ini bukan bayangan atau komunikasi batinnya. Egnor juga berjalan. Dia tersenyum mendekati istrinya. Deraian air mata telah menghiasi wajah Claudia. Claudia mengulurkan kedua tangannya menghampiri Egnor. Egnor meraih tangan kecil itu dan menariknya perlahan. Egnor memeluk tubuh istrinya begitu juga Claudia yang mendekapnya sambil mengecupi setiap sisi dada maupun tangan Egnor tanpa bersuara. Mereka berdua benar benar menikmati perjumpaan ini. Rasa rindu, sedih, khawatir bercampur menjadi satu.


"Kak Egnor, kau jahat sekali, kau jahat! Kau meninggalkanku selama ini Kak!" Pecahlah tangis Claudia. Dia merutuki suaminya sambil terus merasakan tubuh kekar ini. Akhirnya apa yang menjadi keyakinannya terwujud bahwa Tuhan masih mengijinkan mereka bersama untuk merajut cinta dan kasih bersama anak anak mereka.


Egnor menggeleng mendengar rintihan hati istirnya. Sejatinya dia juga merindukan sosok wanita yang ternyata masih mengandung anaknya. Istrinya berhasil melewati masa masa sulit tanpanya. Tidak perlu alasan lagi mengapa dirinya begitu mencintai Claudia.


Claudia sedikit menarik dirinya. Dia hendak memperhatikan sekali lagi suaminya. Claudia meraih pipi Egnor. Betapa peluh dan sakit yang pasti dirasakan suaminya. Claudia merasa dirinya juga terasa sakit. Claudia mengelus pipi Egnor dan Egnor tak berhenti memandang mata sang istri.

__ADS_1


"Kau begitu lelah kak. Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sungguh merindukanmu kak. Aku benar benar mengkhawatirkanmu. Aku takut membayangkan hari hari tanpamu. Aku terlalu lemah kak. Aku minta maaf," kata Claudia lirih.


"Tidak, Clau! Kau tidak usah meminta maaf, aku sudah di sini, aku kembali, aku akan memelukmu terus menerus more and again. Kau sudah menulis di notebook yang kuberikan kan?" ujar Egnor juga mengelus pipi istrinya.


Claudia mengangguk tersenyum haru bercampur tetes air mata. Egnor meraihnya dan menghapus air mata itu.


"Saatnya aku memenuhi kembali hatimu yang kosong selama ketidak hadiran ku di hari harimu," bisik Egnor menempelkan dahinya pada dahi Claudia. Claudia hanya bisa mengangguk. Melihat dan merasakan kembali keberadaan suaminya dalam sentuhannya saja sudah membuatnya sangat sangat bahagia.


Egnor lalu mengarahkan tangannya pada perut Claudia. Dia juga merindukan anaknya.


"Kau belum melahirkan kan, Clau?" tanya Egnor basa basi.


"Hem, kau memang lupa usia kandunganku. Aku masih berharap akan melahirkan ditemani olehmu, kak. Aku ingin selalu bersamamu sampai menyaksikan kedua anak kita lahir, aku ingin ada dirimu di sampingku," kata Claudia tanpa melepas pandangannya pada suaminya.


Egnor lalu setengah berlutut. Dia memegang dan mencium perut Claudia. Claudia begitu bahagia dan memeluk kepala Egnor. Mereka yang di sana ikut terharu dengan keajaiban ini. Viena dan Grace sudah menangis di dalam rangkulan suami suami mereka. Lisa sudah menunduk menutupi tangisnya. Richard yang sebenarnya masih bersih tegang dengan Lisa ada di sampingnya tetap merangkul wanita itu.


"Twins, i miss you, " ucap Egnor mengecup perut Claudia dan memejamkan matanya. Claudia terus meneteskan air matanya merasakan tubuh pria ini. Ingin sekali cepat cepat ia membawanya ke apartemen mereka dan melayani suaminya.


Ketika sudah semuanya tercurah walaupun Egnor belum sempat mengatakan siapa jenasah itu, Egnor sudah lega kalau dirinya sudah terlihat. Dan sepertinya dia sudah tidak sanggup. Dia tetap manusia biasa. Raganya menahan seluruh kelelahan di waktu satu bulan setengah ini tanpa asupan dan istirahat yang baik. Egnor pun tersungkur tak sadarkan diri di bawah kaki Claudia.


Claudia menutup mulutnya begitu terkejut. Semua nya pun panik dan hendak menghampiri Egnor.


"Kak Egnor ... Lisa, cepat periksa suamiku Lisa, CEPAAT!!!" Pinta Claudia dan meraih tubuh suaminya tetapi tak lama kemudian, Della datang dan ikut meraih Egnor.


"Tuan Egnor? Sudah ku katakan ke rumah sakit dulu, ayo nyonya biar kubantu," kata Della juga pada Claudia.


"Kau? Kau siapa? Kau bersama suamiku?" selidik Claudia merasa aneh terhadap Della yang tampaknya sudah terbiasa dengan Egnor.


"Ya, sejak di pulau kami selalu bersama," ujar Della tersenyum lalu meraih tubuh Egnor agar bersandar padanya. Claudia sedikit tersentak tetapi dia kembali menarik suaminya.


"Aku saja, aku istrinya!" Kata Claudia mengukuhkan Egnor dan mendekapnya lebih erat lagi.


...


...


...


...


...


mantab Clau! Jan kasih kendor lagi Clau, krangkeng Clau gantian 😅😅


.


next part 104


apa yang akan dilakukan Della pada kehidupan rumah tangga Egnor dan Claudia?


apa yang akan dilakukan Claudia pada Della?


Daan, saatnya dirimu beraksi Tuan Egnor Victor Jovanca, Nyawa Joe dan Gonzaga dan masih banyak lagi sudah menjadi taruhannya sir? 😎😎


jeng jeng jeng ...


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2