
Kebesaran hati bukan hanya dilihat dari seberapa besar kebaikan yang diciptakan tapi juga menerima kesalahan yang diperbuat lalu mencoba untuk mengubahnya. Merendahkan diri bukan berarti mempermalukan apa yang seharusnya terjadi menjadi hilang tetapi bagaimana menerima sesuatu yang terjadi dengan lapang dada. sedangkan merendahkan hati bukan hanya sekedar mengalah tetapi mengetahui apa yang menjadi kesalahan kita dan kekurangan lalu mencoba mengakui serta tidak meremehkan dengan sebuah kata maaf. Egnor dengan segala kekuasaan, kehebatan dan kepintarannya tetap hanya manusia biasa yang memiliki macam macam emosi. pada akhirnya dia membuat segalanya menjadi baik. berdamai dengan kenyataan yang ada dan mencoba menerima apa yang sudah terjadi. apa yang Egnor lakukan kali ini? apa dia masih memaksa dan mengedepankan kekuasaan atau merendah?
...
"Akhirnya aku menyelesaikan apa yang kau inginkan tepat waktu tuan. Ini sangat sulit dan mengeluarkan biaya yang besar," kata Gabriel memberikan map berisi lembar yang Egnor inginkan di atas meja kerjanya.
"Jelas saja, itu sebuah pulau yang sudah terdapat di peta dan sudah mempunyai nama," saut Frank.
"Jadi ini surat anda minta tuan Egnor. Aku sudah membuatnya jadi dua pilihan, bukan begitu? Dan nama pulau menjadi Cloudy Island," mata gabriel lagi mengeluarkan dua lembar itu dan menunjukan isinya.
Egnor menegakan tubuhnya dan melihat dua lembar akta kepemilikan pulang sudah sudah dibuat oleh Gabriel. Dia memeriksanya dan tersenyum lebar melihatnya. Ini adalah pemberian istimewa untuk kekasih hatinya, cinta pertama dan terakhirnya. Wanita yang akan selalu ada di hatinya. Walau ada terselip kecemasan kalau kalau Claudia memilih surat yang tidak ia inginkan. Meski begitu Egnor harus optimis. Dia harus melakukan ini. Kesempatannya yang terakhir. Apapun keputusan Claudia, dia harus menerimanya dengan lapang dada. Ini kesalahannya. Dia harus bertanggung jawab.
"Frank, persiapkan dirimu dan Grace! Ikut aku ke Japanis, ajak juga Moses, Lena, Martha, Kepala Polisi Devon, Kate, August, Bibi Monica! Gabe kau ajak Lina. Dan Frank, pesankan dua tiket khusus untuk Richard dan Lisa. Biar aku yang memberikannya. Aku, aku harus meminta maaf pada mereka," perintah Egnor kemudian. Seketika Frank dan Gabriel membelalakan matanya. Tuannya merendahkan hati untuk meminta maaf pada orang yang sangat ia kesali sebelumnya.
"Kau serius tuan?" Frank memastikan.
Egnor mengangguk menarik napas panjang.
"Aku bangga padamu tuan! Tidak salah aku mengapdi padamu selama ini! Kau panutanku tuan," saut Frank mengelus dadanya.
"Benar tuan Egnor! Aku memang harus selalu belajar darimu. Aku saja Tuan Frank yang akan memesankan ya dan aku juga yang akan menemanimu menemui Tuan Richard, tuan," sela Gabriel yang meras senang jika Egnor selalu memberinya pekerjaan.
Egnor mengangguk tersenyum tipis. Biar bagaimanapun dia harus mengakui kesalahannya. Kini Egnor seorang publik figur tidak seharusnya dia selalu berkeras hati dan pikirannya. Dia seorang figur masyarakat yang akan menegakan keadilan, bagaimana bisa dia berpangku tangan dan membenarkan kesalahannya. Egnor akui, dia terlalu tamak dan terlalu mengedepankan harga diri. Sementara sekarang dia kehilangan istrinya, sepanjang hari Egnor hanya terdiam merenungi apa yang menjadi kelalaiannya dalam menjaga hati ini.
"Kalau karena Richard dan Lisa, Claudia bisa kembali padaku meski dia tidak mencintaiku lagi, asal dia ada di dekatku, aku akan merelakannya. Aku akan meminta maaf pada Richard dan Lisa untuk membantuku mendapatkan Claudia lagi. Aku akan berusaha kembali merebut hatinya lagi. Aku tidak apa apa Frank, Gabe!" kata Egnor tersenyum tipis.
Frank tersenyum mengelus dadanya. Egnor benar benar seorang pria sejati. Sementara Gabriel segera memesan tiket pesawat khusus untuk Richard dan Lisa.
...
Egnor datang lebih dulu bersama Gabriel dan Moses. Frank agak cemas kalau kalau mungkin Lisa mengeluarkan kata kata yang tidak mengenakan hati Egnor atau Richard yang mungkis memberikan sindiran, jadi dia menyuruh Moses ikut bersamanya. Frank harus mengurus satu kasus besar pemerintahan sore ini agar mereka bisa ke Japanis dengan tenang.
Tak lama Richard pun datang bersama Lisa. Mereka berdua jelas memasang wajah dasar. Mereka tidak tahu kalau sebelumnya Egnor sudah bertemu dengan Claudia. Lisa menerka pasti Egnor akan memaksanya lagi.
"Aku sudah bertemu dengan Claudia," kata Egnor menatap tegas Richard dan Lisa. Lisa membelalakan matanya tak percaya.
"Kau benar sudah bertemu dengannya?" selidik Lisa meyakinkan.
Egnor mengangguk.
__ADS_1
"Bahkan Tuan Egnor sudah menemukan bibi Nyonya Claudia, nyonya Lisa," sela Gabriel menjelaskan.
"Benarkah? Lalu di mana mereka? Kau berhasil membawanya kembali?" Tanya Richard kini membuka suara. Dia senang kalau Claudia sudah menemukan keluarganya.
"Apa kau bilang Gabe? Bibinya? Jadi itu bukan ibunya Claudia?" tanya Lisa lagi memastikan .
"Saudara kembar. Ternyata itu saudara kembar ibu mertuaku. Mereka masih di sana. Aku yang meninggalkannya. Aku tidak membawanya kembali karena aku sudah berjanji akan pergi ketika sudah menemukan Nyonya Cleona. Namanya Nyonya Cleona Francez. Sedangkan ibu Claudia bernama Clauna Gie," jawab Egnor menjelaskan.
"Hem, apa dia baik baik saja?" tanya Richard .
"Ya mereka berdua baik baik saja tapi aku belum tahu kabar terbaru lagi, besok aku akan kembali ke sana," kata Egnor lagi.
"Hem baiklah, jadi untuk apa kau ingin bertemu kami sementara kau sudah bisa kembali berdekatan dengan Claudia?" tanya Lisa sedikit acuh.
"Aku minta maaf, Richard, Lisa," ucap Egnor dengan menatap keduanya. Richard dan Lisa merasa seperti tidak mendengar apa apa. Mereka terperangah.
"What do you say, Egnor?" Lisa benar benar meyakinkan dengan ucapan Egnor.
"Sorry!" Ucap Egnor lagi.
"Maaf, selama ini aku selalu meremehkanmu Richard. Maaf selama ini aku selalu mengucilkanmu dan tidak percaya padamu. Maaf selama ini aku tidak bisa menganggapmu sebagai temanku. Aku minta maaf. Maaf karena tidak pernah bisa menghargai suamimu, Lisa. Maaf juga selalu mengabaikan ucapan kalian, aku minta maaf," ucap Egnor menautkan tangannya di bawah meja dan agak menundukan kepalanya merasa bersalah.
Entah mengapa Lisa merasa seperti lelucon. Egnor tidak pernah begini, mengapa tiba tiba merendah seperti ini.
"Aku sudah memaafkanmu Egnor," sela Richard yang mana dia tahu kalau istrinya pasti tidak percaya.
"Kita masih bisa menjadi teman, bahkan aku menganggapmu sebagai sahabatku!" Kata Richard lagi mengulurkan tangannya.
Egnor mendongakan kepalanya dan juga mengulurkan tangannya. Mereka berjabat tangan.
"Terimakasih kau sudah pernah menggantikan ku menjaga dan melindungi Claudia waktu itu. Seharusnya aku sekarang yang melindunginya," ucap Egnor.
Richard mengangguk dan kembali menarik dirinya.
"Ada apa dengan kalian? Claudia menolakmu?" selidik Richard.
Egnor mengangguk.
"Kalian ingin meminta bantuan pada kami?!" tuduh Lisa.
Egnor mengangguk lagi dengan wajah datarnya. Dia tidak peduli apa yang dipikirkan pasangan yang ada di depannya ini.
__ADS_1
"Kau yakin meminta bantuan pada kami sementara kemarin saja, kami membantumu, kau malah membuang Claudia seperti kemarin. Dan nanti kau mempermasalahkan Claudia mau kembali padamu karena kami bukan karena dia cinta padamu, begitu!" Lisa mengingatkan dengan apa yang sudah terjadi.
"Lisa ..." Richard menenangkan istrinya dengan meraih tangan putih itu.
"Kita tidak boleh terus menurut dengan pengacara ini! Pikirannya terus berputar seperti bianglala! Aku tidak mau!" decak Lisa mencoba menyadarkan suaminya.
"Kapan kami harus kesana? Aku dan Lisa akan membantumu Egnor. Aku ingin kau dan Claudia bersatu. Biar pun Claudia nanti kembali karena kita, aku yakin Claudia masih sangat mencintaimu. Aku tahu dia! Bertahun tahun dia bisa menahan dirinya untuk bisa bertemu denganmu sekali lagi, sementara sekarang kalian sudah menikah dan memiliki anak jadi Claudia pasti masih sangat mencintaimu, percayalah, sir," kata Richard.
"Hem, tinggal di antara orang baik memang begini!" dengus Lisa akhirnya mengalah..
"Terimakasih Richard! Ini tiket pesawat untuk kalian malam ini terbang ke Japanis. Besok kita bertemu di rumah sakit pusat kota Japanis pukul 10 pagi. Di sana nyonya Cleona dirawat," kata Egnor menyerahkan tiket khusus untuk Richard dan Lisa.
"Oke Egnor. Kita akan bertemu di sana,"
Egnor tersenyum tipis dan bernapas lega. Walau sindirian halus dari Lisa begitu menusuk dirinya tapi dia harus mengesampingkannya. Ini demi rumah tangganya. Dia tidak ingin terus menyesal, berpisah, salah paham. Dia tidak mau. Dia ingin semuanya berakhir dengan baik.
...
Japanis, Rumah Sakit Pusat Kota
Egnor menggendong Wilson sementara Johanes yang menggendong Willy. Mereka, Egnor, Johanes, Anne, Emma, Frank dan Grace yang menggendong Loiuse memasuki rumah sakit menuju ke kamar Cleona. Sementara rombongan yang lain menunggu di restoran di samping rumah sakit terlebih dulu. Mereka pun berpasang pasangan karena Kepala Polisi Devon tidak bisa hadir. Dia memiliki tugas mendampingi Tuan Gerrardo pergi ke Oriental.
Moses dan Lena, Lisa dan Richard, Lina dan Gabriel. Pada akhirnya Gabriel juga sudah meminta maaf pada Richard. Richard sangat menerima dengan hati terbuka. Kate dan August juga datang. Mereka pun akan segera melangsungkan pertunangan. Dan juga Nyonya Monica. Tidak lupa Bertho juga ikut karena kebetulan dia sedang berada di Japanis berlibur dengan anaknya. Mereka menunggu kabar dari Frank untuk bisa menuju ke balkon rumah sakit. Karena di sana Egnor akan memberikan semua kejutan ini. Egnor pun sudah menyuruh pegawai rumah sakit menaruh sekumpulan balon merah muda kesukaan Claudia di balkon.
Namun, ketika baru saja memasuki rumah sakit, satu balon merah muda itu terbang dan Egnor melihatnya. Entah mengapa perasaannya sangat tidak enak.
"Seorang pria tua menarik seorang wanita ke balkon atas lalu mencekiknya! Wanita itu sudah meronta dan bahkan terjatuh berkali kali di tangga tapi pria itu menariknya tanpa ampun. Padahal bibinya sedang di rawat di rumah sakit ini! Pria itu bersama beberapa pria lainnya bersenjata. Polisi belum ada yang datang dan petugas keamanan tidak berani karena menjaga bibinya itu. Bibinya histeris dan hendak mengejarnya,
"Claudia?" Egnor yang mendengar langsung mengarah pada istrinya. Ini Japanis . Semalam dia juga memikirkan tentang Nicolas dan Aaron Pei. Mereka menghilang entah kemana.
"Emma, Gendong Wilson! Frank, hubungi semuanya mengarah ke kamar Nyonya Cleona lantai 8 ruangan Sakura. Aku akan langsung ke atas, suruh Richard ke atas!" Egnor memberikan Wilson pada Emma.
"Siap tuan! Ini tuan, aku membawanya hanya berjaga jaga!" Kata Frank memberikan pistol kecil yang selalu Frank bawa di sakunya jika berpergian dengan tuannya. Sementara kebetulan Egnor lupa karena sudah tidak sabar bertemu dengan Claudia
Egnor segera ke balkon atas menggunakan lift sampai di lantai 5 karena tidak ada lift ke balkon. Dia langsung menaiki tangga menuju ke balkon di lantai 13.
"Claudia, bertahan sebentar sayang!" Tutur Egnor sudah membuka kancing jasnya. Perasaannya benar benar bergemuruh.
...
lanjut di bawah ga lama hari ini aku tuntutaskan hehe
__ADS_1
tetap berikan LIKE dan KOMENin tetantang ceritanya yaa terakhir NII kasih sesuatu yang berkesan buatku hehe 😁😁
so thanks for read and i love you 💕💕