Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 139: Promise - 2


__ADS_3

Hanya bisa berharap kalau hal yang akan datang baik baik saja, kerjakan dulu yang ada dan jangan takut akan hal yang bahkan belum terlihat ...


...


Pagi hari rasanya Egnor enggan untuk bangun dan kembali mencari informasi mengenai surat otentik dan keberadaan yang sebenarnya. Percuma dia mendatangi Dawney dan meminta baik baik malah membuat luapan emosi yang terus membumbung tinggi. Sementara Egnor juga belum mengetahui keberadaan Bruce dan Richie yang sebenarnya. Mereka harus melalui Dawney untuk bertemu. Eleazar dan Alex masih memeriksa keberadaan dua orang yang sebenarnya merupakan pengendali dari semua masalah ini.


Egnor masih melilitkan tangannya di pinggang Claudia. Pagi sudah menjalang namun sinar matahari belum tiba. Egnor telah sadar dari tidurnya tapi tidak ingin beranjak. Kepalanya penat dan entah mengapa pergerakannya menjadi sangat lambat. Dia seperti kehilangan arah dan tak tahu bagaimana lagi bertindak sementara Dawney terus menjalankan perintah Bruce dan Richie.


"Kak, tenanglah, matahari bahkan belum kunjung," kata Claudia mengelus punggung tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Clau, bisakah aku mengatakan kalau aku lelah?" tanya Egnor masih sibuk mengecupi belakang leher Claudia.


"Bisa! Kau tetap manusia biasa sayang!" saut Claudia menyandarkan kepalanya di depan wajah suaminya.


"Hemm, apa kita tidak bisa pergi saja dari sini?" ujar Egnor lagi kini membelai lembut perut dari dalam pakaiannya.


"Tidak kak, selama masih bisa bernapas, kita masih memiliki harapan, kau jangan lupa!"


"Clau, bagaimana kalau aku menyerahkan diri pada mereka? Mereka menginginkanku?"


"Tidak mungkin semudah itu mereka menginginkanmu kak! Mereka juga tidak akan puas jika kau mengalah!" saut Claudia lagi membalikan tubuhnya.


Egnor tak berkata kata lagi. Selagi anak anak mereka masih tertidur, Egnor malah memanfaatkan kesempatan ini. Dia sudah melucuti gaun tidur istrinya dan memainkan bongkahan kenyal itu perlahan agar tidak keluar sesuatu dari sana.


"Uhm, kak ..." Claudia melenguh menatap wajah tegas suaminya.


"Entah mengapa akhir akhir ini kau jadi sangat menggairahkan Clau, selain itu semakin hari aku semakin takut kehilanganmu, apa yang akan terjadi sebenarnya?" gumam Egnor mulai mengecupi pipi istrinya.


"Jangan mencemaskan hal yang belum terjadi, apa yang kau inginkan atasku, lakukanlah jika itu membuatmu bisa menemukan arah jalanmu yang sesungguhnya. Aku yakin semua akan berakhir dengan bahagia," kata Claudia menangkup kedua tangannya pada wajah Egnor.


"Aku takut akan berkorban dan kehilangan semuanya," gumam Egnor lagi.


"Diamlah, rasakan tubuhku, jangan memikirkan hal yang bahkan belum terlihat," kata Claudia lagi dan Egnor memulai permainan. Dia menindih Claudia, meraba, mengecupi, mencium bibirnya, dan merasakan setiap halus kulitnya. Menyatukan diri sampai semua tersalurkan dan dapat kembali berpikir jernih.


Setelah itu Egnor berendam sementara Claudia menyiapkan keperluan suaminya dan bersiap mengurusi anak anaknya.



"Jadi kau akan pergi ke Indian kak?" tanya Claudia ketika Egnor pulang dan memberitahu akan kepergiannya ke Indian.


"Ya, aku akan mencari Benedict dan Gerrardo. Kalau mereka ada dan bisa mengungkapkan semuanya pada United Nations kita bisa melakukan penyerangan secara legal. United Nations telah membalas email yang kau kirim sayang. Kau memang pintar, aku harus berterimakasih padamu," kata Egnor memegang salah satu pipi istrinya.


"Tapi kak, kau akan meninggalkanku lagi," bantah Claudia menghentakan tangan Egnor.


"Tenanglah, hanya beberapa hari, tidak sampai satu Minggu," saut Egnor membelai pipi Claudia.


Claudia menunduk takut dan menautkan tangannya. Dia trauma terjadi hal yang sama seperti suaminya pergi ke Nederland. Entah bagaimana lagi menata hati, jiwa dan raganya jika sekali lagi kehilangan suaminya. hanya Egnor yang kini menjadi keluarganya bersama anak anaknya. namun, Claudia tidak yakin jika hanya mengurus anak anaknya sendiri. karena sejak dulu dia hanya ingin bersama Egnor.


Egnor merasa kegundahan istrinya. dia tahu kalau istrinya takut mengalami perpisahan ini.

__ADS_1


"Clau?" panggil Egnor memegang dagunya hendak mendongakan kepalanya. Claudia menahan.


Claudia menggeleng dan akhirnya meneteskan air mata.


"Clau, kau sendiri yang bilang jangan khawatirkan hal yang belum terjadi kan?" kata Egnor tidak memaksakan Claudia untuk tetap menunduk.


"Aku ikut kak, aku mau menjagamu, aku tidak mau berpisah lagi denganmu!" ujar Claudia kemudian mendongakan kepalanya sendiri. Matanya telah berbinar karena tak sanggup melepas kepergian suaminya.


"Claudia, aku pergi menggunakan jet pribadiku langsung ke landasan latihan penerbangan di Indian dan mencari Benedict juga Gerrado. Di sini ada Frank, Bertho dan kepala Polisi Devon. Untuk sementara kau berada di mansion Alexander bersama anak anak, Lina, dan Emma. Biar aku yang pergi bersama Gabriel dan Moses. Leon juga akan membantuku di sana," kata Egnor dengan semua penjelasannya mengenai misi penyelamatan ini.


"Dua hari saja dan jangan terlalu lama, aku tidak sanggup," pinta Claudia akhirnya.


"Baiklah, setelah dua hari aku tidak menemukan mereka, aku akan kembali, aku berjanji!" saut Egnor menangkup kedua pipi Claudia.


"Yasudah, jaga dirimu, tetap hati hati dan terus berjuang pulang. Kau juga harus memikirkan istri dan anak anakmu!" pinta Claudia lagi sudah meneteskan air matanya.


"Aku tahu, honey. Namamu ada di hatiku tidak bisa tergantikan apalagi terhapus. Seharusnya aku yang berpesan, jangan melakukan apapun tanpa persetujuanku! Jangan dengarkan pesan sembarangan yang datang! Aku mau, aku kembali kau ada di depan kedua mataku! Paham, Clau?!" Egnor juga meminta pada Claudia untuk tetap bertahan apapun yang terjadi. mereka saling berpandangan dengan intens dan intim.


"Iya kak, kabari aku kalau sudah sampai sana. Dua hari saja dan segera pulang. Aku tidak mau lebih dari itu!" Claudia mulai sesenggukan. dia saja tidak mampu membayangkan dua hari tanpa suaminya. akan ada hening dan tetes air mata karena telalu merindukan dan mencintai.


Egnor mengangguk tersenyum lalu mendaratkan bibirnya di depan bibir Claudia. Dia mencium Claudia dan Claudia sudah melingkarkan tangannya di leher Egnor. Mereka berciuman agak lama. Entah mengapa rasanya akan menghadapi waktu yang sangat panjang.



Ricardo Gabriane


cast Richard : Dong Hae 'suju'


Sementara itu, Richie sedang berkunjung kembali ke mansionnya. Dia hendak mengambil beberapa berkas perusahaan yang mana hendak meminta legalisir negara untuk digabungkan dengan aset negara. Sehingga semua aset negara adalah miliknya. Walau dia bukan kepala pemerintah tapi dia merupakan pemilik semua aset negara, semua lahan, dan daerah kebangsawanan. Richie tersenyum puas membayangkan semua perusahaan bertekuk lutut di hadapannya. Perusahaannya merupakan perusahaan terhebat dan semua akan bergantung padanya.


"Dad!" Panggil Richard kemudian berdiri di daun pintu ruang kerja ayahnya.


"Richard? Senang sekali aku melihatmu, where is your mom?" balas Richie entah berpura pura atau benar benar senang melihat anak semata wayangnya.


"Untuk apa kau menanyainya? Seharusnya aku yang bertanya ada hubungan apa kau dengan Bruce Dalton? Dia orang berbahaya, dad! Jangan bilang isu di kantor pengacara Eg benar adanya? Kasus penembakan Ron dan Elizabeth juga kemarin kau yang mendalanginya kan?!" decak Richard terang terangan karena sebenarnya tidak suka melihat wajah pria tua itu.


"Diam kau! Semua itu urusanku! Kau kerjakan saja urusanmu dan karena pemerintah sudah bekerjasama dengan perusahaan ku, jadi aku merestuimu bersanding bersama Lisa, aku tidak akan mempermasalahkan sakit hatiku lagi karena dia sudah menerima akibatnya, haha!" Richie tertawa membanggakan dirinya atas kematian Rudolf.


"Aku tidak membutuhkan Restumu! Kalau begitu, aku harus memberitahu Egnor bagaimana kedekatanmu dengan Bruce!" ancam Richard yang harus terus mendukung Egnor.


"Katakan saja! Egnor bukan apa apa bagiku, sebentar lagi dia hanya butiran debu, Richard anakku! Lebih baik kau menikmati hasil indah ini semua bersamaku, bagaimana? Aku akan menetapkan mu sebagai motivator dan penasihat negara untuk Dawney!" saut Richie benar benar sudah meremehkan Egnor dan juga anaknya secara tidak langsung.


"Aku tidak berminat! Sebaiknya kau cepat pergi dari mansion ini! Ini mansion ku dan tidak menerima para keparat dan biadap seperti kalian! Dan bawa Bruce Dalton juga dari sini!" pinta Richard dengan nada sinis dan tidak bersahabat.


"Apa? Dia kemari? Menjemputku? Mengapa kau tidak mengatakannya?!" saut Richie berjalan mendekati Richard.


"Hai, Ricardo Gabriane, kau sekarang sudah besar ya? Dulu kau setinggi ini!" Tiba tiba Bruce menyusul Richard. Dia memegang pundak Richard untuk meledeknya yang kala itu merupakan juniornya bersama Egnor.


"Lepas!" Richard menghempaskan tangan Bruce dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Ricardo Ricardo! Kau seharusnya bergabung denganku! Apa kau masih memuja seniormu itu yang sedang Luntang lantung mencari hak nya haha! Katakan padanya untuk memberikan istrinya maka aku akan pergi dari sini, mudah kan?!" cibir Bruce dengan angkuhnya.


Kata kata itu bukan ditunjukan padanya tapi seketika tubuhnya memanas. Richard langsung mengambil kesimpulan kalau Bruce menyukai Claudia. Richard melayangkan pukul tapi Bruce menahan dengan telapak tangannya.


"Cih, adik kecil! Sekarang kau bisa berkelahi ya? Kau tidak akan bisa melawanku!" Decak Bruce menghempaskan tubuh Richard sampai terjatuh.


"Bruce, masuklah, jangan dengarkan anak ingusan itu! Dia tidak pernah bisa membantuku mendapatkan apa yang kau mau!" ajak Richie yang sangat meng-agung agungkan ketua mafia itu.


Bruce pun memasuki ruang kerja Richie sementara Kevin sudah membantu Richard untuk berdiri.


"Kevin, ambilkan red wine di gudang penyimpanan minuman! Katakan aku yang meminta! Jangan sampai berdebat dengan wanita sialan itu!" perintah Richie sekenanya.


Richard menggelengkan kepalanya. Tega sekali pria itu menyebut istrinya wanita sialan. Richard tidak mau menambah kesal dalam diriny, dia akui tidak bisa melawan Bruce. Dia harus tenang. Sebentar mereka pergi, dia akan mengunci mansion ini agar ayahnya tidak bisa datang lagi. Dia juga akan menyuruh Kevin mengikuti Bruce dan akan memberitahu Egnor di mana titik Markas mereka sebenarnya. Richard yakin sebenarnya Bruce bukan tidak mau bertemu Egnor tapi dia sedang menyusun strategi untuk membuat penderitaan bagi Honolulu dan Egnor. Richard sangat yakin itu. Namun, sebelum hal itu terjadi, biarkan Egnor yang lebih dulu menemukan kepala mafia pengecut itu.


Richard menunggu di ruang tamu dekat pintu masuk sambil saling mengirim pesan dengan Lisa. Perlahan tapi pasti, Lisa telah membuka hatinya walau masih sulit untuk jalan bersama atau bertemu. Richard tidak memikirkan itu, yang penting dia sudah bisa dekat saja dulu. Lisa membalas pesannya saja sudah membawa kelegaan dalam hatinya.


Tak lama Kevin datang setelah mengantar red wine untuk tuan besarnya. Wajahnya panik dan sedikit ketakutan.


"Tuan Richard, hubungi Tuan Egnor, mereka dalam bahaya!" bisik Kevin agar tidak terdengar orang orang Richie dan Bruce.


"Ada apa Kevin?!" tanya Richard beranjak dari duduknya.


"Tuan Bruce meminta Tuan Besar untuk segera mendapatkan Nyonya Claudia dan membunuh kedua anaknya!" bisik Kevin lagi sedikit gemetar.


"APAAA!!! KAU SERIUS KEVIN?!! APA SEBENARNYA YANG ADA DI OTAK MEREKA?!!!" decak Richard hendak kembali masuk dan memberi perhitungan pada Bruce. Dia tidak peduli akan kalah atau mati sekalipun. Walau Claudia bukan lagi istrinya tapi hal ini sangat merendahkan apalagi ingin menghilangkan nyawa anak anak tidak bersalah.


"Tuan tuan! Kau jangan kesana! Buang buang waktu, lebih baik kau hubungi Tuan Egnor agar perketat penjagaan Nyonya Claudia, kita tidak tahu kapan semuanya terjadi. Harus berjaga jaga. Ini menyangkut keselamatan di kembar!" Kevin mencoba menahan Richard agar tidak gegabah dan sebaiknya melangkah lebih dulu.


"Ya, ya, kau benar!"


Dor!


Namun, ketika Richard mencari nama Egnor untuk dihubungi, sebuah tembakan mengarah padanya. Kevin melindungi Richard untuk menundukan tubuh mereka.


"Gawat Tuan, mereka sepertinya tahu aku memberi tahumu," kata Kevin menarik tubuh tuannya berjalan keluar dari mansion.


"KEVIN, RICHARD BERHENTI DI SANA ATAU AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!" teriak Richie dan Kingsler mulai mengejar mereka. Kevin dan Richard sudah berlari keluar menuju mobil mereka.


"Richie, Richie! Sebenarnya aku malas bekerja sama denganmu! Karena tidak pernah memperhitungkan mana yang bisa mengikuti mana yang tidak!" kata Bruce merendahkan Richie yang tidak peka dengan sekitarnya.


"Aku pikir Kevin pasti tidak akan menyadarinya!" Richie berdecih kesal.


"Kau memang terlebih bodoh, kalau kau pintar tidak akan kau mengajakku beraliansi, untung saja dendam kita pada Egnor sudah mendarah daging! aku tidak mau tahu, aku mau Claudia setelah itu aku akan memberikan semua Honolulu ini. aku akan kembali ke Japanis karena namaku harus terus membaik di mata Andreas! Tidak ada yang tahu kalau sampai laporan Claudia masuk ke UN! cepat bertindak Richie! aku menunggu!" kata Bruce duduk di sofa bersila dan menunggu kenikmatan yang ia inginkan dari jatuhnya seorang Egnor!


...


bersambung, next part 140


terka terka aja sendiri 😁

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 😍


__ADS_2