Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 61: Sidang 1


__ADS_3

"Bibiku mengajari cara membuat roti terenak di seluruh dunia ini kurasa. Aku mengikuti setiap tekniknya dengan perlahan namun ketika aku sudah mengetahuinya, aku melakukannya dengan cepat. Kami membagi tugas. Biarkan dia menjual roti di rumah dan aku di taman itu." Claudia mulai menceritakan bagaimana awal awal tahun pertama kehidupannya di Oriental. Egnor sudah memberitahu pertemuannya dengan Richard.


"Kau pasti sangat kelelahan." Gumam Egnor mengelusi lengan istrinya. Mereka berbaring sambil berpelukan.


"Tidak juga karna sudah terbiasa. Aku harap kau mempercayainya, aku selalu mengingat kerja keras mu belajar dan mencari pekerjaan paruh waktu jika sudah free kuliah. Aku juga mengingat Viena yang selalu membantu mom dan aunty mu. Dan selalu terkenang kata kata mommy ku di saat harapan ada di saat itulah akan muncul kebahagiaan. Selama aku masih bernapas, aku masih ingin bertemu denganmu walau hanya sekali kak." Tambah Claudia.


"Sekarang kau sudah bersamaku."


"Sebelumnya aku memang di kota besar ini kak. Aku bekerja sebagai resepsionis, tapi atasanku melecehanku. Aku keluar dan hanya membantu bibiku menjalankan usaha kateringnya namun pamanku selalu berulah dan menghabiskan semua harta warisanku juga uang bibiku. Namun apalah dayaku kak. Mereka yang menampungku. Bibiku yang memberikan pundaknya untuk sandaran tangis ku jika aku merindukan Daddy and moomy dan terlebih dirimu. Dan ketika waktu itu, kau selalu hinggap di mimpiku seperti pertanda kita akan bertemu. Jadi aku menyetujui menjadi asistenmu. Karna doa dan harapanku adalah bertemu denganmu. Aku ingin memberitahukan perasaanku yang sebenarnya. Rasa bertahanku untuk tetap setia mencintaimu." Lagi lagi Claudia berkata dan dia menahan air matanya untuk tidak terjatuh lagi.


"Sudahlah. Sekarang kau sudah bersamaku dan kau menjadi istriku. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan hal hal pahit itu lagi, Clau!" Kata Egnor mengecup puncak kepala Claudia.


"Iya kak, rasanya memang aku harus melupakan semuanya itu dan memaafkan pamanku." Claudia masih berusaha menjadi orang yang berprikemanusiaan apalagi itu adalah paman kandungnya


"Dia sudah mendapat ganjarannya. Sedengarku dia menjadi lebih baik di dalam sana. Dia menitipkan salam untukmu dan bibimu. Bagaimana bibimu Clau?" Egnor mencoba menanyakan kondisi bibinya yang mana Egnor belum lagi memantaunya. Dia tidak sempat bertanya pada Frank karna semua perkara ini.


Seketika Claudia bingung harus menjawab apa. Dia memang tidak mau merepotkan suaminya tapi apa salahnya baiknya suaminya mengetahui kondisi terakhirnya. Bibinya mengalami kemajuan meski sedikit dan dia terlayani dengan baik di rumah sakit itu.


"Dia baik kak. Sebenarnya dia sempat sakit kemarin, namun nampaknya sekarang sudah membaik. Aku akan mencoba mengatur kepindahannya kemari. Bisa kah dia tinggal bersama kita kak?" Claudia sedikit beranjak dan bertanya pada suaminya. Egnor cukup senang kalau ternyata Claudia mulai membuka dirinya terus menerus.


"Tentu sayang. Dia bisa berteman dengan aunty ku." Kata Egnor tersenyum hangat.


"Terimakasih kak. Aku mencintaimu. Tidak ada hal yang sia sia. Harapanku ada padamu kak." Claudia kembali memeluk Egnor.


"Begitu juga denganku Clau. Aku selalu yakin jika kesempatan itu ada, aku pasti akan menemukanmu. Aku tidak pernah melihat wanita lain selain dirimu. Dan kini kau dipelukanku. Tidak akan kulepas lagi." Tutur Egnor mengingat juga setiap perjuangan hatinya untuk mempertahankan hanya satu nama yaitu Claudia.


Dan pasangan suami istri itu bergelut dalam pelukan kasih mereka. Sudah merasa saling memiliki. Tidak sia sia tetes air mata dan pengorbanan. Semua tercampur menjadi satu. Segala kemelut dan kesalahan masa lalu biar lah menjadi kisi kisi percintaan mereka. Biar lah semua menjadi asal muasal kisah cinta sejati yang mereka torehkan pada sebuah harapan.


Malam semakin panjang namun cinta mereka akan terus tercipta sampai kedua mata mereka tak dapat lagi terbuka. Betapa sang pria menanti datangnya rembulan menyinari hari harinya yang kelam dan menghangatkan kehidupannya yang dingin. Dan, betapa si wanita menunggu harapan itu berbuah menjadi sesuatu yang manis. Dengan perlindungan yang ia dambakan bersama sang pria.


"Tubuhmu sudah baikan, Clau?" Tanya Egnor masih memeluk istrinya.


"Sudah lebih baik kak. Ada apa? Kau seperti ingin mengatakan sesuatu?" Selidik Claudia mengelus ngelus dada suaminya.


"Dua hari lagi kau harus menghadiri sebuah sidang?" Kata Egnor memberitahu.


"Sidang? Maksudmu?" Tiba tiba Claudia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan beranjak dari tidurnya.


"Hehem, Kate menuntutmu." Egnor sedikit mengangguk angguk.


"Oh Lord! Are you serious? She's do it?" Claudia menoleh tajam ke arah suaminya


Egnor mengangguk tersenyum.


"Crazy woman! Dia benar benar melakukannya kak?"


"Ya, surat gugatannya sudah masuk ke email Frank. Kau menyambungkan emailmu pada Grace dan Frank ya?"


"Aku tidak tahu! Mungkin Grace yang membuatnya. Lebih baik aku masuk penjara daripada membayar uang tebusan! Aku tidak sudi memberikan pada orang kaya yang tak bermoral! Jadi siapa yang menjadi pengacaraku kak?"


"Frank!"


"Kenapa bukan kau?!" Claudia benar benar tak percaya dengan hal ini. Bukan suaminya yang menjadi pengacara nya. Oh damn!


"Aku tidak mengurus pidana rendahan seperti itu Clau! Frank juga tidak, tapi biarkan Frank yang turun tangan agar cepat selesai." Jawab Egnor menjelaskan dengan tenang.


"Kau jahat sekali!" Dengus Claudia melipat kedua tangannya.


"Sudahlah! Kemarilah!" Egnor kembali menarik tangan Claudia untuk masuk dalam pelukannya.


"Semua akan baik baik saja. Kau tidak akan dipenjara atau memberikan uang tebusan. Mereka hanya tidak tahu berurusan dengan siapa." Egnor mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi waktu di Legacy, kau bilang mau menjadi pengacaramu." Claudia masih merajuk.


"Richard sudah menyetujui perceraiannya sayang." Kata Egnor yang dengan maksud dia akan menjadi pengacara perceraian bukan masalah Kate.


"Kau sudah mengurusnya?" Claudia memastikan dengan hati berdegup karna takut akan ada perdebatan.


Egnor mengangguk.


"Your the best and only!" Ucap Claudia dan dia agak beranjak sedikit untuk mencium bibir suaminya. Egnor menanggapi sambil tersenyum. Dan mereka saling bergulat dalam kecupan sampai mengantuk dan menutup hari dengan cinta kasih.


...


Dia hari kemudian ..


Grace mengetuk pintu apartemen Claudia dan Egnor dengan cepat. Tak lama dia beralih gerakan menjadi menggedor pintu coklat tua itu. Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi . Sidang akan digelar pukul 11 pagi. Grace terlambat untuk menjemput Claudia, padahal Egnor sudah memperingatinya. Bagaimana tidak telat, Grace harus ke kantor dan juga kembali menjemput Claudia. Selain itu dia harus berjalan pelan karna kandungannya.


"Clau! Open the door!! Clau!!" Grace terus menggedor pintu itu dengan sekuat tenaga.


Tak lama Claudia keluar dengan masih mengenakan piyama. Grace tampak terkejut.


"Clau?! Kenapa kau belum bersiap?"


"Bersiap apa?" Claudia malah menggaruk garuk kepalanya.


"Hari ini kau harus memenuhi gugatan Nona Kate. Oh aku sudah malas memanggilnya Nona, maksudku Kate!" Jawab Grace sedikit frustasi.


"Ah santai saja, biarkan mereka yang menunggu kita. Masuklah! Aku akan membersihkan diriku!" Kata Claudia bergerak maju ke dalam apartemen yang diikuti Grace. Dia pun membersihkan dirinya.


"Ada apa denganmu Clau? Kenapa kau agak pucat?" Tanya Grace yang sudah aneh sejak kemarin Claudia tidak sadarkan diri.


"Entahlah, aku sedang agak lelah. Hem, sebenarnya aku tidak ingin pergi. Apa tidak bisa di wakilkan Grace?" Ujar Clauda bersandar dekat kamarnya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Perutku sakit, kepalaku berat sekali!" Keluh Claudia memiringkan kepalanya dan memejamkan matanya.


"Kau hamil?"


"Aku tidak muntah."


"Hamil bukan saja harus muntah. Kau sudah memeriksanya?" Grace memastikan.


"Belum! Nanti lah, yasudah ayo kita berangkat!" Claudia mulai menggerakkan tubuhnya.


"Ayolah! Aku ingin melihat mereka semua tercengang dengan apa yang akan terjadi. Kau tidak tahu Clau, kalau kemarin Kate mendatangi Tuan Egnor dan menceritakan yang terjadi tapi Tuan Egnor hanya mengangguk dan tersenyum. Dia lalu meninggalkan Kate. Rasakan dia!" Grace mencibir Kate sehingga membuat Claudia menghentikan langkahnya. Dia mengingat Egnor.


"Aku ingin suamiku kenapa jadi suamimu?" Claudia masih mempermasalahkan hal pengacara.


"Kau akan tahu nanti!"


Grace pun mendorong tubuh Claudia perlahan keluar dari apartemen dan menuju ke pengadilan pusat kota untuk memenuhi gugatan Kate.


Claudia melajukan mobilnya. Dia tidak membiarkan Grace yang mengemudi. Namun, nampaknya Claudia melakukannya dengan sangat pelan sampai membuat Grace gemas.


"Cepatlah sedikit Clau!" Dengus Grace tak sabaran.


"Kau ini santai saja! Em, apa benar suamiku tidak bisa datang Grace?" Claudia masih sangat sangat mengharapkan suaminya.


"Tidak! Dia ada pertemuan para pengacara advokat pemerintah di rumah kepala pemerintah Clau!" Jawab Grace sangat tenang.


"Frank tidak ikut?" Claudia mencoba memancing ini sebuah taktik atau benar.


"Dia kan mengurusmu, kau ini bagaimana?" Lagi lagi Grace dengan santai menjawab.


"Kalau begitu sambungkan teleponku untuknya saja. Aku mohon! Aku butuh kekuatan Grace!" Pinta Claudia sedikit menoleh pada Grace. Dia terus melajukan mobilnya.


"Kau ini menyusahkan! Kau yang mencari ribut Kate tapi kau juga yang takut akan seperti ini!" Dengus Grace sambil meraih ponsel nya.


"Aku pikir dia tidak akan se pengecut ini! Lagipula mereka yang menghampiriku bukan aku!" Sanggah Claudia dengan sebenarnya yang terjadi


Grace tidak menghiraukan. Dia menghubungi tuannya dengan loud speaker dan tersambung.


"Kenapa?" Egnor mengangkat panggilan.


"Kak!" Panggil Claudia.


"Clau?"


"Kau benar tidak akan hadir ke persidanganku?" Tanya Claudia to the point pada suaminya.


"Persidangan? Oh iya aku lupa Clau! Aku sedang bersama tim advokat ku di rumah kepala pemerintah dan akan membutuhkan waktu banyak untuk sampai ke pengadilan. Jadi, kau bersama Grace dan Frank saja ya? Aku yakin semua akan berjalan lancar." Jawab Egnor tenang.


"Kau benar benar jahat kak! Kau membiarkan ku sendiri?"


"Tenang lah! Kalau urusan ku sudah selesai, aku akan menjemputmu kita makan di luar. Oke? Sudah dulu ya kepala pemerintah sudah mau memulai acaranya. I love you."


Panggilan terputus.


"Nah, rasakan i love you mu!" Grace menggoda puas.


Claudia menekuk wajahnya sebal. Dia benar benar tak menyangka kalau suaminya sendiri membiarkannya diurus oleh pria lain. Padahal suaminya penasihat hukum tersohor dan aka sangat mudah jika dia yang melakukannya. Dia sudah membayangkan cibiran yang akan Kate keluarkan untuk nya. Sementara Grace hanya tersenyum senyum sambil melihat keluar jalan.


Mereka pun tiba di depan kantor pengadilan pusat kota Honolulu. Gedung dengan dua sampai tiga lantai itu tampak kokoh juga di lengkapi pilar pilar besar menambah keagungan dari lambang hukum itu sendiri. Claudia meneguk saliva nya. Baru kali ini dia mengikuti sidang seperti ini. Dia sebagai terdakwa dan rasa rasanya dia melakukan kesalahan yang sangat besar hanya karna menghancurkan ponsel yang bahkan lebih murah dari ponsel nya. Mengingatnya membuat dia malah sebal dan ingin merauk wajah wanita yang membuatnya berada di sini.


"Ayo masuk! Tidak usah banyak berpikir!" Grace kembali mendorong tubuh Claudia memasuki ruang pengadilan itu sendiri.


Claudia agak bingung karna tidak ada siapapun yang datang memenuhi kursi penonton. Ya, mungkin seperti kata suaminya, ini merupakan sudah rendahan yang sebenarnya tidak perlu sampai mengadakan persidangan seperti ini. Jadi, ingin di saksikan juga tidak penting. Sangat kekanak kanakan. Claudia kembali melipat lipat bibirnya kesal.


Tapi di sana, Kate sudah datang dengan semua pakaian elegan dan anggunnya duduk di kursi penonton paling depan bersama Samantha. Ya, Claudia sudah sangat menerka ini semua pasti rencana kedua orang wanita bercula dua.


"Akhirnya kau datang juga! Kupikir kau takut!" Kate berdecih dengan nada angkuh.


"Cih, kalau aku berani menghancurkan ponselmu, maka aku juga berani menghancurkan martabat mu! Sebaiknya kau tarik gugatanmu sebelum kau malu Kate!" Decak Claudia dengan wajah kesal nya.


"Haha, kau lucu sekali Clau! Kau yang seharusnya malu! Di mana pengacaramu? Grace? Dia bahkan tidak pernah belajar hukum! Dan kau jangan berharap suamimu menjadi pengacaramu! Aku sudah memperhitungkan semuanya!" Saut Kate dengan kesombongannya.


"Kalau tidak ada nomor satu, pasti akan ada nomor dua karna setelah angka satu akan ada angka dua. Kau jangan melupakan Frank, Kate!" Grace membela Claudia.


"Grace? Kau berani memanggil namaku saja?!" Dengus Kate yang tidak menyangka dengan sikap Grace yang sedikit arogan.


"Ya, kita seumuran, tidak usah terbawa perasaan atau besok kau akan menuntutku?!" Grace kembali mencibir.


Hahahahaa, Kate dan Claudia tertawa. Sementara Kate memasang wajah geram. Samantha menepuk bahunya untuk tidak lagi berbuat keributan karna Hakim bersama antek antek nya sudah memenuhi meja mereka. Ada juga sang jaksa penuntut umum. Kate pun kembali ke bangkunya bersama Samantha.


"Nyonya Claudia Jovanca, silahkan duduk pada posisi anda!" Kata sang Hakim yang tak lain adalah Hakim Benedict, kerabat Egnor.


Claudia duduk di posisinya di depan meja hakim sementara Grace duduk di kursi penonton.


"Di mana penasihat hukum anda atau pengacara anda?" Tanya sang hakim setelah memastikan Claudia duduk pada tempatnya.


Claudia agak celingukan. Dia menoleh ke belakang melihat Grace.


"Cih, Frank saja mungkin malas mengurusinya!" Kate mencibir.


"Tuan Frank Leonard yang akan menjadi pengacara saya. Mungkin dia masih di jalan." Jawab Claudia berusaha sopan.


"Oh, Tuan Leonard yang menjadi penasihat hukum anda? Saya pikir Tuan Jovanca sendiri." Gumam sang hakim yang membaca laporan mengenai tergugat.


"Dia sedang menghadiri acara bersama advokat lainnya di kantor pemerintah." Jawab Claudia sudah mulai muncul ketegangan dalam dirinya.

__ADS_1


"Oh begitu ya? Tapi di laporan mengatakan Tuan Jovanca yang menjadi pengacara anda. Jadi kalau seperti ini kita hanya bisa menunggunya. Ini sebuah sidang pengadilan yang resmi, Nyonya. Jadi saya harap anda tidak main main. Sekecil apapun masalahnya namun merupakan tindak pidana yang harus diselesaikan dengan putusan hukuman yang berlaku." Kata Hakim Benedict dengan sangat tegas. Kate dan Samantha sudah menaikan dagunya menatap sinis dan acuh Claudia.


Claudia terkejut. Dia tidak mengerti semua ini. Dan bahkan suaminya malah pergi ke acara lain. Dia terus memandang Grace yang tampak tenang. Dia kembali ke posisinya dan meraih ponsel pada tas kecilnya. Dia menghubungi suaminya namun tak ada jawaban. Dia mengirim pesan juga tak ada jawaban sama sekali!


Claudia


Kak! Kau benar benar tega! Dimana pengacara ku ?? Dan ini tidak akan selesai jika tidak ada pengacara! Dimana semua janjimu padaku! I hate you!


Claudia memasukan kembali ponselnya frustasi. Dia memegang dahinya dan muncul gejolak lagi pada perutnya. Dia panik dia tahu.


"Jadi kita akan menunggunya Tuan Benedict?" Tanya sang jaksa.


"Ya, kita harus menunggunya selama lima belas menit, jika Tuan Jovanca atau Tuan Leonard tidak datang, utus saja penasihat hukum kita untuk menjadi pengacara Nyonya Claudia." Kata sang hakim memberi jalan terbaik.


"Heng! Kau akan kalah Clau!" Kate mencibir setelah mendengar keputusan hakim. Claudia tidak bergeming. Dia hanya bisa memanggil mom and dad nya serta nama suaminya. Ya mungkin setelah ini dia akan merasakan jeruji sel selama beberapa bulan atau tahun? Tidak masuk akal pikirnya! Suaminya seorang pengacara namun menelantarkan dirinya seperti ini. Kate pasti sudah sangat membual pada suaminya.



'Ku pastikan, Richard tidak akan mau bersanding dengan wanita bercula dua sepertimu Kate!' gumam Claudia dalam hati. Sejatinya dia sedang menikmati masa masa kekalahannya nanti jadi dia mengumpat dan memberikan sumpah pada musuhnya.


Lima belas menit terasa memang sangat cepat. Claudia mengakui ini Karna sepuluh tahun saja sudah berlalu begitu saja dan sekarang dia menjadi istri seorang pengacara handal yang tidak membantunya ketika mendapat tuntutan dari seseorang.


"Baiklah Nyonya Claudia, karna ini merupakan masalah kecil , jadi tidak bisa ada penundaan. Oleh sebab itu, kami akan memberikan anda seorang penasihat hukum dari pihak kami." Kata sang hakim lalu membisikan sesuatu pada asisten di sampingnya.


Namun, tak berapa lama sang hakim berbisik, muncul sebuah sinar terpancar dari sela sela pintu ruang pengadilan yang perlahan terbuka. Sinar lampu ruangan dari luar ruang pengadilan yang begitu terang. Dua orang pria bersama satu penjaga nya memasuki ruang pengadilan.



Semua mata tertuju kepada mereka. Mereka berpakaian jas lengkap dan salah satu pria itu mengenakan kaca mata bening ber ring hitam pada bagian atasnya. Mereka berjalan mendekati jalannya sidang dengan wajah datar dan sedikit menegang. Khususnya pria yang mengenakan kaca mata itu tidak tersenyum dan menebarkan tatapannya yang menusuk.


Kate benar benar sudah kembali terduduk lemas sementara Samantha hanya menunduk dan memegang bahu Kate.


"Mohon maaf saya terlambat Hakim Benedict. Mari kita mulai persidangannya. Silahkan Tuan .." kata salah satu pria itu meminta maf pada hakim dan mempersilahkan tempat pada tuannya. Karna tuannya yang akan mengikuti persidangan.


Grace sudah tersenyum menyambut kedatangan penjaga mereka yang duduk di sampingnya. Dan tak lama pria yang memberikan salam pada sang hakim juga ikut duduk bersama mereka. Sementara tuan mereka duduk di samping Claudia yang masih sedikit menganga dengan kepiawaian pria yang akan menjadi penasihat hukum nya itu.


...


...


...


...


...


Aku mau tambal kepala dulu ya? Gerah bangat 😂😂


.


Next part 62


Jeng jeng jeng


Siapakah pria pria itu?


Wkwkwkwk ,😂😂


yg mau liat visual pria berkaca mata itu gabung grup chat noveltoon aku aja ya soalnya suka lama pake gambar skalian atau ya nyusul hehe


Bagaimana jalannya sidang ini?


Bagaimana pesona sang penasihat hukum Claudia?


Apakah Claudia akan di penjara gegara masalah hape Ancur! 😂😂


.


Nanti malem lagi yak


Lagi merangkai proses sidangnya biar tetep mudeng soalnya otak ku juga ga sinkron sidang sama hati Sangkin tersepona eh terpesona ..kan aneh kan 😁😁


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕


.


kunjungi novel lainnya yuk yang ga kalah baper dan rekomended !!


- Tetaplah Bersamaku (happyteen)


- Love & Hurt


- Deja Vu : Jasmie & Chest


- Tak Dianggap


- Ada Cinta Untuk Sahabat

__ADS_1


L&H dan Djv ada di karya ku, tiga lainnya search pada kolom pencarian yaa 😍😍


__ADS_2