
Hati paling murni untuk seorang anak adalah kasih sayang seorang ibu, doa seorang ibu bahkan setiap tetes air mata untuk anaknya mengandung arti yang dalam. Apakah Claudia akan berdiam diri menunggu semua hasil yang dilakukan suaminya? Mampukah Egnor dan Claudia menghadapi ini semua?
...
"Gabe, minta rekaman CCTV pintu masuk, lorong dan di depan kamar apartemenku sekitar satu jam atau setengah jam yang lalu, sekarang!" Pinta Egnor selanjutnya.
"Siap Tuan!"
Gabriel pun menuju ke pusat informasi untuk melihat rekaman CCTV setiap lorong.
"Apa kau sudah memanggil Lisa?" Tanya Egnor agar memeriksa Anne dan Wilson.
"Sudah kak, kak ayo sekarang kita cari Willy kak!" pinta Claudia terus merajuk.
"Tenang dulu Clau! Kita titipkan dulu Wilson ke tempat yang aman setelah itu kita cari Willy bersama. Kau tenang saja, semua aparat sudah ku kerahkan," ujar Egnor mengelus wajah Claudia agar tetap tenang.
"Ini salahku kak! Aku yang malah mementingkan diriku untuk membersihkan diri, dan kak, brangkas mu ..." kata Claudia lagi memberitahu.
Seketika Egnor membelalakan matanya. Dia mengingat persembunyian surat surat pentingnya.
"Ada apa dengan brangkas ku Clau?" Egnor menarik diri dan bertanya. Dia meminggirkan tubuh istrinya dan langsung ke kamar. Dia begitu terkejut melihat semuanya berantakan. Tidak tersisa sedikitpun. Surat otentik, surat kuasa, dan surat kenegaraan penting lainnya.
"Oh no, no, no! Argh, siapa yang melakukan ini semuaaaa!!!" Pekik Egnor melihat brangkasnya telah dibobol oleh seseorang. Bertindak pun percuma, dia tidak tahu lokasi para penjahat ini. Yang hanya bisa ia luapkan sekarang hanyalah Richie Gabriane.
Egnor begitu emosi dan hendak ke rumah Richard tapi tertahan oleh wajah sedih istrinya yang terlihat sangat bingung dan sangat cemas. Egnor kembali menarik Claudia masuk dalam pelukannya.
"Semua hilang kak, semua karena aku kak, bagaimana ini kak?!! Kak, Willy kak!!!" pekik Claudia begitu histeris dan tak tertahankan.
"Iya iya Clau, semua sedang mencari!" Egnor memeluk Claudia dengan sangat erat.
Claudia kembali menangis dalam pelukan suaminya. Sementara hanya Egnor yang bisa menenangkannya. Tak lama Johanes datang juga berasama Lisa dan Richard. Egnor meliht kedatangan Richard dan tak segan segan langsung menghampirinya.
Buak!
Egnor memukul Richard dan menarik kerah bajunya untuk sekali lagi ia pukul. Johanes tentu menahannya.
"Egnor, Egnor tenang, kita tidak bisa menyalahkna Richard, nak!" tutur Johanes menahan Egnor.
"Egnor, aku benar benar tidak tahu semua ini!" saut Richard yang sama sekali tidak mengetahui rencana ini.
"Tidak! Kau pasti tahu! kenapa anakku hah? kenapa anakku ikut dalam kejahatan kalian? Aku akan membunuh ayahmu dengan tanganku sendiri jika anakku tergores sedikit saja!" Decak Egnor menghempaskan tubuh Richard. Dia memegang dahi juga menolak pinggang.
"Sudah Egnor, semua sama sama mencari. Mungkin saja juga bukan Richie pelakunya," saut Johanes juga menenangkan anaknya.
"Tidak dad! Aku yakin ini semua ada campur tangannya! Dia menginginkan surat otentik dan kuasa itu aku sangat yakin!" decak Egnor sangat yakin.
Sementara Claudia terus menangis di pelukan Lisa. Egnor menoleh ke arah istrinya. Tidak pernah dia melihat Claudia sesedih ini. Mungkin ketika dia terdampar, beginilah tangis istrinya. Egnor membuka jas nya. Dia kembali menghampiri istrinya yang duduk di kursi makan bersama Lisa. Lisa berpindah hendak memeriksa Anne sementara Johanes sudah mengambil alih menggendong Wilson. Richard membenarkan pakaiannya. Dia semakin kecewa terhadap ayahnya maka dia pun pergi dari sana dan hendak menanyakan dan kalau perlu membuat perhitungan. Dia tidak peduli sekalipun itu adalah ayahnya. Ayahnya telah membawa pihak kecil yang tidak bersalah sama sekali. Bahkan usianya belum tiga bulan.
Egnor kembali memeluk istrinya selagi menunggu kabar dari orang orang yang ia kerahkan.
"Kak, ayo kita cari Willy kak! Percuma kita berdiam diri kak!" rengek Claudia terus menerus pada suaminya.
"Sabarlah Clau! Semua sedang mencari, aku tidak berbohong! Kalau sampai besok belum ada kabar, barulah kita mencari bersama!" tutur Egnor mengusap punggung Claudia.
"Willy, kau di mana, nak, maafkan mommy nak! Willy ..." Kata Claudia memanggil manggil nama anaknya. Claudia tak henti hentinya menangis. Dadanya sesak seeprti ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya sendiri. Seperti ada yang tergores di bagian sisi tubuhnya. Egnor juga tidak bisa melepas Claudia. Dia juga ingin mencari tetapi istrinya sangat sedih dan penuh penyesalan seperti ini.
Sekitar sore hari semuanya melapor kalau belum menemukan apa yang Egnor suruh. Mencari seorang bayi kecil yang wajahnya semua sama sangatlah sulit.
Gabriel sudah menunjukan rekaman CCTV yang terdapat di pintu masuk dan lorong lorong. Claudia masih di samping suaminya ikut memperhatikan. Mereka tidak bisa mengenali karena ketiga orang itu mengenakan masker dan kaca mata ber-ring. Namun, Egnor benar benar yakin kalau ini perbuatan Ron karena dia bisa menghancurkan brangkas terkuatnya.
Frank dan Grace juga sudah di sana. Frank sedikit tidak enak karena tuannya sangat menuduh ayah tiri dan ibu kandungnya. Frank juga menyetujui apa yang dipikirkan tuannya karena sampai sekarang pihaknya juga belum menemukan Ron dan juga ibunya. Frank berkali kali menunduk dan dan melihat ponselnya menunggu kabar dari siapapun. Frank tidak hanya menyuruh detektif, dia juga menyuruh beberapa Detektif kenalan Detektif Kyle untuk mencari Ron dan ibunya itu.
"Frank, yang disalahkan ayah tiri dan ibumu, bukan kau!" ujar Grace menenangkan.
"Mengapa dia masih seperti ini Grace?" Frank menundukan kepalanya.
"Kita belum tau sepenuhnya, kau tenanglah!" Kata Grace lagi mengusap punggung suaminya.
Sementara Claudia tak henti hentinya menangis karena minta mencari keluar tapi Egnor masih menahannya. Mereka masih menunggu semua yang Egnor kerahkan. Sampai akhirnya Claudia tertidur setelah memberikan Wilson ASI, masih menangis dan merengek minta mencari Willy, dia pun tertidur di samping pundak Egnor. Egnor menggendongnya masuk ke dalam. Semua orang sudah pulang, kecuali Frank, Grace, Anne dan Johanes. Bertho juga menunggu di depan pintu masuk apartemen. Bertho sangat menyesalkan ini. Anak buahnya juga tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan dengan baik dan bahkan menjadi korban.
"Mommy! Aku mau minum! Mommy, di sini panas! Mommy aku mau pulang! Mommy, mengapa kau tidak menjagaku, aku haus mommy!" Suara suara anak laki laki berkumandang di dalam mimpi Claudia. Claudia tentu terbangun.
"WILLY!!" teriak Claudia. Egnor masih terjaga. Dia baru saja pulang ikut mencari Willy bersama Frank meski hasilnya nihil. Egnor menghampiri Claudia.
"Clau?" Egnor merangkul Claudia.
"Willy kak! Ayo kita cari dia kak! Dia kehausan kak, ayo kak!" Pinta Claudia hendak beranjak dari tempat tidur.
"Percaya! Willy pasti tidak apa apa. Anak kita lucu, mereka pasti menyukainya. Tenanglah Clau!" Egnor terus menenangkan istrinya.
"Aku mau Willy kak, cari dia kak!" Pecahlah lagi tangis istrinya itu di dalam pelukannya. Egnor hanya bisa mendekap. Dia juga sudah mencarinya. Besok Egnor harus mencari lebih teliti lagi. Sampai di semua taman dan pinggiran Honolulu, Egnor akan mencarinya.
...
Brak!
Richard membuka pintu dengan sangat kasar.
Tampak di sana Richie dan Samantha sedang menikmati teh dan kue kecil.
Richie menoleh dan memicingkan matanya pada anak semata wayangnya itu.
"Seharusnya kau tidak enak enakan minum teh dan makan kue di sini pria tua bangka yang tidak tahu diri!" decak Richard memaki maki ayahnya.
"Richard, ada apa sayang?" Tanya Samantrah terkejut mendengar umpatan anaknya pada ayahnya.
__ADS_1
Richie sudah mendapatkan suratnya, jadi dia tahu apa yang mungkin dikesalkan anaknya. Richie meraih teh dan menyeruput nya.
"TUAN RICHIE GABRIANE! CEPAT KEMBALIKAN ANAK EGNOR DAN CLAUDIA, DIA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN DENDAMMU!" bentak Richard menunjuk nunjuk anaknya.
Samantha sontak berdiri sementara Richie sedikit membelalakan matanya. Dia menaruh secangkir tehnya itu dan kembali menoleh ke arah Richard.
"Anak?" Selidik Richie yang benar benar tidak mengerti. Ron tidak mengatakan mengambil anak Egnor. Dia hanya mengatakan sudah mendapatkan surat surat yang diberikan pada Bruce.
"Kau tidak usah pura pura tidak tahu! Kembalikan Willy sekarang!" bentak Richard lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Richie junior! Kau jangan tidak sopan padaku! Nama belakangmu Gabriane! Ingat!" balas Richie tampak tenang.
"Aku bisa menggantinya! Sekarang cepat kembalikan anak Egnor dan Claudia! Kesalahanmu sudah sangat fatal karena melibatkan anak yang bahkan belum berusia 3 bulan!" Richard sudah teramat kesal.
"Richie! Apalagi yang kau perbuat? Kau mengambil anak Egnor?" tanya Samantha ikut membangkang.
"Tidak! Aku tidak mengambil anaknya! Terserah kalian mau percaya atau tidak! Aku pergi dulu, masih banyak urusan!" Decak Richie dan beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke luar ruangan dan melewati Richard. Richard tak diam di situ saja. Tak lama dia pun mengikuti kemana pergi ayahnya. Richard yakin akan mendapatkan Willy dan mengembalikannya pada Egnor dan Claudia.
Namun, semua di luar prediksi Richard, Richie menyadari kalau anaknya mengikutinya. Dia pun menyuruh anak buahnya menghadang Richard dan mengharuskan dia putar kembali. Keberadaan Bruce belum boleh diketahui, apalagi dengan Egnor. Richard dihadang dan dia tidak bisa berbuat apa apa. Apalagi setelah Kevin menyusulnya.
"Mengalah saja tuan, kita habisi mereka juga percuma, Tuan besar sudah jauh," kata Kevin memperingati.
Richard mengumpat kesal dan dia akan lebih mengawasi ayahnya.
...
Pagi itu, Claudia sudah memandikan Wilson dan juga memberikan ASI. Dia melakukan semuanya diam diam. Tampaknya Frank dan Grace telah kembali ke apartemennya dulu. Mertuanya Johanes tidur di sebuah kasur yang Egnor pesan dari apartemen. Anne tidur di sofa panjang. Semua masih terlelap karna malam kemarin menunggu kabar dari semuanya. Mereka memikirkan Willy. Egnor pun tertidur setelah memeluk Claudia yang terus menangis sambil menuturkan doa untuk anaknya.
Setelah Wilson tidur dia memberikan pesan pada sisi ranjang Wilson untuk Egnor.
*AKU MENCARI WILLY!*
*AKU SUDAH MENYIAPKAN ASI DI LEMARI PENDINGIN UNTUK WILSON!*
CLAU
Claudia juga sudah menyiapkan beberapa botol asi yang diletakan di lemari pendingin untuk Wilson. Dia sudah merencanakan semuanya.
Claudia keluar dari apartemen dan sempat dihadang oleh Bertho. Claudia ingin mencarinya. Dia tidak sabar. Dia harus menemukan anaknya itu.
"Tolong Bertho, sekali ini aja, aku ingin mencari anakku!" pinta Claudia merajuk.
"Tidak bisa nyonya, semua sudah mencari, kau hanya perlu menunggunya saja!" ujar Bertho masih memegang lengan Claudia.
"MANA MUNGKIN AKU BISA MENUNGGUNYA SAJA! AKU MAU PERGI, LEPAS!!" Claudia meronta.
"Baik baik, tapi biarkan aku menghubungi tuan Egnor terlebih dulu. Tunggu di sini!" pinta Bertho terlebih dulu.
"Cepat sana!" Saut Claudia dan ketika Bertho sedikit lengah, Claudia melarikan diri. Dia harus mencarinya sepanjang jalan. Jika menggunakan mobil tidak bisa menemukan, dia benar benar akan berjalan.
Sudah sampai siang hari Claudia tidak menemukan apa apa. Dia pun duduk di bangku taman. Taman tersebut berada di pinggiran kota. Di sudah berjalan sejauh ini tapi tidak menemukan. Claudia hanya mencari di pinggir jalan karena Claudia yakin, para anak buah suruhan suaminya sudah me cari di dalam dalam gedung. Sekilas Claudia meraba dadanya yang kembali mengeras karena harus dikeluarkan. Dia kembali sedih dan memikirkan Willy pasti sedang kehausan. Sedangkan Wilson sudah ia siapkan.
"Di mana kau nak? Mommy merindukanmu!" Gumam Claudia meneteskan lagi air matanya dan juga merasa air susunya keluar. Dia mengeratkan Coat yang ia kenakan. Claudia meminum air mineral yang ia beli dan melanjutkan lagi pencariannya.
Sementara itu Egnor kembali memarahi Bertho karena tidak becus menahan Claudia. Sekarang dua orang yang sangat ia cintai menghilang. Egnor benar benar frustasi.
"Hubungi Lisa dan Gabriel cepat suruh ke sini, Grace!" Perintah Egnor.
"Iya tuan!"
"Frank, suruh Moses terus berjaga di kantor dan cepat siapkan mobil kita cari Claudia dan Willy!" kata Egnor lagi.
"Argh Claudia kau selalu begini, tidak mau mendengarkanku, nekat! Kau benar benar tidak sabar!" decak Egnor menyesalkan mengapa dirinya tertidur. Egnor mengusap kasar wajahnya.
"Tenanglah nak, Claudia hanya panik. Dia seorang ibu, dia juga pasti ingin mencarinya," saut Johanes penuh kelembutan.
"Tapi dad!"
"Sudah tenanglah, sekarang cepat kau cari mereka bersama Frank. Aku dan semuanya akan menjaga Wilson,"
"Ya dad!"
Egnor dan Frank akhirnya mencari Claudia dan Willy bersamaan. Melewati jalan jalan dengan sangat detil. Sampai mereka akhirnya melewati mansion Gabriane.
"Berhenti Frank!" Pinta Egnor memegang lengan Frank. Frank sudah agak ketakutan karena tuannya menyuruh berhenti tak jauh dari rumah Richard.
"Kau, kau mau apa tuan?" tanya Frank sedikit bergidik. Sepertinya akan ada sedikit keributan yang akan tuannya buat .
"Mundur!"
Frank memundurkan mobil dan Egnor turun dari sana. Frank tentu saja langsung meminggirkan mobilnya dan mengikutinya. Egnor memaksa masuk ke mansion yang tentu saja dilarang. Namun, sangat kebetulan dan mungkin ini yang dinamakan dendam seorang suami sekaligus ayah.
Richie hendak pergi dan baru saja keluar. Egnor sudah sangat kesal. Dia memberi satu pukulan pada si penjaga dan tentu beberapa penjaga lainnya hendak menyerbu Egnor tapi Frank lebih tanggap. Dia selalu menyiapkan pistol kecil dan melindungi tuannya menghampiri Richie.
"Diam kalian semua atau aku akan menembak satu per satu!" Ancam Frank dengan gerakan yang cepat mengawasi tuannya yang terus berjalan dengan perangaian tegas penuh amarah.
Richie tentu ketakutan dan hendak masuk ke dalam mobil tapi Richard menahannya dari belakang.
"Kau harus katakan yang sebenarnya!" kata Richard memegang punggung ayahnya.
"Richard, aku ingin pergi, Egnor ingin bertemu denganmu," saut Richie hendak melepas tangan anaknya dan Egnor sudah ada di hadapannya.
"Egnor, kau mau bertemu anakku kan? Silahkan masuk ke dalam," kata Richie basa basi yang makin memuakan Egnor.
Buak!
__ADS_1
Tanpa bicara Egnor memukul Richie sampai mengeluarkan darah di sisi bibirnya. Richie terhempas ke sisi mobil.
"Kau, kau berani sekali! Hey kenapa diam, tangkap si pengacara busuk ini!" perintah Richie melihat anak buahnya.
Buak!
Sekali lagi Egnor meraih kerah jas Richie dan menghajarnya terus menerus. Semua tidak berani mendekat karena Richard dan Frank yang menjagainya.
Buak! Buak! Buak!
Egnor terus memukul tanpa mengatakan apapun sampai rasanya puas. Dia membenarkan vest jasnya lalu beranjak.
"Aku hanya meluapkan kekesalah, selanjutnya aku akan tetap menuntutmu!" Kata Egnor dengan sinis dan dingin mencekam. Dia pun pergi dari sana.
Richie tampak mengenaskan dan semua bawahannya membawa ke dalam dan memanggil dokter. Richard diam saja. Semoga dengan kedatangan Egnor, ayahnya menjadi tahu siapa yang ia hadapi. Mungkin sekarang Egnor belum menang secara utuh tapi Richard yakin kalau Egnor yang akan mengendalikan permainan.
Egnor dan Frank kembali mencari Claudia dan Willy. Egnor mengajak Frank dengan cepat ke taman taman sekitar. Ketika mereka mencari, August menghubungi Frank. Frank menyalakan earphone bluetooth .
"Masalah Kate bisa nanti, kau temani saja terus! Kau tidak tahu kan kalau salah satu anak tuan Egnor diculik?" kata Frank mengangkat panggilan.
"Aku tahu! Tuan Bertho juga menyuruhku mencari seperjalanan ku bolak balik rumah sakit dan rumah. Aku mencurigai seorang ibu yang keluar bersama seorang bayi yang wajahnya cukup merah pagi ini. Entah dari mana ibu itu mendapatkan bayi kecil itu karena setauku dia tidak mempunyai bayi. Entah mengapa aku merasa itu bayi tuan Egnor," kata August memberitahu pencarian apa yang ia dapat.
"Di mana kau melihatnya?" tanya Frank.
"Rumahku di dekat taman pinggiran Honolulu. Di sana hanya ada satu apartemen dan satu taman yang menjual ice cream," jawab August memberi tahu.
"Kami akan kesana!"
Frank melajukan mobilnya ke sana. Dia langsung menuju ke taman dan mencari ibu ibu yang August maksud. Di sana hanya ada sebuah kedai ice cream. Egnor menyuruh Frank berkeliling. Pandangan Egnor selalu jeli dan terarah apalagi dalam keadaan emosi seperti ini.
"Berhenti Frank, itu Claudia!" Kata Egnor melihat istrinya dengan Coat abu abu sedang memperebutkan sesuatu. Egnor keluar dan benar itu Claudia. Claudia bersama seorang ibu yang mungkin dimaksudkan August. Egnor segera menyusul istrinya sementara Frank meminggirkan mobil.
"Clau?" Panggil Egnor.
"Kak Egnor? Lihat! Ini Willy! Aku yakin ini Willy!!!!" teriak Claudia menunjuk nunjuk anaknya.
"Apa apaan kau nyonya! Ini anakku! Kau ini sudah gila ya, datang datang main mengambil anakku!" bantah ibu itu.
"Clau tenang Clau, kita tanyakan baik baik," ujar Egnor memegang pundak istrinya.
"Bagaimana bisa tenang kak, lihat wajahnya, lihat bintik hitam di samping pelipis Willy, ini Willy!" kata Claudia lagi dengan sangat tegas.
"Bukan hanya Willy mu yang mempunyai tanda ini. Ini Nehemia! Anakku!" bentak ibu itu tidak mau kalah.
"Kapan kau mendapat anak ini Nyonya?" Tanya Frank yang sudah menyusul.
"Mendapatkan bagaimana? aku yang melahirkan! Kalian ini dari mana tidak jelas!" decak si ibu melototkan matanya.
"Sebentar Nyonya, sebentar saja, biarkan aku melihat bayi ini," kata Egnor memohon. Karena ketampanan Egnor dan wajahnya yang tegas tapi penuh kasih sayang, ibu tersebut sedikit melemah. Egnor hanya meriah tangan Willy dan membaliknya. Di sana Willy juga mempunyai tanda lahir dengan bentuk huruf E sedangkan Wilson C. hal ini hanya Egnor yang menyadarinya. Mungkin Tuhan hendak memberitahu dimana keunikan anak dari orang orang pintar itu. Egnor tersenyum karena lega menemukan anaknya.
"Nyonya, ini anak kami, tolong berikan dia pada kami," pinta Egnor secara baik baik.
"Kau ini punya otak atau tidak tuan? Ini anakku, bagaimana bisa aku memberinya padamu?! Sudah minggir kalian semua, aku mau bekerja! Sudah bagus aku merawat anak ini di tengah kesengsaraanku, kalian main seenaknya mengambilnya!" dengus si ibu dan mulai pergi meninggalkan Egnor, Claudia dan Frank.
"Nyonya, berhenti di sana atau aku akan membawanya ke meja hijau!" ancam Egnor kemudian.
Ibu tersebut menghentikan langkahnya dan setengah menoleh menatap tajam Egnor.
"Kau siapa berani beraninya memisahkan anak dari ibunya?!" decak ibu itu dengan tajam.
"Egnor Victor Jovanca!" Frank yang memberitahu dengan sangat jelas.
Seketika mata si ibu mendelik
'Sial! Beraninya Elizabeth sampai membayarku untuk berurusan dengan orang ini!' gumam si ibu dalam hatinya.
...
...
...
...
...
Nah lho Bu, Uda serahin aja lau 😡😎
.
Next part 127
Siapa kah yang akan menang dalam pengadilan merebutkan anak sendiri? 😂
Apakah ada cara licik lainnya atau kendali malah ada pada Claudia dan Egnor?
lalu apa Richie dapat berkelit lagi dari tuntutan Egnor?
.
okedeh so, jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤