
Claudia menangis meratapi kepergian Egnor. Dia sangat tahu kalau suaminya sangat marah dan kecewa padanya. Tapi dia masih bingung mengapa Egnor begitu ragu padanya. Sekarang mereka sudah menikah meskipun hanya beberapa orang yang mengetahui, namun mereka sudah menikah. Lalu penjelasan apa lagi yang diinginkan suaminya. Claudia mengucek matanya. Menghentikan setiap tangis nya dan hendak beranjak pulang. Mungkin malam nanti hati suaminya telah menghangat dan tidak seperti ini lagi padanya.
Namun, ketika Claudia sedang mengemas bungkus makannya, seseorang datang memberi salam.
"Permisi, selamat siang... " pria itu memberi salam dan berhenti menyebutkan nama orang yang hendak ia temui. Pria itu masuk dan masih berdiri di depan pintu. Dia terpaku mendapati Claudia yang ada di sana yang juga menatapnya.
Jantungnya berdegup dua kali lipat. Mereka berdua saling berpandangan. Claudia sudah berdiri berhadapan dengannya. Dia memperhatikan Claudia dari bawah sampai atas. Hatinya bergetir. Ingin rasanya dia memeluk wanita itu. Namun tidak bisa dan tidak pernah bisa. Ingin rasanya ia memberitahu kalau dia begitu merindukannya. Dia sudah mencarinya kemana mana berharap bisa mendekatinya layaknya seorang pria ke wanita dan meluluhkan hatinya. Namun, nampaknya tidak akan pernah bisa karna wanita itu, ya Claudia sudah menemukan cintanya. Dia pikir Claudia tidak akan bisa mendapatkan cintanya sehingga ia mau menggantikannya.
Sementara Claudia dengan jantung yang juga berdegup kencang. Bukan karna terpesona, melainkan merasa bersalah karna telah meninggalkan pria di depannya itu tanpa sepatah kata apapun setelah menandatangani surat perceraian kesepakatan berakhir. Dia juga merasa tidak enak karna menjadi istri yang tidak baik dan Claudia yakin, pria di depannya itu merasakan akar pahit pada dirinya.
"Hay Claudia. Apa kabar? Aku tidak menyangka kalau kau ada di sini, tapi wajar karna kau adalah istrinya Egnor. Em, maaf aku mencarinya. Aku ingin membicarakan sesuatu. Dia tidak mengangkat panggilanku. Em, entahlah kami memang tidak cocok. Dia tidak pernah menyukaiku. Haha, kau tahu sendiri bagaimana harga dirinya begitu terjaga dengan baik." Kata Richard akhirnya membuka suara lagi.
"Dia sedang mengurus kasus. Mungkin lain kali kau bisa menemuinya." Jawab Claudia sedikit tidak bersahabat.
"oh iya tidak apa apa. Baiklah, aku pergi sekarang, em kuharap kau baik baik saja. Em sebenarnya aku takut kalau kau bertengkar dengan nya karna diriku." Kata Richard lagi menjelaskan maksud ia ingin bertemu dengan Egnor.
"Benar. Kami bertengkar. Dia tidak mempedulikanku dan dia malah pergi meninggalkanku di sini sendiri. Dia pergi bersama temanmu juga, Kate. Ya, sebenarnya aku tidak pantas bersanding dengan siapa siapa. Denganmu dan apalagi dengannya. Kesalahan terbesarku adalah menyetujui menjadi istrinya. Padahal aku tidak sepadan dengan kalian semua. Kalian semua berpendidikan, sementara diriku hanya anak yatim piatu yang memiliki paman seorang penjudi dan bibi seorang tukang roti. Aku heran mengapa kalian semua menginginkanku ada di tengah tengah kalian. Satu lagi. Seharusnya sejak awal aku tidak menyetujui permintaan Frank untuk menjadi asistennya. Dia tidak tahu betapa aku sangat mencintainya. Kau sendiri juga tahu, aku berusaha dan memang aku tidak ingin mencintaimu meskipun dirimu sangat baik hati padaku. Aku juga tidak ingin kau menyukaiku karna apa? Hatiku ingin kuserahkan pada si pengacara itu. Namun, karna harga diri aku seperti tidak layak baginya. " tutur Claudia menundukan kepalanya dan deraian air mata sudah jatuh di bawah lantai sana.
Pria itu jadi tidak tega meninggalkannya. Karna pria itu sungguh mencintai dengan tulus wanita yang di depannya. Pria itu yang tak lain Richard akhirnya mendekati Claudia. Dia sudah berdiri di hadapannya.
"Clau, ini hanya salah paham. Kau tenang lah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak bisa memelukmu karna bukan pelukanku yang kau butuhkan. Em, mungkin sebaiknya kau pulang. Kau menunggu dia di rumah dan bicarakan baik baik. Nanti aku juga akan membantumu. Akan kucari waktu berbicara padanya." kata Richard yang hanya berdiri di hadapan Claudia tanpa memeluk atau sekedar memegang lengannya mengingat dulu Claudia juga tidak ingin bersentuhan dengannya.
Claudia lalu mendongakan kepalanya memandang Richard.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu dan tidak bisa mencintaimu. Aku minta maaf." Kata Claudia dengan lelehan air mata di pipinya.
Richard tersenyum. Dia lalu meraih sapu tangan di saku nya dan menghapus air mata Claudia.
"Sudah, jangan menangis. Em, terimakasih kau mau berbicara padaku." Ujar Richard.
"Terimakasih juga Richard."
Richard masih tersenyum. Namun, dalam hatinya dia meronta ronta ingin sekali memeluk wanita ini. Tapi tidak bisa. Dia tidak boleh menuruti hasratnya. Kalau saja Egnor tidak mau menerimanya, dia akan mendekati Claudia dengan perlahan bukan dengan cara memanfaatkan kesedihannya karna sedang tidak setujuan dengan cintanya.
Claudia lalu berbalik. Dia melanjutkan mengemas makanannya untuk pulang. Tapi ..
"Apa yang kau lakukan Clau?" Tanya Richard basa basi.
"Tadi aku membawakan makan siang untuk kak Egnor, tapi dia tidak memakannya karna Kate sudah datang. Katanya dia akan memakan makanan yang akan dibawa Kate. Tidak masalah. Aku sudah biasa seperti ini. Padahal dia sudah janji kalau dia akan memakan semua masakanku. Hem, begitulah manusia. Sesempurnanya seseorang pasti memiliki kelemahan apalagi pada bagian mulut. Sudahlah, percuma aku membahasnya denganmu." Sungut Claudia terus membereskan makanannya.
Namun, tiba tiba Richard menghampirinya.
"Memang kau memasak apa? Bisa aku melihatnya?" Tanya Richard.
"Tidak bisa, lagipula makanan ini sudah dingin." Jawab Claudia sedikit ketus.
"Em, aku belum makan siang Clau. Kemarikan, biar aku yang memakannya. Sudah lama juga aku tidak memakan masakanmu. Aku merindukannya." Saut Richard tidak mempedulikan Claudia yang masih memandangnya. Richard meraih bekal makan itu dan membukanya.
Claudia membawa sup daging dan kentang, juga udang goreng tepung saus mayonais. Kemarin Egnor sangat menyukai udang gorengnya jadi dia membuatkannya.
"Richard, jangan makan udangnya. Kau kan alergi seafood." Kata Claudia.
"Kau masih ingat Clau? Maafkan aku kalau waktu itu aku sangat marah padamu." Kata Richard menunduk sambil menyeruput sup dagingnya.
"Tidak apa. Aku mengerti."
Dan akhirnya Richard pun yang memakan sup daging dan kentang Claudia. Sementara dia tidak memakan udangnya. Richard makan sambil sesekali memandang Claudia yang terus menunduk sedih. Dia tahu kalau wanita yang ia cintai itu sungguh sedang memikirkan Egnor, suaminya.
...
Sementara Egnor yang duduk di kursi penumpang karna menaiki mobil Kate dengan supirnya. Egnor terus memandang ke luar mobil. Dia memikirkan istrinya. Betapa dia menyesali meninggalakan istrinya lagi di sana sendiri. Dia bahkan belum menyentuh sedikitpun makanan istrinya. Hem, Egnor tidak tahu apa yang ia rasakan. Dia juga bingung apa yang dia inginkan dari Claudia saat ini. Mereka sudah menikah lalu mengapa dirinya masih meragukan cinta istrinya itu. Apa karna Richard? Sebenarnya ini permasalahan mengapa Richard yang pernah menjadi suaminya. Egnor merasa kembali tersaingi. Mengapa harus Richard yang menolong Claudia terlebih dulu. Dia cukup yakin kalau Claudia pasti memiliki rasa pada motivator itu. Sesungguhnua Egnor cemburu. Tapi, mungkin akan berbeda jika mantan suami istrinya bukan Richard. Egnor terus mengusap dahinya. Dia tidak bercakap dengan Kate. Padahal sejak tadi, Kate sudah mengajaknya bicara.
"Kak? Kak Egnor? Kau baik baik saja?" Tanya Kate.
__ADS_1
Egnor terdiam terus memandang keluar.
"Kak Egnor! Kau memikirkan Claudia?" Tanya Claudia lagi.
Egnor terus terdiam. Kate akhirnya memutuskan diam dan mencoba mengerti.
Sesampainya di rumah sakit pusat kota, Egnor hendak turun dari mobil namun Kate menahannya.
"Kak, kau tidak mau makan dulu? Kau kan belum makan siang?" Tanya Kate.
"Aku tidak lapar!" Jawab Egnor acuh.
"Bukannya tadi kau memakan makanan yang kubawa?"
"Tidak lapar ya tidak lapar Kate! Kau ini kenapa cerewet sekali?!" Decak Egnor agak membentak membuat Kate terkejut. Egnor pun menuruni mobil dan segera menyelesaikan kasus yang harus ia tangani. Kate menarik napas. Begitukah sifat dari pria yang ia suka itu.
Seampainya di ruang rawat Tuan Gonzaga, Egnor malah melamun. Dia tidak mempedulikan Kate yang mewawancarai Tuan Gonzaga. Dia hanya menanyakan kabar Tuan Gonzaga setelah itu di duduk di sofa single dan memikirkan istrinya. Dia merindukan istrinya dan ingin cepat cepat melihatnya. Egnor selalu tidak habis pikir dengan perasaannya ini. Dia ingin benar benar memiliki Claudia sepenuhnya tanpa ada embel embel apalagi embel embel yang sangat ia benci.
Egnor terus melamun sampai ponselnya berbunyi. Dia segera meraihnya. Dia pikir Claudia namun ternyata Viena yang menghubunginya. Dia langsung keluar kamar rawat itu. Dia mengangkat panggilan dari Viena itu. Viena mengatakan kalau kandungannya memasuki 8 bulan jadi Viena ingin jika lahiran nanti, Egnor bisa datang bersama Claudia dan semua keluarganya. Egnor menyetujuinya. Hem, karna Viena mengatakan nama istrinya, dia semakin ingin pulang tapi hati kecilnya masih sulit menerima semua kenyataan kalau Richard adalah mantan suami Claudia.
"Shit!" Umpat Egnor memukul dinding.
Tak berapa lama Kate keluar kalau dia sudah selesai mewawancara. Egnor lalu mengatakan ingin kembali ke kantor.
"Kak Egnor, kau membohongi perasaanmu. Entah mengapa kau menjadi pengecut begini. Jelas jelas Claudia begitu mencintaimu tapi hanya karna Richard kau menjadi seperti semut. Di mana kejantananmu yang menggebu gebu dan dimana janjimu untuk menjaga istrimu itu? Heng, kalau aku menjadi Claudia, aku menyesal menyukaimu!" Kate berdecih karna benar benar muak dengan sikap Egnor yang tidak sesuai begini. Tapi, sebenarnya Kate tetap kagum dengan Egnor. Meskipun dia marah, namun dalam hatinya dia merindukan dan malah makin mencintai wanitanya itu. Andai posisi Claudia adalah dirinya. Dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Egnor lalu menatap tajam Kate sedangkan Kate malah memain mainkan kukunya tidak peduli dengan tatapan itu. Egnor kembali terdiam sampai ke kantornya. Egnor menuju kantornya dan menyalakan lagu kesukaannya dan bermain game pada laptopnya. Dia di sana sampai malam menjelang dan kembali ke apartemennya.
Hem, aroma masakan ini membuat perutnya semakin lapar. Egnor belum memakan apapun hari ini. Dia hanya meminum kopi hitamnya dan dengan semua banyaknya pikiran dia menjadi tidak selera makan. Namun, aroma masakan ini sungguh membuatnya ingin melahap semuanya. Dia sudah memasuki apartemennya dan tidak menemukan Claudia di dapur. Tapi masakan sudah tersedia. Semua masakan kesukaannya. Dia mendekati dan tak lama Claudia muncul keluar dari kamar dengan gaun tidur tanpa lengan berbahan satin berwarna merah muda.
"Sayang, kau sudah pulang?" Claudia menyambut memegang lengan Egnor dan Egnor menoleh ke arah istrinya. Egnor tertegun dengan istrinya yang menurutnya sangat cantik dan sempurna. Namun, tak berapa lama dia berpaling. Dia melepas jas nya dan melemparnya ke sofa. Dia menuju ke meja makan.
"Kak, kau masih marah padaku?" Tanya Claudia mengikuti Egnor.
Claudia lalu duduk di sebrang Egnor. Dia memandangi suaminya dengan senyuman. Egnor meliriknya di tengah tengah makannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Egnor. Claudia mengangguk tersenyum.
"Kau lahap sekali makan? Apa kau belum makan sama sekali?" Selidik Claudia.
"Sudah, tadi aku juga menghabiskan makanan Kate, entahlah aku sangat lapar!" Saut Egnor namun tak lama ia terbatuk. Sepertinya karna ia berbohong jadi dia tersedak. Claudia dengan sigap berdiri dan mengambilkan Egnor air.
"Sudah jangan bicara dulu! Makan saja dengan benar dan makanlah yang banyak. Aku khusus memasakannya untukmu. Ini minum airnya!" Kata Claudia menepuk kecil punggung Egnor sambil memberikan airnya.
"Kak, aku ingin berkata jujur padamu." Seketika Claudia hendak mengatakan sesuatu dan kini duduk di samping nya.
"Kenapa?"
"Tadi, ketika kau meninggalkanku dan aku hendak pulang, Richard datang ..
Belum saja Claudia melanjutkan, Egnor menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam. Claudia jadi agak terkejut.
"Mau apa dia datang?! Jangan membahasnya aku gerah!" Tanya Egnor beranjak dari kursi makannya dan menuju ke kamarnya. Claudia sangat takut sehingga ia mengikutinya.
"Kak! Kau ini kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia ingin bertemu denganmu." Kata Claudia menahan tangan suaminya.
"Untuk apa? Untuk mengataiku dan membanggakan dirinya kalau kau lebih dulu dimiliki olehnya, IYA?!!!" Egnor berbalik lalu mencengkram kedua lengan Claudia. Dia membentak istrinya lagi.
Sebegitu takutnya sampai Claudia tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Argh! Kau hanya bisa menangis!" Decak Egnor lagi. Dia hendak berbalik namun Claudia menahannya. Dia lalu memeluk suaminya. Dia mendekapnya sangat erat.
"Kak! Percayalah aku hanya mencintaimu! Tolong, percayalah. Jangan seperti ini aku tidak bisa. Tolong kak! Aku mengatakan padamu agar kau tidak curiga padaku. Aku minta maaf sudah terus mengecewakanmu, tapi benar aku mencintaimu." Kata Claudia menempelkan wajahnya di depan dada Egnor. Terdengar jantung Egnor berdegup sangat kencang.
__ADS_1
Entahlah, Egnor ingin apa? Seketika sekujur tubuhnya panas. Perutnya agak melilit. Mungkin karna ia telat makan dan ketika makan sangat lahap sehingga perutnya sakit. Muncul keringat disekujur tubuhnya. Dia lalu mendekap istrinya agar sakitnya hilang namun tidak. Perutnya malah semakin sakit. Mungkin karna hatinya yang juga sedang perih.
"Kak, tubuhmu panas, kenapa?" Tanya Claudia mengelus punggung suaminya.
Egnor lalu menarik dirinya.
"Aku ingin membersihkan diriku." Kata Egnor meminggirkan tubuh istrinya.
Egnor berendam di dalam kamar mandi. Perutnya agak menghangat karna air hangat di dalam bath tub itu. Dia hampir tertidur kalau saja Claudia tidak datang dan malah bergabung dengannya.
"Clau? Apa yang kau lakukan?" Tanya Egnor membuka matanya. Dia belum sempat duduk dari rebahannya di rendaman itu, Claudia sudah berada di atasnya tanpa sehelai benangpun sama sepertinya.
"Ikut menghangatkan tubuhmu." Jawab Claudia tersenyum menggoda.
"Claudia! Kau benar benar membuatku bingung, kau jangan menyesal jika aku melakukan ini padamu!" Ancam Egnor memegang lengan istrinya.
"Sepertinya tidak akan kak!" Saut Claudia yang tangannya sudah memain mainkan kepunyaan suaminya.
Egnor dan Claudia tidak melakukannya di sana. Egnor akhirnya menggendong Claudia ke kamar mereka. Egnor membaringkan Claudia di tempat tidur. Dia lalu membuka kaki Claudi dengan sangat lebar. Dia lalu menyatukan tubuhnya dengan istrinya. Dengan perasaannnya yang tidak sepenuhnya, dia malah memperlakukan Claudia dengan penekanan yang cukup membuat istrinya membelalakan matanya. Ini tidak seperti biasanya. Tidak ada kelembutan. Egnor melakukannya dengan keterpaksaan. Seketika Claudia kembali meneteskan air matanya namun dia tetap senang karna suaminya masih mau menjamahnya walau agak terpaksa.
Claudia sudah beberapa kali mencapai puncaknya namun Egnor terus menghentakan tubuhnya. Egnor bahkan membalikan tubuh Claudia. Dia melakukannya dari belakang. Memajumundurkan tubuhnya sambil memegang panggul istrinya. Dan akhirnya ia mengeluarkan semua kepuasannya. Claudia sudah tumbang dengan peluh keringat menghiasi tubuh sintalnya. Egnor pun merebahkan dirinya di samping Claudia. Dia membalikan tubuhnya membelakangi istrinya, menarik selimut dan tertidur. Egnor masih merasa belum bisa menatap sepenuhnya Claudia. Masih terlalu menyakitkan.
Sementara Claudia dengan masih napas tersenggal malah tersenyum. Dia memiringkan tubuhnya perlahan karna ia merasa semua persendiannya pegal. Semoga besok dia bisa menapakan kakinya. Dia yang telah menyalakan api. Claudia lalu mengelus punggung Egnor.
"Terimakasih kak sudah mau melakukannya denganku. Tapi Tampaknya hatimu sudah kembali membeku padaku kak. Baiklah, kalau kau tidak membutuhkanku lagi. Aku tidak memaksa." Tutur Claudia dan dia ikut tertidur sambil memegang punggung suaminya itu setelah menarik selimutnya.
Egnor mendengarnya namun dia tetap diam. Dia masih menyelidiki hatinya. Dia benar benar belum bisa menerima. Apa sebenarnya yang ingin ketahuipun dia masih belum mengerti.
~Sebentar Clau, sebentar saja beri aku waktu untuk menerima semuanya. Maafkan aku.~ batin Egnor dan berusaha tertidur.
...
...
...
...
...
...
Emang pengacara, hati aja perlu diselidiki, oke bang eg tingkatkan harga dirimu teruuuussss 😂😂
Hatiku mo copot eehh ..
.
Next part 46
Apa yang akan dilakukan Claudia?
Apa dia akan bertahan atau sebaliknya?
Sedangkan Egnor? Apa yang akan ia perbuat dengan hubungannya ini?
.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG BANYAAKK hehehe KASIH JUGA RATE DAN VOTE ..jangan lupa ambil poin kalian di pusat misi ahahahahy 😁😁
.
thanks for read and i love youu ❤❤
__ADS_1