
Inginnya menjadi satu tapi jika rasa tak bisa bertemu di satu titik maka akan ada persimpangan persimpangan yang suatu saat nanti pasti menemukan sebuah jalan yang besar dan utuh, tanpa krikil, belokan dan tanjakan atau turunan terjal. Egnor dan Claudia hanya membutuhkan waktu. waktu untuk saling menerima satu sama lain. apakah mereka akan berpisah atau tarik mengulur satu sama lain? sanggupkah Claudia menghadapi lagi aura dingin dari seorang Egnor?
...
Brak!
Viena membuka pintu ruangan Egnor dengan sangat kasar. Egnor hanya melirik siapa yang melakukannya. Egnor duduk di sana dengan memijat dahinya
"Dion! Ada apa dengan istrimu?" Tanya Egnor seperti orang baru saja meminum wine.
"Kenapa kau tidak pulang kak?" Tanya Dion pelan sambil mengelus lengan Viena agar tetap tenang.
"Aku pulang atau tidak pulang atau pergi selamanya bukan urusan kalian," celetuk Egnor masih dalam duduknya.
"Apa karena kau tahu kalau Kak Claudia sudah kembali dan hendak menemuimu?" selidik Viena mengerutkan dahinya.
"Hemm!!!" saut Egnor dengan wajah tenang.
"Mengapa kau sejahat itu kak?! Dia merindukanmu! Dia menunggu mu sampia dia tidak tidur!" bentak Viena tak menyangka kakaknya akan kekanak Kanakan seperti ini.
Egnor terdiam dan hanya memandang meja kerjanya.
"Lebih baik sekarang kau pulang ke apartemen kalian dan selesaikan masalah kalian!" kata Viena lagi.
"AKU TIDAK MAU KEMBALI KALAU DIA ADA DI SANA!" Pekik Egnor mendongakan kepalanya.
"Tapi dia istri dan anak anakmu kak!" seru Viena hampir menangis. dia tahu apa yang dirasakan kakak iparnya.
"Lalu apa? Apa peduli dia padaku? Tidak! aku akan tetap di sini! Kau tidak usah mengurusi rumah tangga kami. sekarang terserah padanya, apa yang ia ingin lakukan! TERSERAH!" decak Egnor dengan Rahang yang menegang.
"Dia bersama anak anakmu kak, kau jangan seperti anak kecil begini!" tutur Viena kini sudah melembut.
"Lalu kau mau seperti apa? Tinggalkan anak anakku, dia bisa bebas pergi kemanapun! Aku di sini saja, apartemen itu untuknya saja!" saut Egnor.
"Sekarang pertanyaannya, apa maksudmu tidak mau menemuinya dan marah padanya? Dia hanya melindungi diri kak!!" kata Viena lagi mencoba membantu mengatakan apa isi hati Claudia.
"Tidak harus dengan Richard atau sampai tidak memberi kabar! Terserah apa yang Kalian pikiran tentangku aku tidak peduli. Aku tidak hidup dari kalian! Kalau kau ingin ceramah terus Viena, kau kembali saja ke Legacy. Terimakasih atas bantuan kalian," balas Egnor benar benar mengeraskan kepalanya.
"Tuan, Claudia di sini bersama Emma dan si kembar hendak menemuimu!" Sela Frank tiba tiba memasuki ruangan. Claudia dan Emma masih di luar.
Seketika Egnor langsung beranjak. Biar bagaimana pun, sebenarnya dia merindukan ketiga orang itu. Tidak bisa diukur oleh apapun. Namun, ketika rasa sakitnya dan frustasinya ia tidak menemukan Claudia membuatnya mengikis rindu itu. Egnor berdiri dan menolak pinggang.
"Suruh masuk, Frank!" Kata Viena mewakili kakaknya. Tampak Dion hanya diam mengusap dahinya dan duduk di sofa bersama Leon. Leon juga tidak bisa bertindak apa apa.
"Viena! Apa apaan kau? Ini ruang kerja ku!" bantah Egnor yang entah mengapa dia mengatakan ini.
"Kau kakakku, jadi ini juga ruanganku!" saut Viena sekenanya. Dion dan Leon sudah berdiri meminggir di dekat sofa. mereka bingung harus berada di pihak mana.
Tak lama Claudia masuk ke dalam ruangan menggendong Wilson sedangkan Emma yang menggendong Willy.
"Egnor," panggil Claudia lirih. Dengan tatapan sendu dan wajah agak memelas.
Deg!
Rasanya Egnor hendak ingin langsung menghampiri dan memeluk wanita itu tapi dia tetap pada pendiriannya tidak mau melakukan itu. Dia ingin Claudia merasakan apa yang ia rasakan. Meskipun panggilan Claudia menggugah hatinya.
"Kalau kau tidak merindukanku atau masih marah padaku, tapi jangan libatkan anak kita, lihatlah mereka sebentar, aku menunggumu di apartemen dengan maksud agar kau melihat anak anak kita," kata Claudia sudah meneteskan air matanya. Dia tidak kuat dengan sikap dingin suaminya.
Hati Egnor berdesir. Dia memang merindukan anak anak nya dan sepertinya ini saatnya dia mengambil kewajiban Wil Wil dari Claudia. Dia juga harus bersama anak anaknya. Egnor pun berjalan maju mendekati Claudia perlahan lahan. Claudia cukup lega melihat respon suaminya dan semoga Egnor juga bisa memaafkannya.
Egnor terus berjalan dan akhirnya tiba di hadapan Claudia dan Wilson. Wilson langsung melirik pria di depannya. Wilson sudah berusia lima bulan. Egnor langsung luluh seketika melihat mata bulat dan hitam itu. Mirip sekali seperti Claudia.
"Wilson, ini Daddy," kata Claudia.
__ADS_1
"Daddy!" Kata Wilson seketika dengan cukup jelas karena memang hanya kata itu yang Wilson bisa ketimbang Willy yang bisa banyak kata walau tidak begitu jelas.
Lagi lagi jantung Egnor berdebar. Matanya berkaca kaca. Bukan hanya dia. Semua orang yang ada di sana ikut terharu dibuat Wilson. Lebih tepatnya pertemuan ayah dan anak.
Egnor tak kuasa. Dia lalu meraih Wilson dari Claudia. Claudia tentu saja menyerahkannya.
"Katakan sekali lagi, kau memanggilku apa? Daddy?" pinta Egnor menatap penuh arti pada anaknya.
"Daddy!" Kembali Wilson menyerukan mengikuti ayahnya.
"Yes, i'm your Daddy!" Kata Egnor lagi dan berbalik masih tidak mempedulikan Claudia.
"Kak?" Panggil Claudia.
Egnor setengah menoleh tapi menatap Claudia dengan sangat tajam.
"Viena, ambil Willy dari Emma!" perintah Egnor kemudian pada Viena.
Seketika semua orang membelalakan matanya mendengar perintah Egnor pada Viena. Viena meliriknya tajam.
"Kenapa? Biarkan Willy di sini bersama Emma dan Claudia!" saut Viena tegas.
"Dengan Emma saja, tapi ambil saja dulu!" kata Egnor lagi tidak kalah tegas dari adiknya.
"Kak, ada apa denganmu?" tanya Claudia menyentuh sisi lengan Egnor.
Egnor reflek menghempaskan pelan tangan Claudia yang memegang lengannya.
"Viena! Ambil!" Kata Egnor lagi menatap taja. Viena.
"Tidak mau! Aku tahu kau mau melakukan sesuatu yang tak masuk akal!" bantah Viena juga tidak peduli pada perkataan kakaknya.
"Lina! Ambil Willy!" perintah Egnor ke Lina.
Lina bingung. Dia juga sepemikiran dengan Viena.
"Kak! Ada apa denganmu! Kau marah padaku karena semua ini? Karena aku tidak ada kabar dan pergi bersama Richard? Aku juga pergi bersama Emma, Kevin dan Lisa kak, kami tidak ada hubungan apa apa," ujar Claudia merasa perlu diberitahu saat ini juga dan secara terus menerus.
"Benar tuan, aku yang menjadi saksinya, nyonya Claudia malah terus memikirkanmu! dia sampai meminum ..." tambah Emma tapi Egnor lebih cepat memotong.
"Siapa yang suruh kau bicara?! Aku yang menyewamu! Sebaiknya kau diam!" decak Egnor menatap tajam Emma.
Emma menundukan kepalanya.
"Lina! Cepat ambil, kau mau kupecat?!" perintah Egnor lagi.
"I i i ya tuan! Maafkan aku Nyonya Clau," kata Lina dan meraih Willy dari Emma. Emma tidak bisa berbuat apa apa. Rasa rasanya suara Egnor sangat mendominasi dan tidak ada siapapun yang berani menentangnya.
"Hem, tuan Dion kau tidak menyadarkan kakak iparmu?" bisik Frank mengingat waktu itu Dion berani melakukannya. namun, semua karena Egnor agak berbuat kasar pada Viena.
"Dia sedang dalam keadaan fit, Frank! dia baru saja membuat kepala mafia kewalahan, lagi pula Masa kau tidak lihat dia menggendong Wilson?" balas Dion yang tidak tahu harus di posisi mana. sebaiknya dia diam saja bersama Leon.
"Frank, suruh nyonya Claudia Jovanca keluar dari ruangan ini. Buat dia mengerti namanya adalah Claudia Jovanca bukan Claudia Gabriane!" perintah Egnor lagi kini kepada Frank.
Hati Claudia benar benar bergetar perih dan sangat menyakitkan dengan sindiran halus itu. matanya makin melebar dengan air yang menghiasinya.
"Kak Egnorrrr ....!!! Mengapa kau tidak mempercayaiku?? Kau jahat sekali kak!!!" pekik Claudia sudah tak sanggup membendung air mata.
Egnor kembali menghadap ke Claudia dan menatapnya dengan sangat tajam.
"Keluar! Aku tidak tahu apa arti jahat kalau pergi tanpa kabar, tanpa pemberitahuan sedikitpun! Sementara aku suamimu! Kau tanggung jawabku! Terserah apa yang ingin kalian semua pikirkan tentangku! Aku sangat tidak suka mencari, apalagi dalam waktu bertahun tahun! Ingat bertahun tahun !! Tapi ternyata sangat sulit belajar dari pengalaman!" sindir Egnor lagi berdesis dan lebih menyakitkan dari sebuah teriakan.
"Kak! Mereka hendak membunuh anak anakmu! Mereka mau menculikku! Bagaimana kalau tadinya Richard tidak menyelamatkanku? Bagaimana??" Claudia masih menjelaskan.
__ADS_1
"Ya ya, dia memang penyelamatmu, sejak dulu kan? Aku sudah tahu! Tidak menutup kemungkinan dia bisa menyukai Lisa dan dirimu lagi, tidak ingat korbannya sudah ke surga?" Egnor terus berdecih menyauti pembelaan diri Claudia.
"Kak Egnor! Kau keterlaluan!" bentak Claudia dengan tetes air mata yang menderai deras.
"Diam! Pergi! Aku sudah terbiasa tidak ada mu. Berjuang sendiri mencari kekuatan dan kini kau datang tiba tiba lalu aku bisa menerima semuanya? Kau pikir saja kalau kau ada di posisiku! Oh tapi tidak, tidak perlu. Kau tidak perlu tahu bagaimana pengorbananku karena yang akan menjadi penyelamat dan menjadi orang baik baik serta bermartabat hanyalah Ricardo Gabriane!" desis Egnor lagi. dia tidak membentak karena sedang menggendong Wilson. meski begitu, walau suara itu pelan tapi maksud kata kata di dalamnya sungguh membuat hancur Claudia.
"Kak Egnor! Mengapa kau keras kepala sekali? Bagaimana kalau tadinya kak Clau tidak mengikuti Richard?" bentak Viena yang ikut kesal dengan setiap sindiran halus kakaknya.
"Viena, kau tidak berhak bicara, itu urusan dia, ia wanita hebat seharusnya dia tahu apa yang ia lakukan. sudah sudah! Masih bagus kalian menonton debat suami istri secara gratis! Frank, suruh wanita itu keluar, aku ingin bermain bersama Wilson dan Willy!" Egnor berseru lagi dengang tatapannya ke setiap orang yang ada di situ.
Claudia hanya bisa menundukan kepala dan menangis. Frank menggiring Claudia. Viena juga mengikuti kakak iparnya itu.
Egnor setengah menoleh dan menarik napas.
'Kalau kau masih mencintaiku, kau tidak akan menyerah Clau!' gumam Egnor dalam hati. dia pun menuju ke ruang peristirahatan nya semaentara Lina masih menggendong Willy yang sedang tertidur.
Dion menoleh ke arah Leon yang ikut merasakan kesedihan di antara keduanya. dia juga tahu bagaimana rasanya ketika Lexa tidak ada kabar waktu itu padahal hanya beberapa hari.
"Leon! Kau melankolis sekali! Dua atau tiga hari lagi mereka akan berbaikan, kau tenang saja. Permainan seorang budak cinta memang begitu, seperti kau tidak saja," bisik Dion menyadarkan Leon.
"Aku juga merasa seperti itu tuan, Tuan Egnor masih melihat kepergian Nyonya Claudia," gumam Leon pelan.
"Jangan beritahu istrimu!"
"Aku paham,"
...
Frank membawa Claudia ke ruangannya untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Dia masih menangis dengan air mata yang berlinang. Mengapa suaminya tidak mempercayainya? Sekarang dia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Kak, kau tenang ya, kak Egnor hanya lelah, dia baru saja menyelesaikan semuanya," kata Viena sambil mengelus pundak Claudia.
"Hem, Clau, percayalah dia masih mencintaimu. Dia hanya takut kejadian sama selamam bertahun tahun terulang lagi. Menurutku ini bukan hanya karena Tuan Richard tapi karena tidak ada kabar. Dia sedang menanggung semuanya Clau. Dia hampir menyerah, tapi karena ada kau dan Wil Wil, dia tidak takut. Dia mau menghadapinya sedikit demi sedikit. Sebenarnya sewaktu kau tinggal di mansion hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya jadi kaalu saja Tuan Richard tidak mencarimu, kau akan aman di sana," kata Frank dengan sangat pelan memberitahu Claudia kejadian yang sebenarnya.
"Memang setelah Richard datang semua itu terjadi, tapi Frank ..." kata Claudia mencoba membela diri.
"Sabar kak ... Em, dia memang sangat keras kepala, kau mengerti kan? Kau tahu kan bagaimana sifatnya?" saut Viena berusaha netral.
Claudia mengangguk.
"Sudahlah Clau, kalau sekarang kau memaksa bicara padanya akan sulit. Dia akan menjawab semua penjelasanmu dan itu tidak berguna baginya. Menurutku kau setiap hari saja datang kemari kembali mengambil hatinya perlahan. Seperti waktu itu," kata Frank memberi saran.
"Kalau dia terus menolak bagaimana?" suara Claudia tampak sesenggukan.
"Dia merindukanmu kak, percaya padaku! Dari matanya tidak bisa dibohongi! Dia juga frustasi ketika kau tidak ada kabar kak! Kalau bukan Daddy yang memberinya nasihat, mungkin ketika kau kembali kemari Bruce dan lainnya masih berkuasa," ujar Viena kini mengusap punggung Claudia.
Claudia seketika menoleh mendengar suaminya frustasi.
"Nyonya Viena benar Clau. Tuan Egnor mengunci diri di apartemen karena tidak ada lagi bintang yang bisa ia lihat. Tidak ada lagi cahaya dalam hidupnya," tambah Frank memberitahu kondisi Egnor selama Claudia tidak ada.
Claudia menutup wajahnya dan menunduk.
"Sudahlah kak, sekarang kita kembali ke apartemen ya?" kata Viena lagi.
"Bagaimana anak anak Viena?" Claudia juga memikirkan Wil Wil.
"Biarkan mereka bersama Daddy nya. Mana tahu setelah bermain bersama anak anaknya dia mau kembali ke apartemen. Oke?"
Claudia hanya bisa mengangguk. Dia masih ingin bertemu suaminya. Dia benar benar rindu. Claudia dan Viena pun kembali ke apartemen sementara Frank melaporkan tentang kondisi Claudia pada Egnor.
...
lanjut di bawah ya
__ADS_1
tetap LIKE dan KOMEN part ini ya
thanks for read and i love you 💕💕