Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 167: Fever


__ADS_3

lanjutan part 166,


...


"Tu tu tuan Eg Eg ..." Marco mencoba berkata kata dengan terbata.


"Egnor Jovanca! Minggir!" Kata Egnor menghempaskan tubuh Marco sampai terjatuh dan mengambil alih tangan Claudia. Claudia masih bergeming dan shock melihat mengapa dengan tepat suaminya bisa menemuinya dan dalam keadaan genting seperti ini. Bagaimana kalau tidak ada suaminya.


"Clau, kau baik baik saja?" Tanya Egnor memegang lengan Claudia.


"Aku tidak apa apa, lepaskan aku! Kau tidak perlu menyusulku!" Kata Claudia menghempaskan tangan Egnor yang sudah tersadar dengan kehadiran suaminya. Dia lalu keluar dari hotel itu karena sepertinya dia sudah ditipu oleh Marco. Kini dia harus melarikan diri dari Egnor.


"Kau masih berurusan denganku! Jangan harap kau bisa melarikan diri sir, kemana pun kau akan menjadi tersangka karena pikiran kotormu untuk istriku!" Ancam Egnor dan kini dia harus mengejar Claudia. Masalah Marco dia sudah mengurusnya.


Claudia masih di depan pintu utama hotel menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia kembali melihat ke belakang Egnor sudah mengejarnya. Dia lalu lari keluar pekarangan hotel dan memberhentikan taxi. Ketika sebuah taxi berhasil ia berhentikan, Egnor lebih dulu mendapatkan lengannya.


"Clau, tunggu sebentar! Kau tidak bisa begini!" Kata Egnor memohon.


"Lepaskan aku kak! Aku tidak mau kembali denganmu! Aku ingin mencari ibuku! Lagipula mengapa kau meninggalkan Wil Wil?! Kau keterlaluan! Tadinya aku bawa saja mereka! Kau ayah tidak bertanggung jawab!" Umpat Claudia masih meronta.


"Iya aku mengerti, Wil Wil bersama Viena, kau tenang saja. Kau masih istriku jadi kau harus selalu bersamamu!" Balas Egnor terus memegang lengan Claudia.


"For what? Untuk status mu! Untuk tanda pengenalmu sementara kau tidak menghargai ku untuk apa?!" Bentak Claudia lagi dengan nada getir dan kec


"Maaf nona, kau jadi menyewa taxi ku?" tanya sang supir taxi yang sudah diberhentikan oleh Claudia.


"Jadi, tunggu sebentar," jawab Claudia menundukan kepalanya.


"Kak Egnor lepaskan tanganku kumohon!" pinta Claudia lagi dengan lembut.


Egnor malah mendorong Claudia untuk naik ke taxi tersebut. Namun Claudia memiliki banyak ide yang sangat cepat. Dia duduk lalu kembali membuka pintu di sebelahnya dan berlari dari taxi itu secepat mungkin. Dia harus menghindar dari Egnor.


"Sial! Claudia kau benar benar ingin menjauh dariku ya?!" Decak Egnor kesal melihat Claudia yang dengan seribu langkah menghindar darinya. Egnor lalu mengambil selembar uang 1000 yin mata uang Japanis dari dompetnya dan memberikannya pada si supir taxi. (Ongkos taxi di Japanis sekali naik padahal hanya sekitar 300 yin)


"Maafkan istriku tuan, ini untukmu, ambil saja kembaliannya, semoga hubunganmu dengan istrimu berjalan dengan baik tidak sepertiku," kata Egnor seperti meminta dukungan agar semua orang mengerti apa yang sedang terjadi padanya.


"Tapi ini terlalu banyak tuan dan bahkan taci ini belum berjalan ..." Balas si supir taxi tapi Egnor sudah keluar dari taxinya.


"Haiz, rejeki ku, semoga tuan itu dan istrinya juga kembali berbaikan. Tuhan, berkati mereka," kata si supir yang sebenarnya sungguh doa yang dibutuhkan seorang Egnor.


Claudia berhasil bersembunyi di sebuah pinggir kedai yang terdapat kursi menunggu. Claudia memegang dadanya. Dia akui Egnor pelari cepat. Dia tadi masih melihat suaminya mengejarnya. Kali ini dia harus bersembunyi selagi Egnor menunggu giliran dirinya menyebrang.


"Oh God! Mengapa dia di sini?! Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan dia ada di dekatku! Bisa runyam semua, bisa bisa dia mengajakku kembali walau memang aku merindukan Wil Wil. Atau bisa juga dia malah meremehkan ku, ahh aku tidak mau lagi! Dia sungguh pria paling tidak jelas! Mengapa aku sangat mencintainya Tuhan!" Tutur claudia dengan napas tersenggal. Dia sangat lelah berlari dengan cepat untuk menghilangkan jejaknya sampai dia lupa air mineral yang ada di tangannya mungkin sudah direncanakan oleh Marco tadi. Claudia haus dan langsung membuka botol itu lalu meminumnya.


"Aaahhh, air ini membantuku juga! Eh, oh God kau memang bodoh Claudia! Bagaimana kalau ada sesuatu di air mineral ini? Bagaimana ini? Aku harus kembali ke motel. Tidak bisa. Aku harus kembali. Sampai sini dulu pencarianku, aku harus kembali! Apa si pengacara tengik itu sudah pergi?" Kata Claudia akhirnya beranjak . Dan benar saja efek dari sesuatu yang ada di minuman itu mulai bekerja. Seperti obat perangsang.


Claudia mulai pening dan dadanya sesak.


"Dapat! Aku tahu kau tidak akan jauh jauh dari sini!" Kata Egnor yang berhasil meraih lengan Claudia. Dan kali ini dia sudah memegangnya dengan sangat kencang.


"Kak Egnor! Jangan mendekatiku! Aku tidak mau bersamamu! Apa kau ingin mengantarkan surat cerai kita?" Cluadia masih memohon dalam kelemahannya. napasnya mulai naik turun tak menentu.


"Tidak ada cerai! Sekali kau menjadi istriku, selamanya akan seperti itu!" decak Egnor mengingatkan.


"Emmm, aku tidak mau! Kau sudah merendahkan harga diriku! Aku tidak mau, lepaskan! Aaarrgghh!" Dengus Claudia mencoba melepaskan jari jari tangan Egnor tapi entah mengapa malah membuatnya sedikit nyaman.


"Kau kenapa lagi? Mengapa kau seperti orang mabuk? Kau minum Clau?" selidik Egnor yang melihat gelagat Claudia tidak seperti sebelumnya. kali ini malah agak melemah.


"Bukan urusanmu! Lepas kak!" Bentak Claudia tapi dengan suara melemah dan memegang kepalanya.


"Ada apa denganmu Clau?" tanya Egnor lagi.

__ADS_1


Claudia pun mendongakan kepalanya.


"Kepalaku pusing, aku harus kembali ke motel! Jangan mengikutiku!" Decak Claudia sudah bersandar pada tubuh suaminya.


"Tidak beres! Ayo kuantar!" kata Egnor mulai merangkul Claudia.


"Tidak mau!!!!" Claudia mencoba mendorong Egnor tapi sangat sulit dalam kondisi tubuhnya yang semakin melemah dan kini berubah menjadi panas. Tubuh Egnor malah makin membuatnya nyaman dan berharap suaminya itu terus memeluknya.


"Keras kepala!" Decak Egnor dan akhirnya menggendong Claudia menuju ke hotel sebelumnya.


"Sama sepertimu! Kau begitu keras kepala, kau bahkan cemburu dengan pria yang sama sekali tidak kusukai! Kau pengacara yang tidak bermutu tapi kau sangat tampan, kau juga menggairahkan, tuan Egnor! Kau harus membayar karena berani menggendongku!" tutur Claudia sudah memegang wajah suaminya itu. wajah Egnor tampak memerah karena banyak yang melihat mereka. namun, Egnor terpaksa menggendong istrinya karena kondisinya yang tidak stabil.


"Diam Clau semua orang melihat kita,"


"Siapa suruh kau menggendongku pengacara tengik nan tampan!" balas Claudia kini mulai mengecupi pipi Egnor.


Egnor terus berjalan dan kali ini lebih cepat. Dia menuju ke mobilnya dan sudah menaruk Claudia di kursi depan sampingnya. Sesaat Egnor memegang dahi Claudia dan semakin panas.


"Kita ke rumah sakit," kata Egnor hendak menarik tangannya tapi Claudia menahannya.


"Jangan, sentuh saja semua tubuhku, aku akan sembuh!" Kata Claudia mengecupi tangan Egnor dan mengarahkannya ke dadanya.


"Oh sial! Kau meminum apa Clau? Untung aku yang mendapatkanmu, bagaimana kalau ..." sungut Egnor namun malah dibungkam dengan jari Claudia.


"Ssstt, aku sudah kepanasan! Cepat kembali ke motel tuan jovanca," pinta Claudia dengan pandangan pasrah dan penuh gairah.


Egnor akhirnya menyadari apa yang dialami istrinya.


"Keparat! Pria itu pasti kuhancurkan!" sungut Egnor yang akan membuat perhitungan pada Marco.


Egnor melajukan dengan cepat mobilnya ke motel. Dia segera membawa Claudia ke kamarnya dan Egnor malah tidak melakukannya sampai Claudia yang memaksa dan membuka jasnya.


"Egnor! Mengapa kau munafik sekali!" decak Claudia berhasil membuka jas Egnor dan meraba dadanya.


"Egnor! Kau jahat, sudah sana pergi, aku bisa sendiri!" Decak Claudia dan air dingin mulai membasahi tubuhnya. lekuk tubuh Claudia yang sudah membuka blazernya terpampang jelas, apalagi dua gundukan nan ranum itu. Egnor meneguk salivanya melihat Claudia masih memandangnya dengan hasrat meninggi juga memelas.


Egnor menarik napas dan akhirnya kembali mendekatinya.


"Mengapa kau sebodoh ini Clau! Kau memang tidak bisa jauh dariku! Bagaimana kalau orang itu yang menikmati tubuhmu? Aku minta maaf karena mengatakan hal yang kotor tentangmu dan Richard padahal hatiku perih. Maafkan aku honey!" bentak Egnor tapi lama lama nada suaranya melemah.


"Egnor, lakukan, aku mohon!" pinta Claudia terus menerus dan sudah memegang wajah suaminya itu.


"Kau yang meminta! Tapi setelah ini, jangan mengusirku, kau cintaku, belahan jiwaku, jangan menjauh Clau!" balas Egnor dengan wajah berharap.


Claudia hanya mengangguk dan menarik tubuh Egnor masuk dalam rendaman air bath tub itu. mereka pun mulai berciuman dengan sangat panas dan bergairah.


Dengan pancuran dari shower juga dan air keran dari atas bath up mereka saling menautkan bibir, tubuh dan menyatukan diri dalam cinta. Egnor melakukannya dengan sangat lembut lalu bertukar posisi Claudia yang berada di atasnya dan memimpin permainan dengan sangat lihai juga penuh gairah cinta. Semua karena efek dari obat perangsang itu. Egnor bahkan sampai meneteskan air mata memandang Claudia yang sedang mencari kenyamanannya. Dia malah menyalahkan dirinya. Untung saja dia cepat. Dia cepat datang ke taman itu walau terlambat melihat Claudia sudah masuk ke dalam mobil Marco.


Egnor langsung mengikutinya dan sudah mencatat plat nomor mobil Marco. dia juga sudah menyuruh Frank mencari tahu Marco ketika perjalanan mengikuti mobil marco. Dia harus menuntutnya atau langsung menghukumnya dengan tangannya sendiri. Apa jadinya kalau Egnor terlambat sedikit Saja. Istrinya ini hanya dia yang boleh menikmatinya. Oleh sebab itu dia menyesal juga telah menuduh Claudia yang macam macam.


Dan sampailah puncak kepuasan mereka khususnya Claudia. Claudia terkapar di atas tubuh Egnor saat itu juga. Dengan kekuatan tubuhnya yang kekar itu dia menegakan tubuhnya sambil memeluk Claudia. Dia membawa Claudia keluar dari bath tub dan menggendongnya . Egnor membawanya ke tempat tidur dan mengeringi tubuh istrinya. Dia mengenakan jubah handuk dan Egnor juga mengenakan pakaiannya. Egnor tidur di samping Claudia dan memeluknya dari belakang.


Sekitar pukul 3 sore Claudia terbangun. Dia menyadari satu hal yang fatal. Dia melebarkan matanya dan perlahan melihat tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Kak Egnor?" Panggilnya menoleh ke belakang karena dia takut Marco yang melakukannya.


Claudia bernapas lega karena suaminya yang ada di belakangnya. Dia akhirnya ingat kalau Egnor yang menahan lengannya. Sesaat dia memperhatikan tangan berurat itu dan mengelusnya.


"Kak Egnor, aku senang kau menjemputku, tapi ... " Katanya ragu dan akhirnya berusaha perlahan melepaskan pegangan tangan suaminya.


"Tidak mau! Jangan lepaskan! Jangan pergi aku mohon! Biarkan aku membantumu! Jangan pergi, aku tidak akan melepaskanmu!" Tutur Egnor yang sepertinya mengigau. Claudia menoleh dan melihat mata Egnor masih terpejam. Dia pun menyadari sesuatu kalau sepertinya tubuh Egnor menghangat. Dia memastikan dengan memegang dahi Egnor.

__ADS_1


"Demam! Kak Egnor demam!" Ujar Claudia lalu membalikan tubuhnya hendak melihat wajah suaminya. Ya wajah Egnor kini yang memerah.


"Kenapa bisa demam begini? Kak, kau baik baik saja?" selidik Claudia memegang wajah Egnor.


"Aku tidak mau pergi, aku mau disini, jangan usir aku Clau! Disitu kau berlabuh, disitu aku berlayar mendatangimu," kata Egnor lagi yang sebenarnya tidak mengigau tapi memang seluruh tubuhnya meremang.


"Kak Egnor kau sadar kan? Buka matamu!" Claudia menampar pelan pipi Egnor.


"Tapi aku tidak mau pergi, kepalaku pusing karena menuruti hasratmu!" pinta Egnor.


"Iyaaa, kau demam begini! Kenapa kau demam? apa kau sudah makan?" tanya Claudia cemas.


Egnor menggeleng seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Claudia malah menjadi gemas.


"Kenapa belum makan?"


"Aku bersemangat mendatangimu dan berharap bisa makan pagi denganmu tapi ternyata kau sudah pergi mencari ibumu padahal aku bisa mencarinya dengan cepat!" jawab Egnor seperti harapannya.


"Lalu mengapa kau bisa menemuiku?" selidik Claudia lagi.


"Dari ponsel mu, Viena yang memberitahu," jawab Egnor berbohong. dia tidak boleh mengatakan tentang chip itu. emosi Claudia masih tidak stabil. bisa saja dia beranggapan memanfaatkan pernikahan mereka.


Claudia menepuk dahinya. Dia lupa sekali meninggalkan ponsel itu. Claudia percaya saja dengan apa yang dikatakan Egnor karena suaminya mempunyai Grace padahal bukan dari situ Egnor mengetahuinya.


Tak lama ponsel Egnor pun berbunyi. Egnor pun hendak beranjak tapi Claudia menahannya.


"Biar aku saja!" Kata Claudia dan beranjak meraih ponsel di jas Egnor.


"Tuan Egnor? Kau sudah tiba? Apa sudah bertemu Claudia?" tanya Grace memastikan.


"Sudah! Mengapa tuanmu belum makan?" jawab Claudia dan Grace tentu merasa senang.


"Dia tidak mau! Dia ingin makan masakanmu!" jawab Grace.


"Sekarang dia demam," Claudia memberitahu.


"Jelas saja! Seharian memikirkanmu, kurang tidur dan kerjanya hanya meminum wine! Jangan usir dia Clau!" kata Grace memberitahu kondisi Egnor dua hari ini.


"Sampai dia sembuh dari demam!" balas Claudia dan entahlah apakah bisa atau tidak dia jauh dari seorang Egnor Jovanca.


Sementara Egnor masih dalam tidur ya sudah menyeringai lagi.


"Heng, tidak akan bisa Claudia Jovanca! Thanks fever, because of you, i Will get my Clau FOREVER!!" decaknya memegang dahinya menantikan perhatian Claudia lagi dan lagi.


...


Demam demam bisa aja lu nor nor modus pengacara tengik! 😅😅


Frank tau abis dia digodain 😂😂


.


Next part 168


Sory ya aku lama aku abis istirahat dlu setelah kejar target bulan kemarin. Semoga bsk bisa up lagi ya 😊


Doakan..


sebenernya kalo kalian komen isi ceritanya kayak mana dan bukan cuma suru up aja aku CEPET UP nya, tapi ... sudahlah tidak memaksa 😅


.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


Thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2