Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 89: Fact


__ADS_3

Setiap perjalanan hidup yang menghasilkan sebuah kebanggaan, keberhasilan dan kejayaan yang luar biasa justru akan menimbulkan sebuah kecemburuan sosial. Merasa kurang dan ingin menjadi lebih dari segalanya. Sebisa mungkin Egnor keluar dari lingkaran itu semua. Menjadi baik bagi semua orang tanpa membuat sebuah kebencian namun mengapa ada saja yang berpikiran yang tidak tidak. Kapan Egnor akan menyadari semua ini? Dan bagaimana dia juga bisa melindungi keluarga sampai anak dan istrinya? Meski dalam setiap kelebihan, sejatinya Egnor hanyalah seorang manusia yang membutuhkan cinta. Cinta yang setia dari sang istri, Claudia Jovanca membuat dirinya semakin melangkah lebih baik. Mampukah mereka bertahan dan saling melengkapi satu sama lain?


...


Egnor pulang ke apartemennya tepat pukul enam sore. Dia memasuki sendiri apartemennya karna takut menganggu istrinya yang mungkin sedang tidur. Dia mencari cari sesaat aunty nya yang dipastikan masih menunggunya.


"Selamat sore menjelang malam sayang, kau sudah pulang?" Anne memberi salam. Anne berada di dapur sedang menyiapkan makan malam. Dia tidak membiarkan Claudia memasak karna seharian ini Claudia kembali memuntahkan apapun yang ia konsumsi dalam jumlah banyak


"Sore Aunty. Kau sedang memasak apa?" Egnor kembali menyapa kembali.


"Istrimu ingin bubur daging sapi. Kau juga suka kan?" Anne masih mengaduk bubur tersebut.


"Ah iya aunty! Em, di mana dia?" Tanya Egnor kemudian.


"Dia di kamar. Ketika aku datang, dia lagi lagi muntah Egnor. Coba kau temui dia." Anne memberitahu.


"Mengapa dia tidak memberitahuku?" Selidik Egnor sudah membuka jas nya dan meletakannya di sisi kursi makan.


"Katanya kau sibuk. Tapi sepertinya sekarang sudah baikan." jawab Anne.


"Aku akan kamar dulu."


Egnor pun menuju ke kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya yang ternyata menemukan Claudia sedang menyulam sesuatu yang kecil di tangan tangannya. Claudia langsung menoleh ketika melihat suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


"Sayang? Kau sudah pulang?" ujar Claudia sedikit melirik suaminya.


"Ya, kata Aunty Anne kau kembali muntah? Apa ingin ke rumah sakit?" kata Egnor sedikit cemas.


"Tidak perlu! Aku sudah baikan. Itu biasa sayang, aku kan mengandung anak kembar." Claudia tersenyum kecil sambil terus melanjutkan sulamannya.


"Lain kali beritahuku jika kau mengalami masalah Clau." pinta Egnor mengeluarkan kunci ponsel pada saku celananya.


"Ini bukan masalah sayang. Em lihatlah apa yang ku buat?" Claudia menunjukan pekerjaannya. Egnor pun terus mendekatinya dan duduk di sampingnya setelah mengecup kening istrinya.


"Apa yang kau buat sayang? Di mana kau mendapat peralatan sulam ini?" tanya Egnor melepas dasinya.


"Aku mempunyai nya. Kau tidak tahu saja." jawab Claudia sekenanya.


"Oh, jadi apa yang kau buat?" tanya Egnor lagi.


"Sepatu bayi! Lucu kan?" jawab Claudia dengan wajah manjanya.


"Kenapa merah muda dan abu abu? Bukan kah anak kita laki laki?"


"Ini gabungan, kita belum mengetahui anak kita yang satunya kan?"


"Kau ingin dia perempuan?"


"Entah aku tak yakin, karna waktu kapan aku pernah bermimpi aku membuat roti yang disaksikan oleh dua anak laki laki. Aku yakin mereka anak anak ku."


"Ya, bisa saja." Egnor pun memeluk istrinya dari belakang. Sesaat Claudia merasa suaminya begitu merindukannya. Dia setengah menoleh menatap Egnor dan menghentikan kegiatan menyulamnya.


"Ada apa? Mengapa kau seperti sangat merindukanku? Seharusnya aku yang merindukanmu." tanya Claudia mengharap kata kata manis suaminya.


"Aku ingin memuaskan diriku memelukmu seperti ini agar tidak terlalu merindukanmu." jawab Egnor menghirup aroma piyama dress yang istrinya kenakan.


"Kenapa? Setiap hari kita bertemu bahkan tidur bersama dan apa apa bersama." selidik Claudia memastikan.


"Eng, Minggu depan aku harus pergi ke Nederland sayang." kata Egnor kini menatap serius istrinya. Sesaat Claudia terkejut, mengapa suaminya ingin kesana. Negara itu sangat jauh.


"Hah? Nederland? Itu sangat jauh kak, lebih jauh dari Japanis!" celetuk Claudia menghentikan sulamannya.


"Ya memang."


"Untuk apa ke sana? Apa aku bisa ikut?" pinta Claudia. Sepertinya dia tidak bisa berjauhan dengan suaminya, apalagi saat dia hamil seperti ini.


"Aku harus menghadiri acara perayaan pendelegasian para advokat, honey." jawab Egnor masih menenggerkan kepalanya di pundak Claudia.


"Uuu, bukannya kau ketua mereka semua itu?" Claudia sedikit mengingat.


"Kau mengetahuinya?" Egnor agak terkejut kalau Claudia mengetahui jabatan yang sudah di emban tiga tahun belakangan ini.


"Kau lupa siapa asistenmu kemarin?" decak Claudia sedikit melebarkan matanya.


"Ah iya! Sekarang dia sudah menjadi istri tercintaku dan mengandung anak anak ku!" Egnor tersenyum sambil kini mengelusi perut istrinya.


"Jadi kau harus pergi ya? Aku tidak bisa ikut?" tanya Claudia menunduk sambil mengusap sisi belakang tangan suaminya yang mengelus perutnya.


"Aku hanya satu minggu. Bukan aku tidak mau mengajakmu, tapi kau sedang seperti ini sayang. Frank bersih kukuh mengharuskan aku ikut karna di sana ada seperti pemberian dedikasi terbaik. Sementara Frank tidak bisa mewakili, jadi dia tidak ikut, dia ingin menjaga Grace." jawab Egnor berusaha memberi pengertian pada istrinya.


"Dia takut Grace keguguran lagi kak." Claudia memperjelas.


"Benar! Dan aku juga tidak mau kau mengalami itu. Aku akan menaiki kapal pesiar. Hal ini tidak begitu baik untuk anak kita sayang. Dan kau pasti akan mabuk laut. Aku yakin itu." tambah Egnor lagi kembali memberi pengertian pada istrinya. Dia harus memikirkan semuanya.


"Hemm, baiklah! Tapi benar hanya satu minggu?"


"Ya, hanya satu Minggu."


"Baiklah! Kau jangan macam macam ya dan kak apa kau tidak mengingat sesuatu?" Claudia mencoba bertanya pada suaminya mana tahu mengetahui ulang tahunnya.


"Mengingat apa?" selidik Egnor yang awalnya benar tidak tahu apa maksud istrinya.


"Sebuah peringatan?" Claudia memberi kode dan Egnor menyadari namun sepertinya dia harus berpura pura.


"Peringatan apa? Hari buruh? Hari natal masih 6 bulan lagi. Peringatan apa Clau?" Egnor malah bertanya kembali.


"Ah sudahlah lupakan saja! Tidak penting juga! Em sebaiknya kau membersihkan diri, aku sudah lapar!" Dengus Claudia sedikit sebal karna menurutnya suaminya tidak mengingat hari ulang tahunnya. Mungkin karna kemarin telah lama berpisah. Dia pun berdiri menuju ke lemari hendak menyiapkan pakaian suaminya.


"Mengapa kau jadi cemburut? Tidak melanjutkan menyulam lagi?" Tanya Egnor tersenyum.


"Entah mengapa aku jadi tidak berselera! Ini pakaianmu dan cepat ke meja makan aku lapar!" Dengus Claudia lagi memberikan satu set piyama Egnor dan keluar dari kamar. Egnor tersenyum melihat gelagat istrinya. Dia tahu apa yang hendak istrinya katakan namun sedikit gengsi.


Setelah Egnor membersihkan dirinya, dia mendapatkan pesan dari Gabriel. Gabriel mengirimkan rekaman CCTV 5 hari terakhir dan laporan mengenai siapa saja yang mengunjungi Ron Keanu.


"Tuan Egnor, ada beberapa orang yang mengunjungi Ron secara rutin diantaranya kakak sepupunya, kakak kandungnya, adiknya, pamannya dan keponakannya serta satu temannya. Namun satu temannya ini yang sering mengunjunginya dan selalu berbicara sangat pelan pada Ron. Dia berkunjung setiap tiga hari sekali. Aku sudah mengirim gambar gambar kunjungannya serta beberapa video mereka. Tapi adiknya juga sering terlihat berbicara pelan pelan seperti temannya ini Tuan. Aku begitu mencurigai kedua orang ini seperti ingin mengecoh para penjaga keamanan." Kata Gabriel pada tayangan video call. Egnor masih mengangguk.

__ADS_1


Dia pun keluar dari kamar sembari bergabung dengan Anne dan istrinya. Namun tak lama Anne ijin kembali karna kakaknya yang tak lain ayah Egnor menjemputnya. Kini Egnor hanya bersama Claudia. Claudia ikut mendengarkan karna sepertinya kasusnya sangat serius. Egnor masih terdiam sambil juga melihat email pada tab nya.


"Em Gabe! Kau masih di sana?" Egnor memastikan.


"Ya Tuan! Mytha baru saja membuatkan ku makan malam."


"Baik! Besok aku harus bertemu dengan Tuan Reinder Cornwell. Frank sudah mengaturnya. Tetapi aku menugaskan padamu untuk membawa Ron juga ikut bersama ku menemui Reinder. Lisa juga akan di sana. Kau bawa Ron dengan penjagaan kepala polisi Dave, Bertho dan Joe!" perintah Egnor.


"Bertho?"


"Ya kau katakan saja pada Joe. Aku mau Bertho jangan anak buahnya!" pinta Egnor lagi.


"Ya Tuan!"


"Oke! Selanjutnya kau hubungi Moses, suruh dia menghubungi Detektif Kyle untuk mengintai pengunjung yang sering mengunjungi Ron juga adiknya. Sampai sini mengerti?" Egnor memastikan agar tidak terjadi miss communication.


"Iya Tuan."


"Oke, jalankan! Besok pukul 11 bertemu dengan Reinder Cornwell!"


"Baik Tuan, selamat malam!"


"Selamat malam!"


Panggilan dimatikan. Egnor menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. Claudia yang tadinya cemberut karna mendengar kasus kasus ini menjadi harus mengerti suaminya. Dia menuju ke belakang Egnor dan memijat pelan pundaknya.


"Santai saja Egnor ku! Jangan terlalu menggebu gebu! Aku yakin kau pasti bisa menuntaskan semua ini!" Tutur Claudia dengan lembut dan mesra.


Egnor tidak menjawab. Dia malah mendongakan kepalanya menatap istrinya sambil mengusap usap ujung kepalanya ke ujung perut istrinya.


"Hemm, aku sangat bergairah jika kau memanggilku Egnor sayang! Kemarilah!" Egnor menarik tangan Claudia untuk duduk di pangkuannya.


"Sebelum aku pergi ke Nederland, kita harus memeriksakan kandunganmu dulu agar aku tidak terlalu cemas." kata Egnor mengecupi leher istrinya.


"Siap Tuan pengacara cintaku!" saut Claudia memain mainkan rambut tebal suaminya.


"Hemm, apa malam ini kita bisa melakukannya?" Tanya Egnor yang kini sambil mengecupi perut istrinya.


"Kau merindukan anakmu?"


Egnor mengangguk


"Lakukan apa yang kau inginkan tapi sekarang mari kita makan?" kata Claudia lagi.


"Ya, aku juga sudah sangat lapar." Egnor mendongak meminta kecupan pada istrinya. Claudia menciumnya lalu beranjak untuk menyiapkan makan malam mereka.


...


Keesokannya Egnor, Frank dan Lisa sudah berada di rumah sakit pusat kota. Kebetulan sekali Lisa ada praktek di rumah sakit ini sekalian memantau pamannya. Kata Lisa, kondisi pamannya semakin memburuk. Dia sulit untuk makan dan suhu tubuhnya kadang menghangat. Egnor dan Frank segera melihatnya. Lisa masih tidak mau melihat wajah tersangka yang membunuh ayahnya. Padahal belum tentu adik dari ayahnya itu yang membunuh.


"Lisa, come with us!" ajak Egnor karna melihat Lisa diam saja di depan ruang perawatan.


"No! I don't want to see someone who killed my dad!" Jawab Lisa melipat kedua tangannya di depan dadanya acuh terhadap ajakan Egnor ke dalam ruang perawatan pamannya.


"Perawat itu yang mengatakannya!" saut Lisa acuh.


"Baiklah misi selesai! Aku tidak akan menyelidikinya lagi, bagaimana?" tantang Egnor lagi.


"Argh Egnor! Mengapa kau selalu seperti ini?!" decak Lisa tak suka dengan sifat Egnor yang menggampangkan semuanya.


"This is fact!" gumam Egnor.


"oke oke! Aku ke dalam!"


Egnor, Frank dan Lisa pun memasuki ruang perawatan Reinder. Dia sedang tertidur namun ketika mereka semua masuk, Reinder terbangun. Dia melihat Lisa seperti merasa bersalah namun kedua matanya mengisyaratkan hendak mengatakan sesuatu. Egnor langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya. Reinder berusaha untuk berbaring namun seperti duduk dan Frank membantunya. Kondisinya memang membut dirinya lemah.


"Tuan Reinder Cornwell, perkenalkan saya Egnor Jovanca dan ini Frank Leonard. Kami berdua pengacara yang menangani kasus pembunuhan kakak anda di mana anda sebagai tersangka." Egnor mengenalkan diri dan menjelaskan maksud tujuannya datang.


Seketika Reinder mendengar pembunuhan kakaknya menjadi mengerutkan wajahnya dan ingin menangis. Dia tidak bisa berkata kata. Dia meringkup dan menutup kedua telinganya. Kecurigaan Egnor hampir terkuak.


"Frank, di mana Gabriel, Bertho dan Joe yang membawa ayah tirimu?" tanya Egnor.


"Sebentar lagi tiba Tuan. Sudah keluar tol."


"Oke! Em Lisa, apa kau belum pernah mengobservasi nya? Atau aku ingin tahu apa hasil pemeriksaannya terakhir kalinya?" tanya Egnor mulai menyelidiki.


"Dia hanya shock sehingga muncul beberapa penyakit yang telah di deritanya." jawab Lisa agak tidak enak dengan keadaan seperti ini. dia mengingat ayahnya.


"Apa kau mau membantuku untuk secepatnya menyelesaikan kecurigaan, kesalahpahaman dan masalah ini?" tanya Egnor menatap tajam Lisa.


"Katakan!"


"Tolong kau dekati dia dan perhatikan wajahnya serta gestur perubahan mimiknya. Apa kau tidak kau mencurigai dia sedang memendam sesuatu? Mungkin dia mengkonsumsi sesuatu yang membuat seluruh kondisinya seperti ini? Kau seorang dokter kan? Tolong kau periksa sebentar saja!" kata Egnor mulai masuk pada apa yang ia ingin ketahui.


Lisa meneguk salivanya. Dia memang langsung percaya dengan tuduhan pada pamannya namun dia tidak pernah berpikir sampai ke sana karna memamg pamannya sering berdebat dengan ayahnya.


"Nona? Kau pasti bisa, sebentar saja!" Frank meyakinkan. Lisa akhirnya menyetujuinya. Perlahan dia mendekati Reinder. Reinder masih meringkup dan kini menutup wajahnya dengan tangannya.


"Uncle!" Panggil Lisa pelan. Reinder seperti tidak menyangka kalau Lisa mau memanggilnya. Dia langsung menatap Lisa. Dia kembali menegakan tubuhnya namun masih tetap berbaring. Dia mengulurkan tangannya hendak memegang wajah Lisa. Lisa menatap Egnor dan Egnor mengangguk bermaksud agar Lisa menyetujui jika pamannya hendak memegang wajahnya.


Lisa terdiam. Telapak tangan Reinder telah sampai pada pipi Lisa. Lisa pun menatap matanya tampak berkaca kaca seperti bersedih.


"Uncle, apa kau yang membunuh kakakmu sendiri hah? Jawab!" Seketika Lisa menjadi emosi dan bertanya pada Reinder secara frontal. Reinder tersentak dan menggelengkan kepalanya. Dia melepas tangannya pada pipi Lisa.


"Jawab Uncle! Jawab!!!!" Lisa masih bertanya sambil menghentak hentakan lengan pamannya. Reinder kembali menggeleng dan akhirnya kembali meringkup lagi seperti orang ketakutan.


"Tenang Nona Lisa, beliau butuh waktu, tenang!" Frank berusaha menenangkan Lisa dan Egnor memperhatikan semua ini. Ya, memang ada yang sangat mengganjal. Menurut instingnya , Reinder bukanlah pembunuhnya.


"Sudahlah! Egnor aku sudah tidak tahan, terserahmu, kau mau mengurusnya atau tidak! Sial!" Decak Lisa menghempaskan tangan Frank dan keluar dari ruangan.


"Frank, ini pengalihan isu! Aku yakin, bukan Tuan Reinder pelakunya. Mungkin perawat itu pembunuhnya namun dalangnya bukan Tuan Reinder. Penggunaan Tuan Reinder sebagai tersangka hanya untuk menghilangkan jejak jejak dalang yang sebenarnya!" Kata Egnor dan Frank telah merekam apa yang menjadi analisa tuannya. Frank pun menyetujui nya.


Tak lama kemudian Ron datang dengan tangan di borgol di belakang dan digiring oleh Bertho dan satu kepala kepolisian. Terpancar aura wajah Ron yang sangat dingin dan kaku. Dia menatap sinis Frank dengan kebencian dan Frank pun juga menatapnya dengan sangat tajam.


"Tuan, maaf kami terlambat." Kata Gabriel.

__ADS_1


"Its oke! Cepat Bertho, Polisi Dave, dudukan Ron di samping Tuan Reinder!" Perintah Egnor. Mereka segera menjalankan.


Egnor lalu menganggukan kepalanya pada Joe. Joe segera menghampiri tuannya. Egnor membisikan sesuatu pada Joe sesuatu sehingga dia langsung berjalan di samping Bertho yang masih menjaga Ron dari belakang. Joe mengarahkan pistol kecil yang selalu ia bawa di saku celananya pada dahi Ron. Ron masih dalam posisi was was dan acuh.


"Tuan Ron Keanu! Aku tidak akan segan segan menyuruh bodyguard ku menekan pelatuk pistolnya jika kau tidak berkata jujur. Sekarang kau harus perhatikan seorang paruh baya di depan mu!" perintah Egnor di awal.


"Perhatikan! Tatap!" Bertho memastikan dengan menekan kepala Ron untuk menatap Reinder.


"Katakan padaku! Apa ada seseorang yang mencekok dirinya sebuah obat yang membuat kondisinya menjadi parah sehingga dia berada dalam kondisi yang sangat frustasi kearah depresi? Katakan!" tanya Egnor dengan tegas.


Ron diam. Dia tidak mau memberitahu. Ron tahu apa yang diinginkan Egnor. Tapi jika dia mati di sini, dia tidak akan bisa melarikan diri dan membalaskan dendam nya pada Egnor dan Frank.


'Sial! Aku terjebak! Baiklah, aku akan mengalah lagi setelah itu aku akan langsung keluar dari penjara sial itu!' gumam Ron dalam hati.


"Joe .. kau tahu cara menggunakan pistol kan?" Kata Egnor santai. Dia sudah duduk di sebuah sofa single dan bersandar di sana bak bos besar .


Joe sudah siap menarik sisi atas pistolnya untuk memasukan peluru sehingga langsung tertancap pada sasaran ketika pelatuknya ia tekan. Ron meneguk salivanya.


"Oke! Kau terus terdiam dan ini sangat membuang buang waktu! Kau sangat salah berurusan dengan ku, Ron Keanu! Tiga!" Egnor mulai menghitung mundur.


"Cepat katakan pecundang!" Bertho menggertak.


"Frank lanjutkan! Kau pasti akan tenang menyaksikan kematian orang yang juga membunuh ayahmu kan?" Egnor memancing emosi Ron.


"Dua!" Frank lansung melanjutkan hitungan mundur tuannya.


Ron masih terdiam menatap sinis Reinder yang masih dalam kekalutan.


"Baiklah Joe jalankna tugasmu!" Kata Egnor berdiri dan Joe hendak menekan pelatuk pistolnya tapi ..


"Iya! Seseorang memberikan dirinya obat penurun daya tahan tubuh sehingga dia seperti memiliki sebuah kesalahan terbesar dan menjadi hilang gairah hidup karna selalu merasa bersalah. Observasi medis akan mengatakan dirinya depresi dan penyakit penyakit yang sebelum dideritanya menjadi kambuh." Akhirnya Ron mengatakannya. Sebenarnya dia tidak tahu masalah ini.


Yang dia tahu hanya adiknya dan temannya menjanjikan pembebasan paksa terhadap dirinya. Dia bahkan tidak mengenal Bruce Barton dan Egnor telah bertindak cepat sebelum semuanya terjadi.


"Heng!" Egnor tersenyum keji. Dia lalu berbalik dan menganggukan kepalanya pada Frank. Frank pun menghampiri tuannya. Egnor kembali membisikan sesuatu pada Frank. Frank lalu mengangguk dan keluar dari ruang perawatan sementara Egnor masih menatap Ron yang napasnya telah tersenggal.


"Bertho, Polisi Dave, segara bawa kembali Tuan Ron Keanu ilmuwan handal ini seturut yang dikatakan Frank nanti. Joe awasi!" Perintah Egnor kemudian dan mereka segera pergi dari ruangan ini.


Egnor kembali menghampiri Reinder. Dia mencoba menatap pria paruh baya ini.


"Tuan Reinder, secepatnya kau akan sembuh! Tenang saja, Tuhan dan aku bersamamu! Gabe berikan rekaman pembicaraan Ron tadi pada Lisa dan cabut tuntutan Tuan Reinder sebagai tersangka. Dia tidak bersalah." kata Egnor juga pada Gabriel.


"Baik Tuan!"


"Dan persiapkan dirimu, kau dan Joe ikut denganku ke Nederland." kata Egnor lagi berdiri dan berhadapan dengan Gabriel.


"Ah, kau serius Tuan?" Gabriel memastikan pasalnya dia baru saja bekerja dan hanya tamatan sarjana hukum.


"Ya, Frank tidak bisa ikut, jadi kau yang menggantikannya." balas Egnor .


"Siap Tuan! Suatu kehormatan bagiku!" Gabriel membungkukan tubuhnya. Egnor tersenyum tipis menanggapi kesiapan asisten barunya ini.


Egnor dan Gabriel keluar dari rumah sakit karna Frank sudah lebih dulu pergi mengurusi yang dibutuhkan Egnor. Di tengah perjalanan, Claudia menghubungi dirinya.


"Ya Clau?" Egnor mengangkat panggilan.


"Apa kau bisa pulang sekarang?" tanya Claudia sedikit terbata.


"Ada apa?"


"Entah lah, aku hanya rindu." jawab Claudia apa adanya.


"Ini baru saja pukul 1 siang, honey." saut Egnor ingin menggoda.


"Ya sudah kalau tidak bisa, bye!"


Claudia mematikan panggilan dan Egnor tersenyum. Egnor tahu kalau istrinya memikirkan dirinya yang akan pergi ke Nederland mengingat pagi tadi tiba tiba Claudia bangun pagi dan menangis.


"Gabe, ke apartemenku!"


"Siap Tuan!"


...


...


...


...


...


mo kerja babang, Clau, biaya skola mahal nanti wkwkwkwk 😂😂 #authorcurhat


.


next part 16


ultah Claudia kita yuk


diundang smua diundang kok


😍😍


staytune ya ..


.


pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2