
Pada kenyataannya, darah yang sudah menyatu tidak bisa dipisahkan bagaimana pun caranya. Mungkin bisa membedakan, tapi untuk dipisahkan rasanya membutuhkan waktu yang sangat panjang, jadi lebih baik jangan dipisahkan, hanya membuang bunag waktu. Ya, jika sudah nyaman Claudia akan kembali, tetapi kapan tidak ada yang tahu. Tugas Egnor hanya terus mencari, menemukan, meminta maaf dan berusaha menyeimbangkan dirinya dengan semua kekuatan istrinya.
...
Egnor menerobos beberapa orang yang menghalanginya mendapatkan wanita ber Coat hitam itu. Dia sedikit berlarian kecil karna wanita itu juga sangat cepat. Seperti sedang terburu buru. Egnor tak menyerah dan terus memusatkan pandangannya pada wanita itu. Wanita itu berjalan keluar departemen store dan berhenti di lobby luar untuk menunggu taxi. Egnor baru saja berbelok dan melihat lagi wanita itu di luar. Dengan senyum merekah, Egnor kembali berlarian kecil di tengah perutnya yang semakin keroncongan.
Wanita itu masih di sana sambil melihat lihat jam tangan. Egnor menghampirinya dan akhirnya dia bisa memegang tangan yang ia anggap istrinya.
"Claudia, sayang .." panggil Egnor pelan.
Si wanita berbalik dan dia memang memegang pizza. Dia juga cukup cantik dan tinggi badannya se Claudia. Namun dia tidak hamil. Perutnya sangat rata dan wajah Egnor seketika kembali dingin seperti lautan es.
"Siapa? Ada apa Tuan? Kau berbicara padaku?" Kata wanita itu yang tampaknya agak terkejut di pegang oleh sebuah tangan kekar berwajah maskulin seperti Egnor.
Ketika sudah mengetahui bukan istrinya, dia sudah melepaskan tangannya dari lengan si wanita.
"Aku salah orang!" Kata Egnor dan ia kembali frustasi. Dia mengusap dahinya dan merutuki dirinya. Mengapa menjadi sesulit ini?!
"Tuan, kau salah orang? Kau mencari siapa? Mungkin aku bisa membantu?" Tanya si wanita yang agak terpesona dengan wajah Egnor yang walau lelah tetap tampan malah semakin menggemaskan para kaum hawa.
"Departemen store mana yang menyediakan bahan bahan makanan lengkap dan memiliki potongan harga besar besaran?" Entah mengapa Egnor malah menanyakan itu. Dia sangat tahu apa yang selalu diincar istrinya. Dia menyadari departemen store yang pertama ia tuju tidak begitu ramai karna hanya ada kedai kedai makanan atau minuman. Pasar swalayannya agak sepi.
"Oh, tentu di pusat kota Tuan. Departemen Store Oriental City. Di sana sayur dan buah buahannya selalu baru dan kalau kau pergi sebelum pukul dua belas, kau akan mendapatkan potongan harga." Jawab si wanita itu dan hanya mengucapkan thanks, Egnor berbalik dan menuju ke basement parkirnya. Dia berlari agar bisa sampai sebelum pukul dua belas siang karna waktu sudah menunjukan pukul sebelas. Egnor tidak mau meninggalkan kesempatan. Dia sangat yakin kali ini. Kata kata wanit situ seperti petunjuk dari yang kuasa atau dari ibunya.
Sementara dari arah kejuhan, empat pasang mata itu terus mengikuti Egnor. Mereka tidak bisa diam saja. Mereka juga harus tahu dan membantu Egnor.
Sampai ketika Egnor membuka pintu mobil kemudinya, di saat itulah salah satu pasang mata itu juga masuk ke bangku depan penumpang. Egnor menoleh tajam pada orang itu. Frank. Ya, dia Frank. Frank pun membuka kaca mata hitamnya.
"Aku yang mengemudi apa kau Tuan?" Tanya Frank menaik turunkan alisnya.
"Apa apa an kau? Kau mengikutiku?!" Decak Egnor tak suka. Wajahnya benar benar geram dan memanas.
Frank mengangguk tersenyum sambil menggigit salah satu ujung tangkai kaca matanya.
"Turun! Aku bisa sendiri!" Perintah Egnor datar dan menatap ke depan.
"Tidak mau! Aku harus menjaga mu! Grace menangis terus terusan memikirkan mu yang belum makan! Makan ini, kalau kau sakit tidak bisa mencari Claudia!" Balas Frank yang malah melemparkan sebuah roti bulat berisi coklat di dudukan Egnor.
"Kau sedang bermain main atau apa?! Cepat keluar atau kau ku pecat!" Egnor makin melebarkan matanya.
"Pecat saja! Aku sudah menjadi pengacara nomor dua dan bisa membangun kantor pengacaraku sendiri dan akan kutulis rekomendasi Tuan Jovanca atau aku bisa menggunakan nama kantor pengacaraku sehingga mereka tetap yakin aku anak buah mu , HAHAHAHA!!" Saut Frank seenaknya dan dengan sangat yakin. Dia sudah bosan dengan semua ancaman main main dari tuannya itu.
"Frank, kau keterlaluan! Aku harus cepat tidak ada waktu bercanda, cepat turun!" teriak Egnor sampai rasanya matanya hendak keluar.
__ADS_1
"Tuan, aku hanya duduk di sini mengapa jadi sangat menganggu hah? Bukannya kau harus cepat, yasudah cepat lahap roti itu dan kita pergi, sebelum jam 12 kan? Ini sudah pukul 11 lewat lima menit, yang kutahu di ujung sana traffic jam , aku baru saja melihat GPS." kata Frank benar benar santai dan tenang. tuannya sudah lemah pasti tidak akan menghabisinya.
"Sial! Ini semua demi Claudia, kalau tidak aku sudah menghabisimu!" Decak Egnor dan membuka satu bungkus roti itu. Dia memang sangat lapar ditambah kekesalannya dengan Frank.
"Kau yang mengemudi! Enak saja aku yang menyupirimu!" Decak Egnor lagi sambil memakan rotinya dia keluar dan memutar menuju ke kursi penumpang. Frank hanya tersenyum, rencananya berhasil. Di kejauhan sana juga 3 pasang mata tersenyum dan bersiap mengikuti Frank dan Egnor.
Frank mengemudikan mobilnya dengan sangat lihai. Berbeda dengan Egnor. Egnor lebih sering disupiri sejak menjadi bos besar. Sedangkan Frank bergantian dengan Joe mengemudikan mobil membawa tuannya. Sebenarnya apa peran Frank? Sebentar menjadi wakil Egnor, sebentar menjadi pengacara nomor dua, sebentar menjadi asisten sebentar menjadi supir. Dia jadi berpikir dan hendak menggoda tuannya.
"Gajiku sepertinya akan naik empat kali lipat jika bisa membawamu menemui Claudia, Tuan." gumam Frank hendak menjalankan mobil.
"Lima kali!"
"Kau serius Tuan? Aku bisa membeli rumah."
"Ya, kau juga bisa membeli mansion .. dalam satu hari ini kau harus membuatku menemukan Claudia!" tantang Egnor menopang tangan sikutnya di sisi mobil.
"Tenang saja serahkan padaku!! Aku bisa membawa mu ke departemen store itu hanya dengan waktu dua puluh menit." Kata Frank sangat bersemangat dan benar benar jeli mengemudikan mobil.
Egnor mengernyitkan dahinya dan ingin sekali mendorong bawahannya itu ke jalanan saat ini juga karna dia benar benar ditipu. Jalanan tampak sangat lenggang dan tidak ada traffic jam sedikitpun. Egnor hanya melirik tajam Frank sementara Frank terus berbinar binar. Sesekali melihat tuannya yang sudang mengetahui kelicikannya.
"Perkiraan cuaca saja bisa berubah Tuan, mungkin saja mereka tahu kalau sedang ada pangeran yang mencari Pemilik sepatu kaca sang putri, jadi mereka merenggangkan jalannya." Frank berdecih bergurau. sebenarnya memang jalanan sangat lenggang.
"Sudah cepat kau mengemudi yang benar! Dasar kau keparat!" Umpat Egnor sambil memukul kepala Frank. Frank hanya tertawa kecil.
"Yes, aku bisa membeli rumah!!!" Gumam Frank yang tidak menyadari tuannya sejak tadi melihat jam.
"Tidak jadi! Kau telat dua menit, tidak ada kelipatan gaji!" Decak Egnor dan segera keluar dari mobil. Frank menganga dan akhirnya membentur benturkan kepalanya beberapa ke pengemudi nya.
'ya kuakui dia lebih jeli dan pintar dariku, hanya dua menit Tuan, dua menit!!!' Frank merutuki dirinya sementara Egnor sudah pergi menjauh menuju ke dalam departemen store. Frank disadarkan oleh Grace, Lisa dan Richard untuk mengikuti Egnor.
Egnor menuju ke pasar swalayannya dan benar di sana sangat ramai. Dia jadi benar mencemaskan Claudia dan malah berharap istrinya tidak di sana karna sangat berdesakan. Egnor memikirkan perut Claudia dan juga Claudia yang pasti tampak lemah. Dia hanya melihat lihat dari kejauhan. Mata tajam nya ia buka lebar lebar memperhatikan wajah wajah familiar yang ada di dalam pikirannya.
Namun dia menjadi gemas sendiri, dia seperti orang bodoh yang menunggui satu semut yang berbeda. Akhirnya Egnor memasuki pasar swalayan tersebut. Dia mengelilingi sudut sudut pasar itu. Dia pun terpaku pada etalase pendingin sayuran segar yang menyediakan umbi umbian. Ada sedikit cahaya ketika Egnor akhirnya menyaksikan seorang wanita dari samping ber-coat panjang hitam. Egnor sudah yakin itu adalah istrinya.
"CLAUDIA!" sepertinya Egnor harus memanggilnya terlebih dahulu sebelum ia menghampirinya. Jarak mereka lumayan jauh dari ujung ke ujung. Wanita itu celingukan dan benar itu Claudia namun dia tidak terlalu fokus karna banyak orang berlalu lalang.
Egnor dengan hati gembira karna akan memeluk istrinya berlari ke depan tanpa melihat apapun.
"CLAUDIA!" panggil Egnor lagi di tengah lorong lorong itu dan Claudia malah sudah pergi. Egnor terus memusatkan pandangannya namun naas, dia menabrak seorang anak kecil yang sedang mendorong troley. Egnor agak setengah terjatuh namun dia menahan dirinya pada etalase pendingin di sampingnya.
"Tuan, kau jalan cepat sekali sampai tidak melihat lihat!" Celoteh kesal anak itu.
"Kau? Kenapa kau membawa troley sendirian? Di mana orang tua mu!" Egnor malah mengkhawatirkan keberadaan orang tua anak ini mengingat sangat ramainya pasar swalayan modern ini.
__ADS_1
"Tuan saja sendirian, di mana istri dan anak Tuan?" tanya anak itu mengerutkan dahinya dan menatap Egnor tajam.
"Oh kau! Aku sedang mengejarnya! Yasudah, aku minta maaf telah menghalangimu, kau jangan jauh jauh dari orang tua mu ya?! Sampai jumpa!" Egnor dengan cepat memberi nasihat dan menyudahi pembicaraan mereka. Namun karna ini Egnor kehilangan jejak Claudia. Dia mencengkram rambut rambut nya frustasi. Sedikit lagi dia menemukan istrinya yang benar ada di sini tetapi dia juga yang menghilangkannya. Dia terlalu senang. Tak lama Frank bisa menemukannya.
"Frank, kau cepat katakan pada satpam di luar sana, cegah wanita ber Coat hitam yang sedang hamil, cepat! Aku akan tetap mencari di sini!" perintah Egnor menolak pinggangnya.
"Grace, Nona Lisa dan Tuan Richard sudah menunggui di depan Tuan." jawab Frank.
"Ahh itu ide yang bagus! Mengapa baru kali ini kalian tanggap begini, kemarin kemarin kemana??" pekik Egnor memantau ke kanan dan kiri dengan jeli.
"Hem! Sudah ayo kita cari Claudia di sini Tuan!" Ajak Frank yang malas menanggapi tuannya yang tidak menyadari kalau dari kemarin mereka sudah tanggap seperti ini. Kalau tidak, mereka semua akan membiarkan Egnor sendiri. Dengus Frank dalam hatinya dan sudah berpencar. Egnor mengamati barisan kasir paling ujung sedangkan Frank di dekat pintu masuk pasar swalayan.
Seketika kepala Egnor pening mungkin karna telat makan dan dia belum membersihkan dirinya. Dia terlalu memikirkan Claudia sampai lupa dengan semua kebiasaannya. Egnor bisa dua tiga kali membersihkan dirinya namun sekarang semua itu tidak penting ketimbang dirinya bertemu dengan jantung hatinya. Egnor terdiam sesaat memegang keningnya. Dia merasakan tak nyaman dalam dirinya. Ya, memang seharusnya dirinya mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Lebih memperhatikan dirinya dulu sebelum bertemu dengan Claudia agar istrinya itu tidak terlalu cemas dan dapat selalu senang.
Akhirnya Egnor akan memutuskan jika disini tidak bertemu, dia akan ke hotel terlebih dahulu. Dia kembali mendongakan kepalanya dan sekali lagi melihat lihat. Matanya kembali melebar ketika melihat Claudia sudah menuju ke pintu utama sambil memeriksa dompetnya. Egnor segera berlari tidak mau menyia nyiakan kesempatan.
"Frank, Claudia ke pintu utama." Kata Egnor sedikit berteriak dan Frank mengikuti tuannya.
...
...
...
...
...
jaga mata sampai hati nor mana tau pake hari ketemu nor haha 😂😂
.
next part 7 ges
emm pokok nya kita temenin aja si babang nor yaa pasti ketemu ni harii wakakak
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤