Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 118: You're The Best


__ADS_3

Menjadi yang terbaik selalu membutuhkan waktu yang lama. Tidak bisa mempunyai niat langsung berubah. Dari diri kita akan berubah tapi bagaimana pandangan orang? Mereka belum bisa membuktikan kalau dirinya akan menjadi yang terbaik. Seperti Claudia yang terus membuktikan pada Egnor untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupannya. Menjadi satu satunya yang diinginkan Egnor dan kini dia telah menjadi wanita terpenting di hati pengacara itu. Begitu juga dengan Mytha yang hendak menjadi terbaik di mata semua orang termasuk di hadapan pria yang ia cintai, Richard. Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


...


Sudah dua Minggu ini Claudia menjadi seorang ibu yang sangat cekatan dan juga tanggap. Padahal dia belum mempunyai pengalaman mengurus anak tetapi sekali soerang perawat di sewa Egnor untuk membimbing Claudia, tidak membutuhkan waktu lama Claudia mampu menguasai semuanya. Mulai dari membangunkan Wilson dan Willy dengan kecupan dan nyanyian, memandikan mereka bergantian sementara Egnor yang menemani satunya sampai memberikan ASI pada mereka. Setelah itu Egnor akan tenang meninggalkan Claudia, anak anaknya dan Anne untuk pergi ke kantornya. Kini jam masuk kantor telah berubah menjadi pukul setengah sepuluh pagi karena Egnor bisa datang di waktu tersebut.


Karena kehadiran Wilson dan Willy, apartemen mereka menjadi sangat ramai. Johanes yang selalu menetap terlebih dahulu ketika menjemput Anne. Dia mengajak bicara cucu cucunya atau juga ikut membantu Claudia menjagamu salah satu dari mereka jika Claudia harus memandikan satunya. Bukan hanya itu, Frank dan Grace juga sering berkunjung melihat Wilson dan Willy yang sebenarnya sangat patuh pada Claudia. Setelah dimandikan dan diberi ASI, mereka pasti tertidur. Namun, jika Claudia telat sedikit saja memberikan ASI pada Wilson dan Willy, mereka akan menangis sekencang mungkin.


"Mengapa kau terlambat menyusuinya, honey?" Tanya Egnor sepulang dari kantor dan langsung meraih Willy dari gendongan Anne sementara Claudia menenangkan Wilson yang tidak bisa mendengar suara sedikitpun. Dia akan terbangun, apalagi mendengar Willy menangis.


"Kau bisa bertanya pada Aunty Anne, setelah aku memandikannya dia tertidur sementara aku menyusui Wilson. Setelah aku menyusui Wilson, aku hendak menyusui Willy tapi dia tetap tidur jadi aku memanfaatkan waktu untuk membersihkan diri. Ketika aku membersihkan diri, Wiily malah menangis,"


"Benar Egnor, Claudia sudah menjadi ibu yang baik," tambah Anne keluar dari kamar menuju ke dapur untuk membuat makan malam karena sebentar lagi Johanes akan menjemputnya.


"Yasudah, berikan Wilson pada aunty dan kau susui Willy. Apa ASI mu berkurang lagi?" Tanya Egnor dengan wajah serius.


"Agak kak! Kau harus melakukannya lagi nanti malam," jawab Claudia dengan tenang seperti sudah terbiasa.


"Itu urusan mudah, baiklah aku harus membersihkan diriku sebelum berlama lama dengan sikembar," kata Egnor masih menggendong Willy.


"Iya kak," kata Claudia dan keluar terlebih dahulu untuk memberikan Wilson sebentar pada Anne.


Claudia mengambil Willy dari Egnor dan akhirnya menyusui Willy. Willy terlihat tampak kehausan dan Claudia selalu tersenyum jika melihat anak keduanya itu meminum ASI nya dengan semangat dan tangannya mengelus sisi buah dada Claudia.


Selesai Egnor membersihkan diri, Egnor ikut duduk di samping istrinya yang masih menyusui Willy.


"Dia sudah tertidur, honey!" Kata Egnor mengelus pipi Willy.


"Mengapa dia mirip sekali denganmu kak? Ketika tidur dia sangat percis denganmu ingin selalu berada dekat dadaku," tutur Claudia tersenyum.


"Karena di sana tempat paling hangat, Clau," jawab Egnor apa adanya.


"Haha, kau benar benar sudah sangat mesum sejak mengenal istilah lactating," tutur Claudia.


"Erotic lactating, honey. Kau jangan salah menyebutnya. Aku sudah mengerti sekarang. Rangsangan ASI mu lebih banyak karena mulutku dan itu merupakan hormon seksual jadi sebenarnya yang mesum itu adalah kau karena kau lebih menerima rangsangan ku ketimbang rangasangan Wilson dan Willy, ya kan?" Decak Egnor sedang meluruskan sesuatu. Claudia sejenak berpikir. Perkataan suaminya memang benar.


"Kau berpikir kan? Karena memang seperti itu! Hump, aku jadi lapar Clau," kata Egnor lagi.


"Makanlah, sepertinya Wilson tertidur di keranjang bayi. Nanti aku menyusul,"


"Baiklah honey, cup!" Saut Egnor mengecup kening Claudia dan menuju ke luar. Ternyata Wilson sudah digendong oleh kakeknya, Johanes yang sudah tiba hendak menjemput Anne.


Egnor begitu bahagia melihat semua ini. Dia bisa melihat ayahnya tersenyum merekah setelah sekian lama Egnor tidak merasakannya. Bahkan ketika pernikahannya dengan Claudia. Johanes hanya tersenyum biasa. Berbeda ketika dia menatap atau menggendong Wilson atau Willy.


"Aku seperti melihat dirimu ketika baru saja dilahirkan mommy mu, Egnor. Aku merasa masih bersama mommy mu. Aku merindukannya. Aku yakin, mommy mu juga merasa sangat bahagia melihat ini semua. Selain dirimu, aku juga merasa Viena lebih ingin bermanja manja denganku. Katanya dia merindukanku. Dia sedang merindukan adik untuk Dior," begitulah kata kata Johanes ketika pertama kali menggendong Wilson lalu Willy. Egnor hanya tersenyum dan merangkul ayahnya. Dia bersyukur kalau masih memiliki orang tua meskipun hanya satu.


Meskipun begitu, kepanikan masih melandanya. Dia merasa akan terjadi sebuah masalah besar mengingat pemilihan kepala pemerintahan akan diadakan sebentar lagi.


...


Sementara itu, di rumah sakit pusat kota Honolulu. Richard masih setia menunggui ruang perawatan Mytha. Kemarin dia kembali datang setelah perjalanan tugasnya ke Springfield. Sudah satu Minggu lebih Richard tidak menemui Mytha juga Lisa karena tugasnya. Namun, sepertinya kemarin para perawat dan salah satu dokter juga Lisa melakukan tindakan pada Mytha yang kondisinya semakin parah. Berat badan Mytha berkurang dan sulit untuk menelan makanan. Rambutnya juga kian menipis tapi dia tidak mau menggunakan penutup kepala.


"Kak, sebenarnya aku merindukan Tuan Richard, aku harus tetap terlihat baik baik saja jika dia tetap datang dan ingin bertemu denganku. Tetapi, jangan biarkan dia bertemu denganku sendiri. Aku tidak mau lagi berharap. Suruh dia bersama Nona Lisa jika ingin bertemu denganku," kata Mytha pada kakaknya dan Lisa mendengarnya. Lisa segera memberitahu pada Richard yang kebetulan telah kembali dari Springfield.


Sebenarnya Richard tahu kalau perilakunya salah tetapi dia ingin memberikan kesan yang baik untuk Mytha agar Mytha terhibur dan berharap akan sembuh dari sakitnya. Richard masih Mendokan yang terbaik bagi keadaan Mytha.


Kini, Richard masih menunggui dokter kanker yang memeriksa Mytha. Gabriel sudah mengijinkan dirinya untuk hari ini menemui adiknya.


"Kau boleh bertemu dengan adikku tapi bersama Nona Lisa agar tidak ada lagi yang kau sembunyikan! Aku tahu kau hanya kasihan pada adikku dan sebaiknya kau tidak terus memberikan harapan padanya," kata Gabriel memperingati.


"Apa ini permintaan Mytha?" Tanya Richard.


"Lalu permintaan siapa? Semua yang dikatakan Mytha adalah pesan dan tusukan pisau padaku jika aku tidak menurutinya! Sejak kecil aku selalu menurutinya sampai seeprtinya aku salah. Kalau saja aku melarang dia untuk tidak bekerja di tempat tempat yang tidak jelas, hal ini tidak akan terjadi padanya. Dia tidak akan mengidap penyakit mematikan ini!" Kata Gabriel menundukan kepalanya. Dia menautkan tangannya dan merasa telah menjadi kakak yang pecundang.


"Tenang Gabe!"


"Jangan menyentuhku! Aku tidak membutuhkan semangatmu. Sekarang aku kecewa padamu, tuan! Kau tidak seperti yang kubayangkan! Cepat kau cari Dokter Lisa dan bertemu dengan adikku! Setelah itu jangan lagi menemuinya!" Decak Gabriel menghempaskan tangan Richard yang menyentuh punggungnya. Dia pun berdiri dari duduknya.


"Baiklah, aku akan menemuinya. Aku akan berbicara padanya. Aku benar benar menyesal melakukan ini padanya dan padamu. Aku juga hanya ingin menjadi kakak yang baik, sebagai penggantimu ketika kau terdampar Gabe! Tolong mengertilah posisinya. Maafkan aku," ujar Richard ikut berdiri.


"Aku sudah muak dengan arah bicaramu! Hanya karena kalian belum memastikan kabarku, kau seenaknya menyetujui permintaannya menjadi kekasihnya sementara kau hanya menganggapnya seorang adik?! Sudahlah Tuan motivator, kau ini hanya kurang kasih sayang wanita kan? Mungkin saja kau juga akan mengambil kesempatan dari tubuh adikku kan?" Decak Gabriel dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Bug!


Richard memberi satu pukulan pada Gabriel karena pembicaraannya sudah seenaknya dan tidak sesuai dengan maksud Richard. Gabriel tersungkur ke lantai karena dia terlalu lemah. Beberapa hari ini dia menyaksikan sendiri penderitaan adiknya melawan maut. Mungkin sebentar lagi adiknya pergi dari sisinya.


Kebetulan Lina, adik Lisa juga ingin mengunjungi Mytha dan melihat kejadian itu. Dia segera mendekati Gabriel dan membantunya.


"Kak Richard! Ini rumah sakit, kau apa apaan hah?" Decak Lina.


"Kau tanyakan saja padanya. Kau juga tahu Lina bagaimana diriku menghargai dan menghormati Mytha ketika kakaknya terdampar! Aku sudah cukup sabar menghadapimu Gabe! Aku juga menghormatimu sebagai kakaknya Mytha tapi kau jangan seenaknya menilaiku serendah itu!" Kata Richard mencoba dengan nada suara pelan tapi menusuk.


"Richard, Lina, Gabriel! Ada apa ini? Mengapa kalian teriak teriak berkelahi di depan ruang perawatan?" Bentak Lisa sesaat melihat Richard menunjuk nunjuk Gabriel dan Lina.


"Richard, kau kenapa? Kau memukul Gabriel?" Tanya Lisa lagi.


"Dia memang pantas menerimanya agar sekali kali tidak berprasangka buruk padaku!" Saut Richard kesal.


"Lina, sebaiknya kau bawa Gabriel ke cafe rumah sakit, biar aku menemui Mytha bersama Richard terlebih dulu," kata Lisa meminta tolong pada Lina.


"Iya kak!"


"Ayo Gabriel, kau harus tenang, kalau kau tidak tenang maka adikmu akan semakin sakit," ajak Lina membalikan tubuh Gabriel mengarah ke cafe rumah sakit.


Gabriel hanya mengangguk mendengar penuturan Lina. Entah mengapa Gabriel merasa sangat tenang dan nyaman ketika melihat Lina. Kekesalannya pada Richard menjadi menurun setelah melihat wajah Lina membantunya berdiri tadi.


...


Lisa membuka pintu ruang perawatan Mytha. Di sana Mytha sedang terdiam dan terus setengah berbaring. Dia juga sedang membaca sebuah buku kecil berwarna merah. Lisa masuk ke dalam diikuti oleh Richard.


Jantung Richard berdegup menyaksikan Mytha yang semakin pucat dan tubuhnya sangat kurus. Rambutnya juga terlihat tipis walaupun tetap panjang dan berwarna hitam kecoklatan.


"Selamat siang, Mytha," kata Lisa memberi salam. Mytha menoleh karena pendengaran Mytha juga sudah agak terganggu. Dia hanya bisa mendengar jika pembicara benar mengarah padanya. Mytha hendak duduk dan Richard dengan sigap langsung menghampirinya.


"Apa kabar, Mytha?" Tanya Richard meraih tubuh kurus itu. Mytha hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mytha, bagaimana keadaanmu? Apa yang sedang kau baca tadi?" tanya Lisa juga.


"Buku doa nona. Hanya itu yang bisa ku lakukan walau pandanganku sudah sedikit buram," jawab Mytha dengan suara yang sangat lemah.


"Kalau matamu lelah, sebaiknya kau beristirahat, Mytha," kata Richard memperingati.


Lisa mengernyitkan dahinya. Lisa merasa ini sebuah sindiran juga untuknya walau dia mencoba mengerti kalau perkataan Mytha untuk Richard. Richard menunduk lalu meraih tangan Mytha.


"Mytha, apa yang kau inginkan? Sudah lama sekali aku tidak boleh menemuimu. Kalau ada sesuatu yang membuatmu bersedih karenaku, aku minta maaf. Jangan menyalahkan Lisa, semua ini adalah salahku," kata Richard kemudian.


Mytha menggeleng tersenyum .


"Tidak tuan. Semua ini salahku. Aku yang tidak tahu perasaan Nona Lisa," kata Mytha lalu menatap Lisa.


"Nona Lisa, maafkan aku, maafkan aku yang merebut lebih dulu cintamu sehingga Tuan Richard harus memaksakan diri menyukaiku yang berujung pada kasihan. Aku benar benar minta maaf. Aku mohon kalian memaafkan ku dan jangan jadikan diriku penghalang untuk kalian," kata Mytha lagi dan kini dia meneteskan air matanya.


"Mytha, sudah, jangan bersedih. Kau bisa terus bersama Richard kalau kau mau. Jangan memikirkan siapapun. Pikirkan kebahagiaan dan kesembuhanmu. Pikirkan kakakmu. Dia berjuang untuk kesembuhanmu," saut Lisa menatap penuh cinta untuk gadis itu.


"Ya, kak Gabriel begitu baik padaku. Nona, semoga kau merestui hubungan kakakku dengan adikmu. Kakakku menyukai adikmu, Kak Lina. Bisa kah?" pinta Mytha.


"Semua tergantung Lina, Mytha. Kau ini kenapa? Jangan berbicara yang tidak tidak. Kau juga yang harus mengurus kakakmu," balas Lisa merasa Mytha sudah melantur.


Mytha mengangguk lagi tersenyum. Kini dia menatap Richard yang terus memperhatikannya. Richard masih memegang tangan Mytha.


"Tuan Richard, mulai sekarang bahagiakan Nona Lisa. Minta dia menjadi milikmu, aku mohon, kau harus melakukannya. Aku tidak apa apa. Aku sudah memutuskan merelakan dirimu, Tuan. Kalau suatu saat aku pergi secara mendadak, kita sudah tidak mempunyai hubungan apa apa. Jadi sekarang, kita putus. Bagaimana tuan?" Kata Mytha memegang wajah Richard. Richard bahkan Lisa pun tak dapat menahan kata kata terdalam yang pernah mereka dengar. Mereka pun meneteskan air mata mereka.


"Jangan menangis tuan! Kau hanya boleh menangis untuk Nona Lisa. Dia yang terbaik untukmu, bukan aku. Aku hanya seorang gadis hina yang mencoba menjadi yang terbaik tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kini aku harus mengidap penyakit mematikan ini," kata Mytha lagi.


"Diamlah, jangan berkata kata lagi. Kau sudah menjadi yang terbaik, Mytha. Kau merupakan adik yang baik. Gabriel saja begitu menyayangimu," ujar Richard menyemangati Mytha.


"Benar Mytha! Kau lupa kalau kau sudah menjadi asistenku. Itu berarti fakultas kedokteran mengakui kepintaran mu ," tambah Lisa.


"Terimakasih nona. Ini semua karena mu. Juga karena Tuan Richard yang selalu menghargai juga menghormatiku," ucap Mytha lagi.


"Lebih baik kau jangan berpikir yang tidak tidak. Em, aku masih ada pasien, aku akan meninggalkan kalian berdua. Nanti aku akan kembali lagi," kata Lisa kemudian hendak memberikan waktu bicara Mytha dan Richard.


Mytha menarik napas panjang. Seluruh tubuhnya semakin melemah. Dia harus melakukan sesuatu untuk lebih berterima kasih dan bersyukur atas orang orang yang baik, yang menemani di sisa hidupnya. Bukan hanya pada dirinya, juga pada kakaknya.

__ADS_1


"Iya nona, tapi nona, bisakah kau dan Tuan Richard memelukku? Aku belum pernah merasakan pelukanmu, nona, tapi aku juga ingin mendapat pelukan dari tuan Richard," pinta Mytha sebelum Lisa pergi.


Lisa bingung tapi juga tidak bisa menolak. Dia pun menghampiri Mytha. Lisa duduk di sisi Mytha bersebrangan dengan Richard.


Lisa dan Richard memeluk Nyata secara bersamaan. Mereka saling memeluk dan mengelus punggung mereka. Mytha merasa waktunya sudah tiba. Dia sudah menyelesaikan semua tujuan yang hendak ia sampaikan pada Richard dan Lisa agar tidak terjadi kesalah pahaman. Mytha tersenyum dan memejamkan matanya di antara pundak Richard dan Lisa.


"Terimakasih Tuan Richard telah menjadi cinta pertama dan terakhirku. Terimakasih Nona Lisa telah membuatku merasakan arti kekeluargaan yang sesungguhnya. Terimakasih ." Ucap Mytha untuk terakhir kalinya dan dia menghembuskan napas terakhirnya.


"Sudahlah Mytha, kau harus banyak beristirahat agar lekas pulih, oke?" Balas Lisa sementara Richard malah makin mendekap Mytha juga Lisa. Dia tahu apa yang sudah terjadi pada Mytha.


"Richard, aku harus menemui pasien," kata Lisa kemudian.


Richard melepaskan pelukannya. Lisa bingung mengapa Mytha memejamkan matanya dan tersenyum tipis. Richard membaringkannya dengan pelan dan kembali memegang tangannya.


"Beristirahatlah dengan tenang, surga akan menerimamu, maafkan aku, maafkan aku!" Ucap Richard mengecupi punggung tangan Mytha dengan tangisan di dada.


"Richard, apa apaan kau?"


"Dia sudah pergi Lisa, dia sudah sembuh! Dia gadis yang baik. Dia hanya ingin dihargai, dihormati dan dianggap ada. Hanya itu dan aku hanya berusaha memberikannya," kata Richard lagi meneteskan lagi air matanya. Lisa masih tidak percaya. Dia memegang nadi leher Mytha.


"Mytha? Mytha? Bangun Mytha! Kau masih bisa sembuh, Mytha, bangun Mytha!!!" Kata Lisa yang masih belum mempercayai semua ini. Dia masih bertekad menyembuhkan Mytha. Dia sedang melakukan penelitian lagi dan berniat membawa Mytha ke Japanis keesokan harinya. Lisa tampak histeris. Richard melepas tangan Mytha dan meletakannya dengan sangat lembut. Dia menghampiri Lisa untuk menenangkannya.


"Tenang Lisa!" Kata Richard memegang punggung Lisa. Lisa berbalik dan menampar Richard. Richard tidak mempedulikan kemarahan Lisa. Dia memeluk kekasih hatinya itu. Lisa menangis di pelukan Richard. Dia juga menyesal dengan semua ini. Namun, bicara nasib siapa yang mau membantah.


Sementara di luar Gabriel melihatnya. Gabriel menolak ajakan Lina dan kembali kesana. Gabriel merasa sepertinya ini sudah akhir dari perjuangan adiknya. Dan, benar saja. Dia menyaksikan semuanya. Mytha telah beristirahat dengan tenang. Lina sudah memeluk Gabriel dari belakang. Gabriel menangis sambil memukul mukul dinding. Dia ikut ambil bagian dari semua ini.


"Tenanglah Gabriel," kata Lina juga sudah menangis.


"Dia sudah pergi menjemput mom and dad ku. Dia sudah bahagia tetapi dia tidak melihatku, dia meninggalkanku! Mytha, kau hebat kau sangat hebat. Kau sudah menjadi yang terbaik. Selamat jalan adikku. Aku selalu mencintaimu, selalu!!!" tutur Gabriel dalam tangisnya.


"Sudah Gabriel, kau masih memilikiku, aku akan menemanimu dan aku rela jika kau menganggap ku Mytha, jangan menangis seperti ini, kuatkan hatimu, Mytha sudah tenang," balas Lina dan Gabriel membalikan tubuhnya memeluk wanita yang ia sukai itu. Mungkin wanita ini yang diutus Mytha untuknya. Mytha memang adik yang terbaik. Selamat jalan Mytha.


...


...


...


...


...


Dah ah aku Uda diomelin suamiku ngetik sambil nangis .. bhay 😭😭


Turut berduka cita Gabe 😔😔


.


Next part 119


bagaimana hubungan Richard dan Lisa selanjutnya?


apakah bersatu atau bahkan Lisa malah menjauh karena penyesalannya?


dan bagaimana kelanjutan Egnor melawan Bruce? apakah ada seseuatu sebelum hal itu terjadi?


stay tune ges ..


.


betewe betewe!


ini novel masih berlanjut sampai cerita Wilson dan Willy karena harus konsisten dengan si mantan terindah dan assistant Love Assistant .😁😁


jangan bosen ya smoga smakin seru 😎😎


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2