
Frank memasuki ruangan Egnor dengan membawa satu map berisi sebuah lembaran yang sudah Egnor nantikan. Hari ini Egnor hanya bersama Frank karna Claudia sedikit demam dan Grace masih harus menjaga kandungannya. Frank dan Grace sudah pindah ke lantai bawah apartemen Egnor sehingga Frank aman meninggalkannya.
"Ini Tuan, surat resmi yang sudah saya ajukan dan langsung dibuat oleh pihak pengadilan. Langsung Hakim Benedict yang membuat atas namanya. Dan Nyonya Claudia sudah menanda tanganinya yang saya lengkapi dengan legalisir dari kantor pengacara kita.
"Oh iya? Kau ke kamar apartemenku?" Selidik Egnor.
"Iya, surat ini baru datang pagi tadi langsung ke apartemen kita. Aku baru saja ingin pergi bersamamu tapi Claudia mengatakan kau sudah pergi." Jawab Frank.
"Apa dia baik baik saja?" Egnor memastikan.
"Ya dia agak pucat Tuan. Apa dugaan ku benar Tuan? Mungkin Claudia hamil?" Frank memprediksi karna tanda tandanya percis seperti Grace.
"Dia hanya kelelahan, aku bisa membawanya ke rumah sakit nanti. Jadwal kita sangat padat Frank!" pekik Egnor yang sudah agak menunda semuanya karna masalah istrinya.
"Benar Tuan! Malam ini pukul 7 anda bisa bertemu dengan Tuan Richard di Cafe End Night." Frank mengingatkan.
Egnor melirik Frank sesaat.
"Jam 7 malam?"
"Iya Tuan, dia yang membuatnya." jawab Frank yang sudah mengatakannya pada Richard.
"Oke!"
"Em, lalu tuan ada sebuah laporan masuk. Kate Joyline menuntut Claudia karna perlakuan tidak baik yang di lakukan Claudia padanya ketika di departemen Store. Entah mengapa laporan itu begitu cepat masuk ke pengadilan! Kau yang maju atau aku saja Tuan? Ini masalah mudah." Frank memberitahu lagi dengan sedikit terkekeh.
"Aku saja!" jawab Egnor dengan tatapan tajam .
"Haha, itu akan menjadi lebih mudah, baiklah aku akan menyetujuinya dulu!" Frank pun berlalu hendak menanggapi laporan itu.
Egnor tersenyum kecut mendengar semuanya. Berani berani nya Kate melakukan ini pada istrinya. Oleh sebab itu, Egnor selalu menjaga jarak dengan semua wanita karna hanya terlihat baik dan berpendidikan dari luar namun berhati busuk. Egnor sedikit tidak menyangka kalau Kate sampai berbuat sejauh ini.
...
Egnor memarkirkan mobilnya di depan Cafe End Night. Dia menghela napas karna akan berhadapan dengan Richard. Dia meraih ponselnya dan melihat gambar lukisan istrinya di sana. Dia lalu menghubungi Claudia terlebih dulu.
"Sayang? Kenapa belum pulang?" Tanya Claudia menyambut panggilan suaminya.
"Ya, ada rapat staff pengacara yang sempat tertunda." jawab Egnor yang memang tidak mengatakan pertemuannya dengan Richard.
"Begitu ya? Lama kah?" tanya Claudia.
"Pukul 9 aku akan tiba!" jawab Egnor meyakinkan.
"Baiklah, jaga dirimu! Jangan meminum wine terlalu banyak karna akan mengurangi kualitas cairan yang akan membuatku hamil!" pesan Claudia.
"Heng, kau ingin hamil?" tanya Egnor kini tersenyum.
"Jadi kau tak ingin?" dengus Claudia tidak percaya dengan tanggapan suaminya.
"Ya aku ingin! Baiklah kalau sudah mengantuk tidur saja ya?" pesan Egnor juga.
"Oke pengacara cintaku, selamat bekerja, sampai jumpa." Claudia menutup panggilan.
Ada sedikit kelegaan ketika Egnor menghubungi istrinya. Semoga dia dalam keadaan tenang ketika berbicara dengan Richard nanti. Egnor pun menuruni mobilnya dan memasuki cafe itu. Dia agak terlambat lima menit dan di sana sudah ada Richard dengan setelan jas casual putihnya. Sementara Egnor tetap dalam jas lengkap dan rapi.
"Selamat malam!" Egnor menghampiri Richard dan langsung duduk di depan Richard.
"Selamat malam Tuan Jovanca!" Balas Richard mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Mereka berjabat tangan membuat Richard agak sedikit terkejut. Biasanya Egnor tidak mau berjabat tangan dengannya.
"Aku sudah memesan sebotol red wine kesukaanmu." kata Richard menyambut Egnor.
"Tidak! Istriku sudah memperingati ku untuk tidak mengkonsumsi wine terlalu banyak." saut Egnor dengan nada datarnya. seketika Richard menjadi sangat bodoh.
"Oh, baiklah. Kau ingin sesuatu?" Richard menawari minuman lainnya.
"Secangkir green Tea hangat saja." jawab Egnor.
Richard segera memanggil pelayan untuk membuatkan secangkir green Tea hangat.
"Jadi Egnor, bagaimana suasana hatimu sekarang?" Tanya Richard agak canggung.
"Claudia sudah menceritakan padaku tapi tidak terlalu rinci, jadi aku ingin mendengarnya darimu. Apa yang telah terjadi di Oriental?" Egnor benar benar ingin tahu yang sebenarnya, semoga tidak menguras emosinya.
"Baiklah, ini sangat to the point ya?"
"Dia sedang menungguku." kembali Egnor mengingatkan kalau dirinya sudah beristri dengan wanita yang juga diinginkan Richard.
"Baiklah. Aku sudah mengerti kalau dia benar benar mencintaimu." gumam Richard dengan wajah sendunya.
Ehem! Egnor hanya berdehem singkat.
"Oke. Jadi dulu Claudia pernah berjualan roti di taman yang biasa ku lintasi. " Richard sudah memulai.
Seketika Egnor menaikan satu alisnya tidak begitu percaya. Namun, Jika mengetahui keadaan ekonominya ini bisa ditolerir.
"Karna paras nya yang manis, aku sudah menaruh hati padanya. Jadi, setiap hari aku melintasi taman itu. Aku terus memperhatikannya. Dia selalu berjualan ketika pagi dan selesai ketika matahari berada di atas kepala. Tidak menutup kemungkinan kalau aku kembali melewati taman itu ketika siang hari karna bisa melihat parasnya. Dan Kevin juga sering membeli Rotinya. Sepertinya itu roti buatannya sendiri jadi begitu enak dan lembut." Richard melanjutkan.
__ADS_1
Egnor mengangguk angguk setuju. Istrinya memang pintar membuat roti. Namun mengapa sampai semenderita ini. Hatinya mulai bergejolak pedih namun dia tetap menormalkan nya.
"Kevin tidak menyadari kalau setiap dia membeli Rotinya, aku hanya ingin melihat wajahnya lebih dekat dan ternyata sangat bersih. Tidak heran jika kau juga menyukainya."
"Aku sudah mengetahuinya sebelum kau menyadarinya." celetuk Egnor masih dalam wajah datarnya dan sedikit menegang.
"Ya, ku akui Egnor." Richard menaikan bahu juga memiringkan kepalnya.
Egnor terdiam dan menunggu apa lagi yang hendak Richard ceritakan.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau aku memang menyukainya. Namun, aku tidak tahu bagaimana mendekatinya. Sepertinya dia agak takut jika terlalu lama berdekatan dengan pria. Dengan Kevin saja dia dengan cepat memberikan roti dan kembalian. Jadi, aku takut dia akan menghindari ku. Aku sudah puas hanya melihatnya saja. Tapi suatu hari ..
Richard sejenak berhenti dan mensenyap wine nya. Egnor yang Baru saja menyeruput teh hijau nya melirik Richard.
"Ini lah kali pertama diriku melihat wajahnya murung. Dia duduk di samping sepeda keranjang rotinya di bawah pohon. Dia melipat kakinya seperti orang putus asa. Tak berapa lama seorang pria paruh baya mendekatinya. Dia menarik tangan Claudia dan menjatuhkan sepeda keranjang rotinya. Waktu itu tepat sekali sedang lampu merah dan aku menyuruh Kevin untuk meminggirkan mobil dekat Claudia sedang berdebat dengan pria paruh baya itu. Sejenak aku mendengar ternyata pria paruh baya itu adalah pamannya yang membutuhkan uang untuk membayar hutang judinya dan benar Saja. Tak berapa lama ada dua orang pemuda dengan jas lengkap menarik narik tangan pria paruh baya itu. Kevin hendak turun tapi aku menahannya. Aku hanya ingin tahu terlebih dahulu. Claudia begitu panik sampai menangis dan dia tidak tahu dia harus melakukan apa. Pria paruh baya itu telah di bawa oleh dua pemuda yang sepertinya renternir. Saat itu juga, Claudia mendatangi mobilku. Dia mengenal Kevin walau hanya memanggil manggil Tuan. Dia meminta tolong pada Kevin namun kedua orang muda itu bersama pamannya sudah menghilang. Aku tetap diam di dalam mobil dan bersamaan dengan itu ayahku menghubungiku. Dia mengatakan kalau aku harus menikah dalam jangka waktu dekat untuk mendapatkan warisan kakekku yang ditunjukan padaku ketika aku sudah menikah. Dan saat itu juga Claudia menangis di bawah kaki Kevin berjongkok dan berkata membutuhkan uang sebanyak 250 juta. Pamannya akan ditahan seumur hidup jika Claudia tidak menebus pamannya . Dan transaksi itu terjadi." Richard sudah masuk dalam cerita mengapa dirinya sampai menikah dengan Claudia.
Egnor menghela napas dan mengusap dahinya. Sempat terpikir, mengapa dia tidak tinggal di Oriental dan mencari sampai sana. Mengapa Claudia harus bertemu dengan Richard?!
"Dan akhirnya kami menikah. Ayahku membuat semua berkas berkas kespakatannya. Aku harus menikah dengan Claudia selama dua tahun atau sampai keluarnya semua warisan kakekku yang ditunjukan untukku. Ketika waktu itu tiba, kita bisa bercerai. dan aku sudah membayar semua hutang pamannya. Ku pikir ini kesempatan ku untuk mendapatkan hatinya. Namun aku salah. Ketika dia bersamaku, Claudia tidak pernah tersenyum dan ramah seperti ketika dia berjualan roti. Namun, dia memang menjadi istri yang baik. Dia menyiapkan makanan kami semua. Sarapan, makan siang dan makan malam . Dia yang mengepalai di dapur mansion ku. Dia selalu mengantar ibuku berbelanja dan hubungan dengan ibuku cukup baik tapi tidak denganku. Aku sampai kesal karna dia hanya mengangguk saja ketika aku bercerita tentang pekerjaanku dan maaf Egnor aku pernah menamparnya."
Egnor terbatuk mendengarnya dan segera meminum lagi green Tea nya.
"Kau apa?!" Egnor agak tersulut emosinya.
"Ya, aku menamparnya karna dia tak sengaja menumpahkan kopi hitam yang cukup panas sehingga mengenai kemeja dan juga dadaku." jawab Richard menunduk sambil memegang gelas wine nya.
"Kau sudah tidak waras, hanya karna dia menumpahkan kau kopi?!" decak Egnor mengernyitkan dahinya.
"Aku minta maaf, aku menyesal Egnor! Kau kan tahu, dulu aku seperti apa?!" gumam Richard mengingat sifat buruknya yang sangat mudah marah.
Egnor berusaha menahan emosinya dengan hanya menatap nanar Richard. Dia juga pernah menghukum Claudia tapi tidak sampai memukulnya. Egnor menghela napas. Richard kembali meminum wine nya terlebih dahulu.
"Meski begitu dia mengobati dadaku yang memerah dan sedikit melepuh. Sorenya aku hendak meminta maaf padanya karna telah berbuat kasar padanya. Dia sedang bersandar di sofa dan mendengarkan lagu pada ponselnya. Aku meraih salah satu headset nya dan dia terkesiap. Dia mengijinkan ku mendengarnya. Aku bertanya mengenai lagunya yang ternyata berjudul One And Only. hanya itu aku bisa melihatnya tersenyum karna membicarakan lagu itu. saat itu juga aku hendak merubah perilaku ku meski sulit."
Sekali lagi Egnor terbatuk ketika kebetulan sekali menyesap green tea nya.
"Ehem, pasti itu lagu kenangan kalian kan? Ya, dia memang mengatakannya. Dia mencintai seorang pria sejak masa masa sekolah ketika dia baru saja mengetahui arti cinta. Pria itu selalu menemaninya dan selalu mementingkan dirinya. Dia begitu terpesona dengan pria itu. Pria yang sederhana namun sangat pintar juga memperhatikan dirinya layaknya adik dan keluarganya. Claudia begitu tersanjung dengan perawakan mu Egnor. Lagu itu lebih dulu kau yang menunjukan padanya dan dia membayangkan lagu itu dari mu untuk dirinya. Jadi dia begitu menyukainya. Ya, pada akhirnya aku menyadari bahwa dia hanya mencintaimu. Meskipun aku sudah memberikannya perhatian ketika pada akhirnya aku harus menyatakan cintaku padanya. Namun dia tetap acuh. Yang ada dalam hatinya hanya dirimu. Kami tidak pernah tidur bersama Egnor. Dia selalu tidur di sofa dan aku yang memindahkannya ke tempat tidur untuk bertukar posisi. Hem, dia benar benar menjaga kesuciannya untukmu. Pernah sekali aku mabuk dan benar benar menginginkannya. Dia malah menggiringku ke kamar mandi dan menyiram ku dengan shower. Dia lalu pindah ke kamar pembantu."
Richard menarik napas mengingat semuanya. Rasa rasanya Claudia memang hanya mengharapkan Egnor walau harus menunggu dengan sangat lama. Egnor menarik napas dan sudah cukup sabar menahan emosinya. dia merindukan Claudia.
"Baiklah, kurasa cukup." kata Egnor akhirnya namun ..
"Belum Egnor! Ada lagi yang perlu kau ketahui." Richard sudah mulai agak pening karna dia terus meneguk wine nya perlahan lahan sambil berbicara.
Egnor menatap Richard lagi.
Egnor lagi lagi menghela napas entah sudah keberapa kalinya. Dia merasa sepertinya memang sudah cukup.
"Kurasa sudah cukup dan ini sudah malam. Dia sedang tidak enak badan, tidak baik kalau aku pulang terlalu larut." kata Egnor memperingati dan dia hendak beranjak. entah mengapa hal ini malah membuat Richard emosi dan hendak menekankan sesuatu.
"Egnor!! Aku juga hanya ingin menekankan sesuatu! Claudia adalah wanita yang sangat sederhana dengan cintanya yang tulus, jadi aku harap kau tidak memiliki motif khusus sepertiku untuk menikahi nya!" kata Richard dengan nada yang menekan membuat Egnor mengernyitkan dahinya .
"Heng, kau masih bisa bicara tentang motif. Aku tidak sepertimu!" Egnor berdecih.
"Sekali saja kau melepasnya, aku orang pertama yang akan membuatnya melupakanmu!" ancam Richard kembali menuang wine nya.
"Tidak perlu memikirkannya Tuan Gabriane, Claudia sudah menjadi istriku dan akan seperti itu seterusnya." Egnor mengingatkan.
Egnor lalu menegak habis green Tea hangatnya.
"Besok Frank akan memastikanmu menanda tangani surat cerai resmi mu dan Claudia! Kalau kau malah kembali menggugat Claudia karna sudah menikah lagi dan menjadikan Frank pengacaramu, maka aku yang akan menjadi pengacara Claudia. Kau mengerti kan apa yang akan terjadi jika Frank harus melawanku di pengadilan?" Kata Egnor yang sudah merasa Richard sedang memperingati dan menasehatinya. Dia sudah tahu semuanya.
Egnor pun beranjak dari sana meninggalkan Richard yang merasa memang sudah kalah. Dia agak frustasi karna benar benar sudah kehilangan Claudia. Dia malah bersiul bersenandung lagu one and only dari Adele. Egnor masih mendengarnya sampai keluar dari Cafe itu. Egnor menghela napas. Matanya agak berkaca kaca. Dia memegang dahinya dan memikirkan istrinya. Claudia sudah begitu menderita setelah kepergiannya itu. Dia merasa dia ambil andil dalam semua ini. Andai saja dia tidak pantang menyerah mencari Claudia waktu itu.
Egnor lalu segera pulang ke apartemennya. Dia terkena traffic jam dan hujan turun cukup deras. Sebuah lagu one and only dari Adele malah tersiar dari radio yang ia nyalakan di mobil.
________________________________
🎶 ONE AND ONLY BY ADELE
You've been on my mind
I grow fonder every day
Lose myself in time
Just thinking of your face
God only knows why it's taken me
So long to let my doubts go
You're the only one that I want
Kau selalu ada dalam pikiranku
Ku tumbuhkan dengan cinta setiap hari
__ADS_1
kubiarkan diriku larut dalam waktu
Hanya memikirkan wajahmu
hanya Tuhan yang tahu
Mengapa aku membutuhkan waktu begitu lama
Untuk mengusir keraguanku
Bahwa Kau lah satu satunya yang kuinginkan.
I don't know why I'm scared
I've been here before
Every feeling, every word
I've imagined it all
You'll never know if you never try
To forget your past and simply be mine
Aku tidak tahu mengapa aku takut, karna aku sudah di sini sebelumnya
Setiap perasaan, setiap kata, aku sudah membayangkan semua itu,
Kau tidak akan pernah tahu jika kau tak pernah mencoba
Untuk Melupakan masa lalumu dan kau menjadi milikku.
I dare you to let me be your, your one and only ..
Ku tantang kau untuk menjadikan ku satu satunya milikmu ..
__________________________________
Egnor memegang dagunya dengan tangannya membuat siku menopang pada sisi pintu mobilnya dan tangan satunya memegang pengemudi. Dia ingin cepat cepat bertemu dengan Claudia. Sungguh perjuangan cinta yang berharap hanya untuk bersamanya. Kedua mata Egnor masih berkaca kaca di temani rintik hujan yang membasahi mobilnya dan lagu yang menggambarkan isi hatinya dan Claudia.
...
Egnor sudah duduk di sisi tempat tidur memandangi istrinya yang sudah tertidur. Dia menatap paras Claudia yang dikatakan Richard dan dia baru saja menyadari kalau Claudia benar benar manis baginya. Bagaimana pikirannya berkecamuk mengingat penderitaan istrinya kala itu. Akhirnya dia meneteskan air matanya. Semua kisah yang diceritakan Richard benar benar membuat hatinya hancur. Egnor menangis sambil memandang Claudia sampai akhirnya Claudia mendengar dan bangun dari tidurnya. Egnor segera menghapus air matanya.
"Kak? Kau menangis? Kenapa?" Claudia memastikan dan beranjak dari tidurnya.
Tanpa banyak bicara Egnor malah memeluk Claudia.
"Aku pikir kau sendiri yang datang padaku dan aku pikir kau pasti kehilangan diriku, tapi kenyataannya aku yang mencarimu, aku yang merindukanmu dan aku yang kehilanganmu Clau!" Egnor mencoba menormalkan emosinya dan berkata kata.
Claudia terkejut mendengar penuturan suaminya namun dia mencoba mencerna semuanya. Dia juga sudah memeluk Egnor.
"Kau begitu menderita tanpaku! Kalau saja aku terus mencarimu! Aku minta maaf Clau! Aku sangat menyesal membuatmu menderita. Aku minta maaf!" kata Egnor lagi membuat Claudia luluh tak berdaya.
Claudia malah ikut menangis dan makin mendekap Egnor sambil mengecupi pundak suaminya. Dia merasa Egnor sudah mengetahui seluruh kehidupannya ketika di Oriental.
...
...
...
...
...
bang eg? dirimu menangis? aku terharuuu 😭😭
bukan cuma Clau yang bisa motong dia bicara tp juga bs buat pengacara handal nangis hiks 😭😭
Uda bang jan nangis, dia Uda jd binik Lu kok, selo Uda , nanti aku ikutan nangis nii gegara dirimu nangis karna istrimu , bener bener lakik teladan 😭😭
.
Next part 61
Apakah Claudia makin menjabarkan kisahnya lagi pada Egnor?
Kondangan dah bang cus 😁😁
.
Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍
.
__ADS_1
Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕