Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 151: Loser


__ADS_3

Claudia : Di mana pun kau berada, yakinlah jika kau merasa lelah, aku juga lelah, jika kau merasa putus asa, aku juga lunglai tak berdaya dan tidak bisa berpikir. Rasakan lah setiap doa yang dipanjatkan. Jadilah kuat di setiap detik napasmu. Jangan memikirkan aku, aku akan menjadi paling ada di hatimu jika kau percaya pada dirimu sendiri. Semua akan baik baik saja. Pada saat nya nanti ketika mata kita bertemu, aku akan menyerahkan semua padamu. Yang kuyakin, kau pasti hanya menginginkanku dan cintaku lah yang sejati ...


Egnor : Cih, lidah memang tak bertulang. Sebisa itu kau bicara karena mementingkan pemikiranmu sendiri. Kau bilang kau kuatku tapi kau tidak ada di sini. Sebisa mungkin aku menerima dan merasakan hadirmu tapi kau mengerti hancurnya hati ini sekaligus raga yang menampungnya. Koyakan hati ini sudah semakin besar tetapi kau terus melakukannya sesuka hatimu. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya memberitahumu seberapa besar aku menginginkanmu dan seberapa besar daya mu untuk setiap gel napas ku!!!


...


Rililand,


Richard mengetuk pintu kamar Claudia dengan membawa sebuah lembaran koran yang sudah ia potong. Dia tahu kalau si kembar sedang berjemur di bawah bersama Lisa, Emma dan Kevin. Sedangkan Claudia berdiam di kamar. Seperti hari hari kemarin terhitung sudah hampir dua bulan dia ada di sini. Rasanya, Richard harus bicar apada Claudia dan memutuskan sesuatu. Kevin sudah mengatakan mungkin kalau sekarang mereka agak melupakan Claudia sehingga bisa mengembalikan ibu dari Wil Wil ini pada Egnor dan dilindungi oleh suaminya.


"Clau?" Panggil Richard masih berada di daun pintu.


Claudia tetap terdiam sambil memegang kalung pemberian Egnor. Hanya itu yang tertinggal kenangan dari Egnor sebelum dia pergi. Cincinya entah kemana dan dia harus meminta maaf pada Egnor karena cincin pernikahan itu sepertinya terlepas di belakang mansion Alex.


"Clau, kau mendengarku?" Tanya Richard kini menghampiri Claudia. Claudia tetap terdiam dengan duduk di pinggir tempat tidurnya.


Richard menarik napas dan memberanikan diri duduk di samping Claudia.


"Claudia, aku minta maaf," ucap Richard kemudian. Claudia tak bergeming. Dia makin memainkan kalungnya dan tak lama air matanya kembali terjatuh.


"Kau merindukan Egnor?" Tanya Richard lagi dan akhirnya dia mengangguk. Entah mengapa setiap mendengar nama itu, hatinya antara sakit tetapi juga senang. Setiap nama itu terdengar, semua kenangan manis, pergulatan cinta yang mereka alami terlintas di pikirannya membuat Claudia ingin melihat wajah itu.


"Ini, wajahnya terpampang pada surat kabar kemarin. Kemarin Kevin juga memberikan ibu padamu tapi aku memotong berita yang melengkapi gambar wajah ini. Aku hanya ingin meringankan rindumu," kata Richard menyerahkan gambar diri Egnor di kertas koran itu. Claudia menoleh dan melihat foto suaminya. Tangannya bergetar dan perlahan meraih foto tersebut.


"Su su suamiku, Eg Egnor? Cih, kau tahu Richard, Egnor sangat suka jika aku memanggilnya tanpa embel embel. Aku ingat sekali!" Kata Claudia kemudian terasa seperti ada kekuatan ketika melihat wajah suaminya itu. Yang tegang tetapi terdapat kelembutan di dalamnya.


"Karena dia ingin sejajar dengan kita. Sejak dulu, dia memang bukan orang yang sombong. Orang yang memancing dia seperti itu. Jadi Clau, aku kemari selain memberi foto itu, aku mau mengatakan kalau sepertinya sudah saatnya kita kembali," kata Richard kemudian membuat jantung Claudia berdetak. Rasanya seperti ingin bertemu kekasih saja. Dia sudah menantikan perkataan ini dari Richard.


Claudia langsung menoleh ke arah Richard dengan mata yang berbinar binar.


"Richard? Apa aku mimpi? Apa yang kau katakan? Kita akan kembali?" pekik Claudia antusias dan sangat menunggu nunggu.


"Ya, kita kembali dan sudah saatnya aku mengembalikanmu pada Egnor sehingga biar dia saja yang melindungimu. Aku rasa sekarang mereka pasti sudah tidak mencarimu kalaupun masih, aku yakin Egnor akan mengatasinya. Kau mau kan?" Richard memastikan dengan senyum hangatnya.


"Oh God Richard terimakasih !!" Pekik Claudia kembali menatap gambar wajah Egnor dan mengecupinya sesekali. Richard tersenyum dan merasakan kegembiraan Claudia. Claudia seperti hidup kembali.


"Kak, aku akan kembali, tunggu aku! Aku sangat merindukanmu," ujar Claudia tampak bahagia tetapi entah mengapa rasanya ada yang aneh dengan hubungan mereka. Meski begitu, yang ada di pikirannya sekarang hanya kembali ke Honolulu dan bertemu Egnor.


...


Honolulu,

__ADS_1


Mansion Markas Rahasia Bruce Dalton.


Bruce semakin terkejut dengan apa yang ada di depan kedua matanya. Apa yang ia lihat sekarang! Dia sungguh menyadari dia terlalu terbuai dengan nama Jeconya ini. Dia tidak habis pikir. Memang tidak diragukan perlawanan Egnor padanya sejak dulu selalu seperti ini. Diam diam dan dapat melumpuhkannya. Namun, dia tidak bisa membiarkan ini. Dia tidak seperti dulu. Dia yakin dia lebih kita dari hanya seorang pemilik gedung pengacara.


Egnor sudah mulai menghampirinya dan Dion mengamankan Viena berjalan mundur ke arah jendela hendak menutupnya kembali.


"Egnor Jovanca, akhirnya kau yang mendatangiku, seharusny aku menyiapkan pesta sambutan untukmu, sahabat," kata Bruce meraba dalam jasnya dan hal tersebut disadari Dion.


"Aku tidak akan banyak berurusan denganmu kalau kau segera menyerahkan surat otentik padaku. Aku tidak main main, Bruce!" Decak Egnor menghampiri dan siap melakukan aksinya jika Bruce menyerang diluar dugaan.


Dor!


"Awas kak!" Pekik Dion melihat Bruce dengan cepat mengeluarkan pistol dan menembakan pelurunya ke arah Egnor.


Buak!


Dion menendang tangan Bruce yang memegang pistol dan Egnor yang sudah membungkuk melakukan slading pada kaki Bruce.


"Dion, cepat amankan Viena biar aku yang mengurus mafia tengik ini! Frank, segera dapatkan kembali cincin Claudia!" Perintah Egnor memegang telinganya sambil berdiri menghampiri Bruce yang terjatuh.


"Iya kak! Ayo Viena, kita keluar dari sini!" Kata Dion merangkul istrinya keluar dari kamar sebelum anak buah Bruce menyadari penyerangan diam diam mereka.


"Cih, tidak semudah itu Egnor!" saut Bruce tanpa takut sedikitpun.


Syuh!


Bruce melayangkan pisau kecil yang ia sembunyikan di saku celananya. Egnor berhasil menghindar dengan menarik kepalanya ke belakang walau sedikit goresan terhias di pipinya.


Egnor segera menahan tangan Bruce yang memegang pisau dan mengambil paksa pisau tersebut.


"Kau memang pengecut, pecundang!!" Umpat Egnor dan memberikan satu pukulan pada pipi Bruce. Bruce tidak diam saja menerimanya. Ketika Egnor kembali memukulnya, Bruce menahan kepalan tangan Egnor dan berusaha mendorongnya dengan sekuat tenaga.


"Aku bukan Bruce yang dulu!" Decak Bruce mencengkram kuat kepalan tangan Egnor. Egnor menahannya lagi tapi Bruce lebih kuat sehingga ia mampu berdiri dan sejajar dengan Egnor. Dia pun mendorong Egnor.


"Kau sudah memancingku, Egnor!" Pekik Bruce dan dia menghampiri Egnor tanpa ragu melayangkan sebuah pukulan yang ditahan seketika oleh Egnor. Bruce tidak kehilangan akal, dia kembali melayangkan kepalan tangan satunya ke arah perut Egnor.


Buak! Buak!


Dua kali Bruce meninju perut Egnor membuat Egnor menundukan tubuhnya tapi dia tidak menyerahkan dirinya begitu saja. Egnor malah mendorong tubuh Bruce sampai menabrak sisi piano besar itu. Egnir terbebeas dari pengukuhan Bruce sementara Bruce merintih memegang punggungnya yang terbentur keras piano.


Egnor belum berhenti. Dia menjambak rambut Bruce lalu memberikan satu hantaman dengan lututnya mengenai wajah Bruce.

__ADS_1


Buak! Buak! BUAAAAKK!


Satu kali dua kali, sampai tiga kali Egnor melakukan hal tersebut sehingga membuat hidung Bruce mengeluarkan darah. Kepalanya menjadi pening karena hantaman itu begitu keras. Sementara Egnor menghempaskan tubuh Bruce tersungkur di lantai. Bruce memegang wajahnya yang mulai memar.


Egnor memanfaatkan kesempatan selagi Bruce menikmati kesakitannya, dia mencari surat tersebut di nakas samping tempat tidur dan di dalam lemari Kaca yang ada di pinggir kamar tersebut. Semua tidak ada. Egnor yakin bukan di kamar ini dia menyembunyikan surat berharga itu!


Egnor kembali melihat Bruce yang berusaha berdiri dan ingin kembali menyerangnya.


"Grace, nyalakan sistem pencarian pada cincin Claudia dan suruh Frank mengitari mansion ini, di mana tempat tempat yang mencurigakan seperti logam brangkas atau semacamnya!" Perintah Egnor kini pada Grace dengan kembali memegang telinganya menyesuaikan earphone dan signal yang ada. dia kembali menghampiri Bruce sebelum Bruce yang malah menyerangnya.


Dia membuka Coat yang dikenakannya terlebih dahulu. Egnor juga meraih syal yang ada di lehernya. dia menghampiri Bruce dan melilitkannya pada leher Bruce.


"Cepat katakan, di mana surat tersebut sebelum aku membuatmu menyusul ayahmu!" ancam Egnor mengeratkan syal tersebut. mereka saling bertatapan dengan pandangan yang tajam dan bersih tegang.


Cuih! Bruce malah membuang ludah pada Egnor.


"Siapa kau berani menyebut si tua bangka itu!" desis Bruce dengan wajah bengisnya.


Buak!


Egnor memukul pipi Bruce karena berani meludahinya!


"Kau bahkan tidak lagi menganggapnya ayah! Kau yang membuatnya mati, kau sadar atau tidak?! sekali pecundang tetap pecundang!!" teriak Egnor menjadi ikut kesal.


Buak! Buak! Buak!


Egnor agak sensitif jika membicarakan orang tua apalagi seorang ayah. Egnor tahu kalau ayah Bruce keterlaluan tapi dia tahu semua untuk kebaikan Bruce. Namun, setelah Bruce dinobatkan menjadi orang terpandang, dia malah menghabisi nyawa seorang yang membuatnya tinggi besar seperti sekarang.


Bruce menjadi sangat kesal dan mendorong tubuh Egnor sampai dia mempunyai celah untuk menendang perut Egnor. Satu kali Egnor bertahan dan ketika Egnor juga hendak menghantam perut Bruce dengan lututnya, Bruce lebih dulu menendang perut Egnor sampai membentur ke dinding. Bruce sudah kehabisan akal dan penuh kemarahan. Dia melepas syal yang tadinya melilit di lehernya kini berbalik melilitkan pada leher Egnor. Tapi bukan dicekik, dia malah menarik kepala Egnor, dia menghempaskan tubuh Egnor ke sisi piano, ke sisi meja dan yang terakhir melempar tubuh Egnor ke pintu luar kamar sehingga Egnor terpental ke luar ruangan bersamaan Grace kembali membeli kabar terbaru.


"Tuan, Frank hendak menuju sebuah perpustakaan kecil bawah tanah. Di sana terdapat sebuah brangkas kecil yang kuyakin terdapat surat otentik dan surat kuasa yang kita inginkan!"


...


lanjut di bawah ya aku ngaso dlu deh ga tau ini gimana dah ah ya 🤔🤔😵😵😎😎


.


jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕

__ADS_1


__ADS_2