
Terkadang, rupa luar tidak seperti keadaan dalam hati. Terkadang, rupa luar tidak seburuk atau semanis yang orang lain pikirkan. Intinya tetap berjaga jaga dan waspada. Dalam keadaan sulitpun masih saja memanfaatkan kesempatan untuk kepuasan sendiri. Dengan wajah lugu dan sikapnya yang memperhatikan atasannya dapat membuat tipu daya semua yang ada disana. Kecuali Gabriel yang sudah menangkap hawa ketertarikan Della pada tuannya. Entah apa tujuannya, Gabriel tetap berjaga jaga untuk melindungi tuannya. Lalu, apa tanggapan Egnor dengan semua kondisi ini sementara ia harus segera kembali ke Honolulu menemui istrinya? Dapatkah Gabriel membuat tuannya tetap berhati-hati?
...
Semua panik karena kru kapal tidak menemukan bahan bakar kapal mereka. Seharusnya mereka sudah bisa melewati daerah teritorial.
"Jadi, bagaimana ini, sir?" Tanya Egnor memastikan yang terjadi.
"Terpaksa kita harus kembali ke Pulau Nikara dan menunggu bantuan datang, tuan. Semoga di pulau terdapat signal sehingga aku bisa meminta respon dari pelabuhan terdekat," jawab salah satu kru kapal.
"Baiklah kalau itu yang terbaik. Biar aku dan Gabriel yang membantumu, dimana dayungnya?" tanya Egnor lagi menawarkan bantuan.
"Ini Tuan." Salah satu kru memberikan dua dayung unt
Dan mereka kembali ke pulau. Hilang sudah semua harapan mereka kembali ke pelabuhan terdekat sehingga bisa pulang ke Honolulu. Egnor dan Gabriel mengatur napasnya agar normal karena mereka cukup jauh mendayung. Tak lama, Della datang membawa tiga buah kelapa yang ia temukan setelah menuruni kapal. Dia menyajikannya untuk Egnor, Gabriel dan Benedict yang juga duduk di situ.
"Gabriel, sepertinya kelapa ini banyak airnya. Kau bisa membukanya?" tanya Della dengan maksud meminta tolong.
"Kau saja! Aku lelah!" jawab Gabriel acuh.
"Aku wanita mana bisa membukanya," saut Della sedikit mengerutkan wajahnya.
"Kau saja bisa membuang bahan bakar kapal ke laut, masa kau tidak bisa membuka kelapa yang enteng ini?" balas Gabriel menyatakan apa yang sudah menjadi kekesalannya.
Egnor lalu menatap Gabriel dengan tajam juga Benedict yang menatap Della. Della sontak terkejut, Gabriel mengatakan itu.
"Gabriel?! Apa maksudmu mengatakan ini? Aku bahkan tidak tahu di mana persembunyian bahan bakar kapal itu." Della menyela.
"Sampai aku tahu dan kalau kita sudah sampai di Honolulu, aku akan menuntutmu! Kau jangan bermimpi bisa mendekati Tuan Egnor ku! Dia sudah mempunyai istri yang jauh lebih luar biasa darimu! Kau ini rendahan sekali!" umpat Gabriel sudah berdiri dari duduknya.
"Gabriel!! Kau ini kenapa denganku?!" Della juga ikut berdiri menghardik Gabriel.
"Gabe, apa maksudnya?" tanya Egnor.
"Aku melihat Nona Della mengambil bahan bakar di kapal penyelamat dan dia membuangnya ke laut, tuan! Aku dengar dia bergumam karena ingin berlama lama denganmu," jawab Gabriel menunjuk nunjuk Della.
"Mengapa kau membiarkannya?" selidik Egnor.
"Aku ingin mencegahnya tetapi kau memanggilku dan tadinya ku pikir dia sedang melakukan hal lain. Sewaktu kru kapal mengatakan kehabisan bahan bakar aku mengingat dia. Cairan yang ia buang juga berwarna hitam. Pasti itu bahan bakar!" jawab Gabriel.
"Benar itu, Della?" tanya Egnor mengerutkan alisnya kesal.
"Hah, hah? Mana mungkin Tuan Egnor? Aku, aku, aku mana kuat mengangkat dirigen minyak itu tuan!" jawab Della dengan terbata.
"Jadi siapa yang melakukannya? Saudara kembarmu?!" tukas Gabriel semakin membenci Della.
Lagi lagi perkataan Gabriel membuat Egnor mengingat istri dan anak kembarnya.
"Della! Jawab yang benar! Kau yang melakukannya?" kini Benedict yang memastikan.
__ADS_1
"Tidak Tuan Benedict. Gabriel pasti salah melihat orang!" Della masih berkelit.
"Satu-satunya wanita di sini hanya dirimu! Sudahlah kau jangan berkelit!" Gabriel kembali membentak Della tepat di depan wajahnya.
Pak!
Della menampar Gabriel karna sudah banyak bicara.
"Hey! Kenapa kau menamparku?! Kau takut kan? Tuan Egnor, kau pasti bisa membaca mimik seseorang kan? Aku pernah mempelajarinya. Lihat dia ketakutan! Wajahnya berkeringat, bicaranya terbata dan matanya kemana mana. Tangannya juga gemetar!" Gabriel memegang pipinya.
"Cukup Gabe! Aku sudah tahu! Benedict, kau saja yang memberitahunya, buang buang waktu mengurusi wanita seperti asistenmu ini! Aku bahkan tidak mau menyebut namanya. Apapun yang dia lakukan, aku pasti akan kembali ke Honolulu! Secepatnya kita semua akan kembali ke Honolulu. Aku harus bertemu dengan istri dan anak kembar ku!" Decak Egnor menatap tajam Della. Dia lalu menemui kru kapal dan diikuti oleh Gabriel yang sebelumnya memberikan jari tengah di depan wajah Della.
Della sudah menunduk. Dia menekuk wajah juga bibirnya. Benedict menunggu kalimat yang kelur dari mulut Della tapi Della tetap menunduk seperti sedang merajuk.
"Renungi kesalahanmu! Tidak disangka kau mempermalukan dirimu sendiri di depan seorang Egnor, Dellarosa!" Tutur Benedict dan dia juga menyusul Egnor dan Gabriel.
Ternyata Gabriel terlebih dulu menunjukan tempat dia melihat Della melakukannya dan benar. Bahan bakar berwarna hitam itu masih menggenang di sana.
"Aku jadi sangat merindukan istriku, Gabe! Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Aku benar benar tidak tahu! Claudia pasti sedang menungguku atau mungkin dia sudah menganggap diriku mati!" Egnor menyandarkan dirinya di depan pohon.
"Kita menunggu kabar dari kru kapal, Tuan. Dan, kini kita harus berhati hati. Khususnya dirimu tuan. Nona Della menyukaimu, aku yakin sekali," kata Gabriel memperingati tuannya.
Egnor hanya mengangguk. Dia memejamkan matanya dan akhirnya terduduk. Pikiran dan tenaganya benar benar tidak berfungsi dengan baik. Dia butuh sedikit istirahat. Gabriel meninggalkannya dan menuju ke kru kapal untuk menanyakan kabar. Sementara Egnor tertidur di bawah pohon itu.
"Kak Egnor, aku baik baik saja, tapi cepatlah kembali! Aku sangat tersiksa kak! Perhatikan sekitarmu kak, hubungan yang baik pasti memiliki banyak rintangan. Aku akan menjaga diriku untukmu, aku sudah menuliskan lewat notebook yang kau berikan. Jadi, saatnya dirimu yang berjuang, aku menunggumu, selalu!" Suara Claudia menghiasi bunga tidurnya. Egnor tersenyum. Hanya ini kekuatannya. Istrinya.
"Tuan Egnor, Tuan Egnor ..." panggil Della menggoyang goyangkan tangan Egnor.
"Mau apa kau?"
"Aku ingin mengatakan kalau aku benar tidak melakukannya," ujar Della menatap Egnor dengan mata berbinar binar.
Egnor hanya menatap Della tajam. Mengapa wanita ini masih berbohong?
"Gabriel salah lihat. Kau ingat kan waktu kita hendak berangkat, kau memanggil Gabriel, bukan kah aku ada bersamamu? Mungkin saja Gabriel yang melakukannya tetapi berkelit menyalahkan ku," ujar Della memberitahukan sesuatu yang masuk akal. Namun, sebenarnya dia sedang mempermainkan hati Egnor. Egnor berusaha mengingat dan memang benar tetapi berkali kali dia memang selalu memanggil Gabriel.
"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Aku hanya ingin kembali ke rumahku, menemui istri dan anak anakku! Istriku sedang hamil, camkan itu Della! Dan, maaf aku tidak berminat bermain api karena sangat panas!" Tutur Egnor seraya menyindir Della dan meninggalkannya. Della kembali menampilkan wajah kesal karna lagi lagi caranya tidak berhasil dan sekarang malah membuat Egnor tidak selera padanya.
Hari hari berganti. Signal di pulau tersebut benar benar sulit. Sudah beberapa kali kru kapal mengirim kabar tapi mereka juga tidak yakin akan diterima dengan baik. Sementara setiap api unggun yang Gabriel dan Egnor buat belum juga mendapatkan hasil cepat seperti kemarin. Bukan hanya itu, cuaca kembali tidak baik. Sebentar panas terik, sebentar hujan deras disertai ombak yang cukup tinggi sehingga mereka harus mengungsi ke tengah hutan untuk menghindari ombak. Untung saja kru kapal membawa cukup banyak bahan makanan untuk mereka sementara.
Egnor masih berusaha mencari cara. Terkadang dia ke tebing yang cukup tinggi bersama Gabriel untuk melihat apakah akan ada kapal yang melintas namun lagi lagi tidak ada. Kru kapal sudah seperti mereka karna kapal mereka hancur kena terpaan ombak besar. Nasib mereka sungguhlah naas.
Dua Minggu berlalu. Kru kapal juga sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Hanya asap api unggun yang dapat menyelamatkan mereka mendapatkan bantuan dari atas juga mungkin kapal yang melintasi pulau ini.
Della masih berusaha mendekati Egnor dengan memberikan semangat dan motivasi sampai akhirnya Egnor kembali berteman dengannya. Namun, Gabriel selalu mengingatkan Egnor. Egnor pun juga malah selalu menceritakan kebaikan istrinya jika Della membahas hal hal yang menjuru mengenai perasaannya. Bukannya Egnor menyukai Della, dia malah makin merindukan dan ingin memeluk istrinya. Della semakin dibuat bingung pada pengacara yang mampu membolak balikan kalimat per kalimatnya. Egnor juga mampu menghadirkan istrinya yang tampak begitu ia cintai sehingga ia merasa harus menyerah. Seperti malam ini. Ketika mereka berkumpul mengitari api unggun di pinggir pantai karena hujan ketika pagi menjelang siang dan berhenti sampai sekarang.
"Tuan Egnor, aku minta maaf jika aku mengagumimu. Aku baru menyadari ternyata kau memiliki sisi lembut dan berkorban demi kerabatmu," ucap Della seketika memberanikan dirinya.
"It's oke! Tapi maaf Della, sebaiknya kau mengubur perasaanmu untuk mengangumiku, karena akan menjadi sebuah bom waktu bagi seseorang," saut Egnor santai dan menoleh menatap Della.
__ADS_1
"Maksudmu?" Della mengerutkan keningnya.
"Ya, istriku tidak akan membiarkanmu untuk mendekatiku," jawab Egnor kembali berpaling melihat ke arah api unggun.
"Aku hanya ingin berteman dengamu dan mungkin juga bisa berteman dengan istrimu?" Della menggunakan cara yang sama percis seperti Kate. Memanfaatkan orang yang bahkan mengetahui sifat seseorang hanya melihat mimiknya. Ya, terkadang insting Claudia menilai setiap orang suka benar adanya.
"Mustahil! Dia tidak semudah yang kau bayangkan Della," celetuk Egnor.
Della mengerutkan keningnya lagi. Dia sudah kesal dengan semua pujian Egnor untuk Claudia.
"Istrimu manusia biasa kan? Pasti dia juga memiliki kelemahan. Kau selalu memujinya padahal aku sedang membicarakan hubungan pertemanan kita Tuan. Hanya di tempat ini kita bisa sedekat ini kan?" Della masih berusaha meyakinkan Egnor.
"Cih, hubungan! Hubunganku dengan seorang wanita hanya dengan istriku." Egnor menanggapinya dengan senyum khas yang disukai Claudia. Dia menoleh ke arah Della sesaat membuat jantung Della tak karuan. Dia merasa kata kata Egnor ditunjukan untuknya. Hanya sekelebat Egnor menatap Della dan dia melihat ke langit malam itu.
"Lihatlah bintang di langit sana!" Egnor menunjukan ke arah langit.
Della mengikuti arah tangan Egnor.
"Bintang itu begitu indah. Cahayanya mampu membantu bulan menerangi dunia ketika malam. Namun, dia sangat jauh. Sedangkan Claudia, kau ingat baik baik namanya ya? Claudia Stephanie Jovanca. Dia begitu indah bagiku. Melebihi sejuta bintang di langit sana dan yang paling utama, dia dekat di hatiku. Di sini! MY ONLY ONE THAT I WANT! Hanya dia yang kuinginkan, tidak ada yang lain, termasuk dirimu!" Egnor berdiri tersenyum dan meninggalkan Della. Sudah terlalu lama Della mendekatinya.
...
...
...
...
...
harap tenang ini ujian 😁
.
next part 103
pulang pulang bentar lagi yaa, masih nyari bantuan ..
bagaimana cara mereka kembali?
sanggupkah Egnor dan Gabriel menghentikan pemakaman yang ternyata bukan Egnor?
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤