
Para kerabat Egnor dan Claudia telah memenuhi gereja. Kerabat Egnor lebih tepatnya. Mereka yang menjadi kenalan Egnor menjadi juga sangat mengenal Claudia.
Tampak sudah ada para petinggi negara dan kepala pemerintah . Ada juga Hakim Benedecit dan jaksa kenalan Egnor. Tak ketinggalan beberapa karyawan dan team pengacara serta para advokat yang sangat menghargai Egnor sebagai orang penting yang mengadakan pemberkatan suci ini. Mereka juga ingin menjadi saksi atas hari penting kerabat mereka.
Frank sudah bersiap memberi kode pada Moses jika Claudia sudah datang dan bersiap memulai jalannya pemberkatan. Egnor masih di ruang tunggu menunggu waktu yang sudah ditentukan. Johanes sudah berada di belakang kursi gereja untuk mengantar Claudia ke depan altar.
Seluruh keluarga Egnor pun tak ketinggalan. Dion yang duduk bersama Leon, Jeremy juga Rika yang ikut memegang Dior. Aunty Anne juga bersama mereka dan Grace. Grace tidak boleh terlalu banyak bergerak. Bahkan sebenarnya dia harus ada di rumah, namun mana bisa ia melewatkan hari penting sahabatnya ini. Richard juga datang bersama Kevin sementara Lisa belum terlihat kedatangannya. Samantha, Monica dan Kate pun datang.
"Kenapa kau mengajakku ke sini mom!" Dengus Kate malas.
"Diam kau! Aku menghargai Anne! Jangan berbuat ulah!" Monica yang mengetahui kekalahan Kate merasa tidak enak dengan Anne.
"Benar Kate! Biarkan Egnor bahagia bersama Claudia!" Tambah Samantha yang tidak mu berurusan lagi dengan Egnor. Sementara Richie tidak mau ikut.
Semua sudah memunuhi Gereja. Gereja kecil itu menjadi terlihat sangat besar karna seluruh kerabat menghargai Egnor dengan seluruh ketenaran dan kehabatannya di dunia Hukum dan pemerintah. Dan, Egnor pun mengijinkan Jack, paman Claudia untuk menyaksikan keponakannya namun dengan penjagaan Bertho. Jack sudah begitu menyesal dan sangat senang dengan kebesaran hati Egnor. Hal ini tidak diketahui Claudia.
Dan sampailah akhirnya Claudia, Viena dan Lexa. Di depan gereja tua dan tidak terlalu besar itu. Gereja ini merupakan tempat pelayanan Theres dan Anne jadi Egnor hanya ingin di gereja ini. Dia hendak merasakan aura wanita yang telah melahirkannya juga menyaksikan dirinya yang akan bersanding dengan satu satunya wania yang ia pilih menjadi istrinya.
Dentuman piano lagu Can't Help Falling in Love telah menggema di hampir setiap sisi gereja sampai terdengar ke luar.
"Nyonya Claudia telah tiba! Segera bersiap!" Pekik Frank kepada Moses melalui phone bluetooth. Dia bergegas menuju ke mobil putih penuh bunga itu dan membuka pintu bagian Claudia. Lexa juga sudah bersiap menggiring Claudia sedangkan Viena di dalam mobil membantu Claudia keluar.
"Viena, cubit tanganku, aku bermimpi atau tidak?!" Claudia sangat gugup.
"Tidak sama sekali kak! Kau berlebihan! Ayo cepat turun!" Viena menyuruh Claudia segera turun dan Viena membenarkan gaunnya.
"Apakah kakakmu sangat tampan?" Claudia malah bertanya untuk mengalihkan kegugupannya.
"Sangat nyonya! Kau akan terpukau!" Frank yang sudah membuka pintu dan menunggu di luar yang menjawab.
"Frank? Kau jangan menipuku, kalau dia seperti biasanya, aku tidak akan memberikanmu bonus akhir tahun!" Decak Claudia sedikit mengeluarkan kepalanya.
"Aku yakin kau akan memberinya 10 kali lipat nyonya karna aku pria saja mengakui ketampanan suami mu!" Saut Frank tersenyum lebar.
"Oh Lord! Viena sepertinya aku akan berhenti bernapas, Frank yang lelaki saja mengatakan Egnor sangat tampan." Pekik Claudia kembali memasukan tubuhnya dan bersandar pada Viena.
"Semua serba hitam karna tidak ingin kalah berbeda denganmu kak! Meski hitam dia begitu menawan dan hanya ingin terlihat tampil berbeda seperti gaun peach mu ini." Tutur Viena memberitahukan penampilan sangat formal kakaknya dengan celana, kemeja dan jas hitam serta dasi hitam metalik.
"Baiklah! Aku harus melihatnya!" Claudia menarik napas dalam dalam dan ia keluar dari mobil. Dia memicingkan matanya menatap gereja tua ini yang begitu antik dan bersejarah bagi suaminya. Ya, suaminya telah menepati janjinya.
Lexa lalu menggiring Claudia menaiki tangga tangga kecil.
"Claudia! You're amazing!" Tiba tiba sebuah suara memanggil dan memujinya. Di sana Lisa yang baru saja tiba dengan balutan long dress berwarna merah yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya yang tidak jauh berbeda dengan Claudia.
"Lisa! Thanks for coming and you look beautiful too!" balas Claudia yang satu Minggu ini mereka menjadi dekat karna Claudia mencemaskan luka Lisa yang disebabkan olehnya.
"Yes! Fighting!" bisik Lisa sambil mengepalkan tangannya.
Claudia mengangguk dan setelah Viena juga membantu memegang gaun belakang Claudia, dia memasuki gereja. Johanes sudah siap memegang tangannya. Dia sedikit melirik ke arah kanan karna merasa ada sesosok pria tua yang sangat ia kenal.
"Claudia! Selamat!" Kata pria tua itu yang adalah pamannya dan kejauhan dan terlihat jelas. Claudia mengangguk dan matanya berkaca kaca. Dia lalu melihat ke depan. Claudia tersenyum dan yakin pasti pria yang membelakanginya, yang sedang menunggunya di altar sana yang mendatangkan satu satunya keluarganya.
Ya, Egnor di atas altar sana membelakangi para kerabat dan pastinya Claudia yang kini melihatnya. Egnor sedang mempersiapkan dirinya menyambut istrinya yang pasti sangat cantik. Namun akhirnya dia setengah menoleh ketika lagu cinta itu mulai di nyanyikan mengiringi Claudia dan ayahnya menuju ke altar.
__ADS_1
Jantung Egnor kenyataannya berdebar hebat. Di sana istrinya begitu cantik. Benar dugaannya. Claudia seperti bidadari bunga mawar berwarna peach. Sementara Claudia merasakan Egnor seperti yang dikatakan Frank, sangat maskulin dan menawan. Dengan postur tubuh yang sangat manly membuat Claudia tak sabar berjalan cepat menuju ke hadapannya.
"Tenanglah Clau! Egnor selalu untukmu! Dia tidak pernah bosan menunggu dan yakin kalau kau akan kembali pada hatinya." gumam Johanes menepuk nepuk pelan tangan Claudia yang dikalungkan di lengannya.
"Sebenarnya aku tidak pantas memegang tangan mu Tuan Johanes." gumam Claudia sedikit menunduk.
"Bukan seperti itu kau memanggilku Clau!" Johanes memperingati.
"Maafkan aku dad!"
"Begitu baru pantas dan istriku pasti sangat senang karna akhirnya benar benar kau yang bersanding dengan anak pertama kami." Johanes dan Claudia saling menatap dan tersenyum.
Kelegaan melingkupi hatinya mendengar perkataan Johanes. Dia merasakan juga aura kedua orang tuanya yang menginginkan Egnor menjadi teman hidupnya. Claudia kini menatap dengan senyum dan mata yang berkilauan. Sementara Egnor di sana terus menunggu dengan wajah yang menegang.
Dan sampailah, Johanes mengantar tangan Claudia kepada tangan anaknya.
"Anakku, wanita ini yang kau pilih menjadi pendampingmu dan aku serta ibumu di surga telah merestuinya. Genggam lah tangannya dan jangan pernah melepaskannya apapun yang terjadi." Pesan Johanes menyerahkan tangan Claudia. Claudia sudah meneteskan air matanya namun ia kembali menahannya. Dia belum berani menatap Egnor secara dekat.
Egnor mengambil tangan Claudia. Hati Claudia berdesir. Kemarin, mereka pun tidak diijinkan bertemu. Kini mereka telah berhadapan namun Claudia masih menunduk. Dia terharu dengan semua ini.
"Claudia, aku merindukanmu!" Kata Egnor mulai mendongakan kepala Claudia dengan memegang dagunya perlahan menghadapkan wajah istrinya itu untuk menatapnya.
Akhirnya Claudia menatap wajah itu. Wajah yang membuatnya mabuk kepayang, wajah yang memberinya harapan dan cinta berkepanjangan. Claudia kembali menitikan air matanya.
"Jangan menangis! Aku sudah memenuhi keinginanmu! Sekarang, kita akan menikah secara resmi di hadapan Tuhan dan bagi Tuhan tidak ada yang bisa memisahkan kita." Kata Egnor lagi menghapus lembut air mata Claudia.
"Terimakasih atas semuanya kak. I love you."
Dia mendengar secara seksama segala nasihat yang sang pendeta kumandakan untuk keluarganya. Claudia sampai lagi lagi meneteskan air matanya. Dia merasakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa melingkupinya. Dia percaya meskipun tidak ada ayah dan ibunya juga bibinya, dia percaya mereka semua merasakan kebahagiaannya. Dia menautkan tangannya di depan perutnya begitu merasa syukur yang luar biasa hikmat. Sesekali Egnor memperhatikan bahwa istrinya kini sudah lega merasakan cintanya yang penuh padanya. Egnor meraih tangan Claudia agar tetap tenang dan tidak gugup.
Sampailah kepada pemberkatan kedua mempelai setelah Egnor dan Claudia saling mengungkap janji pernikahan mereka serta pemasangan cincin.
"Atas nama yang maha kuasa dan gereja Tuhan, saya sebagai utusan Bapa di surga memberkati cincin pernikahan suci ini lambang pengikat cinta kedua mempelai. Maka Tuan Egnor Victor Jovanca, kenakanlah cincin ini pada jari manis Nona Claudia Stephanie Gie dan ucapkan janji pernikah anda." Sang pendeta menyerahkan cincin yang sudah diberkati dan Egnor mengambilnya.
Claudia sudah menarik napas panjang mendengar penuturan pria yang sudah ia nantikan untum mengatakan janji ini padanya. Hampir tak percaya bahwasanya dia akan mendengar penuturan yang selama ini hanya menjadi bayang bayangnya.
Egnor meraih tangan Claudia yang sangat dingin. Dia lalu menatap mata indah istrinya terlebih dahulu agar tetap tenang. Dan seketika sekujur tubuh Claudia kembali menghangat. Egnor tersenyum.
"Di hadapan gereja Tuhan dan pendeta. Di hadapan para tamu sekalian, keluarga dan kerabat. Saya Egnor Victor Jovanca menerima dan memilih engkau Claudia Stephanie Gie menjadi istri saya dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam untung maupun malang, dalam rugi atau pun berhasil. Saya berjanji akan mencintai dan menyayangi serta mengasihi dan menghormati seumur hidup saya. Dan saya berjanji akan menjadi ayah yang bertanggung jawab dengan baik bagi anak anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kenakanlah cincin ini sebagai lambang janji dan cintaku kepadamu." Kata Egnor dan memakaikan cincin tersebut pada jari manis Claudia.
Claudia menutup mulutnya dengan tangan satunya. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya. Egnor tersenyum dan mengecup puncak tangan Claudia.
"Sekarang, Nona Claudia Stephanie Gie, kenakanlah cincin pernikahan ini pada jari manis Tuan Egnor Victor Jovanca dan ucapkan janji pernikah anda." Kata sang pendeta lagi.
Claudia mencoba tenang. Sebentar lagi dan dia bisa masuk dalam pelukan hangat kakak Egnor nya. Dia sudah sangat gugup dan kedinginan. Belum lagi perutnya yang kembali tak karuan. Ketika dia hendak meraih cincin yang akan ia kenakan ke jari Egnor, perutnya melilit dan sedikit bergejolak. Claudia segera memegangnya.
"Ssshhh.." Claudia meringis yang malah membuat Egnor dengan sigap juga memegang perut Claudia.
"Sakit lagi?" Bisik Egnor dan Claudia mengangguk namun dengan sekejap gejolak itu berdiam diri seraya merasakan kehangatan telapak tangan Egnor.
"Tidak apa apa. Aku bisa menahan." Gumam Claudia kemudia. Dia dengan segera mengambil cincin itu. Dia meraih tangan Egnor dan hendak memasangkannya.
"Di hadapan gereja Tuhan dan pendeta. Di hadapan para tamu sekalian, keluarga dan kerabat. Saya Claudia Stephanie Gie menerima dan memilih engkau Egnor Victor Jovanca menjadi suami saya dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat, dalam untung maupun malang, dalam rugi atau pun berhasil. Saya berjanji akan mencintai dan menyayangi serta mengasihi dan menghormati seumur hidup saya. Dan saya berjanji akan menjadi ibu yang bertanggung jawab dengan baik bagi anak anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kenakanlah cincin ini sebagai lambang janji dan cintaku kepadamu." Kata Claudia dan memakaikan cincin tersebut pada jari manis Egnor. Claudia menghela napas dan memegang erat tagan Egnor.
Egnor lalu kembali menautkan kedua tangannya dengan kedua tangannya menghadap ke pendeta.
__ADS_1
"Maka di hadapan Tuhan dan paras saksi serta hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan ini resmi dan sah. Atas nama Tuhan yang Maha Kasih dan penuh cinta kasih, saya menyatakan kalian sebagai pasangan suami istri. Semoga berkat Tuhan selalu melimpah di tengah tengah keluarga kalian dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh kasih. Dan demikian kalian bukan lagi dua melainkan satu dan apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Maka kalian harus bersama sampai hanya maut yang memisahkan kalian. Silahkan cium pasangan kalian." sang pendeta memberkati dan meresmikan mereka dengan tangan menengadah.
Egnor memegang kedua lengan Claudia. Mereka saling berpandangan. Claudia benar benar sangat terharu dengan semua ini. Dia merasa dia adalah wanita paling bahagia di duni ini.
"Kau sudah benar benar menjadi satu satunya di hatiku yang sangat kucintai dan tak akan kulepas Clau! You're the only one that i want!" Tutur Egnor dengan pelan namun tegas. Claudia menggeleng pelan. Egnor mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Claudia namun Claudia menahannya dengan telunjuknya.
"Sekarang, aku bukan satu satunya yang kau cintai dan kau bukan satu satunya yang aku cintai, suamiku!" ujar Claudia pelan.
Egnor sedikit terheran. Dia tidak bisa mencerna pikirannya dengan cepat saat ini karna sudah sangat bahagia atas pernikahan suci ini. Dia menaikan satu alisnya mencoba menerka apa dan siapa maksud dari perkataan istrinya.
"What do you mean, honey?" Bisik Egnor tersenyum tipis.
Claudia meraih tangan Egnor dan menempelkannya pada perutnya lalu berbisik mesra.
"I'm pregnant!"
...
...
...
...
...
aaawwwww aku merindiinggg 😁😁
mangap melankolisnya kambuhhh 😍😍
(untuk yang ga sabar liat visual Claudia dan Egnor wedding version bisa join grup chat author ku yaa)
.
next part hadiah giveaway
next part 67: TAMAT BAGIAN PERTAMA
next part 68: CERITA TERAKHIR BAGIAN PERTAMA
.
INGAT INI BARU AKAN TAMAT EGNOR CLAUDIA BAGIAN PERTAMA, selanjutnya akan ada BAGIAN KEDUA: AFTER MARRIAGE dan BAGIAN KETIGA: TWO WILL STORY
.
Jangan lupa tetap LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
Thanks for read n i love youu 💕
.
happy wedding EgClau kuu 😍😍
__ADS_1