
Keesokan paginya, Claudia dibangunkan dengan panggilan dari ponselnya. Untung saja dia langsung mendengarnya karna sudah terbiasa terbangun ketika pagi. Dia mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat pagi Nona Claudia, saya suster asisten Dokter Barley, dokter yang menangani Nyonya Siren, bibi anda." Seru seorang wanita di seberang sana.
Claudia terkesiap ketika mendengar bibi nya. Dia benar benar merasa berdosa karna hampir saja melupakan kondisi bibinya. Sekarang pamannya telah di penjara dan bibinya pasti tidak mengetahui hal ini. Dia lalu mengambil langkah keluar agar Egnor tidak terbangun atau sekedar mendengarnya.
"Iya sus, bagaimana keadaan bibi saya?" Tanya Claudia sambil memijat dahinya.
"Kondisinya cukup membaik meskipun dia masih dalam tidur nya. Em, dia terus mengigau memanggil nama anda dan nama Jack. Sepertinya itu nama suaminya. Jadi, apakah anda bisa datang ke sini? Mungkin untuk dapat kelancaran pemulihannya." Jawab asisten dokter itu memberitahukan kondisi terkini.
Oh God! Bagaimana dia bisa ke sana? Hatinya berkecamuk, baru saja dia menyelesaikan masalahnya dengan Jack dan juga dengan suaminya. Sekarang harus apa yang ia katakan. Apa memang dia harus mengatakan semuanya pada suaminya? Ya, dengan begini memang suaminya harus mengetahui titik terendah dalam hidupnya. Mengandalkan segala cara untuk mendapat materi. Entah apa lagi yang akan Egnor pikirkan tentang nya. Seharusnya dirinya memang merelakan Egnor dengan Kate. Mereka pasangan serasi. Namun, hati nya menginginkan Egnor. Dia sudah mendapatkannya sekarang .
"Nona, bagaimana?" Sang asisten kembali bertanya.
"Ah iya sus, begini, aku masih ada keperluan, aku akan mengurusnya secepatnya setelah itu aku akan kesana. Atau untuk sementara bisakah kau dekatkan ponselnya pada telinga nya? Agar aku sedikit berkata kata dengan bibi ku?" Kata Claudia mencoba memberikan alternatif lain.
"Oh iya nona itu juga ide yang bagus. Tapi saya sedang tidak bersamanya. Nanti saya akan menghubungi anda lagi." Saut asisten suster itu.
"Oh iya benar. Saya tunggu sus. Terimakasih."
"Sama sama Nona."
Panggilan terputus. Claudia terduduk lemah di kursi makan. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Hal mudah yang entah mengapa hatinya sulit mengatakan semua yang terjadi pada hidupnya selama delapan tahun berpisah dari kekasih hatinya. Dia tidak mau mengatakannya dan mengulang semua kepahitan yang ia rasakan. Dia ingin hidup tenang sekarang. Andai saja bibinya telah pulih, dia ingin menjemputnya dan membawanya ke mari. Hanya wanita paruh baya itu yang ia punya sekarang.
Tak berapa lama, Egnor sudah berada di belakangnya mengecupi lehernya. Claudia setengah menoleh mengelus wajah suaminya itu.
"Ada apa? Siapa yang menghubungimu?" Tanya Egnor masih sibuk dengan pundak belakang istrinya.
"Grace!"
Claudia menundukkan kepalanya. Mengapa ia berbohong lagi? Kini dia menyadari bagaimana posisi suaminya ketika disandingkan oleh orang yang derajatnya di atas nya. Claudia dan Egnor memang pasangan yang memiliki perjuangan dan nasib hidup yang sama. Namun dari semua perjuangan yang mereka rasakan, mereka jadi sangat menekankan arti harga diri yang sesungguhnya.
"Ada apa dengannya dan mengapa kau bersedih?" Tanya Egnor lagi yang sudah duduk di samping Claudia. Egnor tahu siapa yang menghubungi istrinya. Namun, dia mencoba untuk kembali mengikuti permainan Claudia. Egnor mencoba berpikir positif dan memahami apa yang diinginkan wanitanya. Betapa sulit untuk mengabarkan jiwa raganya untuk sementara ini. Karna siapa? Wanita ini.
"Grace baik baik saja. Aku sedih karna memikirkan bibi ku, sayang. Bagaimana jadinya jika dia mengetahui kalau suaminya lagi lagi menjualku dan sekarang dia mendekam di penjara." Gumam Claudia tak menyadari apa yang dikatakannya.
"Apa katamu? Menjual mu lagi?" Entah mengapa Egnor hanya menangkap kata menjual lagi. Apa yang sebenarnya terjadi pada si Claudia ini. Kepalanya kembali mendapatkan serangan karna istrinya ini. Egnor sudah duduk di depan Claudia.
Haiz, Claudia Claudia , apa memang kau ingin mengatakannya? Kata kata itu sungguh menjadi nya seperti wanita murahan dan sangat rendah. Ada sesuatu yang pamannya pernah lakukan pada dirinya sehingga dia bisa menjadi istri Richard.
"Tidak tidak, maksudku menjual. Ya menjual ku kemarin dengan si pemilik kasino itu ,suamiku. Kau jangan terlalu berlebihan." Claudia terkekeh kembali mengelusi pipi maskulin suaminya.
"Kau yakin? Aku tidak mau ada yang disembunyi sembunyikan lagi Clau!" Egnor menekankan.
"Tidak ada. Kau tenang saja." Claudia tersenyum tipis. Dia kembali menautkan tangannya bersedih. Dia kembali memikirkan bibirnya.
"Jadi, kau merindukan bibirmu?" Egnor kembali bertanya dengan kelembutannya memegang dagu Claudia.
__ADS_1
"Iya sayang. Aku memimpikannya tadi malam."
"Kau ingin ke Oriental?" Egnor menawarkan dan perasaan Claudia membuncah senang namun dengan begini Egnor dapat mengetahui bagaimana keadaan bibinya yang sejatinya Egnor sudah mengetahuinya.
"Tidak tidak, mungkin nanti aku akan menghubunginya." Claudia menolak dengan halus.
"Kau yakin? Aku tidak suka jika kau bersedih, diam dan ada yang ditutup tutupi sayang! Aku sudah mengatakannya padamu. Jangan sampai ada kesalah pahaman terus menerus Clau!" Tutur Egnor meraih tangan Claudia.
"Tidak. Kau tenang saja. Sekarang bersiaplah kita harus ke kantor." Seru Claudia mengusap lembut puncak kepala suaminya.
Egnor menghela napas. Dia sudah curiga dengan kata menjual lagi. Pasti ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Egnor beranjak dari duduknya dan membersihkan dirinya sementara Claudia menyiapkan sarapan pagi.
...
Sepanjang perjalanan ke kantor mereka tidak bicara sama sekali. Claudia terlalu larut memikirkan bibi nya. Bagaimana dirinya bisa pergi tanpa Egnor dan tanpa dicurigai namun rasanya sangat sulit? Sementara Egnor memikirkan kehidupan istrinya selama tidak bersamanya lagi dan lagi. Mengapa ini menjadi beban yang berkepanjangan baginya? Dan menjadi pertanyaan Egnor, mengapa sampai sekarang juga Claudia tidak memberitahu keadaan bibinya? Bagaimana juga dia memberitahu apa yang sudah ia lakukan terhadap bibi mertuanya itu.
Sesampainya di kantor, Egnor merasakan kesedihan istrinya. Dia akhirnya menyampingkan perasaan gundahnya juga terhadap Claudia. Dia merangkul Claudia membuat hawa dingin dalam diri Claudia sirnah. Claudia mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Egnor tersenyum tipis dan menggiring Claudia menuju ke kantor mereka. Semua mata tertuju pada Egnor yang biasanya datang sendiri atau bersama Frank atau biasanya memang bersama Claudia namun Claudia berjalan di belakang. Kini mereka berdampingan.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya Jovanca." Sapa seorang satpam dan beberapa karyawan yang mengetahui hubungan mereka.
Namun tetap saja terdengar cibiran cibiran yang tidak mengenakan ketika mereka harus menunggu lift khusus yang lama sekali terbuka.
"Nyonya itu memang beruntung, menjadi asisten tak lama menjadi istri."
"Tapi Tuan belum menikahinya, entah bagaimana mereka bisa tinggal bersama?!"
"Karna Tuan Egnor membiayainya?"
"Jelas saja, aset terbaik harus dimanfaatkan!"
Hahaha!
Dan rasanya mereka benar benar tidak menyadari dibalik dingin nya sang pengacara sekaligus pemilik gedung ini, dia memiliki pendengaran yang jeli. Egnor harus berterimakasih dengan lift yang lama sekali ini Karna dia bisa mengambil tindakan terhadap karyawan karyawan yang sangat tidak sesuai dengan intelektual kantor lawyer nya ini.
Sebenarnya Claudia selalu mendengar cibiran cibiran itu, namun dia merasa karena mereka tidak tahu hubungan apa yang sudah tercipta sebelumnya. Jadi, Claudia tidak pernah ambil pusing meskipun tetap saja akan masuk ke dalam perasaanya. Dia memang sebenarnya harus mengerti kedudukannya tidak sebanding lagi dengan Egnor, jadi dia memaklumi apapun yang keluar dari omongan orang.
Namun rasanya tidak untuk Egnor. Ini kali pertama dia mendengar ada karyawannya yang membicarakan Claudia. Dan pintu lift pun lama sekali terbuka. Claudia sudah tidak sabar ingin memasukan dirinya dan Egnor agar menghilang dari omongan omongan yang sudah membuat telinga suaminya panas. Claudia terus menekan nekan tombol lift agar cepat terbuka. Egnor menundukkan kepalanya geram dan sedikit menoleh ke arah istrinya. Mereka benar benar salah membicarakan hal yang tidak seharusnya mereka urusi. Egnor merogoh ponselnya. Dia lalu mengambil gambar para karwayan wanita yang mengatai istrinya itu.
Egnor lalu mengirim foto tersebut ke Moses. Moses belakangan ini sudah kembali masuk sejak insiden ikut andil dalam menyelamatkan Claudia beberapa bulan yang lalu.
Egnor
Keluarkan orang orang ini karena aku tidak membutuhkan orang orang yang tidak profesional seperti mereka
Moses
Siap tuan!
__ADS_1
Claudia sedikit melirik apa yang di lakukan suaminya. Dia menepuk dahinya dan tidak dapat membantah karena hal ini akan menjadi api pertengkaran mereka.
...
...
...
...
Heleh, nor nor, ada aja pekerja lau yang begitu, cat aja Uda pecat !! 😂😂
.
Next part 52
Aya ya ya semoga Egnor gada marah marah lagi ya, semoga 😁😁
.
Betewe sesuai janji ku haha bagi bagi pulsa untuk 5 orang pemenang ..
Caranya gampang aja lah biar ga ribet hehe ..
1.follow akun manga/noveltoon aku ini ya
2.berikan komen kalian semenarik mungkin mengenai karakter Egnor dan Claudia ini
3.kasih tau part berapa dari part 1 sampai 52 ini yang bikin kalian greget!! Dan alasannya.
.
5 jawaban terbaik berhak mendapatkan pulsa ya hehe ..
.
Aayyoo meriahkan dan tulis langsung komen atau jawaban nya di bawah part ini aja ..
Jawaban atau komen vii tunggu sampai vii post part 65 yaa 😍😍
Setelah part 65 akan vii tampilkan pemenangnya 😊😊
.
Besar harapan vii kalian semua EgClaud Lovers ikut serta yaa 😘😘
.
__ADS_1
Jadi akhir kata jangan lupa LIKE, KOMEN, RATE dan VOTE .. selamat membaca n i love you somuchhh much!!