Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 149. Sacrifice - 1


__ADS_3


Jika sebuah pengorbanan akan membawa pada keberhasilan dan berkat yang melimpah, maka tidak apa jika harus ada luka, sakit, kekhawatiran, keraguan, ketakutan dan kegelisahan di dalamnya. Begitulah yang dirasakan Egnor dan Claudia serta seluruh orang yang memperjuangan sebuah Honolulu. Negara yang terlindungi dan mengedepankan keadilan di atas segala galanya. Bagaimana pengorbanan seorang Egnor, Claudia dan semuanya mengakhiri masa kelam ini?


...


Dion memasuki apartemen Egnor dengan wajah geram dan mendahului kakak iparnya. Ada sebuah rencana kakak iparnya yang membuat semua bulu kuduknya berdiri karena ngeri membayangkan apa yang akan dialami istrinya jika dia menyetujuinya.


"VIENA!! PULANG KITA DARI SINI! CEPAT KEMASI BARANG BARANG DAN KEMBALI KE LEGACY SE - KA - RANG!!" Pekik Dion menolak pinggangnya frustasi. Viena yang baru selesai memasak terkejut mendengar suara suaminya yang meninggi.


"Ada apa sayang? Mengapa kau pulang marah marah begini?!" Tanya Viena bingung.


Tak lama Egnor pun memasuki apartemennya bersama August yang membantu membuka Coat panjangnya.


"Kak Egnor, ada apa dengan Dion? Mengapa kami harus pulang? Memangnya sudah selesai urusan kalian?" Tanya Viena pada kakaknya yang sudah masuk ke dalam apartemen.


"Tidak usah banyak bertanya, kemasi barang barang kita dan pulang ke Legacy, aku tidak mau mengambil resiko! PULANG!" decak Dion tidak menunggu jawaban kakak iparnya.


"Cih, kau berlebihan sekali Dion, ku baru mengatakan rencana belum realisasi nya kan?!" Egnor berdecih sedikit tersenyun kecut.


"Kalau kau sudah bicara, kau pasti akan melakukannya, sudah sudah aku tidak mau berdebat dan banyak perbincangan. Kalau ada Kak Claudia, apa kau mau menjadikan dia umpan?" balas Dion memberi tantangan pada Egnor.


"Dia pasti mau kalau berkorban demi orang lain, bahkan umat manusia, istrimu juga," saut Egnor sekenanya tetapi juga menyindiri Claudia yang pasti akan melakukan itu.


"Diam! Tidak, aku ngeri membayangkannya! Viena! Pulang, ayo kita pulang!" bantah Dion lagi dan wajahnya mulai memerah karna sangat geram.


"Ada apa sebenarnya sayang? Kak Egnor cepat beritahu ada apaa?!" tanya Viena lagi penasaran dengan sikap suaminya.


"Jelaskan, August! Aku ingin membersihkan diri!" perintah Egnor pada August dan hendak memasuki kamarnya.


"Liat itu lagaknya kakakmu Viena! Argh menyebalkan, dia kakakmu masa mau menjadikanmu sebagai umpan!" sela Dion mengumpat Egnor sampai dia lupa, dia berhadapan dengan siapa.


"Dion, kau jangan lupa, kau juga pernah mengorbankan Viena demi harta kan? Kau ini, aku tidak akan lupa dengan semua itu!! Seharusnya bisa saja aku menyuruh Viena untuk tidak memaafkanmu!" saut Egnor lagi menyindir Dion.


"Sial! Begitu terus pembicaraannya sejak kemari! Pokoknya aku tidak setuju!" decak Dion sudah duduk di sofa.


"Oh Tuhan, kau kekanak kanakan sekali, diam lah dulu!" saut Viena kini memohon pada suaminya.


"Itulah suamimu Viena!" balas Egnor masih meledek Dion.


Dion masih mendengus dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia tetap tidak ingin kalau istrinya ikut ikutan dalam semua misi ini.


"Ada apa August?" tanya Viena kini serius dengan August.


"Maaf nyonya, Tuan Egnor telah membuat strategi untuk kita menyerang pihak oknum pemerintah. Karena berhubung kita belum mengetahui Markas Mansion Rahasia dari Bruce Dalton, jadi menurut Tuan Egnor harus mengutus seseorang yang bisa ikut ke markas Bruce dan langsung dipercaya masuk ke dalam mansionnya . Sehingga kita bisa melacak lokasi markas mansion rahasia tersebut. Tuan Egnor memikirkan anda yang melakukannya nyonya karena menurut analisanya, pihak Bruce sangat menyukai wanita. Ini hanya menjadi umpan saja. Ketika kau sudah sampai di markas, kami semua akan segera datang," kata August menjelaskan.


"Brilian! Lalu, kenapa kau merajuk seperti itu Dion?!" tanya Viena kini pada suaminya.


"Viena! Kau keterlaluan! Aku mencemaskanmu! Bagaimana kalau mereka meraba raba dirimu dan sampai Bruce menyentuhmu sedikit saja, aku tidak terima, aku tidak mau tidak mau!" sungut Dion tetap tidak setuju dengan ide atau keputusan Egnor.


"Sayang!" panggil Viena sesaat.


"Diam! Aku tidak setuju! Memang tidak ada wanita lain?! Jangan dirimu!" bentak Dion setengah menoleh. Viena berpikir. Benar kata suaminya. Tujuan dia kemari hanya ingin menenangkan kakaknya dan menemani suaminya.


"Nah, benar juga kata suamiku, kenapa tidak wanita lain? Aku tetap harus menuruti suamiku," saut Viena masuk dalam pertimbangannya.


"Menurut Tuan Egnor hanya anda yang bisa mengambil peran tersebut. Misterius dan mereka pasti tidak akan curiga!" jawab August tegas.

__ADS_1


"Tidak masuk akal , pokoknya aku tidak setuju!!!!" dengus Dion lagi dan lagi.


"Viena, tolong ambilkan handukku, aku lupa membawanya, yang di sini sudah kotor!" teriak Egnor seketika.


"Haiz, mengapa dia berteriak seperti itu!" keluh Viena sedikit terkejut dengan kakaknya yang juga agak kekanak kanakan.


"Dia menjadi gila sejak kak Claudia menghilang sehingga ide ini saja ide tergila yang pernah kudengar!!!" decak Dion kini mengatai kakak iparnya.


Viena menarik napas melihat pertengkaran kakak dan suaminya. Dia juga bingung harus memihak kemana. Viena mengambilkan kakaknya handuk terlebih dahulu karena Egnor ingin memberi pengertian pada adiknya itu.


"Aku percaya, kau akan baik baik saja. Kau sudah mengerti bagaimana dunia ini dan kau tahu bagaimana menghadapi para lelaki hidung belang jadi aku yakin, kau bisa memainkan peran ini Viena!" kata Egnor manambahkan apa yang sudah dijelaskan August.


"Aku mengerti kak, tapi setidaknya kita harus menghargai suamiku bukan?" saut Viena tetap melihat Dion sebagai suaminya.


"Begitulah, berikan pengertian padanya. Wajahmu tidak terlalu terpampang di mana mana karena kau tak ingin jadi aku yakin mereka tidak akan mencurigai dirimu," kata Egnor lagi meminta Viena mempertimbangkannya.


"Baiklah, aku akan mengajak Dion menenangkan ketegangannya dan membicarakan ini, oke?"


"Dion harus menyetujuinya Viena. Hanya ini yang ada di pikiranku. Setelah itu kau tenang saja, kami dan Dion khususnya akan melindungimu. Aku juga tidak akan membiarkan Bruce menyentuhmu sedikit pun saja. Aku kakakmu Vien, masa aku memberikan daging segar terhadap seekor buaya?"


"Cih, aku paham kak, baiklah kau makan apa yang telah kumasakan. Jangan membantah dan kau harus sehat agar misi ini selesai! Jangan terus menyalahkan dirimu di saat aku tak ada. Mengerti?"


"Kapan kau kembali?" selidik Egnor.


"Paling cepat besok pagi, paling lama besok malam atau Lusa," jawab Viena tidak bisa memastikan selera hati Dion yang suka berubah ubah.


"Kalau Dion sudah setuju, kau segera mengabarimu agar aku membuat rencana selanjutnya bersama Grace, Frank, Eleazar dan lainnya," kata Egnor memberi arahan .


"Pasti kak! Sampai jumpa,"


"Thanks, Vien,"


Egnor pun mengelus punggung Viena dan sedikit menitikan air mata mengingat istrinya.



Viena Gloria Jovanca as Gloria Jeconya


cast Viena : Zhang Yuqi


----------------------------------


...


Dan di sinilah Viena masih di antara Richie dan Dawney dengan identitas Gloria Jeconya. Setelah permainan ranjang yang sangat panjang bersama suaminya itu, Viena berhasil meyakinkan Dion kalau dia akan baik baik saja dan melindungi dirinya. Dua hari Viena memastikan Dion di sebuah hotel mewah yang Dion sewa. Awalnya Dion mengijinkan tetapi lagi lagi tidak karena membayangkan Viena akan diberi obat perangsang atau semacamnya. Namun, Viena terus berusaha dan akhirnya Dion mengijinkan dengan syarat Dion yang akan menerobos masuk lebih awal ke markas tersebut.


"Memang kau siapa bisa mengetahui keberadaan anakku dan mantan istrinya?" tanya Richie dengan nada ketus.


"Dulu aku menyukai anakmu, Richrie Gabriane! Tapi dia malah menyukai si pedagang roti rendahan itu. Dan karena anakmu, status ku menjadi model di Oriental hancur karena pernah mengancam Claudia. Jadi aku pindah ke Nederland tetapi aku kembali memiliki masalah. Aku dikirim kemari oleh agency ku dan mendengar kalau kalian mencari dua orang yang sangat kubenci itu!" jawab Viena sesuai arahan dan perintah Egnor.


"Jadi di mana kau melihatnya?" tanya Dawney kemudian dengan wajah ramah hendak berdekatan dengan Viena.


"Cih, seeenaknya sekali kau bertanya padaku. Aku hanya ingin memberitahu pada Tuan Bruce Dalton, yang kutahu dia kaya dan tampan jadi aku mau meminta keuntungan lebih darinya!" jawab Viena melihat kuku kuku lentiknya.


"Heng, jal*ng!" umpat Richie seketika. dia masih sangat mencurigai Viena.


"Apa kau bilang? J*lang?! Kalian yang menawarkan keuntungan itu, kalau kalian tidak mau, aku juga tidak masalah! Seharusnya aku langsung saja ke Egnor Jovanca. Dia lebih menghargai kaum hawa! Kalian semua membuang buang waktu seorang Jeconya! Kau ingat baik baik siapa aku ya?!!! GLORIA JECONYA!" decak Viena beranjak dari duduknya kesal dengan umpatan Richie.

__ADS_1


"No No No, tenanglah Nona, kau jangan dengarkan si tua bangka itu ya? Biar bagaimana pun Tuan Bruce ku lah yang memegang semua kendali. Sebelumnya agar kami lebih percaya dirimu. Agency apa yang bertanggung jawab atas mu?" tanya Dawney menahan.


"Top Model Nederland Enterprise! Masa kalian tidak pernah mendengarnya?!!" jawab Viena acuh. Egnor dan Alex sudah menyiapkan ini semua berjalan seperti fakta.


"Periksa agency itu! Dan kau Nona Gloria, tunggu sebentar, aku akan memberi tahu tuanku!" kata Dawney kemudian memberi perintah pada bodyguardnya dan dia menghubungi Bruce.


Viena menatap dingin Richie begitu juga dengan Richie. Sebenarnya Richie sangat mencurigai kalau wanita yang di depannya itu adalah istri dari Dion Prime. Namun memang benar, Dawney dan Bruce yang memegang kuasa akan semua ini. Dan, Bruce juga yang menawarkan segala keuntungan untuk siapa saja yang menemukan anaknya dan Claudia.


"Kau bilang siapa? Jeconya?" kata Bruce di seberang sana.


"Ya dia Gloria Jeconya!" jawab Dawney.


"Bodoh! Cepat bawa dia kesini! Dia pasti ada hubungannya dengan Belinda Jeconya! Model terpanas di Nederland. Aku yakin dia sangat sintal dan ranum!" balas Bruce antusias.


"Sangat tuan, apa tidak boleh aku mencicipinya terlebih dulu?"


"Setelah itu aku akan menjual organ dalammu! Bagaimana?"


"Ti ti tidak Tuan! Aku hanya bercanda!"


"Cepat bawa dia kemari! Dan ingat perketat selalu penjagaan karena dia membawa sebuah kabar yang mungkin juga dinantikan Egnor dan anak buahnya!" perintah Bruce memutuskan. Rencana Egnor mulai berhasil.


"Siap tuan!"


Dawney mematikan panggilan dan bodyguardnya juga memberitahu kalau agency yang Viena sebut benar adanya dan mereka memang sedang mengirim model mereka Gloria Jeconya ke Honolulu untuk pengalihan isu tentangnya yang ada di Nederland. Dawney pun kembali menghampiri Viena dan Richie.


"Bruce pasti menginginkannya! Kita harus berhati hati, Dawn!" ujar Richie memperingati Dawney.


"Kau terlalu banyak berpikir dan aku yakin kau menyesal karena membunuh istrimu kan? Chicken!" balas Dawney menepuk nepuk pundak Richie.


"Mengapa sekarang kau berani sekali padaku?!" decak Richie menghempaskan tangan Dawney.


"Karena aku sang kepala pemerintah, haha! Sudah kah diam dulu, kah tidak tahu Gloria Jeconya ada hubungannya dengan Belinda Jeconya, kau tahu sekarang kan dia siapa? Model terpanas di Nederland," ujar Dawney lagi dan Viena mendengarnya.


"Ehem, dia bibiku! Sudah cepat kalian bersedia membeli informasi dariku atau tidak?! Di sini panas sekali!!!!" decak Viena mengambil kipas di tasnya.


Richie mengangguk dan kini sudah cukup yakin kalau Viena bukan yang ia curigai walaupun benar keadaannya.


"Mari nona, ikut denganku, kita harus menggunakan mobil khusus," kata Dawney kemudian.


Di lain pihak ternyata Grace dari apartemennya melacak keberadaan Viena dengan sebuah chip yang sudah disembunyikan di salah satu benda yang Viena kenakan. Sementara semua pihak yang malakukan penyerangan telah menggunakan earphone berukuran sangat kecil di telinga mereka masing masing supaya Grace dapat memberitahu lokasi atau kecanggihan teknologi yang digunakan pada Markas Mansion Bruce. Egnor sedikit khawatir mengenai garis merah pendeteksi keberadaan penyusup.


"Nyonya Viena sudah bergerak menuju ke basement parkir rahasia bersama Dawney, Richie dan dua buah bodyguard. Segera ikuti mereka dengan tetap berjaga jarak. All you ready?" kata Grace mulai menyamakan signal agar perkataannya di dengar oleh mereka yang menggunakan earphone tersebut.


"Grace, Viena baik baik saja kan?" tanya Dion.


"Aku tidak tahu Tuan, yang pasti Nyonya Viena sudah bisa membawa dirinya ke markas rahasia," jawab Grace yang hanya melacak keberadaan Viena.


"Dion, tenang saja! Kau yang lebih dulu memasuki rumah itu dan menjaga Viena!" saut Egnor berusaha tenang.


"Awas ya kak, mungkin aku juga akan menghabisimu kalau sampai Viena tersentuh sedikitpun!" ancam Dion sangat cemas.


"Iya, kau berisik sekali! Frank, jalan!" perintah Egnor.


...


yuk yuk lanjut di bawah go away!!

__ADS_1


jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN part ini yaa 😁


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2