Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 148. Secret Mission


__ADS_3

Claudia : Jika ada waktunya nanti ketika mata kita kembali bersatu, yang aku inginkan hanya melihatmu saja. Tidak harus merasakan pelukan dan kecupan yang sebenarnya kurindukan tapi cukup memandang rupamu yang kuyakin akan baik baik saja sudah meringankan rasa sesakku. Hanya kau yang kuinginkan, tak mau yang lain ...


Egnor : Entahlah, bagaimana takdir melukiskan kisah kita semerana ini. Aku memang mencintaimu dan hanya menginginkanmu tapi di saat aku hanya ingin melihat wajahmu atau mengetahui kabarmu sebagai sumber energi ku, sehelai rambutmu pun aku tak sampai. Lalu bagaimana aku menyikapi ini semua?


...


Rililand,


"Di mana Claudia, Lisa? Mengapa dia belum turun ke bawah?" Tanya Richard tidak melihat Claudia, Emma maupun si kembar sarapan pagi.


"Entahlah, biar ku panggil," saut Lisa melepas celemeknya yang sudah selesai membuat pancake susu kesukaan Richard dan yang lainnya akhir akhir ini. Kevin belum sempat kembali ke Greenville untuk membeli bahan makan lain karena hujan sering muncul ketika sore.


Lisa pun menaiki tangga hendak memanggil Claudia dan Emma untuk sarapan. Ketika sampai di daun pintu yang terbuka, Lisa menghentikan niatnya untuk mengetuk pintu. Di sana Claudia sedang mengajak bicara Willy dan Wilson yang ternyata setelah membersihkan diri tidak langsung terlelap seperti biasanya. Wilson dan Willy agak merengek dan gelisah.


"Aku Wilson, aku Willy, Wilson dan Willy, oke?" Kata Claudia memberitahukan identitas anak anaknya.


"Wil Wil Son son Wil Wil," saut Willy yang ternyata hendak mengikuti ibunya berceloteh . Sedangkan Wilson hanya tersenyum dan menendang nendang kaki kecilnya pada lengan Claudia.


"Good job Willy, Wilson," balas Claudia sangat bangga.


"Job job Li Li son son!" kata Willy lagi walau masih bersamaan denga air liur dan teriakan.


"Nice! Now, mommy!" ujar Claudia sekarang mengajarkan untuk mengatakan mommy tetapi malah ini yang di dengar Claudia.


"Di di,"


"No Daddy , but mommy!"


"Di det det di di Dedi Dedi," Willy malah berceloteh lebih jelas lagi mengatakan Daddy makin kencang dan keras sehingga memotivasi sang kakak yang juga menirukan celotehan adiknya.


"Dedi Dedi Dedi Dedi Dedi Dedi ...!!" Kata Wilson. Memang dengan nada yang tak beraturan tetapi malah terdengar jelas untuk kata Daddy.


Claudia malah menjadi sangat sedih. Dia semakin merindukan suaminya. Merindukan Egnor yang tidak tahu bagaimana keadaannya nya sekarang . Sudah hampir dua Minggu Claudia di pulau tak ada jangkauan signal ini.


Claudia beranjak meneteskan air matanya sementara di sana Wilson dan Willy terus berceloteh menyebut panggilan Daddy dengan kedengaran Dedi Dedi. Claudia hampir saja terjatuh jika Emma atau Lisa tidak menahannya.


"Clau, you okey?" selidik Lisa menahan punggungnya.


"Nyonya, sebaiknya kau lebih dulu sarapan, biarkan aku menjaga Wil Wil," kata Emma menyarankan.


Claudia malah berbalik dan memeluk Lisa.


"Egnor pasti merindukanku dan menginginkan ku Lisa, tolong kembalikan aku ke Honolulu. Ini sudah dua Minggu! Lihatlah anak anakku juga merindukannya. Willy memanggil Daddy begitu juga Wilson. Kemarin kemarin Wilson belum mau bicara sekarang dia sudah berani berceloteh. Dan hari ini usia Wil Wil sudah 3 bulan 1 Minggu. Pasti ada sesuatu dengan Egnorku Lisa atau mungkin dia membenciku karena tidak ada kabar dariku. Lisa aku sungguh tersiksa," keluh Claudia dalam tangisnya.


"Sabar Claudi, tolong mengertilah. Kau tidak dengar dua hari yang lalu Kevin ke Greenville mengetahui kabar kalau Nyonya Samantha meninggal? Padahal dia tidak ada sakit sedikitpun kata Richard. Dia sangat pemerhati makanan jadi sangat mustahil bisa pergi secara tiba tiba. Kau tidak lihat betapa terpukul nya Richard dan mendekam di kamar. Sekarang dia sudah lebih baik. Sebaiknya kita sarapan bersama. Kau tenanglah, tetap berdoa. Semua pasti akan berakhir, diamlah Claudia, kasihan anak anakmu. Mereka semakin pintar seperti Daddy nya seharusnya kau bangga," saut Lisa tak pernah bosan menyemangati Claudia.


Claudia hanya bisa mengangguk dan masih menangis. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Lisa. Lisa membiarkannya sebentar sebelum memaksa Claudia untuk sarapan terlebih dulu.


...


Honolulu, 07.00,


"Kak, bangun, kau harus ke kantor dan menyelesaikan setiap kasus yang ada," suara Claudia menggema.


"Aku ingin menyelesaikanmu dulu di sini," saut Egnor menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukannya. dia mengecupi setiap inci kehalusan tubuh Claudia.


"Pagi, siang, sore dan malam kau selalu ingin," gumam Claudia menanggapi setiap belaian tangan suaminya.


"Aku ingin setiap saat Clau,"


"Aku akan menjadi satu-satunya yang kau inginkan kak, selalu ..." bisik Claudia tepat di telinga Egnor.


Egnor membuka matanya. Dia beranjak dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur itu sambil mengusap dahinya. Tubuhnya seketika meremang mengingat sentuhan dan belaian lembut tangan istrinya. Sudah beberapa kali mimpi itu terus menggandrunginya.


Bulir bulir keringat telah menyelimuti tubuh bertelanjang dada itu. Sejak tidak ada Claudia menemani tidurnya, Egnor sering gelisah dan tidak nyaman kalau tidak membuka piyama atasnya. Kejadian ini sama seperti dulu Claudia meninggalkannya pertama kali. Egnor tidak pernah memiliki waktu tidur yang baik. Hanya beberapa jam lalu terbangun dan sulit untuk kembali tidur kalau tidak membersihkan diri lagi atau membuka pakaiannya.


"Kak Egnor, apa kau sudah bangun?" panggil Viena di luar kamarnya.


"Ya!"


"Cepat bersihkan diri dan sarapan, banyak yang harus kita kerjakan! Tuan Morris sudah membalas pesan kita!" kata Viena lagi.


Egnor mendongakan kepalanya. Akhirnya sudah sekitar lima harian pesan itu diresponi. Saatnya menjalankan misi selanjutnya. Egnor pun beranjak dari tempat tidur dan membersihkan dirinya.


"Apa isi pesannya Viena?" Tanya Egnor keluar dari kamarnya.


"Grace, apa isi pesannya?" Kata Viena mengarah pada Grace yang ternyata ada di sana bersama Louise dan Maltha tentunya. Egnor menoleh ke arah Grace dan sekilas mengingat Claudia juga anak anaknya.


"Grace, di mana Frank?" tanya Egnor kini pada Grace.


"Masih membersihkan diri tuan, sebentar dia akan datang," jawab Grace tersenyum hangat. sudah lama dia juga tidak bertemu dengan tuannya itu.


"Bagaimana kabar Louise?" tanya Egnor.

__ADS_1


"Sehat, kau tenang saja, sama seperti Wil Wil mereka berdua pasti sehat," jawab Grace yang tetap ingin menghadirkan Claudia juga sikembar di tengah tengah hati Egnor yang kembali dingin.


"Wanita itu benar benar keterlaluan memisahkan anak dan ayahnya!" Decak Egnor menduduki kursi makan.


"Kak ..." panggil Viena memperingati agar tidak membenci Claudia.


"Kau jangan membelanya terus!" decak Egnor menyeruput kopi hitamnya. Dan kembali Egnor mengkonsumsi kopi hitam sebanyak tiga sampai lima kali sehari kalau tidak dia tidak mau meminum apapaun.


"Ehem, sup jagung dengan ekstra lada," gumam Dion menggoda agar tidak terus mendengus.


Egnor menatap tajam Dion dan tidak mau membahasnya lagi.


"Oke fine! Masalah itu bisa diselesaikan jika Honolulu sudah tenang dan lihat, si pembuat sup jagung itu kembali atau tidak," saut Dion lagi mencairkan suasana.


"Cih, kau yang berharap, bukan aku Tuan Prime!" alas Egnor kembali menyeruput kopinya.


Dion hanya menaikan alisnya mengalah dan memakan sarapannya. Roti lapis dengan banyak isian lengkap sama seperti yang biasa dibuat Claudia untuk Egnor. Egnor menatap sarapan tersebut terbesit canda tawanya ketika dia melarang Claudia yang tengah mengandung membuat roti dengan semua isian di dalamnya. Seketika air matanya terjatuh. Viena tentu merasakan kesedihan itu. Dia menepuk nepuk pelan punggung kakak semata wayangnya.


"Berangkat sekarang Dion! Grace, kirim email tersebut pada akun komputermu di kantor dan suruh Frank langsung ke kantor!" Kata Egnor tiba tiba meletakan kembali sarapannya dan berdiri menuju pintu .


"Kau bahkan belum memakan satu gigitan mu kak! Aku baru makan setengah!" pekik Dion kesal.


Egnor tidak mempedulikan. Terlalu perih mengingat semua senyum, tawa dan kelembutan Claudia yang terus menari nari di pikirannya. Kebetulan sejak kemarin August mengikuti Egnor untuk memperketat penjagaan. Bertho yang menyuruhnya. August menyerahkan jubah panjang hitam Egnor beserta syalnya kembali dalam penyamaran menuju ke kantor.


"Kau bawakan saja untuknya sayang, ini! Cepat cepat kau ikuti dia!" kata Viena memasukan roti lapis itu ke sebuah wadah makan.


"Haiz, seharusnya ini tugas Leon, mengapa jadi aku?!" dengus Dion karena beberapa hari ini hanya dia yang bisa mengerti Egnor.


"Pembangunan hotel Prime sudah disetujui Kak Egnor kalau kita memenangkan semua ini," kata Viena mengimi imingi.


"Begini juga yang kulakukan pada Leon! Ini tugas Leon, sayang!" dengus Dion lagi.


"Oke jadi kau menunggui orang sakit saja di motelmu dan Leon yang akan mendirikan hotel di sini!" balas Viena memberikan sebuah pengandaian.


"Haiz, iya iya! Mana tempat makannya? Sudah rapi dan formal begini membawa tempat makan! Pengacara tengik menyebalkan!!" akhirnya Dion menyetujui dan berdiri dari sana.


"Kau tetap tampan untukku, selalu!" Bisik Viena meraih kerah jas Dion dan mencuri satu kecupan pada bibir pria itu. Dion tentu membalasnya, melupakan kalau ada Grace dan Maltha di sana.


"Ehem, mungkin Tuan Egnor sudah menaiki lift!" saut Grace.


"Grace! Kau sama saja seperti tuanmu!" decak Dion merasa terganggu dengan kegiatan yang sangat ia sukai ini.


Grace terkekeh.


"Terserah, sudah sanaaa ...."


Dion pun mengejar Egnor dan August. Mereka menuju ke kantor pengacara untuk tahap strategi lebih lanjut.


Frank tiba sekitar satu jam setelah Egnor, Dion dan August tiba. Ada sedikit kelegaan di hati Egnor ketika August mengatakan kondisi Kate lebih baik. Kini mereka tinggal di apartemen kecil milik August yang tidak akan dicurigai siapapun. Mereka juga sudah tidak lagi mendapatkan surat kaleng sejak mereka pindah ke sana.


Setelah Frank tiba, dia segera memeriksa email dari Grace.


Dear Mr. Egnor Victor Jovanca


Hello, apa kabar?


Senang bisa mendapat surat laporanmu atas kembalinya Hakim Benedict Russel dan Tuan Gerrardo Mendez.


Sehubungan dengan kasus dan masalah hukum di negara Honolulu, sebagai pemimpin organisasi para negara yang mengedepankan keadilan dan keamanan negara mengijinkan team anda untuk melakukan penyerangan terhadap oknum yang hendak membinasakan negara yang sudah berasas republik demokrasi ini.


Berikut surat ilegal yang telah ku tanda tangani. Kau berhak melakukan penyerangan dan terlebih untuk mendapatkan surat otentik serta surat kuasa resmi yang hanya satu satunya dalam setiap negara. Dengan memiliki surat tersebut maka anda, selaku penegak hukum bisa mengeluarkan kuasa untuk memberi hukuman pada mereka. Terlebih mengembalikan kepala pemerintah yang sebenarnya.


Besar harapanku, apa yang kulakukan dapat membantu negara kalian. Kami tidak akan memberikan sanksi atas apa yang kalian lakukan. Dan sedikit persenjataan Intel yang dapat kami berikan untuk mendukung misi penyelamatan ini.


Akhir kata, terimakasih atas pengabdian tertinggi anda untuk negara.


Salam hangat


Andreas Morris


Tuhan memberkati.


Frank, Dion, Moses dan August mulai merasa aura aura positif Munduk di sekitar Egnor. Egnor sudah mulai menunduk dan memegang dahinya.


"Sebentar lagi, Tuan Egnor akan mengeluarkan misi misi briliannya, Frank," bisik Moses tak sabar dengan misi penyelamatan ini.


"Ya, tunggu saja!"


Namun, belum saja Egnor berkata, Alex dan Eleazar beserta beberapa bodyguard nya datang.


"Maafkan aku Egnor, apakah Tuan Morris sudah mengirim surat balasan kita?" Tanya Eleazar dengan wajah frustasi. Dia sudah sangat pulih dari perseteruan waktu itu.


"Ada apa El?" selidik Egnor.

__ADS_1


"Bruce menyerang kantor pusat apartemenku! Semua pekerja wanita di tangkap dan beberapa pegawai ku tewas!" decak Eleazar merasa bersalah dengan semua ini. Dia hanya membekas kebenaran tetapi malah ini yang ia dapat.


Egnor melirik tajam Eleazar.


"Aku tidak bisa menerima ini padahal Dawney yang mengatakan kalau aku tidak setuju menyerahkan kepada pemerintah, usaha itu tetap menjadi milikku! Dia bilang aku yang menentukan tetapi ini jawabannya! Sialan!!!" dengus Eleazar lagi.


"Baiklah, tenang! Begini, aku sudah mendapat surat balasan dari Tuan Morris. Kita harus mulai bergerak tetapi tetap dengan perlahan dan berhati hati. Mereka memiliki sistem teknologi yang tinggi dan kita juga harus bermain dengan pintar. Berapa surat kaleng yang sudah kau lemparkan August?" kata Egnor kemudian.


"Tiga tuan! Beberapa kali aku melihat Bruce datang ke Kantor Pemerintah bersama Gabriane tetapi setelah itu jalan menuju markasnya dijaga agar tidak bisa siapapun masuk," jawab August yang hendak memberitahu kalau Bruce sudah agak kebingungan akan bertemu Egnor.


"Oke, sekarang kita harus mencari cara bagaimana bisa menerobos penjagaannya itu. Jangan lupa juga persenjataan dan aparat yang mereka miliki sangat banyak. Aku hanya ingin tahu letak surat otentik dan langsung bertatapan muka dengan Bruce," gumam Egnor masih memikirkan cara bagaimana mengetahui lokasi itu dengan halus.


"Sebenarnya kita bisa menerobos penjagaan itu kak, tapi setelahnya kita tidak tahu kemana jalannya," saut Dion.


"Kau benar Dion! Maka dari itu kita harus pintar mengetahui titik pusat dan melakukan penyerangan dengan senyap serta mengenai sasaran," kata Egnor lagi tetap dalam prinsipnya.


"Aku setuju Egnor, kami semua akan mendukungmu. Tapi maaf aku memotong pembicaraan ini sebelum aku melupakan cincin ini," sela Alex kemudian memberikan sebuah cincin yang bodyguardnya temukan di labirin belakang mansionnya.


Egnor meraihnya. Ini cincin Claudia. Dia memperhatikan cincin kecil ini dan memang langsung memunculkan rasa rindu pada pemiliknya sekaligus sebuah ide. Egnor pun menatap Frank dan Dion secara bergantian lalu menyeringai.


"Mengapa kau memandangku seperti itu kak?" tanya Dion sedikit cemas.


"Iya tuan, menyeramkan sekali!" tambah Frank karena lirikan tajam dan senyum menyeringai itu juga tertuju padanya.


"Kalian berdua harus berperan, setelah itu kita bisa mendapatkan semuanya dan memenangkan permainan ini!"


...


Dua hari kemudian,


Kantor Pemerintahan,


"Selamat siang tuan, ada seorang wanita yang hendak bertemu denganmu," kata bodyguard Dawney.


"Siapa?"


"Entahlah, dia tidak mau menyebutkan namanya, katanya kau juga akan mengenalinya karena dia hendak memberitahukan sesuatu yang sangat rahasia," kata bodyguarnya.


"Suruh masuk saja cepat Dawney!" Saut Richie yang kebetulan sedang berkunjung hendak membicarakan pembangunan gedung pencakar langit tertinggi di dunia.


Dawney pun menyuruh anak buahnya memanggil wanita itu.


Wanita itu memasuki ruangan Dawney. Dawney pun terpana dengan kecantikan wanita itu padahal dia mengenakan kaca mata ber-ring hitam tapi terlihat begitu seksi. Wanita itu mengenakan long dress hitam dengan ikat pinggang biru dongker di pinggang dan belahan rok samping sampai ke atas paha. Dia juga mengenakan topi fedora wanita berwarna senada dengan dress dan ikat pinggang. Anting panjang berbentuk salib membuat wanita itu agak misterius tapi sangat menggoda karena lipstick merah darah yang melekat pada bibirnya.


"Selamat siang, Tuan Dawney," sapa wanita itu membuat kesadaran Dawney kembali. Richie sudah berdiri dan memperhatikan wanita ini. Dia seperti pernah melihatnya tapi tidak begitu berlebihan seperti wanita yang ada di depannya.


"Selamat siang, siapakah wanita cantik yang hendak bertemu denganku ini?" tanya Dawney mengulurkan tangannya hendak menerima tangan wanita itu dan mengecup punggung tangannya.



"Senang bertemu dengan anda Tuan, perkenalkan, aku Gloria Jeconya," jawab wanita itu manarik kembali tangannya dengan acuh.


"Sepertinya aku pernah melihatmu," gumam Richie memperhatikan wanita itu sambil mengelus dagunya.


"Entahlah, aku baru saja tiba dari Nederland dan mendengar berita yang sepertinya akan menguntungkan bagiku," saut Gloria menyunggingkan senyum menggoda.


"Maksudmu?" selidik Richie memicingkan matanya.


"Ya, aku tahu di mana Claudia Jovanca dan Ricardo Gabriane," kata wanita itu dengan angkuhnya duduk melipat kakinya di sofa single yang sebelumnya di duduki Richie.


Seketika semua mata sontak mengarah padanya.


Wanita itu menyeringai.


...


What?!!!


DIA TAU KEBERADAAN CLAU N ICAD GESS!! NGERII ... Jan Jan dia mermaid 😁😁


WHO IS SHE?!!


Gloria?


Kek pernah denger, hanya elu yang tau vii 😝😝


.


next part 149


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕

__ADS_1


__ADS_2