Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 126: Crush Atom


__ADS_3

Penyesalan tiada tara ketika sulit sekali menjaga sebuah cinta pertama yang terjadi dua kali. Rasa gagal dan merasa rendah merasuk ke dal hati ketika mengetahui putra tercinta tidak ada di sekitar. Kepanikan, kekhawatiran berkeliaran di dalam hati. Tangis air mata tidak bisa mengembalikan waktu. Claudia benar benar histeris ketika melihat hanya ada Wilson di sana. Rasanya seperti patah seluruh persendian dan bahkan mati dalam diri. Siapa yang melakukan ini semua? Apakah Egnor akan menemukan dan membuktikan semuanya? Ketika dendam dapat menguasai segalah hal terbesar sekalipun, kita akan tetap kalah, bagaimana perjuangan terjadi untuk menumpas segala dendam dan kelicikan?


...


"Permisi, kami dari tim medis hendak memberikan imunisasi pada kedua anak Tuan Egnor dan Nyonya Jovanca," kata seorang pria dengan pakaian dokter bersam dua asisten mengenakan pakaian perawat, satu pria dan satu wanita.


"Apa kau memiliki surat tugas?" Tanya si petugas keamanan.


"Tentu, langsung dari Dokter Lisa," jawab si dokter.


Si petugas keamanan membaca surat tersebut yang memiliki tanda tangan berawaln L juga cap rumah sakit resmi. Tak lama seorang bodyguard bawahan Bertho datang menghampiri si petugas keamanan apartemen.


"Kalian siapa? Apa sudah membuat janji pada Nyonya Claudia?" tanya bodyguard Bertho.


"Tentu sudah tuan, ini pesan terakhir dari Nyonya Claudia," kata salah satu perawat pria menunjukan pesan perintah dari Lisa yang menyuruh mereka. Di sana juga terlihat pesan dari Claudia yang menyuruh Lisa memeriksa anaknya.


"Demi keamanan semuanya, aku akan menemani kalian," ujar si bodyguard tegas.


Perawat wanita melirik pada sang dokter. Sang dokter hanya mengangguk merasa tidak masalah tetapi dia memberi kode pada si perawat pria agar bersiap melakukan tugasnya. Si perawat pria tentu mengangguk dengan tenang.


Mereka berempat menuju ke kamar apartemen milik Egnor dan Claudia yang terdapat di lantai 15. Ketika sampai di depan pintu apartemen, si perawat pria dengan cepat menyuntikan sesuatu di lengan si bodyguard. Bodyguard Bertho sempat menoleh tetapi tak lama dia sudah tak sadarkan diri. Mereka bertiga menyeringai dan si perawat wanita mulai membunyikan bel kamar.


"Anda siapa?" Tanya Anne mendengar bel sementara Claudia sudah berada di kamar mandi. Dia bahkan tidak mendengar karena kucuran air pada bath tub nya.


"Petugas medis hendak memberikan imunisasi pada putra Tuan Egnor dan Nyonya Jovanca, ini surat tugasnya nyonya," kata si dokter gadungan itu. Anne hendak melihat surat tersebut terlebih dulu tapi baru saja dia membuka pintu, si perawat pria kembali menyuntikan sesuatu di lengan Anne dengan sangat cepat. Anne pun tak sadarkan diri.


"Kau cari surat itu di semua ruangan ini, di setiap sudut, bahkan di balik lukisan itu! Aku dan istriku akan mencari di kamar


"Siap Tuan!"


Si dokter dan perawat wanita masuk ke dalam kamar Egnor. Mereka berpencar. Si perawat wanita mencari ke nakas di dekat tempat tidur sementara si dokter ke nakas bawah tv dan lemari pakaian.


Ternyata Egnor menyembunyikan surat tersebut di sebuah brangkas titanium hitam metalik di bawah tumpukan selimut berwarna gelap tetapi masih diletakan di bawah lemari. Dengan kata lain Egnor membuat ruang kecil di bawah lemari tersebut dan ditutupi tumpukan selimut berbahan bludru itu. Si dokter menyeringai karena menemukan brangkas mencurigakan itu. Dia meraba bahan dari brangkas tersebut lalu mengambil ramuan yang sudah ia ciptakan. Ramuan tersebut bernama crush atom di mana hanya satu tetes menyentuh unsur kimia atom apapun, dia dapat menghancurkan walau seberapa kuat unsur kimia tersebut.


Sang dokter pun meneteskan ramuan tersebut pada kunci putar brangkas tersebut di bagian lubang kuncinya dan tak lama kunci putar tersebut meleleh dengan sangat cepat sampai perbatasan kunci putar tersebut. Brangkas pun terbuka. Benar saja, di sana Egnor menyembunyikan berkas berkas penting. Bukan hanya surat penting dan surat otentik yang mereka inginkan, tetapi sebuah salinan surat kekuasaan perwakilan kepala pemerintah.


"Sehebat itu orang ini, benar benar harus mempunyai kekuatan penuh untuk menghancurkannya! Dan orang yang tepat menghancurkannya adalah aku! Richie, Bruce, kalian akan terus berhutang padaku walau kau membayar mahal sekalipun!" Decak sang dokter segera mengambil surat surat itu.


Dia lalu beranjak dari sana hendak pergi tetapi melihat si perawat menggendong salah satu bayi Egnor yaitu Willy.


"Elizabeth, apa yang kau lakukan?" Tanya si dokter.


"Aku mau membuat Claudia menderita!" Decak ya dengan tatapan nanar nya.


"Sebaiknya jangan ini akan merepotkan!" bantah si dokter melarang.


"Kau tenang saja, ini adalah dendam ku!" Elizabeth menyeringai.


Tak lama Willy menangis karena merasa bukan sentuhan ayah atau ibunya atau orang orang terderkat.


"Dia menangis, Sabeth! Cepat taruh dia kembali!" kata si dokter lagi tidak mau semuanya ggaal.


"Tidak, aku akan membawanya!"

__ADS_1


Tak lama Wilson ikut menangis karena kembarannya terkena masalah.


"Yasudah cepat keluar dari sini!"


Akhirnya si dokter dan perawat yang ternyata Elizabeth itu mencuri surat surat penting itu dan juga membawa Willy. Si dokter juga memanggil anak buah satunya untuk segera pergi dari apartemen itu.


...


"CEPAT LAJUKAN MOBILNYA MOSES!!!" Pekik Egnor pada Moses yang mengemudi mobil. Mereka baru saja hendak pergi ke kantor kepala pemerintah. Namun, mobil keluar dari gedung, Claudia menghubungi Egnor. Hanya ada Egnor, Gabriel dan Moses.


Egnor segera menyuruh Moses berlalu ke apartemen.


Gabriel pun sudah panik karena tuannya mengatakan anaknya hilang. Pikiran Egnor sudah kemana mana dan emosinya terus meluap. Siapa yang berani beraninya menculik anaknya.


"Moses, cepatlah sedikit, Tuan Egnor sudah sangat marah," bisik Gabriel takut.


"Diam kau! Ini sudah paling cepat! Mengapa setiap genting begini aku yang menyupir?!" dengus Moses sudah menjalankan mobil dengan sangat cepat.


"SUDAH CEPAT MOSES! ATAU AKU SAJA YANG MEMBAWA TANPA KAU HENTIKAN MOBILNYA!" pinta Egnor mencengkram sisi belakang kursi pengemudi Moses.


"Jangan Tuan, itu sangat berbahaya!" Gabriel mengingatkan.


"Iya tuan, tenang tuan aku akan membawanya lebih cepat!"


"TEKAN TOMBOL SIRENE, GABE SUPAYA SEMUA MEMBERI KITA JALAN, CEPAAATTT, MENGAPA KALIAN SULIT SEKALI BERPIKIR PINTAR HAH?!!!" Pekik Egnor lagi dan dengan cepat walau bergetar, Gabriel menyalakan tombol sirene pada mobil tersebut sehingga mobil mengeluarkan suara seperti sirine polisi. Tentu saja semua mobil di sekitar mobil Egnor menyingkir memberikan jalan.


Egnor meraih ponselnya dan menghubungi Bertho. Di mana para bodyguard yang ia suruh menjaga.


"Bedebah!" Umpat Egnor menunggu jawaban dari Bertho. Tak lama Bertho mengangkatnya.


"Kau kenapa tuan?" tanya Bertho di seberang sana.


"KAU KENAPA KAU BILANG! TANYAKAN ANAK BUAH MU YANG MENJAGA APARTEMENKU! ADA YANG MENCULIK WILLY! SEKARANG JUGA KAU LACAK DAN CARI ANAKKU! CEEPPPAAAT!!" perintah Egnor.


Panggilan dimatikan dan Egnor melempar ponselnya sampai ke depan kaca mobil. Gabriel tentu saja terkejut dan sudah memegang dadanya.


"CEPAT MOSES CEPAT!" Teriak Egnor lagi kini memegang dagunya dan dahinya mengernyit. Hawa kemarahan melingkup di sekitar mobilnya.


"Hubungi Frank dan detektif Kyle, Gabe!! Seperti ini saja aku harus memberitahumu! Besok kau jadi office boy saja tidak usah menjadi asisten pribadiku!" kata Egnor lagi sambil mengumpat Gabriel.


"I i iyaa Tuan!"


Dan akhirnya Moses berhasil membawa Egnor dan Gabriel hanya dua puluh menit. Biasanya waktu yang ditempuh dari apartemen ke gedung sekitar 30-40 menit. Modem memberhentikan mobilnya di depan pintu utama masuk apartemen. Egnor langsung keluar diikuti oleh Gabriel.


"Bagaimana bisa anakku hilang dari apartemen canggih ini hah?!" Bentak Egnor meraih kerah seragam di petugas keamanan yang sudah panik dan menerima kemarahan seorang Egnor.


"Tuan sabar tuan sabar! Semua ada alasannya tuan!" Gabriel dengan cepat menahan Egnor dan menyuruh tuannya itu melepaskannya.


"Ma ma maafkan aku Tuan, mereka mengatakan dari tim medis, bahkan mereka memiliki surat tugas juga pesan dari dokter Lisa dan Nyonya Claudia. Kau bisa memeriksa di rekaman CCTV betapa mereka sangat pintar mencari alasan tuan! Aku bersumpah tuan!" kata si petugas keamanan terbata bata dan mencoba menjelaskan.


"Tim medis?" Selidik Egnor menatap tajam si petugas keamanan sampai pria paruh baya itu menundukan kepalanya takut akan tatapan Egnor.


"RRROOOONNNNN!!! SIAL!" Decak Egnor menyebut nama Ron dan menghempaskan tubuh si petugas. Egnor menuju ke pintu lift. Gabriel menahan jatuhnya si petugas.

__ADS_1


"Maafkan tuan,"


"Mereka, mereka bahkan membuat Bodyguard Tuan Bertho dan Nyonya Anne tak sadarkan diri, tuan, mereka sangat berbahaya," kata si petugas keamanan lagi terbata pada Gabriel.


"Terimakasih infonya tuan, serahkan saja pada kami," ucap Gabriel sambil berlalu menyusul tuannya.


"Kau kerahkan semua pegawai, semua anak buah Bertho, semua polisi sekarang juga!!" Perintah Egnor pada Gabriel ketika mereka menaiki apartemen dengan lift.


"Baik tuan!"


Gabriel pun meraih ponselnya untuk menghubungi semua pihak yang Egnor masksud.


"Suruh kepala polisi Devon, Frank, juga Bertho mencari Ron! Pasti dia yang Melakukan ini!" Perintah Egnor lagi.


"Siap Tuan!"


Gabriel menghubungi orang orang itu di lift. Dan sampailah pada lantai 15. Egnor langsung berlari setelah keluar dari lift menuju kamar apartemennya. Egnor langsung membuka pintu.


"Kak Egnor!" Teriak Claudia melihat suaminya sudah datang. Claudia yang menggendong Wilson dan Egnor saling mendekati. Egnor memegang lengan Claudia .


"Aku tahu aku yang salah kak, aku siap kau hukum tapi sekarang tolong temukan Willy dulu kak, aku sangat ceroboh kak! Aku tidak pantas menjadi seorang ibu. Maafkan aku kak!" Ujar Claudia sambil menangis dan menggendong Wilson. Dia sangat mencemaskan Willy.


"Tenang Clau! Sudah jangan menangis, aku mohon! aku di sini!! Willy baik baik saja, percaya padaku!!" Kata Egnor mengelus lengan istrinya. Tampak di sana bibirnya berbaring di sofa dan petugas keamanan wanita meminta Wilson untuk ia yang gendong terlebih dahulu. Claudia pun masuk dalam pelukan suaminya.


"Kakak, kita harus menemukannya kak aku mohon!! Dia pasti kehausan dan aku, aku tidak tahu siapa yang menculiknya!" Tutur Claudia lagi dengan sesenggukan. Egnor hanya bisa mendekap istrinya. Claudia pun sudah menjaga mereka semua. Semua terjadi dengan cepat karena niat pelaku yang melakukannya begitu jeli dan terencana.


...


...


...


...


...


next yaa bentaran, beberapa hari ini perut lagi ga bs diajak kompromi jadi agak ngadet hehe 😁😁


.


part 126 akan tayang sebentar lagi


nantikan ya


di mana Claudia akan menemukan anaknya?


dan apalagi cara Egnor membuat semuanya menjadi aman terkendali?


.


jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2