Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 83: Softly


__ADS_3

Egnor : Selamanya, jangan pernah pergi seperti ini lagi. Suratan takdir menyatakan kalau dirimu hanya dimiliki oleh seorang Egnor Jovanca.


Claudia : Hatiku ini hanya seperti kertas. Kalau kau mengiyakannya sedikit maka sudah tidak menjadi satu begitu juga ketika kau meremassnya sudah tumbuh banyak garis garis tak menentu. Jadi kupercayakan kertas rapuh ini dalam penjagaan mu saja.


...


Sepasang mata itu terus mengawasi dari kejauhan di samping pohon rindang hanya berdiri dan mengenakan kacamata hitamnya. Earphone bluetooth sudah menengger dikupingnya mendengarkan apa yang asistennya laporkan. Kini semua sudah bertugas seperti hendak menerkam mangsanya. Memasang setiap pengawasan agar sang target tidak bisa berlarian lagi seperti seekor cheetah. Padahal dia sedang berbadan tiga namun sangat lihai menentukan tujuannya dan tidak terjadi apa apa. Sungguh seperti seekor cheetah, berlarian sangat kencang dengan lenggok ramping tubuhnya dan dapat mengaum sehingga tak ada yang bisa menghalanginya.


Pria itu terus melihat rumah tak seberapa besar itu dan di sampingnya kedai usang yang kini sudah terlihat bersih dan rapi. Dia berdiri santai agar tidak dicurigai dengan kedua tangannya di dalam saku celananya.


"Apa benar Claudia akan keluar dari sana?" Tanya temannya di seberang sana.


"Pasti! Kau diam saja di sana, jangan terlalu mencurigakan, mereka sudah mengenali wajah kita." Jawab pria ini dengan pelan dan tenang.


"Apa kau sudah merangkap menjadi seorang detektif?" Goda temannya memecah kekayaan di antara mereka.


"Mengapa kau banyak sekali bicara? Frank, suruh si motivator ini diam, tidak usah banyak bertanya!"


"Kau sudah menyuruhnya Tuan!"


"Kau sudah memesan rangkaian bunga mawar peace bertuliskan sorry?" Tanya tuannya itu.


"Sudah, akan tiba nanti malam."


"Yasudah, cepat awasi!"


Sekitar beberapa menit kemudian, pria itu agak mengantuk. Dia menunggu tidak ada tanda tanda orang keluar dari rumah di samping kedai itu. Akhirnya dia memejamkan matanya sebentar. Tak berapa lama asisten dan temannya terus memanggil namanya.


"Tuan Egnor, Claudia keluar, benar itu Claudia, TUAN EGNOOORRR!!!" kata asistennya meninggikan suaranya.


"EGNOR CEPAT BERGERAK, CLAUDIA KELUAR SENDIRI!!" kini kerabatnya yang lain, Lisa meneriakinya. Pria itu tersadar namun dia tetap tenang dan memastikan Emily si tuan rumah yang dimasuki Claudia tidak mengikuti istrinya.


Akhirnya, pengacara cinta itu melihat istrinya berjalan ke arah kedai. Istrinya masih sangat terlihat cantik dengan rambut yang di ikat seperti ekor kuda. Sekarang istrinya tidak bisa lari kemana. Dia berjalan pelan dan sangat santai. Ketika sang istri menengok ke arahnya, dia pura pura berdiam terlebih dahulu agar Claudia tidak berlari atau melarikan diri lagi . Egnor menghadap ke jalan dan pura pura sedang menelepon. Jaraknya masih cukup jauh. Claudia tidak terlalu curiga karna dia terlalu cepat cepat memperhatikan . Claudia menuju ke pintu kedainya dan Egnor kembali menghampirinya perlahan.


Dan sampai akhirnya Claudia disibukan dengan membuka pintu kedainya. Egnor sudah ada di belakangnya. Sesaat Egnor mengendusi aroma istrinya yang tidak akan pernah berubah. Seperti harum vanila bercampur mint. Egnor menghela napas dan akhirnya memegang lengan Claudia. Dia membalikan tubuh istrinya dan betapa Claudia sangat terkejut. Jantungnya tak menentu hampir ingin tumpah ruah. Namun di sisi lain dia merindukan sosok ini.


Egnor tersenyum padanya dan saat itu juga, pria itu mendorong bibirnya untuk mencium istrinya. Egnor mencium bibir Claudia sampai tanpa sadar Claudia pun sudah melingkarkan tangannya di leher Egnor. Claudia merasakan kerinduan dalam setiap inci permainan bibir suaminya. Sampai dia sulit bernapas. Egnor melumatt bibir Claudia dengan irama yang tegas dan posesif, penuh kelembutan dan sangat hangat. Claudia terbius dan membalas gerak gerik lahapan kecil suaminya. Claudia mencoba mendorong tubuh suaminya namun sudah tak tahan Egnor akhirnya melepas dan memeluk istrinya itu.


"Jangan pergi lagi, aku mohon, aku hampir mati, aku sulit bernapas dan semua otot otot tubuhku tak berdaya. Maafkan aku, aku akan menerima semua keputusanmu tapi untuk sekarang tolong jangan usir aku. Claudia, aku mencintaimu, maafkan aku!" Kata kata Egnor benar benar membuat sekujur tubuh Claudia bergidik. Nada bicaranya sangat pelan, mesra dan penuh ketulusan.


Dia menarik tubuh nya dan menatap Claudia. Claudia sudah mengeluarkan air matanya. Sementara Egnor menatap Claudia dengan rasa bersalah yang mencekam. Dia membutuhkan Claudia sekarang di sisinya, tidak mau yang lain.


"Aku memaafkan mu kak, aku juga minta maaf telah berbohong terus menerus padamu." Jawab Claudia menundukan kepalanya. Dia tak sanggup kalau kata kata selanjutnya akan keluar namun ia harus mengatakannya.


"Aku percaya kau akan memaafkanku, sudah sejak kemarin aku mencarimu Clau, aku .."


"Sekarang pulanglah kak."


Seketika bagai serangan jantung dan hantaman petir kata kata Claudia yang memotong pembicaraannya. Claudia menyuruhnya pulang. Lalu bagaimana dengan setiap pencariannya. Sampai sekarang saja dia belum makan lagi dan hanya ingin menunggu istrinya yang memasak untuk nya.


Egnor tetap memandang Claudia dengan tenang dan berusaha berpikir kedepan dengan alasan.


"Apa, apa, maksudmu sayang? Aku harus pulang kemana? Rumahku ada di depanku. Sekarang, sekarang aku lapar. Aku ingin sesuatu darimu." Kata Egnor mengarahkan tangannya dan tangan istrinya ke depan dada istrinya itu.


"Pulanglah, aku sudah memaafkanmu dan aku meminta kau pulang." Kata Claudia menunduk dan meneteskan air mata.


"Pulang kemana Clau, aku ingin di sini bersamamu." Egnor berusaha menegakan kepala Claudia.


"Aku ingin di sini, aku ingin berlama lama di kedai ini, jadi kau lebih baik pulang. Aku baik baik Saja. Aku ingin sendiri. Tolong mengertilah. Sebentar saja, tolong hargai hatiku dan aku, dan aku .."


"Dan aku apa? Tidak apa apa kau ingin di sini aku akan menemanimu Clau." kata Egnor dengan sangat pelan.


"AKU TIDAK INGIN BERSAMAMU!" Claudia sedikit meninggikan nada suaranya namun memejamkan matanya. Dia tidak mau melihat mata suaminya. Dia harus tegas, kali ini dia harus tegas agar suaminya mengerti dan menghargai setiap kerapuhan hatinya.


Egnor terdiam. Egnor yakin kalau istrinya masih sangat marah padanya. Dia hanya menatap Claudia dengan sangat letih. Dia menghela napas dan ada sedikit kekecewaan. Tapi, ini adalah keputusan istrinya.


"Kau tidak ingin bersamaku?" selidik Egnor dengan suaranya yang datar namun mencoba untuk tidak mengeluarkan emosinya. dadanya sesak ingin sekali meluapkan kekesalannya.


"Tidak! Aku tidak ingin bersamamu, aku tidak ingin melihatmu dan aku tidak ingin KAU MENGANGGUKU dengan semua kelakuanmu, aura dinginmu dan perhatianmu yang berlebihan, AKU TIDAK MAU, sekarang pulanglah!" Kata Claudia lagi dan dia sedikit mendorong tubuh suaminya untuk menjauh darinya. Claudia membuka pintu kedai dengan cepat dan masuk ke dalam. Egnor terasa lunglai dan hanya memandang tanpa berkutik. Claudia pun menutup pintu kedai itu dan menguncinya.


Di dalam sana Claudia malah menangis bersandar di sisi pintu itu. Dia menutup wajahnya dan terpaksa melakukan ini pada suaminya. Selain memang tidak ingin bersama dulu, dia ingin melihat seberapa besar Egnor mengakui kesalahannya. Apakah suaminya akan menyerah atau tetap juga di sini bersamanya.

__ADS_1


Egnor kembali mendekati pintu itu. Dia mengetuknya perlahan dan menyandarkan dirinya juga di sisi pintu luar.


"Clau, aku tahu kau menangis di dalam sana. Kenapa? Kenapa kau menyiksa diri seperti ini? Aku sudah datang. Apa kau tidak merindukanku?" Egnor berusaha menahan dirinya dan terus melembutkan sisi egonya.


"Kau sudah membuat diriku tidak bisa bertemu dengan bibi ku untuk yang terakhir kalinya kak. Apa kau tidak mengerti hah? Aku hanya mempunyai dia, pamanku sudah bukan pamanku, walau dia dihukum dan mungkin saja telat berubah namun tidak ada perasaan seperti ini antara bibi dan keponakan. Oh bukan, dia bahkan sudah seperti ibuku!!" Claudia akhirnya berteriak dan meluapkan semua yang menjadi pertanyaannya selama ini.


"Jangan menangis seperti itu sayang. Ya aku mengerti. Tenanglah. Aku benar benar menyesal." Egnor benar benar menginginkan ketenangan untuk istrinya.


"Sudah terlambat. Dia tidak bisa merasakan diriku dan aku juga tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Hanya jenasah yang berbaring lemah tanpa membuka matanya. Selama ini aku tidak mengatakannya karna aku tidak mau merepotkan mu namun nyatanya kau diam diam membantuku tetapi kesininya kau menutupi dia dari ku. Kenapa?" kata Claudia kembali membuncah kan tangisnya.


"Karna kandunganmu sayang. Kau terlalu lemah menghadapi dua bayi kita. Aku tidak ingin kau terlalu banyak berpikir. Ayolah Clau, kita bisa bicara baik baik." pinta Egnor dengan mata terpejam dan mengelus pintu coklat itu.


"Tidak! Kau pulang saja! Aku ingin di sini, aku tidak akan merepotkan mu lagi, aku tidak akan menyusahkanmu lagi! Pulang lah kak, aku baik baik saja. Bahkan bersama anak kita. Aku baik baik saja!" gertak Claudia sambil memegang perutnya yang tiba tiba bergejolak.


Egnor terdiam. Kepalanya kembali pening. Emosi Claudia makin memuncak mungkin juga karna kehamilannya. Dia tidak boleh memaksa. Dia harus bersabar. Biarkan istrinya mengenang bibinya di kedai ini dan dia hanya bisa menunggu sampai maafnya terukir untuknya.


"Baiklah, kalau kau mau aku pergi, aku akan menurutimu. Jaga dirimu Clau." Egnor memukul satu kali pintu itu dan dia berjalan menjauh. Claudia mendengarnya agak bergetar. Benarkah suaminya akan pergi namun dia sudah membulatkan tekadnya. Dia ingin di sini. Dia menangis di dalam sana. Egnor sudah benar benar melemah namun dia berusaha untuk kuat.


Ketika Egnor ingin lebih dulu menghampiri Frank dan lainnya, dia berpapasan dengan Emily. Emily mendengar semua pertengkaran itu. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menyaksikan keterpurukan seorang Egnor Jovanca.


"Hanya sebatas ini kau mempertahankan istrimu kah?" tanya Emily mencoba mengetahui kesungguhan hati Egnor.


Egnor hanya memijat tulang hidungnya.


"Tetap berikan ia perhatian. Aku akan membiarkanmu tetap bersamanya jika dia tidur malam di tempatku. Dia tidak akan tidur di kedai ini. Terlalu dingin dan penerangan yang sangat tidak memadahi. Sepertinya jalurnya harus dibuat lebih baik lagi." Kata Emily kemudian. Egnor lalu melirik Emily. Sepertinya Emily orang yang sangat dekat dan baik pada Claudia dan keluarganya.


"Aku tahu apa yang harus kuperbuat. Jaga dia untukku. Nanti malam aku akan kembali lagi jika dia sudah tertidur. Aku harus menjaga semua emosinya. Aku tidak mau terjadi apa apa padanya." ujar sedikit melirik Emily.


Emily mengangguk setuju. Egnor pun pergi setelah sekali lagi melihat kedai itu. Ada sesuatu yang harus ia perbuat.


Egnor kembali pada Frank dan lainnya. Dia meletakan kepalanya di atas meja cafe itu. Semua wajah juga sudah letih dan bingung apalagi yang harus diperbuat untuk meluluhkan hati Claudia. Dan memang ini baru terbilang satu hari dan baru pagi tadi Siren di makamkan, mungkin Claudia masih kesal.


"Egnor, kau tidak akan membiarkannya kan?" tanya Lisa sedikit emosi. pasalnya ini bukan seperti Egnor yang bisa saja mendobrak pintu itu dan memaksa Claudia kembali ke Honolulu.


Egnor menggeleng.


"Lalu, apalagi rencanamu?" tanya Richard dan memegang tangan Lisa agar mencoba menghargai keputusan Egnor.


"Kau tidak makan terlebih dahulu Tuan?" tanya Frank.


"Suruh Claudia membuatkanku makan maka aku akan makan, kalau tidak aku hanya membutuhkan tidur. Jangan ganggu lagi! Sewa cafe ini untuk kita satu hari ini, Frank!" perintah Egnor dan kini merebahkan dirinya di atas kursi panjang di depan meja meja mereka.


"Ba baik Tuan."


"Aku yang akan meminta Claudia untuk bertanggung jawab. Ini sudah keterlaluan." Decak Grace tak menyangka kalau hati Claudia lebih keras dari tuannya. Grace beranjak namun Lisa manahannya.


"Bukan seperti ini Grace! Kau tidak dengar apa yang dikatakan tuanmu? Richard saja melarang ku." dengus Lisa namun sudah mulai mengerti apa rencana Egnor.


"Nona Lisa, dia sudah keterlaluan! Dia tidak tahu kalau suaminya belum makan. Bagaimana kalau sakit nanti dia juga yang menyesal!" Grace sedikit membuka kelemahan dan kebiasaan buruk Claudia yang tidak menentu.


"Aku saja yang urus Grace!" Kata Richard. Dia lalu berdiri dan menuju kedai roti itu.


Sekitar beberapa jam kemudian ketika hari sudah mulai malam, Egnor terbangun. Dia tidur di kursi panjang cafe itu. Dia tidak mau ke hotel karna akan berjauhan dengan istrinya. Egnor terbangun karna sebuah nasi goreng daging asap tersaji di atas meja tepat di samping ia tertidur. Waktu itu satu kali Claudia pernah membuatkannya untuknya jadi dia cukup mengenal masakan ini. Untuk saat ini Egnor harus menggali setiap jengkal kenangannya bersama Claudia.


"Siapa yang memasaknya?" Tanya Egnor sudah dalam posisi duduk dan meminum sebotol air mineral yang juga sudah berada di samping sepiring nasi goreng itu .


"Menurutmu siapa?" saut Richard.


"Apakah dia mencariku? Dia sudah memaafkanku?" selidik Egnor.


"Aku menyuruh Nyonya Emily meminta pada Claudia dan Claudia dengan senang hati memaksakannya. Sekarang Claudia sudah kembali ke rumah Nyonya Emily." jawab Richard duduk bersebrangan dengannya.


"Apa dia sudah melihat karangan bungaku?" tanya Egnor mulai meraih sendok dan garpu untuk menyantap masakan istrinya.


"Ya sudah, Claudia mengecupi bunganya dan melepaskan satu tangkainya untuk di bawa ke rumah Emily Tuan." jawab Frank.


"Oh begitu? Aku tahu dia tidak akan lepas dariku. Em sekarang Frank, aku mau kau membenarkan penerangan di kedai itu dan berikan sebuah penghangat di dalamnya." perintah Egnor kemudian sudah mulai menyantap nasi goreng itu.


"Kapan Tuan?"


"Tahun depan dan kau akan kubunuh sekarang maka tidak usah kau kerjakan!"

__ADS_1


"Sekarang sayang!" Gumam Grace yang menjawab.


"Ah iya Tuan, aku akan menanyakan orang kantor pengacara pemerintah siapa yang bisa menanganinya saat ini juga."


"Cepat! Dan kalian semua tidur di hotel saja, aku akan tidur di samping Claudia." kata Egnor sedikit antusias.


"Ya ya, kami sudah tahu apa yang harus kita perbuat. Lisa, ayo kita pergi dari sini, aku akan mengajakmu melihat lihat kota Oriental. Egnor, jika ada yang bisa kubantu, kabari saja." celetuk Richard sudah mulai beranjak dan memegang tangan Lisa.


"Tidak perlu! Sana kau berpacaran saja hati hati jangan sampai ada yang disembunyikan." saut Egnor sekenanya.


"Disembunyikan pun tidak apa apa, kami tidak ada hubungan apa apa!" dengus Lisa yang tahu kalau Egnor menyindir nya masalah kasus yang ia curigai ada campur tangan keluarga Gabriane, keluarga Richard.


"Richard?" panggil Egnor kemudian. Richard menoleh tak percaya Egnor memanggilnya.


"Terimakasih telah membantuku." ucap Egnor sedikit tersenyum.


"Santai saja! Kita memang seharusnya bersatu. Ayo Lisa!" balas Richard tersenyum lebar. dia cukup senang kalau bisa berteman dengan Egnor seperti awal bertemu. dia pun menarik tangan Lisa.


Lisa pun mengikuti Richard yang sudah dijemput oleh Kevin. Sementara Frank dan Grace masih menunggui tuannya. Frank dan Grace bertanya tanya pada tuannya apa yang dikatakan Claudia dan mereka mengerti bagaimana perasaan Claudia.


"Sekarang, aku hanya ingin menjadi pelangkap Claudia. Aku akan mewujudkan apa yang ia inginkan. Aku tidak akan memaksa seperti biasanya. Aku akan mengikuti semua yang menjadi kelegaannya. Semua demi kebaikan dirinya dan juga kandungannya." Tutur Egnor dalam tundukan kepalanya dan menyesap wine yang telah Frank tuang. Grace sudah meneteskan air matanya. Dia begitu mengenal tuannya dan baru kali ini tuannya agak melembut dan melakukan apapun agar cinta sejatinya tidak lagi jauh jauh darinya. Frank hanya mengangguk dan siap menerima setiap perintah dari tuannya.


Malam semakin larut dan Egnor menunggu lampu rumah Emily menggelap. Emily sudah mengatakannya lagi melalui Frank jika semua lampu rumahnya telah padam, Egnor bisa masuk ke dalam dan menemani istrinya tidur.


"Masuklah, sepertinya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu, semoga dia tidak menyadari kehadiranmu, jika menyadari, itu sudah menjadi urusanmu, Tuan Egnor." kata Emily sedikit tegas.


"Ya, serahkan padaku. Sebelumnya terimakasih Nyonya Emily."


Emily hanya mengangguk. Egnor pun menuju ke kamar yang Claudia tempati. Dia membuka pintunya dengan perlahan. Ya, Claudia sudah tertidur. Egnor mendekatinya perlahan dan duduk di samping tempat tidur itu. Egnor menarik sebuah kursi kayu yang ada di ruangan itu. Dia memperhatikan wajah Claudia yang tampak letih. Matanya bengkak dan sedikit terdapat lingkar di bawah matanya. Mungkin karna menangis tadi. Ada perasaan sangat sangat bersalah dalam diri Egnor. Seharusnya Egnor menjaganya, seharusnya tidak ada emosi yang timbul karna dirinya. Namun, dia malah merusaknya. Dia malah membuat hati Claudia terkikis sedikit demi sedikit.


Sesak dalam hati Egnor sungguh membuncah sampai dirinya hendak memegang wajah istrinya itu. Dia mengulurkan tangannya hendak memegangnya namun ia urungkan. Dia hanya mengambangkan telapak tangannya di atas wajah Claudia. Egnor menatap Claudia dengan sinar mata yang lembut dan syahdu. Ingin sekali dia mengecup pipi ini dan bahkan memeluk raga ini. Dia sudah menunduk dan terus memperhatikan wajah istrinya.


Ketika rasanya sudah puas dan dia hendak menegakan dirinya, Claudia agak mengigau. Dia hendak memegang selimut yang menutupi tubuhnya namun ia malah menangkap tangan Egnor. Claudia sama sekali tidak menyadarinya.


"Kak Egnor, apa kau benar kembali ke Honolulu? Kau di mana sekarang? Kak Egnor aku ingin kau di sini bersamaku, kak Egnor jangan tinggalkan aku! Ikutlah bersamaku." Kata Claudia dengan napas tersenggal dan keringat mulai membasahi pelipisnya.


...


...


...


...


...


Dah nor tidur di sampingnya Tar tau juga ga ngomel lagi dia 😂😂


.


Next part 10


Sedikit ke arah titik terang dan balik ke Honolulu ya?


Mba Clau cuma mau 7 harian haha


Apa yang akan dilakukan Egnor lagi?


Apakah marah Claudia akan terus berkelanjutan dengan apa yang dilakukan suaminya?


.


Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya LOVE IN FRIENDSHIP , ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁


.


pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha


Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍


.

__ADS_1


Thanks for read .. happy read and i love youu 💕


__ADS_2