
Setinggi tingginya pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Dia akan tumbang pada akhirnya dan begitu juga ketika si pohon semakin lebat buahnya, tak menutup kemungkinan dia akan semakin merunduk. Ada apa ini? Apa sesuatu telah dimulai? Bagaimana Egnor dan Claudia menghadapi ini?
...
Claudia mengerjapkan matanya. Dia mencoba membukanya perlahan dan memperhatikan tempat ia tidur semalam. Dia menoleh ke arah kanan melihat Grace yang tidur dengan meringkup. Claudia tersenyum. Sahabatnya ini pasti kedinginan dan membutuhkan pelukan suaminya. Begitulah yang Cluadia pinta dari suaminya ketika merasa dingin seperti ini. Pelukan seorang suami ketika hamil adalah yang paling hangat melebihi selimut paling tebal yang pernah ada.
Claudia kembali menatap langit langit kamar apartemen Grace. Sepertinya dia melupakan sesuatu. Dia terlalu mengantuk semalam menyaksikan film action kesukaan Frank dan juga suaminya. Namun lama kelamaan dia dan Grace tidak mengerti jalan ceritanya jadi belum saja film usai, dia dan Grace memasuki kamar dan akhirnya tertidur setelah mereka berdoa bersama untuk perkembangan anak anak mereka. Menurut Claudia dan Grace, mereka dapat tidur bersama adalah momment yang langka mengingat suami mereka masing masing tidak bisa berjauhan dengan mereka jika tidak mendesak.
"Kak Egnor? Ah iya, semalam aku tidak menunggunya, aku mengantuk sekali! Aku akan menghubunginya." Kata Claudia akhirnya. Dia beranjak dan menuju ke meja rias Grace, tempat dirinya meletakan ponselnya semalam setelah menggunakan krim malam wajahnya.
Dia meraih ponselnya dan memeriksanya. Egnor menghubunginya dua kali dan memberikan satu pesan.
MR. JOVANCA ♥️
Kau sudah tidur ya? Maaf aku baru selesai. Tidurlah, mimpi yang indah dan hadirkan aku di setiap kau memejamkan mata. Sampaikan salamku juga untuk kedua anakku. I love you my only one, GBU
Claudia lagi lagi tersenyum dan semakin merindukan suaminya. Hawa dingin pagi ini sangat menyentuh sampai terasa ke tulang tulang sumsumnya. Sepertinya semalam hujan telah sampai di kota Honolulu ini. Claudia mengusap usap lengannya. Dia kembali mengingat suaminya dan langsung menghubunginya.
-Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!-
Begitulah jawaban pada kontak suaminya. Seketika jantung Claudia berdegup namun dia tidak mau berpikir buruk. Mungkin saja suaminya lupa mengisi energinya jadi pagi ini ponselnya off atau mungkin saja kondisi di tengah laut sehingga tidak ada signal. Semua spekulasi dan terkaan itu berterbangan di atas kepala Claudia. Sepertinya dia harus kembali ke kamar apartemennya. Di sana dia bisa melihat foto pernikahannya atau mengenakan pakaian suaminya. Ini bisa mengurangi rasa rindunya.
"Grace, aku kembali ke kamar apartemen ku ya? Lagipula Aunty Anne akan datang." Bisik Claudia meminta ijin pada Grace yang masih terlelap. Grace tak bergeming.
"Grace, kau dengar kan? Lagi pula ini sudah jam setengah enam pagi, kau tidak bersiap ke kantor? Graaccceee!!!" Claudia menggoyang goyangkan tubuh sahabatnya itu yang akhirnya Grace menggeliatkan tubuhnya.
"Grace bangun!" Panggil Claudia lagi.
"Eemm, iya Clau!" Grace terbangun dan berusaha membuka matanya.
"Aku kembali ke apartemen ku ya?" Ijin Claudia.
"Iya iya, Nyonya Anne yang akan menemank mu hari ini kan?" Selidik Grace berusaha untuk duduk.
"Iya kau tenang saja! Aku pulang ya?"
"Heemm.. gunakan baju hangat mu Clau, ini dingin sekali!!" Pesan Grace.
"Aku tahu !! Sampai jumpa!"
Claudia pun menuju pintu dan kembali ke apartemennya. Grace pun keluar dari kamarnya karna harus membangunkan suaminya. Ini hari Rabu, keadaan kantor jauh lebih ramai ketimbang hari biasanya. Selain itu, karna semalam hujan dan kini masih gerimis biasanya jalanan akan padat merayap. Untuk satu Minggu ini Frank tidak boleh terlambat karna harus menggantikan posisi tuannya. Selain itu Gabriel juga ikut bersamanya.
Claudia memasuki apartemennya. Dia memasak air untuk membuat minuman panas. Udara pagi ini sungguh sangat dingin. Aunty Anne akan datang sekitar pukul 9, masih ada waktu bagi Claudia berendam air hangat dan mungkin akan tertidur lagi. Tidak lupa dia menuliskan sesuatu yang ingin suaminya lakukan padanya.
"Hari ketiga 21 April 2020 pagi hari disini sangat dingin. Apa kau juga sama? Semoga kau baik baik saja. Aku menunggu kabarmu kak! Aku tidak suka kau mematikan ponsel atau meninggalkannya! Jangan mengulanginya lagi atau aku akan marah padamu! Kau takut aku marah kan?! Haha! Jadi kak karna pagi ini sangat dingin, aku ingin kau membuatkanku minuman panas seperti coklat panas atau susu coklat hangat sepertinya sangat nikmat. Terimakasih." Kata Claudia sambil menuliskan apa yang menjadi ucapannya pada lembar notebooknya. Dia menutup notebooknya dan tersenyum. Dia meraih ponselnya lagi dan memeriksa mungkin tidak sadar suaminya sudah menghubunginya tapi tak ada. Claudia menghela napas. Air yang ia masak sudah matang dan akhirnya dia memutuskan untuk membuat minuman terlebih dahulu.
Seketika Claudia merasa seluruh tubuhnya meremang dan sedikit pegal. Kepalanya juga pening. Sepertinya dia benar benar membutuhkan rendaman air hangat juga dengan wangi wangian aroma therapy kesukaan dirinya dan suaminya.
Claudia bergegas ke kamar mandi setelah meneguk satu sampai dua kali minuman panas nya. Dia membuat teh camomile yang begitu menenangkan perasaannya. Sejatinya dia masih menunggu Egnor menghubunginya.
Claudia menyiapkan rendaman air hangat tersebut dan secepatnya bergabung dengan air itu. Claudia menghela napas. Dia memejamkan matanya dan tak lupa sebelumnya dia sudah menguncir rambutnya membuat sebuah bulatan ke atas. Begitu juga ia tak lupa menyalakan lagu pada ponselnya. Sepertinya akan lebih menghangatkan pikirannya. Lagu terakhir dikirim Viena untuknya. Eyes, Nose and Lips by Taeyang.
"Hem, Viena sialan! Mengapa dia mengirimiku lagu ini hah? Sepertinya dia sudah sekongkol dengan kakaknya agar aku terus merindukan dan membayangkan kakaknya. Benar benar kakak beradik sangat sangat cerdik!" Gumam Claudia yang malah menikmati lagunya. Setiap lirik lagunya membuat dirinya ingin merasakan tubuh kekar dan hangat suaminya.
~Keegoisanku yang tidak bisa membiarkanmu pergi,
berubah menjadi obsesi yang memenjarakanmu.
Apakah kau terluka karena aku?
Kau hanya duduk tediam.
Mengapa aku begitu bodoh, kenapa aku tidak bisa melupakanmu disaat kau sudah pergi?
Matamu, hidungmu , bibirmu
Saat kau menyentuhku sampai ke ujung jarimu, Aku masih bisa merasakannya
tapi seperti terbakar api dan dihancurkan
semua cinta kita
begitu menyakitkan, tapi sekarang aku akan menyebutmu sebagai kenangan~
Seketika perasaan Claudia menjadi sesak mendengar setiap kata yang terucap oleh penyanyinya. Seperti sudah menghadapi perpisahan namun belum bisa menerima dan masih merindukan.
"Oh my! Mengapa aku jadi sesedih ini? Lagu ini tidak pantas untukku! Viena benar benar si wanita dingin melakolis. Sudahlah matikan saja! Aku juga sudah selesai. Tidak boleh terlalu lama nanti malah menenggelamkan ku dengan perasaan gundah gulana ini. Dan kemana si tuan pengacara ini sih? mengapa belum mengabari ku? Seharusnya jam segini pasti sudah makan pagi bersama, masa dia tidak memeriksa ponsel? Pelanggaran!" Decak Claudia terus berceloteh sambil membungkus tubuhnya dengan jubah handuk nya dan menguras bath up-nya.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 9 pagi, akhirnya Claudia mengirim pesan pada suaminya.
MY CLAU
__ADS_1
Sayang? Kau sedang apa? Mengapa belum mengabariku?
Status not send
Deg!
Sesaat perasaan Claudia bergemuruh dan sedikit takut. Hatinya meringis sedih dan kedua matanya berkaca kaca.
Perasaan Claudia jadi makin tak karuan. Dia tak puas dan hendak mengirim pesan lagi namun ..
Prang!
Terdengar suara gelas terjatuh dari atas. Claudia sedikit terkejut lalu keluar kamar dan menemukan Aunty Anne sudah datang. Dia memang memiliki kunci cadangan yang sudah diberikan Egnor.
"Ada apa Aunty?" Tanya Claudia .
"Maafkan aku Claudia, aku mengenai minuman panas mu yang masih lumayan panas. Aku terkejut dan akhirnya malah menghempaskannya." Jawab Anne yang sudah langsung membersihkannya.
"Oh tidak apa apa Aunty, biar aku saja yang membersihkannya." kata Claudia hendak menghampiri Anne.
"Tidak tidak! Aku saja! Kau sedang mengandung jangan terlalu sering membungkuk atau berjongkok." Anne melarang Claudia.
"Ohh baiklah, pelan pelan saja aunty aku memakai pakaian dulu."
"Ya it's oke Clau!"
Claudia pun memasuki kamarnya. Kembali jantungnya bergumuru. Ada apa sebenarnya? Mengapa berbarengan begini? Pesan yang ia kirim pada suaminya tidak terkirim dan Aunty Anne menjatuhkan gelas. Perasaanya semakin tak enak. Dia kembali meraih ponselnya dan ternyata status nya baru kembali terulang yang menyatakan pesannya terkirim namun suaminya belum membalas. Claudia mencoba menghubunginya lagi namun nihil tidak ada jawaban. Terhubung tapi tidak diangkat.
"Argh kak Egnor kau keterlaluan! Sudahlah, nanti juga dia membalas. Mungkin dia baru menyalakan ponsel dan ada urusan lain. Sebaiknya aku tetap tenang." Gumam Claudia mencoba terus berpikir yang baik baik saja mengenai suaminya.
Claudia pun menuju lemari pakaiannya tetapi dia ke bagian kemeja kemeja putih milik Egnor. Perlahan Claudia memilih kemeja putih ini dengan senyum yang melebar. Mungkin jika dirinya mengenakan kemeja suaminya ini akan mengurangi rindunya. Aunty Anne pun tidak akan keberatan melihat dirinya mengenakan kemeja keponakannya. Namun, ketika Claudia hendak meraih salah satu kemeja putih di bagian tengah, sisi pundak kemeja itu terkoyak karna terkena ujung jarinya yang mana memiliki kuku yang cukup panjang. Sesuatu yang tidak terduga.
Claudia lalu menarik tangannya dan menutup mulutnya. Ini sangat sangat mustahil. Apa kain kemeja serapuh ini sehingga dapat terkoyak hanya karna mengenai kuku jemarinya yang panjang?
"Mengapa bisa begini? Apa kukuku terlalu panjang? Seperti nya biasa saja. Hem, mungkin ini kemana lama Kak Egnor. Baiklah aku akan memperbaikinya nanti." Kata Claudia mengambil kemeja yang terkoyak itu lalu mengambil kemeja yang lain untuk ia kenakan.
Claudia segera mengenakannya yang ia padukan pada celana katun ketat khusus hamil. Claudia keluar dari kamar dan menemui bibi mertuannya. Dia malah menemukan Anne sedang membalut jarinya dengan plester antiseptik.
"Aunty? Kau kenapa?" Tanya Claudia menghampiri bibi mertuanya.
"Jariku tergores pecahan cangkir itu Clau dan entah mengapa dada ku sesak sekali, seperti akan terjadi sesuatu. Apa kau bisa menolongku menghubungi kakakku?" Jawab Anne dan memohon bantuan pada Claudia.
Claudia kembali bertanya tanya. Apa memang terjadi sesuatu pada ayah mertuanya?
Dia menghubungi Johanes sambil berjalan kembali menghampiri Anne.
"Selamat pagi, anakku, apa terjadi sesuatu padamu? Anne sudah sampai kan?" Johanes mengangkat panggilan Claudia yang di mode loud speaker. Anne menghela napas lega. Begitu juga Claudia.
"Tidak apa apa Dad. Aku dan Aunty Anne hanya mau memastikan kau sudah bangun dan sarapan kan?" Kata Claudia megusir perasaan buruk bibi mertuanya sambil mengedipkan matanya. Anne tersenyum. Claudia memang pintas mengendalikan keadaan.
"Ah kalian ada ada saja, haha! Aku ingin ke lahan keluarga Cornwell sebentar lagi Bertho akan menjemputku." Jawab Johanes dan memberitahu jadwalnya hari ini.
"Baiklah Dad, kau hati hati ya?" Balas Claudia perhatian.
"Tentu sayang, kau jangan terlalu lelah, nanti Egnor marah padaku dan salamkan jika kau menghubunginya ya?" Ujar Johanes mengingatkan.
"Tentu juga dad sayang. Baiklah, sampai jumpa, jaga dirimu."
"Ya, selamat pagi, Tuhan memberkati."
Claudia mematikan panggilan dan tersenyum menatap Anne.
"Bagaimana Aunty? Kau sudah tenang kan? Tidak akan terjadi apapun dengan ayah mertuaku. Dia kuat dan terjaga seperti anaknya." Kata Claudia memastikan perasaan Anne.
"Kau benar sayang. Tapi bagaimana dengan Egnor? Apa dia sudah benar selalu menghubungimu?" Selidik Anne juga mengingat keponakannya.
"Benar Aunty. Tapi pagi ini dia belum memberi kabar, mungkin signal di laut tidak memadahi."
"Ya kau benar. Jadi, hari ini apa ada ingin yang kau buat Clau?" Tanya Anne yang harus mengikuti kemauan keponakan menantunya.
"Sepertinya aku ingin membuat pizza aunty. Kemarin Grace juga menginginkannya." Jawab Claudia mulai mencuci tangannya.
"Wah, aku juga sudah lama tidak memakan pizza mu. Aku akan membut sausnya. Aku tahu resep saus alaminya."
"Ah yang benar aunty? Kau harus mengajariku."
"Baiklah, ayo kita mulai, tapi kau harus meminum susumu dulu. Suamimu sudah berjaga jaga padaku." Anne mengingatkan.
Claudia mengangguk tersenyum. Dia pun meminum susu buatan bibi mertuanya. Setelah itu dia mulai menyiapkan dough pizzanya tentunya dengan menggunakan mixer khusus roti.
Ketika Claudia hendak memasukan bahan bahannya ke cawan mixernya, Claudia jadi kembali mengingat Egnor ketika membuat pizza. Claudia tersenyum karna setelah adonannya jadi, Egnor dan dirinya malah melanjutkan dengan permainan kesukaan mereka.
__ADS_1
'Kak, kau sedang apa? Aku ingin membuat pizza denganmu.' gumam Claudia dalam hati. Dia jadi kembali harus menulisnya. Sebelum ia lupa, ia harus menulisnya. Dia menyalakan tombol on pada mixernya terlebih dulu, namun karna dia buru buru hendak meraih notebooknya di meja ruang tamu, Claudia menekan tombol sepuluh menit yang seharusnya dia menekan dua puluh menit. Dan karna ia berjalan begitu cepat dia hampir terjatuh, dia menumpu tubuhnya yang hendak jatuh ke meja yang malah menekan remot tv sehingga menyalakan tv tersebut.
"Clau? Kau tidak apa? Pelan pelan sayang." Anne dengan cepat menghampiri dan memegang punggung serta lengan Claudia.
"Argh, perutku sakit aunty." Claudia lalu memegang perutnya.
"Sudah kukatakan pelan pelan. Kau mau kemana? Bukankah kau sedang membuat dough pizza?" Selidik Anne bingung.
"Aku hendak mengambil notebook ini aunty! Argh .. oh God! Mengapa perutku jadi sakit seperti ini?!" Claudia meringis memegang perutnya.
"Duduklah dulu." Anne memapah Claudia ke sofa namun belum saja Anne berhasil membuat Claudia duduk, terdengar suara sang pembawa acara berita.
-Berita terkini! Hujan deras sampai terjadi badai melanda laut Atlantis semenanjung Nederland. Satu satunya kapal pesiar Rose Gold yang berlayar terkena arus kencang tersebut mengakibatkan kapal menabrak batu karang besar dan tenggelam. Kapal Pesiar Rose Gold dikabarkan sedang menuju ke Negara Nederland yang bermuatan para Advokat dari Honolulu.-
Anne tidak begitu memperhatikan isi pesannya, tetapi Claudia langsung menangkap karna suara tv cukup kencang. Selain itu, Claudia mendengar kata Nederland dan Advokat. Pikirannya langsung mengarah pada perjalanan suaminya. Lagipula sejak tadi Egnor juga belum membalas pesannya.
"Apa, berita apa itu Aunty? Apa aku salah mendengarnya?" Tanya Claudia menghentikan langkah Anne yang hendak mendudukannya.
"Mendengar apa, Clau?"
"Argh!! Perutku!!" Claudia kembali meringis merasakan kontraksi ini.
"Duduklah dulu!" Anne memaksa.
-Dikabarkan kapal tenggelam dan korban jiwa belum diketahui apakah semuanya selamat atau ikut tenggelam bersama kapal. Kabarnya pada Advokat dari Honolulu hendak mengadakan perayaan di negara Nederlan. Kita akan memberikan kabar selanjutnya.-
"Tidak tidak, ini tidak mungkin Aunty!"
"Tenang Clau! Ini pasti salah."
"Ya ya, ini pasti salah." Kata Claudia yang tidak bisa membohongi dirinya kalau dia cemas. Dia meraih notebook nya dan hendak menormalkan isi pikirannya. Dia menulis di sana dengan dadanya yang sesak dan perutnya yang kembali bergejolak. Anaknya di dalam seraya menendang dan memukul secara bersamaan seakan-akan seperti tidak tenang dengan apa yang didengar ibunya. Claudia memegang dadanya sambil menari narikan penanya.
'Kakak, aku ingin membuat pizza denganmu tapi apa benar kau ikut tenggelam dengan kapal itu?' begitulah isi hati Claudia yang terus bertanya tanya.
"Ah tidak! Mengapa aku menulis kapal tenggelam Aunty!? Tidak tidak bukan begini, aku ingin membuat pizza bersamamu kak, arrgghhh!" Claudia menulis sambil meringis menahan sakit perutnya. Air matanya telah tertampung di sisi matanya namun ia menahannya. Ini pasti kesalahan pikirnya.
Sementara Anne mengganti tayangan berita itu ke tayangan lain yang kembali mengumumkan hujan deras dan badai yang melanda lautan Atlantis, laut yang dilintasi oleh Kapal Pesiar Rose Gold tujuan Nederland.
"Tidak ini tidak mungkin, kak, hubungi aku, aku mohooonnn!!!" Claudia kembali menulis nya di atas notebooknya sampai lembarannya terkoyak karna Claudia menulis dengan penekanan. Dia mau menghubungi suaminya. Dia harus meraih ponselnya di meja makan. Dia beranjak namun dia kembali terjatuh.
"Claudia! Kau mau kemana?" Anne kembali menghampirinya ikut panik dengan yang didengar.
"Ponselku Aunty! Aku harus menghubungi Egnor, dia harus baik baik saja , aku harus menghubunginya Aunty!!!!" Kata Claudia dengan nada meninggi dan memegang perutnya.
"Argh Kak Egnor kau tidak boleh pergi, kak Egnorrrr!!!" Claudia berusaha berdiri namun kembali terjatuh. Anne sudah meneteskan air matanya karna melihat betapa terpukulnya menantunya padahal ini belum ada kepastian benar atau tidak. Dia membantu Claudia berdiri namun kembali Claudia terjatuh dengan lutut sebagai tumpuannya.
Tak lama kemudian, Grace dan Frank datang dan langsung memasuki apartemennya.
"Claudia? Kau, kau, kau sudah mendengar kabar?" Kata Grace menutup mulutnya menyaksikan Claudia tersungkur dan kini menatapnya dengan nanar.
Frank langsung menghampirinya.
"DIAAAMM!! TIDAK! ITU BUKAN KAPAL SUAMIKU, BUKAN, JANGAN ADA YANG MEMBERITAHUKU KABAR YANG TIDAK BENAR, JANGAAANN!!!" Claudia menutup telinganya dan akhirnya dia kembali tergeletak di lantai.
"Claudia, Claudia, Claudia!!"
'Panggilan itu kuharap kau yang pulang kak, ya itu pasti kau, kau pasti pulang, kak kau tidak boleh meninggalkanku, tidak boleh, kau sudah berjanji, selamanya kau hanya boleh pergi bersamaku, jangan pergi kak ..'
...
...
...
...
...
Aku ga tau apa apa, moon maap aku mau pingsan juga 😭😭
.
Next part 94
Pokoknya, Egnor selamat atau enggak?? Itu aja dah yang jadi pertanyaan dan harus terus ikuti 😭😭
.
Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤