Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 115: Challenging


__ADS_3

Ketika ketamakan di atas segala galanya malah membutakan diri sehingga tidak tahu kemana arah melangkah. Apa yang diperbuat musuh musuh ini? Bisakah Egnor mengatasi semuanya?


...


Pagi itu telah terdengar suara dua tiga burung bertengger di jendela kamar apartemen Grace dan Frank. Grace telah bangun seperti biasanya dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Sedangkan Frank masih terlelap karena mereka tidur pada waktu dini hari. Grace sudah terbiasa bangun pagi hari. Frank sudah mengatakan pada Grace kalau dia akan masuk kantor agak terlembat. Egnor pun pasti tidak akan mempermasalahkan ya karena dia juga tidak akan masuk ke kantor. Namun, dia harus terbangun karena Bertho menghubunginya.


"Bertho, kau tidak menjaga Tuan Egnor dan Nyonya Claudia kan? Sedangkan diriku harus menunggui mereka sampai pukul 2 pagi. Kau benar benar tidak memiliki perasaan!" dengus Frank masih bermalas malasan di tempat tidur.


"I'm sorry, Frank, tapi ini masalah penting!" saut Bertho di seberang sana.


"Ada apa?" selidik Frank menggeliatkan tubuhnya.


"Setelah pria yang hendak menduplikasi surat otentik itu kubawa ke ruang bawah tanah, dia tak sadarkan diri. Aku mendatangkan seorang dokter untuk mengeluarkan peluru yang kutembakan dan hanya dililit perban. Tuan Egnor tidak mengijinkan ku mengobatinya," kata Bertho.


"Memang jangan!"


"Ya, jadi pria ini tetap tertidur," tambah Bertho.


"Dia sudah mati?" tanya Frank kini sudah mendudukan tubuhnya.


"Belum, tapi aku curiga ini hanya trik!" saut Bertho.


"Terus perketat penjagaan dan tolong bantu aku kerahkan semua anak buah mu menjaga rumah sakit yang didiami Claudia dan suruh kepala Polisi Dave dan beberapa bawahannya menjaga ruang ICU serta ruang perawatan S-VIP Claudia untuk memeriksa siapa saja yang mengunjunginya!" Seru Frank pada Bertho di seberang sana.


"Siap Frank, aku akan mengabari mereka semua!"


"Kau jangan tinggalkan pria itu!"


"Oke Frank, tapi tetap laporkan pada Tuan Egnor kondisinya, oke?"


"Ya, kau tenang saja, thankyou, Ber!" ucap Frank.


"Sama sama!"


Panggilan dimatikan.


"Argh! Kapan aku bisa tidur dengan nyenyak, satu hari saja jangan ada yang mengangguku!" sungut Frank memukul mukul tempat tidurnya.


"Saat dirimu bukan menjadi pengacara nomor dua di Honolulu, bagaimana? Kau siap?" saut istrinya malah menjawabinya.


"Tidak!" Balas Frank dan menuju ke kamar mandi. Dia membersihkan dirinya dan hendak menuju ke rumah sakit mengabari apa yang dikatakan Bertho padanya.


Setelah bersiap dan sarapan, Frank bersama Grace kembali mendatangi rumah sakit. Sesampai nya di sana, mereka berdua melihat Richard dan Lisa menunggu di depan ruang ICU. Richard tampak frustasi dan tidak berselera.


"Selamat pagi Nona Lisa, Tuan Richard. Ada apa denganmu, tuan?" Tanya Frank sedikit terheran.


"Entahlah apa yang terjadi pada Mytha dan anak buahmu Frank," saut Lisa di depan Richard.


"Gabe?"


"Ya, dia tidak mengijinkan Richard menemui Mytha," tambah Lisa.


"Kenapa bisa begitu?" selidik Frank lagi.


"Aku juga tidak mengerti. Klien setiamu ini tiba tiba datang ke ruanganku dengan wajah seperti ini," saut Lisa lagi menaik turunkan bahunya.


"Mungkin tidak kalau Mytha melihat kebersamaan kalian kemarin. Bukankah kalian terus bersama sama malamnya," gumam Grace seketika.


Frank menyenggol Grace. Grace langsung menutup mulutnya. Richard pun membelalakan matanya menatap Grace.


"Ups, maaf, aku hanya menerka, jangan serius begitu Tuan Richard," tutur Grace terkekeh dengan mengibaskan tangannya ke arah Richard.


"Aaahhh, sudahlah biarkan saja. Nanti aku akan mencoba bicara pada Gabriel!" decak Richard beranjak dari duduknya.


"Itu baru benar, tuan, kau harus tegas dan beritahukan bagaimana isi hatimu yang sebenarnya. Bukan begitu Nona Lisa," saut Frank melirik Lisa menggoda.


Lisa hanya berdehem tersipu malu.


"Jadi, mengapa kalian berkumpul di depan ruang ICU? Bagaimana Claudia? Dia sudah sadar?" selidik Frank kemudian.


"Belum, Grace. Egnor juga masih tertidur bersama anak anaknya. Tapi pagi tadi sekitar pukul 5 pagi, suster mangambil si kembar untuk dimandikan. Namun, mereka kembali menangis, jadi Egnor diminta untuk mendampingi para suster memandikan anak anaknya," kata Lisa memberitahu kondisinya.


"Kasihan sekali tuanku! Dia sudah makan?" tanya Grace memastikan. Dia sangat mengetahui kebiasaan tuannya yang tidak akan mau mementingkan dirinya sendiri jika orang yang ia sayangi masih terbujur lemah. apalagi semua karena kelalaiannya.


"Belum! Setelah memandikan anak anaknya, dia kembali tertidur bersama Wilson dan Willy," kata Lisa lagi.


"Apa si kembar tidak membutuhkan asupan Nona?" tanya Grace lagi mencemaskan anak anak yang mungkin akan menjadi anak angkatnya.


"Setauku selama 24 jam, mereka masih mempunyai cadangan makanan, tapi ya semoga sampai sore ini, Claudia sudah bangun," saut Lisa.

__ADS_1


"Yasudah, sebaiknya memang aku saja mengajak Gabriel menangani pria itu, Grace. Jangan bilang bilang kalau aku yang berinisiatif karena kemarin Tuan Egnor yang mau menemuinya," ijin Frank pada istrinya.


"Ya, aku tidak janji. kau tahu kan bagaimana tuanmu jika memaksa? Sudah sana dan Sebaiknya kau saja bersama Gabriel dan kembali kemari jika sudah selesai," balas Grace.


"Baiklah. Aku berangkat sekarang. Permisi Tuan Richard, Nona Lisa,"


Mereka semua mengangguk. Frank pun menuju ke kamar perawatan Mytha untuk menjemput Gabriel. Kebetulan Mytha sedang tertidur jadi Gabriel bisa menitipkannya pada suster dan memberi pesan untuk tidak mengijinkan Richard untuk masuk. Frank sempat bertanya pada Gabriel dan Gabriel tentu memberitahunya. Frank cukup mengerti dan tidak mau terlalu ikut campur. Richard sudah berjanji akan menyelesaikannya. Sementara Frank harus fokus dengan masalah yang sedang menimpa tuannya juga nasib dari Honolulu ini.


Sesampainya di gedung kantor pengacara itu, anak buah Bertho mengantar Frank dan Gabriel menuju ke ruang bawah tanah tempat dulu Jack dan Nicolas di sekap. Frank dan Gabriel memasuki ruangan gelap dan hanya ada satu lampu menggantung di langit langit. Bertho menyambut mereka berdua dan memperlihatkan pria itu. Ternyata pria itu benar benar tak sadarkan diri dan sekarang sungguh nelangsa dengan duduk di kursi dan tangannya diikat ke belakang oleh Bertho.


"Apa dia sudah berkata dan menyebutkan namanya, Bertho?" selidik Frank


"Belum!"


"Kau menyiksanya?" Frank melirik Bertho.


"Aku menunggu Tuan Egnor," ujar Bertho.


"Tuan Egnor sedang mengurus anaknya. Claudia masih tak sadarkan diri," kata Frank.


"Semua karna pria ini, Frank?!" Tanya Gabriel membentak seketika. Entah mengapa akhir akhir ini jika ada yang mengusik Egnor dan Claudia, dia menjadi mendidih. Karena menurutnya hal ini tidak masuk akal menyerang orang sebaik mereka.


Frank dan Bertho mengangguk dengan wajah yang geram.


"Hahahaha!! Rasakan! Katakan pada tuan kalian, kalau mau berperang, tidak usah berlagak membawa wanita apalagi sedang hamil! Kalian salah melawanku!" decak David kemudian karena merasa lucu dengan percakapan mereka.


Frank tampak geram dan rasanya dia belum memberikan pelajaran pada pria itu. Frank langsung mendekati pria itu dan memberi pukul kencang pada luka tembak pria itu.


"ARGHHHH!!! KALIAN HANYA BERANI MENGIKATKU SEPERTI INI! KALAU AKU TAK TERIKAT, KALIAN SEMUA AKAN KALAH!!! ARGHHH!!!" David yang belum diketahui namanya berteriak juga menahan sakitnya. Dia masih berkata kata dengan omongan besarnya.


"Heng, dia sungguh sungguh percaya diri! Lepaskan dia Tuan Frank, biar aku yang menghabisinya!" tantang Gabriel sudah kesal sampai ke ubun ubun.


"Kau yakin, Gabe?" Tanya Bertho menoleh pada Gabriel.


"Yakin, kebetulan sekali sejak si motivator tengik itu mengkhianati adikku, aku ingin memukul seseorang!" Ujar Gabriel tersenyum kecut sambil menggeretakkan seluruh jari jarinya membentuk pukulan tinju.


"Biarkan saja Bertho! Gabriel itu temannya Leon. Kau kenal Leon tidak?" saut Frank.


"Teman Kepala Polisi Devon di Legacy?"


"Ah, kau memang berandal! Tuan Leon merupakan asisten pribadi adik ipar dari Tuan Egnor,"


"Ya, kemarin Tuan Egnor menceritakannya padaku. Baiklah Gabe! Ternyata dibalik ketampananku, kau juga seorang brandal ya? Hey, lepaskan pria itu biar kita menyaksikan sebuah pertarungan orang yang membuat dirinya pecundang!" Kata Bertho kemudian.


"Kau yang memintanya kan? Gunakan mulutmu dengan benar, sir!" Decak Gabriel menarik kerah baju David. David masih terluntah luntah.


Bug!


Satu pukulan telah mendarat di pipi David. David terlalu lemah dengan luka pada tangannya. Namun, dia yang menginginkan semua ini.


Selanjutnya, Frank dan Bertho malah bercakap cakap mengabaikan Gabriel yang senang dengan aksinya. Akhirnya kekesalannya selama ini dapat ia luapkan dengan penderitaan David. Frank dan Bertho belum mau bertanya tanya sebelum mendapat perintah Egnor. Bertho pun menanyai keadaan tuan dan nyonya nya itu.


Sekitar 30 menit, Gabriel sudah puas dan hatinya sudah lega. Dia pun menghampiri Frank dan Bertho yang masih menyesap kopi hangatnya.


"Sudah kah, Gabe?" Selidik Frank setelah menyeruput kopinya.


"Sudah! Apa lagi yang harus kita kerjakan Frank?" tanya Gabriel membenarkan kemejanya dan mengenakan jasnya.


"Melihat laporan kasus beberapa hari ini lalu membuat sebuah ultimatum untuk seseorang," jawab Frank.


"For what?"


"Ikut saja, kau pasti akan menyukainya!" Ujar Frank beranjak dari kursinya dan meminta ijin pada Bertho hendak ke ruangannya.


Gabriel kembali tersenyum dan mengikuti Frank yang telah berlalu dari ruang bawah tanah ini.


Sekitar sampai menjelang makan siang Frank dan Gabriel memantau kantor. Mereka pun kembali ke rumah sakit hendak mengetahui kondisi Egnor dan seluruh keluarganya. Moses masih di kantor menyelidiki Kate. Frank dan Gabriel menyetujuinya.


Sesampainya di rumah sakit ternyata sudah ada Viena dan Dion juga Anne dan Johanes. Mereka hanya bisa bergantian melihat Claudia juga si kembar. Dan, akhirnya giliran Frank yang masuk ke dalam hendak memberitahukan kabar terkini. Egnor sudah bangun dan masih menggendong Wilson dan William.


"Tuan Egnor, you okey?" tanya Frank sedikit cemas.


"Sangat! Bagaimana? Kata Grace kau sudah menemui pria itu? Siapa namanya?" selidik Egnor melirik.


"Dia tidak mau menjawab dan kami menunggu perintahmu untuk bertanya padanya," jawab Frank.


"Tidak perlu, aku saja yang yang bertanya. Aku tahu, dia sudah sangat tersiksa. Bertho tidak memberikan obat padanya kan?" tanya Egnor lagi memastikan.


"Tidak tuan, dan dia malah menantang kami untuk menghabisinya tanpa mengikatnya,"

__ADS_1


"So?" lirikan Egnor bagai pisau yang baru diasah.


"Gabe yang menghabisinya,"


"Heng!" Egnor tersenyum sinis.


Tak lama kemudian, ponsel Frank bergetar. Frank merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Moses yang menghubungi. Moses berkata kalau dia mendapat laporan dari orang pemerintahan kalau Kate tidak menampakan wajahnya sejak kemarin dan hari ini Kate juga tidak masuk. Moses langsung mencari tahu dengan berpura pura menanyakan Kate melalui sambungan telepon. Kata pelayan di rumah Kate, Kate pergi kemarin malam dengan membawa koper seperti hendak melakukan perjalanan.


"Tuan Egnor, Kate melarikan diri!" kata Frank. Seketika Egnor menjadi mendidih.


"Apa?!" Pekik Egnor berdiri juga menggendong anak anaknya. Si kembar sedikit bergeliat seperti tahu aja kalau mungkin ayahnya akan menaruh atau memindahkan mereka.


"Tenang tuan, kami akan terus menyelidikinya," saut Frank menenangkan Egnor.


"Tidak bisa! Aku harus bicara pada pria itu, dia pasti tahu di mana Kate!" Emosi Egnor sudah memuncak. Dia benar benar ingin menghabisi semua musuhnya secara bersamaan.


Tak lama William malah menangis. Egnor menjadi bingung padahal mereka masih dalam genggaman lengan Egnor.


"Tuan, kau membuat Willy menangis," kata Frank memperingatkan.


"Oh No, calm down, boy!" ujar Egnor berusaha menenangkan Willy.


Karena Willy menangis, Wilson pun sebagai saudara kembarnya ikut menangis. Mereka menangis sampai membuat perawat menghampiri Egnor dan Frank. Lisa juga masuk ke dalam karena sedikit panik.


"Kenapa Egnor? Mengapa anakmu menangis?" tanya Lisa.


"Apa mungkin mereka sudah membutuhkan ASI, dok?" kata seorang suster menerka.


"Kan, semua ini karena Kate! Anak anak ku ikut membenci wanita iblis itu!" decak Egnor semakin kesal. Wilson dan Willy semakin menangis.


"Ada apa Frank?" tanya Lisa ingin tahu.


Frank menjelaskannya dengan singkat dan Lisa menjadi paham. Si kembar mungkin saja gelisah. Lisa meraih Wilson untuk mencoba menenangkan tapi gagal. Mereka semakin menangis. Begitu juga Willy pada gendongan Egnor.


Namun, tak berapa lama kemudian sebuah suara malah membuat mereka terkejut.


"Kak Egnor ... Apa itu Wilson dan Willy ku?" Tanya nya dengan sedikit terbata dan mencoba menguatkan suaranya.


Semua pasang mata mengarah pada tempat tidur Claudia.


...


...


...


...


...


Dah dah tenang ibu suri dah banun, Jan malah malah nor, anak lu aja takut masih kecil gek


E : ngak vii, mereka mo ikut ngelawan wanita iblis!!


V : ehh, okok berangkat 😂😂


.


Next part 115


apa Claudia telah pulih?


apa Egnor bisa mengatasi semua ini?


dan bagaimana Egnor membuat Kate kembali ke Honolulu?


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2