Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 97: Eyes, Nose, Lips


__ADS_3

Mengapa rasanya seperti membunuh diri pelan pelan ketika mengetahui orang yang kita sayangi sudah tidak ada lagi di samping kita? Meninggalkan dunia dengan meninggalkan ke negri orang adalah sesuatu yang sangat berbeda. Tidak perlu dijelaskan pasti sudah tahu. Dunia ini sempit, jangan mengatakan selamat tinggal jika masih ada di dunia ini. Kapanpun itu ketika bumi berputar ada saatnya kembali bertemu. Tapi bagaimana dengan meninggalkan dunia? Cara satu satunya ya mengikuti orang yang meninggalkan dunia ini. Dengan rasa yang percuma ada di dunia ini, Claudia sudah tidak tahu apa yang ia harus lakukan. Lalu apa dia akan merelakan Egnor yang jika dinyatakan pergi?


...


"Bangunlah! Jangan menangis terus seperti ini! Kau ini Claudia atau apa? Seharusnya kau bangun pukul 3 atau 4 pagi lalu menyiapkan semua keperluanku atau kau memasak sampai kau lelah sendiri. Selidiki apa yang bisa kau selidiki! Jangan menyusahkan dirimu! Sekarang, bangunlah!" Suara pria itu kembali menggema di alam sadar Claudia.


Dia membuka matanya. Dalam hatinya sudah memanggil nama suaminya. Dia menoleh ke samping dan melihat Viena tidur sambil memeluk nya. Claudia berusaha bangun untuk duduk tetapi rasanya kepalanya begitu sakit. Dia melenguh memegang dahinya.


Semalam, ya semalam ketika mendapatkan karangan bunga duka cita itu dia kembali mengamuk. Claudia menangis tanpa henti dan terus merutuki Richard. Lisa datang untuk memberikan obat penenang dan vitamin karna Viena tidak bisa menangani Claudia jika mengamuk histeris seperti ini. Viena menceritakan semuanya dan Lisa berusaha mendalaminya. Dia juga langsung bertanya pada Richard. Richard mengatakan mana sempat dirinya memesan karangan bunga sementara dirinya juga membantu Frank dan menenangkan Mytha. Entah bagaimana Richard menjadi sangat dekat dengan Mytha. Lisa akan membantu Claudia menyelidiki samuanya bersama Grace. Grace juga sudah memberitahu Frank dan Frank berfirasat sesuatu yang juga sudah dicurigai tuannya.


Claudia memutuskan untuk berendam. Dia beranjak dari tempat tidurnya meskipun kepala dan raganya begitu lemah. Dia memegang perut nya, mengelusnya sesaat dan menuju ke dapur terlebih dahulu.


Dengan mata yang sayu dan tangan tangan yang semakin mengering, dia membuat susu. Tak ayal senyum seorang pengacara yang menjadi kesukaannya seperti berada di depan wajahnya. Claudia juga menarik senyum kecut. Dia membawa susunya ke meja makan.


Sebuah tendangan kecil ia rasakan pada sisi sisi perutnya yang kian membuncit.


"Ada apa twins? Kau merindukan Dad mu? Bagaimana dengan ku? Ya, seharusnya dia mengelusi perutku. Mengelusi kalian. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya twins. Mom sangat merindukan tangan kekar itu yang selalu melingkar di perut ku. Melingkar untuk menjaga kalian sayang." Satu tetes air mata lagi jatuh. Ini adalah kesulitan yang terdalam dalam hidup Claudia. Claudia akui. Egnor yang membawa semua perasaan dunia padanya tetapi dia juga yang kini pergi entah bagaimana caranya.


Setiap hari wanita hamil itu memandangi pintu berharap suaminya langsung masuk tanpa aba aba. Datang ke arahnya dan mengecupi pipi, bibir sampai lehernya. Claudia memejamkan matanya. Ketika mata terpejam munculah sosok itu. Dari matanya, hidung dan bibirnya saja Claudia merindukan setiap belai dan sentuhannya. Claudia kembali membuka matanya. Dia mencari notebooknya. Dia kembali menulis disana.


"Entah hari yang keberapa kau pergi aku tidak tahu dan AKU TIDAK MAU TAHU! yang aku tahu kau berbohong padaku! Kau pergi sudah lebih dari 7 hari. Kau bedebah kak! Aku tidak akan memaafkanmu lagi! Meski kau merayuku dengan senyuman indah mu, tidak! Aku tidak mau lagi terbuai walaupun pada akhirnya ya, hatiku tetap lunglai. Jiwaku meronta untuk merasakan apa yang selanjutkan akan kau lakukan padaku. Aku mau kau memanjakan tubuhku kak. Aku ingin. Aku mau kita bersatu. Aku merindukanmu. Kau yang membuatku merasakan semua ini jauh lebih dalam lagi. Apa kau pernah merasa kalau ciuman pertama kita itu adalah ciuman pertamaku. Dari awal sampai sekarang, semua yang ku punya hanya untukmu kak tapi sekarang kau dimana? Semua ini melebihi kata menyiksa! Jangan salahkan aku jika aku tidak membiarkanmu pergi! Aku tidak peduli ini egois atau rasa memiliki yang keterlaluan! Aku benci padamu, benar benar mencintaimu kak!!!!!!! Huhuhuhuu ...." Tutur Claudia menaruh kasar pena nya dan menyandarkan dahinya di atas meja, ia menunduk. Claudia kembali menangis dengan sangat tersedu bahkan mengeluarkan suara yang cukup memilukan.


Tak lama dia kembali menegak habis susunya lalu menuju ke kamar mandir. Dia masih menangis dan Viena tidak mendengar. Hem, Viena juga tampak lelah mengurusi kakak iparnya itu. Menurutnya lebih sulit daripada mengurus Darren. Kakak iparnya sedang mengandung bayi kembar dan tidak seharusnya Viena marah.


Claudia menyalakan air hangat dan mengisi air di bath tub. Claudia duduk di sisi bath up dan membuka perlahan seluruh pakaiannya. Dia kembali memegang perutnya sambil sedikit memutar mutarnya. Seketika bayang bayang itu muncul di penglihatan Claudia. Egnor sering melakukan ini dan sudah berapa kali mereka menyatukan cintanya di dalam bath up dengan ada atau tidaknya air. Lelehan air mata telah menghiasi pipi Claudia.


Claudia membenamkan dirinya di rendaman itu. Dia sudah terlalu kalut dan lupa menaruh aroma therapy yang biasa ia lakukan. Dia segera menutup matanya dan membayangkan suaminya. Membayangkan Egnor yang mengelus setiap jengka kulitnya. Memainkan titik titip sensitifnya. Dan meskipun hanya dengan tatapan matanya, Claudia menjadi bergairah. Belum lagi ketika hidung si pengacara itu mengendusi lehernya, Claudia merasa menjadi wanita pemilik tubuh terindah karena suaminya itu sungguh memperlakukannya dengan sentuhan yang sempurna. Apalagi ketika bibir Egnor mulai menggerayangi bibirnya.


"Aahh .. " tanpa sadar Claudia melenguh memegang bibir juga daerah kewanitaannya.


Claudia tidak membuka matanya. Dia terus membayangkan Egnor tetapi tetap kesedihan dan rasa rindunya begitu dalam. Dia menangis dalam pejaman matanya. Hatinya yang kini sangat rapuh melebihi kertas yang telah dibakar. Sedikit penyesalan tersirat ketika malam itu Claudia malah tidur dan tidak menunggu panggilan dari suaminya. Dia menyesal dan kembali menangis terus menerus sambil memukul mukul air.


"Aku benar benar tidak tahu, aku minta maaf kak, aku minta maaf tolong kembalilah. Pulang lah dan bergabung berendam bersamaku kak!" Pekik Claudia tak peduli berapa tetes air mata yang sudah ia keluarkan ini tercampur bersama rendaman air hangat ini.


Cluadia akhrnya tertidur. Entah tertidur atau tak sadarkan diri.


"Egnor, Egnor, Egnor .." tak ada kata lain. Bibirnya terus berucap seperti ini. Matanya terpejam, kedua tangannya keluar dari sisi bath up.


Sekitar satu jam kemudian Viena terbangun. Dia tidak menemukan kakak iparnya dimana mana sampai dia merasa kamar mandi dengan lampu menyala. Untung saja Claudia tidak mengunci pintunya. Viena benar benar terkejut menyaksikan Claudia berbaring di dalam rendaman air dengan mata terpejam. Viena mencoba membangunkannya dan tidak ada jawaban. Viena segera menghubungi suaminya yang berada di apartemen Frank juga Lisa agar segera memeriksa Claudia. Viena membuka penutup bath up dan mengeringkan tubuh Claudia. Dia juga berusaha memakaikan jubah handuk padanya sebelum Dion datang dan memindahkannya ke tempat tidur.


Claudia masih tak sadarkan diri sampai Lisa datang. Sesekali Claudia mengigau menyebut nama suaminya juga dahinya berkeringat cukup peluh. Lisa merasa ada yang aneh dengan kandungan Claudia karna bukan hanya Claudia demam, tetapi Lisa kurang merasakan detak jantung kedua janin tersebut.

__ADS_1


"Viena, Claudia harus dilarikan ke rumah sakit. Dia butuh penanganan khusus karna aku merasa kondisi Claudia sudah mempengaruhi kedua bayinya." Kata Lisa memberitahu dengan wajah yang sangat serius.


"Ya ya lakukan saja yang terbaik, Lisa." Ujar Viena menatap cemas Claudia.


Lisa mengangguk dan segera menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap. Viena dan Dion membawa Claudia ke rumah sakit juga bersama Grace sementara Frank harus ke kantor. Entah mengapa sejak kecelakaan ini, banyak klien yang memutuskan kerja sama begitu saja. Dan banyak rumor kalau gedung eg. Lawyer akan tutup dan bangkrut. Hal ini membuat Frank bingung bagaimana cara mengatasinya. Sementara kabar korban jiwa masih berdatangan sekitar 1-2 jiwa dinyatakan tewas setiap harinya. Pencarian ini agak lama karena hujan deras terus terjadi dan tidak menutup kemungkinan badai menderu laut Atlantis dan sekitarnya.


"Frank masih ada beberapa pulau yang belum di selidiki keberadaannya. Seluruh tim SAR sudah mencari sampai ke dasar laut dan sepertinya sudah tidak menemukan korban lagi." Moses memberi informasi pada Frank dengan terus berjalan berdampingan.


"Apa kau berfirasat Tuan Egnor, Gabe dan Joe terdampar sampai ke sana?" selidik Frank.


"Iya Frank. Seperti pulau Endles, pulau Lewi dan Nikara. Namun belum ada yang sampai kesana. Pulau tersebut sangat kecil dan begitu terpencil. Aku hanya curiga karna ombak selalu pasang tidak menutup kemungkinan mereka tersebar kan jika keluar dari kapal?" jawab Moses menurut analisanya.


"Benar! Baiklah cepat arahkan tim SAR kesana. Sebelumnya kita harus mengadakan konferensi pers terlebih dahulu. Semua rumor ini sungguh tidak masuk akal. Ada oknum yang hendak menjatuhkan kantor pengacara kita." Frank mengingatkan pada Moses.


"Nanti pukul 3 sore konferensi pers kantor mahkamah agung Frank. Aku sudah persiapkan bersama Foster." Moses menyetujui dengan memberitahu jadwal yang sudah ia atur.


Seketika Frank menghentikan langkahnya. Dia agak mencurigai pegawai baru yang direkomendasikan dari pemerintah itu. Dia begitu memuja Egnor dan sering mencari perhatian pada tuannya itu. Tapi Frank mengesampingkan kecurigaannya karena Egnor tidak mengatakan apa apa. Tapi sejak dia datang, mengapa jadi banyak masalah dan beberapa hal terbongkar dengan sangat lumrah seperti kematian Jack juga pelarian diri Nicolas.


"Moses, kau harus berhati hati dengannya. Aku sangat mencurigai dia ada dibalik semua masalah ini termasuk kesalahan laporan cuaca badan klimatologi." Tutur Frank kemudian sedikit berbisik.


"Benar Frank. Aku juga mencurigainya. Baiklah kita harus menyewa badan pengawas lebih banyak lagi." Moses mengangguk angguk.


Frank mengangguk juga dan mereka kembali berjalan menuju ke ruangan Egnor. Benar saja kecurigaan Frank dan Moses terhadap Foster. Baru saja Frank membuka pintu ruangan Egnor, dia menemukan Foster sedang mencari cari sesuatu di nakas meja kerja Egnor.


"Apa yang kau lakukan Foster!" teriak Frank sangat geram.


Tidak ada jawaban dari dalam.


"Kau yakin itu Foster, Frank?" Tanya Moses karna dirinya di belakang Frank.


"Foster! Jawab!" Frank kembali berteriak.


Masih tidak ada jawaban.


"Mungkin dia melarikan diri Frank? Biar kubuka." Moses hendak membuka tapi Frank menahannya.


"Tunggu! Sementara kita menjauh saja dulu. Dia memegang senjata Moses. Kita kembali ke ruangan ku dulu dan memeriksa rekaman CCTV nya."


Moses mengangguk. Mereka berdua berbalik dan menuju ke ruangan Frank. Frank kesal bukan main karna sistem cctv sudah dimatikan.


"Panggil Foster menghadap sekarang Moses!" perintah Frank dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Oke Frank!"


Namun ketika Moses mencari Foster di ruangannya, dia tidak ada. Moses juga menghubungi pihak pemerintah. Kata ketenaga kerjaan pihak pemerintah yang sering merekomendasi tenang kerja tidak ada yang bernama Foster. Moses menjadi sangat kesal dan penuh penyesalan mengapa dirinya juga pihak HRD kantor pengacara ini begitu lalai. Dia memberi tahu pada Frank. Frank segera menghubungi Detektif Kyle untuk mencari keberadaan Foster. Moses yang memberi semua data yang mereka punya dari Foster.


Sementara Foster sudah melarikan diri ke tuannya. Dia melaporkan apa yang terjadi dan untuk sementara harus menghentikan aksinya .


"Jadi kau sudah pastikan surat otentik itu tidak ada?" tanya tuannya dengan penuh emosi.


"Tidak ada Tuan! Aku sudah mencarinya di meja kerja Grace, Gabe sampai nakas Egnor yang terkunci." jawab Foster menundukan kepalanya. Dia sudah melakukan kesalahan.


"Sial! Sekarang kau hubungi David, suruh dia menyusup ke rumah dan kantor pribadi Gonzaga. Dia pasti memiliki salinannya. Jangan gagal lagi! Kalau identitas kalian ketahuan lagi , aku akan mengembalikanmu pada Tuan Bruce dan kau tahu apa hukumannya kan?!" gertak tuannya.


"I i iya Tuan aku tidak akan lalai lagi. Aku akan segera menghubungi David." ujar Foster berbalik hendak menghubungi David.


"Heng Frank, tidak salah Egnor sangat mempercayaimu! Pelan pelan tunggu saja ajalmu!" Tutur pria itu dengan senyum kecutnya.


...


...


...


...


...


perketat penjagaan woy!


.


next part 98


semoga Egnor ada di antara ketiga pulau itu ya atau apa yang akan terjadi dengan Egnor, Gabe dan Joe?


lalu bagaimana keadaan Mimi Clau?


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2