
Logis tapi tidak logis. Tidak logis tapi logis. Pernyataan inilah yang menjadi kesimpulan kisah kehidupan mereka berdua. Frank dan Grace. Logis nya mereka dipertemukan dalam satu pekerjaan dan ketidak logisannya ketika mereka secara kebetulan menjadi orang kepercayaan si pemilik gedung pengacara paling memukau di kotanya. Mereka berdua dibawa oleh Egnor bekerja di kantor pengacaranya. Entah di mana Egnor begitu percaya dan meyakini mereka berdua untuk bisa membantunya memajukan usaha nya ini.
Ketidak logisannya yang lain, Egnor mendapatkan mereka di dalam hal hal yang tidak dipikirkan oleh Egnor sendiri. Lagi lagi dia dihadapkan pada ketidak Adilan yang sebenarnya tidak perlu ia urusi. Namun, mengingat masa lalu Egnor yang penuh dengan ketidak Adilan, Egnor berusaha menjadi jalan lurus bagi masalah mereka berdua. Pantas saja Egnor disebut Pengacara yang tiada tandingnya karna dia tidak menerima suap sedikitpun jika itu menyangkut ketidak Adilan meskipun di berika sejumlah materi yang bisa menguntungkannya.
Bermula dari sebuah seminar amal di sebuah panti asuhan bertemakan keadilan. Egnor tampil memukau dengan sendiri. Sebenarnya bersama Joe, bodyguard sewaannya kala itu. Dia belum menetapkan Joe sebagai bodyguard tetap karna kantor pengacara nya baru saja dibuka. Egnor memperhatikan seorang gadis yang tampak mengurusi semua perlengkapan dan peralatan di ruangan pertemuan itu.
Ruang pertemuan yang tidak terlalu besar namun sudah tersusun rapi dengan bangku bangku yang berjumlah mungkin lima puluh sampai seratus kursi. Seminar kali ini hendak membua pemikiran sempit para anak anak yatim piatu yang merasa tersisih karna tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Bukan hanya mereka yang yatim piatu yang berada di panti asuhan ini, tapi juga mereka korban broken home. Ketika Egnor mendapatkan proposal seminar ini, hatinya langsung tergerak. Pembicara seminar kali ini bukan hanya Egnor namun juga ada dokter spesialis anak dan motivator remaja. Egnor hanya menjabarkan sedikit mengenai hukum tentang keadilan.
Kembali lagi dengan gadis yang hanya dia mengurusi perlengkapan di depan sana. Egnor datang lebih awal karna kepribadiannya yang tidak suka terlambat. Egnor agak heran mengapa orang orang di sini yang menyuruhnya mengangkat proyektor, laptop bahkan meja dan kursi untuk meletakan perlengkapan presentasi itu.
"Ehem, siapa gadis itu, Nyonya Miguel?" Tanya Egnor pada pemilik panti asuhan itu .
"Maaf Tuan, apa yang sedang menyiapkan perlengkapan presentasi?" Nyonya Miguel memastikan.
Egnor mengangguk.
"Graciella Devischa, Tuan. Dia salah satu penghuni panti asuhan. Dia tamatan sekolah menengah kejuruan perkantoran. Ada apa Tuan?" Nyonya Miguel memberi tahu dan kembali mengetahui apa yang diinginkan Egnor.
"Dia tampak rajin, mengapa tidak ada yang membantunya?" Tanya Egnor lagi.
"Karna dia yang menginginkan seminar amal ini Tuan. Dia tidak memiliki teman karna dia agak tertutup dan pemikirannya sedikit aneh Tuan." Jawab Nyonya Miguel.
"Hah? Mengapa kau malah mendukung mereka yang tidak menyukainya?" Egnor mengerutkan dahinya
"Bukan begitu Tuan Jovanca. Grace memang memiliki tingkat pemikiran yang berbeda dari anak anak lainnya Tuan. Dia dapat memibacarakan masalah politik dan hukum secara detil dan bersamaan. Dia memang ingin melanjutkan sekolah hukum namun keluarganya tidak meninggalkan warisan apa apa untuknya Tuan. Itu saja kami yang menemukannya di pinggir jalan menjadi seorang pengemis yang sudah ter-organisir, Tuan." nyonya Miguel makin menjabarkan. Egnor semakin terkejut.
"Ah, kau serius dia senista itu?" Egnor memastikan.
"Benar Tuan. Dia bilang kedua orang tuanya telah meninggal karna korban penindasan pemilik tanah yang ditempati oleh mereka. Grace melarikan diri karna ibunya yang menyuruh untuk menyelamatkan diri." tambah Nyonya Miguel.
"Siapa nama panggilannya?"
"Grace Tuan. Sebenarnya dia anak yang baik dan penuh kasih sayang tetapi karna kepribadiannya yang membuat orang agak risih dan bosan dengan ceritanya."
Egnor mengangguk angguk. Nyonya Miguel menyelesaikan ceritanya karna Egnor tidak bertanya lagi. Sekitar beberapa menit kemudia, seminar dimulai. Ternyata Grace menjadi notulen untuk acara ini. Dia sangat memperhatikan Egnor, dokter spesialis anak dan si motivator anak. Setiap kata kata nya ia ketik dengan sangat cepat dan tangkas. Sesekali Egnor melihat wajahnya yang berbinar binar. Dia seperti mengerti dan menanggapi dengan luas setiap perkataan yang terdengar. Sesaat Egnor merasa kagum padanya. Dari wajahnya yang dingin, Egnor mengingatkan Grace pada Viena adiknya. Sedangkan melihat dirinya yang giat dan rajin mengingatkan Grace pada Claudia. Dan, ketika Grace dengna sigap memberikan air minum bagi temannya yang mungkin sedang sakit namun ingin mengikuti seminar. Benar apa yang dikatakan oleh Nyonya Miguel, kalau Grace sesungguhnya gadis yang penuh kelembutan. Hal ini malah mengingatkan Grace pada ibu dan aunty nya, Theres dan Anne. Egnor merasa harus membantu Grace dan mewujudkan cita cita nya.
Baru saja Egnor keluar dari ruang seminar ketika sudah selesai, dia mendapatkan Grace sedang berdebat dengan temannya. Grace berusaha membuat satu temannya pergi dengan semua bentakan dan umpatan yang Grace berikan dan tak lama teman satunya menampar Grace.
"Kau tidak berhak menyuruhnya pergi, Grace!" bantah salah satu temannya.
"Ada apa? Seseorang ingin mengadopsinya, lalu kenapa?" balas Grace.
"Kalau dia pergi, lalu aku akan bersama siapa?" temannya agak bersedih tapi juga masih sangat kesal karna Grace terlalu mengatur.
"Kau tidak boleh egois, Amelia. Linda sendiri yang menginginkan pergi dari panti asuhan ini. Dan seharusnya kita juga bisa pergi dari panti asuhan ini jika kita memiliki modal belajar. Sebaiknya kau belajar yang benar agar bisa keluar dari panti asuhan ini!" decak Grace memperingati Amelia, temannya yang tidak mau Linda pergi. diceritakan Amelia dan Linda bersahabat dalam panti asuhan tersebut.
"Lalu, bagaimana denganmu? Kau selalu di puja puja Nyonya Miguel dan para suster, kenapa kau belum keluar dari panti asuhan ini? Kau tahu karna apa Grace? Karna kau aneh! Pemikiran mu itu tidak masuk akal dan terlalu berhalusinasi. Dan sebenarnya petinggi panti asuhan ini takut, kalau kau pergi dari sini, kau akan mempermalukan dan merepotkan orang yang mau mengadopsimu!" bentak Amelia menunjuk nunjuk Grace.
"Diam kau! Kau yang tak beretika juga cemburu karna Linda lebih cantik dan anak dari yang hendak mengadopsi Linda menyukainya ketimbang dirimu kan? Kau hanya iri pada Linda, Amelia! Jadi sebaiknya kau biarkan Linda pergi, ayo Linda, aku akan mengantarmu!" Grace menarik tangan Linda.
"Tidak! Linda, kau tidak boleh pergi dari sini!" Amelia berkeras hati dan kembali menarik tangan Linda.
"Tidak Linda, kau harus menemukan kebahagiaanmu!" Grace kembali menarik tangan Linda sehingga akhirnya kesabaran Linda habis. Linda membuka suara.
"LEPAAASSS!!! Diam kau Amelia! Grace, kau juga diam saja! Aku sudah memutuskan akan pergi dari sini!"
Grace tersenyum .
"Linda, kau jangan gila, mereka akan kembali membuangmu!" Amelia menakut nakuti Linda.
"Tidak ada yang tahu suratan takdir Amelia. Maafkan aku, aku sudah tahu semuanya dari Grace kalau kau hanya memanfaatkanmu dalam berteman. Pantas saja para suster sering memberiku peringatan dengan kesalahan yang tidak kuperbuat. Selamat tinggal!" Kata Linda berjalan menjauhi Grace dan Amelia. Amelia sangat sangat geram. Dengan cepat, dia menjambak rambut Grace dan membantingnya ke tanah.
"Kau memang gadis sial Grace! Kau menggunakan semua akal bulusmu untuk membuat orang sama sepertimu tapi tidak denganku! Kupastikan aku makin menderita tinggal di panti asuhan ini sampai menjelang ajalmu! Tunggu saja kau!" Ancam Amelia menunjuk nunjuk Grace dan meninggalkannya. Grace bahkan tidak takut. Dia malah tersenyum kecut untuk Amelia. Grace berdiri mengebas ngebaskan pakaiannya dan merapikan rambutnya.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan mendekatinya. Grace segera menoleh ke arah suara tepukan tangan tersebut yang ternyata adalah Egnor. Dia segera tersenyum dan membungkukan tubuhnya.
"Selamat siang Tuan Jovanca." Kata Grace dengan penuh hormat. Waktu itu usia Egnor 26 tahun dan Grace 20 tahun.
"Siapa namamu?" tanya Egnor hanya memastikan.
"Gra Gra Graciella Devischa, Tuan, cukup dengan Grace saja Tuan." jawab Grace agak canggung dan sedikit takut karna perawakan Egnor yang dingin dan sangat formal.
Egnor mengangguk angguk.
"Kemasi barang barang mu dan ikut denganku. Kau harus bekerja di kantor pengacaraku. Aku akan memberikanmu apartemen untuk kau tinggal. Kau tidak perlu lagi tinggal di sini karna aku yang akan mengadopsimu!" kata Egnor kemudian dengan kedua tangan di saku celananya.
Grace yang masih menunduk seketika membuka lebar matanya. Dia mendongakkan kepalanya perlahan lahan dan menatap melotot Egnor.
"Ada apa? Kau tidak mau?" Egnor menaikan alisnya.
__ADS_1
"Kau serius akan mengadopsi gadis tidak masuk akal seperti ku Tuan? em sebenarnya aku selalu mengatakan hal benar tapi mereka yang menganggapku aneh!" Grace memastikan sambil mendengus.
"Ya, sebagai pekerja ku!" jawab Egnor.
"Terserahlah yang penting ada yang membawaku dari tempat ini! Aku ingin melihat dunia luar tanpa tekanan atau peng intimidadian Tuan!" saut Grace bersemangat.
"Ya, kau ikut denganku! Aku akan mengurusnya, segera kemasi barang mu, waktu ku tidak banyak!" kata Egnor lagi meyakinkan.
"Siap Tuan!!" Grace segera menuju ke kamarnya dan mengemasi semua pakaiannya. Dia sangat bersemangat dan wajahnya makin bersinar. Dia akan melihat kota Honolulu yang sebenarnya. Dia juga akan lebih mengenal dunia.
Sementara Egnor menuju ke ruangan Nyonya Miguel. Dia meminta surat hak asuk Grace yang resmi.
"Kau yakin akan mengadopsinya Tuan? Apa kau tidak akan kerepotan dengan semua tingkah lakunya yang tidak dapat terpikirkan oleh akal sehat Tuan." Nyonya Miguel meyakinkan Egnor agar tidak terjadi kesalah pahaman atau masalah.
"Bukan tidak masuk akal. Dia hanya terlalu pintar. Kantor pengacaraku membutuhkan orang orang seperti dia." jawab Egnor yang sebenarnya terkadang pemikirannya dapat melebihi apapun. Viena dan Claudia, merekalah satu satunya yang sangat mengenal kepribadian Egnor. jangan heran kalau dia hanya membutuhkan waktu 6 tahun mendapatkan gelar gelarnya.
"Tapi kantor pengacara anda sedang berkembang Tuan. Jangan sampai dia membuat masalah Tuan!" Nyonya Miguel terus meyakinkan. dia juga tidak mau nama panti asuhannya menjadi buruk karna Grace.
"Semua sudah menjadi tanggung jawabku, sebaiknya kau siapkan semua berkas berkas nya. Hubungi asosiasi survey untuk syarat pengadopsian atau katakan saja aku yang mengadopsinya. Dan kau lihat saja Nyonya Miguel, kantor pengacara ku akan semakin maju dan disegani karna campur tangan Graciella Devischa dari panti asuhan ini. Saya berterimakasih karna kau telah merawatnya selama ini." Tutur Egnor dengan keyakinan penuh. hati kecilnya tidak akan salah.
"Baiklah Tuan! Saya percaya kau pasti akan membuatnya jauh lebih baik." Nyonya Miguel menyerah.
"Bukan aku yang menciptakan dia menjadi orang sukses tetapi dirinya sendiri. Jika dia sudah berkembang dengan baik, aku akan menyarankannya menjadi dermawan di panti asuhan ini." balas Egnor penuh dengan kepercayaan diri yang mematikan lawan bicaranya.
"Iya Tuan." Nyonya Miguel tidak dapat berkata apa apa lagi untuk menahan Grace karna mendengar perkataan Egnor sangat menusuk batinnya. Kata kata Egnor seraya menyindir kinerjanya dalam mendidik anak anaknya. Tetapi Nyonya Miguel mendalaminya dengan baik. Dia dan sistem kerja panti asuhannya membutuhkan pembenahan ulang.
Grace sudah siap dengan kopernya. Dia sudah memberi salam pada Nyonya Miguel dan para suster yang menyayanginya. Egnor sudah sangat yakin dengan semua keahlian yang Grace miliki.
"Joe, bawa koper Grace ke bagasi mobil!" Perintah Egnor dan Joe langsung menjalankannya. Egnor langsung memasuki mobil yang juga diikuti Grace. Grace duduk di sampingnya dan masih terus menunduk. Dia masih tidak percaya kalau dia akan bekerja di kantor Tuan Egnor. Dia cukup menganggumi pengacara muda yang berwibawa ini.
"Joe, aku turun di kantor saja. Kau segera antar dan urus tempat tinggal Grace di Apartemen One Dimitri. Katakan atas nama ku untuk pekerjaku. Mengerti? Kau masih memegang black card ku kan?" perintah Egnor.
"Siap Tuan!"
"Tu, Tuan Jovanca, terimakasih." ucap Grace sedikit terbata.
"Sama sama Grace! Kau akan bekerja lusa. Besok aku akan menyuruh sekertarisku mengantarmu berbelanja keperluan sehari hari dan pakaian kantormu. Aku masih harus ada rapat di kantor. Persiapkan dirimu dengan baik." pesan Egnor sambil terus menatap ke depan.
"Ba, baik Tuan. Aku tidak akan mengecewakan." ujar Grace dengan wajah berbinar binar. akhirnya waktunya berkarya dimulai.
Seiring berjalanya waktu, Grace memang tampak cekatan dan pandai. Dia bisa menggiring para karyawan untuk mengerjakan laporan yang bersifat team. Dia juga bisa menjadi notulen di setiap rapat. Dia membuat tugas administrasi menjadi tersusun rapi. Grace juga dapat mengatur jadwal pengacara dengan rapi dan tidak tumpang tindih. Karna sekertaris Egnor harus menikah dan meninggalkan Honolulu, dia terpaksa keluar dan Grace yang Egnor percayakan menggantikannya. Grace sudah menganggap Egnor seperti kakak dan ayahnya. Tidak pernah terbesit perasaan berlebihan malahan Grace yang memberikan saran saran wanita untuk Egnor yang tidak pernah digubris oleh Egnor. Grace akhirnya mengetahui kalau sudah ada seorang wanita yang mengisi relung bos atau atasannya itu yang sepertinya tidak dapat diganggu gugat. Grace tidak pernah lagi mendukung setiap wanita yang mendekati Egnor. Apalagi sejak dia bertemu orang lain yang juga merupakan kepercayaan Egnor.
...
Sebuah kasus pembunuhan terjadi di sebuah jalan melintas. Seorang pria tua menjadi korban pembunuhan ketika dia sedang mengemudikan mobilnya, ada seorang mengendarai sebuah motor dan menghadang dirinya. Pria tua itu terbunuh di kursi depan dengan sebuah sayatan lebar di lehernya. Dia pun tewas seketika. Pembunuhan dilakukan ketika pagi subuh dan si pembunuh menghilangkan jejak jejak yang mencurigakan.
Egnor yang langsung ditugaskan oleh kepala kepolisian menjadi pengacara dari keluarga yang ditinggalkan. Seorang dari keluarga terpandang meninggal di tempat dan anaknya menuntut dengan sangat tegas. Bukan hanya itu, anaknya mencurigai yang mendalangi pembunuhan ini adalah kekasih dari ibunya. Ibunya telah berselingkuh dan kini juga meminta warisan yang hanya ditunjukan oleh anaknya.
"Tuan Holland Leonard meninggal ditempat dan ditemukan sayatan dalam dan lebar di bagian lehernya, Tuan." Kata asisten pengacara Egnor memberi tahu kasus terkini yang ditugaskan padanya.
"Holland Leonard? Apakah dia satu kebangsawanan dengan Keluarga Kwan?" Egnor memastikan dan mengingat nama nama orang penting di Honolulu.
"Ya benar Tuan! Istrinya, Elizabeth telah berselingkuh namun dia meminta bagian warisannya. Warisan itu mengatas namakan Franky Leonard." tambah informasi dari si asisten.
"Siapa dia?" Egnor menghentikan langkahnya.
"Anak dari Holland dan Elizabeth." jawab si asisten.
"Apa mereka telah bercerai?"
"Sudah Tuan dan Elizabeth menuntut bagiannya. Franky Leonard sudah mengurus kasus ini bersama kasus pembunuhan ayahnya. Tuan Muda Leonard curiga kalau dalang pembunuhan ayahnya ada campur tangan kekasih ibunya dan ibunya sendiri." kata si asisten lagi mengakhiri informasi kasus.
"Temui aku dengan Franky Leonard secepatnya dan sekarang kita harus ke lokasi kejadian." perintah Egnor menuruni kantor pengacaranya.
"Siap Tuan!"
Sang asisten pun mengatur pertemuan Egnor dengan Frank di sebuah kantor polisi di ruangan pribadi penyelidikan. Egnor lagi lagi datang bersama Joe. Tadinya dia hendak mengajak Grace, namun Grace masih harus menyelesaikan laporan kasus yang menumpuk belakangan hari ini.
Egnor memasuki ruangan dan melihat Frank di sana tampak frustasi. Egnor merasakan hawa kehilangan menyelimuti sekitar Frank. Dia meremass rambutnya kasar. Seperti sudah tidak ada harapan hidup.
"Selamat sore Tuan Muda Leonard, Tuan Egnor Jovanca, pengaca anda sudah datang." Kata kepala polisi memberitahu. Frank segera melihat ke arah Egnor. Dia berdiri dan membungkukan tubuhnya.
"Selamat sore Tuan Jovanca. Terimakasih sudah berkenan menjadi pengacara saya.
"Duduklah!" Kata Egnor menduduki bangku nya dan menyuruh Frank juga duduk.
"Baiklah Tuan Jovanca, aku dan Joe akan meninggalkan kalian." kata si kepala polisi.
Egnor hanya mengangguk sementara Frank masih menunduk.
"Ceritakan apa yang terjadi dengan hubungan keluargamu dan kasus pembunuhan ayahmu!" pinta Egnor.
__ADS_1
"Setelah mengetahui ibuku berselingkuh, ayahku segera menceraikannya. Aku tidak mengerti apa apa sebelumnya. Aku hanya mencoba bersekolah dengan baik dan tidak pernah merepotkan ibuku. Namun entah mengapa ibuku mengkhianati ayahku padahal ayahku selalu memberi apa yang ia inginkan. Ya meski aku mengetahui kekurangan ayahku mengidap penyakit yang tidak ku ketahui. Karna aku seorang pria dan sangat mengerti perasaan ayahku, aku tidak pernah meninggalkannya sementara ibuku pergi bersama selingkuhannya. Bisa dikatakan dia sudah menjadi ayah tirimu sekarang walau aku tidak pernah menganggapnya. Sampai akhirnya aku mengetahui kalau ayahku meninggalkan harta yang mengatas namakan namaku saja . Ibuku tidak mendapat bagian. Dia marah dan menuntutku. Tak lama kemudian ya begini. Aku mendapatkan ayahku meninggal dengan cara yang mengenaskan! Aku ingin sekali menemukan pelaku pembunuhan ayahku. Aku curiga ini masih sangkut paut dengan ibuku dan kekasihnya." begitulah ringkasan dari Frank. dia masih menunduk dan menautkan tangannya.
"Kau sekolah jurusan apa?" tanya Egnor juga membutuhkan asal usul Frank.
"Hukum tuan. Tapi karna sekelumit permasalahan ini, aku baru saja lulus." jawab Frank sedikit melirik Egnor.
"Berapa usiamu?"
"Dua puluh tiga tahun. Aku tahu, aku tidak hebat sepertimu Tuan. Pada usiamu ke dua puluh satu saja, kau sudah menjadi magister hukum dan kau sekarang seorang Doktor. Karna aku baru saja lulus, aku belum bisa mendapat surat tugas. Lagipula sangat mustahil jika aku yang menangani kasus ini. Jadi aku mohon Tuan, bantu aku menangani masalah ini sampai ke akar akarnya." pinta Frank dengan sedikit takut Egnor menolaknya.
"Kau harus melanjutkan kuliahmu setelah aku menangani kasusmu!" Egnor malah mengatakan hal ini Karna dia merasa Frank memiliki keahlian yang luar biasa yang belum dia sendiri ketahui.
"Pasti Tuan! Aku juga ingin menjadi pengacara handal penuh karismatik sepertimu!"
Egnor mengangguk mengerti. Dia berjanji dia akan menemukan si pelaku. Dia juga akan menuntut hak bagian Frank yang sudah seharusnya untuknya.
Dengan berbagai proses panjang yang cukup dengan penuh drama dan penyelidikan panjang, Egnor pun menemukan si pelaku. Namun ternyata sang pelaku telah meninggal. Kematiannya mencurigakan. Egnor ingin terus menyelidikinya. Tetapi, ketika Egnor menemui Frank di rumah sakit sesuai permintaan Frank, Frank mengatakan telah menghentikan penyelidikan.
"Ada apa?" Tanya Egnor langsung kepada inti permasalahan.
"Ya, ibuku sakit Tuan. Untuk saat ini seperti ini saja dulu. Dan warisan yang sudah jatuh di tanganku biarlah aku berbagi nya dengan ibuku Tuan. Tapi Tuan.." kata Frank menemui Egnor di restoran rumah sakit.
"Bagaimana?"
"Ijinkan aku bekerja bersamamu. Kau sudah banyak membantuku. Aku juga ingin melanjutkan sekolahku. Tapi aku mohon perlindunganmu. Kau salah satu orang yang disegani. Aku ingin belajar dan mengabdi padamu dan berharap suatu saat nanti aku bisa membongkar semua kebiadapan ibu dan ayah tiriku. Aku mohon Tuan, terimalah aku!" Frank menatap Egnor dengan keseriusan.
Egnor hanya diam dan menatap datar Frank. Frank merupakan salah satu klien nya yang sebenarnya ia mampu, namun karna intrik masalah keluarganya yang sedikit rumit, Frank menjadi sosok yang tak tentu arah. Frank malah seperti pria yang berkekurangan. Kasih sayang yang diberikan orang tuanya ternyata tidak sampai di hatinya sehingga dia seperti putus asa. Dia seperti mudah dibodohi karna Egnor juga curiga kalau sakit dari ibunya hanya mengada Ngada. Baiklah, sepertinya Egnor memang harus menyimpan masalah ini terlebih dahulu sampai Frank yang menginginkan bertindak. Secara kasar, Frank memanfaatkan kekuasaan dan kekuatan Egnor namun hanya ini yang ia bisa lakukan untuk sementara. Egnor bisa memaklumi itu dan memang ini tugasnya. Membela keadilan sesuai prinsip hidupnya.
"Aku menerima mu Frank! Ini kartu namaku, datang ke kantor pengacara ku besok maka akan kuberitahu apa yang harus kau lakukan!" kata Egnor menyodorkan kartu nama.
"Baiklah Tuan! Aku siap menjadi yang terbaik bagimu!" Frank memberi hormat. Frank sudah bertekad akan menjadi pengacara yang juga hebat dan suatu saat nanti dia akan menuntut orang yang telah menghabisi nyawa ayahnya.
...
Keesokannya,
"Grace, perkenalkan ini Franky Leonard. Dia akan menjadi asisten ku untuk sementara selama kau masih mencari asisten untukku." Kata Egnor memperkenalkan Frank. Grace baru saja tiba.
"Frank, berbalik lah, perkenalkan dia adalah Graciella Devischa, sekertarisku." kata Egnor lagi pada Frank yang berdiri di hadapannya.
Frank pun berbalik. Dia menatap Grace yang masih menunduk. Frank mendekati Grace. Dia mengulurkan tangannya dan Grace mendongakan kepalanya.
"Selamat Pagi Tuan Franky Leonard. Saya Grace, sekertaris Tuan Jovanca." Kata Grace meraih tangan Frank dan mereka berdua berjabat tangan.
Seketika Frank menatap dalam dalam gadis yang ada di depannya. Ia terpaku karna wajah Grace yang tampak putih, cerah dan sangat sederhana. Tanpa make up. Rambutnya pendek sepundak dan tanpa poni. Matanya agak sayu seperti membutuhkan kasih sayang.
Dan, pada pandangan pertama, Frank langsung tertarik pada Grace yang saat itu sedang tersenyum padanya.
...
...
...
...
...
Complicated yang berakhir sederhana
Good luck Frank and Grace 😍😍
.
Next Frank & Grace Part 2
Apa Grace juga merasakan cinta pada pandangan pertama?
Apa yang dilakukan Frank untuk mendapatkan hati Grace?
Stay tune ..
Entah mengapa jadi hatiku yang bergejolak Frank, Grace 😁😁
.
Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍
.
__ADS_1
Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕