
Meski orang tersebut yang ingin sekali dilupakan dan tidak mau memikirkannya, tapi jika sudah mengatakan kata cinta apalagi sudah bersatu dalam perasaan abstrak dengan sejuta arti itu maka akan sulit menemukan kata penolakan. Walau mengatakan menolak namun dalam hati membutuhkan. Begitulah permainan cinta yang tak ada habisnya. Sampai ada pemeran pengganti yang harus di atas sebelumnya barulah semua akan berakhir walau tidak mudah melepasnya. Sampai kapanpun hanya Egnor yang ada di hati Claudia di butuhkan sampai kapanpun, lalu bagaimana Egnor menyikapi ini semua?
Satu satunya yang ingin dilupakan
Satu satunya yang tidak ingin dimaafkan
Tetapi
Satu satunya juga yang selalu ada di hati.
...
"Kak Egnor!" Pekik Claudia membuka matanya.
Sinar matahari telah menyeruak masuk memenuhi kamar yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk seorang ibu hamil. Claudia menyipitkan matanya dan tangannya menghalau sinar mentari yang sudah lumayan terik itu. Dia masih berbaring dan mencari jam dinding. Dia menoleh ke kanan dan mendapati sebuah jam dinding berbentuk kotak yang agak kuno tapi masih bekerja memberitahukan waktu.
"Sudah pukul 8 pagi, mengapa Nyonya Emily tidak membangunkanku?" Gumam Claudia mulai mendirikan dirinya masih di atas ranjang dan memegang kepalanya.
"Haiz, karna terlalu lama tertidur, kepalaku agak pening. Hem, mengapa rasanya aku tidur sangat nyenyak. Seperti dalam pelukan Kak Egnor. Rasanya sangat hangat dan aku tidak merasakan kedinginan. Pasti karna selimut tebal ini. Kak Egnor pasti sudah kembali ke Honolulu. Dia kan bos besar, pasti sudah banyak klien yang mencarinya. Kau jangan terlalu berharap terlalu banyak pada si Tuan balok es itu, Clau. Pekerjaannya lebih penting ketimbang dirimu . Kau itu hanya berbanding 25 dan 75. Kau 25 nya, itu pun bisa kurang. Ah sudahlah. Sebaiknya aku bangun membersihkan diri dan membeli bunga di pasar dekat sini. Aku harus menghias bingkai foto bibi." Kata Claudia lagi dan dia mulai beranjak dengan perlahan. Dia menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ketika sekitar 15 menit Claudia keluar dari kamar dan mendapati Nyonya Emily sedang membersihkan meja makan yang sepertinya banyak orang yang makan di sana.
"Em, ada yang bisa kubantu, Nyonya? Sepertinya ada tamu pagi pagi sekali." Kata Claudia menggeser kursi meja makan untuk ia duduki.
"Ya, para pekerja yang kupanggil mengurusi kedaimu. Hari ini mereka sudah memasang penerangan dan penghangat ruangan di dalam." Kata Emily tersenyum ramah.
"Hah? Aku tidak menyuruh Nyonya, mengapa jadi merepotkan mu? Em, kalau begitu nanti katakan berapa yang harus ku bayar ." Kata Claudia merasa tidak enak.
"Tenang saja. Ini juga merupakan bentuk menghormati mendiang bibimu , Nyonya Siren." Saut Emily masih dalam senyumnya.
"Terimakasih atas perhatian mu Nyonya." Ucap Claudia tersenyum tipis.
"Jangan lupa, kalian pernah meminjamkan kami modal disaat perusahaan suamiku mengalami kebakaran." Emily mengingatkan kebaikan Claudia dan Siren.
"Itu hanya modal yang kecil nyonya." Balas Claudia tidak ingin mempermasalahkan utang Budi.
"Dari situ kami mengembangkannya Clau. Em, sudah tidak usah membahasnya. Aku tulus hendak menghormati bibimu. Ini, makanlah, sup jagung." Kata Emily menyodorkan semangkuk kecil bubur jagung.
Claudia melihat sup jagung itu dan seketika teringat suaminya. Dia terdiam dan hatinya bergetar. Dia mengusap pelan perutnya dan memegang sisi mangkuk kecil itu.
"Ada apa Clau? Kau teringat sesuatu?" tanya Emily memancing. sebenarnya Egnor yang meminta Emily membuatkan Claudia bubur jagung.
Claudia hanya mengangguk dan mulai menyeruput bubur jagungnya dengan pelan sambil menahan tangis yang hendak meleleh.
"Aku tidak perlu ikut campur. Makanlah. Aku mau memasukan pakaian kotor ke mesin cuci. Eng, kalau kau ingin ke kedai dulu atau langsung ke pasar silahkan saja Clau, hati hati ya." kata Emily menuju ke belakang rumahnya.
"Ya Nyonya." Tutur Claudia pelan dan menghabiskan semua sup jagungnya. Tangisnya tak dapat terbendung. Air matanya pun menetes. Betapa dia merindukan lelaki itu. Lelaki dengan wajah paling datar namun memiliki senyum terindah yang menampilkan lesung pipinya.
Claudia mengusap air matanya setelah habis sup jagung itu. Dia pun bersiap hendak ke kedai terlebih dahulu melihat perbaikan yang dikatakan Emily setelah itu dia bisa berjalan pelan sambil berolah raga menuju ke pasar bunga dekat daerah sini. Dia tidak perlu naik taxi.
Claudia pun keluar dari rumah Emily dan menuju ke kedainya. Namun, langkahnya berhenti ketika di pintu samping kedai itu. Dadanya sesak dan tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Di sana, di samping pintu itu. Di kursi kayu yang memang di letakan di samping pintu itu. Hem, Egnor sedang duduk di sana. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya. Semalam dia mengawasi Claudia sampai benar benar sangat nyaman dan hangat. Dia tidak tertidur. Dia memang sudah menunggu Claudia sejak pagi tadi pukul 6 dan melihat lihat perbaikan kedai. Ketika semua sudah selesai dia malah tertidur. Dengan sweater v-neck abu abu dan celana jeans casual membuatnya begitu tampan dan sangat manis bagi istrinya itu.
Kembali Claudia meneteskan air matanya. Ya, dia akui, suaminya tidak bisa dianggap enteng . Hanya gertakan disertai tangisannya tidak akan membuatnya benar benar kembali ke Honolulu. Claudia juga memang merasa kalau suaminya tidak akan membiarkannya.
Cepat cepat Claudia menghapus air matanya, dia tidak boleh terlihat. Lebih baik dia membeli bunga saja dulu. Mungkin saja suaminya bosan menunggu dan pergi. Claudia pun berbalik dan akhirnya menjauh dari kedainya. Sesekali dia menoleh ke belakang. Dia memastikan suaminya tidak menyadarinya. Namun, baru sebentar saja Claudia berjalan beberapa langkah, dia merasa ada sosok di sebrang sana yang berjalan berdampingan dengannya. Claudia menoleh, di sana Egnor. Suaminya sudah terbangun dan berjalan mengikutinya. Claudia menghentikan langkahnya. Dia terdiam menatap Egnor di sana yang juga tak lama berhenti. Dia menaruh kedua tangannya melingkar di belakang tubuhnya dan menoleh ke arah Claudia menyunggingkan senyum kesukaan istrinya.
"Kenapa kau belum pulang?" tanya Claudia dari tempatnya.
"Aku ingin menghormati mendiang bibi mertuaku, belum tujuh hari." jawab Egnor santai dan meraih kaca mata hitam di saku celananya lalu mengenakannya.
"Kau menungguku!" selidik Claudia mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Tidak! Kau percaya diri sekali!" decak Egnor namun sambil tersenyum.
"Kenapa sekarang mengikutiku!" Claudia makin dibuat kesal.
"Aku ingin membeli bunga untuk rangkaian fotonya. Kau mau kemana?" Egnor malah bertanya kembali seperti mereka baru saja berkenalan.
"Aahhh, menyebalkan!" Dengus Claudia dan dia kembali berjalan. Egnor tersenyum. Dia kembali mengikuti istrinya yang benar benar masih sebal dengannya padahal tadi malam tangannya dipegang sangat erat sampai memerah ketika pagi hari.
Egnor sesekali memperhatikan istrinya yang tanpa riasan saja begitu cantik dan sangat natural. Sementara Claudia tidak menoleh ya meski hatinya meronta malah ingin menggandeng lengan kekar terbalut sweater lengan panjang itu. Sampai akhirnya mereka harus menyebrangi jalan besar sehingga sampai ke pasar tersebut. Egnor berlari kecil ke arahnya. Dia sudah ada di samping Claudia. Claudia tidak mempedulikannya tetap melihat ke kanan dan ke kiri. Dia hendak menyebrang namun agak sedikit cemas karna banyak truk besar dan bus yang melintas bukan mobil mobil kecil biasa. Selain itu jalan besar ini cukup lebar.
Egnor mengulurkan tangannya agar istrinya menggandengnya. Claudia bahkan tidak melihatnya.
"Hanya membantu ibu hamil tidak ada maksud lain. Anak kita tidak tahu apa apa mengenai persilisihan kita. Sini tanganmu!" pinta Egnor tersenyum.
"Sampai seberang sana dan kita harus berpisah!" protes Claudia tetapi mengikuti permintaan suaminya.
Egnor mengangguk dan menggandeng tangan istrinya. Namun ketika menyeberang, bukannya hanya menggandeng, tapi Egnor juga merangkul istrinya agar tetap terjaga dan Claudia sungguh merasakan penjagaan ini. Sesaat dia menghirup aroma tubuh suaminya. Sepertinya semalam dia juga merasakannya. Apa jangan jangan pikirnya. Claudia mendongakan sedikit kepalanya menatap Egnor. Egnor menyadarinya ketika sampai di seberang.
"Em honey, aku tidak masalah jika terus merangkulmu ke dalam pasar ini. Kita bisa memilih bunga bersama." Kata Egnor menyadarkan istrinya yang terkesima alamnya.
"Tidak! Kau ke sana saja, aku ke sini, bye!" Claudia menghempaskan tubuh suaminya yang bahkan tidak terjadi perubahan sampai dirinya yang menjauh. Claudia pun berjalan ke arah kanan dan meninggalkan Egnor yang masih berdiri memperhatikan kepergian istrinya. Pengacara hebat itu masih terdiam mengantungkan tangan nya di saku celananya.
Egnor tentu tidak ke arah yang Claudia perintahkan, dia tetap mengikuti istrinya. Namun ketika Claudia menoleh ke belakang memastikan dirinya, Egnor pura pura melihat bunga di toko toko sekitarnya atau berbalik ke belakang. Claudia jadi sebal dan tidak fokus memilih bunganya. Dia tahu, suaminya sedang menggodanya. Dia jadi mempercepat memilih bunga pada satu toko saja. Namun karna terlalu gegabah karna salah tingkah dengan suaminya, Claudia tidak melihat ada batu yang membuat jalannya tak seimbang. Dia hendak terjatuh namun Egnor sudah menahannya dari belakang.
"Be careful honey." Kata Egnor lembut dan tersenyum. seketika jantung Claudia berdebar. entah bagaimana perasaannya seperti suaminya sedang melakukan pendekatan padanya padahal sekarang dia masih sangat kesal.
"Demi Tuhan, Nyonya, aku sudah takut kau akan jatuh, untung saja Tuan tampan ini menahanmu, kalau tidak, kandunganmu." decak pemilik kedai bunga yang menghambur keluar karna melihat Claudia yang hendak terjatuh.
"Aku suaminya Nyonya." kata Egnor kemudian.
"Kau serius? Nyonya, benar ini suamimu?" pemilik kedai itu memastikan pada Claudia.
"Hemm.." jawab Claudia melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan sedikit sebal.
"Emm, tunggu sebentar, mengapa aku tidak asing dengan wajahmu Tuan?" selidik si pemilik kedai itu. dia memperhatikan wajah Egnor matang matang.
"Dia Egnor Jovanca!" Jawab Claudia dengan nada sebal sambil memukul dada suaminya. Egnor lalu menahan tangan Claudia agar terus menempel di dadanya. Egnor pun membuka kaca mata hitamnya. Dia lalu melirik menggoda istrinya. Claudia bergidik dan di daerah antara kakinya berdenyut.
'Oh Lord! Hormon ini sungguh menyiksa ku dengan si pengacara tengik ini terus menggodaku! Rasanya aku ingin membuka sweater abu abunya ini! Sial!' pekik Claudia dalam hatinya yang benar benar tak tahan.
"Aiya iya iya pantas saja aku pernah melihatnya di majalah Forbes dan beberapa berita di televisi. Kau pengacara terkenal dari Honolulu itu kan?" nyonya kedai bunga itu sudah sangat yakin ketika akhirnya Egnor sudah membuka kaca mata hitamnya.
Egnor hanya tersenyum. Sejatinya dia tidak pernah mengatakan dirinya terkenal bahkan dia tidak tahu kalau dirinya tereskpos. Dan sebenarnya Egnor agak risih dengan media dalam bentuk apapun jadi dia pura pura tidak tahu jika ada media atau jurnalis yang tidak sengaja meliput kliennya. Jika ada sebuah wawancara, Egnor meminta di dalam ruangan privasi yang nanti saja di edit. Dia tidak mau terlalu terbuka.
"Aku anggap itu sebagai pengakuan. Karna kalian sudah jauh jauh kemari, sebaiknya aku mengambil gambar kalian agar orang orang tahu kalau seorang pengacara terkenal dan istrinya pernah kesini. Ayolah Tuan, sekali ini saja bantu aku. " Kata si nyonya pemilik kedai bunga itu. Dia menggiring Claudia berdiri tepat di tengah kedainya bersama Egnor di sampingnya. Claudia masih mengerutkan wajahnya. Sementara Egnor sudah merangkulnya. Claudia agak sedikit meronta namun Egnor tetap merengkuh pinggangnya.
"Dia akan mengambil gambar kita sayang, diamlah!" Bisik Egnor sedikit mencuri kecupan pada pangkal kepala Claudia.
"Kau memanfaatkan keadaan!" Dengus Claudia membuat Egnor tidak memegangnya terlalu kuat.
"Diam, perhatikan kamera itu atau aku akan menggendongmu saat ini juga kembali ke kedai rotimu dan melakukan olahraga yang sudah tertunda!" Bisik Egnor menyeringai.
Claudia tertegun dengan kata kata menggoda yang membuat dirinya panas seketika. Libido nya naik dan ya, dia ingin melakukan olahraga itu. Claudia akhirnya menggigit bibir bawahnya membayangkan adegan percintaan itu dan saat itulah nyonya pemilik kedai bunga itu malah mengambil gambar mereka dengan Egnor memandang Claudia.
Mereka pun kembali ke kedai. Claudia akhirnya sudah membiarkan Egnor berjalan di sampingnya namun Claudia tetap diam. Dia juga menundukan kepalanya sementara Egnor juga terdiam. Dia tidak mau menganggu Claudia sehingga istrinya itu menjadi marah kembali padanya. Egnor hanya ingin dekat dan mengetahui apa yang terjadi pada Claudia sampai Claudia memaafkannya dan bersikap seperti sebelum kejadian semua ini.
Sesampainya di depan kedai, Egnor terdiam. Claudia mengira suaminya akan mengikutinya terus sampai dalam kedai. Dia juga berhenti dan setengah menoleh ke arah Egnor.
"Mengapa diam?" Akhirnya Claudia menanyainya.
"Aku sampai sini saja. Aku bisa menunggumu di sini, kalau kau membutuhkanku atau juga mungkin memaafkanku cari saja aku di luar. Aku akan selalu menunggumu Clau sama seperti belasan tahun yang lalu. Walau kau meninggalkanku, disitulah aku juga akan menunggumu karna hanya kau pemilik hati dan pemicu detak jantungku, honey!" Kata Egnor pelan dan mendalam.
__ADS_1
Kini malah Claudia yang merasa bersalah. Dia tidak sepenuhnya tidak menginginkan suaminya. Dia malah ingin sekali dan kata kata suaminya malah meluluhkan hatinya. Em, sepertinya secangkir teh hangat atau kopi untuk suaminya tidak apa sebagai ucapan terimakasih karna sudah membantunya menyebrang jalan bahkan menyelamatkannya dari jatuh tadi.
"Em kak, apa kau mau secangkir teh atau kopi di dalam? Aku bisa membuatkannya." Ajak Claudia akhirnya.
Egnor sudah tahu, semua yang ia lakukan tidak akan sia sia. Dia pun sudah yakin kalau dia akan masuk ke kedai ini hanya berdua dengan istrinya. Egnor pun tersenyum dan mengangguk pasti.
Egnor pun memasuki kedai tersebut. Tadi pagi dia ingin masuk setelah Frank dan Grace sudah mengawasi orang yang memperbaiki penerangan serta memasang mesin penghangat namun Emily sudah memanggilnya untuk sarapan sebelum Claudia bangun.
Kedai tersebut terbuat dari kayu dan juga lantainya terbuat dari kayu yang dilapisi cat anti rayap sehingga masih licin dan bagus. Interior yang ada di kedai ini semuanya sangta klasik. Semua terbuat dari kayu namun berkualitas. seperti rumah rumah bergaya Jepang atau Japanis, Egnor merasakan ketenangan dan seperti di villa atau rumah sederhana pedesaan yang begitu nyaman dan homie. Egnor menjadi mengantuk dan sepertinya dia bisa tidur sebentar. Claudia memang sudah mengantarnya ke sebuah kamar yang dulu adalah kamarnya. Sementara dirinya memasak air dan membuatkan minuman untuk suaminya itu.
Sekitar lima belas menit, Claudia selesai membuatkan minuman suaminya. Dia lalu menuju ke kamar yang Egnor tempati. Claudia meneguk salivanya. Suaminya tertidur di sana berbaring di bawah sana tanpa menggunakan alas. Claudia sudah menaruh secangkir kopi tersebut di meja pendek yang ada di dekat Egnor.
Ada perasaan Claudia ingin memperhatikan wajah suaminya yang sangat ia rindukan . Dia sudah berada di samping Egnor. Dia memandang wajah tampan dan mulus suaminya. Hidung mancung, alis sedikit tebal, matanya yang dapat berubah sedingin es dan selembut kapas. Bibirnya agak tebal dan Claudia tersenyum karna dirinya yang membuat bibir bawah suaminya kini agak membesar. Claudia memang menyukai bibir bawah suaminya karna sangat menggemaskan. Dia terus menelusuri wajah suaminya sampai rasanya ingin mengelusnya sebentar. Claudia mengulurkan tangannya di samping pipi Egnor. Pelan pelan dia hendak memegang agar Egnor tidak bangun dan menyadari bawah dirinya sangat merindukannya .
Claudia pun menyentuh wajah suaminya.
"I Miss you, sir." Gumam Claudia pelan. Hormonnya ternyata mengalir lebih cepat diluar dugaan. Sekarang Dia malah hendak memegang dada bidang suaminya. Dia pun memberanikan diri untuk menyentuhnya. Terasa detak jantungnya yang sangat membuatnya semakin bergairah dan ingin melakukan hal lebih seperti mungkin mengecupi dada suaminya itu. Namun seketika Claudia tersadar. Dia hendak menarik tangannya dan beranjak namun ..
Egnor menahan tangannya. Claudia terkejut hampir terjatuh ke belakang namun Egnor malah menariknya masuk dalam pelukannya dengan sangat perlahan mengingat kandungan sang istri..
"Sepertinya kita memang membutuhkan olahraga ringan , honey." Kata Egnor tersenyum menggoda yang kini sudah memegang lembut pinggang Claudia dan mulai menjalar ke bagian sensitif istrinya.
...
...
...
...
...
ringan bat kek nya bang 😝😝
.
next part 11
dah dah baean balik balik ke Honolulu dahh
sayang sayangan lah bentar wakakka bentar ..
jadi, apakah Claudia sudah memaafkan suaminya dan kembali ke Honolulu 😍😍
.
rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:
-- TETAPLAH BERSAMAKU --
by Bernadeth Sacitha
dijamin nostalgia abiiss 😍😍
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤