
Pria itu menghela napasnya menapaki keluar ruang pengadilan. Dia menghirup udara yang melintasi indera penciumannya ketika sudah berada di area lobby gedung itu. Kesempatannya untuk mencinta wanita yang ia cari cari selama ini sudah kandas. Dia sudah memberikan tanda resmi pada surat perceraian yang ditunjukan padanya. Sudah tidak ada daya lagi untuk melawan sosok itu. Sosok itu yang akan melindungi wanita nya lebih baik darinya.
Dia sudah berserah namun dia mengambil pesan bermanfaat baginya. Dengan harapan yang dimiliki oleh Claudia dan Egnor sehingga mereka bisa bersama, rasanya Richard juga akan merasakan harapan untuk menjalin sebuah hubungan penuh cinta. Ya, cepat atau lambat, dia percaya cahaya itu akan turun dan membimbingnya untuk mencintai.
Dia masih belum tahu apa dan siapa yang tepat untuk hidupnya, namun dia tidak bisa terus berdiam. Dia sudah seperti ini terlalu lama dan dia tidak boleh menjadi kecil sehingga terus menunggu tanpa melakukan apa apa. Seperti ketika Claudia meninggalkannya, hal itu sudah merupakan bola meriam yang membuat jiwanya hancur. Apalagi ketika mengetahui Egnor yang menjadi belahan jiwa wanita yang ia cintai. Namun ini tidak benar lagi. Dia harus membuat hatinya kembali utuh untuk merasakan hal yang baru dan berbagi ruang serta kehidupannya dengan wanita yang menjadi pilihannya nanti.
Richard masih berdiri di dalam lobby kantor pengadilan. Dia meraih ponsel yang ada di saku jas nya namun dia tidak menyadari kalau sapu tangannya terjatuh. Dia menekan nekan ponselnya hendak menghubungi Kevin karna ingin segera ke apartemennya. Dia tidak mau mendapat pertanyaan dari ibunya karna sudah membela Claudia. Kepalanya akan semakin berat dan panas.
"Permisi, Tuan, ini sapu tangan anda terjatuh ." Tiba tiba terdengar suara wanita yang mengambilkan sapu tangan tersebut dan memberikan pada Richard.
Wanita itu cukup elegan. dia mengenakan Coat panjang merah dan membawa tas tangan pada lengannya. dengan wajah yang tirus, berkulit putih serta memancarkan aura dingin di sisi sisi rahangnya, dia menyerahkan sapu tangan itu pada Richard.
Richard sudah mendongakan kepalanya dan memperhatikan wajah wanita ini yang menurutnya cukup cantik namun agak tegas dan seperti menyimpan misteri di dalamnya.
"Oh iya terimakasih." ucap Richard mengambil sapu tangannya.
"Maaf, bukannya anda Tuan Ricardo Gabriane, si motivator itu?" wanita itu memastikan tentang profesi Richard yang memang sudah mulai terkenal di Honolulu.
"Ya benar, panggil saja Richard." jawab Richard merasa wanita ini cukup berpendidikan. Richard lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tanga . wanita ini pun mengulurkan tangannya.
"Lisa. Elisa Cornwell. Salam kenal. Saya sering melihat anda di tayang televisi dan cukup mengesankan. Baiklah saya masih ada urusan di dalam. Kapan kapan ijinkan saya menonton anda secara langsung." kata wanita ini yang ternyata Lisa. Lisa tersenyum hangat.
"Ya, ya silahkan. Ini kartu namaku. Karna kau sudah mengambilkan sapu tanganku, aku akan memberitahukan mu kapan aku tampil di sebuah acara atau seminar. Asistenku akan memberitahumu. Bagaimana?" Tutur Richard agak terbata karna gugup merasakan tangan halus Lisa yang seperti bulu bulu angsa.
"Setuju! Senang bisa mengenal anda secara dekat." Lisa meraih kartu nama yang diberikan Richard dan menyimpannya pada tasnya.
"Me too."
Lisa tersenyum kecil, menundukan kepalanya dan melaju ke dalam ke ruang hakim dan jaksa. Sementara Richard masih memperhatikan kepiawaian Lisa dari belakang. Lisa berjalan dengan lantang dan tegas serta sedikit menaikan dagunya.
"Sepertinya wanita yang tegas dan memiliki attitude yang baik. Aku jadi penasaran. Siapa dia? Cornwell? aku pernah mendengarnya. Semoga dia menghubungiku." Gumam Richard yang tak lama Kevin datang menjemput tuannya itu.
Richard segera menaiki mobil dan masih penasaran dengan Lisa. menurutnya, Lisa seperti kebanyakan wanita yang ia temui namun entah mengapa, Richard merasa wanit itu memiliki rahasi besar di dalamnya. membuat dirinya ingin mengetahuinya dan cukup penasaran.
"Kevin, kau pernah mendengar keluarga Cornwell?" akhirnya Richard bertanya pada Kevin. Kevin asistennya yang cukup banyak mengetahui dunia luar, entah itu sosial, ekonomi maupun politik.
"Cornwell? apakah itu Pendeta Rudolf Cornwell yang terkenal yang belum lama ini meninggal Tuan??" gumam Kevin membuat Richard agak membuk matanya.
"Meninggal?" Richard agak menaikan nadanya.
"Ya, katanya sakit tapi ada juga yang mengatakan dibunuh. Entahlah aku tidak mengerti. Anak tertuanya sedang menyelidiknya. Anaknya dokter umum terkenal di Japanis dan belum lama ini kembali." kata Kevin lagi memberitahu .
"Siapa nama anaknya?" entah mengapa Richard malah memikirkan Lisa Cornwell karna wanita itu pergi ke tempat ini.
"Tidak tahu Tuan, aku belum mengikuti kasus nya lagi di televisi. Yang jelas anak tertuanya sedang mengusut pelaku pembunuhan ini Karna ditemukan seperti garis lebam pada leher ayahnya. Itu pun karna anaknya ini yang melihat." jawab Kevin yang hanya sekelebat mendengar kasus ini di televisi ketika menunggu panggilan tuannya di rumah mereka.
"Oh, baiklah! Kevin, kalau ada seorang wanita yang mencarimu langsung sambungkan padaku ya?" Richard memberitahu Kevin karna pada kartu namanya tersebut asistennya bukan dirinya.
"Wuah, kemajuan pesat! Kau mengenal seorang wanita?" Kevin sedikit menggoda.
"Ya baru saja. Wajahnya begitu tirus dan putih namun sangat tegas dan berani. Aku penasaran dengan wanita wanita seperti itu. Seperti ketika Claudia acuh padaku." jawab Richard yang selalu terbuka dengan asistennya.
"Baik Tuan, aku sangat semangat jika kau sudah mau berpaling dari Nyonya Claudia. Dia sudah bahagia bersama Tuan Egnor." gumam Kevin yang juga sudah menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Ya, kau benar. Wajah Claudia lebih bersinar ketika menatap suaminya ketimbang diriku."
"Ehm, bagaimana dengan Nona Kate, Tuan? Ibumu menjodohkanmu dengannya." Kevin mengingatkan perjodohan itu.
"Aku tidak mau! Aku tidak suka dengan wanita berpikiran bercabang seperti dia. Aku sudah memperingatinya namun dia tidak mengindahkannya !! Untuk apa aku bersama wanita yang tidak menuruti ku! Sekarang saja belum tunangan atau bahkan menjadi kekasih ku dia tidak mendengarkan ku, apalagi ketika menikah nanti? Aku sudah tidak selera dengannya walaupun cantik Kevin." dengus Richard menegaskan dirinya. ibunya juga tidak akan memaksa jika dia tidak mau.
"Ya, aku mengerti seleramu Tuan." Kevin sedikit melirik tuannya dan kembali fokus dengan kemudinya.
...
Sementara Claudia dan Egnor masih di dalam mobil Egnor. Egnor sudah memastikan sabuk pengaman terpakai pada tubuh istrinya. Dia lalu memastikan sedikit suhu dahi istrinya itu.
"Kita ke rumah sakit?" Tanya Egnor membuka kacamatanya.
"Tidak kak! Kita pulang saja, aku mau tidur di tempat tidur kita bersama pelukanmu. Kau hari ini sungguh membuatku terpikat." Claudia tersenyum sambil menyandarkan dirinya ke sisi belakang kursi.
"Biasa saja. Tapi jika sampai besok kau begini, kita akan ke rumah sakit. Oke?" Egnor tersenyum kecil dan menegaskan Claudia untuk memeriksakan dirinya besok jika masih tidak enak badan begini.
"Aku hanya kelelahan memikirkan junior mu yang tidak waras itu." gumam Claudia.
"Sudahlah jangan membahasnya. Baiklah kita harus ke rumah dad dan aunty ku dlu Clau. Ada sesuatu yang hendak aunty Anne bicarakan padaku." kata Egnor memberitahu tujuan mereka yang sebenarnya sebelum pulang ke apartemen.
"Oh baiklah."
__ADS_1
Mereka pun menuju ke rumah ayah dan aunty nya Egnor. Disana Anne sudah menunggu bersama Johanes yang sedang menikmati teh hangat. Tersedia juga beberapa makanan kecil yang sudah di buat Anne di atas meja makan. Anne mengetahui keponakannya juga Claudia menyukai kue kue buatannya.
"Egnor, kau saja dan Claudia yang menghadiri pesta pernikahan Lexa dan Leon. Karna aku hendak mengurus sesuatu mengenai keluarga Cornwell." kata Johanes menyodorkan undangan pernikahan yang di arahkan pada rumahnya. Lexa merupakan anak angkat Egnor, jadi dia harus menghadirinya bersama Claudia.
"Ya Dad! Keluarga Cornwell belum menghubungi kantor pengacara kami." saut Egnor.
Seketika Claudia menaikan alisnya. Ada apa dengan kelurga Cornwell? Bukan kah itu Lisa pikir nya. Memang sejak sindiran yang diberikan pada Claudia waktu itu, Lisa sudah tidak lagi menganggu Egnor.
"Ada apa sayang?" Bisik Claudia namun Anne mendengarnya dan sebaiknya dia menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.
"Pendeta Rudolf Cornwell meninggal dengan penyebab yang mencurigakan, Claudia. Kau jangan salah paham, Lisa kemari karna mengetahui kabar tersebut. Sebelumnya Lisa memang mengemban ilmu di Japanis. Dia sudah melanjutkan S2 jurusan kedokteran dan menjadi dokter terkenal di sana. Sekarang dia hendak mengusut kasus ayahnya karna dia merasa ayahnya meninggal bukan karna sudah sekarat penyakit melainkan ada seseorang yang sengaja mengakhiri hidupnya." Anne memberi tahu permasalahannya.
Claudia lalu menutup mulutnya. Kisah yang cukup tragis dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi psikis Lisa. Ya, Lisa memang wanita yang berkelas dan dingin. Dia tidak melulu mendatangi Egnor, berbanding dengan Kate yang tidak tahu diri, pikir Claudia. Karna Lisa juga, kini Egnor sudah menikahinya walau masih dengan catatan sipil.
"Clau, are you oke?" Egnor memastikan karna seketika Claudia mengeluarkan keringat keringat kecil pada pelipisnya. Claudia memang agak trauma dengan hal hal berbau kematian karna mengingat kecelakaan pesawat kedua orang tuanya. Dia juga phobia dengan jenasah.
Claudia menganggeleng namun menundukan kepalanya.
"Sepertinya Claudia tidak enak badan. Sebaiknya kau bawa saja dia ke kamar mu sayang. Nanti kita bicara lagi." Kata Anne pada Egnor. Johanes mengangguk setuju. Akhirnya Egnor membawa Claudia ke kamar atas nya.
Sudah lama, sejak menikah, Egnor tidak pernah kembali ke sini. Dia selalu bersama Claudia karna tidak ingin jauh dari wanita ini. Egnor memapah Claudia untuk tidur di tempat tidurnya.
"Kau istirahat saja. Aku tidak akan menganggumu." kata Egnor mengelus lembut dahi istrinya.
"Aku mau kau di sini kak! Aku takut!" Claudia meraih tangan Egnor.
"Tentang kasus Pendeta Rudolf?"
Claudia mengangguk.
"Kau takut kalau aku akan berdekatan dengan Lisa lagi?" Egnor memastikan dengan tersenyum kecil.
"Itu kesekian alasan, memang apa kau akan menjadi pengacara nya?" tanya Claudia membalikan keadaan.
"Tidak! Kau tenang saja! Biarkan Frank dan Moses yang mengurusnya. Aku ingin mengurus pernikahan kita." jawab Egnor lagi menyampingkan rambut rambut halus Claudia dengan tangan lainnya.
Seketika jantung Claudia berdegup tak karuan. Egnor tidak melupakan janjinya. Semoga ini akan benar benar terlaksana.
"Terimakasih kak!" Tutur Claudia menundukan kepalanya tersipu. Egnor pun mengecup keningnya.
"Dad, mengapa kau mengurusi keluarga Lisa? Ada apa sebenarnya?" tanya Egnor kembli menemui ayahnya yang berada di ruang tamu sedang membaca koran.
"Keluarga Cornwell memiliki sebidang tanah dan dengar dengar orang bilang terkandung sebuah tambang emas di sana. Keluarga Cornwell tidak mau menjualnya namun sepertinya ada oknum oknum yang memanas manasi agar mendapatkannya. Jadi, Nyonya Briana Cornwell hendak membangun sesuatu seperti gereja atau klinik kesehatan agar tertutupi isu isu itu Egnor. Jadi aku akan membantunya. Sedangkan Lisa sedang meminta tolong jaksa penuntut agar menyelesaikan kasus ayahnya. Dia mungkin akan meminta tolong padamu. Suruh saja anak buahmu yang mengurusinya." Johanes memberitahu dengan cukup detil.
"Ya dad! Mengapa aku menjadi curiga dengan Keluarga Gabriane ya?" Tutur Egnor mengelus elus dagunya.
"Kau jangan begitu. Biar bagaimana pun sebenarnya Nyonya Samantha dan Ricardo orang yang baik. Ini hanya masalah waktu saja. Jangan terlalu mencurigai Richie!" Johanes mencoba menjadi ayah yang baik dan tidak menebarkan kebencian padahal dia juga merasa ini ada hubungannya dengan kelurga mantan suami Claudia itu.
"Setelah aku mengadakan resepsi pernikahan, jangan halangi aku menyelidikinya dad!" pinta Egnor dengan tatapan serius. sudah berapa kali Keluarga itu mengusik tanah tanah yang bertuan untuk kepentingan nya sendiri.
"Terserahmu saja."
Johanes mengalah. Bukan dia orang yang bisa menghentikan anaknya ini. Jika sudah penasaran dan mencurigai sesuatu hendak mencari taunya. Hanya istrinya, Theres yang bisa menghentikannya. Dan mungkin saja juga Claudia. Pikir Johanes.
"Ehm, Egnor, apa Claudia hamil? Kalian sudah tinggal bersama kan?" tanya Anne yang datang membawakan cemilan.
"Hah? Hamil? Kurasa tidak aunty. Dia hanya kelelahan saja." jawab Egnor yang menyangka hamil itu karna muntah dan mual sementara Claudia tidak pernah mengeluh itu.
Egnor lalu menceritakan masalah istrinya itu dengan Kate dan juga Samantha. Anne sedikit banyak mengenal Kate karna terkadang ibunya Kate mengikuti sosialisasi di gereja bersamanya.
"Kate begitu terobsesi padamu, Egnor." gumam Anne mengerti kondisi Keponakannya dengan Claudia.
"Ya aunty!"
"Baiklah, kau harus segera mempublikasikan Claudia sebelum banyak lagi permasalahan menggandrungi kalian." pesan Anne dan Johanes mengangguk setuju.
"Ya aunty aku mengerti. Aku akan segera mengurusnya."
Egnor harus bergerak cepat. Dia tidak ingin lagi siapapun menghalangi meresmikan Claudia.
Setelah Claudia bangun dan makan siang di rumah keluarga Jovanca, dia dan Egnor pun kembali ke apartemen mereka. Egnor hendak bertemu dengan Frank dan Grace. Claudia masih sangat butuh istirahat namun dia berkata ingin terus kembali ke apartemen. Egnor pun menurutinya.
Sesampainya di apartemen, Claudia hendak merendamkan tubuhnya.
"Kalau demam tidak usah berendam Clau!" Egnor mengingatkan.
"Tidak kak! Seluruh tubuh ku pegal sepertinya akan terasa lebih ringan jika aku berendam sebentar. Kau mau ikut?" Claudia menaik turunkan alisnya menggoda. entah mengapa hari ini suaminya benar benar membuatnya tergoda.
__ADS_1
"Mau, tapi aku takut kalau besok kau makin sakit dan tidak bisa ikut kantor. " jawab Egnor tersenyum menantang.
"Haha, kau selalu berpikir yang macam macam kak!" Claudia terkekeh.
"Baiklah, aku mau ke kamar apartemen Frank dan Grace dulu. Dia baru saja pulang." Egnor mengelus puncak kepala Claudia.
"Kenapa tidak mereka yang kesini?"
"Grace kembali muntah dan tubuhnya lemas. Sudah kukatakan tidak usah masuk ke kantor namun dia tetap menjalankan semua yang kusuruh."
"Kau harus menambah gajinya kak."
"Ya tenang saja. Baiklah kau berendamlah."
Dan ketika Egnor baru saja keluar, ponsel Claudia berbunyi. Panggilan dari dokter yang mengurus bibinya. Dokter mengatakan kalau bibinya kembali mengalami masa kritis. Bibinya sering sesak dan tekanan darahnya rendah sangat tajam. Bukan hanya itu, Siren juga sering memanggil nama Claudia lebih sering lagi. Claudia kembali memikirkan. Apa yang harus ia perbuat. Lusa besok dia harus ke Legacy lagi. Sepertinya dia harus meyakinkan Egnor agar mereka segera mengadakan resepsi dan pergi ke Oriental. Claudia meminta sang dokter untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan selalu memberi kabar. Dia memang benar benar membutuhkan air rendaman.
...
Keesokan harinya, lagi lagi Egnor meninggalkan Claudia. Johanes menghubungi nya kalau ibunya Lisa, Briana Cornwell mendapat sebuah surat kaleng yang menyuruhnya untuk tidak membangun apapun. Egnor menjadi sangat penasaran dengan semua ini, pasalnya ini akan menyangkut kerjasama keluarga Cornwell dengan ayahnya. Egnor segera mengajak Frank dan Moses untuk menemui detektif yang biasa Egnor gunakan. Besok dia harus kembali ke Legacy dan hari ini dia harus memastikan sesuatu pada istrinya.
"Katanya mau berangkat ke kantor bersama tapi tetap meninggalkanku!" Dengus Claudia merutuki suaminya dan melangkah ke luar kamar. Dia menuju ke dapur hendak membuat sesuatu karna sepertinya dia tidak mau ke kantor saja. Namun, ketika dia hendak melewati meja makan, dia melihat sesuatu di atas meja makan tersebut. Sebuah kotak sepatu dan ada pesan di atasnya. Claudia menghampirinya.
~Gown and Wedding Estate,
di dekat Resort and Motel Prime
04.pm. i'm waitting you .
PS. I love you
Eg.~
Begitulah isi pesannya. Claudia tersenyum. Mengapa akhir akhir ini suaminya bertindak manis seperti ini. Bagaimana tidak dia melupakan setiap kesedihan dan permasalahannya.
Claudia juga membuka kotak sepatu tersebut yang berisi sebuah sepatu berhak tinggi sekitar 5cm dan berwarna putih. Di samping sisi sisi sepatunya terdapat taburan kristal yang begitu indah. Sepatu ini begitu elegan dan cantik.
~Aku yakin, kau akan menjadi pengantin wanita yang paling istimewa ketika mengenakannya~ Sebuah pesan lagi di dalam kotak sepatu itu.
Claudia pun terduduk lemas dengan semua perlakuan suaminya yang manis dan cukup romantis . Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Dia sudah terlalu gemas dengan semua ini.
...
...
...
...
...
Jadi nii mantenan gaes 😁😁
.
Next part 64
Mudah mudahan end di part 65 ya dan kita menuju ke after marriage hehe
Bakalan banyak kejadian yang menegangkan
Jaga hati dan pikiran klean gaes
.
Sorry dory NII up nya agaak lama lagi, vii sengaja sih biar klean kangen sama babang nor n Mimi Clau haha .. ngak ngak Vii LG ga enak bisa dikit 😂😂
Ikut ikutan Mimi Clau biar dikasih sepatu wkwkwk
.
Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍
.
Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕
__ADS_1