Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 56: at Legacy 1


__ADS_3

"kenapa kau terus memelukku kak?" Tanya Claudia masih dalam pelukan Egnor setelah beberapa kali suaminya melakukan pelepasan sepanjang malam itu.


"Aku ingin seperti ini sampai tidak ada seorang pun yang menghalangi hubungan kita." Jawab Egnor benar benar memeluk Claudia dan sesekali begitu erat.


"Asal kita saling percaya semua akan baik baik saja kak." Gumam Claudia mengusap lembut lengan kekar Egnor.


"Kau percaya padaku?" Selidik Egnor menggoda istrinya.


"Sangat! Kalau tidak, untuk apa aku datang ke Honolulu dan dengan penuh keberanian bertemu denganmu. Aku sungguh ingin bersamamu, kak!" Jawab Claudia yang kini menatap mata suaminya.


"Terimakasih Clau, kau selalu mempertahankan diriku di hatimu!" Ucap Egnor mengecup bibir Claudia.


"Kalau kau tidak ada lagi, aku tidak tahu harus hidup di mana kak!" Tutur Claudia mencoba berkata kata romantis.


"Cih, bahasamu!" Egnor bergidik mendengarnya namun dia senang.


"Aku serius!" Claudia menaikan alisnya.


"Ya ya, aku mencintaimu Clau!" Balas Egnor mencium bibir Claudia.


"Me too!" Saut Claudia di sela sela ciuman mereka.


Mereka kembali berpelukan pagi itu. Kalau saja Claud setuju, mungkin Egnor akan melakukannya lagi. Namun, seketika perut Claudia bergejolak dan dia merasa mual. Dia segera menuju ke toilet untuk memuntahkan sedikit cairan dalam tubuhnya. Egnor agak cemas dan mengikutinya dari belakang.


"Kenapa Clau?" Selidik Egnor berdiri di daun pintu.


"Haha, tadi subuh aku haus sekali dan tidak biasanya kak, jadi aku meminum air mineral satu botol besar sampai habis. Mungkin terlalu banyak jadi perut ku kembung dan mual." Jawab Claudia yang sudah membersihkan mulutny dan duduk di atas closet yang tertutup.


"Kau ini membuat ku cemas saja. Yasudah bersihkan dirimu, kita berkeliling Legacy!" Kata Egnor menjauhi toilet.


"Benarkah kak?" Claudia terkesiap dan mengejar suaminya.


"Ya, kau mau membeli ponselmu kan?" Egnor memperjelas.


"Ehm, apa kita juga akan bertemu dengan Dior lagi?" Tanya Claudia yang masih merindukan Viena juga ingin melihat keponakannya.


"Sepertinya karna aunty Anne sudah ke rumah sakit lagi pagi pagi sekali. Baru saja dia memberiku pesan." Jawab Egnor melihat isi ponselnya karna ada beberapa orang yang menghubunginya termasuk Frank.


"Oke, aku akan bersiap!"


Claudia begitu bersemangat karna dia merasa masalahnya sudah selesai. Egnor sudah di pihaknya. Egnor juga sudah tahu apa yang terjadi mengenai Richard dan keluarganya. Ketika pulang nanti, mereka hanya perlu melaporkan masalah ini dan Claudia yang akan mengajukan cerai secara resmi.


Claudia sudah bersiap. Claudia menguncir rambutnya ke atas membuat sebuah bulatan. Dia mengenakan blouse berwarna biru muda denim dengan celana pendek di atas lutut. Dia ingin merasa santai di kota ini. Sementara Egnor juga sudah menyuruhnya menyiapkan pakaian untuknya.


"Kau sudah menyiapkan bajuku Clau?" Tanya Egnor setelah selesai membersihkan dirinya.


"Sudah sayang! Gunakan jas casual dan kaos saja ya? Untuk hari ini kau harus terlihat lebih santai, seperti diriku!" Kata Claudia menyerahkan sebuah jas casual berwarna hijau tua yang pekat dengan kaos bergaris juga celana jeans dongker. Egnor tetap tampak tampan dan berperawakan tegas sampai Claudia memeluknya ketika suaminya selesai mengenakan semuanya.


"Heng, kau jangan terus memelukku!" Gumam Egnor tersenyum kecil.


"Kenapa?" Claudia mendongakkan kepalanya sebal.


"Nanti aku bisa melepaskan semua pakaian ini lagi dan kita tidak jadi jalan jalan!" Jawab Egnor sangat santai.


"Aahh, kau, sejak kita menikah kau menjadi sangat mesum kak!" Decak Claudia mendengus.


"Hanya denganmu my only one!" Egnor mengelusi lengan Claudia.


"I love love love you somuch kak! Entah seberapa besar ruang di hatiku dan hanya terisi namamu." Kata Claudia menjadi gemas dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Benarkah? Bisa kah aku melihatnya?" Pinta Egnor kemudian.


"Kau ingin membelah hatiku?"


"Tidak, aku ingin melihat luar hatimu saja, dadamu!" Bisik Egnor menggoda.


"Kan!"


Hahaha! Egnor malah tertawa dan memeluk istrinya lagi. Setelah puas dengan peluk memeluknya, mereka pun meninggalkan hotel.


Egnor terlebih dulu mengajak Claudia mengunjungi toko alat komunikasi di Big Plaza. Claudia jadi mengingat waktu itu pernah ke sini dengan anak angkat Egnor, Lexa.


"Semalam, kita tidak bertemu Lexa, kak." Tutur Claudia menyusuri plaza besar ini Karna mengingat anak angkat suaminya itu.


"Ya,sepertinya dia sudah pulang. Dia sudah mengurusi Viena seharian." Kata Egnor menanggapi istrinya.


"Ya, itu sudah menjadi tugasnya. Bagaimana kabarnya?" Gumam Claudia.


"Entahlah, sepertinya dia akan menikah dengan Leon."


"Berarti kita akan ke kota ini lagi?" Claudia menoleh ke arah suaminya. Dan seketika Claudia mengingat pernihakan yang dijanjikan suaminya namun belum juga terlaksana.


"Benar sekali!"


"Em, apa kita juga akan menikah di gereja dan mengadakan resepsi kak?" Tanya Claudia perlahan dan pelan. Sebenarnya dia takut dengan respon Egnor yang tidak mengenakan hatinya atau mungkin Egnor akan menjawab, 'ya, kita akan segera menikah' tetapi entah kapan hal itu terjadi. Claudia bahkan belum diberi kode untuk membuat atau mencari gaun pengantinnya. Dia menundukkan kepalanya dan Egnor menatapnya. Egnor hanya tersenyum namun tidak menjawab. Claudia merasa sepertinya dia merusak suasana ini. Claudia lalu kembali mendongakkan kepalanya.


"Em, tidak usah dipikirkan kak haha, aku sudah senang seperti ini denganmu. Kita sudah sah secara hukum. Yang terpenting, aku bisa melihat wajahmu ketika bangun pagi dan tidur malam." Kata Claudia lagi mengembangkan senyumnya namun tatapan mata Claudia tidak bisa menipu Egnor.


"Sekembalinya dari sini kita urus dulu surat resmi perceraianmu. Setelah itu kita langsungkan pernikahan. Aku BER JAN JI." Jawab Egnor kemudian dan sedikit mendekatkan dirinya ketika mengatakan berjanji dengan mengejanya.


Claudia tersenyum dan memegang wajah suaminya.


Mereka pun mencari ponsel terbaik untuk Claudia. Sudah dua kali dengan ini Claudia mengganti ponselnya. Kali ini Claudia ingin ponsel seperti suaminya supaya bisa selalu serasi dengan pengacara handal itu. Namun, karna Egnor selalu menggunakan barang barang limitid edition, mereka agak sulit mendapatkannya. Egnor tidak menyerah dan terus melintasi toko ponsel sambil berjalan jalan.


Setelah mereka membeli ponsel, mereka makan siang di restoran tempat dulu Egnor mengajak makan Claudia. Di sebuah kedai sushi terbaik di Legacy. Dulu Claudia yang sering mentraktir Egnor sampai Egnor tidak enak hati.


"Sekarang, aku yang membelinya untukmu!" Bisik Egnor tepat di telinga Claudia. Claudia tersenyum dan mengecup pipi suaminya.


"Uangmu adalah uangku kak, jangan lupa! Berarti sekarang aku juga yang mentraktirmu!" Balas Claudia tidak mau kalah.


Egnor mengangguk angguk tersenyum setuju.


Mereka makan siang sambil bercakap cakap menunggu sore hari. Egnor ingin mengajak Claudia ke sebuah jembatan di Legacy yang merupakan jembatan buatan tempat ber rekreasi. Dulu Egnor sering mengajak Claudia ke jembatan ini dengan menaiki sepeda. Sekarang mereka hanya berjalan jalan saja sambil mengenang masa itu. Masa masa di mana Egnor belum memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya pada Claudia. Dan, Claudia sendiri takut kalau kalau Egnor sudah memiliki wanita yang ia sukai. Padahal itu adalah dirinya.



Egnor menganggandeng tangan Claudia sambil membawa paper bag berisi ponsel Claudia. Mereka berdua menikmati suasana sore itu. Egnor terus memperhatikan Claudia yang tak henti hentinya bicara menunjukan tempat tempat dulu yang sekarang sudah berubah. Egnor sampai tidak memperhatikan sekitar kalau kebetulan saat itu memang agak ramai. Ketika mereka terus melintasi jembatan putih dan besar itu Claudia menujukan sebuah perahu kecil di bawah jembatan itu. Claudia ingin menaikinya namun ketika baru saja mereka melangkahkan kakinya, seseorang merebut paper bag yang di bawa Egnor dengan sangat cepat dan dia berlari.


Egnor dengan sigap melihatnya dan hendak mengejarnya sambil menggandeng tangan Claudia. Namun, baru saja mereka hendak berlari, perut Claudia kembali bergejolak dan kepalanya mendapat serangan kecil. Claudia melepas gandengan tangan Egnor sehingga Egnor yang berlari mengejar orang yang mengambil paper bag nya. Egnor tersadar dia tidak lagi memegang tangan Claudia. Dia berhenti dan menoleh ke belakang.


"Clau, kau?"


"Kejar saja kak, aku tunggu di sini! Itu ponsel limited edition ku! Cepat kejar kak!" Kata Claudia menyuruh Egnor tidak mencemaskan nya namun nyatanya dia sambil memegang perutnya.


"Tapi kau?" Egnor malah mencemaskan istrinya.


"Sudah sanaaa!!!" Paksa Claudia mengibas ngibaskan tangan satunya pada suaminya.


"Argh sial! Kau tunggu di sini jangan ke mana mana!!" Egnor akhirnya memutuskan mengejar pria itu karna Claudia yang sangat memaksanya. Ponsel itu memang agak sulit dicari tadi.

__ADS_1


Claudia mengangguk dan memegang perutnya. Dia tersungkur sementara ada beberapa orang yang menghampirinya.


"Tuan! Tolong suami saya, dia sedang mengejar pencuri, pria muda itu mencuri ponselku!" Kata Claudia meminta bantuan takut kalau kalau pria itu bergerombol sehingga Egnor tidak bisa melawannya.


"Sebentar nona! Aku akan memanggil keamanan." Kata salah satu pria tua menuju ke pos keamanan.


"Nyonya, apa kau hamil? Sebaiknya kau duduk di taman kecil itu." Kata seorang wanita paruh baya membantunya berdiri.


"Hamil? Tidak nyonya! Sepertinya aku terlalu banyak sushi dan sudah telat makan.


"Oh iya benar! Mari kuantar ke bangku taman sana."


Sementara itu Egnor terus mengejar pria muda itu. Pria muda itu bersembunyi di sebuah toilet portabel dan Egnor benar benar ingat kalau pria itu dengan semua pakaian hitamnya. Pria muda tampak kewalahan karna Egnor berlari cukup cepat padahal dia tadi sempat tertahan karna Claudia.


Pria muda itu membuka jaketnya hendak menghilangkan identitas namun nyatanya Egnor menyadarinya. Dia segera menghampiri pria itu dan menarik lengannya. Egnor terkejut bukan main. dia mengenal pria muda ini. pria muda itu juga terkejut.


"tuan Jovanca?


"kau?!"


pria muda itu langsung bersujud di bawah kaki Egnor dan terus meminta maaf.


Tak berapa lama Egnor kembali menemui Claudia dengan membawa paper bag dan juga pria muda bertopi hitam itu. Egnor membawanya dengan mencengkram ujung jaketnya yang sudah ia kenakan lagi. dia sempat mencari cari Claudia dan melihat istrinya duduk sendiri di taman kecil bersama seorang keamanan yang berdiri menunggu dirinya.


"Kau tahu siapa pria ini, Clau?! Selalu merepotkan, SELALU!!" Egnor mendorong kasar tubuh pria itu sehingg tersungkur di bawah kaki Claudia.


"Maafkan aku Tuan Jovanca! Aku tidak tahu kalau itu dirimu." kata pria muda itu terus meminta ampun dan memohon pada Egnor. Claudia juga sempat terkejut melihat pria muda yang pernah ia tolong bersama suaminya. namun Claudia kesal dengan pernyataan pria muda itu.


"Jadi kau tetap akan melakukannya jika itu bukan suamiku?!" decak Claudia memelintir telinga pria itu. Claudia sudah kesal setengah mati dengan ponsel limited edition nya dan perutnya yang tiba tiba bergejolak tak jelas.


...


...


...


...


...


Claudia ngapa jadi ribet bin cerewet banget kau 😂😂


kita main di Legacy dulu sebentar ya 😁😁


.


next part 57


ayo tebak tebakan, kira kira pria mud itu siapa? diingat yuks siapa pria muda yang pernah mereka tokong sampe Egnor kesel setengah mampus 😅😅


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕

__ADS_1


__ADS_2