
Ketika semua hal yang tabu sekalipun telah terkuak, rasanya semua tidak ada lagi masalah. Namun, di dunia ini akan terus menghadapi masalah yang tiada hentinya. Mulai dari ketakutan, kebimbangan, takut merasa sendiri, hal ini sangat wajar. Apalagi seorang pengacara seperti Egnor dengan istrinya yang memiliki segudang pengalaman hidup. Bagaimana mereka melaluinya? Sekali lagi, ini hanya masalah waktu dan penempatan dimensi yang tepat bagi hati dan jiwa raga kita khususnya mereka yang telah menjalani kehidupan rumah tangga.
...
Claudia dan Egnor memasuki kedai roti itu. Akhirnya Claudia menyetujui Egnor untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan barang barang elektronik terbesar di Oriental. Mereka membeli sebuah mixer roti berukuran kecil untuk Claudia membuat roti. Egnor sampai sampai juga sudah menghubungi Grace untuk memeriksa oven besar yang bergabung dengan kitchen set agar kalau bermasalah secepatnya diganti. Dia juga menyuruh Grace membeli sebuah mixer roti berukuran besar untuk di taruh di apartemen mereka di Honolulu.
"Aku hanya ingin membuat roti di sini, mengapa kau juga menyuruh Grace membeli mixer di sana?" tanya Claudia penasaran dengan isi pikiran suaminya yang selangkah di depan dari apa yang ia rasakan.
"Agar kalau sampai sana kau mengidam mau membuat roti lagi sudah ada, jadi kau tidak kerasa kepala tanpa sepengetahuanku membuat roti dengan tangan kurusmu itu!" jawab Egnor masih berdiri di daun pintu samping kedai dan meletakan hasil buruan belanjaan mereka untuk merenggangkan otot ototnya.
"Oh my Gosh! Twins, Kalian dengar? Dad kalian mengatai tangan ku kurus!" Claudia berbicara pada perutnya.
"Benar! Lihat ini!" Egnor mengangkat pergelangan tangan Claudia dan benar terlihat sangat kecil dan Claudia pun dapat melingkarkan kedua jarinya dengan pas pada pergelangan tangannya.
"Mulai sekarang pagi hari kau harus meminum susu dan siang nya meminum jus buah lalu malamnya meminum susu lagi! Sekarang sudah sore lebih baik minum jus, aku akan membuatkannya!' Kata Egnor lagi mulai meraih kembali belanjaan mereka dan masuk ke dalam dapur. Di tangan satunya penuh dengan dua kantung belanjaan kain berisi sayur, buah, cemilan sehat dan susu hamil. Sedangkan di tangan satunya, Egnor membawa mixer roti berukuran kecil itu. Dia tidak membiarkan istrinya membawa semuanya itu.
"Bagaimana kau membuat jus kak? Kita bahkan tidak membeli blender. Ah tapi kita bisa meminjam Nyonya Emily. Sebentar aku kesana!" kata Claudia hendak ke rumah Emily namun suaminya menahannya.
"Tidak usah! Aku sudah membelinya." kata Egnor mengeluarkan sebuah kotak panjang berisi blender portable yang hanya menggunakan energi charge seperti ponsel.
"Maksudmu?" selidik Claudia sedikit tak percaya pasalnya dia tidak tahu.
"Lihat aku membeli blender portable ini." Egnor sudah mengeluarkan blander warna hitam itu.
"Kapan kau membelinya?"
"Di tempat elektronik tadi. Kau sibuk melihat oven jadi kau tidak tahu!" Egnor juga mulai mengeluarkan buah buahan yang sudah ia beli. Egnor tampak antusias mengingat pesan dokter untuk istrinya.
"Oohh, karna itu kau menyuruh Grace memeriksa oven kita?" Claudia tersenyum dan mengetahui alasan sebenarnya dari oven dan mixer barunya di Honolulu.
"Hemm." hanya itu jawaban suaminya karna asik meneliti bahan bahan belanjaan.
"Mengapa tidak sekalian saja perusahaan elektronik itu kau beli jadi aku tinggal katakan padamu kan tidak usah harus membeli?!" Kata Claudia menantang Egnor karna suaminya semakin seenaknya dan sedikit senang karna kehamilan ini suaminya bak pengusaha besar.
"Kalau kau mau, aku bisa meminta Dion atau Leon mengurusnya. Aku akan membeli saham mereka. Sebentar aku akan hubungi .." Egnor agak menegakan tubuhnya hendak meraih ponselnya.
"Sudah sudah! Aku hanya bercanda! Cepat siapkan jus itu! Lama lama aku menjadi incaran ketua mafia kalau kita bisa menguasai semuanya!" decak Claudia tersenyum tipis.
"Mudah Clau!" gumam Egnor ikut tersenyum.
"Cih, mudah sekali memang pemilik Lawyer Eg tertinggi di Honolulu."
"Jelas!" Balas Egnor lagi tersenyum dan mulai mencuci buah apel. Claudia tidak membantunya karna terlalu antusias mengeluarkan mixer roti itu dari kotaknya. Egnor setengah menoleh dan senang melihat Claudia juga dapat melakukan apa yang istrinya itu inginkan.
"Ini jus apel mu! Malam ini, kau mau makan apa sahang?" Egnor memberikan jus apel yang langsung ditegak oleh Claudia dan menanyakan makan malam.
"Aku ingin makan popcorn sambil menonton film di bioskop." jawab Claudia menunjukan wajah memohon.
"Cloudy! Kita baru saja pulang dari kota masa ingin ke sana lagi?!" decak Egnor ingin menolak sebelum mengutarakan maksud dirinya yang sebenarnya. Egnor tidak suka bioskop! bagaimana seorang pengacara yang memiliki ketegasan dan perfeksionis yang di atas rata rata apalagi kapasitas otaknya yang tak tertandingi menyukai sebuah bioskop. menurutnya hal yang aneh yang memiliki sebuah filosopi yang bisa ia terangkan dengan logis.
"Claudi kau bilang! Claudia kakak!" koreksi Claudia mendengus.
"Wajahmu putih seperti awan, jadi aku ingin sekali memanggilmu cloudy!" Egnor seperti ingin mengalihkan keinginan istrinya.
"Kau bisa saja! Jadi bagaimana? Aku mau makan popcorn sambil menonton bioskop!" lagi lagi Claudia meminta.
"Tidak tidak! aku tidak suka menonton di bioskop, terlalu tertutup dan juga terbuka. Karna apa? Ruangan gelap memungkinkan adanya sebuah niat terselubung dan terbuka karna banyak nya kerumunan di sebuah ruang tertutup. Aku tidak mau. Berbahaya untukmu!" dan begitulah maksud bioskop bagi seorang doktor hukum seperti Egnor.
"Tapi aku mau! Ini kemauan anak laki laki mu Kak!" Claudia memaksa.
"Haiz, siapa yang menghubungi ku?! Iya iya!" Akhirnya Egnor menyetujui karna ponselnya tiba tiba berdering. Dia segera menegakan tubuhnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Yes! Aku harus memberikan bonus tambahan untuk Frank atau Grace. Karna mereka menelpon jadi Tuannya langsung iya iya haha!" Gumam Claudia pelan namun Egnor mendengar karna Egnor masih di sana mengangkat panggilan Frank.
"Bonus akhir tahunmu sudah tidak ada lagi Frank!" kata Egnor mengangkat panggilan yang sungguh mengganggunya.
"Apa apaan kau Tuan! Seharusnya kau malah melebihkan bonusku. Aku sudah mengantar mu menemani mu dan sekarang aku memegang perusahaanmu, menggantikanmu! Ah kalau sudah begini kubuat bangkrut saja perusahaanmu lah!" decak Frank tidak terima.
"Buatlah! Aku tidak takut! utang mu saja menggunung padaku" jawab Egnor santai.
"Tuan...." rengek Frank yang kenyataannya tidak bisa lepas dari seorang yang walaupun memiliki sifat yang keras namun memiliki hati sebaik malaikat.
"Childish!" Umpat Claudia beranjak dari kursinya, mengecup pipi suaminya sesaat dan pergi ke dapur.
__ADS_1
"Sudah, ada apa? Aku sedang berbicara pada Claudia. Dia meminta ke kota terus menerus sementara tadi pagi dia kontraksi palsu!" tanya Egnor sedikit sulit mengatur dengan kemauan istrinya.
"Begitulah kalau istri sedang hamil. Sekarang saja aku sambil memijat kaki Grace." saut Frank menanggapi kesulitan tuannya.
"Ada apa?" tanya Egnor lagi mengakhiri percakapan basa basi ini.
"Grace, aku ingin bicara serius dengan Tuan Egnor, nanti lanjutkan lagi!" kata Frank sebelum berbicara serius pada tuannya.
"Ya ya aku buat makan malam dulu." jawab Grace setuju dan beranjak dari sofa besar itu.
"Tuan, pembunuh Pendeta Rudolf sudah ditemukan." kata Frank ke inti permasalahan.
"Apa maksudmu?" saut Egnor.
"Ya, ternyata pembunuh Pendeta Rudulf adalah seorang perawat yang disuruh oleh adiknya sendiri." jawab Frank semakin menjelaskan.
"Beritahu yang jelas Frank!"
"Begini. Jadi Pendeta Rudolf memiliki seorang adik. Dia kesal terhadap kakaknya karna kakek nya Nona Lisa memberikan semua hak tanah pada ayah dan ibunya tanpa memberikan pada pamannya. Pamannya dendam dan menyuruh seorang perawat menghabisi nyawa Pendeta Rudolf. Sekarang Tuan Reinder Cornwell sudah di amankan bersama si perawat. Namun Tuan Reinder kini sedang sekarat di rumah sakit. Aku sangat curiga dengan semua ini Tuan. Karna sang perawat mengaku secara terang terangan pada pihak polisi." Tutur Frank menjelaskan inti dari kasus ini.
"Hem, ya memang ada yang aneh. Berapa usia Tuan Reinder Cornwell?" selidik Egnor perlahan.
"50 tuan. Nona Lisa tetap ingin menuntutnya. Dia sudah kesal sekali. Ibunya terus menangis dan malah ikut sakit sakitan." kata Frank lagi memberitahu pada tuannya. Egnor sedikit berpikir. ini agak sulit karna Egnor tidak melihat langsung wajah sang tersangka.
"Lahan mereka bagaimana? Apa masih mengirim surat kaleng?" tanya Egnor dengan kasus lain yang masih berhubungan dengan ini semua.
"Sudah tidak Tuan tapi kata ayah anda ada seseorang yang terus mengintai ketika Tuan Johanes berkali kali melihat lahan." jawab Frank memberitahu kondisi saat ini. Johanes ternyata menghubungi Frank karna tidak mau menganggu baby moon anaknya. pikiran Egnor langsung bekerja. lagi lagi dia berpikir tidak akan ada akibat jika tidak ada sebab.
"Semua ini ada keterkaitan Frank! Kau harus mengawasi lahan tersebut. Suruh saja Gabriel dan Joe. Dan berikan satu bodyguard Bertho dan sebuah mobil untuk tetap bersama dad ku! Jangan sampai terjadi apa apa pada dad ku!" perintah Egnor sementara. dia yakin si penjahat tidak akan bertindak tanpa melihat dirinya. mungkin saja si penjahat hendak memancing dirinya. dia harus segera berjaga jaga.
"aku sudah memikirkannya Tuan. Aku mencurigai Tuan Gabriane. Hanya dia yang sangat membenci ayahmu!" kata Frank lagi mengingatkan Egnor..
"Aku tahu! Apa kau memberi tahu Lisa kalau kecurigaan ada pada keluarga Richard?" tanya Egnor agak mencemaskan hubungan kedua orang sahabatnya itu. ya biar bagaimanapun Egnor harus berdamai dengan hatinya.
"Belum Tuan. Aku tidak berani, biar kau saja yang mengurusnya. Mereka semakin dekat. Beberapa kali Tuan Richard menjemput Nona Lisa jika Nona Lisa kemari menanyakan perkembangan kasusnya." jawab Frank melaporkan apa yang ia ketahui.
"Baiklah! Empat hari lagi aku akan pulang. Jaga dirimu Frank dan tetap berikan info padaku apapun yang terjadi!" perintah Egnor kemudian.
"Pasti Tuan! Jadi bonus ku bertambah atau berlipat kan?" tanya Frank dengan kedua kepastian yang sama.
Egnor menutup panggilan. Sementara Frank tersenyum sumringah.
"Sayang, kita akan membeli rumah!!!" Teriak Frank menghampiri istrinya di dapur. Dia yakin Claudia akan berbaik hati padanya.
Sementara masih di kedai roti itu, Egnor juga menghampiri Claudia yang sedang menggoreng telur serta beberapa daging asap.
"Ada apa sayang? Masalah siapa?" tanya Claudia setengah menoleh ke suaminya.
"Lisa. Pembunuh ayahnya sudah terungkap namun pembunuhnya menyerahkan diri." jawab Egnor dan sama seperti pemikiran suaminya, Claudia merasa aneh karna sangat mudah penyelesaiannya.
"Aneh!" gumam Claudia.
"Begitulah! Sudalah, nanti ketika kembali saja aku cari tahu, ini hal mudah!"
"Jangan selalu menganggap semuanya mudah sayang! Kau bisa kembali, aku bisa bersama Nyonya Emily untuk empat hari kedepan." kata Claudia menyarankan pada suaminya.
Egnor menggeleng dan memeluk Claudia dari belakang. Dia menenggerkan kepalnya di atas pundak Claudia.
"Aku sudah berjanji padamu untuk menemanimu, jadi aku akan di sini sampai kau yang menginginkan kembali ke Honolulu." ucap Egnor mengecupi leher Claudia perlahan.
"Kalau aku mau tinggal di sini saja bagaimana?" gumam Claudia bergurau.
"Tidak apa apa, aku punya pesawat jet bisa mengantar ku bolak balik atau aku bekerja di pusat pemerintah saja." jawab Egnor sekenanya karna dia tahu istrinya hanya omong kosong.
"Haha, bercanda sayang! Mengapa kau terus menurutiku?" kata Claudia sedikit memiringkan tubuhnya melihat Egnor.
"Agar tidak ada tetes air mata yang terjatuh." jawab Egnor kali ini dengan nada yang lembut.
"Uuuuwww, kau semakin romantis sayang." tubuh Claudia sedikit bergetar mendengar kata kata yang sangat langka dikatakan suaminya.
"Jadi, mengapa kau memasak? Bukankah ingin makan di luar?" tanya Egnor dengan maksud hanya makan di luar bukan ke bioskop. dia sedang mencari cara untuk tidak ke sana namun tetap bisa menonton dan memakan popcorn
"Besok saja! Kau benar, aku harus menjaga kandunganku, kedua anakmu tergantung pada diriku. Jadi aku harus mengatur semuanya. Mulai dari makanan dan kegiatanku. Aku tidak mau membuatmu khawatir dan mempengaruhi anak anak ku." jawab Claudia akhirnya mencoba menahan dan ikut mengerti emosi suaminya.
__ADS_1
"You're the best and only! Aku menanti masakanmu sayang, telur dan dagingnya harus matang ya Clau! Kau tidak boleh makan makanan setengah matang." saut Egnor bangga pada istrinya dan melepaskan pelukannya.
"Iya pengacara cerewet!"
Egnor pun kembali ke ruang tengah untuk membaringkan dirinya terlebih dahulu. Dia kembali meraih ponselnya untuk menghubungi ayahnya dan juga berbicara pada auntynya. Dia juga ingin menghubungi adiknya Viena, di Legacy. Entah mengapa dia jadi mengkhawatirkan semua keluarganya.
...
Di sebuah tempat ruangan gelap hanya ada satu lampu gantung yang menyoroti meja bundar hijau itu dengan empat orang mengitari nya. Mereka duduk sambil menyesap wine dan ada juga yang menghisapp cerutu serta memainkan ponsel. Hawa hawa kelicikan dan sebuah konspirasi sepertinya telah menyelimuti pemikiran mereka. Para dalang ini hendak menjatuhkan petunjuk yang sedikit demi sedikit terkuak tentang rencana penting mereka. Mereka memang mengakui kepintaran serta kecerdasan si pengacara yang memiliki back up pemerintah paling terkuat.
"Hem, dia memang tidak bisa diremehkan, kita tidak bisa terus membiarkannya berkeliaran!" Kata seorang pria di antara mereka.
"Ya, sebaiknya langsung jalankan rencana b sehingga dia lenyap dan kita bisa menguasai semua jajaran usaha di Honolulu ini!" Balas seorang pria lain memicingkan matanya sambil menghisapp cerutunya.
"Sebentar lagi akan ada perayaan delegasi para advokat yang akan membahas sistem kerja pemerintah serta lokasi pembangunan kemajuan Honolulu. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu di sana." seorang lagi memberitahu acara penting yang akan diselenggarakan akhir akhir ini.
"Di mana mereka akan mengadakanny?" tanya si pria paruh baya yang menghisapp cerutu itu.
"Di negara Nederland beberapa Minggu lagi." jawab temannya.
"Baiklah, aku akan melakukan sesuatu. Untuk saat ini kita harus dalam keadaan tenang. Masalah pembunuhan Rudolf sudah kuahlihkan. Reinder masih di dalam rumah sakit, dia pasti akan menutup mulut." si pria tua itu mematikan cerutunya dengan meletakannya di wadah di atas meja itu.
"Ya, aku sudah memberikan obat yang tak bisa membuatnya berkata apapun sekalipun Egnor Jovanca memiliki seribu cara untuk menguak semuanya." jawab temannya yang menerima perintah si penghisa cerutu itu.
"Bagaimana pembebasan Ron Keanu dan Nicolas Cage?" tanya si penghisap cerutu itu yang kini menikmati wine nya.
"Sepertinya penjagaan Ron sangat ketat Tuan, tapi aku selalu mendatanginya untuk memberikannya cara cara melarikan diri sementara Nicolas itu masalah mudah. Sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar meng-gembirakan namun sesuatu yang mungkin mengenaskan bagi istri pengacara tengik itu!" jawab temannya yang merupakan bodyguard mereka.
"Heng! Kita memang harus bersabar. Egnor Jovanca bukan orang yang mudah. Kalian tetap harus berjaga jaga. Awasi juga Alexander Kwan dan Dimitri Grup juga si keluarga Prime. Aku tidak mau kawanan ingusan itu ikut campur dengan semua ini. Aku ingin terlihat bersih dan pemerintah bertekuk lutut pada kita!" perintah pria tua yang kini terus menegak wine nya.
"Tetap berjaga jaga lah, waktu kita masih panjang, karna ketiga orang di belakang Jovanca itu juga tidak bisa diremehkan sir!" kata seorang yang sepertinya petinggi mereka. Bruce Barton, seorang ketua mafia yang namanya melambung di Japanis karna menyelamatkan Aaron Pei dari kebangkrutan yang diperbuat oleh Egnor waktu kasus penculikan Claudia.
"Ya, kau tenang saja Tuan Bruce . Aku mungkin akan menggunakan anakku untuk membuat semuanya berhasil." saut si penikmat wine itu dengan nada keji.
"Aku suka cara kerjamu! Selalu totalitas!"
Dan mereka bersulang merayakan teori konspirasi cemerlang mereka hanya untuk melawan seorang pengacara.
...
...
...
...
...
what the hell apa what the f .. NII wakakak??
.
next part 13
babak baru dan konflik dimulai
apakah Egnor dan Claudia siap?
Alexander Kwan, Dimitri Group, Keluarga Prime, are you ready? hihiii 😎😎
Jan kaget seloww aja gapapa kok 😁😁
.
rekomendasi novel baper lainnya karya aku wkwkwk .. DEJA VU: JASMIE & CHEST .. yang belom mampir, mampir gaes .. ketika mereka pernah bertemu dalam permainan cinta yang tidak mereka sadari lalu bertemu lagi di waktu yang berbeda dan terus merasakan kenangan indah tapi juga pahit .. this like Deja Vu by @viiyovii 💕
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤