
Claudia terbangun tepat pukul 6 pagi. Ini hari sabtu, Egnor tidak harus ke kantor. Claudia tersadar kalau dirinya tertidur di pelukan Egnor. Egnor memeluknya sangat erat sementara kepalanya ia berada di atas dada suaminya. Claudia mendongakan kepalanya melihat wajah suaminya. Dia tersenyum. Apakah Egnor sudah tidak marah lagi dengannya? Apakah ini mungkin karna mereka tidak sadar, sehingga mereka berpelukan seperti ini?
Kenyataannya, semalam Egnor melakukannya dengan penekanan yang membuat sekujur Claudia sangat sakit. Walau Claudia menyukainya, dia merasa harus melakukan sesuatu agar suaminya menghargainya. Dia harus menguji suaminya kalau suaminya masih mencintainya sangat dan mendalam serta melupakan masa lalunya.
Claudia menarik diri dari pelukan Egnor. Egnor tampak pulas jadi dia tidak menyadari pergerakan Claudia yang bangun saat itu. Claudia membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah itu dia menuju ke dapur. Dia menyiapkan sup jagung untuk suaminya. Setelah semuanya beres dia pergi meninggalkan apartemen itu. Claudia sempat mengecup kening Egnor.
Selang satu jam kemudian Egnor terbangun dan tidak menemukan istrinya di sampingnya. Egnor berpikir mungkin sudah bangun dan ada di luar kamar. Dia pun segera membersihkan dirinya.
Egnor keluar kamar dan mencari cari istrinya tanpa memanggilnya. Aroma sup jagung yang begitu harum dengan campuran susu dan vanilla membuat Egnor sedikit lupa mencari istrinya. Dia terlalu lapar dan tidak tahan menyantap sup jagung kesukaannya tersebut.
"Hem, istriku memang yang terbaik. Masakannya selalu enak. Aku memang harus membuatnya satu restoran untuknya. Ah, tapi aku masih kesal dengannya. Sekarang saja, dimana dia?!" Gumam Egnor ditengah tengah sarapan pagi nya sambil terus menerka nerka keberadaan istrinya.
Setelah beberapa jam Egnor menunggu, Claudia juga tak kunjung kembali. Egnor bahkan sudah membaca semua isi surat kabar langganannya. Dia juga sudah menonton tayangan debat politik namun sampai waktu jam makan siang Claudia tak kunjung pulang. Egnor agak sedikit malu jika dia menghubungi istrinya dan menanyakan dimana padahal sudah sepantasnya dia bertanya.
"Argh! Kemana dia sih? Dia sengaja ya? Aku yang kesal dan marah padanya, kenapa dia yang menghilang? Sial! Dia pasti masih ada di kota ini aku yakin!" Sungut Egnor berdiri menolak pinggangnya.
Dia lalu menghubungi Grace. Dia menyuruh sekertarisnya itu melacak keberadaan istrinya.
"Kalian bertengkar lagi? Tuan, Tuan Richard sudah menjadi bekas suaminya, sekarang yang menjadi suaminya adalah dirimu. Jangan sampai Tuan Richard yang kembali mendapatkannya Tuan!" Saut Grace di sebrang sana pada sambungan telepon.
"Diam kau! Claudia tetap milikku dan akan terus seperti itu selamanya! Sekarang kau cari dia dan katakan padaku!" Perintah Egnor mengalihkan pikirannya tentang Richard.
"Em, mengapa tidak Tuan saja yang menanyakan keberadaannya? Kau menghubunginya dan selesai?" Jawab Grace sedikit menggoda tuannya karna ia mengerti, Egnor pasti sangat menjaga image nya.
"Aku menyuruhmu cepat! Kau mau bonus akhir tahun atau tidak?!" Ancam Egnor.
"Ish! Baiklah!" Dengus Grace.
Grace pun menuruti perintah tuannya. Tak berapa lama Grace kembali menghubungi Egnor.
"Tuan, kau tidak salah makan sesuatu atau matamu tidak rabun kan? Benar Claudia tidak ada di sekitarmu?" Kata Grace sedikit bingung.
"Memangnya?" Selidik Egnor menuju ke kamar dan benar!
"Ponselnya ada di apartemen kalian!" Teriak Grace sudah agak kesal. Dia merasa tuannya mempermainkannya.
"Ooohh Noo!!!! Pasti dia sengaja meninggalkannya. Baiklah bye!" Egnor menutup panggilan.
Egnor bingung. Sekarang dia benar benar tidak tahu keberadaan istrinya. Claudia tidak membawa ponselnya entah lupa atau sengaja. Kini Egnor berpikir, dimana dia bisa menemukan istrinya. Sejenak dia berpikir mengenai kata kata Grace yanh sangat sangat benar. Jangan sampai Richard kembali memiliki istrinya. Dia harus lebih ketat menjaga dan mengukuhkan Claudia.
"Ke apartemen Richard?! Bodoh! Tidak mungkin, Claudia tidak mungkin menyerahkan diri seperti itu, aku juga tidak akan kesana jika benar wanita itu di sana. Tapi kalau dia memintaku menjemput pasti aku kesana. Tapi argh pemikiran tak masuk akal! Aku juga tidak mungkin menghubungi Richard! Tidak akan pernah terjadi!" Decak Egnor menerka nerka. Dia berpikir lagi.
"Ke pasar? Ya ya pasti Claudia pergi ke pasar swalayan dekat dekat sini! Aku harus menyusulnya!" Kata Egnor lagi meraih kunci mobilnya dan hendak ke pasar swalayan terdekat. Namun, ketika dia membuka pintu ada seseorang seperti pengantar makanan.
"Permisi Tuan, apa anda Tuan Egnor?" Sang pengantar makan memberi salam.
"Ya, kau siapa?" Tanya Egnor dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Aku jasa pengantar makanan. Aku mengantar makanan dari Nyonya Claudia untuk Tuan Egnor suaminya. Untuk makan siang katanya. Ini kartu untuk anda, dan ini tolong tanda tangani sebagi bukti penerimaan." Kata sang pengantar memberikan bungkus makanan pada Egnor lalu sebuah kartu ucapan dan catatan untuk Egnor tanda tangan.
Setelah pengantar itu pergi, Egnor ke meja makan dan membuka bungkusan itu. Apa apaan ini pikir Egnor. Dia pun membaca kartu ucapan tersebut.
*Makan lah kak, ini makan siangmu! Kau bisa mencariku kalau kau merasa kehilanganku, tapi jika tidak atau kau masih kesal padaku, tidak usah memikirkanku lagi. Tenang saja, aku akan tetap memasakan makan pagi, siang dan malammu. Kau sudah berjanji untuk memakan semua masakanku, jadi tidak usah memakan punya Kate lagi. Aku cemburu! Nantikan makan malam mu ya? Sampai jumpa jika kau menemukanku! I love you somuch! Nyonya Claudia Step. Jovanca, akan begitu seterusnya!*
"Sial! Dia ingin bermain teka teki padaku! Baiklah, aku tidak akan merasa kehilangan dirinya! Tidak akan! Sebelum dia datangpun, aku sendiri!" Decak Egnor yang cukup kesal namun sedikit gemas dengan tingkah istrinya. Dia menekuk wajahnya sambil menyantap makan siang yang Claudia kirimkan. Sepertinya Egnor tahu, dimana istrinya berada. Nanti saja dia akan menjemputnya.
"Claudia Claudia! Sekali kau berada dalam genggamanku, kau tidak bisa kemana mana! Sekalipun aku tidak mencari atau menjemputmu, kau akan kembali padaku! Tunggu saja, sore nanti dia akan pulang!" Gumam Egnor merebahkan dirinya di atas sofa. Dia lalu tertidur setelah terus tersenyum membayangkan Claudia akan pulang dan mengecupi keningnya.
Ternyata setelah dia tertidur sampai sore, Egnor bangun sendiri. Dia membuka matanya dan apartemennya tampak gelap. Hari sudah sore. Claudia belum juga kembali.
"Sial! Claudia! Kau lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu! Berani beraninya dia membuat ku seperti ini!" Decak Egnor beranjak dari tidurnya dan mengusap wajahnya kasar. Sejatinya dia merasa kehilangan dan merindukan Claudia. Ini hari sabtu, akhir minggu. Seharusnya dia menghabiskan waktu nya berdua bersama istrinya. Namun, karna menjunjung tinggi harga dirinya, dia malah merasa kesepian lagi.
Dia lalu meraih kunci mobilnya dan menuju ke tempat yang pasti Claudia kunjungi. Egnor benar benar tidak memikirkannya sejak tadi. Dia hanya memikirkan kesukaan kesukaan Claudia saja.
Sekitar 1 jam dia tiba di tempat itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah apatemen lama Claudia ketika pertama kali. Claudia sempat mengatakan pada Frank kalau apartemen lamanya jangan diberikan pada siapapun. Biarlah itu menjadi apartemen pribadinya, tuturnya.
Egnor menuju ke kamar apartemen Claudia. Pintunya tidak terkunci.
"Ceroboh!" Umpat Egnor. Dia segera menyeruak masuk namun tidak ada Claudia.
"Claudia?" Akhirnya Egnor memanggil namanya. Claudia tidak ada dimanapun tapi tas dan kunci mobilnya berada di meja ruang tamu. Claudia pergi membawa mobil yang ia berikan. Egnor tersenyum. Istrinya benar benar masih ingin bersamanya. Dia lalu mencari keberadaan di kamar itu tapi tidak ada. Dia pun mencari disekitar apartemen tersebut. Egnor sampai harus menuruni apartemem tersebut. Dia hendak ke basement menghampiri mobil Claudia. Namun, ketika dia hendak berjalan, dia melihat ada sosok wanita berdiri di atas balkon lantai paling atas apartemen tersebut.
"CLAUDIA!!!" Panggil Egnor yang sangat mengenali perawakan istrinya meski jauh atau tinggi sekalipun.
"Kak? Kau datang? Tapi sepertinya kau sudah tidak membutuhkanku, jadi sebaiknya aku pergi saja ya?" Teriak Claudia membuat Egnor berpikir Claudia akan bunuh diri dengan jatuh dari atas sana.
"Claudia! Tunggu aku atau aku juga akan ikut bersamu! Diam kau di sana!!!" Teriak Egnor lagi dan dengan cepat dia berlari menaiki lantai lantai apartemen itu menuju ke lantai atas balkon.
Hari semakin sore dan tampak matahari akan terbenam. Egnor terus berlari. Dia benar benar takut kalau benar Claudia akan melompat dari lantai sana. Meskipun lantai apartemen hanya terdapat 10 lantai, namun itu tetaplah tinggi. Egnor tidak memikirkan napasnya yang tersenggal bercampur dengan kepanikannya. Dia terus menuju ke lantai atas. Dan sampailah di sana. Claudia masih berdiri di sana.
"Diam disana! Aku akan ikut menjatuhkan diri juga jika kau melakukannya!" Kata Egnor dengan napasnya yang tak beraturan. Claudia tersenyum di sana. Dia tahu, suaminya pasti akan merasa kehilangan dirinya dan mencarinya.
Egnor berjalan cepat menghampiri istrinya. Claudia makin senang menggodanya. Namun, karna Claudia terlalu senang dan dia juga mau menghampiri suaminya, dia malah sedikit terpeleset dan benar benar hendak terjatuh ke bawah. Egnor dengan cepat berlari dan menahan tangan Claudia. Dia pun menarik tubuh Claudia masuk ke dalam pelukannya. Karna Claudia menaiki pagar balkon tersebut jadi tubuh Claudia berada sedikit di atas Egnor sehingga bibirnya langsung mengarah pada bibir Egnor. Mereka pun berciuman di atas balkon tersebut. Egnor melingkarkan tangannya mendekap erat pinggang Claudia dan Claudia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Egnor meneruskan ciumannya karna sangat merindukan istrinya. Begitu juga dengan Claudia. Dia memang yakin kalau suaminya pasti menemukannya dan benar masih mecintainya.
Mereka berciuman bersamaan dengan terbenamnya matahari dan turunlah hujan rintik membahasai balkon tersebut. Egnor pun menarik dirinya dan menatap istrinya. Claudia tersenyum sedikit menggoda.
"Kau merasa kehilanganku?
Egnor hanya mengangguk dan menempelkan dahinya pada dahi Claudia. Dia tampak tersipu dan Claudia jadi sedikit gemas dengan suaminya itu.
"Gendong aku ke bawah!" Kata Claudia menggigit bibir bawahnya. Egnor menghela napas dan menuruti apa yang diinginkan istrinya. Egnor terus menatap Claudia yang terus tersenyum padanya. Sesampainya di kamar apartemen lama Claudia, Egnor menurunkannya. Claudia turun dan kembali memeluk suaminya. Egnor tak bergeming. Dia masih bingung dengan perasaannya. Tapi, dia juga merindukan istrinya. Sedetikpun dia tidak mau berpisah. Namun, rasanya dia tetap harus tegas dengan istrinya.
"Peluk aku kak! Kau ini! Kau sudah menciumku tadi!" Dengus Claudia tetap menggoda suaminya.
Akhirnya Egnor memeluk istrinya dan malah mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Mengapa kau kembali kesini Claud?" Tanya Egnor pelan.
"Karna kau tidak menginginkan aku berada di dekatmu kan?" Jawab Claudia mendongakan kepalanya.
"Aku kehilanganmu Clau, jangan seperti ini lagi. Hampir saja jantungku berhenti berdetak kalau sampai kau benar benar terjatuh!" Kata Egnor memegang wajah Claudia.
"Maaf kak."
"Kembali pulang ya? Pinta Egnor melemah. Dia benar benar harus merendahkan dirinya. Dia tidak boleh menyesal.
"Tapi jangan mendiamiku!" Pinta Claudia sedikit mengenduskan hidungnya.
"Beri aku waktu. Sebisa mungkin aku akan menerima semuanya. Kau mau kan?" Egnor meminta penawaran. Dia juga tidak boleh menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Baiklah, karna aku mencintaimu kak. Aku hanya ingin bersamamu. Kuharap kau tidak meragukan ku lagi, oke?" Saut Claudia tersenyum.
Egnor mengangguk dan tersenyum. Mereka kembali berciuman. Namun, Claudia tetap merasa suaminya masih ragu dan sedikit menjaga jarak dengannya. Dari mata Egnor terpancar kesedihan dan kekecewaan. Claudia sampai mengecup mata suaminya. Dia sebenarnya tahu kalau suaminya hanya ingin dirinya sepenuhnya. Claudia bertekad akan kembali mendekati dan mempertahankan hubungannya dengan Egnor. Dia ingin mendapatkan hatinya sepenuhnya lagi. Dia yakin, dirinya dan Egnor akan selalu bersama. Dia hanya ingin Egnor.
...
...
...
...
Kalem bang Eg, jangan sampai menyesal!!! 😁😁
Neng clau uda kekaburan nii maenannya 😝😝
.
Next part 47
Apakah sebentar lagi mereka akan menikah besar besaran?
Apa masih ada yang terhalang?
Stay tune gaes 😍😍
.
Mohon like dan komennya 😍😍
Rate dan vote di depan profil novel jangan lupa juga hehe
Thanks for read and i love youu 💕💕
__ADS_1